Lewati ke pemutarLewatkan ke konten utama
KOMPAS.TV - Pembicaraan untuk menghentikan perang tengah dilakukan oleh Amerika Serikat dan Iran. Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengaku saat ini AS dan Iran sedang diskusi. Negosiasi kini tak perlu lagi dilakukan di Pakistan. Dalam periode diskusi ini, Trump menegaskan Iran harus menyerah.

Menurut Trump, Iran tidak lagi memiliki pasukan militer sementara Amerika memiliki militer yang luar biasa. Sehingga Iran harus segera menyatakan menyerah dan menyepakati kesepakatan yang diminta Amerika, bahwa tidak akan ada senjata nuklir.

Namun di tengah pembicaraan yang dilakukan oleh AS dan Iran, gejolak di internal negeri Paman Sam mulai menyeruak. Untuk pertama kali sejak perang, parlemen AS menggelar sidang dengan Menteri Perang Pete Hegseth.

Mereka mengkritik sikap Trump dalam perang melawan Iran.

Anggota Kongres AS dari Partai Demokrat Rohit Khanna mencecar Menteri Perang Hegseth terkait biaya yang harus dikeluarkan AS menanggung semua kerusakan infrastruktur militer imbas perang dengan Iran.

#AS #iran #konflik

Baca Juga Polisi Siapkan Rekayasa Lalu Lintas Jelang Hari Buruh, 200 Ribu Massa Diperkirakan Hadir di https://www.kompas.tv/regional/666376/polisi-siapkan-rekayasa-lalu-lintas-jelang-hari-buruh-200-ribu-massa-diperkirakan-hadir



Artikel ini bisa dilihat di : https://www.kompas.tv/internasional/666380/full-pengamat-soal-adanya-tekanan-di-internal-parlemen-as-konflik-timur-tengah-akan-usai
Transkrip
00:00Dengan adanya tekanan di internal parlemen AS, bagaimana kelanjutan perang Amerika Serikat dengan Iran?
00:06Kita akan bahas bersama dengan pengamat intelijen dan keamanan nasional, Steffi Andriani.
00:10Selamat malam, Mbak Steffi.
00:12Selamat malam, Pak Ibrahim.
00:14Ini kejelang deadline ya. Apakah putusan Kongres AS nanti ini krusial terhadap nasib perang Amerika Serikat dan Iran, Mbak Steffi?
00:21Ya, jadi setelah perang Vietnam itu Pak Ibrahim Kongres Amerika itu mengesahkan hukum 1973, yang artinya kekuasaan presiden itu dibatasi.
00:34Nah, jadi kalau mau berperang itu dikasih waktu 60 hari. Nanti setelah 60 hari ini itu harus ditentukan.
00:40Apakah diizinkan untuk dilanjutkan otoritas Kongres atau memang harus di-stop.
00:47Dan dalam dinamika dalam beberapa hari ini, sepertinya sudah mulai banyak pro dan kontra nih Pak Ibrahim, termasuk dari beberapa
00:58senator dari Republik sendiri.
01:00Seperti misalnya senator dari Tom Tillis dan Susan Collins juga menyampaikan tidak akan menyetujui kelanjutan operasi militer ini.
01:08Apalagi sudah disampaikan ya, dirilis bahwa biaya perangnya sudah 25 USD, miliar gitu.
01:17Jadi artinya benar-benar besar sekali dan akan ada pengajuan tambahan 200 miliar USD.
01:25Sepertinya ini agak kurang disetujui begitu Pak Ibrahim.
01:28Jadi artinya kalau dari Kongres sendiri, baik Demokrat maupun Republik ini mayoritas mempertanyakan soal efisiensi perang ini atau kegunaan atau
01:40manfaat di perang ini.
01:42Betul, kebijakan luar negeri dan dalam rangka Epic Fury ini ya, ini kan sudah hari ke-60.
01:50Sementara dengan anggaran sebesar itu, kalau kita lihat disini sudah 102 lebih nih Pak Ibrahim, aset dari Amerika sendiri rusak,
02:01termasuk 74 pesawat, 28 kapal ya.
02:05Itu di global military open source juga bisa kita lihat ya.
02:10Termasuk kalau kita cek misalnya F-15E, misalnya Strike Eagle-nya mereka, kemudian KC-135 tanker mereka, helikopter dan 14
02:20tentara Amerika gugur gitu ya.
02:23Artinya walaupun niatan awal COG-nya mengganti rezim, kemudian menurunkan serangan rudal dan Iran tidak memiliki nupir.
02:34Tapi buat masyarakat Amerika sendiri yang saya rasa realis dan punya rasional choice dalam menghit, ini perang yang cukup mahal
02:44Pak Ibrahim.
02:45Kalau Anda melihat bagaimana seorang Donald Trump membagi pengaruh di saat internal bergejolak di parlemen, di negaranya sendiri,
02:53tapi juga operasi milita di Selat Hormus masih terus dijalankan.
02:57Bagaimana membagi ini Anda melihatnya seorang Trump?
02:59Ya, jadi dengan adanya Menteri tadi ya, Pete Hesed ini adalah salah satu sosok yang menurut saya cukup memahami emosional
03:09dan keinginan dari Presiden Trump itu sendiri ya.
03:13Jadi artinya untuk menghadapi Kongres kemarin, tadi cuplikannya kita lihat ya, Bapak Menteri Pertahanan atau Menteri Perang ini pasang badan
03:21sepertinya ya Pak Ibrahim.
03:22Artinya mungkin untuk di dalam negeri ada jagoan-jagoannya striker-strikernya Presiden Trump yang diminta untuk berkomunikasi.
03:31Dan Presiden Trump sendiri lebih memilih berkomunikasi dengan tadi Presiden Putin, atau mungkin nanti berkomunikasi dengan China gitu ya.
03:39Tentunya perang ini berbeda dengan perang Iran-Irak gitu.
03:44Jadi, Iran sebelum dihajar dengan Epic Fury dan Roaring Lion ini memang ekonominya sedang tidak baik-baik saja ya.
03:53Real sedang anjlok 42 persen.
03:55Kemudian juga tidak ada negara besar yang secara terang-terangan mendukung Iran.
04:00Kalau kita lihat Rusia ya mungkin bisa juga dua kaki berlaporan intelijen, China mungkin AI warfare-nya.
04:07Tapi secara terang-terangan gitu ya, side by side mendukung Iran itu kan sampai hari ke-60 ini tidak terlalu
04:16kelihatan gitu Pak Ibrahim.
04:18Tidak ada yang declare ya artinya.
04:19Tapi kalau misalkan tadi yang disinggung oleh Trump, tengah negosiasi dengan Iran, apakah akan mulus diskusinya?
04:27Karena tadi tetap Trump menekankan soal tidak ada lagi nuklir di Iran.
04:31Ya, jadi sebetulnya kalau tadi kita kembali, apakah memang harus Presiden Amerika itu setelah 60 hari nurut patuh kepada Kongres?
04:42Memang dari aturannya kan seperti itu.
04:44Tapi kalau kita lihat Presiden Clinton pada saat Kosovo, waktu itu tahun 99 lebih ya, itu dia menerobos 60 hari
04:54tanpa izin Kongres.
04:56Nah ini sekarang sebetulnya kalau Presiden Trump mau mengikuti jejak itu sih mungkin bisa-bisa saja, tapi tadi artinya popularitasnya,
05:04kemudian juga nama besar partai Republik, kemudian juga soliditas nanti pemilu selak gitu ya.
05:12Jadi saya rasa kalau dari sisi damai dalam jangka pendek, Amerika ini lebih membutuhkan perdamaian dalam jangka waktu pendek.
05:22Karena ada unsur politiknya seperti itu.
05:24Sementara di Iran, masyarakat dan publik Iran cenderung setuju.
05:29Ibaratnya mungkin tegak lurus, apapun yang diminta oleh Presiden dan Mosabah Hamena ini diikuti gitu ya.
05:37Jadi ini mungkin perbedaan mendasar.
05:41Nah, fase yang menarik adalah ketika lebih dari 60 hari ini, Amerika berarti memasuki fase perang dalam hukum ilegal.
05:49Artinya kalau Kongres atau Senat nanti tidak menyetujui, berarti 61 kesana ini adalah perang ilegal.
05:56Karena hanya diperbolehkan pasca perang Vietnam itu, Presiden itu melakukan operasi hanya 60 hari pertama.
06:03Selanjutnya itu evaluasi seperti itu.
06:05Risikonya apa? Apa yang akan diterima oleh Trump jika melanggar tadi 60 hari tidak ikuti putusan Kongres?
06:12Paling signifikan mungkin Mosi tidak percaya, Pak Ibrahim.
06:17Ini menarik.
06:17Kalau Mosi tidak percaya, artinya ada konsolidasi di internal Partai Republik ya.
06:23Atau mungkin nanti mekanisme di Amerika.
06:25Apakah nanti masing-masing negara bagian.
06:26Nah, ini makanya kalau saya lihat beberapa tokoh-tokoh penting di Partai Republik berusaha menghindari voting.
06:34Kalau sampai voting ini kelihatan nanti mana yang setuju dan tidak dan mungkin siapa nanti yang akan memegang.
06:41Jadi, bahasanya adalah War Power Acts.
06:45Jadi, artinya bahwa kekuasaan pemimpin Presiden sekelas Amerika sendiri dibatasi dalam mengambil keputusan perang.
06:54Itu 60 hari.
06:55Hukumnya 973.
06:57Nah, ini memang yang sedang jadi perkebatan di dalam publik Amerika.
07:01Ini karena didilainya tanggal 1 ya.
07:031 Mei kita akan tunggu nanti bagaimana hasil keputusan di Kongres.
07:06Terima kasih.
07:07Mbak Steffi Andriani, pengamat intelijen dan keamanan nasional telah menyampaikan pandangan di Kompas Malam hari ini.
Komentar

Dianjurkan