00:00Saya masih bersama seorang pengusaha, pendiri kawasan industri Jaba BK.
00:04Dia juga banyak menulis buku, yaitu
00:06Think Big, Start Small, Move Fast, Building a Ship While Sailing,
00:13dan Bridging Civilization Together.
00:15Dr. Honoris Causa Setiono Joandi Darmono.
00:19Padar, kita selalu bicara soal link and match.
00:25Pak Menteri Pendidikan pada waktu itu sudah juga menyebut.
00:30Dan sekarang kita masih problem klasik soal itu.
00:33Jadi, salahnya di mana atau kenapa problem itu masih terjadi
00:37bahwa antara lulusan, karena kalau kita bicara soal statistik, Pak,
00:41selalu lulusan S1 itu adalah yang paling banyak nganggurnya.
00:46Lulusan SMP yang paling cepat bisa dapat pekerjaan.
00:50Sesungguhnya, ini bukan kabar gembira, karena lulusan SMP itu banyak mendapat pekerjaan,
00:55itu adalah untuk sektor informal.
00:58Sementara, capek-capek sekolah, bayar mahal kampus,
01:03tapi belum tentu menjadi landasan untuk cepat kerja.
01:08Jadi, problem klasik ini mana yang masih terus berulang?
01:12Jadi, sebetulnya di China juga terjadi.
01:17Barusan belakangan ini ya, mereka menyadari.
01:20Pertama, waktu 40 tahun yang lalu, terjadi euforia.
01:25Di mana universitas banyak.
01:27Ternyata pengangguran tinggi.
01:29Nah, mereka tahu ini masalah supply and demand.
01:32Kalau supply-nya banyak, demand-nya kecil, ya pasti pengangguran terjadi.
01:37Jadi, lulusan universitas banyak.
01:40Padahal yang butuh sedikit.
01:42Yang dibutuhkan lebih banyak lulusan STM.
01:45Lulusan politeknik.
01:47Jadi, sekarang mereka batasi.
01:50Anak yang boleh masuk universitas, hanya yang betul-betul pandai.
01:53Anak yang masuk SMA, harus yang betul-betul pandai.
01:57Yang lain, masuklah politeknik, masuklah STM, SMK.
02:01Nah, itulah kesama hal yang kita hadapi.
02:05Kita punya universitas terlalu banyak.
02:07Akhirnya, apa yang terjadi?
02:09Bihak pengangguran tinggi.
02:10Karena yang butuh lulusan universitas enggak banyak.
02:13Yang dibutuhkan itu lulusan STM.
02:16Malah mungkin kalau zaman Belanda dulu, lulusan ST, sekolah teknik.
02:20Itu dibutuhkan mandor-mandor, dan juga pekerja bangunan.
02:25Itu kan kebutuhan tinggi sekali.
02:27Apalagi, kalau masuk ke bidang medis, kayak sekarang Presiden Mesti bikin fakultas kedokteran.
02:32Saya juga arahkan link at match-nya itu harus sesuai.
02:36Yang dibutuhkan sekarang banyak apa? Caregivers.
02:39Nah, mestinya kita lebih banyak di DIT itu perawat.
02:44Caregiver.
02:45Nah, ini yang harus diperbanyak.
02:47Karena itu bisa diekspor.
02:49Jadi, kalau kita tidak mau...
02:51Apalagi bagi negara-negara yang populasinya,
02:54populasi generasi tua ya, lansia ya.
02:56Seperti Jepang.
02:57Betul, dan itu kaya-kaya.
02:59Nah, kita sebetulnya mendidik rakyat ini untuk mendapat kerjaan,
03:05atau disebut economic survival.
03:07Nah, kalau mereka itu economic survival-nya itu diberikan skill-nya,
03:12mereka akan bisa bekerja dimanapun juga di dunia.
03:15Dan dengan terhormat.
03:17Jadi, sebetulnya enggak usah khawatir disebut brain drain atau apa, enggak usah.
03:22Selama rakyat kita dapat pekerjaan di luar negeri,
03:25ngirim uang ke dalam negeri,
03:27dan tidak melepaskan kewargaan-kearanya,
03:30kan oke, diaspora di mana-mana,
03:33seiring dengan kemajuan di dalam negeri kita
03:37untuk menyediakan lapangan kerja yang dibutuhkan.
03:42Jadi, sekolah di kampus atau pendidikan di kampus atau politeknik itu
03:46bukan untuk mencari IP atau gelar ya Pak ya?
03:51Bukan.
03:51Tapi, how skill are they?
03:53Untuk economic survival, ya.
03:55Jadi, lulus pasti dapat pekerjaan.
03:57Syukur-syukur baru sekolah pun sudah di IJON
04:01atau sudah malah sudah dapat pekerjaan.
04:02Talent scouting di kampus-kampus.
04:04Betul, Pak.
04:05Nah, tidak hanya di universitas.
04:07Di SMA, SMP pun sudah harus diajarkan.
04:11Tapi kata Bapak tadi kan,
04:12supaya mereka bisa langsung kerja.
04:16Itu kan kata yang lebih mudah diucapkan
04:18daripada bisa menjadi kenyataan, Pak.
04:22How you define that?
04:23Bagaimana mendefinisikan bahwa
04:25sekolah di perguruan tinggi dan langsung bisa bekerja?
04:30Jadi, ini masalah pendidikan memang mulai dari kecil.
04:34Bahwa dari kecil itu anak-anak sudah dibuat sadar.
04:38Kita harus ajarkan dia supaya economically survive.
04:41Kalau orang tuanya mendadak nggak bisa kerja, gimana?
04:44Nah, dia harus belajar mengenai bagaimana
04:47dia itu bisa cari uang.
04:50Apakah dengan jualan telur ayam,
04:52kalau punya ayam di rumah.
04:54Yang saya merasakan sendiri waktu kecil.
04:56Zaman perang dulu.
04:57Ibu saya ngajarin saya keliara ayam.
05:00Telurnya dijual ke pasar.
05:03Bikin kalender.
05:04Minta kalender, Pak.
05:05Oke.
05:05Kirim surat.
05:06Kalau kita kaitkan di dunia sekarang misalnya, Pak.
05:08Iya.
05:09Pendidikan apa yang memang harus menjadi kebutuhan
05:12diberikan pada generasi muda
05:14yang sekarang chat GPT, AI,
05:18bagaimana mendefinisikan didikan
05:20bagi mahasiswa
05:21yang bukan mengejar IPK,
05:25bukan mengejar gelarnya,
05:26tetapi mereka skill di tengah jaman
05:28yang sekarang sungguh sesuatu.
05:30Kita nggak pernah mengira sebelumnya
05:31segala sesuatu bisa dilakukan oleh AI
05:34atau segala pertanyaan bisa dijawab oleh chat GPT.
05:38Menurut Pak Pak Dar,
05:40didikan seperti apa atau pendidikan seperti apa
05:42yang membuat mahasiswa itu
05:44bisa juga cepat dapat kerja?
05:47Ini pendidikan karena dua arah.
05:50Satu dari orang tua
05:51dan satu dari sekolahan.
05:55Tidak hanya bisa dari sekolahan.
05:58Orang tua berperan sangat penting
05:59untuk memberikan pendidikan yang benar.
06:02Nah, kalau orang tuanya juga cenderung
06:05asalnya asal IPK tinggi,
06:07asal lulus universitas,
06:09maksa lagi ya.
06:10Nah, ini menjadi masalah.
06:12Nah, sebaiknya dari pemerintah
06:14punya kekuasaan
06:16untuk membuat regulasi,
06:18membatasi supply and demand.
06:20Jadi, kalau supply-nya itu tinggi,
06:23demand-nya kecil,
06:24harus supply-nya dikunci.
06:26Jangan terlalu banyak universitas.
06:28Kalau lebih bagus lagi,
06:31mulailah diperkenalkan
06:33bahwa universitas itu
06:34boleh dalam bentuk PT,
06:37perseroan terbatas.
06:38Kalau memang jelek,
06:39bangkrut lah bangkrut.
06:41Tapi kalau sekarang,
06:43itu kan pemerintah sangat generous.
06:44Jadi, kalau ada yang kurang bagus,
06:47didukung.
06:49Nah, sedangkan yang baru,
06:50misalnya fakultas ke dokteran,
06:51betapa sulitnya memperoleh izin.
06:53Karena yang sudah ada itu,
06:55harus dibagusin dulu.
06:57Padahal kalau kurang bagus,
06:58harusnya ditutup.
06:59Nah, tapi sekarang,
07:02mau bikin fakultas ke dokteran,
07:03sulit.
07:04Padahal jumlah kebutuhan dokter tinggi.
07:06Nah, ini yang jadi sekarang,
07:08saya kira juga,
07:09antara perdebatan,
07:11antara Menteri Kesehatan,
07:12dengan,
07:12apa,
07:14Menteri Perbaringan Pendidikan,
07:15apa kan,
07:16jadi dilema ini.
07:17Jadi, sebenarnya,
07:18ya,
07:19harus media,
07:20masyarakat juga mengemukakan,
07:22kan,
07:22bahwa kita juga perlu ada perubahan,
07:25di mana,
07:26intinya itu,
07:27dari bahwa supply,
07:28dan demand itu diatur.
07:29Tapi, sorry Pak,
07:30saya ingin melanjutkan pertanyaan ini.
07:32Kalau melihat,
07:33kan semua orang tetap butuh sekolah, Pak.
07:36Kalau misalnya,
07:36kampusnya dianggap terlalu banyak,
07:39tidakkah ini juga membuat,
07:40ada ketidakadilan?
07:42Kan,
07:42nah, ini,
07:43more schools are the better.
07:45Ya, betul.
07:46Cuman,
07:46tetapkan tanggung jawab kita adalah,
07:48kepada orang tua.
07:50Bahwa,
07:51kita mendidik mereka itu,
07:52supaya anaknya bisa dapat kerjaan.
07:55Jadi,
07:55kalau,
07:57kita,
07:58memenuluskan,
07:59tapi,
07:59tidak dapat kerjaan,
08:00kan,
08:01harus ada perasaan tanggung jawab,
08:04dari dosen,
08:04maupun institusi.
08:05Atau,
08:06atau,
08:07kalau membuat kampus,
08:09jangan perbanyak kampus,
08:11tapi semacam sekolah kejuruan,
08:13atau politeknik,
08:14yang langsung,
08:15ilmu yang mereka dapatkan,
08:17applicable,
08:18atau sejalan dengan yang dibutuhkan oleh dunia kerja.
08:21Itu kan, Pak.
08:22Jadi,
08:22bukan kampus yang hanya sekedar,
08:24semua fakultas ada di situ,
08:26tetapi,
08:27itu tidak mengajarkan tantangan di dunia kerja.
08:31Dan juga harus lihat,
08:32penyedia lapangan kerja itu,
08:34apakah cuma Indonesia atau dunia.
08:36Jadi,
08:37jangan kita membuat program,
08:39atau kampus,
08:40izin,
08:41yang hanya untuk keperluan Indonesia.
08:43Setuju,
08:43betul.
08:44Jadi,
08:44kalau di luar negeri itu butuh dokter,
08:46kita produksi dokter.
08:48Kalau di luar negeri butuh caregiver,
08:50kita produksi caregiver.
08:52Caregiver,
08:52itu salah satu yang juga sebenarnya bisa,
08:57apa?
08:58Menghilangkan, Pak,
08:59Pengangguran.
09:01Nah,
09:01cuman kan kalau tidak dididik dari kecil,
09:04oh gengsi,
09:04saya kok jadi caregiver.
09:06Padahal caregiver di luar negeri,
09:08gajinya,
09:08itu bisa 100 juta per bulan.
09:12Ya.
09:13Oke,
09:14Pak,
09:15saya terima kasih sekali ya.
09:16Di hari ulang tahun Pak Dar,
09:1926 April ini,
09:22sekaligus juga untuk,
09:24teringatan hari pendidikan nasional,
09:26saya bisa mengenal lebih banyak Pak Dar Monong,
09:29saya banyak tanya-tanya,
09:30salah satu,
09:31ex,
09:33dirut,
09:34Bang Himbara,
09:36itu pernah cerita,
09:37waktu saya nanya-nanya,
09:38Pak,
09:38Pak Dar itu orangnya gimana?
09:40Pengusaha yang selalu disiplin,
09:42merestrukturisasi utang,
09:44bukan pengusaha yang ngempelang,
09:45di jaman ekonomi susah.
09:48Jadi,
09:48terima kasih Pak Dar,
09:50terima kasih.
09:50Makin mengenal Anda.
09:51Terima kasih.
09:52Sekali lagi selawat ulang tahun ya Pak Dar Monong.
09:54Terima kasih banyak.
09:55Terima kasih bagi Anda yang telah menyaksikan Rosi.
09:58Saya Rosi Anasila Lahih,
09:59kita jumpa lagi Kamis depan,
10:00tetaplah di Kompas TV,
10:02independen,
10:02terpercaya.
10:04Sampai jumpa.
10:05Terima kasih.
10:06Terima kasih.
10:08Terima kasih.
10:08Terima kasih.
10:08Terima kasih.
10:08Terima kasih.
Komentar