Lewati ke pemutarLewatkan ke konten utama
KOMPAS.TV - Israel menyerang Teheran, ibu kota Iran, pada Sabtu (28/2/2026) pagi waktu setempat.

Ledakan terdengar di beberapa titik di Teheran. Sirene meraung saat serangan Israel menghantam Teheran, Sabtu pagi.

Media Iran, Islamic Republic News Agency, melaporkan lokasi ledakan dekat dengan Universitas Teheran. Sementara media lain di Iran, Fars News Agency, melaporkan sejumlah rudal menghantam area Joumhouri dan universitas yang dekat dengan kantor pemimpin tertinggi Iran.

Serangan ini terjadi pasca perundingan fase kedua antara Iran dan Amerika Serikat berakhir tanpa kesepakatan.

Sabtu waktu setempat, Iran menyerang markas Komando Armada Amerika Serikat Ke-5 di Kota Al-Manama, Bahrain. Kepulan asap hitam membumbung akibat serangan tersebut. Markas Komando AS di Bahrain ini berperan mengamankan jalur pelayaran di sekitar Timur Tengah yang kaya minyak.

Iran juga melancarkan serangan balasan ke Uni Emirat Arab. Pertahanan Uni Emirat Arab mencegat sejumlah rudal Iran di langit Abu Dhabi pada Sabtu siang waktu setempat. Kementerian Pertahanan Uni Emirat Arab melaporkan satu orang tewas dalam serangan ini.

Kita bahas lebih dalam serangan Amerika Serikat dan Israel ke Iran bersama Guru Besar Hukum Internasional Universitas Indonesia, Hikmahanto Juwana.

Sahabat KompasTV, Mulai 1 Februari 2026 KompasTV pindah channel. Dapatkan selalu berita dan informasi terupdate KompasTV, di televisi anda di Channel 11 pada perangkat TV Digital atau Set Top Box. Satu Langkah lebih dekat, satu Langkah makin terpercaya!

Baca Juga [FULL] Memanas! Pakar Strategi PPAU: Iran Lancarkan Serangan Balasan ke Pangkalan Udara Israel di https://www.kompas.tv/internasional/653718/full-memanas-pakar-strategi-ppau-iran-lancarkan-serangan-balasan-ke-pangkalan-udara-israel

#iran #israel #as #perang #rudal

Artikel ini bisa dilihat di : https://www.kompas.tv/internasional/653723/full-pakar-hukum-internasional-soal-pemicu-serangan-as-israel-ke-iran-di-tengah-negosiasi
Transkrip
00:02Saudara, kita bahas lebih dalam soal serangan Amerika Serikat dan Israel ke Iran bersama Guru Besar Hukum Internasional Universitas Indonesia,
00:13Hikmahanto Juwana.
00:14Selamat malam Prof. Hikmahanto.
00:16Selamat malam Audrey.
00:18Prof, ini kan di tengah berlangsungnya perundingan dan juga negasiasi. Apa sih sebenarnya pemicu serangan Amerika Serikat dan Israel ke
00:25Iran?
00:26Jadi pemicunya, dugaan saya adalah Presiden Trump sudah tidak sabar karena mungkin Iran dianggap mengelurur waktu untuk menyepakati.
00:38Terkait dengan kesepakatan yang dibuat, intinya adalah agar Iran tidak mengembangkan uranium senjata nuklir
00:47dan kemudian Iran meminta Amerika Serikat untuk mencabut embargonya dan tentu membolehkan Iran untuk mempunyai nuklir tapi untuk tujuan damai.
01:01Nah ini kelihatannya tidak tercapai, sehingga beberapa jam yang lalu Presiden Trump kelihatannya berinteraksi dengan Perdana Menteri Netanyahu
01:14karena Netanyahu juga yang mendorong agar Presiden Amerika Serikat melupakan negosiasi dan langsung melakukan serangan ke Iran.
01:23Nah namun Trump sepertinya menganggap bahwa tidak memiliki basis yang kuat apabila Amerika Serikat yang melakukan serangan
01:31sehingga dia meminta kepada Netanyahu untuk melakukan serangan terlebih dahulu.
01:36Nah Netanyahu menyerang dengan alasan bahwa ini merupakan preemptive strike, jadi serangan sebelum diserang
01:44karena ada dugaan menurut Israel bahwa Iran sedang mengembangkan senjata nuklir untuk menyerang Israel.
01:53Nah oleh karena itu preemptive strike ini diluncurkan pagi tadi oleh Israel, lalu kemudian ada balasan dari Iran
01:59dan disinilah kemudian Amerika Serikat masuk karena ada perjanjian keamanan antara Amerika Serikat dengan Israel
02:07yang intinya seperti pasal 5 dari NATO yaitu serangan terhadap Israel itu merupakan serangan terhadap Amerika Serikat.
02:14Dan sekarang kita lihat bahwa Israel dan Amerika Serikat melakukan serangan ke Iran
02:20sementara Iran selain menyerang ke Israel, dia juga menyerang ke pangkalan-pangkalan militer yang ada di Timur Tengah.
02:28Ini apa yang dibacanya Prof ketika saling serang nih sekarang ini?
02:32Ya, yang bagi Amerika, maaf, bagi Iran yang penting adalah menyerang pangkalan militer
02:39sehingga Amerika Serikat tidak punya apa namanya basis untuk menerbangkan pesawat-pesawat tempurnya
02:48pesawat-pesawat yang akan mengangkut mungkin prajuritnya untuk diterjunkan ke Iran.
02:52Karena yang ada sekarang adalah kapal-kapal induk, memang kapal induk bisa meluncurkan rudal dan lain sebagainya
03:00dan juga bisa menerbangkan pesawat.
03:03Tapi yang dikhawatirkan oleh Iran adalah kalau pangkalan-pangkalan dari negara-negara Arab
03:10itu digunakan oleh Amerika Serikat untuk melakukan serangan ke Iran.
03:15Karena itu lebih bisa dijamin keakuratan dan kemudian juga soal bahan bakar dan lain sebagainya
03:25itu bisa lebih efisien daripada di kapal induk seperti itu.
03:29Oke, Prof. Ketika Israel dan Amerika menyerang Iran, sebenarnya lebih berat yang mana ketika tadi?
03:34Ingin agar Iran ini tidak punya senjata nuklir atau ngincar pemimpin Iran itu sendiri, Kameni?
03:41Nah, sekarang kalau saya lihat, sebenarnya kalau Amerika Serikat mengkhawatirkan terhadap warganya
03:48yang mungkin akan terdapat dengan senjata nuklir ataupun tindakan dari, menurut Presiden Trump,
03:57tindakan radikal dari kepemimpinan dari Ayatollah terhadap warga Amerika Serikat.
04:02Nah, sementara kalau Israel, dan ini kemudian saya rasa disetujui oleh Amerika Serikat,
04:08menghendaki agar pemusnahan terhadap senjata nuklir, dan yang kedua adalah pada ujungnya
04:14mengganti kepemimpinan di Iran. Nah, karena apa?
04:18Karena menurut Israel, bahwa setelah tahun 79, setelah berkuasanya Syahiran,
04:26maka Iran sudah berubah dari kepemimpinannya itu, yang tadinya bersahabat dengan Israel,
04:32menjadi negara yang bermusuhan dengan Israel.
04:36Dan Israel tahu bahwa senjata nuklir yang dikembangkan oleh Iran, itu sebenarnya ditujukan untuk Israel.
04:43Sehingga Israel punya kepentingan untuk membinasakan itu, dan kemudian mengganti kepemimpinan di Iran.
04:50Nah, ini yang sekarang ada anaknya Syahiran, Reza Palevi, yang dia sudah mengatakan bahwa,
04:59kalau saya nanti bisa kembali ke Iran dan memimpin Iran, maka tiga hal yang akan dia lakukan.
05:05Pertama adalah, dia akan memperbaiki hubungan dengan Amerika Serikat dan Israel.
05:10Yang kedua adalah, dia akan menghentikan berbagai kegiatan yang berkaitan dengan pengembangan uranium dan senjata nuklir.
05:19Dan yang ketiga adalah, dia tidak akan lagi membantu proksi-proksi yang selama ini dibantu oleh Iran,
05:27yaitu Hamas, Hezbollah, dan Houthi, untuk menyerang Israel.
05:30Jadi seperti itu.
05:31Ketika Israel dan Amerika sama-sama bersekutu, apakah juga sekutu-sekutu di Iran juga akan membantu Iran,
05:37dan apakah ada dan apa dampak globalnya yang lebih besar lagi, Prof, yang ditakutkan?
05:43Ya, yang pasti beberapa hari yang lalu, atau beberapa hari yang lalu,
05:48dari pihak Rusia sudah mempunyai kesepakatan dengan Iran untuk memutahirkan rudal-rudal Iran.
05:53Nah, ini yang tentu menjadi khawatir, apakah Rusia akan masuk dan terlibat dalam peperangan ini.
06:01Karena kalau sekarang ini kan tidak imbang ya, antara Israel dengan Amerika Serikat dan Iran sendiri.
06:08Nah, ini yang kita tidak tahu akan seberapa jauh Rusia akan turut dalam perang ini dan mendukung Iran.
06:16Dan yang kedua yang kita perlu khawatirkan adalah, walaupun ini jauh, yaitu Korea Utara.
06:22Karena Korea Utara itu, dia akan siap untuk berperang kalau ada Amerika di sana.
06:26Nah, ini yang kita juga harus amati.
06:29Sementara kalau negara-negara sekutu Amerika Serikat,
06:32saya merasa bahwa mereka tidak akan mendukung tindakan yang dilakukan oleh Amerika Serikat.
06:38Karena selain ada hubungan yang kurang baik dengan Amerika Serikat,
06:43negara-negara Eropa ini terkait dengan Green Line, terkait dengan tarif yang dikenakan terhadap sekutu-sekutunya,
06:51dan juga masalah BOP.
06:53Maka mereka tidak akan dukung dan mereka justru akan mengutuk mungkin tindakan dari Israel
07:01yang sudah melakukan serangan awal ke Iran dan kemudian juga dibantu oleh Amerika Serikat.
07:09Seperti itu.
07:09Rauf, ini kan baru saja kami dapatkan informasi bahwa direncanakan Presiden Prabowo siap untuk menjadi fasilitator.
07:15Apakah ini kemudian perlu gitu diperlukan untuk sesegera mungkin Presiden kita menjadi fasilitator bagi kedua negara yang berkonflik saat ini?
07:23Kalau saat sekarang sepertinya belum diperlukan ya, karena saat sekarang perang itu sudah meletus.
07:29Jadi saat sekarang ini sudah meletus dan kemudian saling serang sudah dilakukan.
07:34Nah, nanti kalau misalnya perang ini masih terus berlangsung dalam beberapa waktu ke depan,
07:41memang mungkin saja Presiden kita menjadi mediator untuk apa?
07:45Untuk menyelamatkan muka dari pihak-pihak yang berperang.
07:49Karena mungkin dari Amerika tidak mendapat dukungan dari rakyatnya,
07:54mungkin saja seperti itu Israel juga terus diserang oleh Iran,
07:58dan Iran juga sudah mendapat serangan.
08:01Sehingga mereka perlu untuk keluar dari situasi ini,
08:05tetapi kalau mereka bilang bahwa saya menyerah, mereka tidak akan mau.
08:08Oleh karena itu penting ada pihak ketiga yang mencoba untuk menyelamatkan muka.
08:15Nah, yang kedua harusnya Bapak Presiden mulai sekarang sudah harus berkontak dengan chairman dari BOP.
08:21Karena kita sudah jadi anggota BOP.
08:23Kalau misalnya tidak dilakukan ini, maka yang kita khawatirkan adalah BOP itu tidak ada manfaatnya.
08:30Dan baiknya ya kita keluar saja dari situ.
08:33Oke, sudah kita tangkap pesannya.
08:34Tapi yang pasti adalah semoga ada deal-deal yang kemudian tidak membuat perang ini atau serangan-serangan ini lebih besar
08:44lagi.
Komentar

Dianjurkan