Lewati ke pemutarLewatkan ke konten utama
KOMPAS.TV - Warga kembali melakukan aksi demonstrasi besar terhadap kepala daerahnya. Setelah Kabupaten Pati, Jawa Tengah, kini terjadi di tingkat provinsi, yakni di Kalimantan Timur.

Situasi ini menimbulkan pertanyaan mengenai dinamika yang terjadi, baik secara politik maupun sosial kemasyarakatan.

Lebih lengkap, simak dialog KompasTV bersama pengamat politik yang juga Direktur Eksekutif Charta Politika, Yunarto Wijaya.

Baca Juga TERBARU! Update Hak Angket Gubernur Kaltim Usai Tuai Demo Massa, Bergulir ke Paripurna di https://www.kompas.tv/regional/667020/terbaru-update-hak-angket-gubernur-kaltim-usai-tuai-demo-massa-bergulir-ke-paripurna

#demo #kaltim #politik

Artikel ini bisa dilihat di : https://www.kompas.tv/nasional/667022/panas-pengamat-soroti-gelombang-demo-meledak-di-kaltim-sinyak-krisis-kepercayaan-publik
Transkrip
00:00Warga mendemo besar-besaran kepala daerahnya kembali terjadi setelah pati, saudara.
00:05Setelah Kabupaten Pati, Jawa Tengah, kini di tingkat provinsi di Kalimantan Timur.
00:10Apa yang bisa dibaca dari situasi ini, baik secara politik maupun sosial kemasyarakatan?
00:17Kami akan bahas bersama dengan pengamat politik yang juga merupakan Direktur Eksekutif dari Carta Politika, Yunarto Wijaya.
00:24Selamat pagi, Mas Toto.
00:26Selamat pagi, Kompas TV.
00:28Ya, Mas Toto, kita tahu enam fraksi sudah menyetujui adanya hak angket yang kemudian nantinya akan dibawa ke Paripurna.
00:36Minus fraksi Partai Golkar, sementara Partai Golkar merupakan partai yang punya kursi paling banyak di DPRD.
00:43Apakah ini benar akan terlaksana, terwujud sampai hak angket atau kemudian harus selesai sampai di sini saja?
00:51Ya, yang pertama saya berharap teman-teman DPRD atau kemudian para elit yang ada di Kalimantan Timur melihat yang namanya
01:00hak angket.
01:01Pernasuk ya, baru dimasuk melihat hak angket ini hal yang biasa saja.
01:05Hak konstitusional yang memang dimiliki oleh DPRD dalam melakukan fungsi pengawasan.
01:11Dia dilindungi oleh Undang-Undang Dasar, Pasal 20 Ayat 2, lalu kemudian juga Undang-Undang Pemda dan Undang-Undang MD
01:183.
01:19Jadi seharusnya ini dimaknai biasa saja, yang menjadi istimewa kan ketika ada kesan selama ini DPRD memang tidak terlalu menjalankan
01:28fungsi pengawasan.
01:29Nah, ini juga kita tahu kenapa terjadi karena ada dorongan dari masyarakat, ada dimuksar, ada keramaian yang dimunculkan oleh netizen.
01:39Pertanyaan kritis pertama adalah, kalau tidak rame di sosmed, apakah hak angket ini akan digulirkan atau tidak?
01:47Nah, yang kedua kalau kita berbicara secara teknis, apakah dimungkinkan kita sudah mendengar bahwa ada 6 lintas fraksi yang menyetujui
01:58usulan?
01:59DPRD ada sekitar 22 anggota, artinya ini sudah memenuhi syarat.
02:04Karena syaratnya hanya 10 orang, itu sudah cukup, dan lebih dari 1 fraksi.
02:09Jadi, ini sudah mencukupi perasyarat.
02:12Dan tinggal masuk dalam prosedur, oke lah, ada tamu, selalu menerah di paripurna.
02:17Pertanyaannya adalah, apakah dia akan lolos menjadi hak angket?
02:21Yang pertama, yang harus kita kawal, kalau memang kita penasaran nih,
02:25bahwa kaltin ini benar nggak sih, semengerikan apa yang rame di sosmed,
02:29atau jangan-jangan berlebihan, misalnya kita kan berharap jawabannya ada dalam penelitikan lewat angket.
02:35Nah, kalau kita lihat ada hambatan pertama.
02:39Jadi, belitul sudah lolos menjadi usulan,
02:43tapi untuk disetujui menjadi hak angket dan kemudian menjadi pansus,
02:49itu dibutuhkan 3 per 4 anggota DPRD yang hadir.
02:54Nah, di sini ada problem nih, ketika kita hitung dari 55 kursi DPRD,
03:00itu dibutuhkan berarti 42 kursi untuk kemudian memenuhi syarat 3 per 4 atau 75 persen.
03:07Nanti baru kemudian dari 2 per 3 yang hadir, itu harus menyetujui.
03:12Nah, kalau kita hitung nih, mbak, dari 55 kursi,
03:17problemnya itu adalah kalau anggota Golkar semuanya tidak hadir,
03:22itu tidak memenuhi syarat.
03:23Karena Golkar ada 15 kursi, jit dari pemenang pertama.
03:28Dan saya pikir ini kan akan diuji ya,
03:33kedewasaan sebuah partai di hadapan publik,
03:36baik dari sisi DPRD, Golkar, Kaltinnya,
03:40ataupun DPP yang memiliki fungsi kontrol.
03:44Pertanyaannya adalah apakah serta-merta,
03:46karena kebetulan guru adalah kader partai Anda,
03:49Anda harus pasang badan,
03:50atau jangan-jangan akan lebih baik kalau partai Anda bisa membuktikan
03:54kadernya tidak bersalah melalui proses yang dibuka oleh publik,
03:58melalui angget.
03:59Saya berharap yang kedua.
04:00Nah, itu kita akan memantau bersama.
04:03Seberapa besar Golkar punya kedewasaan,
04:06dalam membela kadernya.
04:09Yang kedua, dengan terlalu cepat,
04:13berharap juga nih,
04:14teman-teman yang bisa bersuara tentang Kaltin,
04:17karena kita pernah melihat,
04:20sebuah contoh,
04:22ketika kalau teman-teman penonton ingat,
04:25apa yang terjadi pada partai,
04:27demonya lebih heboh,
04:28lebih gede gitu ya.
04:29Lebih besar dari ini.
04:31Pak Sadewo sempat menantang gitu kan,
04:34para pendemo,
04:34dan ketika kemudian anggetnya berhasil digulirkan,
04:39kita tahu pada saat pemberian kesimpulan,
04:43hanya PDI Perjuangan yang kemudian memutuskan untuk melakukan pemakzulan.
04:48Sisanya, partai-partai kemudian tidak meneruskan kepada pemakzulan,
04:52hanya berunjung pada rekomendasi perbaikan.
04:54Kita nyambah ketika partai-partai tidak memakzulkan,
04:59akhirnya kemudian aparat hukum KPK yang menangkap OTT dari Bupati Sadewo,
05:06artinya kan ada catatan kritis,
05:08bahwa apa yang ditutuskan dalam proses politik,
05:11itu ternyata seringkali tidak merupakan sebuah fakta,
05:16karena ketika kemudian dianggap Bupati Sadewo saat itu bisa dipertahankan,
05:21ternyata fakta hukum berbicara lainnya.
05:23Saya hanya berharap,
05:25tentu saja pada cerita yang berbeda kita tidak bisa samakan,
05:28ada sebuah keberanian dari teman-teman DPRD
05:32untuk kemudian membuka fakta yang sudah terlanjur ramai di sosial media
05:35dan di hadapan masyarakat,
05:37dan itu membuat image dari pemerintahan daerah,
05:40gubernur dan DPRD menjadi jelek.
05:42Oke, serupa tapi tak sama,
05:45kasus di Pati dan juga di Kalimantan Timur,
05:47ini seharusnya menjadi, kemarin kasus di Pati menjadi pembelajaran
05:51bagi semua partai politik yang punya kadernya menjadi kepala daerah,
05:56begitu sampai akhirnya mencuat lagi soal kasus gubernur Kalimantan Timur ini.
06:02Itu artinya,
06:03jangan terlalu berharap,
06:05karena nanti kalau tidak sesuai harapan,
06:09sakit juga,
06:10walaupun memang demonya sudah mulai kita lihat,
06:14tapi ternyata tidak sampai bisa dalam tanda kutip ya,
06:21meruntuhkan begitu ya,
06:22meruntuhkan apa yang sebenarnya menjadi janji-janji yang dalam tanda kutip,
06:30ya itu kontradiksi sama janjinya,
06:33mobil mewah,
06:35kemudian juga ada rumah dinas mewah,
06:38apa yang perlu dicermati dari partai politik,
06:41jangan sampai ada peristiwa pati ke Kalimantan Timur,
06:45terulang lagi dengan pola yang sama.
06:48Yang pertama saya harus tegaskan,
06:51ini bukan dalam konteks Rudi Masud atau guru Kalimantan harus jatuh,
06:55tidak boleh,
06:56demokrasi tidak boleh juga seperti itu.
06:58Yang dibutuhkan dalam demokrasi itu adalah transparansi,
07:02keterbukaan.
07:03Ketika kemudian ada sebuah problem yang dirasakan oleh masyarakat,
07:09dan dibukanya itu harus melalui netizen,
07:12dibukanya itu harus melalui demo,
07:15dibukanya itu harus melalui keramaian terlebih dahulu.
07:18Satu-satunya harapan kita secara konstitusional kan adalah digunakannya fungsi pengawasan.
07:24Salah satunya yang paling ampuh itu adalah pengguna angket melakukan penelidikan.
07:30Nah, poin paling penting bukan tentang dimaksud harus jatuh,
07:33atau bupati-bupati harus jatuh.
07:35Tapi ketika kemudian penelidikan itu dibuka,
07:39apakah kemudian ada transparansi?
07:41Jangan sampai kemudian ramai-ramai,
07:45lalu kemudian berujung pada hak angket, penelidikan,
07:49pada saat penelidikan dilakukan,
07:51di panggung belakang terjadi itu,
07:53yang namanya main mata.
07:55Lalu kemudian,
07:57apa ya,
07:59kesepakatan-kesepakatan di panggung belakang.
08:01Jadi,
08:01yang kita harapkan adalah ketika terjadi pasus,
08:04dibuka setiap proses pemanggilan pihak-pihak terkait,
08:08baik itu SKPD,
08:09baik gubernur yang sendiri,
08:11sehingga kemudian upaya-upaya untuk kemudian menyelesaikan itu di panggung belakang,
08:16tidak terjadi.
08:17Ini kan bukan hanya terjadi di level DPRD Kalkima atau DPRD Patima.
08:22Fungsi pengawasan yang mati ketika pemilu sudah berakhir,
08:26itu kan terjadi di tempat daerah.
08:28Pertanyaannya kan kemudian sekarang muncul nih,
08:30apakah bisa dijamin bahwa pemborosan anggaran
08:34di tengah upaya efisiensi sekarang
08:37tidak terjadi di daerah lain?
08:39Jangan-jangan di daerah lain juga terjadi,
08:41tapi netizennya belum capture aja gitu kan.
08:44Ini kan akhirnya jadi negara netizen.
08:46Ketika netizen berhasil meng-capture,
08:49ada HP yang kemudian bisa bercerita,
08:51baru kemudian DPRD bekerja.
08:53Itu yang kita takutkan kan.
08:56Dan ini menurut saya juga bukan hanya dalam sebuah daerah saja.
08:59Semoga ini bisa jadi tamparan buat daerah-daerah lain,
09:02termasuk pemerintah pusat,
09:04untuk lebih berhati-hati mengeluarkan pemijakan,
09:07mengangkat seseorang,
09:09apalagi ditambah ada satu fakta terbuka lomba.
09:12Dalam kasus Kalkim ini,
09:13bukan tentang hanya mengenai kursi pidat,
09:16mobil 8,5 miliar,
09:18renovasi rumah 25 miliar,
09:20yang kita kaitkan dengan perusahaan.
09:22Tapi bagaimana berkuasanya sebuah keluarga,
09:25itu bisa ada di semua sendi
09:28yang ada dalam sebuah pemerintahan daerah.
09:30Kita kan agak sulit membayangkan,
09:33ketua DPRD-nya adalah
09:36saudara kandungnya sendiri,
09:38lalu kemudian adik kandungnya adalah gubernur,
09:41lalu ada saudara kandung yang lain di DPRD,
09:44yang itu semuanya adalah bagian dari
09:47sistem tech and balances.
09:49Saya nggak bisa membayangkan,
09:51kakak harus kemudian memakzulkan adiknya sendiri.
09:57Atau kemudian pengangkatan di level pendangga ahli,
10:00dan lain-lain, kita sudah dengar kadin,
10:03dan lain-lain ya.
10:04Jangan-jangan itu juga terjadi di daerah lain,
10:06begitu kan.
10:07Dan ini yang menyebabkan,
10:09menurut saya kita harus membongkar seutuhnya ya.
10:12Apa yang menjadi fakta demokrasi di Indonesia,
10:15jangan-jangan memang bersebatas demokrasi prosedural,
10:18ketika mereka sudah berkuasa,
10:19ada banyak hal-hal yang diperobos,
10:22yang seharusnya menjadi makna demokrasi
10:23dalam konteks transparansi dan check and balances.
10:26Oke, nanti sebenarnya pertanyaannya klise,
10:29apa yang perlu diperbaiki dari sistem ini?
10:31Ketika semua lini,
10:33begitu ya,
10:34kita melihat cukup
10:38memelakan mata begitu,
10:39kakak, adik, saudara, dan segala macam gitu,
10:42yang seharusnya ada check and balances di sana.
10:44Tapi nanti kita akan diskusikan lagi,
10:46usai jeda,
10:47Mas Toto, jadi tetaplah bersama kami
10:49dalam Breaking News Kompas TV.
10:50Kami akan segera kembali.
Komentar

Dianjurkan