Lewati ke pemutarLewatkan ke konten utama
KOMPAS.TV - Pemimpin Tertinggi Iran, Mojtaba Ali Khamenei bersumpah akan memberikan lebih banyak kekalahan bagi Amerika Serikat dan Israel.

Pernyataan itu dibacakan melalui stasiun TV pemerintah Iran, di tengah ketegangan yang kembali memuncak di Selat Hormuz.

Iran pun mengumumkan penutupan kembali Selat Hormuz sebagai tanggapan atas blokade laut Amerika Serikat terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran.

Di sisi lain, pernyataan yang saling bertolak belakang masih terjadi di antara Washington dan Teheran, terutama soal uranium.

Trump dalam pernyataannya, mengklaim bahwa Amerika Serikat akan mendapatkan semua debu nuklir secara gratis.

Trump bilang bahwa negosiasi ke dua yang direncanakan akan segera terjadi, seharusnya berjalan dengan cepat. Hal ini karena sebagian besar poin sudah dinegosiasikan dan disepakati.

Termasuk Amerika yang akan mendapatkan semua debu nuklir. Trump juga bersikeras bahwa, tidak ada uang yang akan berpindah tangan dalam bentuk apa pun, sebagai bagian dari kesepakatan potensial dengan Iran untuk mengakhiri perang.

Ancaman demi ancaman terus dilontarkan Presiden Amerika Serikat Donald Trump. Kepada Iran, Trump mengancam soal kepemilikan uranium.

Ia juga bilang, siap mengambil paksa bahan nuklir itu, jika kesepakatan dengan Iran tidak tercapai.

Ketegangan tetap tinggi meskipun upaya negosiasi tahap dua sedang berjalan. Bahkan dinilai "maju tapi masih jauh dari kesepakatan", dengan ancaman konflik militer yang masih membayangi kedua pihak.

Kita akan membahas lebih lanjut bersama Prof Muradi, Guru Besar Politik dan Keamanan Universitas Pajajaran, Bandung.

Baca Juga Trump Ancam Hancurkan Infrastruktur Iran Jika Tolak Kesepakatan Damai di https://www.kompas.tv/internasional/664073/trump-ancam-hancurkan-infrastruktur-iran-jika-tolak-kesepakatan-damai

#iran #as #trump #mojtaba





Artikel ini bisa dilihat di : https://www.kompas.tv/internasional/664096/full-analisis-guru-besar-unpad-soal-perang-psikologis-iran-as-jelang-negosiasi-kedua
Transkrip
00:00Saudara ketegangan tetap tinggi meskipun upaya negosiasi tahap 2 sedang berjalan.
00:05Bahkan dinilai maju tapi masih jauh dari kesepakatan dengan ancaman konflik militer yang masih membayangi kedua pihak.
00:13Kita akan membahas lebih lanjut bersama Prof. Muradi, Guru Besar Politik dan Kamanan, Universitas Pajajaran Bandung.
00:20Prof. Muradi, jadi bagaimana kalau Anda melihat fenomena perang psikologis atau saiwar saling ancam-mengancam, saling hebat-hebatan antara Iran
00:31dan Amerika Serikat menjelang negosiasi ini?
00:35Ya, kalau melihat dinamikanya sebenarnya ada dua kutub yang saya kira penting.
00:41Yang pertama, saiwar yang kemudian dimuncul dari mulutnya langsung Donald Trump melalui akun media sosialnya.
00:50Tapi ini kan juga kemudian pendengungnya enggak banyak ya.
00:53Ya, kalaupun kemudian misalnya dia muncul sebagai saiwar, beberapa kali saiwar kemudian menjadi semacam pernyataan saja ketimbang aksi.
01:04Itu poin pertama.
01:05Poin yang kedua yang penting sebenarnya adalah saiwar dari Iran ini justru jauh lebih applicable, lebih praktis kalau saya nyebutnya.
01:14Ada banyak yang lakukan oleh mereka dan itu pendengungnya banyak.
01:16Dan mereka ini kemudian memanfaatkan sebenarnya sentimen keagamaan, sentimen negara developing country ya.
01:26Negara yang kemudian punya posisi yang tidak cukup besar di mata publik.
01:31Dan kalau membandingkan misalnya saiwarnya adalah ada tiga tujuan mbak.
01:34Yang pertama adalah soal mendowngate personil pelawan ya.
01:39Jadi katakanlah misalnya isu yang dimunculkan misalnya soal demoralisasi dan sebagainya.
01:42Yang kedua misalnya soal dukungan publik.
01:44Dukungan publik ada dua.
01:45Yang pertama itu adalah dari internal, dari dalam negeri.
01:49Yang kedua adalah dari internasional.
01:51Nah, dari dalam negeri sebenarnya Trump sudah babak blur kalau kita mau bicara soal ini ya.
01:56Jadi sentimen anti-Trump, anti-perang dan sebagainya itu menjadi salah satu yang rumit untuk bisa diri.
02:01Tapi Trump juga menjaga suara dukungan dari kolom konservatif di internal negara mereka.
02:06Yang kedua, dukungan publik internasional.
02:08Dukungan publik internasional ada dua juga.
02:10Pertama soal dari publik umum ya.
02:13Modal kayak kita begini, media dan sebagainya.
02:14Yang kedua adalah dari negara-negara.
02:16Negara-negara yang punya kepentingan.
02:17Saya kira ini juga poin.
02:19Nah, yang ketiga itu bagaimana kemudian mempengalai pola perjanjian dan perhulingan.
02:24Nah, tiga ini yang saya kira penting kenapa kemudian saiwar tetap dilakukan.
02:28Baik oleh Trump maupun oleh Iran.
02:29Nah, yang terakhir saya kira penting juga putih bahwa proses ini akan menjadi titik berhasil atau tidaknya perhulingan.
02:40Karena masing-masing kemudian memang klaim dan tidak bisa, kadang-kadang misalnya klaim tersebut tidak bisa kemudian terbukti gitu ya.
02:49Secara apa, secara nyata, secara ada berdokumen dan sebagainya.
02:54Kalau itu yang kemudian dilakukan, saya kira kita akan menghadapi situasi yang sebenarnya dua risiko, Mbak.
03:00Yang pertama, ini akan terlokalisir hanya perang sewar saja ya.
03:07Antara Trump dengan pemimpin di Iran.
03:10Yang kedua adalah, ini kemudian direspon oleh negatif oleh publik.
03:14Nah, ini memang publik internasional itu kan berkaitan, sebenarnya kalau perang ini berkaitan soal rantai pasok energi.
03:20Yang kemudian mereka akan terganggu dengan ditutupnya, buka-tutupnya satu komodit sendiri gitu, Mbak Renata.
03:27Oke, jadi kalau yang kita lihat sebenarnya yang lebih rasional, Iran ya.
03:30Dari segi cyber lebih bisa dipercaya apa yang dikatakan kemudian oleh Iran.
03:34Nah, ngomong-ngomong soal Amerika Serikat yang kebanyakan mengancam ini.
03:38Sebenarnya, kalau Prof Muradi lihat, justru beresiko nggak sih, Prof, untuk menggagalkan negosiasi yang hari ini rencananya dilakukan, Prof?
03:45Jadi, ada dua situasi yang saya kira dihadapi oleh Amerika Serikat.
03:49Yang pertama adalah, bahwa apa yang disampaikan Trump itu kerap kali tidak bisa dipublikan ya.
03:56Bahkan misalnya tiba-tiba misalnya sama di dalam negeri, misalnya, lho, kapan melakukan itu gitu?
04:01Tiba-tiba misalnya mengancam dalam waktu tujuh hari, dalam waktu tiga hari, dan seterusnya di social media.
04:07Jadi, sebenarnya problemnya adalah karena pendengungnya nggak ada.
04:11Jadi, teman-teman di internal Amerika Serikat, tim yang melakukan upaya melakukan blasting ya istilahnya dalam social media itu nggak
04:19ada.
04:19Jadi, kemudian mereka tetap hanya untuk menyenangkan kelompok-kelompok konservatif yang ada di Amerika Serikat.
04:24Jadi, saya sih menangkap bahwa langkah Trump ini lebih banyak kemudian untuk mengganggu konsentrasi saja.
04:31Tapi, bahwa kemudian yang saya agak khawatir sebenarnya, Iran kemudian merasa bahwa apa yang lakukan Trump itu adalah sesuatu yang
04:39betul.
04:40Satu yang kemudian terprovokasi adalah soal pemukaan saat almost sebentar ya, 12-16 jam kemarin.
04:46Walaupun itu tutup lagi karena apa? Karena ternyata terprovokasi.
04:50Karena asumsi saya, saya sebenarnya mengatakan bahwa ketika kemudian proses itu melakukan terpercentrasi perangnya,
04:57terlokalisir di mana di Isaya dan Libanon, saya kira keduanya bisa kemudian membangun kepercayaan.
05:06Ternyata nggak terjadi.
05:07Nantinya, kemudian mereka merasa bahwa ini peluang kemudian pengalihan mereka untuk melakukan tindakan-tindakan yang memblokasi.
05:13Bahkan, terakhir misalnya, Amerika Serikat melakukan langkah yang kurang lebih mirip dilakukan di saat Malaka.
05:19Sesuatu yang sebenarnya membuat kita nggak tahu nyaman ya dalam konteks ini begitu, Mbak Renata.
05:23Jadi penegasan nih, Prof, berarti ancaman ataupun pernyataan publik yang disampaikan, baik itu Iran dan Amerika Serikat,
05:31sebenarnya ini cuma semata-mata untuk strategi menekan posisi daya tawar masing-masing ya, Prof?
05:37Secara prinsipnya kan ada empat hal yang saya kira penting buat tujuan sewa.
05:41Pertama, masing-masing ya. Pertama adalah soal bagaimana membangun posisi tawar tinggi.
05:45Kita berkali-kali melakukan itu supaya kemudian daya tawarnya lebih tinggi dibanding dengan Iran.
05:51Dan itu kemudian beberapa kali kemudian dibaca oleh Iran sebagai sesuatu yang kemudian tidak nyata.
05:56Yang kedua, soal terkait dengan adanya kemudian ancaman Black Colleen dan sebagainya.
06:01Selatukur muda seterusnya.
06:02Yang ketiga, misalnya soal bagaimana kemudian mereka melakukan buying time.
06:06Nah ini saya kira buying time ini bukan cuma menguntungkan Iran, tapi juga Amerika Serikat.
06:10Kenapa? Karena di internal pemerintahan Donald Trump sendiri terjadi keretakan yang saya kira agak serius
06:17kalau kemudian ini terus tidak selesai.
06:20Dan makanya kemudian ada buying time.
06:22Nah yang terakhir adalah soal bagaimana kemudian mereka mendualnya di diplomasi.
06:25Sekarang kemudian misalnya perundingan kemarin di Pakistan, di selama abad itu kan sebenarnya secara prinsipil gagal.
06:33Nah mereka merasa bahwa upaya untuk mendualnya masing-masing dilakukan.
06:37Katakanlah sebegini, kenapa kemudian misalnya yang dikirim adalah misalnya wakil presiden.
06:43Kemudian dengan salah satu misalnya negosator ulung mereka gitu.
06:48Secara prinsipil mereka mau call tinggi.
06:50Tapi secara normatif, sebenarnya kenyataannya mereka tidak dalam posisi yang tinggi, dalam negosian dan prinsipil sendiri.
06:59Gitu Mbak Renata.
07:01Oke, nampaknya ini memang masih panjang ya kalau misalnya ancaman-ancaman yang dilontarkan oleh Amerika Serikat.
07:07Khususnya Donald Trump ini tidak rasional dan tidak mengerti prakondisi yang harus diciptakan saat negosiasi tahap 2 nanti.
07:16Yang ingin kami tanyakan, Prof apa yang kemudian perlu dilakukan oleh Amerika Serikat untuk sekiranya menciptakan kondisi yang baik, yang
07:23kondusif untuk negosiasi tahap 2 ini?
07:25Tapi tahan dulu kita lanjutkan di usai jeda ini.
07:29Tetapi kompasian saudara.
07:34Anda kembali menyaksikan kompasian dan saudara kita lanjutkan perbincangan bersama dengan Prof Muradi, Guru Besar Politik dan Keamanan Universitas Pajajaran
07:43Bandung.
07:43Prof Muradi kita lanjutkan tadi sudah sampai di mana kita mencermati pola Amerika Serikat yang kalau dari SAIWAR ini ancaman
07:50-ancaman tapi sebenarnya dia juga mau negosiasi nih sebenarnya.
07:54Jadi menurut Prof Muradi sebenarnya apa pernyataan maupun itikat baik yang seharusnya dilakukan oleh Amerika Serikat untuk kemudian bisa membujuk
08:02Iran untuk berunding di Islamabad, Prof?
08:06Ya ada tiga hal tuh Mbak Renata yang saya kira penting buat kita lihat.
08:10Pertama ini agak rumit karena Trump itu menggunakan kebijakan American First semua untuk Amerika, internal Amerika.
08:18Jadi memang bahkan negara sekutunya kan juga nggak mau ya.
08:21Katakanlah NATO dan seluruhnya, Jepang, Korea dan sebagainya mereka tidak mau karena mendahulukan internal Amerika.
08:28Itu yang saya kira membuat situasi nggak menarik.
08:30Apa yang kemudian indikasinya adalah ketika penerikan tarif ya.
08:34Saya kira ini juga salah satu yang kemudian memukul banyak sekutu mereka.
08:39Yang kedua ini saya kira Iran sebenarnya berkali-kali membuka ruang ya.
08:43Katakanlah saya misalnya kemarin membuka Rostat Hormus kemudian mereka juga mau mengikuti apa namanya menghormati Libanon sebagai jasa negara untuk
08:52memperenggusikan dengan Israel.
08:53Walaupun saya baru berkali-kali mengatakan bahwa bahkan Libanon itu tidak lebih baik misalnya pernah kekuatan militer berbanding dengan Libanon
09:00sebulan gitu.
09:02Tapi mereka menghormati itu.
09:04Nah yang ketiga, yang penting juga saya kira dilihat adalah Amerika harus kemudian menggunakan pola penekan yang berbeda.
09:10Kalau polanya seperti ini saya agak ragu.
09:12Saya kira target untuk perundingan damai agak berat.
09:15Tapi kalau untuk hanya sekedar deeskalasi untuk beberapa saat ya, paling tidak sebenarnya itu kita dapatkan satu gini, Mbak Renata.
09:24Di Teluk itu, di Timur Tengah itu hampir semua negara wet and sea.
09:30Karena mereka paham begitu mereka bergerak negatif, katakanlah mendukung Amerika sih kan begitu.
09:35Nanti kejadiannya kayak Bahrain.
09:37Bahrain itu sekarang harus ramai-ramai terus ini kan.
09:39Mereka tiap hari diunjukkan secara seluruhnya.
09:41Yang lainnya memang pada akhirnya menunggu.
09:43Nah ini saya kira bagian dari deeskalasi.
09:46Jadi harus mengubah pola.
09:48Kalau enggak, saya agak khawatir ini akan kita diskusikan mungkin sampai akhir tahun.
09:54Karena posisinya, posisi dari Amerika Sengah tidak mau mengubah pola penekatan.
09:58Pola penekatan mendahulukan peningkat Amerika Sengah Tulu.
10:01Padahal Amerika Sengah Tulu dikenal ketika mereka membangun sekutu adalah membangun kepentingan sekutu bersama.
10:06Itu yang kemudian ditolak oleh Inggris, oleh Perancis, oleh anggota NATO, dan juga Jepang dan setelah Korea begitu, Mbak Renata.
10:15Oke, jadi Amerika ini sebenarnya sudah urgent sekali untuk melakukan perubahan pola komunikasi maupun penyerangan.
10:22Tapi kalau kita tarik lagi dari sisi komunikasi, kita kembali berbicara tentang cyber, Prof.
10:27Ini kan sebenarnya apa yang dikatakan oleh Amerika Serikat otomatis ini juga berpengaruh.
10:32Ada dampaknya ke baik itu domestik dari Amerika sendiri maupun juga dari internasional.
10:37Banyak sekali yang sebenarnya ketergantungan dengan selat hormus ini, Prof.
10:40Jadi bagaimana Anda melihat ini, Prof?
10:43Salah satu langkah yang menarik saya kira Iran bisa menegosri dengan 40 negara yang dipimpul oleh Inggris dan Perancis.
10:51Saya kira itu menjadi salah satu poin penting kenapa kemudian Iran kemudian agak mengabaikan Amerika Serikat.
10:56Makanya situasi keamanan di selat hormus itu kan ada dua blok ya.
11:02Yang satu blok di belakang blok ada oleh Iran ya, selanjutnya dilakukan oleh Amerika Serikat di agak ke depan.
11:11Agak meniang berkaitan perairan India dan seterusnya.
11:14Jadi kalau itu kemudian dilakukan saya kira memang Iran akan menangkat dukungan itu dari 40 negara tadi.
11:19Karena Iran, Inggris, Amerika, Perancis juga kemudian sudah mau berdegosi dengan Iran.
11:25Makanya Iran kemarin membuka supaya kemudian diskusinya lebih setara.
11:30Tapi kan sekali lagi saya bilang pola pengalian yang dilakukan oleh, pola blokade yang dilakukan oleh Amerika Serikat bergeser juga.
11:39Mereka mencoba melakukan itu di selat Melaka.
11:41Yang saya kira mungkin ini yang harus kita sebagai negara bangsa kita ya perlu mempertimbangkan betul.
11:46Kemudian kita harus rapat juga dengan ASEAN ya.
11:49Karena itu juga menjadi salah satu situasi yang akan menggeser kita.
11:52Karena kalau misalnya di blokade juga atau di kontrol Amerika Serikat,
11:59maka China akan tidak akan tinggal diam.
12:01Karena itu menjadi salah satu pintu pelayaran dari utara ya.
12:07Dari China kemudian menuju ke pelayaran yang ada di selatan begitu Mbak Renata.
12:12Oke terakhir nih Prof Muradi tadi juga sempat menyebut mengenai koalisi 40 negara yang diinisiasi oleh Inggris dan Perancis.
12:19Mereka juga sudah menyatakan bahwa lagi menggodok rencana supaya bagaimana kemudian Selat Hormus ini bisa dibuka.
12:25Nah sambil paralel berjalan negosiasi di Islamabad antara AS dan Iran,
12:30apa yang sebenarnya bisa dilakukan oleh Perancis dan Inggris ini untuk mendekati Iran bersama dengan 40 negara lainnya ini koalisi
12:37Prof?
12:38Karena dari Iran saya kira mereka tidak akan punya kepentingan terlalu besar dibanding mereka dengan Amerika Serikat.
12:48Kenapa begini Mbak? Ini nyamuk dengan Saywar tadi sebenarnya.
12:51Tujuan Iran untuk mendapatkan dukungan dari internal sudah kuat.
12:55Artinya apa? Artinya 40 negara itu tidak dalam posisi untuk berhadapan dengan Iran.
12:59Yang dilakukan oleh 40 negara itu adalah meregurusiasi yuk kasih kami jalan supaya rantau pasok energi mereka tidak terganggu.
13:05Hanya itu makanya kalau kita membaca betul misalnya negara-negara di Timur Tengah itu semua deeskalasi.
13:11Jadi hampir tidak ada gejolak yang kemudian membuat negara-negara mereka melakukan tanah kutip ya, pengacaman ya.
13:18Karena mereka melakukan itu kenapa?
13:20Karena itu mereka bergantung betul dengan rantai pasok energi mereka untuk kemudian ekspor-impor itu sendiri.
13:26Nah itu yang kemudian pada akhirnya 40 negara dipinggung oleh Inggris dan Perancis saya kira menjadi salah satu penting untuk
13:31dilakukan negosi dengan Iran.
13:33Supaya kemudian mereka bisa mendapatkan alur perjalanan untuk kemudian rantai pasoknya itu sendiri.
13:41Dengan asumsi bahwa apa namanya itu akan membuat 40 negara itu akan berhadapan juga dengan Amerika.
13:47Kalau Amerika memaksa misalnya tetap memblok ada di perayaan bagian lain yang di saat kondisi itu sendiri gitu.
13:53Jadi meskipun ada aksi yang dilakukan oleh koalisi 40 negara yang dipimpin oleh Perancis dan Inggris.
14:00Tapi lagi-lagi memang yang menjadi harapan utama dan terutama ini adalah negosiasi yang dipimpin oleh Pakistan antara AS dan
14:08Iran.
14:08Kita lihat nanti bagaimana seperti apa ke depannya semoga ya bisa menciptakan negosiasi dan hasil yang lebih signifikan daripada yang
14:18sebelumnya.
14:18Terima kasih banyak pandangannya Prof. Muradi, Guru Besar Politik dan Kamanan Universitas Pajajaran sudah berbagi pandangan di Kompas Siang.
14:26Sehat selalu Prof.
14:28Makasih Mbak Renata, sehat selalu.
Komentar

Dianjurkan