00:06Sebuah video terungkap ke publik menunjukkan Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, berada di sebuah kafe.
00:13Dalam video itu, Netanyahu membantah rumor kematiannya dengan memperlihatkan jari tangannya.
00:20Namun, video Netanyahu di kafe tersebut menimbulkan teori konspirasi baru.
00:25Warga Net menyoroti cangkir kopi yang penuh hingga bibir gelas, tapi tidak tumpah ketika diminum Netanyahu.
00:59Rumor itu bermula ketika Netanyahu merilis video pernyataan beberapa hari lalu.
01:04Setelahnya, warga Net berspekulasi bahwa Netanyahu menggunakan akal imitasi dari visual tangan Netanyahu yang memiliki enam jari.
01:13Rumor tersebut berkembang hingga publik mengira Netanyahu telah tewas dan digantikan oleh rekayasa digital.
01:32Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, dirumorkan tewas setelah video pernyataannya belakangan terungkap ke publik.
01:39Di sisi lain, Trump menuduh Iran menggunakan akal imitasi.
01:44Lalu sejauh mana perang pengaruh di luar kekuatan militer jadi strategi yang dimainkan pihak-pihak yang terlibat perang.
01:51Kita bahas bersama pakar Artificial Intelligence atau akal imitasi dari School of Computer Science Nusa Putra University, Teddy Mantoro.
02:02Selamat sore Mas Teddy.
02:04Jadi kalau kita lihat sejauh mana Anda menganalisa kedua video Netanyahu yang sudah dirilis.
02:10Apakah Anda menemukan kejanggalan seperti yang warga Net pertanyakan?
02:18Ya, terima kasih.
02:20Pertanyaannya bagus sekali ini berkaitan dengan situasi yang berkembang sampai hari ini ya tanggal 16 Maret.
02:28Ini kesampitan tanggalnya karena ini hal yang perlu gitu.
02:31Kalau kita melihat kronologi singkatnya gitu,
02:36itu Netanyahu dinyatakan meninggal pertama kali di media sosial ini oleh Notixias Paralelas ya.
02:47Itu tanggal 10 Maret gitu.
02:49Ada fotonya di mana fotonya yang ditarik dari rautuhan kehebat rudal Iran.
02:56Nah, dari sana kemudian ini muncul banyak spekulasi seperti yang tadi disampaikan gitu.
03:00Ini menurut kami ya Mbak Sentia,
03:04sebenarnya ini adalah perang persepsi ya.
03:08Apa namanya, di kita biasanya bilangnya ini kognitif warfare gitu.
03:11Atau information warfare.
03:12Atau kadang-kadang juga disebut sebagai psikologi warfare atau CEO ya.
03:18Jadi ini dilimparkan satu buah isu ya,
03:21penyerang persepsi.
03:30Ya Pak Teddy.
03:37Ya sebelumnya kita sudah mendengarkan pernyataan singkat dari Teddy Mantoro,
03:42pakar Artificial Intelligence,
03:44yang memang saat ini ramai di media sosial,
03:47warga net meragukan jika keberadaan Perdana Menteri Israel Benyamin Netanyahu.
03:55Sebuah video sebelumnya terungkap ke publik,
03:58yang menunjukkan Perdana Menteri Israel Benyamin Netanyahu berada di sebuah kafe.
04:03Ini adalah video yang disebut sebagai klarifikasi dari Perdana Menteri Israel Netanyahu
04:09yang membantah rumor kematiannya dengan memperlihatkan jari tangannya.
04:14Namun dalam video tersebut,
04:18di mana Netanyahu yang berada dalam sebuah kafe justru menimbulkan teori konspirasi baru.
04:24Warga net kembali menyoroti cangkir kopi yang penuh hingga bibir gelas,
04:30tapi tidak tumpah ketika diminum Netanyahu.
04:33Sebelumnya, sebuah informasi juga beredar di media sosial
04:40saat Perdana Menteri Israel Benyamin Netanyahu yang memberikan pernyataan.
04:46Namun di video tersebut,
04:49warga net mempertanyakan visual
04:53yang diduga menggambarkan jari dari Netanyahu berjumlah 6 jari.
05:00Nah ini adalah video yang menjadi pemicu perdebatan warga net di media sosial
05:08dan memang diduga sodara warga net mempertanyakan keberadaan Perdana Menteri Israel Netanyahu.
05:18Dan kita kembali berusaha untuk membahasnya dengan Teddy Mantoro,
05:24pakar Artificial Intelligence.
05:26Pak Teddy, selamat sore.
05:28Sudah cukup jelas suara kami di studio, Pak Teddy?
05:32Ya, bisa terdengar, Mbak.
05:33Pak Teddy, kalau tadi Anda sudah menjelaskan beberapa poin yang bisa dikatakan cukup penting,
05:39tapi untuk membedakan sebuah video itu merupakan buatan AI atau tidak,
05:46apa sebenarnya indikator paling cepat yang membedakan video asli ataupun deepfake?
05:52Oke, terima kasih, Mbak. Langsung aja ya.
05:55Jadi ada dua teknik ya, Mbak.
05:57Yang satu ini kita biasanya menyebutnya sebagai analisa visual.
06:01Jadi ini manual observasi ya,
06:03menggunakan mata telanjang melihat satu buah kenyataan gitu.
06:06Yang kedua ini bahasanya dengan digital forensik, Mbak.
06:10Saya bahas yang pertama dulu ya, analisa visual gitu.
06:13Yang dilihat yang pertama adalah gerakan wajahnya natural atau enggak.
06:17Kedipuan mata, misalnya sinkronisasi bibir.
06:19Yang kedua kali artifact pada wajah.
06:22Blur atau enggak ya.
06:23Kemudian juga artifact pada lingkungan, Mbak.
06:26Nanti akan saya linkkan dengan video pada saat pidato Benyamin Tanyahu ya,
06:31tanggal 13 Maret yang lalu.
06:32Kemudian yang ketiga ini keinkonsistenan detail.
06:35Tadi sudah disampaikan ya, ada tangan atau jari yang aneh tiba-tiba jadi enam misalnya.
06:40Ya, walaupun ini bisa diperdebatkan gitu.
06:42Kemudian yang keempat biasanya disebutnya sebagai,
06:45dari sisi pencahayaan ini bagaimana, konsisten atau tidak gitu.
06:49Nah, dari sisi analisa visual ya,
06:52walaupun kadang-kadang orang bisa mempercayainya ya, Mbak ya.
06:57Walaupun ini kadang-kadang ada kelemahannya ya.
06:59Contoh misalnya di video Benyamin Tanyahu,
07:01yang baru saja ditayangkan juga dengan yang di cafe tadi ya.
07:04Saya yang pidato Benyamin Tanyahu dulu.
07:06Satu adalah giginya seketika dia maju gitu misalnya.
07:10Yang kedua kali hoardingnya bergerak-gerak berulang.
07:12Itu kalau di ruang-ruang yang profesional,
07:15ada AC-nya, hoardingnya biasanya fix gitu.
07:19Yang berikutnya lagi ada jari gitu,
07:21ada keanehan lah gitu.
07:23Tapi ini bisa diperdebatkan ya, Mbak Cynthia ya.
07:26Perdebatannya apa?
07:27Misalnya ada keanehan dari sudut kamera,
07:30pencahayaannya nggak tepat gitu misalnya.
07:32Jadi ini kadang-kadang hanya bios optik saja gitu.
07:36Ini mereka-mereka yang berargumentasi.
07:38Oke, kalau dari video yang...
07:39Jadi video itu seperti demikian.
07:41Pak Teddy, kalau dari video saat Netanyahu meminum kopi,
07:46ada kejanggalankah yang Anda lihat?
07:49Lalu secara singkat,
07:51apakah Anda menilai video ini asli atau deep fake?
07:57Oke, baik Mbak.
07:59Jadi kejanggalannya banyak ya.
08:01Saya kira sudah tersebar di X juga gitu.
08:04Itu waktu diminum,
08:06luber gitu ya.
08:07Tapi nggak tumpah gitu.
08:09Setelah gitu, setelah diminum,
08:10airnya tidak kurang juga gitu.
08:12Itu satu ya Mbak.
08:12Tapi kan bisa saja itu frost atau busa kopi?
08:14Kelemahan.
08:15Ya, kopinya tidak tumpah gitu.
08:18Yang berikutnya lagi,
08:19tangannya pada masuk ke dalam kantung,
08:21itu ada glins gitu.
08:22Ada beberapa piksel yang bergeser.
08:25Kemudian berikutnya lagi.
08:27Pada saat Netanyahu-nya berbicara,
08:29di belakang itu ada wall, ada dinding.
08:31Dinding yang pertama itu di frame tertentu
08:33ada titik hitam gitu.
08:34Tapi selang sebentar dia bergeser,
08:36kembali lagi titik hitamnya hilang.
08:38Ini tanda-tanda bahwa ini sebenarnya degenerate gitu.
08:40Ada satu lagi yang lebih krusial.
08:42Pada saat Netanyahu berbicara,
08:44ada lawan kawannya yang berbicara.
08:46Sebelah kirinya ya Mbak ya,
08:47laki-laki berbicara.
08:48Ada handphonenya.
08:49Handphonenya itu kalau di-capture,
08:51ada gambar video.
08:52Di mana sudut ambil gambarnya,
08:54itu tidak sesuai dengan yang realnya dari video tersebut gitu.
08:58Sehingga toples warnanya pun berbeda.
09:00Ini juga dari sisi kejanggalan image ya,
09:06dari frame yang ada gitu.
09:07Tetapi,
09:08lagi-lagi ini kan image ya,
09:10jadi saya bisa sampaikan,
09:12kemungkinan besar,
09:13ini adalah buatan dari artificial intelligence gitu.
09:17Artinya Anda juga bisa ingin mengatakan bahwa,
09:21apa yang terjadi antara Iran,
09:23Israel,
09:24dan juga Amerika Serikat ini,
09:26tidak hanya perang secara nyata,
09:29tapi juga propaganda digital?
09:31Ya, betul sekali.
09:33Jadi kalau kita bicara perang ya Mbak ya,
09:36itu kan ada perang fisik dengan perang cyber gitu ya.
09:39Perang cyber,
09:40biasanya kita bilangnya cyber warfare gitu.
09:42Nah, kondisi seperti sekarang ini,
09:43kita bilangnya barangkali hybrid warfare.
09:46Yaitu kombinasi antara militer konvensional war gitu,
09:50dengan cyber,
09:52yang berkaitan dengan informasi,
09:53dengan politik,
09:54dengan berbagai proksinya gitu.
09:55Biasanya meningkat ke level berikutnya lagi,
09:57yang sebenarnya terjadi nih,
09:59setelah hari ke-17 ya Mbak ya,
10:01yaitu cognitive warfare.
10:03Jadi yang diserang adalah persepsi,
10:05opini,
10:05dan cara berpikir masyarakat.
10:07Kemudian juga,
10:08kadang-kadang masuk ke bagian dari cognitive warfare,
10:11yaitu information warfare.
10:13Manipulasi informasi,
10:14propaganda,
10:15ya disinformasi.
10:16Nah, ini juga,
10:17dan kadang-kadang seperti tadi itu,
10:20waktu Benyaminatanyahu di kafe,
10:22beberapa tersebar juga di X,
10:24tiba-tiba pimpinan negara lain,
10:25tiba-tiba wajahnya berubah.
10:27Menjadi yang bersangkutan,
10:28bukan lagi Benyaminatanyahu gitu,
10:30saya tidak sebut namanya.
10:31Kemudian dia juga,
10:32apa namanya,
10:33menyampaikan hal yang sama.
10:34Ini juga bagian dari cognitive warfare,
10:37yang tujuannya adalah,
10:39barangkali untuk psychological warfare ya Mbak,
10:41yang menjatuhkan psikologi lawan gitu.
10:43Tapi Pak Teddy,
10:44apakah memungkinkan untuk melacak siapa pembuatnya aktor dari deepfake ini?
10:51Biasanya bisa terdeteksi tidak?
10:54Ya.
10:56Jadi, di dalam mendeteksi siapa yang membuat,
10:58ini mulai ke ranah berikutnya Mbak,
11:00yang kita sebut sebagai digital forensik nih.
11:02Nah, di dalam digital forensik itu,
11:04ada beberapa,
11:06apa namanya,
11:07pentahapan ya Mbak.
11:08yang satu namanya visual inspection.
11:11Yang berikutnya lagi ada frame analysis gitu.
11:14Yang ketiga kali ada metadata.
11:15Nah, metadata ini bisa kita lihat,
11:17ini datang dari siapa,
11:18pernah diubah oleh siapa saja.
11:20Baru ke defect videonya,
11:22kemudian voice-nya Mbak,
11:23generated voice-nya seperti apa.
11:25Dan kemudian biasanya banyak sintetik media,
11:27ini yang palsu mengisi gap gitu.
11:30Nah, ini banyak tools yang digunakan.
11:32Mbak Sintia,
11:34kami juga ini sebenarnya melakukan beberapa testing ya,
11:37terhadap video yang ada dua,
11:39yang barusan kita bahas,
11:40yang tadi dibahas oleh Kompas TV tuh.
11:42Yang satu yang video penyaminan tanyahu,
11:45yang satunya lagi adalah,
11:46pada saat di kafe gitu.
11:48Apakah mau saya sampaikan hasil analisa kami nih Mbak?
11:51Boleh, boleh singkat saja Pak Teddy, silahkan.
11:54Singkat saja ya, oke.
11:55Jadi ada dua ya,
11:56Bapak Saudara sekalian,
11:58para pemirsa Kompas TV.
12:00Jadi, satu hasil analisa dari tim Fransi kami.
12:04Jadi di dalam video tersebut,
12:07itu ada teks-teks yang berada di background,
12:09itu terlihat 99 persen meyakinkan,
12:12bahwa memang gambar tersebut teksnya asli nih,
12:14tulisannya memang ada gitu.
12:15Artinya dimaksud ke dalam video ada teksnya.
12:17Yang kedua, overlaying.
12:19Overlaying ini artinya ada beberapa gambar-gambar tertentu,
12:23yang saling ditumpuk gitu ya,
12:24supaya jadi satu gambar-gambar tertentu.
12:27Ini 90 persen poinnya.
12:29Kemudian berikutnya lagi,
12:30dari sisi berseberapa natural gambarnya gitu,
12:34keasliannya.
12:34Ada gambar benyamin Netanyahu di sana.
12:37Ini dari sisi perhitungan kami ini,
12:41bisa dibilang 51 persen betul ya Mbak ya.
12:44Oke.
12:45Nah, bahwa gambar tersebut,
12:46gambar Netanyahu-nya betul,
12:48gambar Netanyahu-nya.
12:49Tapi kalau nanti ada gambar animasi,
12:52ini animasinya 47 persen.
12:54Oke.
12:54Jumlah kesimpulannya adalah,
12:56bahwa gambar tersebut,
12:57Baik, terima kasih Pak Tedy.
12:58Ini 98 persen ini fake.
13:01Oke.
13:01Yang 2 persen ini,
13:03Baik Pak Tedy.
13:03Gambar tersebut adalah gabungan dari elemen nyata dan animasi.
13:06Baik.
13:07Meskipun,
13:08ya Mbak,
13:08satu poin sedikit ini,
13:10ada singkat saja.
13:11Baik.
13:11Kami menggunakan cloud AI gitu.
13:14Baik.
13:15Ini agak unik.
13:16Baik.
13:17Terima kasih Pak Tedy Mantoro,
13:19pakar artificial intelligence
13:21atau akal imitasi dari School of Computer Science,
13:24Nusa Putra University.
13:25Terima kasih Pak Tedy.
13:32Saudara tetap bersama kami di Sapa Indonesia.
Komentar