Lewati ke pemutarLewatkan ke konten utama
  • 2 jam yang lalu
KOMPAS.TV - Presiden Prabowo Subianto kembali menyindir soal narasi Indonesia gelap dan kabur aja dulu.

Prabowo mempersilakan pihak-pihak yang sering menyampaikan narasi negatif soal Indonesia untuk kabur ke Yaman.

Presiden Prabowo saat berpidato di acara ground breaking proyek di Cilacap menyatakan Indonesia kini mulai hidup secara mandiri.

Namun, ia heran karena saat ini masih ada pihak yang menyuarakan narasi-narasi negatif seperti Indonesia gelap dan kabur aja dulu.

Prabowo mempersilakan jika mereka ingin kabur dari Indonesia.

Presiden juga mengingatkan masyarakat, khususnya para intelektual, lebih objektif melihat kondisi Indonesia dan perkembangan situasi global.

Prabowo menyebut Indonesia kini dianggap negara paling aman di dunia.

Presiden Prabowo kembali singgung soal narasi Indonesia gelap dan kabur aja dulu.

Prabowo mempersilakan pihak-pihak yang mengusung narasi negatif soal Indonesia itu agar kabur ke Yaman. Bagaimana membaca pernyataan Presiden Prabowo ini.

Kita ulas bersama Politisi Gerindra, Sugiat Santoso dan Direktur Eksekutif Lingkar Madani, Ray Rangkuti.

Baca Juga Singgung soal "Indonesia Gelap", Prabowo: Kabur Saja ke Yaman | KOMPAS PETANG di https://www.kompas.tv/regional/666332/singgung-soal-indonesia-gelap-prabowo-kabur-saja-ke-yaman-kompas-petang

#prabowo #kaburajadulu #indonesiagelap #rayrangkuti

_

Sahabat KompasTV, Mulai 1 Februari 2026 KompasTV pindah channel. Dapatkan selalu berita dan informasi terupdate KompasTV, di televisi anda di Channel 11 pada perangkat TV Digital atau Set Top Box. Satu Langkah lebih dekat, satu Langkah makin terpercaya!

Artikel ini bisa dilihat di : https://www.kompas.tv/nasional/666367/full-politisi-gerindra-buka-suara-ray-rangkuti-kritisi-prabowo-singgung-soal-kabur-ke-yaman
Transkrip
00:01Kembali bersama kami, Presiden Prabowo Subianto kembali menyindir soal narasi Indonesia Gelap dan kabur aja dulu.
00:09Prabowo mempersilahkan pihak-pihak yang sering menyampaikan narasi negatif soal Indonesia untuk kabur ke Yaman.
00:16Presiden Prabowo saat berpidato di acara groundbreaking proyek di Cilacap, Jawa Tengah, menyatakan Indonesia kini mulai hidup secara mandiri.
00:24Namun ia heran karena saat ini masih ada pihak yang menyuarakan narasi-narasi negatif seperti Indonesia Gelap dan kabur aja
00:31dulu.
00:31Prabowo mempersilahkan jika mereka ingin kabur dari Indonesia.
00:35Presiden juga mengingatkan masyarakat, khususnya para intelektual, lebih objektif melihat kondisi Indonesia dan perkembangan situasi global.
00:43Presiden menyebut Indonesia kini dianggap negara paling aman di dunia.
00:52Gerakan ini, gerakan itu, terus kita dibikin apalagi Indonesia Gelap.
01:05Matanya burem Indonesia Gelap.
01:08Indonesia Terang.
01:11Ada yang mau kabur.
01:15Ada yang mau kabur, kabur aja.
01:18Kau kabur aja ke sana.
01:24Mungkin ada yang mau kabur ke Yaman.
01:29Silahkan.
01:32Mau kabur kemana?
01:35Hei, orang-orang pinter.
01:38Bukalah.
01:40Bukalah berita.
01:44Lihatlah.
01:47Kita ditempatkan sebagai negara yang paling aman di dunia sekarang.
01:55Kabur aja deh.
01:58Iya, kabur aja biar kita gak gaduh.
02:05Presiden Prabowo Subianto kembali menyinggung soal narasi Indonesia Gelap dan kabur aja dulu.
02:12Prabowo mempersilahkan pihak-pihak yang mengusung narasi negatif soal Indonesia itu agar kabur ke Yaman.
02:18Bagaimana kemudian membaca pernyataan Presiden Prabowo ini.
02:21Kami akan diskusikan ini bersama dengan para narasumber.
02:24Bergabung saat ini politisi Partai Gerindra Sugiyat Santoso dan Direktur Eksekutif Lingkar Madani Rey Rangkuti.
02:30Selamat malam semuanya dengan Tifal di sini.
02:31Apa kabar?
02:33Baik, baik.
02:34Selamat malam semuanya.
02:35Terima kasih.
02:36Sudah bergabung bersama kami dalam diskusi kali ini.
02:38Jadi disinggung lagi soal Indonesia Gelap.
02:41Kabur aja dulu.
02:42Terus nyindir siapa yang mengkritik kabur aja ke Yaman ini.
02:45Pak Sugiyat, mau nyasar siapa sebetulnya?
02:50Ya, apa yang disampaikan oleh Pak Prabowo Subianto terkait dengan kritiknya
02:55atas narasi-narasi pesimistik seperti Indonesia Gelap atau kabur saja dulu itu pesannya dua hal.
03:02Yaitu terkait pertama penguatan semangat nasionalisme.
03:05Bahwa kalau kita belajar dari pandang padar kita, bagaimanapun situasi bangsa ini,
03:12ya katakanlah sesusah apapun situasi bangsa ini,
03:15bahwa kita tetap harus memperjuangkan apa yang menjadi cita-cita besar dari bangsa ini.
03:19Bukan malah membangun narasi-narasi seolah bangsa lain itu jauh lebih indah,
03:25jauh lebih enak, jauh lebih bahagia daripada ketika mereka hidup di Indonesia.
03:29Itu kan menyinggung semangat nasionalisme.
03:32Yang kedua adalah semangat optimisme.
03:34Bahwa kritik-kritik yang tidak memberi solusi dan itu lebih besar daripada membangun narasi-narasi pesimis,
03:44saya pikir itu tidak memberikan dampak yang sangat positif bagi pembangunan bangsa ini kan.
03:48Jadi ada dua pesan yang disampaikan Pak Prabowo,
03:51ayo kita semangat nasionalisme itu jangan diremehkan atau direndahkan dengan narasi-narasi yang
03:58seolah-olah Indonesia ini sebuah negara yang tidak baik bagi mereka.
04:03Dan yang paling penting adalah optimisme.
04:04Dan memang kan secara data bahwa dibandingkan misalnya dengan negara lain
04:08yang juga mengalami krisis energi, krisis pangan,
04:11bahwa Indonesia masih dalam koridor yang on the track untuk melaksanakan tujuan-tujuan berbangsanya.
04:17Tapi tujuannya mau disasar ke siapa kritik itu kembali diungkit lagi oleh Presiden Pak?
04:24Ya selama ini kan semenjak era digital banyak sekali misalnya kritik-kritik yang sesungguhnya itu
04:29tidak membumi terhadap realitas yang ada di tengah-tengah masyarakat.
04:34Misalnya kan selama ini kan seolah-olah karena viral itu merupakan bagian dari aspirasi publik.
04:40Padahal kalau kita cek di lapangan atau di tengah-tengah masyarakat,
04:44bahwa masyarakat misalnya terkait dengan program MBG.
04:46Berapa banyak misalnya masyarakat yang itu patungan membangun dapur MBG
04:50itu kan menunjukkan bahwa ada semangat gotong royong, semangat optimisme
04:53bahwa program ini akan berjalan baik dan bisa memberikan sumbangsi yang sangat-sangat besar
04:59terhadap pembangunan sumber daya manusia di Indonesia.
05:02Tidak pernah misalnya dalam sepanjang sejarah ada bahwa begitu banyak kelompok masyarakat
05:09yang mau menyisikan ekonominya, misalnya uangnya itu untuk membangun dapur
05:14dan itu mungkin sekitar 2 tahun bisa balik modal.
05:17Tapi lihatlah yang terjadi.
05:19Berapa puluh ribu sekarang dapur MBG yang dibangun oleh masyarakat dengan patungan,
05:25dengan dana yang sangat mandiri dan itu kembaliannya mungkin sekitar 1,5 sampai 2 tahun.
05:31Itu menunjukkan bahwa masyarakat di level bawah itu lebih optimis dalam menyikapi kebijakan-kebijakan
05:36atau program yang sudah diambil oleh Pak Prabowo Subianto.
05:41Kalau dalam konteks yang disampaikan di Cilacap kemarin itu Pak Prabowo juga menyinggung
05:45hei orang-orang pintar, jadi orang-orang pintar ini maksudnya ke siapa kalau gitu Pak?
05:50Ya bisa saja bahwa selama ini senior-senior yang melakukan kritik,
05:55apalagi kan selama ini kan ada semacam kemarin ada narasi Indonesia Gelap,
06:00itu kan sangat menyinggung harkat nasionalisme kita kan?
06:03Seolah-olah ini bangsa sedang sangat menderita sekali kan?
06:06Dan ada sebuah narasi kabur saja dulu lebih enak di luar negeri.
06:10Kan itu kan menyinggung nasionalisme kita.
06:13Dulu kalau panding pader kita berpikir seperti itu,
06:15misalnya Hatta sudah enak-enak dia di Belanda.
06:18Kalau dia berpikir sangat apa ya, sangat receh seperti itu,
06:22dia nggak mau balik ke Indonesia, Indonesia nggak akan merdeka.
06:24Kita butuh orang pintar, intelektual, aktivis, segenap elemen bangsa
06:30untuk katakanlah atas dasar nasionalisme itu jangan kita remehkan Indonesia ini
06:35di mata diri kita sendiri, kan saya pikir itu.
06:38Nah, Bung Reh, menurut Anda pernyataan Pak Prabowo kembali mengungkit masalah
06:42Indonesia Gelap, kabur aja dulu, ini mau disasar ke siapa?
06:46Ya, saya juga kurang tahu ya.
06:49Karena Pak Prabowo mengungkit apa yang sebenarnya sudah lama
06:54atau bahkan mengungkit pada tingkat tertentu sudah mulai ditinggalkan orang gitu ya.
07:00Kabur aja dulu itu kan singkat saya awal-awal John Wari dahulu ya, munculnya gitu.
07:05Nah, jadi sekarang sudah berapa bulan tuh, tiga bulan orang sudah agak lupa
07:12dengan pagar itu, tapi Pak Prabowo ternyata masih ingat gitu.
07:17Jadi, kadang-kadang kita melihat apa yang sudah adem di tengah masyarakat
07:22dibangkitkan lagi oleh Pak Prabowo gitu loh.
07:24Kembali tujuannya, berarti tujuannya buat apa kalau gitu menurut Anda?
07:29Saya juga nggak tahu ya.
07:30Karena saya lihat Pak Prabowo akhir-akhir ini agak sensi ya gitu.
07:35Setelah mungkin peristiwa halal-bilhalal kemarin.
07:38Jadi, banyak hal kemudian yang dipandang, didihat ya,
07:42sebagai sesuatu yang tidak mengembirakan lah bagi beliau gitu.
07:46Meskipun di tengah-tengah itu, beliau selalu berujar,
07:50ya perlunya kritik lah, inilah gitu.
07:53Ini halal-bilhalal ini maksudnya halal-bilhalal yang pengamat waktu itu?
07:56Iya.
07:58Kan kesana tuh.
08:00Tapi ya, kalau pidato beliau itu kan banyak aspek tuh.
08:05Jadi, setiapnya tiga tuh kan yang disasar ya.
08:09Pertama adalah anak-anak genzi yang membuat tagar dahulu soal kabur aja dulu.
08:15Kedua adalah kaum intelektual yang ia sebut sebagai tidak patriotik dan nasionalis gitu ya.
08:20Dan yang ketiga adalah, ya pesaingnya dulu.
08:24Ya kan, yang dikait-kaitkan dengan kabur aja ke Yaman gitu.
08:28Jadi, pesaing spesifiknya maksudnya kemana nih Bang?
08:31Enggak, itu tadi udah tiga kelompok itu yang disasar.
08:35Kelompok genzi yang dulu buat tagar kabur aja dulu, ya kan.
08:39Lalu kelompok intelektual yang ia sebut sebagai tidak patriotik dan nasionalis.
08:43Dan juga kelompok saingan politiknya yang ia sebut sebagai kabur aja ke Yaman gitu.
08:49Oke.
08:49Jadi, tiga kelompok ini disambutkan oleh Pak Prabowo dalam satu nafas ya, dalam satu pembicaraan gitu.
08:56Oke. Pak Sugiyat, kalau kata Bung Re ini Pak Prabowo lagi sensi semenjak ada setelah halal-bihalal pengamat waktu itu.
09:02Benarkah begitu, Pak Sugiyat?
09:04Ya, saya pikir apa yang disampaikan Pak Prabowo tidak mengarah ke satu personal, tidak.
09:12Dia ingin mengingatkan kita, apalagi generasi muda kita, apalagi apa yang menjadi perbincangan di publik lah.
09:19Dia kan itu menunjukkan bahwa dia membaca apa yang menjadi perbincangan di media sosial.
09:24Bahwa tema-tema yang menjadi tagar di media sosial itu dia respon, itu menunjukkan bahwa sekali lagi Pak Prabowo tidak
09:31anti kritik.
09:32Tapi dia ingin menjelaskan, ada yang sangat lebih subtansi daripada apa yang menjadi kritik-kritik publik yang tersebar di media
09:39sosial.
09:40Saya pikir bukan, misalnya dalam konteks istilah kabur saja ke Yaman, itu saya pikir itu tidak mengarah ke satu kelompok
09:47atau satu orang.
09:48Bisa saja bahwa itu semangatnya, jangan dianggap Indonesia ini itu lebih menderita daripada negara-negara lain kan.
09:55Bahwa kita dikaruniai, apalah kekayaan, kekayaan musim, kekayaan sumber daya, dan kekayaan budaya tinggal di Indonesia, tidak ada perang, negara
10:06paling aman.
10:07Seolah-olah bahwa tinggal di Indonesia itu sangat menderita.
10:10Itu yang ingin disampaikan pesan oleh Pak Prabowo, bahwa jangan sampai gara-gara kita merasa semangat nasionalisme itu, jangan sampai
10:18tergerus oleh hal-hal yang bersifat tidak subtansi.
10:21Saya pikir itu, tidak mengarah ke perbincangan.
10:24Nah, itu Bung Rai, jadi kan ada semangat optimisme, ditambah lagi ada penegasan di pidato Pak Prabowo bahwa kini Indonesia
10:30dianggap sebagai negara paling aman di dunia.
10:32Ada semangat optimisme yang ditumbuhkan di situ?
10:35Ya, kalau optimis itu ngapain juga meledek orang lain kan?
10:39Kan sudah tugas dan kewajiban Pak Prabowo untuk meyakinkannya.
10:42Kalau pidato yang kemarin itu lebih dari sekedar mengajak optimisme, tapi meledek sebagian warga negara.
10:48Dan kalau tentu salah perspektif saya, yang enggak patut.
10:51Mana ada kepala negara di dunia ini yang minta, yang menyuruh warga negaranya, kabur aja kalau mau kabur gitu kan?
10:59Dan ini bukan kali pertama ya, Presiden meledek sebagian warga negaranya gitu.
11:04Sebelumnya kan beliau mengatakan anti-anti asing.
11:07Lalu para intelektual yang enggak patriotik, enggak nasionalis.
11:11Apa yang intelektual yang enggak patriotik, enggak nasionalis itu?
11:15Ya, didefinisikan sendiri Pak Prabowo.
11:18Jadi, yang menurut beliau yang nasionalis itu ya begini, bigono gitu.
11:22Gitu lah kira-kira.
11:23Di luar itu ya dianggap enggak nasionalis.
11:25Kan hari ini misalnya kita baca, menteri hak asasi manusia akan buat definisi kira-kira gitu ya.
11:34Mana aktivis yang layak dibantu, aktivis yang sesungguhnya di bidang hak asasi manusia, mana yang tidak gitu.
11:43Jadi, definisi-definisi akan dibuat sendiri oleh Pak Prabowo.
11:47Mana ilmuwan yang patriotik, mana ilmuwan yang nasionalis ya akan dibuat sendiri definisinya.
11:52Dan termasuk meledek yang terakhir kali ini adalah soal Yaman.
11:57Saya tidak mengerti kok sampai negara disebutkan oleh presiden untuk tempat singgah, tempat kabur warga negaranya gitu.
12:05Nah oke, Pak Sugiat bantu jelaskan kenapa sampai keluar ada negara di situ.
12:11Buat mereka yang mau kabur aja, yaudah kabur aja ke sana.
12:14Ya, saya pikir itu tidak dalam konteks meledek Bang Rai kan.
12:18Dan memang gaya komunikasi Pak Prabowo kan gaya komunikasi yang tanpa basa-basi.
12:23Sesekali bahwa ada semangat humor di situ.
12:26Saya pikir jangan terlalu serius kita seolah-olah itu sesuatu yang katakanlah meledek.
12:31Tidak.
12:32Saya selama, sejak awal bersama Pak Prabowo misalnya membangun dan mendirikan Gerindra.
12:38Memang gaya khas beliau dalam berkomunikasi tanpa basa-basi dan sesekali bahwa ada rasa humornya di situ.
12:45Tapi yang paling penting kan bukan itu.
12:48Yang paling penting ada subtansi filosofis yang ini disampaikan oleh Pak Prabowo pada saat itu.
12:52Yaitu tentang bagaimana kita menjaga semangat nasionalisme dan menjaga optimisme.
12:57Walaupun memang ya namanya juga pemerintahan tidak ada yang sempurna.
13:01Pasti ada kekurangan dan kelebihan.
13:03Tapi jangan karena ada kita melihat hanya kekurangan-kekurangan saja.
13:07Lalu kemudian kita membangun darasi yang sesungguhnya itu tidak menambah dampak positif apapun bagi pembangunan bangsa.
13:15Saya pikir itu yang disampaikan oleh Pak Prabowo.
13:17Tapi dari berbagai macam...
13:19Coba kalau kita buat ininya ya, Bung ya.
13:21Coba kalau kita buat redaksinya begini kira-kira.
13:25Pejabat, negara yang tidak becus bekerja, kabur aja dari Indonesia.
13:31Kira-kira apa tanggapannya itu?
13:34Ini narasi ya?
13:37Jangan dibilang nanti saya makar juga gara-gara ini loh ya.
13:40Nah, saya pikir begini.
13:42Jadi ya harus dipasihkan dulu, ini kalimat diskusi ya.
13:46Supaya tidak ada nanti yang melaporkan makar itu.
13:48Masa ada rerangkuti meminta pejabat negara kabur dari Indonesia.
13:53Pak Sogya, silahkan.
13:55Ya, saya pikir ya mungkin gaya komunikasi Bang Rai ya berbeda dengan gaya komunikasi Pak Prabowo.
14:03Tapi kalau saya melihat, itu tidak dalam konteks sekali lagi.
14:06Saya sangat bersangka bahwa dan saya juga ya bisa merasakan suasana kebatinan ketika Pak Prabowo menyampaikan itu bahwa
14:14bahwa sekali lagi, gaya bicara, gaya komunikasi Pak Prabowo itu ya seperti itu, tanpa bahasa-bahasa dan sesungguhnya ada semangat
14:23humor di situ kan.
14:24Tapi kita kan tidak ingin membahas percihan seperti itu.
14:30Kita ingin membahas Pak Prabowo bahwa beliau, pemerintahan sekarang sedang berusaha bersungguh-sungguh misalnya membawa bangsa ini ke arah yang
14:38lebih baik kan.
14:38Bagaimana misalnya Pak Prabowo melawan apa yang menjadi musuh bang Rai dan kawan-kawan selama ini misalnya oligarki.
14:45Bayangkan di pemerintahan Pak Prabowo, itu sudah lebih dari 5 juta hektare lahan yang dikuasai oligarki.
14:53Dan selama ini itu adalah memulai keserakaan oligarki.
14:56Itu secara tegas diambil oleh pemerintahan Pak Prabowo.
14:59Dan itu rencananya akan digunakan bagaimana untuk kesejahteraan rakyat.
15:03Saya pikir itu yang perlu didukung bahwa pemerintahan sekarang sedang berusaha walaupun sesungguhnya tetap ada kekurangan-kekurangan.
15:13Tidak ada yang sempurna di dunia ini.
15:15Tapi jangan kita lihat kekurangan itu untuk membangun sebuah narasi yang kita malah tidak mencintai bangsa.
15:22Sebenarnya Bang Rai, isu-isu seperti ini kegelap, kabur saja dulu itu sebetulnya masih ada.
15:27Nah kemarin misalnya, saya misalnya di Komisi 13, terkait dengan imigrasi atau ekspatriat atau kewarganegaraan.
15:36Ada beberapa misalnya diaspora kita, warganegara kita, yang anaknya punya warganegara Inggris, misalnya warganegara asing misalnya.
15:43Itu jauh lebih bangga untung anakku sudah warganegara asing, bukan warganegara Indonesia.
15:50Kalau semangat itu tidak disikapi secara serius, saya pikir ini menjadi langsungan bangsa.
15:59Apalagi...
16:00Sudah kami tangkap poin dari situ. Mohon maaf, kita sambil perbaiki dulu sinyalnya Pak Sugiyat.
16:04Semangat nasionalisme itu kan agak terkikis.
16:07Oke. Saya akan kasih kesempatan Bung Rai untuk menanggapi itu karena ada contoh kasusnya di situ Bung Rai.
16:12Saya akan kasih kesempatan Bung Rai di segmen berikutnya ya. Kita jeda dulu, tetap di Kompas TV.
16:23Bung Rai, ada contoh kasus warganegara kita yang harusnya bangga jadi warganegara Indonesia, malah jadi bangga dengan status warganegara di
16:30negara orang.
16:31Makanya kemudian Pak Prabowo menyinggung itu lagi masalah Indonesia Gelap dan kabur aja dulu itu.
16:37Ya, pertama kan pemerintah sendiri sudah mengatakan bahwa tidak semua warganegara itu dapat dipuaskan.
16:45Nah, tapi tidak karena itu kemudian mereka diledek juga gitu loh kira-kira tuh.
16:51Nah, yang kedua adalah, kan bukan hanya apa namanya itu ya, rakyat yang katakanlah misalnya mengungkapkan kata-kata sinisme terhadap
17:01pemerintah.
17:01Tapi juga pemerintah kan seringkali mengungkapkan kata-kata sinisme kepada rakyatnya sendiri.
17:07Saya kira udah banyak sekali ya, kata-kata sinisme yang diungkapkan kepada masyarakat.
17:13Misalnya mereka yang menolak MBG nggak tahu bersyukur gitu ya.
17:18Dan termasuk menurut saya,
17:20ungkapan yang menyebut bahwa pembangunan yang sekarang ini,
17:23ya yang membuat sebagian orang mengkritiknya dianggap orang yang tidak bersyukur.
17:28Itu kan juga sinisme.
17:30Jadi kritik kemudian dibalas dengan sinisme, dianggap sebagai sinisme terhadap pemerintah.
17:37Dan anggapan sinisme terhadap pemerintah itu sebetulnya adalah sinisme juga terhadap para pengkritik gitu.
17:43Nah, jadi lebih unik lagi adalah kita mulai melihat gejala sekarang,
17:49di mana definisi mulai dibuat sendiri oleh pemerintah.
17:53Nah, kritik boleh, tapi, kebebasan ada, tapi, demokrasi berkembang, tapi, dan pakai tapi-tapi.
18:02Nah, tapi-tapi ini kan definisi yang dibuat sendiri oleh pemerintah.
18:05Kemudian, ini menurut saya ya,
18:08nggak lebih dan nggak kurang tuh menurut gaya Orde Baru.
18:13Orde Baru kan juga dulu begitu kan,
18:15bahwa kebebasan dijamin,
18:17tetapi, harus etikanya.
18:19Kritik boleh, asal membangun.
18:21Nah, apa yang disebut dengan kritik membangun,
18:24mereka sendirinya buat definisinya juga.
18:26Bukan kita gitu ya,
18:28intelektual harus patriotik.
18:30Apa yang disebut dengan patriotik,
18:31tergantung pemerintah juga definisinya.
18:33Bukan definisi umum.
18:35Makanya ketika muncul sekarang ya,
18:39kritik-kritik yang cukup keras terhadap,
18:41apa namanya itu ya,
18:42pemerintah,
18:43yang dilakukan oleh sebagian intelektual,
18:45lalu dicat para intelektual itu
18:47sebagai tidak patriotik.
18:49Nah, Pak Sugiyat,
18:50sorry, saya potong di situ, Bung Rai.
18:51Pak Sugiyat,
18:52dari sekian banyak narasi yang muncul di media sosial,
18:55Pak Prabowo kan mengkit dua hal ini lagi.
18:57Indonesia gelap, kabur aja dulu.
18:58Seberapa mengganggu ini sebetulnya buat Pak Prabowo?
19:00Sampai itu diungkit lagi.
19:03Ya, kalau menurut kami,
19:04bahwa narasi-narasi yang terkait dengan misalnya
19:08isu Indonesia gelap, kabur saja dulu,
19:10itu menyinggung semangat nasionalisme kita.
19:12Saya pikir itu tidak boleh dianggap reme.
19:14Apalagi terkait dengan,
19:16ya, bagaimana generasi muda kita,
19:19generasi Z kita itu bisa
19:22nasionalisme tumbuh untuk mencintai bangsa ini.
19:24Tapi saya ingin mengkritiki
19:27apa yang disampaikan oleh Bang Rai tadi.
19:29Ya, memang kritik boleh tapi.
19:31Tapi itu kan batasan, Bang.
19:32Demokrasi boleh tapi.
19:34Jadi kan saya pikir,
19:35Bang Rai juga pasti memahami lah,
19:37bahwa demokrasi ada batasan,
19:40kritik ada batasan.
19:42Batasannya apalah?
19:42Batasannya ya,
19:43misalnya terkait dengan etika,
19:46sopan santun,
19:47dan tidak mengumbar kebencian,
19:49dan lain sebagainya.
19:51Kita kan tidak menganut apa ya,
19:53yang menjadi ideologi,
19:55atau cara berpikir,
19:56cara hidup liberal kapitalisme,
19:59yang seenak kita sendiri kan.
20:01Kalau itu yang kita berlakukan,
20:03maka akan sangat berbahaya.
20:04Apalagi,
20:05kalau kita merujuk kembali,
20:06misalnya dengan nilai-nilai luhur,
20:08yang terkandung misalnya di Pancasila,
20:10atau semangat-semangat luhur yang terkandung di budaya kita kan.
20:13Saya pikir,
20:13ya so far masih sangat apalah,
20:16sangat relevan apa yang menjadi,
20:18yang disampaikan oleh Pak Prabowo.
20:20Tapi sekali lagi,
20:21saya ingin menyampaikan bahwa,
20:23saya pikir ini menjadi diskursus kita,
20:26bagaimana semangat nasionalisme,
20:28semangat optimisme itu perlu dibangun,
20:30dalam konteks untuk memberikan,
20:32sumbangsi moral,
20:33atau sumbangsi,
20:34sumbangsi filosofis,
20:36bagi keberlangsungan bangsa ini.
20:38Kalau karasi misalnya,
20:41kabur saja dulu itu,
20:43dibiarkan,
20:44dan itu terus menggelinding,
20:46akan sangat berbahayanya,
20:48bagi masa depan bangsa ini,
20:49misalnya,
20:50kalau generasi muda kita,
20:51yang suatu saat akan mempunyai bangsa ini,
20:53itu menganggap remeh,
20:54apa ya,
20:55ber-Indonesia.
20:56Oke.
20:56Menganggap remeh,
20:58apa ya,
20:59katakanlah berbangsa dan bernegara di Indonesia ini,
21:01saya pikir itu,
21:02yang menjadi,
21:03catatan filosofis,
21:04dan catatan penting,
21:04dari yang disampaikan oleh Pak Prabowo Subianto.
21:06Mungkin bahasa gampangnya adalah,
21:08bebas tapi jangan bablas gitu,
21:09maksudnya Bung Reh.
21:10Ah ya,
21:10tepakat.
21:11Udah pas,
21:12Ledu.
21:12Ya iya,
21:13tapi setelah tapi itu,
21:17yang mendefinisikannya pemerintah,
21:18bukan masyarakat umum.
21:20Ya kan gini.
21:21Misalnya,
21:21bebas tapi harus punya etika.
21:23Etika yang seperti apa?
21:24Etika yang diingini oleh pemerintah.
21:27Gini,
21:28Bung Reh.
21:28Tapi ada batasannya,
21:30batasannya kayak apa?
21:30Batasan yang dibuat,
21:31definisinya sendiri oleh pemerintah.
21:33Ini kurang lebih sama seperti Orde Baru.
21:36Orde Baru juga,
21:37kan Presiden sekarang ini kan berdialog dengan banyak orang.
21:40Nah,
21:41zaman Orde Baru juga sudah itu dialog.
21:43Tapi kan nggak dijamin keamanannya setelah dialog gitu loh.
21:47Gimana mau ditanggapi tadi Bang Sugiat?
21:49Ya,
21:49saya pikirkan gini,
21:51Bang Reh kan,
21:52ya tidak ada juga misalnya,
21:53apa yang disampaikan oleh Bang Reh itu,
21:55itu menjadi sebuah keputusan pemerintah.
21:57Itu kan dialektika saja.
21:59Bahwa ada pejabat-pejabat kita,
22:01pemimpin-pemimpin kita,
22:02itu menafsirkan tentang
22:03apa yang menjadi
22:05cara berpikir berbangsanya,
22:07saya pikir itu kan juga diberi ruang dan kebebasan, kan.
22:10Tapi kan itu tidak
22:11menjadi sesuatu yang diwajibkan
22:13untuk diikuti atau dipatuhi misalnya, kan.
22:16Itu kan dirkursus,
22:17apa yang disampaikan oleh Pak Prabu.
22:19Itu kan diskursus lah misalnya, kan.
22:21Saya pikir tidak perlu yang dikhawatirkan lah untuk itu, kan.
22:24Misalnya jangan disamakan dengan
22:25apa yang terjadi misalnya pada saat Orde Baru.
22:28Kalau Orde Baru itu kan secara kelembagaan,
22:30misalnya tafsir Pancasila,
22:31tafsir demokrasi,
22:33tafsir bernegara.
22:36Saya pikir ini masih dalam batas berdialtika,
22:38berdiskursus,
22:39dan itu dalam konteks pencerahan
22:42bagi anak-anak bangsa.
22:43Gitu, Bang Rai, gimana tuh?
22:46Iya,
22:47artinya jangan ada dong definisi
22:48yang disebut dengan
22:49intelektual patriotik,
22:51kaum intelektual nasionalisme.
22:55Siapa yang menyebut misalnya
22:57saudara Sehpul Mujan itu
22:59nggak patriotik?
23:00Dia nggak pernah kabur dari Indonesia,
23:02keluarganya misalnya
23:03nggak pernah tersandung kasus makar,
23:06dan sebagainya dan sebagainya.
23:08Dia menyumbangkan hampir seluruh
23:09ilmu pengetahuannya
23:10demi kemajuan Indonesia.
23:12Kan cuma beda posisi aja.
23:14Kan satu sebagai intelektual,
23:16satu sebagai
23:16pemerintah.
23:17Itu.
23:19Kalau bukan intelektual,
23:20dia melakukan kewajiban
23:21kewajiban intelektualnya.
23:23Apa kewajiban intelektualnya itu?
23:25Dia mengkritisi pemerintah
23:26yang dianggap lalai.
23:28Lalu jangan dibuat
23:29yang ucapnya
23:30nggak patriotik,
23:31nggak nasionalis,
23:32dan sekarang berhadapan
23:34dengan kasus hukum
23:34yang disebut dengan makar.
23:36Oke, silahkan.
23:37Kalau terkait dengan
23:42misalnya apa yang disampaikan
23:43oleh Bang Saipul Mujani,
23:45saya pikir kan tidak ada juga
23:46misalnya
23:46satu suara yang
23:49yang menjadi
23:50itu suara pemerintah
23:51yang mengatakan
23:52misalnya
23:52Saipul Mujani itu
23:54melakukan makar,
23:56kan tidak itu kan
23:56Ada dong.
23:58Kan yang menyebut
23:59pertama kali makar itu kan
24:00staf ahli presiden.
24:02Saya pikir begini, Bang.
24:03Harus dibedakan
24:04misalnya, Bang Raya,
24:06harus dibedakan
24:06misalnya
24:07itu menjadi
24:08sebuah
24:09suara pemerintah
24:10atau itu menjadi
24:12apa ya,
24:13analisis
24:13atau menjadi
24:14pemikiran
24:15dari orang per orang.
24:17Toh sampai sekarang
24:18misalnya pasca
24:19apa yang dicapkan
24:20oleh Bang Saipul Mujani,
24:21ya dia masih
24:22bebas berpendapat,
24:23masih
24:24ya
24:24jangan seolah-olah
24:26bahwa
24:26karena Pak Prabowo
24:28presiden
24:28ini seperti
24:29seramnya pada
24:30zaman urdi baru.
24:31Kan tidak.
24:32Oke.
24:32Tidak ada lagi
24:34apa lah ya,
24:34menjadi
24:35intervensi-intervensi
24:36pemerintah
24:37dalam konteks
24:37katakanlah
24:39terhadap
24:39tokoh-tokoh
24:40yang dianggap
24:41misalnya kritis kan.
24:42Kan tidak seperti
24:43terjadi sekarang.
24:44Oke.
24:44Bang Saipul Mujani
24:48ini tampaknya
24:49akan panjang
24:49tapi kita berikan
24:50sesinya di
24:51kesempatan yang lain.
24:52Tapi setidaknya kita
24:52sudah dapat
24:53poin dari masing-masing.
24:54Pak Sugiyan,
24:55Bang Ray,
24:56terima kasih banyak
24:56sudah mau berdiskusi bersama kami.
24:57Saya selalu semuanya.
24:58Assalamualaikum,
24:59selamat malam.
24:59Terima kasih.
Komentar

Dianjurkan