00:00Terima kasih Anda masih bersama kami di Jurnal Nusantara.
00:04Perayaan Imlek di Gria Kongcob di Wipayana atau Tanah Kilap dan Pasar Bali mencerminkan kuatnya toleransi antar umat beragama yang
00:12terjaga sejak ratusan tahun.
00:14Pasalnya, satu hari sebelum Imlek bertepatan dengan Hari Raya Tilem Umat Hindu di Bali.
00:20Ini menambah makna spiritual dalam rangkaian, persembayangan, serta menguatkan akulturasi budaya.
00:30Suasana hikmat perayaan Tahun Baru Imlek terlihat di Gria Kongcob di Wipayana atau yang dikenal sebagai Tanah Kilap saat umat
00:39dari berbagai latar belakang hadir untuk melakukan persembahyangan bersama.
00:44Perayaan Imlek 2577 di kawasan ini menegaskan kuatnya nilai toleransi dan akulturasi budaya yang telah terjaga selama berabad-abad,
00:55di mana unsur Hindu, Buddha, dan tradisi Tionghoa menyatu dalam satu ruang persembahyangan.
01:03Kawasan Tanah Kilap diakini menyimpan jejak perpaduan budaya sejak 500 tahun silam,
01:09ditandai penemuan batu beraksara Cina di depan Pura Candi Narbade,
01:14serta kehadiran 31 titik persembahyangan yang dapat digunakan semua umat tanpa pembatasan.
01:21Pengelingsir Kongcob bilang persembahyangan di Tanah Kilap tidak hanya diikuti umat Hindu,
01:27namun juga dihadiri umat dari berbagai kepercayaan yang datang untuk berdoa dan mencari ketenangan batin.
01:35Simbol Kongcob ini simbol al-kurasi budaya, di mana berbaunya budaya Bali, budaya Cina.
01:44Dan tanpa dia ada rasa beda, apakah ini orang Cina atau orang Bali,
01:50tapi kesini dengan tujuan satu, mencari damai dan bersujur mencari damai.
01:54Selain itu, menjelang perayaan Imlek,
01:57suasana persembahyangan juga bertepatan dengan Hari Raya Tilem, khusus bagi umat Hindu,
02:02yaitu hari suci dalam penanggalan Hindu saat bulan berada pada fase gelap atau bulan mati,
02:09yang dimaknai sebagai momen penyucian diri, serta pengendalian pikiran dan perbuatan.
02:15Jadi karena Tilem, kita sebagai umat Hindu kan mengandung aliran siwa.
02:19Jadi kita sembahyang di sini, karena ini konsernya siwa budaya.
02:23Nah, budaya besok, ya di Imlek.
02:27Nah, jadi mengandung sistem siwa budaya kita.
02:31Makanya kita harus cari menghormati siwa dan budaya,
02:33karena dari dulu memang agama pertama sekali kan memang siwa budaya.
02:36Itu aja sih konsep kita, makanya kita percaya
02:39kuncu adalah salah satu bagian dari Hindu juga.
02:43Itu aja sih yang menurut kita.
02:45Ya, mudah-mudahan hari-hari ini nenek moyangnya, leluhurnya pada turun semua,
02:49ngasih berkah pada anak cucunya.
02:53Keharmonisan yang terpancar dari suasana persembahyangan di Kongco, Dwi Payana, Tanah Kilap,
02:58menjadi pengingat bahwa perbedaan dapat dirajut dalam toleransi dan kebersamaan,
03:04menjaga warisan akulturasi budaya agar tetap hidup di tengah perkembangan zaman.
03:11Kadek Santosa, Putu Farah, Kompas TV, dan Pasar Bali.
03:17Perayaan malam tahun baru Imlek tentunya berlangsung hikmat dengan perpaduan budaya di Bali.
03:23Bagaimana jalannya perayaan Imlek di Tanah Kilap, Bali?
03:26Kita akan bahas bersama Humas Geria Kongco, Dwi Payana, Juru Ayu Waden dari Denpasar, Bali.
03:33Bu Ayu, selamat pagi Bu Ayu.
03:37Sebelumnya kami mengucapkan selamat tahun baru Imlek, Bu.
03:41Bagaimana jalannya persembahyangan di sana di tahun kuda api ini, Bu?
03:47Ya, terima kasih, Pak Bapak.
03:50Jalannya persembahyangan di sini ya di tahun kuda api ini,
03:54seperti biasa di sini sangat meriah tentunya.
03:56Dari sebelum pera dan sampai ke belas perayaan itu sendiri,
04:02kita selalu memeriahkan dengan acara-acara di sini.
04:08Baik, Bu Ayu, berada di tengah budaya.
04:11Menariknya kan ada akultrasi atau budaya antar warga.
04:15Bagaimana, Bu, di sana jalannya?
04:19Oh ya, terima kasih.
04:21Kalau masalah itu ya, kita adanya perbedaan itu membuat kita tuh semakin dekat.
04:28Ada toleransi itu.
04:30Karena kita ada perbedaan di sini, itulah makanya kenapa kita,
04:35kongco kita ini berada di tengah-tengah tempat persembahyangan umat kunduh.
04:41Yaitu kongco kita di sini ada peribadatan orang yang datang ke sini bersembahyang,
04:47bukan hanya Tionghoa aja.
04:49Umat kunduh pun datang ke sini bersembahyang.
04:51Karena kita di sini, kepercayaan kita sendiri adalah kunduh budaya.
04:57Baik, Bu Ayu, mungkin bisa diceritakan kepada kami lagi bagaimana tata caranya,
05:03seberapa hikmatnya, Bu.
05:04Supaya kami juga bisa tergambarkan bagaimana akultrasi yang terjadi di sana.
05:10Iya, terima kasih ya, Tata.
05:12Kalau untuk tata cara persembahyangan itu sendiri,
05:16kita melakukannya di sini dengan bermacam ya.
05:19Ada perbedaan ya.
05:21Ada dengan memakai dupa, dengan memakai bunga-bunga,
05:26ataupun kita di sini menyebutnya sanang itu.
05:30Kita membuat janur dan bunga, di atasnya janur kita ada bunga.
05:35Dan ataupun kalau umat Tionghoa datang ke sini bersembahyang,
05:39boleh dengan sungsem, istilahnya boleh.
05:42Boleh, karena kita di sini itu bebas melakukan persembahyang ya.
05:46Yang penting, intinya kita punya niatan yang tulus untuk datang bersembahyang ya.
05:51Bukan hanya Tionghoa aja datang, kita hindu juga datang ke sini untuk bersembahyang.
05:57Dan di sini kita memiliki, maaf ya, saya terangkan sedikit.
06:02Kita memiliki tempat yang spesial di sini, di tempat Tujudewi.
06:06Kita melakukan persembahyangan pertama di sini.
06:08Di sini ada, kita memiliki simber air sisi.
06:13Yang di sini terus datang dari, keluar dari bumi sendiri ya, tanpa dibuat.
06:21Ini sudah ada dari pertama awal Tionghoa ini di sini.
06:26Ini spesialnya dari Tionghoa kita di sini.
06:29Oke, baik. Bu Ayu juga kan ini sesuatu yang unik dan menarik.
06:34Bagaimana kalau misalnya respon dari wisatawan, kita mengingat kalau Bali adalah destinasi wisata di Indonesia ini, Bu?
06:42Iya, terima kasih banyak.
06:44Kalau untuk respon wisatawan sendiri ya, selama saya di sini melakukan diri di sini,
06:50sudah banyak para wisatawan yang datang ke sini,
06:54baik dengan pengen tahu ya, atau berkunjung,
06:57baik dengan mereka melakukan persembahyangan,
07:00dan bahkan ada beberapa dari mereka itu sudah melakukan, sering melakukan medikasi di sini.
07:06Intinya, yang penting mereka datang ke sini dengan niat yang cindus,
07:11penampilan, atau yang sopan.
07:14Karena kita di sini untuk wisatawan itu, kita mengganti selendam untuk kita.
07:20Oh, baik.
07:21Baik.
07:22Bu Ayu, yang terakhir,
07:24Apa harapan di tahun kuda api ini, mungkin supaya akulturasi tetap terjaga, dan lain-lain?
07:32Iya, terima kasih.
07:33Untuk harapan saya ya, waktu itu,
07:36seperti yang Mbak Tata bilang,
07:38agar terjaga ya, akulturasi kita ini ke depannya,
07:43semakin baik lagi.
07:45Kita jaga,
07:45dan kita akan berusaha membuat hubungan dengan sekitar di sini, semakin baik.
07:55Baik, terima kasih Bu Ayu Waden,
07:57Humas, Geria, Kongco, Dwi Payana.
08:00Sekali lagi, selamat merayakan Tahun Baru Imlek.
Komentar