Lewati ke pemutarLewatkan ke konten utama
JAKARTA, KOMPAS.TV - Gelar pendidikan tinggi kerap dianggap sebagai tolok ukur kesuksesan.

Namun, pendiri President University, Setyono Djuandi Darmono, justru memiliki pengalaman berbeda.

Ia bahkan pernah gagal masuk ITB. Alih-alih menyerah, ia melanjutkan pendidikan di Akademi Tekstil Berdikari dan langsung terjun ke dunia industri.

Pengalaman inilah yang kemudian membentuk cara pandangnya terhadap pendidikan.

Ia juga menyadari pentingnya kemampuan bahasa asing, meski awalnya merasa kesulitan.

Namun dengan metode belajar praktis, kemampuannya meningkat pesat.

Tak hanya bahasa Inggris, Darmono juga mempelajari berbagai bahasa asing lain.

Bekal tersebut membawanya melamar kerja di perusahaan Inggris.

Ia bahkan berani meminta gaji tinggi, kira-kira nominalnya lima kali gaji dari lulusan perguruan tinggi ternama.

Menurutnya, keberhasilan itu bukan semata karena pendidikan formal, tetapi kombinasi antara pengetahuan, keterampilan, dan karakter.

Darmono menegaskan, ilmu bisa dipelajari di bangku kuliah, tetapi keterampilan harus diasah melalui praktik.

Sementara karakter dibentuk melalui kebiasaan dan sikap sehari-hari.

Bagaimana menurut Anda?

Selengkapnya saksikan di sini: https://youtu.be/v_WGJzK85iA



#pendidikan #presidentuniversity #indonesia

Artikel ini bisa dilihat di : https://www.kompas.tv/talkshow/666378/gagal-masuk-itb-pendiri-president-university-buktikan-skill-lebih-penting-dari-gelar-rosi
Transkrip
00:00Hari Pendidikan Nasional, tanggal 2 Mei, selalu membawa kita pada satu refleksi sejauh mana ilmu yang kita pelajari benar-benar
00:08hidup di masyarakat.
00:10Pendidikan bukan hanya sekedar teori di ruang kelas, tapi harus menjadi ruang partisipasi yang hidup secara konkret.
00:18Saya masih bersama pendiri Presiden University, seorang pionir pengembang kawasan industri,
00:23ia juga sosok yang banyak orang kenal sebagai seorang yang mencintai kebudayaan tanah air, Dr. Honoris Causa Setiono Juandi Darmono.
00:33Pak Darmono, seorang pengusaha yang saya mendengar dan membaca buku-bukunya, Pak Dar, Kampus Meretas Batas,
00:43Think Big, Start Small, Move Fast, Building a Ship While Sailing.
00:49Sebenarnya nanti saya mau tanya, Building a Ship While Sailing tenggelam dong, kan lagi sailing.
00:54Lalu bringing civilization together.
00:57Pak, jadi kalau soal pendidikan, kan pasti tadi Bapak lebih ke arah siap kerja.
01:04Tapi apa sebenarnya menurut Bapak kesalahan utama dari pendidikan di tanah air?
01:11Karena kalau kita lihat peta pendidikan Indonesia dan negara-negara lain, kita kan memang tidak berada dalam satu bagan yang
01:21cukup menjanjikan.
01:24Menurut Bapak, apa yang masih salah dan masih tetap kita kerjakan?
01:29Mungkin saya ambil contoh ya, di Singapura.
01:32Singapura itu waktu saya mengadakan survei 40 tahun yang lalu, itu mereka hanya ada dua universitas, NUS dan NTU.
01:43Yang satu ITB lah, yang satu UUI gitu.
01:47Terus kemudian politekniknya ada lebih dari 25, 40 tahun yang lalu.
01:52STM-nya mungkin ada 150.
01:57Nah, itu struktur yang mirip di dalam organisasi, di industri maupun organisasi kemiliteran, pemerintah pun juga.
02:07Di mana lulusan universitas itu tidak perlu banyak.
02:11Kita universitasnya 4 ribu lebih.
02:14Nah, sekarang betul Singapura tambah, tapi itu sudah dipakai untuk cari uang.
02:18Buka alam dasbaru untuk mendatakan orang-orang yang ingin kuliah di Singapura.
02:23Tapi secara struktur, saya kira benar.
02:26Karena universitas itu sebetulnya hanya anak-anak yang betul-betul pandai.
02:31Berimnya itu bagus.
02:32Sehingga bisa menjadi saintis, bisa jadi researchers, menjadi educators yang bagus.
02:39Sedangkan politeknik, itu dibutuhkan untuk mereka itu langsung kerja.
02:45Itu mereka kan 75 persen, 70 persen itu adalah skill, yaitu tari magang.
02:53Yang sisanya...
02:54Yang sekarang banyak sebut fokasi lah gitu.
02:56Ya, fokasi.
02:56Itu yang disebut professional stream.
02:59Sedangkan universitas itu academic stream.
03:01Itu harus lebih banyak.
03:03Nah, kalau STM itu lebih banyak lagi.
03:06Jadi istilahnya itu, we produce chief, not many Indians.
03:10Padahal kita perlu lebih banyak Indians.
03:13So many chief, so little Indians.
03:14Betul.
03:15Nah, dengan begitu banyak universitas, jadi masalah.
03:18Cuman saya juga paham pemerintah punya kesulitan.
03:21Karena kita perlu menikuti juga kebutuhan masyarakat.
03:26Masyarakat itu ingin anaknya punya gelar.
03:28Gelar.
03:29Kalau nggak punya gelar, waktu menikah itu malu.
03:33Anak saya lulusan politeknik, nggak pernah dengar saya di pernikahan.
03:37Anak saya S1, S2 lulus dari sini.
03:39Wah, bangga orang tua.
03:40Karena itu yang membuktikan bahwa saya sudah melaksanakan tugas sebagai orang tua.
03:44Tidak cuma para orang tua sih, saat ini pejabat juga senang banget ditulis panjang, lebar.
03:50Profesor, dokter, S1, nene, nene.
03:52Padahal belum tentu juga kuliah benar.
03:56Itulah.
03:56Jadi, saya kira ini perlu diperbaiki strukturnya mengikuti kebutuhan pemakai.
04:04Jadi, Pak Darmono ini bukan orang yang overrated dengan gelar pendidikan ya?
04:08Yang pemuja gelar pendidikan yang berderet-deret gitu?
04:12Ya, ini pengalaman pribadi.
04:14Saya mau masuk ITB tahun 1967, nggak diterima.
04:20Orang magelang yang nggak sempat belajar bimbingan tes.
04:24Siapa rektor ITB waktu itu?
04:26Ya, nggak diterima.
04:28Akhirnya, saya masuk akademi tekstil berdikari.
04:33Baru umur 4 tahun, masuk di situ.
04:36Pasitannya juga nggak banyak, tapi langsung diajak ke pabrik-pabrik.
04:40Jadi...
04:41Oh, ini pengalaman yang kemudian mengilhami Pak Dar tentang pendidikan kampus ya?
04:46Betul.
04:47Terus, ke Bandung.
04:48Waktu itu bahasa Inggrisnya jelek sekali lulusan magelang ini saya.
04:52Oh, Bapak.
04:53Nah, Bapak bahasa Inggrisnya jelek terus nyari mahasiswa mau bahasa Inggrisnya bagus.
04:57Nah, karena itu saya paham susah di Bandung ini.
05:00Ya, karena bahasa Inggrisnya jelek.
05:02Saya ambil kursus.
05:04Wah, di Bandung kan banyak guru-guru yang bagus.
05:06Saya diajarin bahasa Inggris dengan cara lain.
05:09Seperti bayi menghafal kalimat.
05:12Bukan grammar.
05:14Wah, sebentar saya bahasa Inggrisnya udah bagus.
05:16Jadi maksudnya yang penting kita paham bahasa asing ya, Pak?
05:20Enggak perlu juga harus secara gramatik, sepurna.
05:24Betul.
05:24Inggris, Belanda, Jerman, Jepang, saya belajar semua.
05:27Begitu tiga tahun selesai, saya ngelamar kerjaan di perusahaan Inggris ICI, Imperial Chemical Industries.
05:34Ditanya, gajinya berapa?
05:36Maunya.
05:37Saya nggak tahu, saya bilang.
05:39Seput.
05:40Berapa?
05:41Saya pikirin ngawur aja lah, lima kali dari ITB lah saya sebut.
05:44Diterima, lima kali gaji anak lulusan ITB waktu itu ya.
05:49Diterima.
05:50Kok mereka mau?
05:52Karena waktu dites, ini yang ngetes kebetulan bosnya sendiri ya.
05:56Orang Semarang itu, Pak Tan itu.
05:59Bapak juga asal Semarang?
06:00Saya Magelang.
06:01Oke, ya deketan lah ya.
06:02Ya deketan.
06:03Tapi nggak kenal ya.
06:04Ini untuk menelinyapkan prasangka kroni.
06:08Betul.
06:08Jadi dia, langsung dia tes bahasa.
06:12Kedua, latest technology.
06:14Nah, saya itu tiap hari ke library-nya Institut Teknologi Tekstil, Bandung yang punyanya pemerintah.
06:20Complete itunya.
06:21Terus saya ambil kursus buat anak-anak SMP, saya mandor pabrik.
06:25Satu tahun, belajar menenun, belajar mencelup.
06:27Jadi, tangan saya ini terampil.
06:30Jadi, waktu ditanya, teknik mengerti, skill juga bisa, bahasa Inggris bagus, Belanda juga bisa.
06:36Nah, langsung diterima.
06:39Ya, itu mereka ambil standar saya seperti lulusan dari Belanda, Jerman.
06:44So, moral story-nya adalah?
06:46Moral story-nya adalah bahwa pendidikan itu harus complete.
06:52Yaitu character building, kemudian skill, sama knowledge.
06:58Jadi, kita harus belajar knowledge di kuliah, dari baca buku, dari mendengar seminar- seminar.
07:05Tapi, skill itu harus dipelajari dengan praktek.
07:09Nah, kemudian, build character.
07:12Habits and attitude.
07:14Nah, ini yang harus ditanamkan, kan, dari sebetulnya dari SD.
07:18Karena saya baca buku, bukunya Pak Adar itu, building character di kampus juga menjadi bagian yang utama.
07:27Saya sempat ngobrol sama Pak Adar, kayaknya kalau membangun karakter di kampus sudah telat, deh.
07:32Maksudnya, ya...
07:37Tapi kan dari SMP, SMA itu rasanya baru benar-benar mumpuni.
07:44Mumpuni, gitu.
07:45Tapi nggak pernah terlambat.
07:46Tidak pernah terlambat.
07:47Kasih aja military training.
07:49Hah?
07:50Military training.
07:51Kasih mereka.
07:51Pasti disiplinnya naik.
07:53Jadi, di itu...
07:54Masa apa-apa harus militer atau Pak?
07:59Ya, ini pengalaman pribadi.
08:01Dari makhluk.
08:02Nggak semuanya harus militer.
08:03Disiplin nggak harus selalu dari...
08:04Oke, militer ya memang mengajarkan kedisiplinan.
08:09Tapi kedisiplinan itu kan tidak melulu juga harus bergaya militer, Pak.
08:12Betul, tapi yang paling siap dalam pendidikan itu adalah military training.
08:17Makanya Singapura 2 tahun lulus SMA.
08:20Harus military training.
08:21Korea juga.
08:23Nah, itu memberikan fundamental untuk anak ini menjadi disiplin.
08:27Dan berani.
08:30Jadi, ya itu kan anak-anak lulusan ini kan siap, izin gitu.
08:34Nah, itu hasil dari tadi.
08:37Agak militer.
08:38Ya, betul.
08:39Tapi it's not bad lah.
08:40Daripada cuman mangkut-mangkut geleng-geleng kepala.
08:43Tapi nggak ngerti apa-apa.
08:44Nggak ngerti apa-apa.
08:45Pak, jadi tadi kembali ke pertanyaan saya.
08:50Apa kritik mendasar tadi?
08:52Jadi maksudnya, karena hanya teori yang dijejalkan.
08:56Bukan skill-nya.
08:57Jadi di dunia kampus.
08:59Karena kalau Bapak tadi bilang, udah dari tingkat pertama mereka harus diceburin untuk langsung melihat seperti apa situasi suasana kerja.
09:07Dan bekerja.
09:08Dan memang Pak, kalau kita refer ke negara maju, misalnya kayak Perancis gitu.
09:15Mereka ya, kalau sekolah Sorbon itu dianggap oleh mereka tuh ya sekolah buat mahasiswa internasional.
09:21Tergenalnya gitu.
09:22Tapi kalau buat yang masyarakat di sana sendiri, ada sekolah lain, sekolah bisnis terbaik yang lain.
09:28Jadi ya sekolah ekonomi atau bisnis ya sendiri.
09:30Nanti sekolah yang memang mau teknologi, yang teknik, yang berbau politeknik gitu.
09:35Jadi memang sudah diarahkan di kampus, diajarkan sesuai dengan teori dan skill-nya yang memang sejalan dengan yang dibutuhkan oleh
09:45dunia kerja.
09:46Dibandingkan kampus kita yang semuanya tuh serba ada, tapi ya rasanya lebih kepada teori dan tidak menyiapkan seperti apa dunia
09:57kerja nantinya.
09:58Begitu gak sih kira-kira Pak?
10:00Ya, itu ada benarnya.
10:03Jadi misalnya tahun 93 Pak Wardiman, Menteri Pendidikan kan mengatakan link and match.
10:10Nah link and match itu sulitnya adalah bagaimana kita tahu apa yang bakal dibutuhkan industri.
10:17Maka kalau di dalam kawasan industri, itu anak-anak magang itu sudah langsung bisa sesuai link and match-nya.
10:25Dan anak-anak itu kalau gak cocok sama dia punya keinginan, dia bisa pindah ke pabrik lain.
10:30Oke, Pak sorry, Pak Wardiman waktu itu kan Menteri Pendidikan itu tahun berapa Pak?
10:3593.
10:36Bayangkan, Pak Wardiman aja tahun 93 sudah memikirkan link and match.
10:41Dan sekarang Pak, tahun ini, ini udah berapa puluh tahun kemudian, kita masih punya persoalan tentang link and match.
10:49Bagaimana pendidikan di dunia kampus itu tidak melulu sejalan dengan apa yang dibutuhkan oleh dunia kerja.
11:00Terima kasih telah menonton!
Komentar

Dianjurkan