Lewati ke pemutarLewatkan ke konten utama
  • 2 jam yang lalu
JAKARTA, KOMPAS.TV - Pendiri President University, Setyono Djuandi Darmono menuturkan pengalaman nyata saat merintis kampus.

Saat itu, Darmono memasang iklan besar untuk menjaring mahasiswa. Namun hasilnya di luar dugaan. Tidak ada yang mendaftar kampusnya.

Alih-alih menyerah, ia justru mencari alternatif lain, termasuk menjaring calon mahasiswa dari luar negeri.

Di tengah kondisi Indonesia pasca reformasi yang belum stabil, langkah ini terbilang berani.

Darmono akhirnya mendapatkan 24 mahasiswa dari China dan 12 dari Vietnam. Tak hanya merekrut, ia bahkan membiayai penuh pendidikan para mahasiswa tersebut.

Total, angkatan pertama hanya berjumlah 48 mahasiswatermasuk dari Indonesia.

Kini, 48 mahasiswa angkatan pertamanya telah sukses dengan karier masing-masing.

Bagaimana menurut Anda?

Selengkapnya saksikan di sini: https://youtu.be/v_WGJzK85iA



#pendidikan #presidentuniversity #indonesia

Artikel ini bisa dilihat di : https://www.kompas.tv/talkshow/666374/strategi-pendiri-president-university-bangun-kampus-global-nol-mahasiswa-ke-48-orang-terpilih-rosi
Transkrip
00:00Dalam rangka hari pendidikan nasional, penting rasanya merefleksi seperti apa dan bagaimana kampus mencetak manusia unggul.
00:08Saya bersama seorang pengusaha yang dikenal membangun kawasan industri Jababeka dan juga pendiri presiden universiti.
00:16Visinya membangun kampus dituangkan dalam buku berjudul Kampus Mertas Batas yang diterbitkan oleh Gramedia Pustaka Utama.
00:25Ia adalah Dr. Honoris Causa Stiono Jowandi Darmono.
00:29Padahal kita kembali bicara soal pendidikan.
00:32Yang paling saya ingat adalah gak perlu-perlu amat dan bangga banget dengan IPK yang tinggi-tinggi.
00:40Tapi sebenarnya gak pinter-pinter amat juga gitu ya Pak.
00:44Apa tadi istilahnya? Unconsciously incompetent.
00:48Unconsciously incompetent.
00:50Tidak sadar kalau masih bodoh.
00:53Hanya bangga sama IPK.
00:55Jadi kalau nanti ada orang yang bangga-bangga dengan IPK saya akan mengutip kalimat Pak Darmono dan saya bilang bukan
01:01kata saya.
01:02Kata pendiri Jababeka.
01:06Pak, tadi Bapak mengatakan ini jadi membangun kampus dengan satu diferensiasi yang tidak dimiliki kampus lainnya di Indonesia.
01:15Yaitu ada boarding, memiliki asrama, menerima mahasiswa asing.
01:21Nah pada waktu itu 2001 dibangun, seberapa banyak 2001 itu antara mahasiswa asing dan mahasiswa Indonesia.
01:31Apakah ini juga langsung membuat satu terobosan yang dilihat oleh pelajar Indonesia pada waktu itu sebagai suatu yes, saya mau
01:40sekolah di sini.
01:41Ini satu hal yang sangat menarik dan saya ingat betul waktu itu, saya pasang iklan di Koran Kompas.
01:50Satu halaman penuh, itu satu miliar rupiah ya.
01:54Sampai disebut loh harganya loh.
01:56Nah, mahal soalnya banyak yang protes waktu itu.
01:59Lalu saya pasang foto-foto pendiri, Pak Yuwono Sudarsono, Menteri Pendidikan.
02:06Pak Utomo Yosodirjo, adalah founder-nya SGV Utomo.
02:11Profesor Charles Simawan, dikan fakultas hukum Universitas Indonesia pertama lulusan Harvard.
02:19Terus Pak Suryanto Sosrojoyo, yang adalah dari teh botol Sosro.
02:24Saya sendiri dan ada Pak Sukardi, Laksamara Sukardi.
02:29Laksamara Sukardi, ya.
02:30Itu semua saya pajang di Koran.
02:32Ini sebagai founder lah kira-kira ya?
02:33Founder ya, ini kan founder.
02:36Dari Yayasan Pendidikan Universitas Presiden.
02:40Nah, keluar iklan besar gitu, gak ada yang daftar.
02:45Padahal ceritanya akan diberikan biasiswa dan segala macam, gak ada yang daftar.
02:50Meskipun saat itu dibilang akan diberikan biasiswa?
02:53Iya, sudah disebut.
02:54Itu pun tidak cepat menjadi daya tarik untuk masuk?
02:57Iya, gak ada yang ngelamar.
02:58Jadi saya pikir apa ini karena di Cikarang, atau karena Universitas Baru, atau menakutkan.
03:04Kok namanya Presiden Universitas.
03:08Jadi, pendek kata, udah pasang iklan saja.
03:12Dicari karyawan lulusan SMA oleh Jababeka.
03:15Nah, yang ngelamar banyak ini.
03:17Jadi dipilih dari situ yang bisa berbahasa Inggris berapa banyak.
03:21Nah, dipilih dapatlah 12 orang.
03:23Pada saat yang sama, saya minta tolong dari Pak Gunadi Wijaya, dari Panin Group, yang punya jaringan luas di China,
03:32untuk mencari mahasiswa dari China.
04:03Oh, oke.
04:05Pasti dari negara yang masih susah.
04:07Yang anaknya masih miskin-miskin.
04:09Nah, waktu itu China belum sehebat sekarang lah ya.
04:12Nah, Vietnam apalagi.
04:13Jadi, dari dua itu, dapat saya 24 dari China, 12 dari Vietnam.
04:19Kita biar beasiswa penuh, malah yang dari Vietnam itu saya kasih R-Ticket, karena mereka gak sanggup datang.
04:26Nah, yang Indonesia dapat 12.
04:28Jadi, pertama itu 48 mahasiswa, 75% asing.
04:33Jadi, udah internasional kan, di tahun pertama ini.
04:37Nah, itulah.
04:37Dan itu mereka beasiswa?
04:38Full beasiswa.
04:40Makan, tidur, semua, tuition, semua dibayar.
04:44Cuma tidak diberi gaji aja.
04:47Tapi kalau yang anak-anak Indonesia kan digaji untuk kuliah.
04:52Karena 12 ini kan janjinya dipekerjakan.
04:55Ya, ya, benar.
04:55Karena kan tadi kan Bapak bilang kan itu, mereka masuk karena dicari karyawan untuk kerja di Jababat, Jababat, Jababat, Jababat,
05:02BK lulusan SMA.
05:03Betul.
05:03Makanya memang tetap harus digaji.
05:06Jadi, 12 itu statusnya karyawan, tapi jadi mahasiswa gitu.
05:11Itulah yang jadi.
05:12Dan 24 ini, 48 total, itu hebat-hebat sekarang.
05:18Jadi-jadi orang semua.
05:19Pak, saya, saya bertanya dengan seseorang yang saya rasa pasti Bapak tahu.
05:31Waktu itu beliau mengatakan bahwa diminta oleh pemerintah Vietnam membuat planning rekonstruksi banking system dan privatisasi BUMN.
05:45Saya didatangi sekelompok anak muda Vietnam dan menyapa dengan bahasa Indonesia.
05:51Rupanya mereka lulusan presiden universiti.
05:55Dan sekarang bekerja untuk pemerintah Vietnam.
05:58Dan sekarang mereka menjadi bagian dari transformer di government di Vietnam.
06:08Kira-kira Bapak bisa menebak nggak siapa orang ya?
06:12Saya udah losing track gitu, karena udah sanggeng panjangnya.
06:17Dari Pak Laksamana Soekardi.
06:19Jadi, sebagai seorang founder pun, he was amazed.
06:23Karena ketika dia ke Vietnam, dia menemukan anak-anak lulusan presiden universiti dan bekerja di pemerintahan di Vietnam dan menjadi
06:32transformer di sana.
06:36Jadi, bibit-bibit ini tidak saja untuk Indonesia, tetapi juga untuk mereka yang sudah bekerja, mereka yang menjadi warga negara
06:43asing.
06:44Tapi dari situ Pak, kalau untuk bicara soal mahasiswa di Indonesia gitu.
06:50Kan tadi, di Cikarang gitu, itu kan, maaf ya Pak ya, jangan tersinggung ya Pak.
06:57Kan nggak elit, Pak, kawasannya, Pak.
07:00Nah, tapi kenapa Bapak merasa bahwa kalau orang dari luar, okelah.
07:05Tadi yang Bapak bilang negaranya belum maju dan diinin.
07:07Tapi kalau untuk anak Jakarta, anak Indonesia, mereka punya kampus yang lebih di tempat gaul gitu.
07:13Bagaimana satu kawasan yang dianggap tidak cukup elit buat anak calon mahasiswa,
07:19itu bisa dianggap, wah, ini adalah tempat terbaik saya untuk menimba ilmu.
07:23Ya, jadi memang itu tantangan untuk mencitrakan bahwa Cikarang itu bukan disa tertinggal.
07:32Itu memang tantangan.
07:34Makanya perlu banyak promosi, ya bicara di kompas, apa itu perlu.
07:40Karena mereka supaya tahu bahwa sebetulnya tempat ini harus dilihat,
07:49apakah itu disa Cikarang 40 tahun yang lalu, atau Cikarang hari ini yang sudah menjadi the fastest growing city di
07:57Indonesia,
07:58yang dihuni ribuan pabrik di sana.
08:01Total Cikarang itu berserta tujuh kawasan industrinya, itu hampir 200 km persegi, yang hampir setengahnya Jakarta.
08:10Ya, atau mungkin justru kenapa Bapak membangun di sini, kalau asumsiku, justru di sini menjadi salah satu simbol,
08:18link and match-nya, mahasiswa yang bersekolah, dan kemudian dengan daya tampung di mana mereka bekerja kemudian.
08:27Betul.
08:27Karena tempat seperti Cikarang ini, mungkin tidak ada tempat lain yang bisa dimanfaatkan untuk pendidikan kelas internasional.
08:38Karena di sini ada pabrik-pabrik dari 36 negara.
08:43Sehingga interaksi antara mahasiswa, dosen, dengan para pekerja-pekerja pabrik yang banyak, orang asingnya, itu tinggi sekali.
08:53Jadi meskipun Cikarang, tapi this is an international city, dengan environment internasional.
09:00Dan sesudah 37 tahun, berserta kawasan-kawasan yang lain, ini sudah menjadi kota metropolitan.
09:08Tapi Pak, setelah ada asrama, pendidikannya, yang juga berskala internasional, berbahasa Inggris,
09:16apa yang membuat Bapak merasa pendidikan atau apa yang diberikan, menjadi pendidikan di Presiden University,
09:24ini menjadi salah satu bekal, seperti tadi candaan saya, harapannya, lulusannya, minimal, jadi Presiden Republik Indonesia.
09:33Minimal loh saya bilang.
09:35Ya, jadi begini kan, kalau mereka masuk Presiden University, itu saya minta kepada Pak Rektornya,
09:42supaya anak ini segera on the job training, magang, di perusahaan-perusahaan yang ribuan.
09:48Tahun pertama?
09:49Tahun pertama.
09:50Langsung?
09:50Langsung, sudah harus segera magang.
09:53Why?
09:54Bukannya diajarin teori-teori dulu, atau apa, pengenalan apa?
09:57Sudah harus langsung, sebab seeing is believing.
09:59Jadi, pendidikan itu begini, when you hear dosen ngomong, you will forget.
10:05When you see, you may remember.
10:08But when you are involved, you will understand.
10:11Jadi, mereka harus dibikin involved, masuk ke pabrik-pabrik, supaya melihat juga, dan mendengar juga,
10:19tapi juga langsung involved.
10:21Nah, itu lebih mudah untuk mereka dikasih pelajaran teori.
10:25Ya, contohnya juga gini lah, kita ajarin anak kita berenang, dengan teori macam-macam.
10:31Tiga tahun juga nggak bisa berenang.
10:33Langsung aja jorokin, cepurin ke kolam berenang, gelagapan sedikit nggak apa-apa.
10:37Tapi, udah itu dia menghargai perlunya teori.
10:40Nah, itu baru mendengar.
10:43Jadi, sama, harus langsung dicepurkan.
10:46Sekolah kedokteran di mana-mana juga begitu.
10:49Di luar negeri, semua itu harus tahun pertama sudah diajak ke rumah sakit.
10:52Tapi, kenapa fakultas ekonomi, fakultas teknik, kalau dikasih teori.
10:59Teori sekarang, kelihatannya CGPT, ada semua.
11:03Jadi, mesti dibawa ke tempat kerja.
11:06Nah, tempat kerja di mana?
11:08Ada ribuan pabrik di Cikarang.
11:11Pak, apa kritik mendasar Bapak pada dunia pendidikan di Indonesia?
11:16Pak, apa kritik mendasar Bapak?
Komentar

Dianjurkan