Lewati ke pemutarLewatkan ke konten utama
KOMPAS.TV - Aksi massa di Simpang Tamansari, Kota Bandung, Jumat (1/05/2026) malam, berujung pada pembakaran sejumlah fasilitas umum.

Kerusuhan juga pernah terjadi di lokasi yang sama pada awal September 2025, menyusul aksi unjuk rasa di depan Gedung DPRD Jawa Barat.

Mengapa demo berujung ricuh berulang kali terjadi? Simak pembahasan KompasTV bersama Guru Besar Ilmu Politik dan Keamanan Universitas Padjadjaran, Muradi.

Baca Juga Penampakan Simpang Tamansari Bandung Usai Pembakaran dan Kerusuhan | KOMPAS PETANG di https://www.kompas.tv/regional/666632/penampakan-simpang-tamansari-bandung-usai-pembakaran-dan-kerusuhan-kompas-petang

#bandung #kerusuhan #demo #breakingnews

Artikel ini bisa dilihat di : https://www.kompas.tv/regional/666633/blak-blakan-guru-besar-unpad-soroti-kerusuhan-dan-pembakaran-di-bandung-bukan-massa-demo
Transkrip
00:00Aksi masa di Simpang, Taman Sari, Kota Bandung, Jawa Barat pada Jumat malam berujung pada pembakaran sejumlah fasilitas umum.
00:05Kerusuhan juga pernah terjadi di lokasi yang sama pada awal September 2025.
00:10Menyusul aksi unjuk rasa di depan gedung DPR di Jawa Barat.
00:13Mengapa demo berujung ricuh berulang kali terjadi?
00:16Kami akan membahasnya bersama Guru Besar Ilmu Politik dan Keamanan Universitas Payajaran Bandung dengan Bapak Muradi.
00:22Pak Muradi, selamat petang.
00:25Selamat petang, Mas.
00:26Baik.
00:26Saya selalu.
00:28Baik, terima kasih Pak Muradi.
00:29Pak Muradi, bahwa Kapolda Jawa Barat, Irjenpol Rudi Setiawan menegaskan bahwa kerusuhan yang terjadi pada kemarin malam tidak ada kaitannya
00:36dengan buruh, tidak ada kaitannya dengan mahasiswa.
00:39Lalu, siapa pelakunya dan apa motif dari kerusuhan itu?
00:43Kalau melihat polanya kan, kalau kita cek 5-7 tahun yang lalu ya, ini kan juga pernah terjadi aksi buruh
00:50dan kemudian berunjuk kerusu.
00:52Dan kerusuannya kemudian kita membacanya tiga hal.
00:55Yang pertama, selalu dia pakai balak lava, penutup muka, kemudian pakaiannya hitam-hitam, ketiga juga kemudian mereka tidak nge-blend
01:06dengan masa yang lain.
01:08Artinya apa nge-blend begini, kalau aksi September 2025 kemarin, itu kan mix ya.
01:13Ada kemarahan publik berkaitan dengan isu-isu berkaitan soal apa, soal unjuk rasa yang Agustus 2025 kemarin.
01:21Jadi memang saya menangkapnya adalah, inilah bagian dari pola penyusupan tanda kutip yang sifatnya kemudian terstruktur.
01:29Terstruktur kenapa? Karena memang mereka menangkap, mengelola, dan membaca pola-pola gerakan itu.
01:35Karena begini, kalau unjuk rasa aksi mahasiswa, beberapa kali mereka tidak terlalu bisa mengelit ya, mengambil momen-momen tertutup.
01:43Tapi kalau aksi buru dan aksi umum sepertinya, beberapa kali di Bandung itu mereka kemudian mengambil dan melit,
01:49tadi mengambil, mengapa, memimpin untuk masa melakukan tindakan-tindakan Argi.
01:54Bahwa dari 125 kemudian jadi 25 orang yang tersangka, saya kira lebih banyak kemudian pertama ikut-ikutan,
02:01yang kedua adalah bagian dari yang sama sekali karena dinamika yang ada di lapangan.
02:07Sebagian kecilnya adalah mereka yang kemudian menjadi bagian dari kelompok praktis gitu-gitu, Mas.
02:14Oke, bahwa tadi Pak Muradi menyebutkan, terduga pelaku yang mungkin berjubah ratusan ya, Pak Muradi,
02:19ini menggunakan penutup wajah atau balak lava dan juga tidak bercampur dengan masa buru ataupun mahasiswa.
02:25Artinya, gerombolan orang ini terafiliasi kepada kelompok anarko betul demikian?
02:29Atau ada kelompok lain mungkin?
02:32Ya, kalau melihat polanya sejak 10-15 tahun yang lalu,
02:36memang kelompok ini relatif punya pengikut ya.
02:40Katakanlah mereka kemudian tidak terbuka dan kalaupun kita misalnya melihat,
02:44sempat mungkin di 2018-2019 kalau tidak salah,
02:49sehingga saya masih patito, Kapoling kemudian mengusut proses itu
02:54dan kemudian ternyata ada banyak figur yang kemudian terlibat untuk memberikan pemahaman.
02:59Karena begini, Mas, mereka ini pintar ya.
03:01Mereka pintar dan banyak dari mereka adalah kemudian marah dengan situasi politik
03:06dan situasi kepentingan yang ada hari ini.
03:08Jadi, mereka akan melakukan upaya untuk anarki untuk hal yang bersifat antinegara.
03:14Dan saya kira ini yang penting buat dilihat oleh teman-teman di kepolisian
03:17dan juga teman-teman aparat kamar.
03:19Karena ini dia hampir tidak terdeteksi.
03:22Jadi, kata-kata kalau kita merujuk aksi terakhir di September 2025,
03:26mereka tidak kemudian terbongkar ya, apa namanya, sindikasinya.
03:32Mereka menerapi sekali dan sebagainya.
03:33Saya kira itu yang perlu kemudian dilihat secara, apa, secara kooperatif.
03:38Terutama untuk teman-teman intelijen keamanan maupun intelijen dari, apa namanya, negara.
03:44Yang memang pada akhirnya ingin, pada akhirnya memberikan stimulasi
03:47supaya mereka tidak lagi melakukan tindakan yang sifatnya merusak dan mengancam jiwa orang lain.
03:52Oke, kemudian pertanyaannya bahwa sejumlah fasilitas betul sudah dirusak.
03:56Tadi Pak Muradi menyebutkan ini adalah bentuk kemarahan.
03:58Tapi pesan apa yang sesungguhnya ingin disampaikan oleh para pelaku kerusuhan?
04:02Dan apakah ada yang, mohon maaf, memotori ataupun mendalangi pergerakan ini?
04:07Kalau ngak polanya sempat di 2019 itu kan mereka kemudian mengecil ya.
04:12Ada yang mengecil, mereka kemudian tidak terlalu besar.
04:13Kemudian di 2 pasca COVID-19 mereka membesar lagi, 2023 dan pada akhirnya kemudian 2025 dan sekarang 2026.
04:20Kalau ditanya apakah mereka motifnya, motifnya mereka memang ingin kemudian membuat gaduh.
04:25Jadi kalau ditanya apakah mereka, mereka punya baca aja mungkin jauh lebih, jauh lebih advance ya dibanding seusianya.
04:30Karena sebagian besar adalah anak-anak mahasiswa SMA kelas 3 gitu,
04:34kemudian dengan mahasiswa yang di awal-awal yang memang tidak tergabung dalam aktivis kemasukan atau aktivis kampung.
04:39Jadi memang saya menangkapnya sebenarnya ini lebih kepada soal pesan bahwa mereka marah dengan situasi
04:45dan buat mereka adalah pesan ini sampai ke publik dan juga ke negara bahwa situasi hari ini tidak baik-baik
04:51saja.
04:51Dan dalam posisi tertentu misalnya, mereka ingin eksis di antara apa namanya.
04:56Kalau saya nyebutnya Pak, apa namanya, mereka sedang kemudian berada dalam posisi mendayung di antara banyak situasi ya.
05:05Apa namanya, katakanlah ada apa, buru, mahasiswa, negara dan sebagainya membuat mereka kemudian tetap eksis.
05:10Nah eksis itu yang saya kira menjadi titik-titik tertinggi mereka.
05:14Buat mereka, perlawanan mereka bukan perlawanan untuk kemudian menghancurkan konteks negara,
05:17tapi mendowngrade penegara dalam konteks yang lebih, di mata mereka tidak lebih baik gitu, Mas.
05:25Untuk meredam peristiwa serupa kembali terulang, apakah pergerakan dari kelompok-kelompok seperti ini
05:31memang sulit untuk kemudian dihalangi oleh aparat kita atau seperti apa Pak Muradi?
05:36Ya kita ini evaluasi ya, saya kira aparat kita kemudian sangat-sangat kukul ya.
05:41Jadi begitu rame, berusaha untuk mencari setelah mulai sepi, tidak terlalu besar, kemudian akhirnya hilang sama sekali.
05:48Dan tidak dikawal benar.
05:49Saya membayangkan begini, kemarin ketika kemudian terjadi, misalnya katakanlah di Monas gitu, mungkin beda cerita ya.
05:58Nah problemnya adalah memang ini betul-betul sudah terdeteksi betul bahwa ada pergerakan itu harusnya diantisipasi.
06:05Karena Intel Cam itu, dia harus menikmati 3 hari sebelumnya untuk melakukan report berkaitan dinamika tersebut.
06:12Apakah memang katakanlah nanti Dalmas itu melakukan, misalnya katakanlah pengaman yang jauh lebih intensif, jauh lebih banyak dan sebagainya.
06:18Antisipasi itu yang saya kira penamai berulang, tidak dilakukan secara masif ya, tidak terlalu efektif.
06:24Karena melihat, memandang bahwa FIF ini kelompok kecil dan dipandang sebagian besar oleh, saya mohon maaf mungkin saat-saat saya
06:31juga tidak terlalu pas ya bahasanya,
06:34bahwa kemudian dipandang sebagai sebelah mata.
06:36Padahal saya bilang bahwa mereka ini pintar-pintar.
06:38Anak-anak yang baru lulus, baru lagi kelas 3 SMA, anak baru semester awal, dan mereka punya visi yang jauh
06:45lebih maju.
06:47Tapi penekannya penekan lebih kepada anak-anak.
06:49Oke, bahwa Pak Muradi tadi sudah menggambarkan ciri-ciri, termasuk juga tujuan, tetapi faktanya polisi kita sampai saat ini belum
06:57menangkap para terduga pelaku.
06:59Apa sesungguhnya kesulitannya Pak Muradi?
07:01Atau mungkin sudah begitu banyak kelompok-kelompok seperti ini, khususnya di Bandung, Jawa Barat?
07:07Ini ekslusif, Mas. Jadi nggak semua orang bisa ya.
07:10Oke.
07:10Saya, ya jadi ekslusif ini yang kemudian membuat mereka pada akhirnya,
07:14jangan bayangkan mereka adalah orang-orang yang kemudian punya tato, punya anting gitu ya,
07:19atau misalnya mereka kemudian famous person gitu di kampus maupun di sekolah gitu.
07:26Mereka adalah orang biasa, anak mahasiswa, siswa dan mahasiswa biasa yang memang tidak terdekat oleh kita.
07:31Ini yang saya kira penting buat kita untuk kemudian secara perlahan untuk bisa mengamati betul.
07:37Karena gini, kalau dibiarkan, target mereka adalah mendowngrade negara, mendowngrade society.
07:43Ini yang saya kira juga penting, karena sampai hari ini saya berkali-kali bicara misalnya,
07:49dulu sempat isunya ada petinggi dari FAF gitu ya, itu ditangkep, ternyata nggak juga mereka tetap.
07:54Karena figur buat mereka adalah tidak utama.
07:58Yang buat utama mereka adalah bukan figur, tapi nilai.
08:02Nah nilai kata nilai terkait dengan buat downgrade negara dan sebagainya itu menjadi penting buat mereka.
08:06Jadi ketika misalnya katakan saya misalnya dianggap petinggi gitu ya,
08:09saya diproses atau digarap oleh perkemaran, maka saya hilang.
08:14Saya nggak akan menghilang akses ke mereka.
08:16Makanya kemudian itu makanya mereka tertumbuh.
08:18Ini yang saya kira penting buat dilihat secara matang.
08:21Karena kalau tidak, saya khawatir bukan cuma di Bandung dan Malang, Surabaya,
08:26yang basis mereka, bahkan Jogja ya.
08:28Tapi juga mungkin misalnya akan masuk ke wilayah-wilayah yang jauh lebih strategis.
08:32Ini yang saya kira kalau kita belajar berkaitan dengan beberapa aksi anarko di banyak negara,
08:36di Jepang, kemudian di Amerika Serikat, dan Eropa itu mereka menyasar yang jauh lebih strategis.
08:43Baik, tentu ini menjadi pekerjaan rumah untuk polisi agar peristiwa serupa tidak kembali terulang
08:49di seluruh wilayah tanah air.
08:50Terima kasih Guru Besar Ilmu Politik dan Keamanan Universitas Pejaran.
08:54Bapak Muradi telah bergabung di Tomas Petang.
Komentar

Dianjurkan