00:00Dalam rangka hari pendidikan nasional, penting rasanya merefleksi seperti apa dan bagaimana kampus mencetak manusia unggul.
00:08Saya bersama seorang pengusaha yang dikenal membangun kawasan industri Jababeka dan juga pendiri presiden universiti.
00:16Visinya membangun kampus dituangkan dalam buku berjudul Kampus Mertas Batas yang diterbitkan oleh Gramedia Pustaka Utama.
00:25Ia adalah Dr. Honoris Causa Stiono Jowandi Darmono.
00:29Padahal kita kembali bicara soal pendidikan.
00:32Yang paling saya ingat adalah gak perlu-perlu amat dan bangga banget dengan IPK yang tinggi-tinggi.
00:40Tapi sebenarnya gak pinter-pinter amat juga gitu ya Pak.
00:44Apa tadi istilahnya? Unconsciously incompetent.
00:48Unconsciously incompetent.
00:50Tidak sadar kalau masih bodoh.
00:53Hanya bangga sama IPK.
00:55Jadi kalau nanti ada orang yang bangga-bangga dengan IPK saya akan mengutip kalimat Pak Darmono dan saya bilang bukan
01:01kata saya.
01:02Kata pendiri Jababeka.
01:06Pak, tadi Bapak mengatakan ini jadi membangun kampus dengan satu diferensiasi yang tidak dimiliki kampus lainnya di Indonesia.
01:15Yaitu ada boarding, memiliki asrama, menerima mahasiswa asing.
01:21Nah pada waktu itu 2001 dibangun, seberapa banyak 2001 itu antara mahasiswa asing dan mahasiswa Indonesia.
01:31Apakah ini juga langsung membuat satu terobosan yang dilihat oleh pelajar Indonesia pada waktu itu sebagai suatu yes, saya mau
01:40sekolah di sini.
01:41Ini satu hal yang sangat menarik dan saya ingat betul waktu itu, saya pasang iklan di Koran Kompas.
01:50Satu halaman penuh, itu satu miliar rupiah ya.
01:54Sampai disebut loh harganya loh.
01:56Nah, mahal soalnya banyak yang protes waktu itu.
01:59Lalu saya pasang foto-foto pendiri, Pak Yuwono Sudarsono, Menteri Pendidikan.
02:06Pak Utomo Yosodirjo, adalah founder-nya SGV Utomo.
02:11Profesor Charles Simawan, dikan fakultas hukum Universitas Indonesia pertama lulusan Harvard.
02:19Terus Pak Suryanto Sosrojoyo, yang adalah dari teh botol Sosro.
02:24Saya sendiri dan ada Pak Sukardi, Laksamara Sukardi.
02:29Laksamara Sukardi, ya.
02:30Itu semua saya pajang di Koran.
02:32Ini sebagai founder lah kira-kira ya?
02:33Founder ya, ini kan founder.
02:36Dari Yayasan Pendidikan Universitas Presiden.
02:40Nah, keluar iklan besar gitu, gak ada yang daftar.
02:45Padahal ceritanya akan diberikan biasiswa dan segala macam, gak ada yang daftar.
02:50Meskipun saat itu dibilang akan diberikan biasiswa?
02:53Iya, sudah disebut.
02:54Itu pun tidak cepat menjadi daya tarik untuk masuk?
02:57Iya, gak ada yang ngelamar.
02:58Jadi saya pikir apa ini karena di Cikarang, atau karena Universitas Baru, atau menakutkan.
03:04Kok namanya Presiden Universitas.
03:08Jadi, pendek kata, udah pasang iklan saja.
03:12Dicari karyawan lulusan SMA oleh Jababeka.
03:15Nah, yang ngelamar banyak ini.
03:17Jadi dipilih dari situ yang bisa berbahasa Inggris berapa banyak.
03:21Nah, dipilih dapatlah 12 orang.
03:23Pada saat yang sama, saya minta tolong dari Pak Gunadi Wijaya, dari Panin Group, yang punya jaringan luas di China,
03:32untuk mencari mahasiswa dari China.
04:03Oh, oke.
04:05Pasti dari negara yang masih susah.
04:07Yang anaknya masih miskin-miskin.
04:09Nah, waktu itu China belum sehebat sekarang lah ya.
04:12Nah, Vietnam apalagi.
04:13Jadi, dari dua itu, dapat saya 24 dari China, 12 dari Vietnam.
04:19Kita biar beasiswa penuh, malah yang dari Vietnam itu saya kasih R-Ticket, karena mereka gak sanggup datang.
04:26Nah, yang Indonesia dapat 12.
04:28Jadi, pertama itu 48 mahasiswa, 75% asing.
04:33Jadi, udah internasional kan, di tahun pertama ini.
04:37Nah, itulah.
04:37Dan itu mereka beasiswa?
04:38Full beasiswa.
04:40Makan, tidur, semua, tuition, semua dibayar.
04:44Cuma tidak diberi gaji aja.
04:47Tapi kalau yang anak-anak Indonesia kan digaji untuk kuliah.
04:52Karena 12 ini kan janjinya dipekerjakan.
04:55Ya, ya, benar.
04:55Karena kan tadi kan Bapak bilang kan itu, mereka masuk karena dicari karyawan untuk kerja di Jababat, Jababat, Jababat, Jababat,
05:02BK lulusan SMA.
05:03Betul.
05:03Makanya memang tetap harus digaji.
05:06Jadi, 12 itu statusnya karyawan, tapi jadi mahasiswa gitu.
05:11Itulah yang jadi.
05:12Dan 24 ini, 48 total, itu hebat-hebat sekarang.
05:18Jadi-jadi orang semua.
05:19Pak, saya, saya bertanya dengan seseorang yang saya rasa pasti Bapak tahu.
05:31Waktu itu beliau mengatakan bahwa diminta oleh pemerintah Vietnam membuat planning rekonstruksi banking system dan privatisasi BUMN.
05:45Saya didatangi sekelompok anak muda Vietnam dan menyapa dengan bahasa Indonesia.
05:51Rupanya mereka lulusan presiden universiti.
05:55Dan sekarang bekerja untuk pemerintah Vietnam.
05:58Dan sekarang mereka menjadi bagian dari transformer di government di Vietnam.
06:08Kira-kira Bapak bisa menebak nggak siapa orang ya?
06:12Saya udah losing track gitu, karena udah sanggeng panjangnya.
06:17Dari Pak Laksamana Soekardi.
06:19Jadi, sebagai seorang founder pun, he was amazed.
06:23Karena ketika dia ke Vietnam, dia menemukan anak-anak lulusan presiden universiti dan bekerja di pemerintahan di Vietnam dan menjadi
06:32transformer di sana.
06:36Jadi, bibit-bibit ini tidak saja untuk Indonesia, tetapi juga untuk mereka yang sudah bekerja, mereka yang menjadi warga negara
06:43asing.
06:44Tapi dari situ Pak, kalau untuk bicara soal mahasiswa di Indonesia gitu.
06:50Kan tadi, di Cikarang gitu, itu kan, maaf ya Pak ya, jangan tersinggung ya Pak.
06:57Kan nggak elit, Pak, kawasannya, Pak.
07:00Nah, tapi kenapa Bapak merasa bahwa kalau orang dari luar, okelah.
07:05Tadi yang Bapak bilang negaranya belum maju dan diinin.
07:07Tapi kalau untuk anak Jakarta, anak Indonesia, mereka punya kampus yang lebih di tempat gaul gitu.
07:13Bagaimana satu kawasan yang dianggap tidak cukup elit buat anak calon mahasiswa,
07:19itu bisa dianggap, wah, ini adalah tempat terbaik saya untuk menimba ilmu.
07:23Ya, jadi memang itu tantangan untuk mencitrakan bahwa Cikarang itu bukan disa tertinggal.
07:32Itu memang tantangan.
07:34Makanya perlu banyak promosi, ya bicara di kompas, apa itu perlu.
07:40Karena mereka supaya tahu bahwa sebetulnya tempat ini harus dilihat,
07:49apakah itu disa Cikarang 40 tahun yang lalu, atau Cikarang hari ini yang sudah menjadi the fastest growing city di
07:57Indonesia,
07:58yang dihuni ribuan pabrik di sana.
08:01Total Cikarang itu berserta tujuh kawasan industrinya, itu hampir 200 km persegi, yang hampir setengahnya Jakarta.
08:10Ya, atau mungkin justru kenapa Bapak membangun di sini, kalau asumsiku, justru di sini menjadi salah satu simbol,
08:18link and match-nya, mahasiswa yang bersekolah, dan kemudian dengan daya tampung di mana mereka bekerja kemudian.
08:27Betul.
08:27Karena tempat seperti Cikarang ini, mungkin tidak ada tempat lain yang bisa dimanfaatkan untuk pendidikan kelas internasional.
08:38Karena di sini ada pabrik-pabrik dari 36 negara.
08:43Sehingga interaksi antara mahasiswa, dosen, dengan para pekerja-pekerja pabrik yang banyak, orang asingnya, itu tinggi sekali.
08:53Jadi meskipun Cikarang, tapi this is an international city, dengan environment internasional.
09:00Dan sesudah 37 tahun, berserta kawasan-kawasan yang lain, ini sudah menjadi kota metropolitan.
09:08Tapi Pak, setelah ada asrama, pendidikannya, yang juga berskala internasional, berbahasa Inggris,
09:16apa yang membuat Bapak merasa pendidikan atau apa yang diberikan, menjadi pendidikan di Presiden University,
09:24ini menjadi salah satu bekal, seperti tadi candaan saya, harapannya, lulusannya, minimal, jadi Presiden Republik Indonesia.
09:33Minimal loh saya bilang.
09:35Ya, jadi begini kan, kalau mereka masuk Presiden University, itu saya minta kepada Pak Rektornya,
09:42supaya anak ini segera on the job training, magang, di perusahaan-perusahaan yang ribuan.
09:48Tahun pertama?
09:49Tahun pertama.
09:50Langsung?
09:50Langsung, sudah harus segera magang.
09:53Why?
09:54Bukannya diajarin teori-teori dulu, atau apa, pengenalan apa?
09:57Sudah harus langsung, sebab seeing is believing.
09:59Jadi, pendidikan itu begini, when you hear dosen ngomong, you will forget.
10:05When you see, you may remember.
10:08But when you are involved, you will understand.
10:11Jadi, mereka harus dibikin involved, masuk ke pabrik-pabrik, supaya melihat juga, dan mendengar juga,
10:19tapi juga langsung involved.
10:21Nah, itu lebih mudah untuk mereka dikasih pelajaran teori.
10:25Ya, contohnya juga gini lah, kita ajarin anak kita berenang, dengan teori macam-macam.
10:31Tiga tahun juga nggak bisa berenang.
10:33Langsung aja jorokin, cepurin ke kolam berenang, gelagapan sedikit nggak apa-apa.
10:37Tapi, udah itu dia menghargai perlunya teori.
10:40Nah, itu baru mendengar.
10:43Jadi, sama, harus langsung dicepurkan.
10:46Sekolah kedokteran di mana-mana juga begitu.
10:49Di luar negeri, semua itu harus tahun pertama sudah diajak ke rumah sakit.
10:52Tapi, kenapa fakultas ekonomi, fakultas teknik, kalau dikasih teori.
10:59Teori sekarang, kelihatannya CGPT, ada semua.
11:03Jadi, mesti dibawa ke tempat kerja.
11:06Nah, tempat kerja di mana?
11:08Ada ribuan pabrik di Cikarang.
11:11Pak, apa kritik mendasar Bapak pada dunia pendidikan di Indonesia?
11:16Pak, apa kritik mendasar Bapak?
Komentar