Lewati ke pemutarLewatkan ke konten utama
KOMPAS.TV - Perang Iran dengan Amerika Serikat dan Israel memaksa berbagai negara mencari pasokan energi alternatif selain dari Selat Hormuz.

Langkah ini kian mendesak kala gencatan senjata semakin rapuh, usai Iran dan Israel gagal mencapai kesepakatan saat negosiasi di Pakistan, Sabtu lalu.

Lawatan Presiden Prabowo Subianto ke Moskwa, bertemu Presiden Rusia Vladimir Putin, jadi salah satu langkah Indonesia mencari alternatif impor minyak selain dari Timur Tengah.

Senin lalu, Presiden Prabowo bertemu Presiden Putin di Istana Kremlin, Moskwa.

Prabowo ingin berkonsultasi terkait perkembangan pesat situasi geopolitik global sekaligus peluang mempererat kerja sama bidang energi.

Ini ketiga kalinya Prabowo berkunjung ke Rusia bertemu Putin sejak dilantik sebagai presiden pada Oktober 2024. Putin menyambut baik kunjungan Prabowo. Ia menilai kedatangan Prabowo ke Rusia kali ini menjadi langkah penting untuk peningkatan kerja sama bilateral di tengah kondisi dunia saat ini.

Ketua Komisi XII DPR dari Fraksi Golkar mengapresiasi langkah Prabowo bertemu Putin kali ini sebagai terobosan untuk menjajaki potensi kerja sama pasokan minyak dan LPG dari Rusia.

Setelah perang dengan Iran semakin berdampak pada harga minyak global, Presiden AS Donald Trump mulai melonggarkan sanksi terhadap pihak yang mengimpor minyak dari Rusia pada Maret lalu.

DPR menyatakan pemerintah sudah berupaya mendiversifikasikan impor minyak agar tidak bergantung pada Selat Hormuz yang terdampak perang Iran dan AS.

Ujung perang antara Iran melawan Amerika Serikat dan Israel masih penuh ketidakpastian. Indonesia perlu memastikan sejumlah alternatif tersedia untuk mengantisipasi berbagai kemungkinan guna menghindari risiko krisis energi di masa depan.

Baca Juga Prabowo Bertemu Putin, Konsultasi Geopolitik dan Pererat Kerja Sama Bidang Energi dengan Rusia di https://www.kompas.tv/internasional/662911/prabowo-bertemu-putin-konsultasi-geopolitik-dan-pererat-kerja-sama-bidang-energi-dengan-rusia

#prabowo #minyakdunia #rusia #vladimirputin #selathormuz

Artikel ini bisa dilihat di : https://www.kompas.tv/internasional/662916/pertemuan-prabowo-dan-putin-di-rusia-pererat-kerja-sama-esdm-dan-konsultasi-geopolitik
Transkrip
00:09Perang Iran dengan Amerika Serikat dan Israel memaksa berbagai negara mencari pasokan energi alternatif selain dari Selat Hormuz.
00:17Langkah ini kian mendesak, kala gencatan senjata semakin rapuh, usai Iran dan Israel gagal capai kesepakatan saat negosiasi di Pakistan
00:26Sabtu lalu.
00:28Lawatan Presiden Prabowo Subianto ke Moskwa bertemu Presiden Rusia Vladimir Putin jadi salah satu langkah Indonesia mencari alternatif impor minyak
00:37selain dari Timur Tengah.
00:39Senin lalu Presiden Prabowo bertemu Presiden Putin di Istana Kremlin, Moskwa.
00:43Prabowo ingin berkonsultasi terkait perkembangan pesat situasi geopolitik global sekaligus peluang mempererat kerjasama bidang energi.
00:51Bahwa Rusia telah berperan sangat positif dalam menghadapi kondisi geopolitik yang penuh ketidakpastian ini.
01:05Karena itu kami merasa sangat perlu untuk konsultasi bagaimana kita hadapi situasi ke depan dan terutama kalau bisa kita terus
01:21mempererat kerjasama terutama di bidang ekonomi dan energi.
01:28Ini ketiga kalinya Prabowo berkunjung ke Rusia bertemu Putin sejak dilantik sebagai Presiden pada Oktober 2024.
01:35Putin menyambut baik kunjungan Prabowo.
01:38Ia menilai kedatangan Prabowo ke Rusia kali ini jadi langkah penting untuk peningkatan kerjasama bilateral di tengah kondisi terkini dunia.
02:13Ketua Komisi 12 Dewan Perwakilan Rakyat DPR
02:16dari fraksi Golkar Bambang Patijaya mengapresiasi langkah Prabowo bertemu Putin kali ini
02:21sebagai terobosan untuk menjajaki potensi kerjasama pasokan minyak dan LPG dari Rusia.
02:28Sejak 2022 Amerika Serikat menerapkan sanksi bagi perusahaan dari suatu negara
02:33yang mengimpor minyak dari Rusia sebagai sikap invasi Rusia ke Ukraina.
02:38Oleh karenanya pendekatan di level pemerintah antara Rusia dan Indonesia diharapkan jadi jalan keluar.
02:45Selama ini minyak, kurut, BBM ataupun LPG gas dari Rusia itu diban oleh Amerika Serikat.
02:58Sehingga banyak sekali perusahaan-perusahaan internasional itu takut berusaha dengan perusahaan-perusahaan dari Rusia.
03:04Nah demikian juga Pertamina.
03:06Nah kita tahu kalau Pertamina misalkan ketahuan ini Amerika membelanjakan atau beli
03:11atau mendapat pengadaan krud ataupun gas yang bersumberkan dari Rusia
03:17itu Pertamina terancam untuk dicairkan bond sanction dari Amerika.
03:22Sehingga ini cukup memberatkan.
03:24Sehingga terbosannya apa di saat ini adalah
03:26coba pendekatannya bukan lagi B2B tetapi G2G.
03:31Maka keberangkatan presiden berseparombongan ke Rusia pada saat ini adalah rangkaian
03:37dalam rangka bagaimana untuk menjajaki G2G tadi.
03:41Jadi memang ada gap yang harus ditutupi untuk memenuhi kilang kita.
03:45Ya kira-kira sekitar 600 lah kurang lebih, 600 baril per hari.
03:50Nah kemudian sisanya berarti kita perlu produk.
03:53Setelah perang dengan Iran semakin berdampak pada harga minyak global
03:57Presiden Amerika Serikat Donald Trump mulai melonggarkan sanksi terhadap pihak
04:01yang mengimpor minyak dari Rusia pada Maret lalu.
04:05Pengamat hubungan internasional sekaligus peneliti Asia Middle East Center
04:09Pizarro Gozali menilai kelonggaran saksi ini bersifat sementara.
04:14Ia menilai Prabowo perlu tegas menyikapi Trump
04:16jika mempertanyakan langkah Indonesia menjajaki impor ke Rusia.
04:21Sejak dulu memang ingin membeli minyak dari Rusia
04:23karena Rusia sudah menawarkan Bapak Maidob kepada kita
04:26tetapi hambatan kita itu kan
04:27itu ketika kita membeli minyak dari Rusia
04:30pertama sistem transaksi dari permakanan Amerika Serikat
04:32pasti akan memblokir.
04:34Tidak mudah kita kemudian untuk membeli minyak dari Rusia.
04:36Yang kedua ialah ancaman sanksi dari Donald Trump seperti itu.
04:39Ini kan kemudian hanya dilonggarkan sementara aja nih Bapak Maidob ya
04:42Amerika Serikat melonggarkan sanksi kepada Rusia
04:45agar bisa menstabilkan harga minyak dunia gitu.
04:47Tapi ini terbatas waktunya
04:49dan ini harus dimanfaatkan oleh pemerintahan Pak Prabowo sekarang
04:52dan juga Indonesia harus berani juga berkatan kepada Donald Trump
04:54ini terjadi karena Anda, Anda yang memulai perang.
04:56Mbak Kami tidak ada pilihan untuk melakukan diversifikasi impor kepada Rusia.
05:01DPR menyatakan pemerintah sudah berupaya
05:04mendiversifikasikan impor minyak
05:06agar tak sebagian besar bergantung dari Selat Hormuz
05:09yang terdampak perang Iran dan AS.
05:11Sejak awal, sejak perang di Selat Hormuz itu berlangsung
05:17H plus 4 itu kita sudah memitigasi
05:20sudah mendiversifikasi sumber pasokan.
05:22Jadi saya juga sudah cek tadi kepada Pak Dirjen Migas
05:26beliau fix bahwa per hari ini
05:28sejak dari awal perang itu berlangsung
05:32kita sudah memindahkan.
05:34Jadi kemarin itu kan ada beberapa kargo
05:36yang memang bersumberkan dari Selat Hormuz
05:39kita sudah alikan semua. Gas sudah kita alikan, LPG ya
05:43kemudian juga sumber-sumber krut juga sudah kita alikan
05:45tidak lagi dari sana.
05:47Sementara itu situasi di Selat Hormuz kian tak pasti
05:50usai Presiden AS Donald Trump
05:52mulai memblokade jalur itu
05:54agar Iran juga tak bisa menjual dan mendistribusi minyak.
05:58Trump mengklaim negara-negara yang selama ini
06:00bergantung pada pasokan minyak melalui Selat Hormuz
06:03bisa beralih ke Amerika.
06:05Trump pun mengklaim AS punya cadangan lebih banyak
06:08daripada gabungan minyak Arab Saudi dan Rusia.
06:34Sebelumnya Menteri ESDM Bahli Lahadalia sempat mengungkap
06:38Indonesia mulai mendatangkan minyak mentah dari Amerika Serikat.
06:42Peneliti Asia Middle East Center Pizarro Gozali menilai
06:45upaya Indonesia membuka kerjasama impor minyak dari Rusia
06:48jadi langkah Indonesia tetap menjalankan politik bebas aktif.
06:52Terutama karena Indonesia adalah salah satu anggota BRICS
06:55yang terdiri dari Brazil, Rusia, India, Tiongkok, dan Afrika Selatan.
07:00Indonesia pun harus jeli memanfaatkan langkah kerjasama ini
07:03juga sebagai upaya mendorong perang AS dan Iran berakhir.
07:07Kita memang harus melakukan politik bebas aktif.
07:33Terutama kemudian bagaimana negara-negara besar seperti Rusia, Tiongkok, dan kemudian
07:37Amerika Serikat memastikan dieskalasi dan gejata senjata itu benar-benar terjadi di wilayah Iran.
07:42Sementara itu, Direktur Program INDEF, Aisyah Rahwini,
07:45menilai agenda diplomasi Prabowo ke Rusia menjadi langkah realistis
07:49di tengah konflik AS dan Iran.
07:51Pemerintah tetap perlu mempertimbangkan biaya dan waktu pengiriman minyak
07:55serta berhati-hati mengambil kebijakan agar tak mengganggu stok minyak dalam negeri.
08:00Secara bersamaan, ini jadi pekerjaan rumah pemerintah
08:03untuk semakin menggencut upaya beralih dari ketergantungan terhadap energi fosil.
08:10Saya rasa segala upaya juga tetap perlu dilakukan.
08:13Termasuk tadi mencari diversifikasi ke Rusia.
08:17Semoga nanti juga ada hasilnya dari negosiasi yang diusahakan pada kunjungan ini.
08:24Tapi juga sambil mencari bagaimana supaya mungkin ada PR-PR lagi yang lain
08:30misalnya bagaimana supaya kapal dari Pertamina juga bisa lolos.
08:36Itu kan juga perlu negosiasi juga ya.
08:38Masih terus dilanjutkan.
08:40Lalu juga bagaimana misalnya transisi ya.
08:45Kita juga kan juga ada banyak usaha yang bisa diupayakan
08:50selain juga pasokan tadi juga dipenuhi.
08:55Tapi juga misalnya transisi ke upaya listrik ya.
08:58Kendaraan non-fosil fuels gitu.
09:01Itu juga perlu di jalan seberbarangan.
09:04Ujung perang antara Iran melawan Amerika Serikat dan Israel
09:07masih penuh ketidakpastian.
09:09Indonesia perlu memastikan sejumlah alternatif tersedia
09:12mengantisipasi berbagai kemungkinan
09:14untuk menghindari risiko krisis energi di masa depan.
09:17Tim Liputan Kompasivo.
Komentar

Dianjurkan