00:00Perang yang berkepanjangan di Timur Tengah mulai mengancam pasokan minyak konta dunia dan sejumlah negara
00:05kini sudah mulai mencari opsi dalam menghikuti minyak dalam negerinya.
00:10Kita akan membahasnya, saudara, bersama dengan ekonom UI, Telisa Aulia.
00:14Selamat malam, Bu Telisa.
00:17Ya, selamat malam, Mas Ibrahim dan Pemirsa Kompas TV.
00:20Bu, ini sejumlah negara sudah mulai ancang-ancang mencari alternatif sumber energi.
00:24Ini tengah perang yang sampai saat ini belum meredah.
00:28Kalau Anda mencermati, apakah ini harga minyak dunia akan kembali melonjak?
00:34Ya, kalau kita amati kegagalan mengincatkan senjata, ada kemungkinan higher for longer istilahnya.
00:40Jadi, artinya harga minyak yang tinggi melebihi rata-rata normal histori selama ini, itu mungkin terjadi.
00:48Kita perlu antisipasi, tidak bermaksud menakuti ya.
00:50Ini sebenarnya kita lebih keantisipasi saja yang worst skenario-nya seperti apa.
00:54Tapi kan harapan kita, upaya-upaya perdamaian dan diplomasi kan tetap dilakukan.
00:59Tapi, kalau melihat kemarin gencatan senjata yang belum menemukan solusinya,
01:04dan kemudian ada ancaman baru dari Presiden Trump yang akan memblokade Selat Hormuz,
01:09nah, jadi kemungkinan harga minyak bertengger di posisi yang tinggi itu ada kemungkinannya seperti itu.
01:14Nah, tapi, again, ini bukannya tanpa solusi ya, kita tetap harus mencari solusi ketika harga minyak yang tinggi ini tentu
01:22harus kita hadapi ya.
01:23Tapi, possibility itu artinya ada dan harus kita siapkan seperti itu.
01:27Kuat tidak kalau misalkan yang disampaikan pemerintah, harga BBM tak naik sampai akhir tahun?
01:32Kuat tidak keuangan kita menghadapi ini?
01:37Ya, tentunya kita berharap APBN kita kuat, asalkan APBN kita fleksibel dan adaptif ya.
01:44Artinya, pemerintah kan satu sudah melakukan upaya efisiensi dengan transformasi budaya kerja, itu kan bisa menghemat APBN.
01:50Kemudian yang kedua, penerimaan pajak kita kan nanti di Cortex ini akan dilaporkan di April ya, terutama karena dimundurkan.
01:58Nah, harapannya penerimaan pajak di April yang dari masyarakat itu dan dari perusahaan, itu juga bisa menutupi defisit kita agar
02:06tidak melebihi dari 3%.
02:07Sebenarnya kan, kita karena punya bonderi 3% dari PDB, kita kan harus melihat nih pendapatan pajak kita berapa.
02:14Nah, kalau pendapatan pajak kita itu ada harapan nanti di bulan April ini reportnya seperti apa, nah itu kekuatan APBN
02:21kita nanti bisa terbaca di situ gitu.
02:24Kalau misalkan penerimaan pajaknya cukup baik, ya seharusnya bisa menutupi disertai dengan efisiensi dan disertai dengan fleksibilitas dari pos-pos
02:32anggaran itu sendiri ya.
02:33Jadi, mau nggak mau anggaran-anggaran itu kan harus ada yang direalokasi seperti itu untuk ke arah subsidi BBM untuk
02:39yang BBM bersubsidi.
02:40Apabila pemerintah kan pengen mempertahankan terutama harga BBM subsidi, tapi pemerintah kan tidak menutup opsi untuk BBM non-subsidi.
02:48Untuk BBM non-subsidi, pemerintah menyampaikan bahwa ya sedang dievaluasi terus wait and see.
02:53Jadi, kalau misalkan ini gamenya berkepanjangan dari Selat Hormuz ini, nah itu ada kemungkinan direview kembali gitu, kenaikan harga ini.
03:01Jadi, kenaikan harga menurut saya untuk BBM non-subsidi memang jangan di-close ya, justru harus di-open.
03:06Kemungkinan itu tetap ada, tapi sesuai dengan kemampuan masyarakat. Jadi, kita cari win-winnya seperti itu untuk yang non-subsidi.
03:12Oh, oke. Jadi, kalau misalkan tadi selain penyesuaian harga untuk yang non-subsidi, langkah realistis apa yang harus dilakukan oleh
03:19pemerintah?
03:20Karena kan untuk kebutuhan dalam negeri kita, sebagian kuotanya dari impor nih, mengadakan impor.
03:27Betul. Dinyatakan bahwa Indonesia kan berupaya untuk melakukan diversifikasi sumber impor, ya kan?
03:33Nah, kita sudah berupaya termasuk kayaknya kunjungan Pak Presiden terakhir ke Rusia ini kan juga untuk mengamankan stok BBM kita
03:42dalam arti bahwa kita ingin menjalin kerjasama untuk membeli BBM dari Rusia juga.
03:47Karena kan Amerika juga sudah mencabut sanksi sementara untuk kita boleh membeli dari Rusia, seperti itu.
03:53Jadi, kunjungan ke Rusia ini kan tentunya ingin membawa misi untuk diversifikasi.
03:57Jadi, diversifikasi mencari jalur-jalur yang tidak melalui Selat Hormuz, seperti itu.
04:02Dan kemudian juga selama ini Indonesia juga banyak mengimpor dulu dari Singapura.
04:06Nah, kan ini ada dua macam minyak mentah dan minyak dalam bentuk hilir, minyak jadi gitu ya.
04:12Nah, kalau yang dalam bentuk mentah itu sendiri memang banyak bisa dari Amerika, dari negara-negara produsen.
04:18Nah, tapi kalau untuk minyak yang bentuk jadi itu kita banyak mengimpor dari BBM hilir itu dari Singapura.
04:25Nah, kekuatan Singapura ini juga akan menentukan seberapa kita juga stok ini.
04:30Karena kan kita selama ini memang mengandalkan kepada Singapura gitu ya.
04:34Makanya diversifikasi ke negara-negara eksportir migas ini juga tentu sangat diperlukan.
04:42Kita harus mencari sumber-sumber lain yang jalurnya relatif lebih aman, seperti itu.
04:47Tapi kan tidak bisa, itu aja, nggak cukup.
04:50Yang kedua kan harus diversifikasi dari sumber daya domestik sendiri, terutama untuk energi baru terbarukan.
04:56Jadi, shifting ke listrik, shifting ke energi terbarukan seperti energi surya, energi berbasis angin, hidropower, dan lain sebagainya.
05:05Itu memang harus dilakukan berbasis baterai sehingga mengurangi ketergantungan kita kepada migas.
05:11Jadi, ini BBM dan juga termasuk LPG ya.
05:13Bu Telisa, ini efek domino seperti apa yang bisa mengancam jika harga minyak ini terus tak terkendali dan kita belum
05:23siap?
05:26Nah, satu yang akan segera ke-hit kan memang APBN ya.
05:30Jadi, yang pertama, garda pertama itu APBN dalam arti karena ada pembengkakan subsidi energi di sini.
05:36Kalau kita hitung setiap kenaikan dari harga minyak, berapa barel itu dari 1 dolar ya, dari ICP yang diasumsikan di
05:46dalam APBN itu,
05:47maka defisit kita bisa naik sekitar 7 triliun gitu ya, kalau tidak salah dari sensitivity-nya.
05:54Nah, kalau misalkan naiknya itu 20 dolar dari harga yang ada di ICP,
06:00nah itu kita bisa ada pembengkakan subsidi energi ya, maksudnya, maaf, itu pembengkakan subsidi energinya bisa bertambah sekitar lebih dari
06:07100 triliun.
06:08Nah, tetapi, apa namanya, hitungan-hitungan ini tentu harus divalidasi lagi ya.
06:13Jadi, artinya bahwa pembengkakan subsidi energi ini akan semakin menekan APBN kita.
06:17Nah, ketika subsidi energi ini dipertahankan tanpa kenaikan harga ya, diasumsikan tidak ada kenaikan harga baik untuk subsidi maupun non
06:25-subsidi,
06:25itu akan menekan belanja lainnya.
06:28Jadi, belanja-belanja lain itu otomatis akan di-cut semua gitu.
06:33Selama itu yang dalam list pemerintah ya, mana yang di-cut atau tidak.
06:36Tetapi, itu kan otomatis efisiensi anggaran ini akan semakin ketat lagi.
06:41Nah, ketika itu, kan kalau efisiensi anggaran terus-terusan juga ada pertumbuhan ekonomi,
06:45pasti yang dikorbankan seperti itu.
06:46Karena ada kegiatan-kegiatan yang itu perlu, tapi juga dikorbankan.
06:50Ada kegiatan yang tidak perlu diefisiensi, tapi yang masih perlu kan otomatis ada yang berkurang ya.
06:54Jadi, artinya multiplier efeknya akan berkurang juga sebagian gitu.
06:58Nah, oleh karena itu ya pasti aktivitas ekonomi mungkin ada sebagian yang melambat,
07:03terutama yang tergantung sama government sector seperti itu.
07:06Seperti infrastruktur sektor, itu juga akan melambat.
07:09Karena kan pemerintah terutama infrastruktur ini.
07:12Baik.
07:13Ya, infrastruktur yang di-cut ya juga.
07:15Terima kasih untuk ulasannya.
07:18Ibu Telisa Aulia Valianti, Ekonom UI,
07:21menyampaikan pandangan di program Kepas Malam hari ini.
07:23Terima kasih.
Komentar