KOMPAS.TV - Lebih dari dua pekan, kita akan memasuki tahun 2026. Sebagai pengingat, Kompas Bisnis hari ini akan menyajikan asumsi makro ekonomi APBN 2026, yang sebelumnya telah disepakati oleh pemerintah dan DPR pada 23 September lalu.
Seperti yang juga dirilis oleh Kementerian Keuangan, pertumbuhan ekonomi tahun 2026 ditargetkan mencapai 5,4 persen. Nilai tukar rupiah berada di kisaran 16.500 rupiah per dolar AS, sementara inflasi terkendali di level 2,5 persen.
Sedangkan harga minyak acuan di 70 dolar Amerika per barel. Sebelumnya, dengan optimistis, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa sempat bilang, pemerintah akan terus mendorong pertumbuhan ekonomi mencapai enam persen pada tahun 2026.
#ekonomi #menkeu #bca
Baca Juga Mencekam! 200 Orang Dievakuasi Saat Badai Salju Terjang Rusia | SAPA PAGI di https://www.kompas.tv/internasional/637719/mencekam-200-orang-dievakuasi-saat-badai-salju-terjang-rusia-sapa-pagi
Artikel ini bisa dilihat di : https://www.kompas.tv/nasional/637720/full-ekonomi-2026-diproyeksi-tumbuh-di-atas-5-persen-ini-kata-kepala-ekonom-bca-sapa-pagi
Seperti yang juga dirilis oleh Kementerian Keuangan, pertumbuhan ekonomi tahun 2026 ditargetkan mencapai 5,4 persen. Nilai tukar rupiah berada di kisaran 16.500 rupiah per dolar AS, sementara inflasi terkendali di level 2,5 persen.
Sedangkan harga minyak acuan di 70 dolar Amerika per barel. Sebelumnya, dengan optimistis, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa sempat bilang, pemerintah akan terus mendorong pertumbuhan ekonomi mencapai enam persen pada tahun 2026.
#ekonomi #menkeu #bca
Baca Juga Mencekam! 200 Orang Dievakuasi Saat Badai Salju Terjang Rusia | SAPA PAGI di https://www.kompas.tv/internasional/637719/mencekam-200-orang-dievakuasi-saat-badai-salju-terjang-rusia-sapa-pagi
Artikel ini bisa dilihat di : https://www.kompas.tv/nasional/637720/full-ekonomi-2026-diproyeksi-tumbuh-di-atas-5-persen-ini-kata-kepala-ekonom-bca-sapa-pagi
Kategori
🗞
BeritaTranskrip
00:00Saudara yang menyaksikan Kompas Bisnis bersama saya, Yan Rahman.
00:03Saudara, lebih dari dua pekan kita akan memasuki tahun 2026.
00:07Sebagai pengingat, Kompas Bisnis hari ini akan menyajikan asumsi makro ekonomi APBN 2026
00:12yang sebelumnya telah disepakati oleh pemerintah dan juga DPR pada 23 September lalu.
00:18Seperti yang juga dirilis oleh Kementerian Keuangan,
00:20pertumbuhan ekonomi tahun 2026 ditargetkan mencapai 5,4 persen.
00:25Nilai tukar rupiah berada di kisaran 16.500 rupiah per dolar Amerika Serikat.
00:30Sementara itu, saudara, inflasi terkendali di level 2,5 persen,
00:35sedangkan harga minyak acuan di 70 dolar Amerika per barel.
00:44Sebelumnya, saudara, dengan optimistis, Menteri Keuangan Purbaya Yudhisa Dewa sempat bilang
00:49pemerintah akan terus mendorong pertumbuhan ekonomi mencapai 6 persen pada tahun 2026.
00:55Pelan-pelan kita akan bergerak makin cepat, kan kemarin-kemarin kan terjebak di 5 persen.
01:01Kita coba air tirulan bisa enggak di atas 5,5.
01:06Nanti tahun depan kita coba dorong ke arah 6 persen atau mendekatnya 6, atau lebih 6 lebih sedikit.
01:12Tahun depannya lagi dengan perbaikan, iklim investasi, dan lain-lain,
01:16harusnya bisa lebih cepat lagi.
01:18Mungkin dua tahun ke depan bisa antara 6 sampai 6,5.
01:22Tahun berikutnya lagi baru kita kebut.
01:26Akhir pemerintahnya bisa ke arah, mendekati.
01:30Sementara itu, saudara, Bank Sentral Asia alias BCA punya angka outlook ekonomi 2026 yang berbeda,
01:36di mana pertumbuhan ekonomi Indonesia diproyeksikan lebih rendah dibanding asumsi makroekonomi 2026,
01:42yaitu 5,1 persen hingga 5,3 persen.
01:45Nilai tukar rupiah berada di kisaran 16.850 rupiah per dolar Amerika Serikat,
01:51sedangkan inflasi di rentang level 2,5 hingga 2,8 persen.
01:57Sementara itu, saudara, BI rate di level 3,75 hingga 4,25 persen.
02:05Saudara, lalu apa saja yang menjadi faktor pendorong pertumbuhan ekonomi tahun depan versi Bank Sentral Asia?
02:11Kita langsung berbincang dengan Kepala Ekonomi BCA, David Sumwal.
02:15Pak David, selamat pagi.
02:17Selamat pagi, Mas Yan.
02:19Pak David, ini BCA memproyeksikan angka pertumbuhan ekonomi 2026 di angka 5,1 hingga 5,3 persen.
02:28Ini di bawah target pemerintah besar 5,4 persen.
02:30Dari mana angka ini muncul, Pak David, dan apa saja faktor penentunya?
02:34Ya, ini asumsinya memang optimistik bisa ke arah 5,3 persen ya.
02:41Dan memang ini dengan extra effort, karena memang kita proyeksikan
02:45tahun depan ekonomi global itu masih cenderung lemah ya.
02:50Jadi ini sudah trennya terjadi dalam satu tahun setengah terakhir,
02:54dan ini mungkin masih akan berlangsung sampai tahun depan.
02:57Dan ini juga diasumsikan, kita masih mengasumsikan realisasi anggaran yang lancar tentunya ya.
03:03Beda dengan tahun ini yang di semester satunya itu kontribusinya justru negatif.
03:09Di belanja pemerintah kontribusinya tahun 2025 ini negatif.
03:13Nah, tahun depan ini kita sudah melakukan penguatan belanja sejak awal tahun.
03:20Dan kita berharap juga pemulihan belanja, terutama di kuartal 1 tahun depan ini masih berlanjut ya.
03:25Kalau kita lihat ini ada pemulihan belanja masyarakat sejak bulan Oktober, ini terus berlangsung.
03:31Kalau kita lihat dari big data sampai awal Desember ini.
03:36Nah, ini kita berharap bergulir terus sampai awal tahun depan.
03:39Dan kebetulan ini juga kita lihat hari raya berderet nih ya.
03:44Mulai dari Natal, Tahun Baru, dan juga nanti akan ada Imlek.
03:48Dan berikutnya juga kita tahu puasa lebaran juga akan maju ya.
03:53Jadi, ini di kuartal 1 tahun depan potensi pertumbuhan yang kuat itu lumayan besar ya.
04:01Karena ada faktor-faktor musiman yang saya sebutkan tadi.
04:05Yang terakhir juga kita berharap investasi korporasi ya.
04:09Terutama juga yang terkait dengan proyek-proyek dan antara ini kita berharap juga lebih kuat.
04:15Nah, tidak seperti tahun ini kan kita lihat belum optimal investasi maupun realisasi proyeknya.
04:22Nah, di tahun depan ini kita berharap bisa menjadi katalis juga ya untuk pertumbuhan investasi tahun 2026 pasien.
04:30Oke, kalau tadi sempat menyinggung dengan antara, Pak David, ini dengan antara seberapa besar pengaruhnya terhadap nanti pertumbuhan ekonomi di tahun depan?
04:38Ya, ini kan ada beberapa inisiatif yang sudah dilakukan ya.
04:44Pertama, soal Patriot Bonds ini 51,7 triliun.
04:49Dan mungkin nanti akan ada tahap kedua sebesar 15 triliun.
04:53Dan juga kita lihat proyek-proyek yang sudah sebenarnya digarap ya, disiapkan sejak tahun ini.
05:01Terkait waste to energy ini sampai total kan ada 33, lalu ada kilang minyak.
05:06Proyek realisasi ada 18, infrastruktur digital, dan seterusnya.
05:10Ini kita harapkan mulai bergulir di tahun depan.
05:13Karena ini kan dananya sudah dialihkan ya.
05:16Ini kan kebanyakan memang yang menjadi investor adalah perusahaan-perusahaan yang listing di bursa.
05:20Dan mereka sebenarnya sudah punya rencana ekspansi sendiri sebelumnya.
05:24Tapi dialihkan ke Patriot Bonds dan harapannya ini mulai bergulir tahun depan.
05:29Dan kalau tidak terjadi tentunya ini akan terjadi crowding out ya.
05:32Dan justru merugikan buat perekonomian.
05:35Jadi kita berharap ekonomi berputar lebih kuat lagi di tahun 2026.
05:40Jadi kalau dana sudah ditempatkan tapi tidak berputar,
05:44nah ini tentu velocity of money-nya tidak muncul.
05:47Nah ini tidak bisa tertranslasi ke dalam pertumbuhan ekonomi, Mas Yan.
05:51Oke harapan kita bersama bahwa putaran ekonomi juga memang terjadi begitu lebih tinggi lagi di tahun depan.
05:56Tapi kalau ngomong-ngomong soal investasi ini Pak David,
05:59sebetulnya berapa nilai investasi yang dibutuhkan agar target pemerintah yang sebesar 5,4 persen ini dapat tercapai begitu.
06:07Cuman tahan dulu jawabannya Pak David, kita jidat dulu tetap bersama kami di Kompas Bisnis.
06:11Anda masih bersama kami di Kompas Bisnis Saudara dan masih bergabung bersama kami,
06:17Kepala Ekonomi BCA, David Semual.
06:19Pak David, kita tadi sempat berbicara terkait dengan investasi yang menjadi salah satu pendorong pertumbuhan ekonomi,
06:25terutama di tahun depan.
06:26Berapa sih Pak David nilai investasi yang dibutuhkan agar target pemerintah yang sebesar 5,4 persen ini bisa tercapai?
06:35Nah ini persoalannya Mas Yan, angka I-Core kita, incremental capital output ratio ya,
06:41perbandingan antara modal yang dibutuhkan dan output yang dihasilkan ini masih relatif tinggi.
06:46Jadi sampai 2025, angka bulan September itu masih sekitar 6,2 ya.
06:52Dan itu dalam share investasi sampai kuartal 3 itu sekitar 30 persen.
06:59Nah ini beda dengan negara-negara tetangga kita, contoh Vietnam itu separuh dari kita, hanya 3 ya, I-Core-nya.
07:06Jadi kalau kita ingin pertumbuhan yang tinggi, itu kita butuh investasi yang jauh lebih besar dari Vietnam.
07:11Jadi kalau hitung-hitungan saya, di 2026 ini perlu naik porsi investasi kita ke arah 33-34 persen.
07:18Nah ini jadinya nominal investasinya kalau dihitung dari tahun ini harus naik sekitar 25-30 persen ya,
07:27atau sekitar 8.600an triliun kurang lebih ya.
07:33Jadi ini dihitung dari PDB nominalnya, jadi cukup besar karena memang dari sisi efisiensi dan produktivitas kapital
07:40yang kita suntik atau kita injeksi ke dalam perekonomian, output yang kita hasilkan itu lebih kecil.
07:46Dibandingkan dari negara tetangga kita seperti Vietnam atau misalnya India, itu mereka sekitar 3 ya, angka I-Core-nya.
07:54Jadi memang perlu perbaikan dari sisi efisiensi, produktivitas, agar kita tidak butuh investasi yang sedemikian besar ya,
08:03untuk menghasilkan pertumbuhan ekonomi yang kurang lebih 5,5 persen tadi.
08:09Oke, kalau kita melihat sepanjang tahun 2025 saja, apakah ini memungkinkan investasi yang jauh lebih besar dibanding negara tetangga Vietnam?
08:19Ya kalau untuk 2025, memang kalau kita perhatikan yang cukup menakjubkan Vietnam dan Malaysia ya,
08:27jadi investasi asing juga kuat sekali, kita lebih didrive oleh investasi domestik.
08:32Justru untuk investasi asing, 2 kuartal terakhir itu kita kecenderungan turun,
08:36terakhir di kuartal 3 itu kita turun sekitar 7 persen investasi asing ya.
08:42Jadi kelihatannya memang kalau kita ingin tumbuh lebih dari 5,5 persen,
08:47memang kunci utamanya itu adalah masuknya investasi dari luar,
08:51karena tabungan domestik kita tidak cukup masian untuk tumbuh lebih tinggi dari 5,5 persen.
08:58Jadi kalau kita hanya mengandalkan tabungan domestik,
09:01ujung-ujungnya kita hanya bisa mencapai pertumbuhan hanya sekitaran 5 persen saja.
09:05Jadi kita memang harus mengundang lebih banyak lagi investasi masuk,
09:11dan ini tentunya perlu perbaikan struktural ya di dalam negeri,
09:15ambatan-ambatan struktural yang selama ini kita alami ini harus diberantas ya,
09:20kerumitan perizinan, masalah tingginya biaya logistik, masalah birokrasi,
09:27masalah ketidakpastian kebijakan, dan lainnya ini
09:30masalah-masalah struktural yang kita sudah tahu semuanya harus kita hilangkan Mas Yan.
09:34Oke, tadi soal regulasi berarti artinya ini,
09:37apa saat ini yang menjadi regulasi yang menjadi penghabat pertumbuhan menurut Anda Pak David?
09:42Ya, saya pikir dari sisi infrastruktur kita sudah cukup bersaing ya
09:48dengan negara-negara tetangga,
09:51tapi dalam hal kepastian kebijakan ini juga penting,
09:55konsistensinya, dan arah prioritas kebijakan pemerintah,
09:59perizinan juga ya, perizinan ini seringkali menghambat ya,
10:03ada beberapa proyek yang perlu tahunan itu sampai perizinannya keluar ya,
10:07kerumitan dalam hal birokrasi ini,
10:09sepertinya masih menjadi catatan ya,
10:11buat investor ketika ingin berinvestasi di Indonesia Mas Yan.
10:16Jadi, persoalan-persoalan hambatan-hambatan ini,
10:20dan masalah, apa namanya,
10:22kondisi di market ini yang sebenarnya perlu kita perbaiki,
10:26bukan hanya dari sisi stimulus fiskal ataupun moneter.
10:29Jadi, kalau hanya sebatas stimulus fiskal dan moneter itu,
10:33kita nggak akan bisa tumbuh di atas 5,5 persen ya.
10:37Jadi, kita butuh investasi lebih kuat lagi
10:41untuk mencapai pertumbuhan di atas 5,5 persen,
10:47sehingga pertumbuhan ekonomi kita bisa take off Mas Yan.
10:50Oke, tadi terkait juga dengan perizinan yang dipermudah,
10:53seperti yang disebutkan oleh Pak David,
10:54begitu yang perlu juga diperhatikan.
10:56Lalu, sebetulnya untuk memaksimalkan ini,
10:58karena kan memang jika ingin ada investasi yang masuk,
11:00dibutuhkan trust, begitu, dari asing terutama.
11:03Bagaimana, iklim apa yang harus dibentuk
11:05agar menciptakan trust ini?
11:08Ya, saya pikir kepastian yang paling penting ya,
11:11dari sisi regulasi,
11:13kita seringkali mendapati di lapangan itu
11:16perubahan-perubahan yang tidak diduga sebelumnya gitu ya.
11:20Apa namanya,
11:21tidak sesuai dengan aturan perundangan-perundangan yang sebelumnya,
11:25dan juga mungkin perlu juga
11:28arah kebijakan yang lebih medium atau long term, begitu ya.
11:33Sehingga,
11:34tidak berubah ketika terjadi perubahan birokrasi misalnya,
11:38atau perubahan rejim misalnya.
11:40Ini yang juga jadi catatan-catatan yang sering
11:43disampaikan oleh investor.
11:46Lalu kita bergeser ke konsumsi, Pak David.
11:50Bagaimana dengan konsumsi domestik?
11:52Harus tumbuh berapa agar ekonominya bisa 5,4 persen?
11:56Ini terkaitannya juga dengan pemerintah dan juga konsumsi dari rumah tangga?
12:01Ya, yang jelas belanja pemerintah harus dijaga sejak awal tahun tentunya ya.
12:07Jadi, tidak seperti tahun ini,
12:08di mana belanja agak lemah nih.
12:10Jadi, kontribusi di semester 1 itu malah minus 0,1 persen kalau di tahun ini ya.
12:15Jadi, harus tahu dari awal tahun ini sudah mulai terasa ya,
12:19kontribusi positif dari belanja pemerintah.
12:23Jangan seperti tahun ini dan perlu intervensi juga ya,
12:27dari sisi peningkatan belanja rumah tangga.
12:30Utamanya sebenarnya bagaimana menciptakan iklim bisnis yang baik
12:34sehingga perusahaan-usahaan mulai berinvestasi
12:39dan ada penyerapan tenaga kerja.
12:41Ini supaya menjaga daya beli masyarakat ke depannya ya.
12:46Jadi, mungkin kalau untuk operasi stabilisasi harga memang masih dibutuhkan ya.
12:51Tapi ini kan untuk hal-hal yang darurat ya.
12:54Misalnya, sekarang kita sedang ada bencana,
12:56ya kita perlu ada operasi stabilisasi harga untuk menjaga daya beli.
13:01Tapi yang paling penting adalah dari segi penyerapan tenaga kerjanya
13:04yang kita lihat, terutama untuk yang labor intensive industry ini
13:07agak menurun ya. Kita lihat investasi memang lebih kencang itu
13:12di capital intensive sektor dibandingkan labor intensive sektor
13:17dalam 1-2 tahun terakhir ini.
13:20Oke, Madafi, tadi Anda sempat menyinggung soal bencana begitu.
13:23Informasinya terkait dengan bencana yang terjadi di Sumatera ini
13:26akan mengerus begitu terkait
13:29ataupun mengaruhi pertumbuhan ekonomi di kuartal keempat di tahun ini,
13:33di tahun 2025.
13:34Bagaimana dengan tahun depan? Tidak di kuartal pertama tahun 2026.
13:38Apakah ini masih akan berpengaruh?
13:42Ya, saya pikir untuk kuartal 4 ya,
13:44paling tidak di akhir November sampai Desember ini
13:47pasti akan dipengaruh ya,
13:49dari sisi konsumsi dan produksi masyarakat
13:51dan sampai awal tahun depan.
13:53Jadi, perhitungan kami ini dampaknya sekitar 0,2-0,3%
13:59terdistribusi dalam 2 kuartal ini, kuartal 4 tahun ini
14:03dan kuartal 1 tahun depan.
14:05Dan ini tentu akan menurunkan dari sisi produksi
14:08karena jalur logistik distribusi ini terganggu,
14:11konsumsi masyarakat juga terganggu,
14:14dan juga harga-harga kan meningkat ya,
14:16sehingga daya beli masyarakat juga tertekan.
14:19Namun kita melihat kalau pemerintah komit
14:22untuk melakukan rekonstruksi dan perbaikan
14:26yang hitung-hitungan kami bisa sekitaran 50 triliunan ya,
14:30sampai mungkin bisa lebih 50-60 triliunan
14:33untuk biaya rekonstruksi,
14:35ini tentunya bisa mendorong pertumbuhan di Sumatera ya,
14:39tiga provinsi yang sekarang terkena dampak sangat signifikan ya.
14:44Jadi kita melihat baik kuartal 2 atau kuartal 3 tahun depan
14:48pertumbuhan di tiga provinsi ini malah lebih kuat lagi,
14:52terutama dari upaya rekonstruksi yang kemungkinan nanti akan dilakukan.
14:58Oke, kalau kita melihat bahwa terkait juga dengan bencana ini,
15:02Fadavid, ada pertumbuhan ekonomi yang berpengaruh
15:05di kuartal keempat di tahun 2025, begitu.
15:10Ada juga bantuan yang memang disiapkan oleh pemerintah
15:13karena ada memang fiskal ataupun ruang fiskal
15:15sebesar 60 triliun yang disebutkan oleh Menteri Keuangan.
15:18Tentunya yang didorong adalah percepatan dari pemulihan bencana ini.
15:23Menurut Anda, seberapa pengaruh percepatan,
15:27karena kan memang ini dibutuhkan waktu yang begitu lama untuk memulihkannya,
15:30seberapa pengaruhkah percepatan dari pemulihan ini
15:33terhadap pertumbuhan ekonomi?
15:34Bagaimana jika lebih cepat dan bagaimana risikonya jika lebih lambat?
15:37Ya, tentunya kalau misalnya lebih lambat,
15:42ini akan proses pemulihan lebih lama.
15:45Yang paling penting kan memulihkan jalur-jalur distribusi ini ya,
15:49jembatan, jalan yang rusak ya.
15:51Lalu juga saya perhatikan juga ini banyak jalan-jalan yang menuju ke pelabuhan
15:57ini juga bermasalah sehingga produksi yang dilakukan ini terhambat ya.
16:02Masyarakat berbagai macam produksinya,
16:06mulai dari perkebunan, pertambangan, pasti akan terganggu ya.
16:10Jadi, saya pikir ini harus ada percepatan,
16:13dan proses rekonstruksi mungkin tidak bisa dilakukan segera.
16:18Saya agak pesimis bisa dilakukan segera di tahun ini,
16:21mungkin awal tahun depan ya, paling cepat.
16:23Ini mulai bisa dilakukan.
16:25Dan ini juga seharusnya bisa menggerakkan perekonomian juga
16:31dan juga menyerap tenaga kerja juga ya, paling tidak ya.
16:34Sehingga, apa namanya, gairah ekonomi di tiga provinsi itu kembali meningkat ya.
16:39Ini seperti dulu juga pernah terjadi ketika ada bencana tsunami ya.
16:43Memang waktu itu juga dua kuartal dampaknya,
16:46namun setelah itu ada proses rekonstruksi pembangunan rumah,
16:49sarana sosial, sarana umum ya,
16:53yang akhirnya juga menggerakkan perekonomian di Aceh
16:56waktu itu yang membuat perekonomian juga cukup tinggi pertumbuhannya ketika itu.
16:59Oke, mudah-mudahan seperti itu ya, bisa menggerakkan ekonomi dan juga penyerapan tenaga kerja.
17:05Kita beralih ke, masih terkait dengan outlook perekonomian dari versi Bank BCA,
17:11terkait juga dengan kurs rupiah pada tahun depan.
17:14Apa yang harus diwaspadai oleh otoritas terkait dengan rupiah di tahun depan?
17:21Ya, seperti perkiraan kami, rupiah kelihatannya skenario-nya,
17:25kalau skenario soft landing yang terjadi di mana suku bunga FED akan turun bertahap,
17:31ini cukup kondusif buat rupiah kita ya,
17:34jadi rupiah kita akan bergerak di sekitaran tadi 16.8, 16.850,
17:38rata-ratanya kurang lebih,
17:41tapi tadi dengan asumsi ekonomi Amerika Serikat melambat secara bertahap,
17:46dan suku bunga FED akan turun juga secara bertahap ya.
17:51Jadi ini skenario yang sering kita sebut sebagai skenario soft landing.
17:56Tapi yang paling dikhawatirkan kan ini masalah di Amerika Serikat ya,
18:00ada kekhawatiran soal fiskal di Amerika Serikat,
18:03jadi walaupun suku bunga turun,
18:06belum tentu yield dari obligasi di Amerika Serikat ikut tingkatan turun.
18:11Kalau kita lihat trennya malah yang jangka menengah panjang cenderung naik.
18:14Dan ada vulnerability juga,
18:16probabilitas kemungkinan ekonomi Amerika Serikat memasuki resesi,
18:21atau bahkan krisis kalau misalnya bubble di pasar modal,
18:25terutama yang dipicu oleh kenaikan harga saham-saham teknologi ini,
18:29meletus gitu ya,
18:30dan ini tentunya akan membuat volatilitas yang cukup tinggi juga gitu ya,
18:35karena kalau kita lihat dari sisi risiko ya,
18:38risiko konsentrasi maupun risiko valuasi ini sudah cukup mahal ya,
18:42harga saham-saham teknologi di Amerika Serikat.
18:45Dan ini tuh akan juga merembes kebanyak negara emerging market,
18:50ya terjadi volatilitas,
18:51tapi ini biasanya tidak lebih dari setahun.
18:53Jadi kita berharap kondisi yang terjadi seperti di 2008,
18:58itu kan juga ada masalah,
18:59tapi setelah itu kita lihat,
19:01ada pemulihan yang cukup cepat di harga komoditas.
19:04Jadi kalau kita bisa siapkan kondisi ekonomi fundamental kita,
19:09buffer kita kuat,
19:11kita bisa bertahan,
19:12kita berharap dalam skenario hard landing,
19:14kita juga bisa tumbuh cukup baik ya setahun berikutnya.
19:17Jadi,
19:18tapi sejauh ini skenario masih skenario soft landing,
19:21dimana rupiah akan relatif stabil di sekitaran Rp16.800 tadi Mas Ian.
19:25Oke,
19:26kalau kita lihat tadi yang dibahas terkait dengan bagaimana situasi polemik di secara global,
19:31ada juga The Fed tadi dan situasi ekonomi global,
19:33bagaimana dengan domestik,
19:35apa yang harus diwaspadai Pak David,
19:38terutama di dunia usaha begitu?
19:41Ya, saya pikir dari sisi inflasi juga perlu diperhatikan ya,
19:47kita lihat inflasi masih relatif stabil,
19:50ini untuk menjaga daya beli masyarakat,
19:52kita perkirakan 2,5 sampai 2,8 persen,
19:56lalu juga dari sisi fiskal tentu juga ini menjadi concern sejauh ini ya,
20:01kalau kita perhatikan investor asing di surat utang negara ini kecenderungan outflow ya,
20:07sudah sekitar 4,5 bilion dollar sejak bulan September,
20:12ini salah satu concernnya tentu dari sisi sustainability dari fiskal juga ya,
20:16kemampuan kita untuk membayar utang dan juga suku bunga,
20:20ini juga kita harus perhatikan,
20:21dan tentu dengan menjaga supaya kebijakan fiskal kita tetap prudent ya,
20:27ke depannya dan juga kebijakan moneternya juga disesuaikan,
20:32kita tentunya harus menjaga keseimbangan antara stabilitas dan pertumbuhan,
20:36mengingat kondisi globalnya yang masih penuh ketidakpastian ya,
20:40jadi kita tidak ingin kita guncot besar-besarahan,
20:45tapi di sisi lain nanti ada fungal lebih dari eksternal yang membuat fundamental kita menjadi riskan begitu mas ya,
20:52jadi saya pikir itu salah satu hal yang perlu kita perhatikan di tahun 2026 ini.
20:59Oke, yang menjadi fokus lainnya juga terkait dengan BI Red ya Pak David ini,
21:03bagaimana arah BI Red agar lebih fokus lagi,
21:06apa peran moneter untuk mendorong pertumbuhan ekonomi lagi di tahun depan?
21:09Ya, BI Red ini tergantung sekali dengan bagaimana kebijakan moneter Amerika Serikat ya,
21:17jadi Amerika Serikat kita perkirakan masih ada peluang untuk penurunan suku bunga yang lebih agresif ya tahun depan,
21:24mengingat memang ekonomi Amerika Serikat yang cenderung lemah,
21:27jadi ketika Fed menurunkan suku bunga atau ada ekspektasi penurunan suku bunga Fed,
21:33itu tentunya memberikan ruang buat bank sentral untuk menurunkan,
21:36tapi tentunya kebijakan moneter dan fiskal ini ada limitnya, ada batasnya ya,
21:43tidak bisa kita dorong hanya lewat kebijakan fiskal dan moneter,
21:47jadi kita harus melihat peluang-peluang juga dari sisi kebijakan perdagangan, investasi,
21:52misalnya kita baru saja mendadak apa,
21:55ya mudah-mudahan tahun depan sudah bisa diratifikasi untuk EUCPA dengan Eropa,
21:59dan ada peluang buat kita untuk mendorong pertumbuhan lewat market yang baru terbentuk ya,
22:06dengan Kanada juga kita ada perjanjian,
22:08itu tentunya bisa mendorong peluang kita ke depan untuk bukan hanya dari fiskal dan moneter saja,
22:15tapi dari sisi investasi ya, dan juga perdagangan,
22:19agar net export kita bisa lebih kuat lagi ke depan, mas Yan.
22:24Oke, berarti ada sejumlah catatan begitu yang,
22:26paling tidak yang saya tulis tadi ada kebijakan moneter Amerika Serikat yang juga mempengaruhi,
22:30ada suku bunga The Fed tentunya kaitannya juga dengan kebijakan moneter Amerika Serikat,
22:33dan masih ada, kabar baiknya, masih ada peluang pertumbuhan,
22:36dengan adanya market yang baru di Eropa tadi disebutkan oleh Pak David.
22:40Terima kasih, Kepala Ekonomi BCA David Sumo atas waktunya bersama kami di Kompas Bisnis,
22:44sehat selalu.
22:46Yes, terima kasih.
22:49Saudara, jangan kemana-mana,
22:51Sapa Indonesia Pagi masih akan kembali untuk Anda.
22:53Tetaplah bersama kami.
Komentar