Lewati ke pemutarLewatkan ke konten utama
JAKARTA, KOMPAS.TV Presiden ke-5 RI, Megawati Soekarnoputri, menyinggung kinerja Mahkamah Konstitusi (MK) dan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) saat acara pengukuhan gelar profesor emeritus untuk eks Hakim MK, Arief Hidayat, di Universitas Borobudur pada Sabtu (2/5/2026).

"Saya waktu lihat kasus yang ada di MK itu kok saya terus mikir, lah ini gawean saya apa salah ya? Loh, iya, kok bisa sampai kayak gitu ya," ujar Megawati Soekarnoputri.

"Seperti KPK juga sekarang, kok saya lihat kok bisa ya begitu ya. Rasanya omongan yang harus dilakukannya kok tidak seperti itu. Ya nanti tolong dicari saja," lanjutnya.

Baca Juga Megawati Ungkap China Punya Rencana Pembangunan 200 Tahun ke Depan: Kita Tuh Mikir... di https://www.kompas.tv/nasional/666715/megawati-ungkap-china-punya-rencana-pembangunan-200-tahun-ke-depan-kita-tuh-mikir

#megawati #mk #kpk


Artikel ini bisa dilihat di : https://www.kompas.tv/nasional/666727/megawati-singgung-mk-kpk-saya-terus-mikir-ini-gawean-saya-apa-salah
Transkrip
00:00Negara hukum Indonesia dengan demikian harus dibangun di atas dua pilar utama,
00:06yakni Pancasila sebagai dasar nilai energi moral dan spirit pembebasan,
00:13serta hukum progresif sebagai metode praksis.
00:19Tanpa keduanya, hukum akan kehilangan arah dan berpotensi menjadi alat kekuasaan
00:26yang justru menjauh dari rakyat. Ini tendensinya, kelihatannya, ya akan menjadi begitu.
00:34Hadirin sekalian, melalui reformasi tahun 1999 dan amandemen konstitusi sebanyak lima kali
00:45selaku Presiden kelima RI, saya telah meletakkan kerangka sistem demokrasi dan sistem hukum
00:52yang komprehensif dan progresif. Pada masa kepemimpinan saya saja,
00:59saya kan hanya tiga tahun, melahir mahkamah konstitusi, nah itu tadinya tempat Pak Arief.
01:07Nah itu, lah saya waktu lihat kasus yang ada di MK, itu kok saya terus mikir,
01:17lah ini gawean saya apa salah yoh? Loh ya, kok bisa sampai kayak gitu?
01:24Yaudah, Komisi Yudisyal, Badan Narkotika Nasional, BNN, Lembaga Penjamin Simpanan, LPS,
01:35Badan Nasional Penanggulangan Bencana, BNPB, Komisi Pemberantasan Korupsi, KPK.
01:43Nah, seperti KPK juga sekarang, kok saya lihat, kok bisa ya begitu ya?
01:50Rasanya omongan yang harus dilakukannya kok tidak seperti itu?
01:55Ya nanti tolong dicari saja.
01:57Pusat Analisa dan Transaksi Keuangan, PPATK, Densus 88.
02:06Ketika mau membentuk Densus 88, dari pihak TNI bilang,
02:12Ibu itu enggak perlu, itu kan bisa diselesaikan oleh kita.
02:17Ya kamu lihat dulu aturannya, kalau TNI untuk apa?
02:23Nah kalau polisi itu untuk apa?
02:25Komnas Perempuan, Komnas Anak, Komnas Lanusia, Sekolah Pol Van.
02:32Tuh ibu-ibu sampai saya, yang bikin Sekolah Pol Van loh.
02:38Makanya jangan lemes gitu loh.
02:41Polisi, pariwisata, maupun sekolah BIN, dan lain-lain.
02:46Seluruh lembaga yang dibentuk tersebut menggambarkan bagaimana sistem politik ekonomi dan sistem hukum di Indonesia berpijak pada Pancasila
02:57dan bekerjanya kedaulatan rakyat yang kemudian dilaksanakan melalui pemilu presiden langsung.
03:07Pemilu, itu yang langsung itu hanya dua kali.
03:12Tahun 55 pertama kali, lalu yang kedua ya waktu saya.
03:18Nah pertanyaannya, ini kan kelihatannya mau dirubah-rubah.
03:23Nah mau dirubah-rubahnya supaya gimana? Kayak apa?
03:28Kan begitu?
03:29Nah kok waktu sekarang bilang biayanya banyak, loh kenapa tahun 55 bisa keadaannya itu ini?
03:40Santai aja, rakyatnya tenang aja, biayanya berapa?
03:46Saya suruh cari, kalau sekarang dibilang biayanya besar gitu, aneh.
03:51Dengan pemilu presiden secara langsung, legitimasi presiden sangat kuat untuk benar-benar kokoh pada jalan konstitusi dan demokrasi.
04:02Presiden tidak boleh membuka ruang kompromi bagi pelanggaran konstitusi dan perundang-undangan,
04:09terlebih terhadap hal-hal yang bisa menurunkan kedaulatan politik dan ekonomi bangsa.
04:16Dari sinilah Pancasila, konstitusi, demokrasi, ekonomi, hukum, dan kebudayaan berkaitan erat satu sama lain,
04:28tidak terpisahkan dan tidak boleh dipisahkan.
04:33Berdasarkan pandangan saya tersebut, melalui kesempatan yang sangat baik ini,
04:39saya ingin menyampaikan pesan kepada para akademisi dosen dan seluruh mahasiswa Universitas Borobudur,
04:49bahwa saudara-saudara adalah bagian dari intelektual organik bangsa.
04:55Getarkan suara hati nurani saudara untuk mengawal kebenaran dan keadilan.
05:02Saya ini sedang berpikir, supaya bukan justru pilih kasih, tidak,
05:14tapi saya sudah lakukan di partai saya.
05:21Itu apa? Kalau ada mau menjadi apa dan apa, itu saya suruh testing apa?
05:27Testing IQ dan EQ, jadi intelektual quantum dan emotional quantum.
05:38Supaya apa? Ya supaya jadi enggak kayak sekarang.
05:42Yang saya lihat tidak kompeten, kok bisa jadi komisaris ya?
05:48Loh, betul apa tidak?
05:51Betul.
05:53Nah, begitu toh.
05:54Terima kasih telah menonton!
Komentar

Dianjurkan