Lewati ke pemutarLewatkan ke konten utama
KOMPAS.TV - Perang Timur Tengah belum berakhir, kini justru kian mengancam pasokan energi global, imbas dari penutupan Selat Hormuz.

Sejumlah negara kini mulai putar otak, agar krisis energi tidak menimpa.

Sejak Selat Hormuz tak bisa dilalui, Irak mulai mengekspor minyak mentah melalui jalur darat melewati Suriah.

Setiap hari lebih dari 500 truk melewati perbatasan Al Tanf, menuju kilang Baniyas untuk memproses minyak mentah sebelum diekspor ke negara lain.

Kita bahas selengkapnya bersama Ekonom UI, Telisa Aulia.

Baca Juga Menteri Energi AS Perkirakan Harga Minyak Meroket akibat Blokade di Selat Hormuz di https://www.kompas.tv/internasional/662860/menteri-energi-as-perkirakan-harga-minyak-meroket-akibat-blokade-di-selat-hormuz

#hargaminyak #selathormuz #perangiranas

_

Sahabat KompasTV, Mulai 1 Februari 2026 KompasTV pindah channel. Dapatkan selalu berita dan informasi terupdate KompasTV, di televisi anda di Channel 11 pada perangkat TV Digital atau Set Top Box. Satu Langkah lebih dekat, satu Langkah makin terpercaya!

Artikel ini bisa dilihat di : https://www.kompas.tv/internasional/662923/full-ekonom-ui-soal-potensi-harga-minyak-naik-imbas-perang-as-iran-apbn-kuat-hingga-akhir-tahun
Transkrip
00:00Perang yang berkepanjangan di Timur Tengah mulai mengancam pasokan minyak konta dunia dan sejumlah negara
00:05kini sudah mulai mencari opsi dalam menghikuti minyak dalam negerinya.
00:10Kita akan membahasnya, saudara, bersama dengan ekonom UI, Telisa Aulia.
00:14Selamat malam, Bu Telisa.
00:17Ya, selamat malam, Mas Ibrahim dan Pemirsa Kompas TV.
00:20Bu, ini sejumlah negara sudah mulai ancang-ancang mencari alternatif sumber energi.
00:24Ini tengah perang yang sampai saat ini belum meredah.
00:28Kalau Anda mencermati, apakah ini harga minyak dunia akan kembali melonjak?
00:34Ya, kalau kita amati kegagalan mengincatkan senjata, ada kemungkinan higher for longer istilahnya.
00:40Jadi, artinya harga minyak yang tinggi melebihi rata-rata normal histori selama ini, itu mungkin terjadi.
00:48Kita perlu antisipasi, tidak bermaksud menakuti ya.
00:50Ini sebenarnya kita lebih keantisipasi saja yang worst skenario-nya seperti apa.
00:54Tapi kan harapan kita, upaya-upaya perdamaian dan diplomasi kan tetap dilakukan.
00:59Tapi, kalau melihat kemarin gencatan senjata yang belum menemukan solusinya,
01:04dan kemudian ada ancaman baru dari Presiden Trump yang akan memblokade Selat Hormuz,
01:09nah, jadi kemungkinan harga minyak bertengger di posisi yang tinggi itu ada kemungkinannya seperti itu.
01:14Nah, tapi, again, ini bukannya tanpa solusi ya, kita tetap harus mencari solusi ketika harga minyak yang tinggi ini tentu
01:22harus kita hadapi ya.
01:23Tapi, possibility itu artinya ada dan harus kita siapkan seperti itu.
01:27Kuat tidak kalau misalkan yang disampaikan pemerintah, harga BBM tak naik sampai akhir tahun?
01:32Kuat tidak keuangan kita menghadapi ini?
01:37Ya, tentunya kita berharap APBN kita kuat, asalkan APBN kita fleksibel dan adaptif ya.
01:44Artinya, pemerintah kan satu sudah melakukan upaya efisiensi dengan transformasi budaya kerja, itu kan bisa menghemat APBN.
01:50Kemudian yang kedua, penerimaan pajak kita kan nanti di Cortex ini akan dilaporkan di April ya, terutama karena dimundurkan.
01:58Nah, harapannya penerimaan pajak di April yang dari masyarakat itu dan dari perusahaan, itu juga bisa menutupi defisit kita agar
02:06tidak melebihi dari 3%.
02:07Sebenarnya kan, kita karena punya bonderi 3% dari PDB, kita kan harus melihat nih pendapatan pajak kita berapa.
02:14Nah, kalau pendapatan pajak kita itu ada harapan nanti di bulan April ini reportnya seperti apa, nah itu kekuatan APBN
02:21kita nanti bisa terbaca di situ gitu.
02:24Kalau misalkan penerimaan pajaknya cukup baik, ya seharusnya bisa menutupi disertai dengan efisiensi dan disertai dengan fleksibilitas dari pos-pos
02:32anggaran itu sendiri ya.
02:33Jadi, mau nggak mau anggaran-anggaran itu kan harus ada yang direalokasi seperti itu untuk ke arah subsidi BBM untuk
02:39yang BBM bersubsidi.
02:40Apabila pemerintah kan pengen mempertahankan terutama harga BBM subsidi, tapi pemerintah kan tidak menutup opsi untuk BBM non-subsidi.
02:48Untuk BBM non-subsidi, pemerintah menyampaikan bahwa ya sedang dievaluasi terus wait and see.
02:53Jadi, kalau misalkan ini gamenya berkepanjangan dari Selat Hormuz ini, nah itu ada kemungkinan direview kembali gitu, kenaikan harga ini.
03:01Jadi, kenaikan harga menurut saya untuk BBM non-subsidi memang jangan di-close ya, justru harus di-open.
03:06Kemungkinan itu tetap ada, tapi sesuai dengan kemampuan masyarakat. Jadi, kita cari win-winnya seperti itu untuk yang non-subsidi.
03:12Oh, oke. Jadi, kalau misalkan tadi selain penyesuaian harga untuk yang non-subsidi, langkah realistis apa yang harus dilakukan oleh
03:19pemerintah?
03:20Karena kan untuk kebutuhan dalam negeri kita, sebagian kuotanya dari impor nih, mengadakan impor.
03:27Betul. Dinyatakan bahwa Indonesia kan berupaya untuk melakukan diversifikasi sumber impor, ya kan?
03:33Nah, kita sudah berupaya termasuk kayaknya kunjungan Pak Presiden terakhir ke Rusia ini kan juga untuk mengamankan stok BBM kita
03:42dalam arti bahwa kita ingin menjalin kerjasama untuk membeli BBM dari Rusia juga.
03:47Karena kan Amerika juga sudah mencabut sanksi sementara untuk kita boleh membeli dari Rusia, seperti itu.
03:53Jadi, kunjungan ke Rusia ini kan tentunya ingin membawa misi untuk diversifikasi.
03:57Jadi, diversifikasi mencari jalur-jalur yang tidak melalui Selat Hormuz, seperti itu.
04:02Dan kemudian juga selama ini Indonesia juga banyak mengimpor dulu dari Singapura.
04:06Nah, kan ini ada dua macam minyak mentah dan minyak dalam bentuk hilir, minyak jadi gitu ya.
04:12Nah, kalau yang dalam bentuk mentah itu sendiri memang banyak bisa dari Amerika, dari negara-negara produsen.
04:18Nah, tapi kalau untuk minyak yang bentuk jadi itu kita banyak mengimpor dari BBM hilir itu dari Singapura.
04:25Nah, kekuatan Singapura ini juga akan menentukan seberapa kita juga stok ini.
04:30Karena kan kita selama ini memang mengandalkan kepada Singapura gitu ya.
04:34Makanya diversifikasi ke negara-negara eksportir migas ini juga tentu sangat diperlukan.
04:42Kita harus mencari sumber-sumber lain yang jalurnya relatif lebih aman, seperti itu.
04:47Tapi kan tidak bisa, itu aja, nggak cukup.
04:50Yang kedua kan harus diversifikasi dari sumber daya domestik sendiri, terutama untuk energi baru terbarukan.
04:56Jadi, shifting ke listrik, shifting ke energi terbarukan seperti energi surya, energi berbasis angin, hidropower, dan lain sebagainya.
05:05Itu memang harus dilakukan berbasis baterai sehingga mengurangi ketergantungan kita kepada migas.
05:11Jadi, ini BBM dan juga termasuk LPG ya.
05:13Bu Telisa, ini efek domino seperti apa yang bisa mengancam jika harga minyak ini terus tak terkendali dan kita belum
05:23siap?
05:26Nah, satu yang akan segera ke-hit kan memang APBN ya.
05:30Jadi, yang pertama, garda pertama itu APBN dalam arti karena ada pembengkakan subsidi energi di sini.
05:36Kalau kita hitung setiap kenaikan dari harga minyak, berapa barel itu dari 1 dolar ya, dari ICP yang diasumsikan di
05:46dalam APBN itu,
05:47maka defisit kita bisa naik sekitar 7 triliun gitu ya, kalau tidak salah dari sensitivity-nya.
05:54Nah, kalau misalkan naiknya itu 20 dolar dari harga yang ada di ICP,
06:00nah itu kita bisa ada pembengkakan subsidi energi ya, maksudnya, maaf, itu pembengkakan subsidi energinya bisa bertambah sekitar lebih dari
06:07100 triliun.
06:08Nah, tetapi, apa namanya, hitungan-hitungan ini tentu harus divalidasi lagi ya.
06:13Jadi, artinya bahwa pembengkakan subsidi energi ini akan semakin menekan APBN kita.
06:17Nah, ketika subsidi energi ini dipertahankan tanpa kenaikan harga ya, diasumsikan tidak ada kenaikan harga baik untuk subsidi maupun non
06:25-subsidi,
06:25itu akan menekan belanja lainnya.
06:28Jadi, belanja-belanja lain itu otomatis akan di-cut semua gitu.
06:33Selama itu yang dalam list pemerintah ya, mana yang di-cut atau tidak.
06:36Tetapi, itu kan otomatis efisiensi anggaran ini akan semakin ketat lagi.
06:41Nah, ketika itu, kan kalau efisiensi anggaran terus-terusan juga ada pertumbuhan ekonomi,
06:45pasti yang dikorbankan seperti itu.
06:46Karena ada kegiatan-kegiatan yang itu perlu, tapi juga dikorbankan.
06:50Ada kegiatan yang tidak perlu diefisiensi, tapi yang masih perlu kan otomatis ada yang berkurang ya.
06:54Jadi, artinya multiplier efeknya akan berkurang juga sebagian gitu.
06:58Nah, oleh karena itu ya pasti aktivitas ekonomi mungkin ada sebagian yang melambat,
07:03terutama yang tergantung sama government sector seperti itu.
07:06Seperti infrastruktur sektor, itu juga akan melambat.
07:09Karena kan pemerintah terutama infrastruktur ini.
07:12Baik.
07:13Ya, infrastruktur yang di-cut ya juga.
07:15Terima kasih untuk ulasannya.
07:18Ibu Telisa Aulia Valianti, Ekonom UI,
07:21menyampaikan pandangan di program Kepas Malam hari ini.
07:23Terima kasih.
Komentar

Dianjurkan