- 6 minggu yang lalu
- #bunuhdiri
- #siswa
- #siswasd
- #ntt
NGADA, KOMPAS.TV - Polda NTT mendalami motif dugaan bunuh diri siswa SD di Kabupaten Ngada.
Polisi telah mendatangi keluarga korban dan memberi pendampingan psikologis.
Dari hasil penyelidikan awal, siswa kelas empat yang diduga bunuh diri di Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur itu sempat minta dibelikan buku dan pulpen kepada ibunya. Permintaan itu tidak terpenuhi karena sang ibu tidak memiliki uang.
Siswa tersebut diduga menulis surat perpisahan kepada ibunya sebelum mengakhiri hidup.
Polda NTT sudah mengirimkan psikolog dan konselor untuk memberikan pendampingan kepada keluarga.
Terkait kasus siswa SD yang diduga bunuh diri di Kabupaten Ngada, setelah sebelumnya dikabarkan orang tuanya tak mampu membelikan alat tulis, Gubernur NTT Melkiades Laka Lena mengakui pemerintah gagal menjaga warganya. Ia berharap seluruh pihak di NTT mencegah agar kejadian serupa tak terulang lagi.
Kita akan membahasnya bersama Bupati Ngada, Nusa Tenggara Timur Raymundus Bena, dan psikolog anak Vera Itabiliana.
Sahabat KompasTV, Mulai 1 Februari 2026 KompasTV pindah channel. Dapatkan selalu berita dan informasi terupdate KompasTV, di televisi anda di Channel 11 pada perangkat TV Digital atau Set Top Box. Satu Langkah lebih dekat, satu Langkah makin terpercaya!
Baca Juga KPAI Minta Polisi Dalami Kematian Siswa SD di NTT, Soroti Dugaan Bullying dan Pola Asuh di https://www.kompas.tv/nasional/648570/kpai-minta-polisi-dalami-kematian-siswa-sd-di-ntt-soroti-dugaan-bullying-dan-pola-asuh
#bunuhdiri #siswa #siswasd #ntt
Artikel ini bisa dilihat di : https://www.kompas.tv/regional/648602/full-bupati-ngada-dan-psikolog-anak-soal-kasus-siswa-sd-di-ngada-diduga-bunuh-diri-sapa-malam
Polisi telah mendatangi keluarga korban dan memberi pendampingan psikologis.
Dari hasil penyelidikan awal, siswa kelas empat yang diduga bunuh diri di Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur itu sempat minta dibelikan buku dan pulpen kepada ibunya. Permintaan itu tidak terpenuhi karena sang ibu tidak memiliki uang.
Siswa tersebut diduga menulis surat perpisahan kepada ibunya sebelum mengakhiri hidup.
Polda NTT sudah mengirimkan psikolog dan konselor untuk memberikan pendampingan kepada keluarga.
Terkait kasus siswa SD yang diduga bunuh diri di Kabupaten Ngada, setelah sebelumnya dikabarkan orang tuanya tak mampu membelikan alat tulis, Gubernur NTT Melkiades Laka Lena mengakui pemerintah gagal menjaga warganya. Ia berharap seluruh pihak di NTT mencegah agar kejadian serupa tak terulang lagi.
Kita akan membahasnya bersama Bupati Ngada, Nusa Tenggara Timur Raymundus Bena, dan psikolog anak Vera Itabiliana.
Sahabat KompasTV, Mulai 1 Februari 2026 KompasTV pindah channel. Dapatkan selalu berita dan informasi terupdate KompasTV, di televisi anda di Channel 11 pada perangkat TV Digital atau Set Top Box. Satu Langkah lebih dekat, satu Langkah makin terpercaya!
Baca Juga KPAI Minta Polisi Dalami Kematian Siswa SD di NTT, Soroti Dugaan Bullying dan Pola Asuh di https://www.kompas.tv/nasional/648570/kpai-minta-polisi-dalami-kematian-siswa-sd-di-ntt-soroti-dugaan-bullying-dan-pola-asuh
#bunuhdiri #siswa #siswasd #ntt
Artikel ini bisa dilihat di : https://www.kompas.tv/regional/648602/full-bupati-ngada-dan-psikolog-anak-soal-kasus-siswa-sd-di-ngada-diduga-bunuh-diri-sapa-malam
Kategori
🗞
BeritaTranskrip
00:00Intro
00:00Terima kasih yang masih bersama kami di Sapa Indonesia malam, saya Sintia Rompas.
00:11Saudara Polda NTT mendalami motif dugaan bunuh diri siswa SD di Kabupaten Ngada.
00:17Polisi telah mendatangi keluarga korban dan memberi pendampingan psikologis.
00:22Dari hasil penyelidikan awal, siswa kelas 4 yang diduga bunuh diri di Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur,
00:28sempat minta dibelikan buku dan pulpen kepada ibunya.
00:33Permintaan itu tidak terpenuhi karena sang ibu tidak memiliki uang.
00:38Siswa tersebut diduga menulis surat perpisahan kepada ibunya sebelum mengakhiri hidup.
00:44Polda NTT sudah mengirimkan psikolog dan konselor untuk memberikan pendampingan kepada keluarga.
00:52Kita sudah mengirim juga psikolog, mampu konselor.
00:55Untuk sementara dari hasil penyelidikan awal, dari hasil olah TKP, demikian.
01:05Tentang ada kecewaan atau ya kita masih tidak dalami lagi.
01:10Info yang pertama dari hasil olah TKP, laporan yang saya terima dari anggota di lapangan, khususnya Polis Ngada, demikian.
01:17Terkait kasus siswa SD yang diduga bunuh diri di Kabupaten Ngada,
01:23setelah sebelumnya dikabarkan orang tuanya tidak mampu membelikan alat tulis,
01:28Gubernur NTT Melkiades Lakalena mengakui pemerintah gagal menjaga warganya.
01:35Ia berharap seluruh pihak di NTT mencegah agar kejadian serupa tak terulang lagi.
02:05Nah untuk itu saya kira-kira sebarang dari tempat ini,
02:08para tempat ini, para tempat ini, para tempat ini, para tempat ini.
02:09Saya juga harus membelikan alat tulis di dunia sendiri.
02:12M ini cukup sedikit terlaki sudah.
02:15Saudara siswa sekolah dasar di Ngada NTT diduga mengakhiri hidup karena kecewa tidak mampu memiliki pulpen dan buku.
02:23Mengapa kisah memilukan ini bisa terjadi di Indonesia?
02:28Kita akan membahasnya bersama Bupati Ngada, Nusa Tenggara Timur, Raimundo Sbena, dan juga psikolog anak Vera Itabiliana.
02:37Selamat malam Pak Bupati, selamat malam Mbak Vera.
02:41Malam Mbak Sintia.
02:42Selamat malam Mbak Ibu Sintia.
02:45Selamat malam Pak Bupati, sejauh ini langkah apa yang sudah dilakukan dari Pemkap
02:50begitu mengetahui kasus dugaan bunuh diri terhadap yang persangkutan ini?
02:57Langkah pertama yang kita ambil, 4 hari kemarin, hari Minggu, saya langsung perintahkan Pak Asikda
03:06berjajaran terkait PMDP 3, Binas Pendidikan, untuk lokasi mencari tahu informasi
03:18berkait kematian anak tersebut.
03:24Dari informasi yang saya dapat, gambarannya, dan sudah saya laporkan kepada Pak Gubernur,
03:34saya kategori kan ada 3 kategori ya.
03:39Pertama, kehidupan seharian, yang kedua berkaitan dengan sekolah,
03:46dan yang ketiga, komunikasi terakhir terhadap ibu kandung.
03:54Berkaitan dengan kehidupan seharian ya,
03:57memang dari cerita, dari informasi yang didapatkan ini,
04:04anak ini anak bungsu, dan sejak kecil itu sudah ditinggalkan oleh bapaknya ya.
04:12Dan oleh karena itu, dalam situasi kondisi seperti itu,
04:15di umur 1 tahun 7 bulan, diadopsi oleh neneknya ya.
04:22Dan anak ini anak yang kelima ya.
04:24Ibu ini, untuk anak pertama dan anak kedua itu,
04:26bapaknya berbeda, terus anak ketiga, empat, lima ini,
04:30bapaknya juga satu, dan bapaknya ini sudah merantuk ke Kalimantan ya.
04:36Nah itu, terus dari situ ya,
04:40informasi yang didapatkan juga di sekolah,
04:43priang anaknya aktif, juga apa, baik, taat,
04:48memang sesekali terlambat sekolah,
04:50tapi secara keseluruhan itu positif.
04:53Secara prestasi?
04:54Nah prestasi semester 1 kemarin di kelas 4 itu,
04:58dia peringkat kelima.
05:00Ya, peringkat kelima.
05:01Jadi, saya rasa mungkin ya,
05:04bukan berarti kesimpulan yang sementara yang diambilkan oleh media ini,
05:10mungkin terlalu diniak seperti apa,
05:12kalau saya melihat masalah ini cukup kompleks ya.
05:15Lalu, sekedar untuk tidak bisa membeli buku dan ballpoint,
05:18saya rasa itu terlalu rendah lah buat masyarakat saya,
05:22buat ini ya, terlalu rendah ya.
05:24Ini cukup kompleks,
05:26sebenarnya cukup kompleks,
05:27pertama itu masalah mungkin juga ekonomi,
05:29yang kedua sosial,
05:31ya juga mungkin apakah nanti di sekolah itu situasinya seperti apa,
05:34ketika yang saya dapat informasi,
05:36kadang-kadang dia bawa bekal,
05:37bawa upi dari kebunnya itu tinggalan lindik ya.
05:40Apakah penerima di sekolah itu seperti apa,
05:42kan ini butuh penalaman ya.
05:44Baik, saya kan Mbak Vera.
05:46Mbak Vera, dari kasus ini,
05:48dari Anda sebagai psikolog anak,
05:51apa yang bisa Anda lihat dalam kasus ini?
05:54Apakah yang bersangkutan ini diduga bunuh diri,
05:59karena kemiskinan,
06:01atau karena rasa malu,
06:03tidak bisa membeli bulpen dan juga buku,
06:06atau justru karena tidak ada lingkungan yang bisa,
06:12apa ya,
06:13tidak kegagalan lingkungan lah,
06:16bisa dikatakan,
06:17untuk bisa mendeteksi adanya distress pada seorang anak?
06:22Oke, terima kasih Mbak Sintia.
06:25Semua ya,
06:26semua faktor mungkin berdampak ya.
06:29Tapi saya setuju dengan Pak Bupati,
06:31ini bukan hanya sekedar masalah,
06:33tidak bisa beli buku dan pena gitu,
06:36saya juga dapat informasi,
06:39bahwa sebetulnya anak ini punya gitu ya,
06:42pena dan buku gitu,
06:43jadi bukan cuma gara-gara tidak bisa beli buku dan pena,
06:47terus dia melakukan,
06:49apa namanya,
06:50bunuh diri ini.
06:51Ini tentu saja merupakan akumulasi,
06:54akumulasi dari apa yang terjadi selama kehidupan anak ini,
06:57gitu ya.
06:58Tekanan-tekanan psikologis,
07:00tekanan-tekanan dari,
07:02apa namanya,
07:03sekitarnya,
07:04itu akan berpengaruh pada,
07:05apa yang dia,
07:06putusan dia yang diambil pada beberapa hari yang lalu ya,
07:10untuk mengakhiri kehidupannya gitu ya.
07:12Nah,
07:12untuk seorang anak,
07:14tentu saja ide bunuh diri tidak datang begitu saja gitu ya.
07:17Pasti juga ada referensi yang dia lihat,
07:20yang bisa dia lihat di media,
07:22atau di lingkungan sekitar,
07:23pernah ada kejadian serupa,
07:24dan sebagainya,
07:25sehingga mendapatkan ide untuk melakukan yang sama.
07:27Nah,
07:28ini akumulasi ini kalau dilihat dari riwayat kehidupannya gitu ya,
07:32di mana ini anak terakhir gitu ya,
07:34terus dia ditinggal,
07:35apa,
07:36tinggal dengan neneknya,
07:37tidak bersama dengan ibunya gitu.
07:39Ini banyak,
07:40banyak,
07:40apa yang namanya,
07:41letupan-letupan emosi,
07:43atau beban-beban emosi,
07:44yang bisa saja ini mempengaruhi pada keputusan dia,
07:48untuk mengakhiri kehidupannya dia gitu ya.
07:50Tidak hanya semata-matakan masalah ekonomi gitu ya.
07:53Bisa saja yang paling mungkin berdampak adalah perasaan tidak diinginkan,
07:58perasaan tidak dicintai,
07:59perasaan tidak diperhatikan.
08:01Sehingga anak ini kehilangan maknanya dia di dalam hidup ini,
08:05saya apa gitu ya,
08:06nothing.
08:07Jadi bisa sampai keputusan seperti itu.
08:10Oke,
08:10Pak Bupati,
08:11tapi kalau dari data sementara,
08:14keluarga ini sebenarnya terdaftar sebagai keluarga yang menerima bantuan tidak?
08:18Singkat saja sebelum kita jeda.
08:20Untuk menerima bantuan,
08:24yang bersangkutan ini,
08:25ceritanya agak unik memang ya,
08:27suaminya itu dari kabupaten tetangga.
08:31Ya,
08:31tinggal di kabupaten tetangga.
08:33Setelah ditinggalkan oleh suaminya ke Kalimantan,
08:35merantau,
08:36dia balik ke kabupaten saya.
08:39Ya,
08:39tinggal di kabupaten saya,
08:41ya,
08:41dari sisi administrasi,
08:42masih terdaftar di kabupaten sebelah.
08:44Oke.
08:46Untuk bantuan si anak ini,
08:48walaupun masih terdaftar di sebelah,
08:50kita tetap menyediakan bantuan BIP.
08:53Ya,
08:53BIP.
08:54Mungkin saya tambah sedikit ya.
08:56Ya.
08:56Juga aku melihatnya,
08:57ketika burunya menyampaikan ya,
09:00ini ke ibunya,
09:01ayo nanti ke kabupaten untuk ngurus itu BIP,
09:05BIP.
09:05BIP.
09:06Nah,
09:06karena ini sampaikan ke ibunya,
09:08naiklah ke kabupaten,
09:10ke BRI,
09:11sampai di atas dilihat datanya,
09:13ternyata kabupaten di sebelah,
09:14akhirnya depending,
09:15saing.
09:15Oke.
09:16Pesan lagi ibu,
09:17lalu begitu,
09:18bu pulang nanti,
09:19minta surat keterangan dari kepala desa,
09:21ya,
09:21soal,
09:22surat keterangan,
09:24ya,
09:24keterangan tempat tinggal,
09:26gitu ya.
09:27Eh,
09:28juga,
09:29besoknya nggak diurus,
09:30malamnya anaknya tanya lagi,
09:32bu,
09:32kapan itu muridnya?
09:33Oh ya,
09:34nanti aku ada waktu ya.
09:35Mungkin,
09:35ya saya,
09:36pernah-pernah ibu kera tadi,
09:37jadi akumulasi-akumulasi benturan inilah,
09:39mungkin,
09:40psikologi sosial,
09:41apa semua,
09:42yang mungkin pada akhirnya dia,
09:43mengambil keputusan seperti itu.
09:46Jadi artinya,
09:47Anda mengakui,
09:48seperti yang disebutkan oleh Pak Gubernur,
09:50bahwa ada kendala administrasi.
09:52Tapi dijawab ya,
09:52usai jeda,
09:53tetap bersama kami di Sapa Indonesia malam.
09:55Seorang anak berusia 10 tahun,
10:08diduga mengakhiri hidupnya dengan cara bunuh diri.
10:12Lalu kita,
10:12seperti apa evaluasi yang akan dilakukan?
10:15Saya masih bersama dengan Bupati Ngada.
10:16Pak Raimundus,
10:18kalau tadi disebutkan oleh Pak Gubernur,
10:21bahwa mengakui ada kegagalan,
10:23ada pula kendala administrasi,
10:25lalu apa yang sebenarnya terjadi dalam sistem administrasi
10:29untuk memberikan bantuan kepada warganya?
10:32Apakah ada sistem jemput bola
10:34untuk memastikan bahwa warga yang seharusnya menerima bantuan
10:37sudah sepatutnya mendapatkan haknya?
10:42Ya,
10:44saya yukannya begitu.
10:47Saya rasa ini juga sebuah tamparan, koreksi.
10:50Sesungguhnya kita harus jemput bola,
10:54hal-hal administrasi itu tidak harus membatasi haknya untuk mendapatkan bantuan.
10:59Mbak Vera,
11:05kalau dari psikolog anak sendiri,
11:09sebenarnya untuk seorang anak laki-laki berusia 10 tahun
11:13dan juga bertempat tinggal yang bisa dikatakan di lokasi yang bisa dikatakan sederhana,
11:21sejauh mana seorang anak ini bisa memahami arti kematian
11:25dan apa yang menjadi penyebabnya ketika seorang anak memilih
11:30untuk mengakhiri hidupnya dengan cara yang tidak wajar?
11:35Oke,
11:36ini kan satu sebuah tragedi yang kompleks ya,
11:40Mbak Sintia.
11:41Jadi tidak hanya masalah ekonomi,
11:44tapi ini kan tadi seperti saya sampaikan,
11:45ini akumulasi gitu ya.
11:47Kalau dapat ide dari mana untuk bunuh diri,
11:51itu kalau kita bicara anak-anak sekarang,
11:54banyak sekali aksesnya yang bisa didapatkan gitu ya,
11:56dari media sosial,
11:58dari gadget mereka sendiri,
12:01itu banyak sekali ide-ide yang mengarah ke sana gitu ya,
12:06tentang kematian dan sebagainya.
12:07Apalagi kalau kita bicara anak laki-laki,
12:09usia 10 tahun,
12:10di mana ini usia sudah menjelang masuk pubertas gitu ya,
12:14di mana juga ada ketidakstabilan emosi gitu ya,
12:20butuh banyak didengarkan,
12:22butuh banyak dinamika yang terjadi,
12:24ada perubahan fisiknya juga gitu ya,
12:26yang dia memang mungkin bingung,
12:28tanpa ada bimbingan dari orang sekitarnya,
12:30ini apa yang terjadi pada diriku,
12:32jadi dia juga masih merasa canggung
12:34sama perubahan di badannya gitu.
12:37Jadi anak bisa sampai ke sana,
12:40itu panjang perjalanannya,
12:43dan mungkin ada sekian banyak peristiwa,
12:46yang membuat anak ini merasa bahwa,
12:48oh saya tidak punya makna lagi dalam kehidupan ini.
12:51Tapi gini Mbak Vera,
12:52ketika kalau tadi kita dengarkan singkat dari penjelasan Pak Bupati,
12:57mungkin dari background keluarganya,
12:59kurang memberikan perhatian secara lengkap begitu,
13:02terhadap yang bersangkutan.
13:03Lalu bagaimana dengan peran lembaga pendidikan,
13:06dalam hal ini guru sekolah?
13:08Ya, sekolah itu kan perpanjangan rumah ya,
13:13guru itu ada perpanjangan orang tua gitu,
13:15memang diharapkan sekolah tidak hanya mengajarkan matematika,
13:19baca, tulis, hitung, dan sebagainya,
13:20tapi juga memperhatikan aspek kesehatan mental gitu ya.
13:24Tadi kan Pak Bupati sampaikan juga,
13:26bahwa anak ini kalau di sekolah ceria gitu ya,
13:28bahkan berprestasi gitu ya,
13:30seperti tidak ada masalah.
13:31Yang terjadi bisa seperti itu,
13:33banyak orang tua juga yang mengatakan bahwa,
13:35kalau di sekolah anak saya manis,
13:37tapi kalau di rumah beda gitu ya,
13:39itu bisa sebaliknya gitu ya.
13:42Kebanyakan anak,
13:43mereka menyimpan emosi yang terdalam,
13:45atau menyimpan masalah yang terdalam,
13:47ketika mereka berada dalam situasi di luar rumah gitu ya.
13:50Dan emosi yang mereka simpan,
13:53yang mereka simpan terdalam tadi,
13:56itu hanya bisa diluapkan kepada orang yang mereka benar-benar percaya,
14:00mereka benar-benar dekat gitu ya.
14:02Nah, yang merasa itu tempat aman.
14:04Nah, mungkin di kasus anak ini,
14:06dia tidak punya tempat aman itu.
14:07Di sekolah dia tidak bisa meluapkan apa yang dia rasakan,
14:11kesedihannya,
14:12kesusahannya,
14:12itu tidak bisa.
14:13Tapi di rumah pun,
14:14mungkin dia tidak ada orang yang bisa dia luapkan untuk emosinya tersebut gitu.
14:20Pak Bupati,
14:21lalu selain evaluasi yang akan dilakukan oleh pihak Anda,
14:25langkah konkret apa yang akan dilakukan untuk memastikan,
14:28agar hal serupa tidak terjadi kembali,
14:31lalu masyarakat bisa begitu lebih peka,
14:33mungkin dalam hal lembaga pendidikan,
14:37untuk memastikan,
14:38oke, mungkin sekolah gratis,
14:40tapi apakah pemerintah setempat memastikan bahwa gratis itu termasuk layak?
14:45Ya, maaf,
14:49jadi baik,
14:51mungkin ini pertama tadi cukup kompleks,
14:54tapi dari sisi pendidikan,
14:56saya harus mau memastikan,
14:59nanti mungkin seduluh kepala sekolah,
15:01termasuk R.D. Pala Desa,
15:04saya mau pastikan bahwa,
15:06hal ini tidak boleh terjadi lagi di waktu-waktu yang akan datang.
15:09Dan khusus untuk pendidikan,
15:12arahan dari permen daerah itu,
15:14namanya sekolah negeri,
15:15peniwa bos itu tidak ada lagi pungutan-pungutan.
15:19Termasuk buku dan alat tulis kah?
15:24Kebetulan di saya,
15:25di era kepemimpinan saya ini,
15:27anak-anak yang tidak mendapatkan beasiswa PIP pusat,
15:31saya ada kebijakan itu PIP versi daerah.
15:34Ada 1.600an anak yang saya pilihkan.
15:38Beasiswa itu termasuk dengan bagian seragam untuk anak-anak.
15:42Jadi artinya tidak semua siswa mendapatkan kelengkapan seperti alat tulis, buku, dan seragam?
15:52Kalau dari pantuan saya,
15:55saya rasa kalau untuk alat tulis apa,
15:57saya rasa,
15:59pengen kecuali mungkin ya,
16:01apakah dia lupa atau bagaimana,
16:03kalau sama sekali tidak ada,
16:04saya rasa tidak mungkin.
16:06Mbak Fera,
16:09jika dievaluasi secara menyeluruh,
16:13sistemik seperti apa
16:15yang mampu memperbaiki
16:17sikis anak yang bisa terbilang
16:21memiliki,
16:22apa ya,
16:23memiliki kebutuhan khusus
16:25dalam hal perhatian dan juga bantuan?
16:27Oke,
16:30kebutuhan khusus mungkin maksudnya dalam kondisi-kondisi khusus
16:34di mana kebutuhan itu tidak terpenuhi gitu ya.
16:36Nah,
16:37di sini kan berarti dibutuhkan support
16:39dari lingkungan di luar selain orang tua.
16:42Apalagi kalau misalnya kasus ini,
16:44BR ini,
16:45ini kan ibunya single mom ya.
16:46Betul.
16:47Ibunya single mom yang dia harus bekerja,
16:50menghidupi anak,
16:515 orang gitu ya,
16:52mungkin tidak mudah juga untuk hadir
16:54satu persatu untuk tiap anak
16:56menjadi teman bicara dan sebagainya.
16:58Sementara tekanan-tekanan yang lain
17:00di dirinya juga banyak gitu ya.
17:03Nah,
17:03di sini juga bisa masuk elemen-elemen masyarakat lain gitu ya,
17:06sekitar lingkungan sekitar,
17:08tetangga,
17:09RT,
17:09RW,
17:10posyandu,
17:10kita punya posyandu,
17:12sekolah,
17:12sekolah di itu ada guru gitu ya,
17:14yang bisa membantu untuk menjaga satu orang anak ini gitu ya.
17:18Oke.
17:18Dengan adanya empati gitu ya,
17:20empati kolektif ya,
17:22yang bisa untuk sekedar bertanya,
17:24kamu kenapa gak sekolah?
17:26Kamu kenapa kok murung gitu ya?
17:27Ada apa?
17:28Terus di follow up ke pengasuhnya,
17:30yang orang-orang yang terlibat dalam pengasuhan anak ini.
17:32Anak ini kenapa tidak sekolah?
17:33Jadi tidak hanya berhenti sampai di anak ini saja gitu ya.
17:36Jadi harus ada awareness di lingkungan sekitar ya?
17:39Iya.
17:39Awareness di lingkungan sekitar.
17:41Nah,
17:41ini kan memang payung besarnya dari kemarin kan kita,
17:43apa namanya,
17:45mendengar pena dan buku.
17:46Ya.
17:47Kan pena dan buku itu sebenarnya apa sih di balik itu?
17:49Ini kan ada crying for help gitu.
17:51Kadang seringkali anak itu tidak bisa menyampaikan,
17:55karena ketebatasan komunikasi mereka ya,
17:56tidak bisa menyampaikan kebutuhan mereka yang real sebenarnya apa sih gitu ya.
18:01Seorang anak sulit untuk bilang,
18:03aku butuh perhatianmu lebih besar lagi misalnya.
18:05Aku butuh kamu mendengarkan aku.
18:07Gak bisa gitu.
18:07Tapi yang mereka tahu mungkin,
18:09ya itu tadi,
18:09aku minta buku dan pena.
18:11Oke.
18:11Ketika itu tidak terpenuhi,
18:13dia merasa tidak diperhatikan.
18:15Oke.
18:16Pak Bupati,
18:17singkat saja,
18:18tanpa kita mencari
18:20siapa yang salah dalam kasus ini,
18:24tapi Pak Gubernur sudah menyatakan
18:26ada kegagalan di sini.
18:28Ini mungkin bisa menjadi cerminan
18:30untuk pembelajaran di masa yang akan datang.
18:32Kegagalan di pihak manakah
18:34yang Anda bisa jadikan
18:36referensi pembelajaran
18:38untuk kasus
18:39dugaan bunuh diri ini?
18:42Saya rasa,
18:44ya,
18:45dari semua level,
18:46ya,
18:47Bupati,
18:49gagal,
18:49level yang sampai ke tingkat bawah juga gagal,
18:52Kepala Desa,
18:52Camat,
18:53termasuk mungkin toko masyarakat,
18:55ya,
18:55toko umat.
18:56Nah,
18:56saya tadi disampaikan oleh Mbak Fira tadi,
18:58berkaitan dengan awareness,
19:00kesadaran umum itu,
19:01ya,
19:02saya rasa itu
19:02hal yang mungkin perlu kita kacau,
19:05ya.
19:06Bayangkan jam 9,
19:07ada petani,
19:08ketangga lewat,
19:09mau ke kebun,
19:10sempat sapan dia di pondok.
19:11Kau tidak sekolah,
19:12kenapa?
19:13Saya sakit,
19:14saya pusing,
19:14katanya begitu.
19:15Jam 10 juga ada lagi yang lewat,
19:17tanya,
19:17kau kok di sini,
19:18kenapa tidak sekolah?
19:19Saya pusing.
19:20Nah,
19:20nah ini,
19:21dari 2 jam ini kan,
19:23mungkin pergolakan batinnya itu,
19:25mungkin lagi bergolok-golok pada saat itu.
19:27Nah,
19:27kesadaran kita ketika
19:28ditegur,
19:29lalu kita peka misalnya,
19:31bertemu,
19:31aduh, ini pasti ada sesuatu.
19:33Coba kita bujuk dia,
19:34atau bawa dia ke,
19:35mungkin bisa itu.
19:36Mungkin disitulah ya.
19:38Artinya saya,
19:39juga prihatin atas kejadian ini,
19:42tapi ini bentuk koleksi,
19:44supaya ke depan terlebih waspada,
19:46bahwa,
19:47kolektivitas dalam,
19:48pembangun kesadaran itu penting dari semua pihak.
19:50Ya,
19:51Pak Bupati,
19:52lalu yang kita harapkan di sini adalah,
19:55kasus ini tidak berhenti sebagai,
19:57kasus individual semata,
19:59tapi sebagai,
20:01titik evaluasi secara,
20:03keseluruhan,
20:04titik evaluasi secara,
20:05berjenjang.
20:08Apakah ada kebijakan yang akan Anda ubah,
20:11di dunia pendidikan,
20:13di wilayah Anda mungkin,
20:14singkat saja?
20:14Ya,
20:16ini,
20:17yang saya mau pastikan bahwa,
20:20mungkin,
20:20instruksinya harus jelas,
20:22ketika ada kendala-kendala,
20:24administrasi harus proaktif,
20:25dan harus bisa,
20:27tidak boleh mematasi itu,
20:29administrasi.
20:31Oke,
20:32baik,
20:32terima kasih Bupati Ngada,
20:34Pak Raimundus Bena,
20:35dan juga psikolog anak,
20:36Mbak Vera Itabiliana,
20:38sudah berbagi perspektif,
20:39dan terima kasih Pak Bupati,
20:42dan mudah-mudahan,
20:43peristiwa ini tidak menjadi,
20:44terulang kembali.
20:45Terima kasih.
20:46Selamat malam.
20:48Malam.
20:49Malam.
Komentar