00:00Aksi masa di Simpang, Taman Sari, Kota Bandung, Jawa Barat pada Jumat malam berujung pada pembakaran sejumlah fasilitas umum.
00:05Kerusuhan juga pernah terjadi di lokasi yang sama pada awal September 2025.
00:10Menyusul aksi unjuk rasa di depan gedung DPR di Jawa Barat.
00:13Mengapa demo berujung ricuh berulang kali terjadi?
00:16Kami akan membahasnya bersama Guru Besar Ilmu Politik dan Keamanan Universitas Payajaran Bandung dengan Bapak Muradi.
00:22Pak Muradi, selamat petang.
00:25Selamat petang, Mas.
00:26Baik.
00:26Saya selalu.
00:28Baik, terima kasih Pak Muradi.
00:29Pak Muradi, bahwa Kapolda Jawa Barat, Irjenpol Rudi Setiawan menegaskan bahwa kerusuhan yang terjadi pada kemarin malam tidak ada kaitannya
00:36dengan buruh, tidak ada kaitannya dengan mahasiswa.
00:39Lalu, siapa pelakunya dan apa motif dari kerusuhan itu?
00:43Kalau melihat polanya kan, kalau kita cek 5-7 tahun yang lalu ya, ini kan juga pernah terjadi aksi buruh
00:50dan kemudian berunjuk kerusu.
00:52Dan kerusuannya kemudian kita membacanya tiga hal.
00:55Yang pertama, selalu dia pakai balak lava, penutup muka, kemudian pakaiannya hitam-hitam, ketiga juga kemudian mereka tidak nge-blend
01:06dengan masa yang lain.
01:08Artinya apa nge-blend begini, kalau aksi September 2025 kemarin, itu kan mix ya.
01:13Ada kemarahan publik berkaitan dengan isu-isu berkaitan soal apa, soal unjuk rasa yang Agustus 2025 kemarin.
01:21Jadi memang saya menangkapnya adalah, inilah bagian dari pola penyusupan tanda kutip yang sifatnya kemudian terstruktur.
01:29Terstruktur kenapa? Karena memang mereka menangkap, mengelola, dan membaca pola-pola gerakan itu.
01:35Karena begini, kalau unjuk rasa aksi mahasiswa, beberapa kali mereka tidak terlalu bisa mengelit ya, mengambil momen-momen tertutup.
01:43Tapi kalau aksi buru dan aksi umum sepertinya, beberapa kali di Bandung itu mereka kemudian mengambil dan melit,
01:49tadi mengambil, mengapa, memimpin untuk masa melakukan tindakan-tindakan Argi.
01:54Bahwa dari 125 kemudian jadi 25 orang yang tersangka, saya kira lebih banyak kemudian pertama ikut-ikutan,
02:01yang kedua adalah bagian dari yang sama sekali karena dinamika yang ada di lapangan.
02:07Sebagian kecilnya adalah mereka yang kemudian menjadi bagian dari kelompok praktis gitu-gitu, Mas.
02:14Oke, bahwa tadi Pak Muradi menyebutkan, terduga pelaku yang mungkin berjubah ratusan ya, Pak Muradi,
02:19ini menggunakan penutup wajah atau balak lava dan juga tidak bercampur dengan masa buru ataupun mahasiswa.
02:25Artinya, gerombolan orang ini terafiliasi kepada kelompok anarko betul demikian?
02:29Atau ada kelompok lain mungkin?
02:32Ya, kalau melihat polanya sejak 10-15 tahun yang lalu,
02:36memang kelompok ini relatif punya pengikut ya.
02:40Katakanlah mereka kemudian tidak terbuka dan kalaupun kita misalnya melihat,
02:44sempat mungkin di 2018-2019 kalau tidak salah,
02:49sehingga saya masih patito, Kapoling kemudian mengusut proses itu
02:54dan kemudian ternyata ada banyak figur yang kemudian terlibat untuk memberikan pemahaman.
02:59Karena begini, Mas, mereka ini pintar ya.
03:01Mereka pintar dan banyak dari mereka adalah kemudian marah dengan situasi politik
03:06dan situasi kepentingan yang ada hari ini.
03:08Jadi, mereka akan melakukan upaya untuk anarki untuk hal yang bersifat antinegara.
03:14Dan saya kira ini yang penting buat dilihat oleh teman-teman di kepolisian
03:17dan juga teman-teman aparat kamar.
03:19Karena ini dia hampir tidak terdeteksi.
03:22Jadi, kata-kata kalau kita merujuk aksi terakhir di September 2025,
03:26mereka tidak kemudian terbongkar ya, apa namanya, sindikasinya.
03:32Mereka menerapi sekali dan sebagainya.
03:33Saya kira itu yang perlu kemudian dilihat secara, apa, secara kooperatif.
03:38Terutama untuk teman-teman intelijen keamanan maupun intelijen dari, apa namanya, negara.
03:44Yang memang pada akhirnya ingin, pada akhirnya memberikan stimulasi
03:47supaya mereka tidak lagi melakukan tindakan yang sifatnya merusak dan mengancam jiwa orang lain.
03:52Oke, kemudian pertanyaannya bahwa sejumlah fasilitas betul sudah dirusak.
03:56Tadi Pak Muradi menyebutkan ini adalah bentuk kemarahan.
03:58Tapi pesan apa yang sesungguhnya ingin disampaikan oleh para pelaku kerusuhan?
04:02Dan apakah ada yang, mohon maaf, memotori ataupun mendalangi pergerakan ini?
04:07Kalau ngak polanya sempat di 2019 itu kan mereka kemudian mengecil ya.
04:12Ada yang mengecil, mereka kemudian tidak terlalu besar.
04:13Kemudian di 2 pasca COVID-19 mereka membesar lagi, 2023 dan pada akhirnya kemudian 2025 dan sekarang 2026.
04:20Kalau ditanya apakah mereka motifnya, motifnya mereka memang ingin kemudian membuat gaduh.
04:25Jadi kalau ditanya apakah mereka, mereka punya baca aja mungkin jauh lebih, jauh lebih advance ya dibanding seusianya.
04:30Karena sebagian besar adalah anak-anak mahasiswa SMA kelas 3 gitu,
04:34kemudian dengan mahasiswa yang di awal-awal yang memang tidak tergabung dalam aktivis kemasukan atau aktivis kampung.
04:39Jadi memang saya menangkapnya sebenarnya ini lebih kepada soal pesan bahwa mereka marah dengan situasi
04:45dan buat mereka adalah pesan ini sampai ke publik dan juga ke negara bahwa situasi hari ini tidak baik-baik
04:51saja.
04:51Dan dalam posisi tertentu misalnya, mereka ingin eksis di antara apa namanya.
04:56Kalau saya nyebutnya Pak, apa namanya, mereka sedang kemudian berada dalam posisi mendayung di antara banyak situasi ya.
05:05Apa namanya, katakanlah ada apa, buru, mahasiswa, negara dan sebagainya membuat mereka kemudian tetap eksis.
05:10Nah eksis itu yang saya kira menjadi titik-titik tertinggi mereka.
05:14Buat mereka, perlawanan mereka bukan perlawanan untuk kemudian menghancurkan konteks negara,
05:17tapi mendowngrade penegara dalam konteks yang lebih, di mata mereka tidak lebih baik gitu, Mas.
05:25Untuk meredam peristiwa serupa kembali terulang, apakah pergerakan dari kelompok-kelompok seperti ini
05:31memang sulit untuk kemudian dihalangi oleh aparat kita atau seperti apa Pak Muradi?
05:36Ya kita ini evaluasi ya, saya kira aparat kita kemudian sangat-sangat kukul ya.
05:41Jadi begitu rame, berusaha untuk mencari setelah mulai sepi, tidak terlalu besar, kemudian akhirnya hilang sama sekali.
05:48Dan tidak dikawal benar.
05:49Saya membayangkan begini, kemarin ketika kemudian terjadi, misalnya katakanlah di Monas gitu, mungkin beda cerita ya.
05:58Nah problemnya adalah memang ini betul-betul sudah terdeteksi betul bahwa ada pergerakan itu harusnya diantisipasi.
06:05Karena Intel Cam itu, dia harus menikmati 3 hari sebelumnya untuk melakukan report berkaitan dinamika tersebut.
06:12Apakah memang katakanlah nanti Dalmas itu melakukan, misalnya katakanlah pengaman yang jauh lebih intensif, jauh lebih banyak dan sebagainya.
06:18Antisipasi itu yang saya kira penamai berulang, tidak dilakukan secara masif ya, tidak terlalu efektif.
06:24Karena melihat, memandang bahwa FIF ini kelompok kecil dan dipandang sebagian besar oleh, saya mohon maaf mungkin saat-saat saya
06:31juga tidak terlalu pas ya bahasanya,
06:34bahwa kemudian dipandang sebagai sebelah mata.
06:36Padahal saya bilang bahwa mereka ini pintar-pintar.
06:38Anak-anak yang baru lulus, baru lagi kelas 3 SMA, anak baru semester awal, dan mereka punya visi yang jauh
06:45lebih maju.
06:47Tapi penekannya penekan lebih kepada anak-anak.
06:49Oke, bahwa Pak Muradi tadi sudah menggambarkan ciri-ciri, termasuk juga tujuan, tetapi faktanya polisi kita sampai saat ini belum
06:57menangkap para terduga pelaku.
06:59Apa sesungguhnya kesulitannya Pak Muradi?
07:01Atau mungkin sudah begitu banyak kelompok-kelompok seperti ini, khususnya di Bandung, Jawa Barat?
07:07Ini ekslusif, Mas. Jadi nggak semua orang bisa ya.
07:10Oke.
07:10Saya, ya jadi ekslusif ini yang kemudian membuat mereka pada akhirnya,
07:14jangan bayangkan mereka adalah orang-orang yang kemudian punya tato, punya anting gitu ya,
07:19atau misalnya mereka kemudian famous person gitu di kampus maupun di sekolah gitu.
07:26Mereka adalah orang biasa, anak mahasiswa, siswa dan mahasiswa biasa yang memang tidak terdekat oleh kita.
07:31Ini yang saya kira penting buat kita untuk kemudian secara perlahan untuk bisa mengamati betul.
07:37Karena gini, kalau dibiarkan, target mereka adalah mendowngrade negara, mendowngrade society.
07:43Ini yang saya kira juga penting, karena sampai hari ini saya berkali-kali bicara misalnya,
07:49dulu sempat isunya ada petinggi dari FAF gitu ya, itu ditangkep, ternyata nggak juga mereka tetap.
07:54Karena figur buat mereka adalah tidak utama.
07:58Yang buat utama mereka adalah bukan figur, tapi nilai.
08:02Nah nilai kata nilai terkait dengan buat downgrade negara dan sebagainya itu menjadi penting buat mereka.
08:06Jadi ketika misalnya katakan saya misalnya dianggap petinggi gitu ya,
08:09saya diproses atau digarap oleh perkemaran, maka saya hilang.
08:14Saya nggak akan menghilang akses ke mereka.
08:16Makanya kemudian itu makanya mereka tertumbuh.
08:18Ini yang saya kira penting buat dilihat secara matang.
08:21Karena kalau tidak, saya khawatir bukan cuma di Bandung dan Malang, Surabaya,
08:26yang basis mereka, bahkan Jogja ya.
08:28Tapi juga mungkin misalnya akan masuk ke wilayah-wilayah yang jauh lebih strategis.
08:32Ini yang saya kira kalau kita belajar berkaitan dengan beberapa aksi anarko di banyak negara,
08:36di Jepang, kemudian di Amerika Serikat, dan Eropa itu mereka menyasar yang jauh lebih strategis.
08:43Baik, tentu ini menjadi pekerjaan rumah untuk polisi agar peristiwa serupa tidak kembali terulang
08:49di seluruh wilayah tanah air.
08:50Terima kasih Guru Besar Ilmu Politik dan Keamanan Universitas Pejaran.
08:54Bapak Muradi telah bergabung di Tomas Petang.
Komentar