Skip to playerSkip to main content
#video #Ormas Islam dalam Demokrasi, Ada di Mana? HOT
Transcript
00:00If identity is forbidden, I'm not going to be Muslim.
00:05But in order for democracy, it's possible.
00:07People who choose from identity, it's possible.
00:10The question that we have to answer is, if they choose to choose, what effect is to do to us?
00:25Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh. Sobat Republika, senang sekali bisa berjumpa bersama saya, Aninur Salika.
00:33Dan saya Muhyiddin, selamat datang di Mozaik Ngobrolin Islam Asik.
00:38Sobat Republika, dalam kesempatan ini, kita kedatangan tamu istimewa.
00:44Beliau ini adalah seorang cendikiawan muslim muda dari Nahdatul Ulama.
00:50Beliau adalah Prof. Nadir Shah Hosen, atau yang akrab di Sapa Gus Nadir.
00:57Assalamu'alaikum, Gus.
00:59Sabar sehat ya, Gus?
01:00Alhamdulillah, tapi saya nggak muda lagi loh.
01:02Masih di Sapa Cendikian muda ya.
01:04Sudah apa-apa, Gus, biar terlihat muda gitu.
01:09Ini dari Australia ke sini atau gimana?
01:13Ya, ada beberapa kegiatan kebetulan.
01:18Ada haul Gus Dur, ada haul Mbah Bisri di Jokbang,
01:23terus kemudian juga Silaturahmi dan sekarang di Undang Republika. Terima kasih.
01:29Sama-sama, Gus.
01:30Nah, ini dalam konteks kekinian ya, Gus ya.
01:33Ini kan jelang, tinggal menghitung hari.
01:35Pemilu, pemilihan presiden, legislatif gitu ya, Gus.
01:39Nah, dalam konteks kekinian ya, Gus.
01:42Kalau menurut Gus Nadir, Islam ini masih diperlukan nggak sih, Gus, dalam demokrasi kita?
01:49Sudah menghitung hari ya?
01:51Iya.
01:51Mungkin diingat sama Mbak Ani itu karena hari kasih sayang, 14 Februari.
01:57Saya kira itu kan sebuah indikasi bahwa konteksasi pemilih itu harus berlandaskan kasih sayang.
02:07Iya.
02:08Kalau bahasa Al-Quran itu,
02:11Saling berwasiat dalam kasih sayang.
02:14Jadi, makanya dihitung.
02:17Karena itu penting buat bangsa kita.
02:20Nah, dalam konteks itu pertanyaan Mbak Ani tadi menjadi relevan.
02:24Sejauh mana sih Islam ini memang masih menjadi faktor yang menentukan?
02:28Hmm.
02:29Kalau kita tarik ke era global saja sekarang, memang menjadi pertanyaan juga.
02:35Apakah memang di era sekuler sekarang ini, apakah agama itu masih punya peran yang penting?
02:43Ternyata para sosiolog termuka di dunia, seperti Peter Barger, Jose Casanova, semua mengatakan,
02:53Iya, agama masih punya peranan.
02:55Agama punya seribu nyawa, nggak mati-mati ternyata.
02:58Di dunia ya?
02:59Di dunia ini.
03:00Iya, gitu.
03:00Sehingga kemudian kita lihat isu-isu agama itu selalu menjadi isu-isu yang menarik.
03:06Termasuk di Amerika sekalipun.
03:07Di mana di Pilpres Donald Trump kemarin itu juga isu-isu agama juga masih naik.
03:15Di Indonesia dua pemilu terakhir ya, saya kira polarisasinya juga menjadi sangat kuat.
03:21Soal politik identitas.
03:24Jadi saya lihat bahwa masyarakat Indonesia ini masyarakat yang sangat religius.
03:30Apapun persoalannya itu dicoba dicarikan jawabannya lewat agama.
03:34Misalnya kalau Mas Mujidin ini punya hutang.
03:39Ngadunya ke siapa?
03:40Bukan ke konsultan keuangan profesional, tapi ke Kiai.
03:44Minta wirid.
03:45Amalan-amalan Kiai.
03:46Minta doa.
03:47Minta doa.
03:48Apa itu salah?
03:49Ya enggak lah.
03:50Minta doa masa salah.
03:53Diputusin sama tunangannya.
03:57Stres segala macam.
03:58Lapor ke Kiai.
03:59Jadi semua persoalan mau disiakan lewat perangatan agama.
04:03Saya bilang itu tidak salah tadi.
04:05Hanya memang menunjukkan bahwa kita masyarakat yang religius.
04:09Ketimbang kemudian konsultan, konsultasi ke psikolog, psikiater.
04:13Atau ke dukun.
04:18Nah, malah kita datangnya ke Kiai.
04:23Hutang banyak.
04:24Datang juga ke Kiai.
04:25Nanti dikasih wirid.
04:26Apakah itu memecahkan atau tidak?
04:28Ya enggak tahu.
04:28Tetapi, itu kan kesannya.
04:31Begitu kemudian istri melawan suami terus.
04:37Wah, musidi rupiah masuk istri.
04:41Apalagi bicara soal pemiru.
04:44Di masyarakat kita, apa arahan dari para ulama,
04:49dari para tokoh agama, dari pendeta, pastor, dan lain-lain itu.
04:54Sedikit banyak agama.
04:56Dan itu tidak hanya di semasa sekarang.
04:59Mungkin masa nabi itu seperti itu khususnya agama ini.
05:01Ya masa nabi belum ada pilpres ya Mas Maudin ya.
05:03Jadi saya enggak tahu juga masa nabi gitu.
05:05Cuma kalau misalnya firkoh-firkoh itu terakhirnya terpecah belah pada waktu sama nabi,
05:11itu ada kaitannya juga dengan agama khususnya ini?
05:13Ya, saya kira kalau firkoh itu muncul setelah masa nabi ya.
05:16Setelah nabi wafat muncul pertanyaan.
05:19Siap, nabi itu kan nabi dan pemimpin negara.
05:24Sebagai nabi, lah nabi abadah.
05:26Enggak ada nabi setelah beliau, Shay.
05:28Itu akhidah alusnya wajamah seperti itu.
05:31Terus kemudian, tapi kan sebagai pemimpin bangsa,
05:34tapi negara harus ada penggantinya dong.
05:36Terus siapa yang menggantikan nabi.
05:37Nah itu kan sejarah Islam panjang perdebatannya.
05:39Sampai muncul di dunia muslim sampai sekarang ada sunni dan si'ah.
05:44Yang tidak selesai itu.
05:46Siapakah yang berhak menggantikan?
05:48Apakah ada pesan nabi khusus?
05:50Atau tidak ada diserahkan badan musawara?
05:52Itu panjang perdebatannya seperti itu.
05:54Tapi saya kira poin dari Mas Yudid tadi adalah,
05:57sejak awal memang masalah Islam dengan kepemimpinan itu menjadi concern kita semua.
06:04Karena concern para ulama, para sahabat nabi.
06:07Saya kira itu ya maksudnya.
06:09Nah Kus Nadir ini kan menjadi editor juga dalam buku Islam Sotus Asia itu ya.
06:16Islam Sotus Asia.
06:16Jadi memperhatikan Islam-Islam di Asia Tenggara.
06:20Nah kalau Kus Nadir melihat sendiri di Asia Tenggara sendiri seperti apa?
06:24Apakah masih relevan nih agama terhadap demokrasi ini Kus?
06:28Kalau di Asia Tenggara, konteks Asia Tenggara.
06:29Asia Tenggara sendiri juga Islam itu ya di Indonesia ya.
06:34Terbesar di Indonesia.
06:35Ada di Malaysia, ada di Brunei.
06:37Sedikit di Singapura.
06:40Terus juga ada konflik di Thailand, di Paltami.
06:45Ada konflik di Moro, di Filipina.
06:48Jadi kalau kita melihat bahwa ada dinamisasi Islam di wilayah Asia Tenggara.
06:55Ya kelihatan memang di Indonesia, di Malaysia.
07:00Di Malaysia misalnya saya sempat di dalam pertemuan tertutup dengan putrinya Perdana Menteri Anwar Ibrahim.
07:08Apa Nurul Aziza ya?
07:10Betul ya Nurul Aziza?
07:11Iya Nurul Aziza.
07:11Nah itu diskusi soal Islam dan politik.
07:16Ingin mengambil pelajaran dari Indonesia bagaimana kemudian Nahdlatul Ulama mampu mengeren terjadinya politisasi agama di dua pilpres sebelumnya.
07:29Karena isu itu ternyata di Malaysia juga lagi kencang sekarang misalnya.
07:33Ya kita diskusikan apa sih batasan politisasi agama itu seperti apa dengan beberapa contoh-contohnya.
07:41Terus juga kemudian saya kira peranan di Brunei misalnya juga seperti itu.
07:45Ya bagaimana posisi Sultan itu kan menggabungkan dua unsur-unsur Melayu dan unsur Kerajaan.
07:53Nah Melayu, terminologi Melayu di Indonesia dengan di Malaysia, Singapura belum berbeda.
07:59Kalau di Indonesia Melayu itu kan di Sumatera sana ada etnik sana orang Ria, orang apa itu Melayu.
08:05Tapi kalau di Singapura, Malaysia, Brunei, Melayu itu ya Muslim.
08:09Etnik dengan agama jadi satu campur.
08:13Dan ini menjadi kekuatan politik tersendiri kan akhirnya.
08:16Jadi di tingkat Asia Tenggara yang masih.
08:18Walaupun di Asia Tenggara juga tidak hanya orang Islam.
08:21Di Filipin itu Katolik sangat kuat, gereja Katolik sangat kuat.
08:26Apapun yang terjadi di Filipin itu harus ada restu dari gereja Katolik.
08:36Dan itu saya kira satu bukti bahwa ya dinamis sekali Islam di Asia Tenggara dan agama di Asia Tenggara ini.
08:43Jadi batasan politisasinya sejauh mana sih, Gus?
08:47Batasan politisasi, agama dan dipolitisasi itu sejauh apa batasannya?
08:53Orang itu boleh memilih berdasarkan identitas apapun.
08:58Jadi gini, kalau Mas Muhyiddin ini nyalon gitu ya.
09:02Ini nyalon, bukan nyalon kerimbat ini.
09:05Iya, ikut pemilu gitu apa gitu.
09:11Terus boleh nggak saya memilih Mas Muhyiddin ini berdasarkan bahwa sama-sama alumni, atau karena dari daerah yang sama, atau
09:22karena dari organisasi yang sama, atau dari agama yang sama.
09:25Boleh. Boleh dong. Itu kan hak saya.
09:27Saya mau memilih seperti itu.
09:31Oh karena dia sama-sama satu SMA dulu sama saya.
09:34Saya kenal daripada saya milih yang nggak saya kenal.
09:37Daripada saya memilih orang yang saya tidak tahu apakah di agamanya sama saya sama atau nggak.
09:42Atau etik sama atau nggak. Itu bol.
09:44Nggak ada masalah itu.
09:45Itu bukan politisasi identitas.
09:49Itu adalah identitas politik.
09:51Identitas politik.
09:52Identitas identitas saya nggak bisa dihilangkan.
09:54Identitas Mas Muhyiddin ini nggak bisa dihilangkan.
09:56Bahannya kan juga gitu.
09:58Kita bisa menjadi sekarang dengan berbagai identitas itu.
10:00Ada unsur kedaerahan, unsur sekolah dulu, unsur agama.
10:04Apalagi, unsur dulu sama-sama kursus.
10:06Pokoknya kan kita tuh komplit manusianya gitu kan.
10:09Irsan-irsan identitas itu.
10:10Dan itu menjadi bagian dari kita.
10:12Itu nggak bisa dihilangkan.
10:14Yang jadi masalah adalah
10:16Berubah identitas politik menjadi politik identitas.
10:20Menjadi politisasi salah.
10:21Ketika kita mengatakan.
10:23Tidak cukup hanya bilang bahwa saya memilih si A karena agamanya sama.
10:28Tapi kalau kamu tidak memilih yang sama dengan pilihan saya.
10:32Maka kamu murtad.
10:35Itu politisasi agama.
10:37Maka kamu bukan bagian dari kami.
10:40Kafir.
10:43Atau mayatnya nggak mau disolatkan.
10:45Misalnya gitu kan.
10:47Sampai dari ayat sampai mayat.
10:48Politisasi yang seperti itu dulu.
10:50Yang sempat rame dibahas.
10:51Jadi.
10:53Itu yang disebut dengan politisasi.
10:56Dan bukan politisasi identitas.
10:59Sara segala macam.
10:59Bahwa.
11:00Kamu di kick out dari grup WA.
11:02Alumni.
11:03Karena berbeda.
11:04Segala macam.
11:05Gitu kan.
11:05Ada kan sama-sama masih alumni.
11:08Masa hanya beda pilihan sikap politik.
11:10Mendadak tidak lagi diakui sebagai alumni.
11:11Nah.
11:13Itu yang politisasi seperti itu.
11:14Untuk ada kepentingan elektoral di sana.
11:16Itu dimainkan kemudian.
11:18Wah kalau gitu kamu nggak bagian dari kami.
11:20Nah itu yang berbahaya.
11:22Tapi.
11:23Jadi.
11:23Orang mau memilih.
11:25Si AC dan si C.
11:25Berdasarkan identitasnya nggak boleh dilarang.
11:29Kan gitu kan.
11:30Jadi.
11:30Jadi kita bisa kan.
11:31Kadang-kadang karena.
11:33Karena tidak dijelaskan seperti ini.
11:35Orang jadi bingung.
11:36Politik identitas dilarang.
11:38Berarti saya nggak boleh menjadi muslim dong.
11:40Ini kita sih.
11:41Padahal dalam bahasa demokrasi.
11:43Membolehkan.
11:43Orang mau memilih berdasarkan identitasnya boleh.
11:46Oke.
11:46Itu hal masing-masing.
11:47Oke.
11:47Lalu apa peran dari gerakan civil society.
11:50Seperti.
11:51Kalau dikita kan ada ANU Muhammadiyah.
11:52Untuk mengantisipasi itu.
11:54Atau guntung-guntungkan di.
11:55Masyarakat dalam konteks pemilih.
11:57Nah sekarang.
11:57Dalam konteks Indonesia.
11:59Dinamik yang terjadi di belakang ini.
12:01Menjadi pertanyaan.
12:06Siapa yang bisa merekakan kembali bangsa ini.
12:08Pasca pemilih.
12:11Itu menjadi pertanyaan.
12:12Maka elemen civil society.
12:14Yang memberdayakan masyarakat.
12:15Dan mengawasi jalannya pemerintahan.
12:20Itu yang harus kemudian.
12:22Bisa merekatkan kembali.
12:24Masyarakat.
12:25Yang terpolarisasi akibat pemilih.
12:28Bagaimanapun juga.
12:29Kontestasi itu.
12:30Akan melahirkan perasaan-perasaan yang.
12:33Dia menjadi teralienasi.
12:36Perasaan yang kemudian.
12:37Dia kalah.
12:39Orang kalah ini.
12:40Kalau orang merasa kalah ini.
12:41Biasanya macam-macam gitu ya.
12:43Entah karena kalah nyari jodoh.
12:45Entah kalah bisnis.
12:47Kalah soal politik.
12:48Apalagi kalau dia sudah.
12:50Invest.
12:51Ber-MM untuk terpilih.
12:53Begitu kan ya.
12:54Itu sensi.
12:55Stress.
12:56Rumah sakit bakal penuh katanya itu kan.
12:59Nah ini kan harus ada yang mengayomi.
13:01Merekatkan kembali.
13:02Gitu.
13:03Mengatakan bahwa kontestasi ini hal biasa.
13:05Kalah menang itu hal biasa kok.
13:07Gitu kan.
13:09Siapa yang melakukan itu.
13:10Nah.
13:11Karena Indonesia tadi masyarakat religius.
13:13Urusan jodoh.
13:15Kerjaan.
13:16Hilang kunci sepeda motor.
13:18Hilang sendal.
13:19Semuanya larinya ke toko agama.
13:22Gitu.
13:22Maka kemudian.
13:24Ormas keagamaan.
13:26Khususnya dalam konteks.
13:27Saya sebagai orang Islam.
13:28Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah.
13:30Itu penting.
13:32Sebagai perkat bangsa.
13:34Pasca Pilpres nanti itu.
13:37Sebagai bagian dari civil society itu tadi.
13:39Bukan soal karena dia agamanya.
13:41Bukan soal karena dia ormas Islamnya.
13:42Tapi karena dia bagian dari civil society.
13:45Karena kan Muhammadiyah dan Enung itu kan.
13:47Gak cuma mengayomi anggotanya.
13:49Tapi mengayomi bangsa ini.
13:50Bahkan mereka berdua itu kan.
13:52Lahir sebelum bangsa ini.
13:53Diprofamirkan.
13:55Oke.
13:55Karena itu punya tanggung jawab.
13:57Untuk menjaga agar kehidupan.
13:59Berbangsa dan negara kita berjalanan baik.
14:01Oke.
14:02Tapi kan.
14:03Yang menjaga itu.
14:04Nanti kan memang ulama dari dulu ya.
14:06Bahkan.
14:07Kalau di Jawa Timur itu dipecah kayaknya.
14:09Ulama yang ini kesini.
14:11Ulama yang ini kesini.
14:12Kesini gitu.
14:13Nah.
14:13Tapi sebenarnya.
14:14Tapi sebagian.
14:15Ulama ini.
14:16Terjun langsung ke politik praktis ini Khusus.
14:18Nah.
14:18Apakah sebenarnya secara.
14:19Ini boleh gak sih.
14:20Ulama berpolitik gitu Khus.
14:22Ada yang disebut dengan politik kebangsaan.
14:26Hmm.
14:27Ada yang disebut dengan politik kekuasaan.
14:30Menurut saya ulama harus paham dan harus terlibat dalam politik kebangsaan.
14:35Hmm.
14:39Hmm.
14:39Kenapa?
14:39Karena.
14:41Ada yang disebut dengan high politics.
14:42Nilai-nilai etik.
14:44Nilai-nilai etis dalam masyarakat.
14:46Termasuk dalam usaha politik itu menjadi sangat penting.
14:48Hmm.
14:48Tanpa nilai-nilai etik.
14:50Hmm.
14:50Kita ini tidak menjadi manusia normal.
14:52Hmm.
14:52Dalam bahasa agama.
14:54Rasulullah diutus untuk menyimpunakan ahlak yang mulia.
14:57Itu kan nilai etis.
14:58Ahlak lukarimah itu kan nilai etis.
15:00Ya.
15:00Dan di semua agama diajarkan.
15:02Dan kalau kehidupan berbangsa dan negara kita itu sudah tidak lagi mengindahkan unsur-unsur etis itu,
15:08kan jadi persoalan.
15:09Misalnya akan muncul pertanyaan secara fikir.
15:12Apakah boleh kita sholat dengan sejadah curian?
15:16Hmm.
15:18Ini dua hal yang berbeda.
15:20Kita sikapi berbeda atau satu hal yang kesamaan?
15:23Hmm.
15:23Apakah boleh naik haji dengan uang korupsi?
15:26Hmm.
15:28Apakah hajinya tetap sah dengan uang korupsi?
15:32Atau tidak bisa sah?
15:33Hmm.
15:34Ini dua hal yang tidak bisa dipisahkan.
15:36Ini pertanyaan-pertanyaan irisannya sangat-sangat jelas soal etis dalam kehidupan kita.
15:41Begitu juga dalam politik berbangsa.
15:43Karena itu kebangsaan, politik kebangsaan.
15:45Para ulama harus tahu.
15:48Politik kekuasaan.
15:49Nah ini jelas soalan.
15:50Ini disebut dengan low politics gitu ya.
15:52Politik tingkat bawah.
15:53Politik recehan.
15:55Dukung-mendukung gitu kan.
15:57Segala macem.
15:59Kalau Kiai disowani oleh Capres ini, Capres itu ya.
16:05Tiba-tiba Capres-Capres itu datang pakai sarung.
16:10Misalnya gitu kan.
16:13Assalamualaikumnya difaseh-fasehkan.
16:15Begitu misalnya.
16:16Misalnya untuk ini.
16:17Ya nggak ada masalah.
16:19Itu pilihan masing-masing gitu kan.
16:21Misalnya.
16:21Nah.
16:22Ulama mau dukung si A, si B, si C itu nggak masalah gitu.
16:28Kecuali persoalannya adalah kalau dia mengatakan.
16:31Kalau kamu tidak mengikuti arahan saya.
16:34Maka kamu kemudian.
16:37Capres.
16:37Capres.
16:39Batasan di situ saja.
16:41Itu termasuk politik sesi agama tadi ya.
16:42Itu pada level individu.
16:45Yang repot itu kalau terjadi politik kekuasaan pada level or massive tadi.
16:50Kita bicarakan.
16:51NU dan NU.
16:52Nah ini agak repot.
16:54Gimana Bani?
16:55Ada yang mau ditanya?
16:57Ini mungkin ada keresahan-keresahan ya Gus.
16:59Gimana sih kalau misalnya.
17:01Memang tidak boleh gitu.
17:02Orang yang kita bergabung dalam ormas.
17:05Terus kita mau mendukung salah satu calon.
17:08Memang nggak boleh Gus.
17:11Pertama harus kita lihat aturan di ormasnya.
17:14Aturan di ormasnya seperti apa.
17:15Jadi kalau dalam bahasa.
17:17Karena saya orang NU ya.
17:18Dalam bahasa Nahdlatul Ulama.
17:21Yaitu ada khitoh 1926.
17:25Ada garis perjuangan ketika Nahdlatul Ulama dididikan pada tahun 1926.
17:29Yaitu memang ini bukan organisasi politik.
17:32Ini organisasi mengurusi umat.
17:34Mendakwah, pendidikan, seterusnya seterusnya.
17:37Pernah pada satu masa NU masuk dalam dunia politik.
17:41Sehingga NU menjadi parpo.
17:43Pernah.
17:46Pemilu 55 misalnya.
17:47Tapi kemudian setelah itu menarik diri.
17:49Makanya disebutkan kembali ke hitoh.
17:51Kembali ke spirit perjuangan NU dididikan tahun 1926 itu apa.
17:57Jadi harus netral.
17:58Netral.
18:00Tapi ternyata tafsir hitoh itu.
18:02Tafsir netral itu juga.
18:04Pada setiap masa terjadi dinamisasi.
18:07Kan tidak stagnan.
18:10Misalnya.
18:12Di masa order baru.
18:14Tafsir netralnya adalah.
18:15Para ulama menarik diri dari politik.
18:18Dan mengurusi.
18:19Pondok pesantrennya aja.
18:21Mencetak kader-kader.
18:23Pada masa order baru.
18:24Kenapa?
18:24Karena tekanannya luar biasa saat itu.
18:26Ketika reformasi dibuka.
18:28Tafsirnya adalah.
18:30PBNU mendirikan PKB.
18:32Partai Kebangkitan Bangsa.
18:34Kenapa?
18:34Karena landscape politik berubah.
18:36Para ulama tidak akan bisa terlibat dalam menentukan keputusan-keputusan yang berdampak luas pada publik.
18:42Kecuali ikut terlibat di parlemen.
18:46Lewat apa?
18:46Kedaran.
18:47Ya partai kendarannya gitu kan.
18:49Tapi dipisahkan.
18:51PBNU nya tetap.
18:52Ada PKB.
18:53Tidak seperti dulu.
18:54Yang NU nya menjadi parpol.
18:56Pada reformasi.
18:57NU tidak parpol.
18:57Menjadi ormas.
18:58Tapi dibuat parpol baru.
19:00Atas arahan dari PBNU.
19:02PKB.
19:02Maka kemudian tafsir pada tahun-tahun itu.
19:05Di awal reformasi adalah.
19:07Kepentingan politik NU.
19:09Disalurkan lewat PKB.
19:11Maka hubungan NU dengan PKB menjadi sangat mesra.
19:14Sampai pada satu titik para ulama merasa PKB terlalu mendominasi.
19:19Jadi bukannya kemudian PKB yang anak NU.
19:22Itu kan dilahirkan dari NU tadi.
19:24Yang ikut arahan.
19:26Malah dia ikut mengatur.
19:29Ada titik-titik di masa-masa itu.
19:33Maka muncullah.
19:34Tafsiran baru berikutnya.
19:36Yaitu ketika.
19:37Kaya Haji Yahya Holistakuf menjadi Ketua UMAM PBNU.
19:43Tafsir beliau adalah netral.
19:45Kalau dulu itu.
19:47Apa namanya.
19:48Menganak emaskan.
19:49Memberikan hak-hak privilege kepada satu partai NU saja PKB.
19:52Sekarang beliau mengatakan.
19:55Kami merangkul semua.
19:56Netral itu merangkul semua.
19:57Maka semua unsur partai ada di PBNU.
20:03Tapi posisi netral.
20:04Apa netral?
20:05Netral yang pertama adalah.
20:07PBNU tidak akan mencalonkan.
20:12Ulamaannya menjadi cawapres.
20:14Kenapa ini penting?
20:15Karena detik-detik akhir 2019.
20:18Kemaruf Amin sebagai roh isam saat itu.
20:22Dicalonkan.
20:23Sebagai cawapres.
20:26Dan terpilih sampai sekarang masih cawapres.
20:28Masih wapres kita.
20:31Nah pola itu oleh para politisi dulu.
20:34Wah ini bisa diulang nih dari 2024 nih.
20:36Kita tempel aja NU nih.
20:38Menit-menit akhir NU mengeluarkan siapapun.
20:41Nah.
20:42Bu Siaya mengatakan.
20:44Enggak.
20:44PBNU tidak akan mencalonkan siapapun.
20:46Karena PBNU netral.
20:47Itu sikap pertama netral.
20:49Sikap yang kedua tadi.
20:51Netral itu ternyata.
20:53Dalam tataran di bawah.
20:55Bukan merangkul semua.
20:57Semua dirangkul kecuali PKB.
20:59Yang terjadi.
21:00Terjadilah kemudian ketegangan-ketegangan.
21:04Ya.
21:05Kenapa itu bisa tegang?
21:07Ya itu diskusinya lebih panjang.
21:08Diskusi berikutnya.
21:09Itu terasa ya Gus.
21:10Di Gresul itu terasa ya.
21:12Ketegangan.
21:12Oh terasa.
21:13Sangat terasa.
21:14Sangat terasa.
21:15Bagaimana ada surat peringatan SP.
21:18Ya.
21:18Surat cinta dari PBNU.
21:20Bahkan terakhir itu ada kasus pemecatan di Jawa Timur seterusnya.
21:23Tapi.
21:23Rais Am sendiri.
21:25Rais Am sendiri ini.
21:26Membantah itu.
21:27Bahasanya terkait.
21:28Dengan politik atau apa gitu Gus.
21:30Udah mengklarifikasi itu.
21:32Itu gimana?
21:34Ya ya.
21:35Ya itu bisa dibantah sama ulama yang lain.
21:37Begitu dengan data-data.
21:39Data dengan segala macem.
21:42Jadi.
21:44Taftir hitamnya seperti itu.
21:46Nah sekarang.
21:46Yang.
21:47Yang.
21:48Yang meresahkan adalah.
21:49Ternyata.
21:50Kata-kata netral di mulut.
21:52Dengan di aksi ternyata berbeda.
21:55Oh.
21:55Nah.
21:56Jadi makanya saya menyuruhkan untuk mengembalikan marwah.
22:01Nahdlatul ulama.
22:02Belakangan saya.
22:05Bicara ini dimana-mana.
22:07Karena.
22:09Karena.
22:09Akan menjadi problem.
22:12Ketika PBNU.
22:15Secara tidak resmi.
22:17Tapi secara masih menggunakan struktur organisasi.
22:20Dari PBNU, PW, sampai ke PC, sampai ke bawah, ke MCK semua.
22:24Untuk memenangkan pasang tertentu.
22:27Kenapa?
22:28Balik ke diskusi kita tadi.
22:29Nahdlatul ulama adalah bagian dari civil society.
22:33Saya tidak masalah PBNU mengarahkan mendukung siapapun.
22:3801, 02, 03.
22:41Dukungannya saya tidak persoalkan.
22:43Tapi bahwa PBNU kemudian ternyata tidak netral.
22:47Ternyata berpihak.
22:48Apapun alasannya.
22:49Dengan mendukung pasang tertentu.
22:51Ini menurut saya berbahaya.
22:53Ini mempertaruhkan marwah Nahdlatul ulama di Pilpres.
22:56Pertanyaannya muncul.
22:57Apa landasan fikihnya kok mendukung paslon tertentu?
23:02Kenapa tidak yang lain?
23:04Kan PBNU kan selalu memberikan keputusan berdasarkan landasan fikih.
23:08Nah ini tidak ada landasan fikihnya.
23:10Atau ada konsesi-konsesikah?
23:12Seperti yang beredar selamain isunya.
23:15Konsesi tambang.
23:17Gitu kan.
23:18Ada hak hak privilege seperti itu.
23:21Betulkah?
23:22Kan menjadi timbul pertanyaan.
23:24Gara-gara ikut terlibat.
23:26Kan gitu kan.
23:28Jadi harusnya nggak usah ya bos?
23:30Menurut saya itu melanggar ADARP.
23:33Melanggar kita itu tadi.
23:34Melanggar kata-kata netral di mulut.
23:37Seperti itu.
23:38Dan muncul pertanyaan berikutnya Mbak Ani.
23:41Kalau ternyata pilihan PBNU kalah ternyata.
23:46What next?
23:48Kan gitu.
23:49Atau ternyata misalnya ada gelombang kekecewaan akibat tekanan-tekanan kekuasaan.
24:01Yang berujung pada dugaan-dugaan kecurangan.
24:06Maka akan tiba pertanyaan.
24:08Akan ada bahsul masail di NU.
24:11Apa hukumnya mendukung paslon yang menang pemilu dengan curang?
24:17Misalnya kan.
24:18PBNU akan sulit menjawab kalau dia menjadi bagian dari paslon.
24:23Paslon berapa pun.
24:25Nah.
24:26Atau terjadi konflik antara elemen bangsa akibat hasil-hasil pilpres.
24:35Kalau dulu diselesaikan lewat Mahkamah Konstitusi.
24:37Sekarang tiba pertanyaan.
24:39Apakah masih layak Mahkamah Konstitusi?
24:40Apakah masih bisa dipercaya?
24:42Akibat kasus-kasus sebelumnya misalnya.
24:45Lantai siapa yang memerkakan bangsa ini?
24:47Kalau bukan permas Islam seperti Nahdata Ulama dan Muhammadiyah.
24:50Tapi Gus ini kan udah terlanjur terjadi ya.
24:53Maksudnya udah ada gitu.
24:54Emang sudah ada yang tadi Gus Nadir bilang gitu.
24:58Lalu apa yang harus dilakukan?
25:00Ya.
25:01Jadi dilakukan adalah.
25:02Setelah saya bicara di podcast seperti ini.
25:05Hmm.
25:05Untuk mengatakan bahwa masih ada suara-suara NU kultural.
25:10Yang tidak terlibat di dalam cawe-cawe capra-cawap.
25:15Hmm.
25:16Dan suara-suara NU kultural ini siap untuk terus menjaga bangsa ini.
25:21Berdialak dengan berbagai elemen bangsa.
25:24Hmm.
25:24Dari berbagai kalangan.
25:26Sehebat-hebatnya kita tidak akan mampu kita menyelesaikan persoalan Indonesia ini sendirian.
25:30Kita harus bekerja sama.
25:31Terlalu besar.
25:32Kita harus bekerja sama dengan pihak lain.
25:33Nah elemen-elemen ini harus terus membuka dialog.
25:36Elemen-elemen dari NU.
25:38Kenapa?
25:38Karena NU itu ada tiga.
25:40Ada tiga bagian.
25:41NU itu.
25:41Yang pertama itu disebut dengan Jama'iah.
25:43Jama'iah itu ada organisasinya.
25:45PBNU itu Jama'iah.
25:46Hmm.
25:46Resmi.
25:48Ada yang disebut dengan Jama'ah.
25:50Ya warganya.
25:51Nah kadang-kadang dengan Jama'iah ini nggak nyambung, nggak klop.
25:55Hmm.
25:56Gitu.
25:56Dan itu loh uniknya NU.
25:57Kalau organisasi modern, ketua umumnya bilang A, anak buahnya di bawah sampai ke ranting bilang A.
26:04Kalau di NU, NU bilang A, Jama'ah belum tentu ikut A.
26:10Dia ikut Kiai Lokal.
26:11Hmm.
26:13Apa kata Kiai Lokal?
26:15Gitu.
26:16Nah jadi belum tentu seperti itu.
26:18Hmm.
26:19Jadi problem antara Jama'iah dengan Jama'ah di NU belum selesai.
26:23Tapi itu uniknya NU.
26:26Yang ketiga, yang baru muncul sekarang akibat kembangan medsos, perkembangan NU masuk ke wilayah kota.
26:33Ya itu apa?
26:34Dia bukan bagian dari Jama'iah.
26:36Dia tidak mengurus NU.
26:37Dia juga bukan Jama'ah NU.
26:39Misalnya, dia tidak punya latar belakang ke NU-an.
26:42Bukan orang pesantren.
26:43Orang tuanya bukan NU, segala macam.
26:46Tapi, dia tradisinya ber-NU.
26:49Dia ikut Maulid.
26:50Amaliyahnya ya.
26:51Amaliyahnya.
26:51Dia ikut tahlilan.
26:52Dia ikut istri gosah.
26:53Meskipun kamu orang NU.
26:54Ya bang, saya bukan NU.
26:56Keluarga saya juga nggak ada ke NU.
26:57Saya juga bukan dari daerah yang punya tangisi NU.
27:01Simpatisan.
27:02Itu saya bilang.
27:02Jadi tradisi ber-NU-nya dia pakai.
27:06Dan pilih-pilih.
27:07Misalnya, Maulud dia ikut.
27:09Tahlilan dia ikut.
27:10Tapi, Traweh.
27:12Nggak dua tiga dia sebelah.
27:14Misalnya.
27:14Yang lebih muda aja lah.
27:15Ya gitu loh.
27:16Ini ada kelompok tiga seperti ini.
27:18Nah, jadi.
27:20Melawan itu tadi.
27:21Adalah.
27:21Dengan kita mengatakan bahwa.
27:23Keputusan Jama'iah belum tentu ditaati oleh Jama'ah.
27:25Dan selain Jama'iah dan Jama'ah.
27:28Ada kelompok lain itu.
27:29Yang tradisinya amalinya ber-NU.
27:30Tapi dia bukan baga daerah Jama'ah.
27:33Bukan baga daerah Jama'iah.
27:34Tapi ini juga harus dirangkul.
27:35Harus diayomi juga.
27:37Karena dia amalianya.
27:38Amalianya.
27:40Nah, elemen-elemen ini.
27:42Saya kira.
27:42Kita harus sampaikan bahwa.
27:44PBNU tidak mewakili suara ini.
27:48Tidak mewakili semua suara Jama'ah.
27:50Tidak mewakili suara yang punya tradisi ber-NU tadi.
27:52Oke.
27:53Nah, gitu.
27:54Dan penting buat elemen bangsa.
27:58Untuk memahami, menyadari bahwa.
28:04NU tetap peduli.
28:08Dengan pemilih yang aman dan damai.
28:11Serta akan tetap berusaha menjaga agar bangsa ini tidak pecah belah.
28:15Meskipun Jama'iahnya bergerak seperti itu.
28:19Tapi Jama'ah.
28:20Dan orang-orang yang tadi itu masih punya amalianya.
28:23Itu punya keprihatinan yang sama.
28:26Punya keresan yang sama.
28:27Untuk tetap menjaga khitoh.
28:291926 ini.
28:30Gus ini jelang pemilu ini.
28:33Kan apa ya namanya.
28:35Pesan-pesan apa mungkin yang menyejukkan dari Gus Nadir ini.
28:39Supaya orang juga tahu gitu.
28:40Diingatkan bahwa.
28:41Setelah pemilu tuh kita juga masih cari duit sendiri gitu Gus istilahnya.
28:44Siapapun presidennya kita juga berusaha sendiri.
28:47Berjuang sendiri gitu.
28:48Masih ada kehidupan setelah Pilpres gitu Gus.
28:50Bagaimana Gus pesannya?
28:52Ya jadi saya yang menyampaikan begini.
28:55Pilpres ini adalah acara rutinan kita 5 tahun.
29:01Jadi kita persiapan diri.
29:03Dengan sebaik-baiknya.
29:05Agar pemilu ini berjalan dengan aman dan damai.
29:10Jurdil ya. Jujur adil.
29:11Tapi pada saat yang sama.
29:14Juga melahirkan pemimpin yang berkualitas.
29:17Bukan hanya di tingkat Pilpres.
29:19Tapi dipilek.
29:20Pilek di semua lapisan.
29:21Ada DPD, DPR, DPRD1, DPD2.
29:27Jadi ada 5 kata suara nanti.
29:29Termasuk Pilpres.
29:30Nah ini sudah menjadi hal yang biasa.
29:33Gak seperti dulu lagi orang heboh.
29:37Malah sampai pada taraf.
29:39Orang agak apa ya.
29:42Saya mau bilang mual.
29:44Enak.
29:45Terlalu keras.
29:46Tapi orang merasa bahwa.
29:48Udah deh.
29:49Apa sih?
29:49Apatis.
29:50Apatis mungkin.
29:51Skeptis apatis.
29:52Nah karena itu saya.
29:54Lihat tadi apa yang saya sampaikan maan itu penting.
29:56Bahwa ada kehidupan setelah Pilpres.
29:58Tetap saja.
29:59Tetap saja cicilan.
30:00Kita mesti dibayar.
30:01Kredit motor.
30:02Kredit rumah.
30:03Tetap mesti dibayar.
30:05Bahkan kalau pun misal dikatakan.
30:06Ditakut-takuti.
30:07Kalau si A terpilih.
30:09Si B terpilih.
30:10Si B terpilih.
30:10Si C terpilih.
30:11Maka Indonesia akan begini, begini, begini.
30:13Ya entah anak-anak itu sudah dimulai isu teroris lah.
30:16Isu negara Islam.
30:18Isu kemudian hutang luar negeri.
30:20Intervensi asing.
30:21Seterus-seterusnya.
30:22Pertanyaan yang mesti kita jawab adalah.
30:24Kalau mereka naik kepilih.
30:25Ngefeknya ke kita apa?
30:29Ngefeknya ke kita apa?
30:30Mungkin ngefeknya ke orang-orang lain.
30:33Bangsa segala macam mungkin ada.
30:35Tapi ngefeknya ke kita.
30:36Itu apa?
30:37Nah itu jadi.
30:38Soalan.
30:39Nah karena itu menurut saya.
30:41Rakyat juga harus cerdas.
30:44Sudah tidak bisa lagi cerdas itu dipahami sebagai begini.
30:47Terima saja uangnya.
30:49Pilihannya terserah.
30:51Cerdas itu sekarang harus dipahami bahwa rakyat harus cerdas.
30:53Bahwa.
30:55Kami juga tidak menginginkan.
30:57Pemimpin yang tidak punya integritas.
30:59Dengan memberikan uang-uang itu segala macam.
31:01Nah ini kan repot.
31:03Ada supply and demand.
31:05Masyarakat juga mengharapkan itu.
31:07Calek juga seperti itu.
31:09Nah.
31:10Jadi bagaimana sih meningkatkan kualitas demokrasi kita?
31:12Bagaimana meningkatkan kualitas pemilu kita?
31:14Itu konsen kita sekarang.
31:16Nah.
31:17Dan itu tidak bisa kita lakukan.
31:18Kalau civil society dia.
31:21Atau diacak-acak.
31:23Nah Ormas Islam kan bagian dari civil society.
31:26Saya kira itu konsen.
31:27Saya.
31:28Makanya saya menyambut undangan Republikan untuk diprokes.
31:32Oke.
31:32Baik.
31:33Itu poinnya Mbak Ani.
31:34Ya jadi.
31:35Peran dari gerakan civil society sangat besar untuk menjaga persatuan di Indonesia.
31:40Gus ya.
31:40Tidak saling ngotong-ngotongan dan sebagainya.
31:42Itu dia.
31:43Yang bisa kita ambil pelajaran dari Gus Nadir kita.
31:46Terima kasih ya Gus.
31:47Makasih.
31:48Makasih sama-sama.
31:49Makasih banyak Gus.
31:50Mungkin kita lain kali bisa ngobrol-ngobrol lagi Gus.
31:53Insya Allah ya ketemu lagi.
31:55Oke.
31:55Sobat Republika itu tadi ngobrol-ngobrol kita sama Gus Nadir.
31:58Mudah-mudahan bisa diambil hikmahnya dan diingat ya.
32:01Kalau pilpres itu juga kita masih tetap bayar cicilan sendiri.
32:04Asif.
32:05Mudah-mudahan bermanfaat nih buat kita semua.
32:08Sampai di sini.
32:09Podcast Mosaic.
32:11Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.
32:21Sub indo by broth3rmax
Comments

Recommended