Lewati ke pemutarLewatkan ke konten utama
  • 1 jam yang lalu
JAKARTA, KOMPAS.TV - Pendiri President University, Setyono Djuandi Darmono, menilai persoalan mismatch sebagai problem klasik yang terus berulang dalam sistem pendidikan.

Ia menilai akar persoalan terletak pada ketidakseimbangan antara jumlah lulusan dan kebutuhan industri.

Menurutnya, kebutuhan pasar justru lebih besar pada lulusan vokasi dibanding sarjana.

Darmono juga menyoroti peluang besar di sektor tenaga kerja global, khususnya di bidang perawatan.

Ia menilai, dengan keterampilan yang tepat, tenaga kerja Indonesia dapat bersaing di pasar global.

"Yang dibutuhkan sekarang banyak apa? Caregivers. Nah, mestinya kita lebih banyak dididik itu perawat," katanya.

Bagaimana menurut Anda?

Selengkapnya saksikan di sini: https://youtu.be/v_WGJzK85iA



#pendidikan #presidentuniversity #indonesia

Artikel ini bisa dilihat di : https://www.kompas.tv/talkshow/666379/pendiri-president-university-bongkar-realita-mismatch-pendidikan-ini-solusinya-rosi
Transkrip
00:00Saya masih bersama seorang pengusaha, pendiri kawasan industri Jaba BK.
00:04Dia juga banyak menulis buku, yaitu
00:06Think Big, Start Small, Move Fast, Building a Ship While Sailing,
00:13dan Bridging Civilization Together.
00:15Dr. Honoris Causa Setiono Joandi Darmono.
00:19Padar, kita selalu bicara soal link and match.
00:25Pak Menteri Pendidikan pada waktu itu sudah juga menyebut.
00:30Dan sekarang kita masih problem klasik soal itu.
00:33Jadi, salahnya di mana atau kenapa problem itu masih terjadi
00:37bahwa antara lulusan, karena kalau kita bicara soal statistik, Pak,
00:41selalu lulusan S1 itu adalah yang paling banyak nganggurnya.
00:46Lulusan SMP yang paling cepat bisa dapat pekerjaan.
00:50Sesungguhnya, ini bukan kabar gembira, karena lulusan SMP itu banyak mendapat pekerjaan,
00:55itu adalah untuk sektor informal.
00:58Sementara, capek-capek sekolah, bayar mahal kampus,
01:03tapi belum tentu menjadi landasan untuk cepat kerja.
01:08Jadi, problem klasik ini mana yang masih terus berulang?
01:12Jadi, sebetulnya di China juga terjadi.
01:17Barusan belakangan ini ya, mereka menyadari.
01:20Pertama, waktu 40 tahun yang lalu, terjadi euforia.
01:25Di mana universitas banyak.
01:27Ternyata pengangguran tinggi.
01:29Nah, mereka tahu ini masalah supply and demand.
01:32Kalau supply-nya banyak, demand-nya kecil, ya pasti pengangguran terjadi.
01:37Jadi, lulusan universitas banyak.
01:40Padahal yang butuh sedikit.
01:42Yang dibutuhkan lebih banyak lulusan STM.
01:45Lulusan politeknik.
01:47Jadi, sekarang mereka batasi.
01:50Anak yang boleh masuk universitas, hanya yang betul-betul pandai.
01:53Anak yang masuk SMA, harus yang betul-betul pandai.
01:57Yang lain, masuklah politeknik, masuklah STM, SMK.
02:01Nah, itulah kesama hal yang kita hadapi.
02:05Kita punya universitas terlalu banyak.
02:07Akhirnya, apa yang terjadi?
02:09Bihak pengangguran tinggi.
02:10Karena yang butuh lulusan universitas enggak banyak.
02:13Yang dibutuhkan itu lulusan STM.
02:16Malah mungkin kalau zaman Belanda dulu, lulusan ST, sekolah teknik.
02:20Itu dibutuhkan mandor-mandor, dan juga pekerja bangunan.
02:25Itu kan kebutuhan tinggi sekali.
02:27Apalagi, kalau masuk ke bidang medis, kayak sekarang Presiden Mesti bikin fakultas kedokteran.
02:32Saya juga arahkan link at match-nya itu harus sesuai.
02:36Yang dibutuhkan sekarang banyak apa? Caregivers.
02:39Nah, mestinya kita lebih banyak di DIT itu perawat.
02:44Caregiver.
02:45Nah, ini yang harus diperbanyak.
02:47Karena itu bisa diekspor.
02:49Jadi, kalau kita tidak mau...
02:51Apalagi bagi negara-negara yang populasinya,
02:54populasi generasi tua ya, lansia ya.
02:56Seperti Jepang.
02:57Betul, dan itu kaya-kaya.
02:59Nah, kita sebetulnya mendidik rakyat ini untuk mendapat kerjaan,
03:05atau disebut economic survival.
03:07Nah, kalau mereka itu economic survival-nya itu diberikan skill-nya,
03:12mereka akan bisa bekerja dimanapun juga di dunia.
03:15Dan dengan terhormat.
03:17Jadi, sebetulnya enggak usah khawatir disebut brain drain atau apa, enggak usah.
03:22Selama rakyat kita dapat pekerjaan di luar negeri,
03:25ngirim uang ke dalam negeri,
03:27dan tidak melepaskan kewargaan-kearanya,
03:30kan oke, diaspora di mana-mana,
03:33seiring dengan kemajuan di dalam negeri kita
03:37untuk menyediakan lapangan kerja yang dibutuhkan.
03:42Jadi, sekolah di kampus atau pendidikan di kampus atau politeknik itu
03:46bukan untuk mencari IP atau gelar ya Pak ya?
03:51Bukan.
03:51Tapi, how skill are they?
03:53Untuk economic survival, ya.
03:55Jadi, lulus pasti dapat pekerjaan.
03:57Syukur-syukur baru sekolah pun sudah di IJON
04:01atau sudah malah sudah dapat pekerjaan.
04:02Talent scouting di kampus-kampus.
04:04Betul, Pak.
04:05Nah, tidak hanya di universitas.
04:07Di SMA, SMP pun sudah harus diajarkan.
04:11Tapi kata Bapak tadi kan,
04:12supaya mereka bisa langsung kerja.
04:16Itu kan kata yang lebih mudah diucapkan
04:18daripada bisa menjadi kenyataan, Pak.
04:22How you define that?
04:23Bagaimana mendefinisikan bahwa
04:25sekolah di perguruan tinggi dan langsung bisa bekerja?
04:30Jadi, ini masalah pendidikan memang mulai dari kecil.
04:34Bahwa dari kecil itu anak-anak sudah dibuat sadar.
04:38Kita harus ajarkan dia supaya economically survive.
04:41Kalau orang tuanya mendadak nggak bisa kerja, gimana?
04:44Nah, dia harus belajar mengenai bagaimana
04:47dia itu bisa cari uang.
04:50Apakah dengan jualan telur ayam,
04:52kalau punya ayam di rumah.
04:54Yang saya merasakan sendiri waktu kecil.
04:56Zaman perang dulu.
04:57Ibu saya ngajarin saya keliara ayam.
05:00Telurnya dijual ke pasar.
05:03Bikin kalender.
05:04Minta kalender, Pak.
05:05Oke.
05:05Kirim surat.
05:06Kalau kita kaitkan di dunia sekarang misalnya, Pak.
05:08Iya.
05:09Pendidikan apa yang memang harus menjadi kebutuhan
05:12diberikan pada generasi muda
05:14yang sekarang chat GPT, AI,
05:18bagaimana mendefinisikan didikan
05:20bagi mahasiswa
05:21yang bukan mengejar IPK,
05:25bukan mengejar gelarnya,
05:26tetapi mereka skill di tengah jaman
05:28yang sekarang sungguh sesuatu.
05:30Kita nggak pernah mengira sebelumnya
05:31segala sesuatu bisa dilakukan oleh AI
05:34atau segala pertanyaan bisa dijawab oleh chat GPT.
05:38Menurut Pak Pak Dar,
05:40didikan seperti apa atau pendidikan seperti apa
05:42yang membuat mahasiswa itu
05:44bisa juga cepat dapat kerja?
05:47Ini pendidikan karena dua arah.
05:50Satu dari orang tua
05:51dan satu dari sekolahan.
05:55Tidak hanya bisa dari sekolahan.
05:58Orang tua berperan sangat penting
05:59untuk memberikan pendidikan yang benar.
06:02Nah, kalau orang tuanya juga cenderung
06:05asalnya asal IPK tinggi,
06:07asal lulus universitas,
06:09maksa lagi ya.
06:10Nah, ini menjadi masalah.
06:12Nah, sebaiknya dari pemerintah
06:14punya kekuasaan
06:16untuk membuat regulasi,
06:18membatasi supply and demand.
06:20Jadi, kalau supply-nya itu tinggi,
06:23demand-nya kecil,
06:24harus supply-nya dikunci.
06:26Jangan terlalu banyak universitas.
06:28Kalau lebih bagus lagi,
06:31mulailah diperkenalkan
06:33bahwa universitas itu
06:34boleh dalam bentuk PT,
06:37perseroan terbatas.
06:38Kalau memang jelek,
06:39bangkrut lah bangkrut.
06:41Tapi kalau sekarang,
06:43itu kan pemerintah sangat generous.
06:44Jadi, kalau ada yang kurang bagus,
06:47didukung.
06:49Nah, sedangkan yang baru,
06:50misalnya fakultas ke dokteran,
06:51betapa sulitnya memperoleh izin.
06:53Karena yang sudah ada itu,
06:55harus dibagusin dulu.
06:57Padahal kalau kurang bagus,
06:58harusnya ditutup.
06:59Nah, tapi sekarang,
07:02mau bikin fakultas ke dokteran,
07:03sulit.
07:04Padahal jumlah kebutuhan dokter tinggi.
07:06Nah, ini yang jadi sekarang,
07:08saya kira juga,
07:09antara perdebatan,
07:11antara Menteri Kesehatan,
07:12dengan,
07:12apa,
07:14Menteri Perbaringan Pendidikan,
07:15apa kan,
07:16jadi dilema ini.
07:17Jadi, sebenarnya,
07:18ya,
07:19harus media,
07:20masyarakat juga mengemukakan,
07:22kan,
07:22bahwa kita juga perlu ada perubahan,
07:25di mana,
07:26intinya itu,
07:27dari bahwa supply,
07:28dan demand itu diatur.
07:29Tapi, sorry Pak,
07:30saya ingin melanjutkan pertanyaan ini.
07:32Kalau melihat,
07:33kan semua orang tetap butuh sekolah, Pak.
07:36Kalau misalnya,
07:36kampusnya dianggap terlalu banyak,
07:39tidakkah ini juga membuat,
07:40ada ketidakadilan?
07:42Kan,
07:42nah, ini,
07:43more schools are the better.
07:45Ya, betul.
07:46Cuman,
07:46tetapkan tanggung jawab kita adalah,
07:48kepada orang tua.
07:50Bahwa,
07:51kita mendidik mereka itu,
07:52supaya anaknya bisa dapat kerjaan.
07:55Jadi,
07:55kalau,
07:57kita,
07:58memenuluskan,
07:59tapi,
07:59tidak dapat kerjaan,
08:00kan,
08:01harus ada perasaan tanggung jawab,
08:04dari dosen,
08:04maupun institusi.
08:05Atau,
08:06atau,
08:07kalau membuat kampus,
08:09jangan perbanyak kampus,
08:11tapi semacam sekolah kejuruan,
08:13atau politeknik,
08:14yang langsung,
08:15ilmu yang mereka dapatkan,
08:17applicable,
08:18atau sejalan dengan yang dibutuhkan oleh dunia kerja.
08:21Itu kan, Pak.
08:22Jadi,
08:22bukan kampus yang hanya sekedar,
08:24semua fakultas ada di situ,
08:26tetapi,
08:27itu tidak mengajarkan tantangan di dunia kerja.
08:31Dan juga harus lihat,
08:32penyedia lapangan kerja itu,
08:34apakah cuma Indonesia atau dunia.
08:36Jadi,
08:37jangan kita membuat program,
08:39atau kampus,
08:40izin,
08:41yang hanya untuk keperluan Indonesia.
08:43Setuju,
08:43betul.
08:44Jadi,
08:44kalau di luar negeri itu butuh dokter,
08:46kita produksi dokter.
08:48Kalau di luar negeri butuh caregiver,
08:50kita produksi caregiver.
08:52Caregiver,
08:52itu salah satu yang juga sebenarnya bisa,
08:57apa?
08:58Menghilangkan, Pak,
08:59Pengangguran.
09:01Nah,
09:01cuman kan kalau tidak dididik dari kecil,
09:04oh gengsi,
09:04saya kok jadi caregiver.
09:06Padahal caregiver di luar negeri,
09:08gajinya,
09:08itu bisa 100 juta per bulan.
09:12Ya.
09:13Oke,
09:14Pak,
09:15saya terima kasih sekali ya.
09:16Di hari ulang tahun Pak Dar,
09:1926 April ini,
09:22sekaligus juga untuk,
09:24teringatan hari pendidikan nasional,
09:26saya bisa mengenal lebih banyak Pak Dar Monong,
09:29saya banyak tanya-tanya,
09:30salah satu,
09:31ex,
09:33dirut,
09:34Bang Himbara,
09:36itu pernah cerita,
09:37waktu saya nanya-nanya,
09:38Pak,
09:38Pak Dar itu orangnya gimana?
09:40Pengusaha yang selalu disiplin,
09:42merestrukturisasi utang,
09:44bukan pengusaha yang ngempelang,
09:45di jaman ekonomi susah.
09:48Jadi,
09:48terima kasih Pak Dar,
09:50terima kasih.
09:50Makin mengenal Anda.
09:51Terima kasih.
09:52Sekali lagi selawat ulang tahun ya Pak Dar Monong.
09:54Terima kasih banyak.
09:55Terima kasih bagi Anda yang telah menyaksikan Rosi.
09:58Saya Rosi Anasila Lahih,
09:59kita jumpa lagi Kamis depan,
10:00tetaplah di Kompas TV,
10:02independen,
10:02terpercaya.
10:04Sampai jumpa.
10:05Terima kasih.
10:06Terima kasih.
10:08Terima kasih.
10:08Terima kasih.
10:08Terima kasih.
10:08Terima kasih.
Komentar

Dianjurkan