Lewati ke pemutarLewatkan ke konten utama
KOMPAS.TV - Negosiasi tahap dua antara Amerika dan Iran masih terus dinanti. Namun Donald Trump secara terbuka meminta Iran menyerah dan lebih cerdas dalam menyikapi negosiasi, utamanya soal nuklir yang masih menemui jalan buntu.

Pernyataan Trump muncul di tengah meningkatnya tekanan militer dan ekonomi dari Amerika Serikat, termasuk blokade Selat Hormuz, untuk memaksa Teheran kembali ke meja perundingan.

Kita akan membahasnya dengan dua narasumber kami yang terhubung melalui sambungan virtual. Mahendra Siregar, Duta Besar RI untuk Amerika Serikat periode 2018-2019 dan Fauzia Cempaka, peneliti Indo Pacific Strategic Inteligence.

Baca Juga Trump Klaim Kekuatan Militer Iran Hancur, Desak Segera Menyerah | SAPA MALAM di https://www.kompas.tv/internasional/666302/trump-klaim-kekuatan-militer-iran-hancur-desak-segera-menyerah-sapa-malam

#trump #iran #amerika

_

Sahabat KompasTV, Mulai 1 Februari 2026 KompasTV pindah channel. Dapatkan selalu berita dan informasi terupdate KompasTV, di televisi anda di Channel 11 pada perangkat TV Digital atau Set Top Box. Satu Langkah lebih dekat, satu Langkah makin terpercaya!




Artikel ini bisa dilihat di : https://www.kompas.tv/internasional/666338/dubes-ri-untuk-as-dan-peneliti-isi-kupas-tekanan-trump-ke-iran-negosiasi-nuklir-di-ujung-tanduk
Transkrip
00:00Sedara negosiasi tahap 2 antara Amerika dan Iran masih terus dinanti.
00:05Namun Donald Trump secara terbuka meminta Iran menyerah dan lebih cerdas dalam menyikapi negosiasi utamanya soal nuklir yang masih menemui
00:12jalan buntu.
00:13Pernyataan Trump ini muncul di tengah meningkatnya tekanan militer dan ekonomi dari Amerika Serikat termasuk blokade Selat Hormuz untuk memaksa
00:21Teheran kembali ke meja perundingan.
00:22Kita akan bahas dengan 2 narasumber kami yang terhubung melalui sambungan virtual ada Mahendra Siregar, mantan Duta Besar Republik Indonesia
00:30untuk Amerika Serikat periode 2018-2019 dan Fauzia Cempaka, peneliti Indo-Pacific Strategic Intelligence.
00:38Selamat petang Pak Mahendra juga Mbak Fauzia.
00:43Selamat petang Pak Mahendra dulu. Menarik kalau tadi kita lihat di tayangan, Presiden Trump meminta Iran ini menyerah.
00:53Apakah ini bisa dikaitkan dengan adanya tenggat 60 hari, a war powerless resolution dari Amerika Serikat soal pembatasan waktu perang
01:02ini?
01:02Apakah Anda melihat ini Pak Mahendra?
01:06Secara tidak langsung begitu, artinya jadwal dan batas waktu yang dihadapi Trump adalah sangat ketat ya, sehingga bagi dia untuk
01:16cepat bisa keluar dan menyelesaikan perang di Iran ini menjadi sangat kritikal.
01:21Nah dalam hal itu lah, dia melihat bahwa penyelesaian terhadap perang ini dan sayangnya yang dia minta justru adalah kartu
01:31as yang dimiliki oleh Iran, dalam arti pengayaan uranium yang nampaknya seperti kita duga tidak akan disetujui oleh Iran, sehingga
01:40kemudian momentum untuk melakukan pembahasan lebih lanjut di selama abad belum terdentuk. Nah ini yang terjadi.
01:49Dan dalam kondisi seperti ini, apakah artinya Iran berada dalam kondisi di atas angin?
01:56Karena tadi, kalau terkait dengan war powerless resolution of 1973, Amerika Serikat tersandra itu, tanda kutip.
02:04Di sisi lain juga Iran punya waktu yang lebih luang dan bahkan Iran bilang siap berperang.
02:10Bagaimana membaca kondisi ini? Kita bahas usai kumandang azan maghrib bagi oleh Jakarta dan sekitarnya.
02:16Sampai Indonesia malam, masih bersama dengan Mahendra Siregar, mantan Duta Besar RI untuk Amerika Serikat periode 2018-2019 dan Fauzia
02:26Cepaka, peneliti Indo-Pacific Strategic Intelligence.
02:28Pak Mahendra, kita sambung yang tadi. Apakah dengan Amerika Serikat yang sekarang terbatasi dengan the War Powers Resolution of 1973,
02:37terkait dengan batasan untuk melakukan perang ini operasi militer di 60 hari?
02:42Apakah artinya Iran punya kartu tawar yang lebih besar dibandingkan Amerika Serikat?
02:47Dari segi perangka waktu mungkin demikian ya. Tetapi masing-masing bisa merasa di atas angin atau bisa mengang lebih besar
02:56kepada lawannya, maka masalah yang dihadapi adalah tidak ada momentum yang terbangun untuk keduanya masuk ke dalam pembahasan lebih lanjut.
03:05Nah ini persoalan terbesar, sehingga yang kita hadapi sekarang adalah situasi di mana ya perang terbuka atau perang panas tidak
03:13terjadi, tapi perdamaian juga tidak karena pembahasan tidak berlanjut.
03:17Jadi persoalan menggantung ini yang menjadi masalah, terutama bagi perekonomian dunia dan tentunya juga bagi Iran dan Amerika Serikat ya.
03:26Iya, kalau dari Mbak Fauzia tadi Pak Mahendra sudah menjelaskan, dengan adanya kebuntuan kondisi sekarang negosiasi enggak, perang juga enggak,
03:35sementara yang terkena dampaknya adalah ekonomi dunia.
03:38Sebenarnya apa sih kalau kita baca dari langkahnya Amerika Serikat dan Iran yang diharapkan, sepertinya tidak ada etikat untuk negosiasi,
03:46tapi untuk perang juga tidak ada yang menarik pelatuk duluan sampai sekarang?
03:52Tentu kita harus lihat bagaimana Iran saat ini menawarkan tiga langkah dalam mencapai negosiasi ya Mbak ya, atau perdamaian.
04:00Yang pertama tentu saja memisahkan diskusi tentang hormus dengan nuklir itu sendiri.
04:05Nah ini yang sebenarnya tidak diinginkan oleh Trump, sehingga tentu saja sudah ada statement yang disampaikan oleh Trump bahwa menolak
04:14proposal yang diajukan melalui Pakistan terhadap proposal baru ini,
04:18yang melalui tiga langkah, yakni pertama adalah membuka kembali hormus, menghentikan perang, dan yang ketiga baru mendiskusikan tentang nuklir.
04:27Karena tentu saja ini kita mengingatkan bagaimana kesepakatan yang sebelumnya sama-sama pernah diraih oleh Obama di tahun 2015 di
04:37GCTOE dengan konteks yang sama,
04:39yaitu bicara tentang sanction dan yang kedua baru bicara tentang nuklir.
04:44Nah padahal tentu saja secara internal, secara domestik, Trump sudah berkali-kali menyatakan di tweet maupun dalam press release-nya,
04:52bahwa dia akan mencapai deal yang lebih baik dibanding Obama.
04:56Nah ini tentu akan menjadi penghalang perdamaian atau kesepakatan ini tercapai.
05:03Dan ini menurut saya poin yang dimana saat ini yang cukup krusial, yaitu diskusi tentang mekanisme teknis tentang pengenanganan uranium
05:13yang dimiliki oleh Iran saat ini Mbak Friska.
05:16Dan kalau dari 2015 ini juga tentunya Iran akan sangat berhati-hati tidak mau itu terulangi.
05:24Kalau dari awal sebenarnya perundingan di Islamabad sebelumnya Mbak Fauzia, kan Iran sudah jelas-jelas bilang seperti yang tadi Mbak
05:32Fauzia bilang,
05:32nggak mau mencapur andukan antara negosiasi nuklir dengan hormus.
05:37Tapi pada faktanya demikian.
05:41Iya, betul Mbak. Jadi memang ini saat ini menjadi, tapi kita lihat sebenarnya ini masih ada backchannel diplomasi.
05:48Terutama ketika kita lihat fakta di lapangan adalah Arakci baru saja kembali dari Moskow Mbak, dari Rusia.
05:55Dan tentu saja ada diskusi yang saat ini salah satunya disampaikan statementnya oleh Direktur atau Kepala dari IAEA,
06:05bahwa ada diskusi mengenai teknis yang lebih panjang apakah nantinya Amerika Serikat membolehkan atau mengizinkan Rusia
06:13untuk menangani kekayaan atau pengayaan uranium yang dimiliki oleh Iran ini Mbak.
06:20Dan tadi juga Trump bilang ya bahwa akan meminta bantuan Rusia.
06:24Jadi menariknya posisi Rusia saat ini tampaknya digunakan sebagai jembatan antara kebuntuan Iran dan Amerika Serikat.
06:32Pak Mahendra, apakah ini bisa dikatakan ya pintu yang coba dibuka dan kemungkinan bisa terbuka?
06:39Karena kita tahu juga Iran ya sangat dekat dengan Rusia.
06:45Bisa dilihat demikian, tapi bisa juga dilihat ada upaya bagi Iran untuk melihat bagaimana pandangan dari Rusia
06:54ataupun juga nanti RRT terhadap kondisi yang ada di sana, juga termasuk kepada posisi Iran sendiri yang ingin mengelembang
07:04dan juga tanda petik menjaga Selat Hormuz.
07:07Ini kan adalah poin-poin penting yang dimiliki oleh Iran yang diberikan proposal kepada pihak Amerika
07:14tapi juga Iran ingin tes bagaimana posisinya Rusia, posisinya negara besar lain
07:19dan tentu posisi Oman yang adalah pemilik sebelah barat dari Selat Hormuz
07:27dalam arti kalau nanti dibahas lebih lanjut pengelolaan dan juga penjagaan dari Selat Hormuz
07:34bagaimana posisi mereka?
07:36Jadi banyak isu yang saya rasa dibahas tadi itu ya.
07:39Dan soal Hormuz sekarang saat ini kan juga masih kompleks Pak Mahendra
07:44Hormuz, Iran berkali-kali mengatakan dibuka, ditutup lagi, dibuka lagi
07:48karena blokade yang dilakukan Amerika Serikat tidak juga dicabut.
07:51Apakah intensi Amerika Serikat ini untuk kita katakan untuk memanaskan tensi di Selat Hormuz itu tidak berhenti sampai saat ini?
08:01Jadi memang Iran mengunci posisinya menutup Selat Hormuz dikaitkan dengan blokade dari Amerika Serikat.
08:11Tapi sebaliknya Amerika Serikat mengunci blokadenya itu dengan posisi Iran menyerahkan proses pengayaan uraniumnya.
08:19Jadi bisa dibilang kunci lah.
08:22Nah ini yang menjadikan situasi menggantung saat ini dan menjadi kecemasan bagi seluruh pihak saya lihat ya.
08:29Ya, Mbak Fauzi siapa yang bisa mendorong Amerika Serikat untuk menghentikan blokade?
08:34Kalau Iran sudah bilang untuk ya membuka Selat Hormuz tapi akhirnya dicabut kembali
08:39karena blokade dilakukan Amerika Serikat dan Iran tidak terima dengan alasan Amerika Serikat
08:43untuk memblokade itu karena negosiasi pengayaan uranium tadi.
08:48Betul, Mbak.
08:49Jadi memang saya lihat ada perlunya sebenarnya dorongan yang sifatnya eksternal balancing dari negara-negara lain
08:56di luar dari mekanisme Pakistan.
08:58Karena kalau kita lihat sebenarnya simultan dengan kunjungan Arakji ke beberapa negara
09:04misalnya ke negara pertama yaitu Islamabad lalu dilanjutkan ke Oman dan dilanjutkan kembali ke Moskow, ke Rusia
09:12ini sebenarnya bersamaan dengan itu juga ada pertemuan misalnya pertemuan SCO, Mbak.
09:18Shanghai Cooperation Organization yang Iran menjadi anggotanya bersama dengan Rusia juga
09:23dan juga bersama dengan Tiongkok.
09:25Nah, di sisi lain juga ada pertemuan GCC atau negara-negara teluk
09:29yang dilaksanakan di Saudi Arab Saudi beberapa waktu lalu yang simultan dengan kunjungan Arakji.
09:35Nah, menurut saya ini sebenarnya banyak upaya yang memang dilakukan oleh semua negara
09:40untuk mencapai perdamaian dan membuka deadlock yang saat ini terjadi begitu, Mbak.
09:46Terutama dalam konteks Hormuz begitu ya.
09:48Karena Hormuz ini memang tidak hanya mengikat Iran dan Amerika Serikat saja
09:53ataupun negara-negara teluk saja, tapi juga hampir seluruh negara di dunia, Mbak.
09:58Dan posisi negara teluk saat ini bagaimana Mbak Fauzia melihat petanya?
10:04Saya lihat memang ada aksi atau misalnya pernyataan yang sudah mulai diambil secara kolektif
10:12oleh negara-negara teluk, Mbak.
10:14Karena kita lihat dari tanggal 28 Februari sejak serangan dilakukan oleh Amerika Serikat
10:19ini tidak ada balasan begitu yang dilakukan oleh negara-negara teluk.
10:24Nah, sampai sekarang tapi pada kondisi kemarin mereka mengeluarkan pernyataan yang sifatnya kolektif
10:30sehingga menurut saya ini merupakan sebuah langkah
10:35karena kita tahu bahwa negara-negara teluk sendiri ini tidak atau belum pernah
10:40atau memang sulit untuk mencapai sebuah kesepakatan atau pernyataan.
10:49Karena ini juga yang sulit ya.
10:52Di awal perang ini terjadi, negara teluk lebih banyak condong ke Amerika Serikat
10:58karena memang berbagai kerjasama, kepentingan strategisnya lebih dekat ke Amerika Serikat.
11:03Tapi apakah Pak Mahendra juga membaca bahwa sekarang jadi bergeser
11:07mereka tidak ingin terlalu ambil posisi tegas dalam perkembangan perang ini, Pak Mahendra?
11:14Saya rasa posisi masing-masing negara teluk adalah kepentingan nasionalnya sekarang ini.
11:21Karena di awal diharapkan Amerika Serikat terutama dengan pangkalan militernya
11:27yang ada di negara-negara teluk itu ada 13 jumlahnya itu
11:34efektif dalam membela dan mempertahankan kepentingan dari negara-negara teluk itu
11:39menghadapi serangan Iran.
11:41Jadi mereka melihat kecewa betul.
11:43Nah di lain pihak juga memang di antara negara-negara teluk itu sendiri
11:48dalam hubungannya dengan Iran dan juga dengan Israel
11:52dan juga di antara negara-negara teluk itu sendiri masing-masingnya
11:56itu memiliki kepentingan-kepentingan nasional yang berbeda.
11:59Jadi posisi undang setelah terjadinya perang ini
12:03mereka lebih mementingkan kepentingan nasional
12:05daripada melihat secara berkelompok dan apalagi aliansi dengan Amerika Serikat.
12:11Dan apa juga yang bisa kita baca hitung-hitungan negara-negara tadi
12:15lebih dalam lagi soal perang Tiongkok dan Rusia terhadap Iran
12:18jika memang Amerika Serikat dan Iran tidak juga mencapai kesepakatan
12:23masih backlog hingga saat ini
12:24sesaat lagi di Sampai Indonesia malam kami kembali.
12:28Masih di Sampai Indonesia malam
12:30bersama saya Friska Klarissa
12:31dan kita masih berbincang dengan Bapak Mahendra Siregar
12:36mantan Duta Besar Republik Indonesia untuk Amerika Serikat
12:40periode 2018-2019
12:42dan Mbak Fauzia Cempaka peneliti Indo-Pacific Strategic Intelligence.
12:47Saya ke Pak Mahendra lagi.
12:49Pak Mahendra, sebenarnya dalam kondisi seperti ini
12:52kita bahas dulu yang akan terjadi di Amerika Serikat.
12:55Besok kan 1 Mei
12:56kalau tenggat dari War Powers Act atau War Powers Resolution
13:00ya 60 hari.
13:02Apa sebenarnya proses yang bisa terjadi di Kongres
13:05dalam kondisi seperti ini Pak Mahendra?
13:07Jadi War Powers Resolution itu intinya adalah
13:12kalau pemerintah ingin menyatakan perang
13:15atau melakukan perang dengan negara lain
13:17harus memiliki persetujuan dari Kongres.
13:21Nah tetapi Trump memakai celah di dalam undang-undang itu
13:27yang mengatakan bahwa kalau yang dilakukan adalah operasi militer terbatas
13:33bukan perang, maka bisa dipakai waktu 60 hari
13:37tanpa harus memperoleh izin dari Kongres.
13:40Nah 60 hari jatuh hari ini atau besok
13:43sehingga dengan demikian kalau dia masih
13:46dan kelihatannya akan masih berada di Iran
13:49dan mungkin melakukan serangan bersenjata
13:52dan lain-lain maka dengan begitu
13:55maka dia harus memiliki izin dari Kongres.
13:58Nah apabila tidak memiliki izin dari Kongres
14:01maka secara undang-undang itu melanggar
14:05dan kemudian di lain pihak
14:07pihak Kongres akan melakukan berbagai tekanan
14:10memanggil setiap hari para menterinya
14:13lalu menghidat keinginan dari Trump
14:18masalah undang-undang, masalah hendak
14:20dan juga keinginan untuk melakukan inisiatif lain-lain.
14:25Nah ini yang akan merugati Trump secara politik ya
14:28jadi hal itu yang berubah mulai besok ini.
14:32Mbak Fauzia, kondisi seperti ini
14:33apakah akan jadi tekanan juga untuk Trump di dalam negeri?
14:39Tentu Mbak, karena kita lihat memang sudah
14:41sangat banyak indikator yang menunjukkan
14:43tekanan dalam negeri kepada Trump
14:46yang pertama tadi sudah disebutkan
14:47terkait dengan New World Power Act
14:49yang kedua juga terkait dengan inflasi
14:51angka inflasi yang dimiliki oleh Amerika Serikat sendiri
14:54saat ini sudah hampir mencapai angka 4% Mbak.
14:57Itu yang kedua.
14:58Yang ketiga juga tentu saja bagaimana
15:00tekanan terhadap midterms election.
15:03Nah ini yang tentu saja selama ini kita tahu
15:05meskipun akan dilakukan di bulan November
15:08tetapi saat ini
15:11penurunan dukungan terhadap Trump ini
15:12tentu saja juga menjadi pertimbangan
15:14bagi domestik Trump.
15:16Dan tentu saja yang terakhir adalah yang paling besar
15:18adalah tekanan ekonomi
15:19angka hari ini menunjukkan adalah
15:21angka tertinggi Mbak
15:22terhadap brand minyak
15:24atau minyak brand
15:26yaitu angkanya sekarang bisa sampai
15:28118-119 yang belum pernah
15:31mencapai angka ini
15:32meskipun di perang-perang Amerika sebelumnya Mbak.
15:35Ini tentu saja menjadi sangat concerning
15:37dan mengkhawatirkan bagi Amerika sendiri Mbak.
15:41Tapi tampaknya Trump masih sangat percaya diri
15:43sampai sekarang Pak Mahendra.
15:45Apakah dengan komposisi Kongres
15:47bisa kita baca bahwa
15:48Trump masih percaya diri
15:50Kongres lebih banyak
15:51akan menyetujui langkahnya Trump?
15:56Saya itu memang selalu ingin mendiktik
15:59dan menempolis semua kendalinya ya.
16:01Tetapi realitanya
16:03tidak seperti di awal perang ini
16:05dia tidak lagi memegang kendali sepenuhnya.
16:08Berhadapan dengan Iran sendiri
16:10Iran lah yang menentukan tidak mau
16:12melanjutkan pembahasan
16:13karena Trump dianggap tidak bersungguh-sungguh.
16:16Lalu sekarang dengan Kongres demikian juga.
16:19Nah dan juga dengan kondisi
16:21pengendalian dampak ekonomi
16:23nampaknya juga makin lepas
16:25kendali dari Trump.
16:26Jadi memang realitanya
16:28adalah tidak sejalan dengan keinginan
16:31dan stylenya Trump ini.
16:33Ini merupakan bagian kedua saya rasa
16:35dari leadership Trump
16:37dan berhadapan dengan perang yang Iran
16:40dimana dia tidak lagi memegang kendali sepenuhnya.
16:43yang kita akan saksikan ini.
16:45Dengan kondisi seperti ini
16:47apakah Mbak Fauzia
16:48kita bisa melihat
16:49celah bagi alainya Iran
16:52yaitu Rusia dan Tiongkok.
16:54Nah jika iya
16:55apa celah yang bisa diambil?
16:58Salah satu celah yang saya lihat
17:00sebenarnya adalah
17:01pertemuan
17:02Shanghai Cooperation Organization
17:04beberapa hari lalu
17:06yang dilakukan
17:08dan menghadirkan beberapa negara anggota
17:10dan Iran merupakan anggotanya
17:11Pakistan juga merupakan
17:13anggotanya
17:14dan juga India
17:15serta Rusia
17:17dan juga Tiongkok.
17:18Nah sebenarnya ini menunjukkan
17:19bagaimana Iran ini
17:21melawan klaim Trump
17:23yang menyebutkan bahwa
17:24Iran ini adalah negara paraya
17:25atau negara yang tidak punya dukungan internasional.
17:28Karena jelas di dalam statement bersama
17:30yang disampaikan di dalam
17:32Shanghai Cooperation Organization
17:33pertemuan tingkat tinggi tersebut
17:35disampaikan bahwa
17:37disitu justru
17:38statement yang disampaikan adalah
17:40menyatakan bahwa
17:41serangan yang dilakukan Amerika Serikat ini
17:43adalah ilegal
17:44dan negara-negara SCO
17:47disitu tentu kontra
17:48dan mendukung Iran
17:50dalam konteks ini
17:50menghadapi Amerika Serikat
17:52di bawah aturan hukum internasional.
17:54Nah ini menurut saya cukup signifikan Mbak
17:57karena sebelumnya kita tahu
17:58bahwa Tiongkok sendiri
17:59tidak mengeluarkan statement
18:00hingga tanggal 21 April lalu
18:03padahal perangnya terjadi
18:04dari tanggal 28 Februari
18:05itu tidak ada statement
18:06yang sifatnya formal dari Tiongkok.
18:08Jadi ini sebenarnya menurut saya
18:09sudah bentuk dari
18:10dukungan yang semakin
18:12terakumulasi bagi Iran Mbak.
18:15Dukungan terakumulasi
18:17dari Iran ini sebenarnya
18:19kalau dari Tiongkok
18:21akan bisa seberapa berpengaruh sih
18:23Mbak karena kenapa saya tanyakan ini
18:25kalau antara Amerika Serikat
18:27dan Israel misalnya
18:28itu kan lebih agresif
18:29yang mereka lakukan.
18:30Tapi kalau Tiongkok dan Rusia
18:32seperti yang tadi Mbak Fauzia
18:33juga bahas
18:34tidak se-agresif itu
18:35dalam memberikan
18:37sokongan untuk Iran.
18:39Setuju Mbak.
18:40Karena memang kalau Tiongkok
18:41menurut saya
18:42tidak akan sampai jauh
18:44nanti mendukung
18:44dalam konteks
18:45memberikan struktur diplomasi
18:47atau struktur negosiasi
18:48karena yang dilakukan oleh Tiongkok saat ini
18:51misalnya memang memberikan
18:52dukungan pada Pakistan
18:53sebagai satu-satunya
18:55interlocutor yang saat ini
18:56menjadi dipercaya oleh
18:57Amerika Serikat dan Iran.
18:58Nah ini menurut saya
18:59dukungannya masih akan
19:01berada dalam titik-titik demikian
19:03tidak sampai lebih jauh
19:05pada dukungan yang sifatnya
19:07materi atau bahkan militer.
19:09Kalau untuk Tiongkok.
19:10Namun kalau untuk Rusia
19:11mungkin akan lebih bisa dilihat
19:13secara materialisasinya Mbak.
19:14seperti misalnya
19:16dukungan menerima
19:17untuk uranium
19:18pengayaan uranium Iran
19:20disimpan sementara di Rusia
19:21atau bahkan memberikan
19:22format-format negosiasi baru
19:24yang berbeda
19:26dibandingkan yang sudah dilakukan
19:27oleh Pakistan Mbak.
19:29Toh juga tadi kan kita lihat
19:30sudah ada komunikasi langsung juga
19:32antara Trump dan Putin.
19:33Ini jadi kabar cukup baik juga ya
19:35Mbak Fauzia ya?
19:37Betul Mbak.
19:37Mungkin satu tambahan adalah
19:40salah satu kita tahu
19:41bahwa saat ini ada
19:42sekitar tiga kapal induk
19:43Amerika Serikat
19:44yang berada di sekitar
19:45Timur Tengah
19:46dan informasi terbaru
19:47hari ini menyatakan
19:48bahwa salah satu kapal ini
19:50akan ditarik mundur Mbak
19:51di beberapa hari ke depan.
19:53Jadi salah satu kapal induk
19:55USS Ford
19:56ini akan ditarik mundur
19:57sehingga hanya akan
19:58menyisakan dua kapal induk
19:59di wilayah Timur Tengah.
20:00Nah ini menurut saya sebenarnya
20:01juga tanda-tanda yang bisa kita lihat
20:03apakah nantinya akan
20:04menuju deeskalasi
20:05atau justru malah eskalasi Mbak.
20:07Oke jadi setidaknya
20:07USS Ford mundur
20:09apakah pelan-pelan
20:10mau pulang
20:11atau justru tidak
20:12karena masih rigid juga
20:15kondisi saat ini.
20:16Pak Mahendra
20:16kalau misalnya
20:18Kongres tidak menyetujui
20:20untuk melanjutkan
20:22operasi militer di Iran
20:23apakah artinya
20:24Trump harus
20:26serta-merta menarik
20:27pasukannya?
20:29Sebenarnya begitu.
20:30Tetapi
20:32mengetahui
20:32bagaimana perilaku
20:34dari Trump
20:35saya rasa
20:36dia akan melawan.
20:37Melawan di Kongres
20:39ataupun melawan
20:39dengan cara lain.
20:40Dan ini bukan pertama kali
20:42dia melawan
20:43terhadap
20:43lembaga-lembaga negara lain
20:45di Amerika Serikat.
20:46Jadi dia akan
20:47keras kepala
20:48untuk melanjutkan.
20:49Tapi persoalannya adalah
20:51justru
20:51dengan situasi
20:53yang mengambang ini
20:54dan masing-masing
20:55akan terus bersikeras
20:57tidak akan
20:58mau mengawas
20:59atau sama-sama mengawas.
21:01Maka yang terjadi
21:02adalah
21:03situasi yang
21:04tidak kondusif
21:06untuk menuju
21:07kepada pembahasan
21:08lebih lanjut
21:08dan perekonomian dunia
21:10yang akan
21:11menembuh risikonya
21:13dengan berbagai
21:14kemungkinan.
21:15Tadi harga minyak
21:16sudah naik
21:16dan pasti akan
21:17meningkatkan inflasi
21:18secara meluruh
21:19dan pada gilirannya
21:20juga akan
21:21mempengaruhi
21:22pertumbuhan ekonomi.
21:23engkau yang berkelanjutan
21:25bisa menuju
21:25kepada
21:26staflasi global
21:27yang sangat ditakuti
21:29sebenarnya
21:30dalam kondisi ini.
21:32Bisakah dibaca
21:33begini Pak Mahendra?
21:34Kita harus
21:35menyiapkan
21:36yang paling buruk dulu.
21:38Kita
21:39preparing for the worst.
21:40Dalam kondisi
21:41seperti ini
21:42apakah negara-negara dunia
21:43harus punya buffer
21:44untuk ekonominya?
21:46Karena
21:46dalam kondisi negosiasi
21:48atau Trump
21:48mematuhi
21:49yang jadi
21:50kandah kongres
21:51tampaknya
21:52bisa dikatakan
21:53sulit terjadi
21:54kalau masih
21:55seperti ini
21:56pertanyaan Pak Mahendra.
21:58Betul.
21:59Jadi kalau
21:594-5 minggu ke depan
22:02situasinya
22:03masih
22:03deadlock
22:05begitu ya
22:05tidak ada pergerakan
22:07menuju kepada
22:08pembahasan
22:08apalagi
22:09perundingan
22:10maka
22:11dapat
22:11di
22:13perkirakan
22:15pelemahan
22:15dari pertumbuhan
22:16ekonomi dunia
22:17akan sangat
22:18terasa
22:19dan kemudian
22:20tingkat
22:21inflasi
22:21akan jauh
22:22lebih tinggi lagi
22:23dan akan
22:24bertahap
22:25juga ada
22:26kekurangan
22:26pasokan
22:28bukan hanya
22:29harga
22:29tapi
22:29pasokan minyak
22:31pasokan gas
22:32pasokan
22:32pupuk
22:34petrokimia
22:35dan berbagai
22:36lain yang
22:36merupakan
22:37turun
22:38dari produk minyak
22:39dan gas
22:40dari Timur Tengah
22:42Mbak Fauzi
22:43apakah sekarang
22:44jadinya ya
22:45peran Rusia
22:45yang dinantikan
22:46untuk
22:47kerakan yang masih
22:47tadi
22:48yang dirihambatan
22:49adalah pembahasan
22:50pengayaan uranium
22:51kalau seandainya
22:52Rusia dan Iran
22:53setuju
22:54untuk menitipkan
22:55kepada Rusia
22:56apakah bisa dikatakan
22:57ya ini bisa jadi
22:58tanda perangnya
22:59akan segera berakhir
23:00itu yang diharapkan
23:02betul Mbak
23:03saya melihatnya demikian
23:04bahwa memang
23:05karena begini
23:06bahwa Rusia sendiri
23:07memang punya kredibilitas
23:08secara teknis
23:09di masa lalu
23:10pada tahun 2015
23:11Rusia sudah
23:12pernah
23:13menyimpan
23:14atau menerima
23:17hasil pengayaan
23:18uranium Iran
23:18sebelum memasuki
23:20GCPOA
23:20kesepakatan GCPOA
23:22dengan Amerika Serikat
23:23nah ini sebenarnya
23:24juga menjadi tangga
23:25kredibilitas
23:26atau bukti kredibilitas
23:27Rusia sendiri
23:28pernah ada
23:29begitu
23:29itu yang pertama
23:30yang kedua
23:31tentu saja
23:31dalam hal ini
23:33memang
23:33Iran sendiri
23:34masih belum menerima
23:35Mbak
23:35belum bisa
23:36memutuskan
23:37apakah memang
23:38akan dilakukan
23:39mekanisme
23:39seperti dulu
23:40begitu
23:41yaitu menetipkan
23:42uraniumnya
23:43ke Rusia
23:43karena memang
23:44sampai saat ini
23:45Iran belum setuju
23:46yang dia
23:46masukkan adalah
23:48mekanisme
23:49dilusi
23:49atau dilut
23:50jadi melarutkan
23:51kembali
23:5160%
23:53pemilikan
23:54uraniumnya
23:55ke angka
23:56yang dianggap
23:57lebih aman
23:57oleh IAEA
23:58nah ini saat ini
23:59masih
24:00melakukan
24:01menentukan
24:02apakah
24:02mekanismenya
24:03terhadap
24:04pengayaan uranium ini
24:05demikian
24:06tapi tentu saja
24:06kalau kita lihat
24:07memang
24:07dalam konteks ini
24:09Pakistan dan Rusia
24:10menjadi dua pihak
24:11yang sangat penting
24:12karena kita tahu
24:13ketika kemarin
24:14kembali
24:15Araksi dari Rusia
24:16juga
24:16mengunjungi
24:18Islamabad kembali
24:19jadi belum langsung
24:20ke Iran
24:20tapi mengunjungi
24:21Islamabad kembali
24:22nah ini kita melihat
24:23bagaimana memang
24:23sangat sentralnya
24:25posisi Pakistan
24:26dalam hal ini
24:27sebagai interlocutor
24:28nah
24:28dalam kondisi
24:30seperti ini
24:30apakah
24:31Pakistan masih bisa
24:32diandalkan
24:33Mbak Fauzia
24:34karena kan
24:34tampaknya
24:35ya kemarin
24:36di Islamabad
24:37tidak juga berhasil
24:38tapi perannya
24:38Pakistan sekarang
24:39bergeser ke arah mana sih
24:42saya setuju Mbak
24:43jadi memang
24:43Pakistan ini sekarang
24:44memang sangat
24:45bekerja keras
24:46dalam hal ini
24:46memang ada beberapa
24:47hal yang ditawarkan
24:48hal baru
24:48yang merupakan
24:50perkembangan
24:51dari pertemuan
24:51yang pertama
24:52yaitu misalnya
24:53yang pertama adalah
24:54dalam konteks
24:55pengayaan uranium ini
24:56nantinya
24:57pengawasannya
24:58tidak hanya
24:58pada negara-negara
25:00yang dipilih
25:00oleh Amerika Serikat
25:01saja
25:01atau IAEA
25:02saja
25:02tapi juga negara-negara
25:04yang nantinya
25:05ditentukan oleh
25:06Iran
25:06ini sebenarnya
25:07salah satu opsi
25:08yang muncul
25:08dari Pakistan
25:09yang kedua
25:09bahkan juga
25:10dalam konteks ini
25:11kita tahu
25:11ada ancaman
25:12dari Trump
25:13misalnya terkait
25:14bagaimana
25:15blokade yang dilakukan
25:16Amerika Serikat ini
25:17telah menghentikan
25:18produksi minyak
25:19atau bahkan
25:19mengurangi
25:20produksi minyak Iran
25:21ini ada beberapa
25:22jalur darat
25:23yang ditawarkan oleh
25:24Pakistan
25:25untuk dilewati
25:26sehingga
25:28distribusi
25:29minyak Iran
25:30ini akan
25:31lebih
25:31terbantu
25:33nah ini
25:33beberapa hal
25:34yang sifatnya teknis
25:35ini memang
25:36juga ditawarkan oleh
25:37Pakistan
25:37dan saya rasa
25:38ini menjadi kunci
25:38apakah nantinya
25:40Amerika Serikat
25:41dan Iran
25:42ini akan
25:42bertemu kembali
25:44di Islamabad
25:44pada pertemuan-pertemuan
25:46dalam waktu dekat
25:47sesuai yang disampaikan
25:48Pak Mahendra
25:48tadi saya setuju
25:49Pak Mahendra
25:51apa yang bisa
25:52kita harapkan
25:52jalan menuju
25:53damai
25:54yang setidaknya
25:55masih
25:56bisa
25:57kita inginkan
25:58bisa terjadi
25:59dalam waktu dekat ini
26:02terus bersikeras
26:04dengan posisi
26:05masing-masing
26:06dan tidak ada
26:07rasa bahwa
26:08risikonya akan
26:09kalah besar
26:10pada kedua-duanya
26:11maka memang
26:12yang harus memaju
26:13itu adalah
26:14dunia internasional
26:16negara-negara lain
26:17apakah itu
26:19Rusia
26:20dan RRT
26:21yang jelas
26:21adalah
26:22negara-negara
26:23yang besar
26:25secara militer
26:27ekonomi
26:27dan juga
26:28menjadi bagian
26:29dari
26:30BRICS
26:30dan kemudian
26:32negara-negara lain
26:34di kawasan
26:34yang lebih netral
26:36bukan bagian dari
26:37GCC
26:37maupun juga
26:39sebenarnya
26:40lembaga internasional
26:41mulai dari
26:42IAIA-nya sendiri
26:44di bawah
26:44PBB
26:45maupun juga
26:46kondisi lain
26:47ini memang
26:48nampaknya
26:49menuju ke sana ya
26:51kalau mereka tidak
26:51melihat
26:53kondisi
26:54yang kondusif
26:56dari
26:56organisasi
26:57dan negara-negara
26:58yang lebih luas
27:00maka
27:01mungkin
27:01kedua
27:02pihak ini
27:03benar-benar
27:04deadlock
27:05secara permanen
27:06saya rasa
27:06memang
27:07satu-satunya
27:09ke sana
27:09cuma persoalannya adalah
27:11apakah
27:12momentum
27:13yang dibangun
27:14untuk ke arah sana
27:15cukup
27:16tidak
27:17perlu waktu
27:18yang begitu lama
27:19sehingga kemudian
27:20akhirnya
27:20yang saya tadi
27:21sampaikan
27:22risikonya pada
27:23persoalan
27:24perekonomian global
27:26karena sekarang
27:27Trump desak
27:28menyerah
27:28Iran sebut
27:29AS gagal
27:30masih sama-sama
27:30batu dua-duanya
27:31peran dunia
27:32internasional
27:33yang kita nantikan
27:33tapi di sisi lain
27:34juga
27:34warga dunia
27:36harus bersiap
27:36soal ekonomi
27:37dampak ekonomi
27:38yang akan semakin
27:39besar terdampak
27:40akibat perang
27:40yang tidak berkesudahan
27:41ini
27:41terima kasih
27:42Pak Mahendra Sirega
27:43Ruta Besar RU
27:44untuk Amerika Serikat
27:45periode 2018-2019
27:46dan Mbak Fauzia Cepaka
27:48peneliti
27:48Indo-Pacific Strategic Intelligence
27:50sudah hadir di
27:51Sapa Indonesia malam
27:52terima kasih
27:53selamat menikmati
Komentar

Dianjurkan