Lewati ke pemutarLewatkan ke konten utama
JAKARTA, KOMPAS.TV - Dewan Pers mengingatkan ancaman chilling effect setelah sejumlah tokoh kritis seperti Saiful Mujani, Islah Bahrawi hingga Ubedilah Badrun dilaporkan ke polisi.

Menurutnya, jika narasumber takut bicara, media dinilai bisa kehilangan sumber informasi penting.

Kasus yang menimpa sejumlah pengkritik pemerintah menjadi alarm serius bagi dunia pers.

Abdul Manan juga berharap pemerintah memiliki perspektif yang tepat terhadap pers, yakni sebagai pilar kontrol sosial, bukan sekadar pendukung kekuasaan.

Ia bahkan menyebut ada kesan pemerintah ingin media hanya menjadi penyemangat atau cheerleader.

"Saya menangkap kesan, semoga ini salah, bahwa pemerintah ini kurang happy dengan pers yang kritis itu," katanya.

Tenaga Ahli Utama Bakom RI Kurnia Ramadhana membantah pemerintah anti kritik. Ia menyebut kritik publik justru membantu perbaikan program negara. Kurnia mencontohkan program Makan Bergizi Gratis.

Menurut Kurnia, per tanggal 20 Maret 2026 ada 1.251 SPPG dijatuhkan sanksi. Tindakan itu merupakan respons atas masukan masyarakat.

Sementara itu, Kepala Badan Percepatan Pengentasan Kemiskinan Budiman Sudjatmiko meminta Saiful Mujani memberi penjelasan langsung atas polemik pernyataannya.

Bagaimana menurut Anda?

Selengkapnya saksikan di sini: https://youtu.be/yuVpHkzEbTw

#saifulmujani #kritik #prabowo

Artikel ini bisa dilihat di : https://www.kompas.tv/talkshow/664673/dewan-pers-peringatkan-chilling-effect-narasumber-mulai-takut-bicara-satu-meja

Kategori

🗞
Berita
Transkrip
00:00Masih di Satu Menjadah Forum, Bung Manan, Anda ingin menyampaikan apa nih?
00:05Sebagai kawan saya satu setia di sini, kawan dalam arti Dewan Pet, Profesi Profesi
00:09Ya saya kira anak apa yang menimpa Mas Ubat, Mas Saiful dan lain-lain itu juga jadi alarm buat kami
00:17di Dewan Pet
00:18Karena ya kalau, anak apa, kawan-kawan ini kan menjadi biasanya narasumber yang banyak dipakai oleh wartahan
00:27Ketika narasumber digugat, itu kan yang terjadi kan ciling efek ya, menurutkan efek ketakutan
00:33Dan begitu narasumber takut, gimana Anwa?
00:38Itu kan memutus sumber informasi bagi media dan wartawan
00:42Dan menurut saya ini juga yang mungkin jadi catatan juga adalah begini
00:48Kita berharap pemerintah kan menunjuk punya perspektif yang benar tentang BERS
00:53Yang melihat pers itu, pers harusnya punya fungsi, menjalankan fungsi yang kritis lah
00:59Karena itu dimandatkan oleh undang-undang
01:01Dan karena itu, kalau misalnya, itu harus ditunjukkan dengan cara misalnya menghargai kritik dari pers itu
01:09Kecuali dia berita bohong ya
01:11Dengan cara yang, ya kalau bermasalah silahkan diproses secara etik
01:16Dan jangan menggunakan jalur politik
01:18Dan tidak buru-buru krim administrasi, tapi mediasi di Dewan Pers kalau ada
01:22Iya, dan karena saya menangkap kesan, semoga ini salah, bahwa
01:28Pemerintah ini kurang happy dengan pers yang kritis itu
01:30Dan itu seperti, pemerintah ingin melihat pers itu seperti cheerleader saja
01:39Gak boleh kesubstansi
01:41Nah, mumpung ada perwakilan dari Bakom ya
01:44Emang benar
01:45Pemerintah ini gak happy kalau ada persnya itu menjalankan fungsinya sebagai social control
01:50Iya, Mas Yogi, ada dua poin saya
01:53Yang pertama, kalau terkait dengan kritik dari pers, kritik dari masyarakat
01:59Itu kan sebenarnya adalah hal yang biasa
02:01Saya ambil satu contoh konkret dengan data, Mas Yogi
02:04Salah satu program Presiden Prabowo yang seringkali dilancarkan kritik dari masyarakat
02:10Baik melalui foto, video, namanya makan bergizi gratis, Mas Yogi
02:14Apa contoh relevansi masukan masyarakat dengan tindakan negara?
02:19Mas Yogi, per tanggal 20 Maret 2026, ada 1.251 SPPG dijatuhkan sanksi
02:27Karena tentu itu kan atas masukan masyarakat
02:31Jadi justru pemerintah mengucapkan terima kasih kepada warga negara yang berpartisipasi aktif
02:37Melototin program pemerintah
02:39Itu poin pertama, Mas Yogi
02:40Poin kedua yang tadi sempat tersendat sedikit diskusi kita soal pernyataan Pak Saiful Mujani tadi, Mas Yogi
02:46Sebenarnya posisi pemerintah bukan pada konteks menilai apakah itu makar atau tidak makar
02:52Itu urusan yang lain
02:52Tapi satu konteks Mas Yogi, rekam jejak Pak Saiful Mujani itu cukup panjang
02:58Ada gelar akademik yang disanding oleh beliau
03:01Maka dari itu kita di pemerintah masyarakat menanti apa maksudnya
03:06Karena secara akademik hukum gak masuk logikanya
03:10Kritis tapi tidak logis
03:11Jadi itu yang diharapkan, ini juga sekaligus pembelajaran
03:16Jangan sampai Mas Yogi, orang mendengar pernyataan Pak Saiful Mujani itu
03:21Memantik untuk melakukan kekerasan
03:24Memprovokasi
03:25Itu yang pemerintah just ingin mitigasi
03:28Maka dari itu kabarnya dalam waktu dekat Pak Saiful Mujani akan menjelaskan maksud dari pernyataan
03:34Mas Yogi, gimana? Singkat saja
03:37Saya kira secara kita melihat narasi Pak Saiful Mujani itu
03:40Kita mesti melihat kognisi sosial dia
03:42Jadi sebetulnya saya saksi mata di lokasi itu
03:45Bahwa sebelum Pak Saiful Mujani bicara
03:49Itu Faryam Sari yang bicara
03:51Tentang impeachment
03:52Nah kemudian Pak Saiful Mujani itu merespon narasi itu
03:56Dalam teori politik
03:59Secara analisis di Indonesia
04:01Impeachment itu gak mungkin sekarang
04:03Kenapa?
04:04Karena di parlemen
04:0680% anggota parlemen adalah pendukung pemerintah
04:09Bagaimana mungkin proses impeachment terjadi
04:12Sementara 80% pendukung pemerintah
04:14Maka secara teori gerakan sosial
04:17Sosial movement teori
04:19Itu gak mungkin
04:19Itu gak mungkin
04:20Nah yang paling mungkin adalah gerakan ekstra parlementer
04:23Nah narasi Saiful Mujani itu menggunakan istilah
04:28Sebenarnya ujungnya ada pertanyaan dia
04:30Apakah kita memungkinkan
04:32Itu pertanyaan itu penting
04:34Apakah kita memungkinkan melakukan konsolidasi
04:36Untuk menjatuhkan Prabowo
04:39Itu pertanyaan di ujung
04:41Jadi kalau di kalimat tengah memang sedikit sensitif
04:44Ketika di ujung
04:45Begitu beliau membuat pertanyaan
04:47Saya kira ini aman gitu
04:48Oke
04:49Analisnya begitu
04:50Supaya kita melihatnya secara lebih
04:52Kita masih menunggu nanti
04:54Apa Pak Saiful Mujani akan memberikan penjelasan
04:57Pertama
04:5820 tahun lalu
04:59Di sebuah warung makan di Cisarua
05:01Singkat aja
05:02Pak Saiful Mujani memberi nasihat pada saya
05:05Mas Budiman
05:07Jangan minta keadilan
05:09Dan jangan minta kesejahteraan
05:10Dari demokrasi
05:11Demokrasi adalah soal prosedur
05:13Keteraturan
05:14Pergantian
05:15Kekuasaan
05:16Secara damai dan konstitusional
05:17Jadi jangan berbicara soal keadilan
05:20Kalau kekuasaan yang gak adil ya
05:21Gak ada masalah juga
05:22Tapi harus ada prosedur aja
05:24Beliau bicara itu
05:25Ya
05:26Sebagai seorang surveyor
05:28Pasti beliau adalah agamanya kuantitatif
05:31Prosedur dan kuantitatif
05:33Itu adalah agamanya
05:34Jadi saya pikir
05:35Ketimbang Mas Ubed yang menjelaskan
05:38Saya berharap beliau
05:39Pak Saiful Mujani menjelaskan kepada kita
05:41Dan form ini Anda gunakan untuk ajakan
05:43Oleh Anda pilih pejabat yang mana
05:45Ini penting
05:46Penting
05:47Daripada sekedar Pak Saiful Mujani
05:48Bidato panjang lebar
05:49Dan memberikan kita kesempatan
05:51Menanggap pidato-pidato
05:52Jadi lomba pidato
05:53Lebih diskusi
05:54Di depan TV
05:55Menjelaskan
05:56Apa dikatakan Mas Ubed tadi
05:58Oke
05:58Oke
05:58Oke
05:59Oke
Komentar

Dianjurkan