00:00Hari Pendidikan Nasional, tanggal 2 Mei, selalu membawa kita pada satu refleksi sejauh mana ilmu yang kita pelajari benar-benar
00:08hidup di masyarakat.
00:10Pendidikan bukan hanya sekedar teori di ruang kelas, tapi harus menjadi ruang partisipasi yang hidup secara konkret.
00:18Saya masih bersama pendiri Presiden University, seorang pionir pengembang kawasan industri,
00:23ia juga sosok yang banyak orang kenal sebagai seorang yang mencintai kebudayaan tanah air, Dr. Honoris Causa Setiono Juandi Darmono.
00:33Pak Darmono, seorang pengusaha yang saya mendengar dan membaca buku-bukunya, Pak Dar, Kampus Meretas Batas,
00:43Think Big, Start Small, Move Fast, Building a Ship While Sailing.
00:49Sebenarnya nanti saya mau tanya, Building a Ship While Sailing tenggelam dong, kan lagi sailing.
00:54Lalu bringing civilization together.
00:57Pak, jadi kalau soal pendidikan, kan pasti tadi Bapak lebih ke arah siap kerja.
01:04Tapi apa sebenarnya menurut Bapak kesalahan utama dari pendidikan di tanah air?
01:11Karena kalau kita lihat peta pendidikan Indonesia dan negara-negara lain, kita kan memang tidak berada dalam satu bagan yang
01:21cukup menjanjikan.
01:24Menurut Bapak, apa yang masih salah dan masih tetap kita kerjakan?
01:29Mungkin saya ambil contoh ya, di Singapura.
01:32Singapura itu waktu saya mengadakan survei 40 tahun yang lalu, itu mereka hanya ada dua universitas, NUS dan NTU.
01:43Yang satu ITB lah, yang satu UUI gitu.
01:47Terus kemudian politekniknya ada lebih dari 25, 40 tahun yang lalu.
01:52STM-nya mungkin ada 150.
01:57Nah, itu struktur yang mirip di dalam organisasi, di industri maupun organisasi kemiliteran, pemerintah pun juga.
02:07Di mana lulusan universitas itu tidak perlu banyak.
02:11Kita universitasnya 4 ribu lebih.
02:14Nah, sekarang betul Singapura tambah, tapi itu sudah dipakai untuk cari uang.
02:18Buka alam dasbaru untuk mendatakan orang-orang yang ingin kuliah di Singapura.
02:23Tapi secara struktur, saya kira benar.
02:26Karena universitas itu sebetulnya hanya anak-anak yang betul-betul pandai.
02:31Berimnya itu bagus.
02:32Sehingga bisa menjadi saintis, bisa jadi researchers, menjadi educators yang bagus.
02:39Sedangkan politeknik, itu dibutuhkan untuk mereka itu langsung kerja.
02:45Itu mereka kan 75 persen, 70 persen itu adalah skill, yaitu tari magang.
02:53Yang sisanya...
02:54Yang sekarang banyak sebut fokasi lah gitu.
02:56Ya, fokasi.
02:56Itu yang disebut professional stream.
02:59Sedangkan universitas itu academic stream.
03:01Itu harus lebih banyak.
03:03Nah, kalau STM itu lebih banyak lagi.
03:06Jadi istilahnya itu, we produce chief, not many Indians.
03:10Padahal kita perlu lebih banyak Indians.
03:13So many chief, so little Indians.
03:14Betul.
03:15Nah, dengan begitu banyak universitas, jadi masalah.
03:18Cuman saya juga paham pemerintah punya kesulitan.
03:21Karena kita perlu menikuti juga kebutuhan masyarakat.
03:26Masyarakat itu ingin anaknya punya gelar.
03:28Gelar.
03:29Kalau nggak punya gelar, waktu menikah itu malu.
03:33Anak saya lulusan politeknik, nggak pernah dengar saya di pernikahan.
03:37Anak saya S1, S2 lulus dari sini.
03:39Wah, bangga orang tua.
03:40Karena itu yang membuktikan bahwa saya sudah melaksanakan tugas sebagai orang tua.
03:44Tidak cuma para orang tua sih, saat ini pejabat juga senang banget ditulis panjang, lebar.
03:50Profesor, dokter, S1, nene, nene.
03:52Padahal belum tentu juga kuliah benar.
03:56Itulah.
03:56Jadi, saya kira ini perlu diperbaiki strukturnya mengikuti kebutuhan pemakai.
04:04Jadi, Pak Darmono ini bukan orang yang overrated dengan gelar pendidikan ya?
04:08Yang pemuja gelar pendidikan yang berderet-deret gitu?
04:12Ya, ini pengalaman pribadi.
04:14Saya mau masuk ITB tahun 1967, nggak diterima.
04:20Orang magelang yang nggak sempat belajar bimbingan tes.
04:24Siapa rektor ITB waktu itu?
04:26Ya, nggak diterima.
04:28Akhirnya, saya masuk akademi tekstil berdikari.
04:33Baru umur 4 tahun, masuk di situ.
04:36Pasitannya juga nggak banyak, tapi langsung diajak ke pabrik-pabrik.
04:40Jadi...
04:41Oh, ini pengalaman yang kemudian mengilhami Pak Dar tentang pendidikan kampus ya?
04:46Betul.
04:47Terus, ke Bandung.
04:48Waktu itu bahasa Inggrisnya jelek sekali lulusan magelang ini saya.
04:52Oh, Bapak.
04:53Nah, Bapak bahasa Inggrisnya jelek terus nyari mahasiswa mau bahasa Inggrisnya bagus.
04:57Nah, karena itu saya paham susah di Bandung ini.
05:00Ya, karena bahasa Inggrisnya jelek.
05:02Saya ambil kursus.
05:04Wah, di Bandung kan banyak guru-guru yang bagus.
05:06Saya diajarin bahasa Inggris dengan cara lain.
05:09Seperti bayi menghafal kalimat.
05:12Bukan grammar.
05:14Wah, sebentar saya bahasa Inggrisnya udah bagus.
05:16Jadi maksudnya yang penting kita paham bahasa asing ya, Pak?
05:20Enggak perlu juga harus secara gramatik, sepurna.
05:24Betul.
05:24Inggris, Belanda, Jerman, Jepang, saya belajar semua.
05:27Begitu tiga tahun selesai, saya ngelamar kerjaan di perusahaan Inggris ICI, Imperial Chemical Industries.
05:34Ditanya, gajinya berapa?
05:36Maunya.
05:37Saya nggak tahu, saya bilang.
05:39Seput.
05:40Berapa?
05:41Saya pikirin ngawur aja lah, lima kali dari ITB lah saya sebut.
05:44Diterima, lima kali gaji anak lulusan ITB waktu itu ya.
05:49Diterima.
05:50Kok mereka mau?
05:52Karena waktu dites, ini yang ngetes kebetulan bosnya sendiri ya.
05:56Orang Semarang itu, Pak Tan itu.
05:59Bapak juga asal Semarang?
06:00Saya Magelang.
06:01Oke, ya deketan lah ya.
06:02Ya deketan.
06:03Tapi nggak kenal ya.
06:04Ini untuk menelinyapkan prasangka kroni.
06:08Betul.
06:08Jadi dia, langsung dia tes bahasa.
06:12Kedua, latest technology.
06:14Nah, saya itu tiap hari ke library-nya Institut Teknologi Tekstil, Bandung yang punyanya pemerintah.
06:20Complete itunya.
06:21Terus saya ambil kursus buat anak-anak SMP, saya mandor pabrik.
06:25Satu tahun, belajar menenun, belajar mencelup.
06:27Jadi, tangan saya ini terampil.
06:30Jadi, waktu ditanya, teknik mengerti, skill juga bisa, bahasa Inggris bagus, Belanda juga bisa.
06:36Nah, langsung diterima.
06:39Ya, itu mereka ambil standar saya seperti lulusan dari Belanda, Jerman.
06:44So, moral story-nya adalah?
06:46Moral story-nya adalah bahwa pendidikan itu harus complete.
06:52Yaitu character building, kemudian skill, sama knowledge.
06:58Jadi, kita harus belajar knowledge di kuliah, dari baca buku, dari mendengar seminar- seminar.
07:05Tapi, skill itu harus dipelajari dengan praktek.
07:09Nah, kemudian, build character.
07:12Habits and attitude.
07:14Nah, ini yang harus ditanamkan, kan, dari sebetulnya dari SD.
07:18Karena saya baca buku, bukunya Pak Adar itu, building character di kampus juga menjadi bagian yang utama.
07:27Saya sempat ngobrol sama Pak Adar, kayaknya kalau membangun karakter di kampus sudah telat, deh.
07:32Maksudnya, ya...
07:37Tapi kan dari SMP, SMA itu rasanya baru benar-benar mumpuni.
07:44Mumpuni, gitu.
07:45Tapi nggak pernah terlambat.
07:46Tidak pernah terlambat.
07:47Kasih aja military training.
07:49Hah?
07:50Military training.
07:51Kasih mereka.
07:51Pasti disiplinnya naik.
07:53Jadi, di itu...
07:54Masa apa-apa harus militer atau Pak?
07:59Ya, ini pengalaman pribadi.
08:01Dari makhluk.
08:02Nggak semuanya harus militer.
08:03Disiplin nggak harus selalu dari...
08:04Oke, militer ya memang mengajarkan kedisiplinan.
08:09Tapi kedisiplinan itu kan tidak melulu juga harus bergaya militer, Pak.
08:12Betul, tapi yang paling siap dalam pendidikan itu adalah military training.
08:17Makanya Singapura 2 tahun lulus SMA.
08:20Harus military training.
08:21Korea juga.
08:23Nah, itu memberikan fundamental untuk anak ini menjadi disiplin.
08:27Dan berani.
08:30Jadi, ya itu kan anak-anak lulusan ini kan siap, izin gitu.
08:34Nah, itu hasil dari tadi.
08:37Agak militer.
08:38Ya, betul.
08:39Tapi it's not bad lah.
08:40Daripada cuman mangkut-mangkut geleng-geleng kepala.
08:43Tapi nggak ngerti apa-apa.
08:44Nggak ngerti apa-apa.
08:45Pak, jadi tadi kembali ke pertanyaan saya.
08:50Apa kritik mendasar tadi?
08:52Jadi maksudnya, karena hanya teori yang dijejalkan.
08:56Bukan skill-nya.
08:57Jadi di dunia kampus.
08:59Karena kalau Bapak tadi bilang, udah dari tingkat pertama mereka harus diceburin untuk langsung melihat seperti apa situasi suasana kerja.
09:07Dan bekerja.
09:08Dan memang Pak, kalau kita refer ke negara maju, misalnya kayak Perancis gitu.
09:15Mereka ya, kalau sekolah Sorbon itu dianggap oleh mereka tuh ya sekolah buat mahasiswa internasional.
09:21Tergenalnya gitu.
09:22Tapi kalau buat yang masyarakat di sana sendiri, ada sekolah lain, sekolah bisnis terbaik yang lain.
09:28Jadi ya sekolah ekonomi atau bisnis ya sendiri.
09:30Nanti sekolah yang memang mau teknologi, yang teknik, yang berbau politeknik gitu.
09:35Jadi memang sudah diarahkan di kampus, diajarkan sesuai dengan teori dan skill-nya yang memang sejalan dengan yang dibutuhkan oleh
09:45dunia kerja.
09:46Dibandingkan kampus kita yang semuanya tuh serba ada, tapi ya rasanya lebih kepada teori dan tidak menyiapkan seperti apa dunia
09:57kerja nantinya.
09:58Begitu gak sih kira-kira Pak?
10:00Ya, itu ada benarnya.
10:03Jadi misalnya tahun 93 Pak Wardiman, Menteri Pendidikan kan mengatakan link and match.
10:10Nah link and match itu sulitnya adalah bagaimana kita tahu apa yang bakal dibutuhkan industri.
10:17Maka kalau di dalam kawasan industri, itu anak-anak magang itu sudah langsung bisa sesuai link and match-nya.
10:25Dan anak-anak itu kalau gak cocok sama dia punya keinginan, dia bisa pindah ke pabrik lain.
10:30Oke, Pak sorry, Pak Wardiman waktu itu kan Menteri Pendidikan itu tahun berapa Pak?
10:3593.
10:36Bayangkan, Pak Wardiman aja tahun 93 sudah memikirkan link and match.
10:41Dan sekarang Pak, tahun ini, ini udah berapa puluh tahun kemudian, kita masih punya persoalan tentang link and match.
10:49Bagaimana pendidikan di dunia kampus itu tidak melulu sejalan dengan apa yang dibutuhkan oleh dunia kerja.
11:00Terima kasih telah menonton!
Komentar