- 2 bulan yang lalu
- #banjir
- #sumatera
- #proyekstrategisnasional
KOMPAS.TV - Bagaimana kerusakan hutan ikut jadi pemicu banjir bandang di Sumatera dan bagaimana kita harus belajar dari bencana ini, terutama soal kelestarian lingkungan?
Kita bahas bersama Anggota DPR Komisi III Dapil Aceh II, Nasir Jamil dan Ketua Auriga Nusantara, Timer Manurung.
Bergabung pula korban banjir bandang di Aceh, Badrul Irfan, yang harus berjalan 2 hari 3 malam di tengah hutan demi mengevakuasi diri dari banjir.
Baca Juga Korban Banjir Sumatera Hadapi Kesulitan, Wamendagri Blak-Blakan Soal Anggaran-Kebutuhan Utama di https://www.kompas.tv/nasional/637667/korban-banjir-sumatera-hadapi-kesulitan-wamendagri-blak-blakan-soal-anggaran-kebutuhan-utama
#banjir #sumatera #proyekstrategisnasional
Artikel ini bisa dilihat di : https://www.kompas.tv/nasional/637668/miris-dpr-aktivis-korban-banjir-ungkap-fakta-bencana-sumatera-singgung-psn-omnibus-law
Kita bahas bersama Anggota DPR Komisi III Dapil Aceh II, Nasir Jamil dan Ketua Auriga Nusantara, Timer Manurung.
Bergabung pula korban banjir bandang di Aceh, Badrul Irfan, yang harus berjalan 2 hari 3 malam di tengah hutan demi mengevakuasi diri dari banjir.
Baca Juga Korban Banjir Sumatera Hadapi Kesulitan, Wamendagri Blak-Blakan Soal Anggaran-Kebutuhan Utama di https://www.kompas.tv/nasional/637667/korban-banjir-sumatera-hadapi-kesulitan-wamendagri-blak-blakan-soal-anggaran-kebutuhan-utama
#banjir #sumatera #proyekstrategisnasional
Artikel ini bisa dilihat di : https://www.kompas.tv/nasional/637668/miris-dpr-aktivis-korban-banjir-ungkap-fakta-bencana-sumatera-singgung-psn-omnibus-law
Kategori
🗞
BeritaTranskrip
00:00Perusahaan hutan ikut jadi pemicu banjir bandang di Sumatera dan bagaimana kita harus belajar dari bencana ini, terutama soal kelestarian lingkungan.
00:07Kita bahas bersama anggota DPR RI dari Komisi 3 DPR RI, Dapil Aceh II, Nasir Jamil, lalu ada Ketua Aureganus Antara, Timir Manurung, dan juga korban banjir bandang di Aceh, Tengah, Badrul Irfan.
00:21Yang harus berjalan 3 hari di tengah hutan demi mengevakuasi diri dari banjir.
00:25Selamat malam, Bang Timir.
00:27Selamat malam.
00:27Bang Badrul, Bang NJ, selamat malam.
00:30Ya, selamat malam, Mas Rari.
00:32Baik, saya ke Bang Badrul dulu deh ya, karena Bang Badrul ini begitu luar biasa, menghadapi rintangan yang luar biasa, cobaan yang luar biasa.
00:42Bang Badrul, bisa Anda ceritakan, Anda berjalan selama 3 hari katanya demi menyelamatkan diri.
00:47Bagaimana ceritanya dan gambarkan kepada kami perjuangan Anda demi mencari tempat yang lebih aman di sana?
00:53Ya, tepatnya 2 hari 3 malam.
00:562 hari 3 malam, baik.
00:57Selamat malam, Bang Nasir Jamil, Bang Timir, apa kabar?
01:01Bang Timir, lama sudah tidak ketemu.
01:04Jadi saya di Aceh, Tengah, di Takengon ya.
01:09Ya, Takengon ya.
01:10Ya, tanggal 24 November.
01:13Sampai di sini, ketulan ada kegiatan festival budaya di lingkungan.
01:17Oke.
01:19Kemudian, saat Ritiana, tanggal 25, 26 ya.
01:2425 permukaannya, 26 saya keluar dari Desa Linge.
01:30Di Desa Linge, dari perjalanan mulai mengalami berbagai kejadian.
01:37Dan tanah longsor, kayu tumbang, tiang listrik berjatuhan.
01:42Kita bingung waktu itu harus menuju ke arah Kabupaten Gayu Luwes atau tetap menuju ke Aceh Tengah, Takengon.
01:52Sempat berapa kali bolak-balik ke Gayu Luwes, ke Aceh Tengah.
01:57Setiap kita maju, terhadang dengan kayu tumbang atau tiang listrik, bahkan badan jalan yang turun ke bawah.
02:06Jadi, hingga sampai sore, kami putuskan untuk bermalam di suatu tempat.
02:12Itu tanggal 25.
02:13Oke.
02:14Mungkin orang sekitar mengenalnya dengan letter S.
02:18Lokasi yang kami bermalam ya.
02:21Itu 26 malam itu sangat mencekam, luar biasa.
02:24Jadi, di sekitar kami bermalam.
02:27Tidak ada penerangan, tidak ada listrik ya, Bung Badrul ya?
02:30Tidak ada, tidak ada.
02:31Oke.
02:31Tidak ada.
02:32Komunikasi juga terputus di sana?
02:35Terputus sama sekali.
02:36Jadi, ada tiga mobil yang kami, dengan mobil kami ya, bertemu di jalan.
02:41Kita putuskan, bermalam di situ ada dua rumah warga.
02:46Jadi, malam itu memang sangat mencekam.
02:49Yang listrik kiri-kanan kami tumbang, rebah, hampir mengenai mobil.
02:55Kemudian, suara longsoran sangat dekat di kiri-kanan kami.
03:00Kayu-kayu bertumbangannya.
03:03Oke.
03:04Dan, ya mas.
03:06Seperti berpikir, kapan pagi ini akan, apa, malam segera berakhir.
03:10Itu bisa segera pindah.
03:12Karena tidak bisa orientasi.
03:14Sangat terbayangkan oleh saya, bagaimana panjangnya malam itu ya, Bang Badrul ya?
03:20Benar, benar.
03:20Baik.
03:21Bang.
03:21Jadi, alhamdulillah pagi, pagi menjelang.
03:24Dan, saya panggil, saya panggil semua orang berkumpul.
03:27Kita bilang, kita harus segera pindah dari sini.
03:30Ada ibu-ibu dan anak-anak juga di dua rumah tersebut.
03:32Tidak lama setelah sekitar jam setengah tujuh pagi, kami berdiskusi.
03:39Rumah yang tadi malam kami tidur bergeser ke arah jurang.
03:42Sudah bergeser?
03:43Jadi, sudah bergeser.
03:45Termasuk, ya, tanahnya turun ke bawah, rubu.
03:49Jadi, kita melanjutkan perjalanan lah.
03:52Oke, baik.
03:53Dengan buru-buru.
03:54Tapi, kembali di jalan, dihadang dengan berbagai cobaan lah ya.
04:00Ada pohon tumbang, listrik tumbang juga, banjir, lumpur.
04:06Jadi, kita bekerja dengan sekuat mungkin.
04:10Kemudian, dibantu juga dengan apa.
04:12Kebetulan di sana ada perusahaan ya, perusahaan pendidikan ketah gitu.
04:17Jadi, kebetulan masih ada staffnya.
04:19Jadi, kita berkotoroyong, ada yang menggunakan parang, musim cinsu,
04:22dan bahkan tiang listriknya harus dihancurkan dengan palugada.
04:26Oke.
04:27Supaya mobil bisa lewat.
04:28Bisa melakukan akses itu.
04:30Baik.
04:31Baik, Bang Badru.
04:32Di Raya Jauh, dari sana, saya lupa apa nama tempatnya.
04:36Menurut kami itu sangat aman untuk meninggalkan mobil di sana.
04:40Oke, itu di wilayah mana itu? Ketika Anda berhenti itu?
04:44Saya lupa nama tempat, maaf ya.
04:47Oke, baik-baik.
04:48Setelah menempuh perjalanan dari Takengon ya?
04:53Tidak.
04:54Oh, tidak?
04:54Dari Lingga.
04:55Dari mana? Mohon maaf.
04:56Saya dari Lingga memenuhi Takengon.
04:58Oh, baik.
04:58Luar biasa perjalanan yang panjang dan mencekam.
05:04Sepanjang perjalanan mendengar,
05:06tanpa penerangan malah-malah mendengar suara longsoran susulan,
05:09mungkin juga ada banjir bandang susulan.
05:11Dengan penerangan yang minim, Anda juga tidak bisa melihat
05:14dari mana arah datangnya longsor,
05:16dari mana arah datangnya banjir bandang.
05:18Luar biasa.
05:19Ini, sekali lagi, kami turut prihatin
05:22mendengar cerita dari Bang Badrul tadi.
05:24Nah, dari cerita Bang Badrul tadi saya ke Bung Nasir.
05:28Bagaimana Anda melihat perjuangan seorang warga
05:32seperti Bang Badrul ini di Dapil, di Aceh,
05:34yang terdampak banjir dan sampai saat ini
05:36mungkin juga tidak, belum tercukupi kebutuhannya
05:39setelah diterpa bencana yang begitu besar di Aceh, Bung Nasir?
05:44Ya, terima kasih Mas Radi.
05:46Situasi di lapangan memang belum begitu baik.
05:49Masih banyak titik yang belum disentuh.
05:52Perkiraan saya masih 25 persen.
05:54yang bisa ditangani oleh pemerintah.
05:57Dan itu untung ada Polri dan TNI
06:00yang masuk ke tengah-tengah masyarakat
06:02dan kemudian membantu meringankan beban mereka
06:05termasuk juga memasukkan bahan-bahan pokok
06:09apakah itu minyak, beras,
06:13dan juga makanan-makanan ringan
06:15yang bisa dimakan langsung.
06:17Jadi memang apa yang dialami oleh Pak Badrul itu
06:21juga dialami oleh banyak orang.
06:22teman saya juga, itu tiga hari, tiga malam Pak Badrul.
06:26Kebetulan dia ada acara di Takengon.
06:29Kemudian terjadi peristiwa itu
06:31artinya curah hujan yang tinggi
06:33menyebabkan banjir dan longsor.
06:35Sehingga dia berjalan kaki
06:36ke Birun.
06:39Lebih kurang tiga hari, tiga malam
06:42melalui jalan-jalan setapak yang dia lalui itu.
06:46Jadi memang apa yang terjadi di Benarberia, Aceh Tengah.
06:50Kemudian juga di Aceh Selatan, di Aceh Barat, di Aceh Jaya.
06:54Dan juga di Singkil.
06:56Itu Aceh Tenggara.
06:58Saya pikir ini satu fenomena.
07:00Bukan hanya disebabkan oleh klimatologis.
07:03Tapi ada persoalan.
07:05Ada persoalan kerusakan biofisik lingkungan kita.
07:10Oke.
07:11Jadi pembukaan hutan, penembangan kayu di hutan,
07:15kemudian pertambangan,
07:17dan tidak didukung oleh daya dukung ekosistem yang baik,
07:20itulah menyebabkan itu.
07:22Jadi bukan hanya soal cuaca,
07:23tapi memang daya dukung ekosistem kita itu
07:28tidak bisa lagi menampung curah hujan yang begitu tinggi
07:32dan berhari-hari itu.
07:33Saya sepakat dengan Bung Nasir.
07:36Alih-alih, beberapa pejabat negara mengatakan ini faktor cuaca,
07:39tapi kok saya melihatnya ini ulah tangan manusia.
07:42Saya akan bertanya juga ke Bung Timer.
07:45Bung Timer, berdasarkan data citra satelit yang Auriga Nusantara juga lakukan
07:52beberapa saat yang lalu,
07:53beberapa hektare hutan primer dan gambut yang hilang di Aceh,
07:57Sumut, dan Sumbar,
07:58dan kira-kira ini ulah siapa?
07:59Kalau memang tadi menyalakan cuaca,
08:01saya juga tidak yakin ini masalah cuaca.
08:04Malah, Mas.
08:04Cuaca memang satu hal.
08:06Kita tidak bisa memungkiri bahwa memang curah hujan meninggi.
08:09Betul.
08:10Tapi kita lihat dari misalnya video gambar gitu ya,
08:14kita bisa melihat bahwa air yang itu kan kelihatan kuningnya pekat sekali.
08:19Betul.
08:19Itu artinya material tanahnya sangat tinggi.
08:22Gembur begitu ya?
08:22Itu penuh dengan tanah itu.
08:24Berarti artinya adalah ada lahan terbuka di daerah hulunya gitu ya.
08:28Satu.
08:29Yang kedua juga ada banyak pohon-pohon.
08:31Pohon-pohon yang bukan dengan akar-akarnya.
08:34Seperti yang dikatakan tadi dari Kementerian Kehutanan,
08:38katanya ini kayu lapuk lah,
08:40pohon lapuk atau pohon tumbang itu tidak benar ya?
08:41Ada juga yang begitu.
08:43Ada kayu lapuk.
08:44Kita pungkiri dan saya membaca pernyataannya Dirjen Gakum juga adalah
08:49sebenarnya dia menutup bahwa sedang menyelidiki kayu-kayu penerbangannya.
08:54Nah, yang jadi soal menurut saya adalah
08:56ini kita jangan terjebak pada cuma kayunya saja nih.
09:01Karena kayunya kan hanya di atas tuh.
09:02Kayu itu biasanya cuma degradasi.
09:04Bukan deforestasi.
09:05Tapi begitu pembukaan lahan,
09:08jadi sawit, jadi tambang,
09:09nah ini deforestasi.
09:11Itu deforestasi.
09:11Jadi bukan kalau kayu kita akan bicara degradasi,
09:14sementara kalau hutan hilang kita bicara deforestasi.
09:17Nah, persoalannya adalah
09:19kami sedang menyiapkan juga memang kebetulan
09:21menyiapkan merilis data deforestasi 2025
09:24pada Januari nanti.
09:25Pada 10 bulan sekarang,
09:2810 Januari sampai Oktober,
09:30deforestasi di Aceh,
09:32Aceh itu hampir 4 kali lipat dari sepanjang deforestasi 2024.
09:36Jadi sekitar 7 ribuan hektare tahun lalu,
09:39sekarang hampir 30 ribu.
09:41Sama dengan Sumatera Utara,
09:43angkanya di Sumatera Barat.
09:45Sekarang ini yang menarik adalah
09:46Sumatera Barat itu nomor 4
09:47dalam 10 bulan.
09:50Hutannya nggak seberapa.
09:51Aceh nomor 5.
09:53Sumut nomor 7.
09:54Tadinya Sumut nomor 10.
09:56Aceh dan Sumatera Barat tadinya di bawah jauh.
09:59Sekarang mereka,
10:00ini tiga provinsi ini melonjak nih.
10:02Artinya memang sedang terjadi
10:03perusahaan hutan luar biasa di sana.
10:05Dan kalau misalnya kita lihat
10:08ke Sumatera Utara terutama,
10:12di Tapanulitengah dan Tapanulitselatan,
10:15banyak tuh illegal logging
10:16sebagai awalan tuh.
10:18Jadi illegal loggingnya dulu,
10:19kayunya dulu diambilin,
10:21habis itu kayunya nggak ada,
10:22baru kemudian hutannya diabisin.
10:24Nah ini yang dipernyataannya Dirjen Gakum
10:26di pemegang hak atas tanah.
10:28Jadi seolah-olah
10:29tanah apa dia punya halahan milik,
10:32tapi sebenarnya kayunya dari hutan nih.
10:33Nah pencucian-pencucian ini
10:35yang memang harus kita satu hal,
10:38tapi juga adalah menurut saya juga memang
10:40kalau kita lihat Sumatera,
10:42terutama bagian utara,
10:44pelonjakan sawit memang luar biasa mas.
10:46Jadi monokultur memang soal kita
10:49secara Sumatera gitu ya,
10:51monokultur sawit,
10:54kebun kayu kami nyebutnya,
10:56ekaliptusnya,
10:58indorain atau TPL gitu ya,
10:59dan tambang juga.
11:00Jadi di tambang,
11:01misalnya di daerah Batang Turu itu
11:03tambangnya kan ada tuh.
11:05Bagaimana bisa daerah berbukit begitu,
11:07kita bolehkan tambang.
11:09Nah jadi menurut saya memang ini,
11:12ada kesalahan pemberian izin,
11:15ini harus dikoreksi,
11:16dan ada kesalahan juga di kemudian masyarakat,
11:18kita harus ngakuin,
11:20karena banyak juga kebun kecil-kecil.
11:22Nah yang,
11:22tapi yang menurut saya adalah
11:24saatnya Presiden Prabowo,
11:26sekarang melindungi semua hutan alam tersisa.
11:29terbitkan peraturan Presiden,
11:32yang melindungi sehingga siapapun
11:34yang menerbang hutan alam tersisa,
11:36itu adalah perbuatan ilegal.
11:37Oke.
11:37Saya pikir itu langkah yang sangat jenduin,
11:40kalau Pak Presiden langsung mengambil
11:42kebunsa,
11:42terpres.
11:43Ini ada relate-nya,
11:44dengan Bung Nasir juga di Komisi 3,
11:46kalau kita mau menegakkan masalah hukum gitu ya,
11:48Bung Nasir,
11:49saya akan juga tanyakan nanti,
11:50Bung Nasir soal itu,
11:51termasuk juga saya tanyakan,
11:53kondisi Bang Badru sekarang di Aceh Tengah,
11:56bagaimana saya tanyakan juga kondisi keluarga,
11:58apakah sudah mencukupi bantuan yang disalurkan oleh pemerintah,
12:03saya akan tanyakan hal itu,
12:04sesaat lagi di Sapa Indonesia Malap,
12:05tetap apa bersama.
12:05Kami masih perbincangkan,
12:07begitu masifnya dampak deforestasi yang terjadi di Pulau Sumatera,
12:10tidak hanya bicara soal Aceh, Sumut, dan Sumber,
12:12yang saat ini sedang dilanda bencana longsor dan banjir,
12:15tapi seluruh wilayah di Sumatera,
12:16bahkan seluruh Indonesia,
12:17hutan-hutan yang perlahan mengalami deforestasi.
12:20Nah, tadi saya bertanya ke Bung Nasir soal penegakan hukum,
12:24tapi sebelum saya ke sana,
12:25saya tanya dulu ke Bung Badru sebagai warga yang berada di Aceh Tengah saat ini.
12:31Bagaimana kabar keluarga Anda saat ini,
12:33dan handai tolan di sana semua dalam keadaan baik-baik saja, Bung Badru?
12:37Iya, keluarga saya kebetulan di Banda Aceh ya,
12:41400 km dari Aceh Tengah,
12:45jadi saya sebenarnya berkunjung ke Aceh Tengah dan terdebat di sini.
12:50Ya, komunikasi sulit dengan istri di Banda Aceh,
12:58karena memang selain istri dan juga agak sedikit susah didapat,
13:06bukan sedikit, memang susah didapat.
13:07Sangat susah ya, malah ya sekarang ya.
13:09Sangat susah.
13:10Jadi setiap malam itu kalau di Aceh Tengah,
13:12titik-titik hospod itu seperti masa malam ya.
13:14Jadi kalau ada yang mengatakan situasinya tidak mencekam,
13:17salah sama sekali ya kalau begitu ya.
13:20Sangat mencekam seperti yang digambarkan di berbagai kanal media,
13:24termasuk di media sosial.
13:25Nah, selama Anda melakukan perjalanan kurang lebih 2 hari, 3 malam ya,
13:31Bung Badrul ya,
13:32Anda melihat,
13:33kalau malam mungkin tidak akan terlihat,
13:34tapi pada saat siang hari,
13:36Anda melihat ada kerusakan lahan di sana,
13:38kerusakan hutan,
13:39atau mungkin bukit yang gundul,
13:40selama Anda melakukan perjalanan selama 2 hari, 3 malam itu?
13:42Ya, selama perjalanan ya,
13:47kita seperti dia ada banyak obstacle ya,
13:50dia ada,
13:52apa,
13:55longsoran tanah yang kadang-kadang kita harus lalui dengan ketinggian sampai sepinggang,
14:00sedada,
14:01harus lalui,
14:02karena waktu itu memang baru longsor,
14:03dan dengan dinding jurang yang masih basah berair,
14:10jadi harus melangkah dengan cepat gitu.
14:14Terlihat sih memang ada kayu gelondongan,
14:17atau kayu-kayu yang mungkin sudah lama yang terlihat,
14:20atau kayu baru juga ada terlihat di sana,
14:22tapi pokoknya ya luar biasa ya kondisinya,
14:28dan kebetulan waktu itu saya berjalan dengan 2 orang ibu hamil,
14:33dan 1 orang anak bayi dari Surule mau menuju ke tempat yang lebih aman,
14:38mereka ingin menuju ke daerah Kecamatan Bintang,
14:42desa,
14:43jadi jalan kaki dan harus melalui medan yang,
14:47wah masalah itu,
14:49jadi saya pikir,
14:51ya luar biasa ya,
14:54ada anak bayi juga juga yang digendong,
14:57untuk bisa melewati banyak sekali rintangan seperti itu,
15:00ya alhamdulillah semua bisa sampai di tempat tujuan,
15:06dan saya pikir ya,
15:10gak tau mereka dapat tenaga dari mana ya,
15:12saya bayangkan ibu yang tinggal menunggu hari kelahiran waktu itu,
15:16dan untuk tumbang kayu kalian juga ada di tempat tempat,
15:22baik,
15:23saya ke Bung Nasir,
15:25Bung Nasir masih bersama kami ya,
15:28ya ya masih,
15:29oke baik,
15:29Bung Nasir tadi saya sempat singgung soal penegakan hukum,
15:31dan cerita dari Bung Badrul tadi,
15:33begitu mencekamnya,
15:34begitu sengsaranya warga ketika dilanda banjir bandang,
15:38dan juga longsor begitu,
15:40jadi sama sekali saya juga agak geram mendengar ketika ada pernyataan,
15:44ini sama sekali tidak mencekam,
15:45tidak seperti yang disiarkan di media sosial,
15:48ini cerita langsung dari warga yang mengalami,
15:51dan untuk penegakan hukum yang tegas,
15:53melihat warga yang terdampak dan sengsara seperti itu,
15:57ini sepertinya perlu ada apa ya,
15:59perlu ada langkah cepat begitu Bung Nasir,
16:01kira-kira yang didorong oleh Anda,
16:03sebagai anggota DPR dari Aceh,
16:05dan juga duduk di komisi tiga,
16:07di komisi hukum,
16:08apa yang bisa Anda tawarkan?
16:08Ya, pertama memang media sosial itu realita,
16:14dari apa yang terjadi di tengah masyarakat,
16:17jadi kalau kemudian ada yang mengatakan bahwa,
16:20situasi mencekam itu hanya di media sosial,
16:23itu sesuatu yang bertentangan dengan apa yang terjadi di lapangan.
16:28Yang kedua sebenarnya,
16:29Komisi Pemberantasan Korupsi,
16:31kerap sekali menyampaikan kepada komisi tiga,
16:34bahwa korupsi di sektor sumber daya alam,
16:38itu sangat masif ya,
16:40sangat besar,
16:41dan melibatkan juga orang-orang besar di Republik ini begitu.
16:45Dan upaya-upaya untuk mengatasi itu,
16:47memang masih belum seperti yang diharapkan ya,
16:51penegakan hukum oleh kepolisian,
16:53penegakan hukum oleh kementerian kehutanan ya,
16:57itu dalam pandangan kami memang belum maksimal,
17:00boleh jadi karena ya tadi itu,
17:04bahwa ada orang-orang besar yang diberi konsensi,
17:07ya sehingga kemudian terjadilah ya,
17:09penembangan-penembangan pohon di kawasan hutan tersebut ya.
17:14Bahkan di tahun 2000,
17:15tahun 2000 berapa,
17:17waktu itu Menteri Kehutanan kan membuka,
17:20apa,
17:20lahan ya sekitar 1 juta,
17:22lebih kurang itu,
17:231 juta 600 hektare,
17:25di mana hutan dialihkan ke fungsi lainnya.
17:29Nah itu juga dalam pandangan saya pribadi,
17:32membuat degradasi ya,
17:34biofisik lingkungan,
17:36dan itu kemudian membuat,
17:37apa namanya,
17:38daya tanggap lahan itu terhadap curah hujan yang tinggi itu,
17:42tidak mampu dilakukan.
17:44Nah karena sekali lagi memang,
17:45dibutuhkan penegakan hukum yang konsisten,
17:48ya,
17:48sehingga kemudian peristiwa ini diharapkan,
17:51bisa menjadi pelajaran bagi kita semua,
17:54terutama para pengambil kebijakan,
17:56dan mereka yang ada di institusi penegak hukum.
17:59Oke,
18:00Bukti Mer,
18:02kalau tadi Bung Nasir bilang,
18:04ada orang besar dibalik peristiwa ini,
18:08yang juga selalu diberi konsesi,
18:11jangan-jangan juga ada proyek strategis nasional dibalik ini semua,
18:14apakah Anda punya data soal ini, catatan soal ini?
18:15Yang kami tahu di Sulawesi Tengah,
18:19di Tapanulia Tengah,
18:21dan Tapanulia Selatan,
18:23ada usulan PSN untuk proyek jalan tuh,
18:27untuk membelah hutannya gitu ya.
18:32Nah yang kayak gini nih,
18:33yang jadi soal kita seringkali,
18:35PSN juga tidak dilandasi dengan kajian yang bagus.
18:40Oke, di satu sisi kan masyarakat butuh infrastruktur memang,
18:42tapi apa yang perlu diperhatikan dengan membangun infrastruktur itu?
18:44Jalannya bisa jadi dibutuhkan.
18:47Tapi yang jadi soal kita setiap membangun jalan adalah,
18:50kita tidak perlu menge-enforce,
18:52bagaimana agar tepi-tepi jalan tidak jadi rumah hunian,
18:55yang meluas ke kiri-kanan.
18:57Persoalan kita kan selalu begitu,
18:59selalu ekses-ekses yang seolah-olah itu,
19:02yaudah mau gimana lagi.
19:03Nah ini yang,
19:04sehingga kemudian ketika pemerintah merencanakan satu proyek,
19:08mestinya juga punya safeguard namanya,
19:12dan kemudian mengimbangi dengan proses penegakan hukum tadi.
19:16Nah ini yang tidak terjadi dalam konteks banjir yang kita alami sekarang ini.
19:21Oke.
19:21Dan itu kan kumulatif mas,
19:23mas Rady.
19:23Jadi,
19:24merusak lingkungan itu tidak lantas sekarang kita rusak,
19:29besok akibatnya.
19:30Dan apa cerita Bang Badrul tadi kan,
19:32adalah fenomena yang biasa dengan perusakan alam.
19:36Yang jadi korban siapa,
19:38yang merusak siapa gitu.
19:40Bang Badrul sama sekali tidak merusak hutan dia,
19:43yang merusak orang lain,
19:44tapi dia yang jadi korban.
19:45Yang kena dampaknya.
19:46Oke.
19:47Nah,
19:47bicara soal konsesi,
19:50juga bicara soal penerbitan izin.
19:52Saya mendengar izin perkembunan,
19:54pertambangan,
19:55logging,
19:56dan segala macam,
19:57itu juga diwacanakan sejak tahun 2007.
20:00Koreksi kalau saya,
20:01salah ya.
20:02Berulang kali dijanjikan sejak tahun 2007.
20:04Tapi kenapa sampai sekarang 2025,
20:06sudah bertahun-tahun berlalu,
20:09masih banyak izin yang terbit di kawasan hidung,
20:11di hutan produksi terutama.
20:13Iya.
20:14Dan yang diterbitkan kementerian,
20:17kan kadang-kadang gini juga, Mas.
20:18Jadi, kementerian kehutanan,
20:19saya tidak belain kementerian kehutanan.
20:21Iya, iya, iya.
20:21Tapi kadang-kadang mereka pada posisi susah,
20:24ketika usulan itu datang dari pemerintah daerah,
20:27misalnya.
20:28Yang jadi fenomena sekarang, Mas,
20:29bukan izin 1-2,
20:31datang dengan perubahan tata ruang,
20:32yang diusulkan pemerintah daerah.
20:34Jadi, sama-sama nih semua nih.
20:36Kita tidak sedang bisa belain Pemda,
20:39atau Pemprov, atau Pemkap,
20:40atau kementerian.
20:42Semuanya tiba-tiba pada saat yang,
20:44oh, seolah-olah nggak punya pilihan.
20:46Karena misalnya di Aceh,
20:47Bang Badr mungkin tahu,
20:49bisa atau bisa koreksi.
20:50Kawasan ekosistem loser saat ini,
20:52itu pun terancam,
20:53tidak ada lagi gitu.
20:54Sebagai kawasan yang ada,
20:56tinggal Taman Nasional Lesnar.
20:57Jadi, ada memang dalam situasi kita sekarang,
21:01terutama di masa Pak Jokowi ke-2,
21:04dan awal-awal Pak Prabowo ini,
21:06kita seolah-olah gamang nih,
21:08mana nih yang kebijakan yang akan,
21:10apa namanya,
21:11akan kita lakukan,
21:12atau akan kita terapkan,
21:14sementara perusahaan alam jalan terus.
21:16Jadi, itu tadi yang dikatakan Bung Timer,
21:20ini lagi-lagi penegakan hukum yang tegas,
21:23perlu dilakukan.
21:24Mengingat kalau kata Bung Lea Onar kemarin,
21:27dari Greenpeace,
21:28sudah menjadi gunang kusut masalah ini.
21:29Sehingga harus memang diurai satu persatu,
21:32mulai dari penegakan hukumnya dulu,
21:34baru ditata perizinannya.
21:35Saya kembali ke Bung Badrul.
21:37Bung Badrul,
21:38kalau Anda tadi mengatakan,
21:41sekarang sulit Anda akses komunikasi,
21:45lalu juga masih bantuan masih terbatas,
21:48karena akses masih terputus,
21:49dari beberapa daerah untuk menyampaikan bantuan.
21:52Bagaimana dengan bahan bakar?
21:55Kabarnya di beberapa wilayah,
21:56juga bahan bakar kesulitan,
21:58karena tidak bisa masuk,
22:01sementara masyarakat juga beraktifitas,
22:02menggunakan kendaraan bermotor.
22:03Bagaimana Bung Badrul di sana kondisinya?
22:05Ya, benar.
22:06Itu kondisi yang sama di sini.
22:09Sulit sekali mendapatkan bahan bakar,
22:11kalau hari-hari kita disubuhi dengan pandangan,
22:15antrian BBM yang sangat panjang,
22:17sampai kilometer itu panjangnya.
22:20Jadi,
22:22ya mungkin,
22:23saya mohonlah kepada semua pihak ya,
22:26ini sudah sangat urgen,
22:29infonya juga hari ini,
22:31bahan bakar gas juga sudah semakin langka,
22:34atau bahkan mungkin sudah hilang.
22:37Begitu, ya Bang.
22:39Oke,
22:40saya ingin tanya,
22:41Bang Badrul,
22:42mohon maaf usianya saat ini berapa?
22:43Saya?
22:45Ya.
22:46Saya harus bilang 54 tahun sekarang.
22:49Oh, baik.
22:49Mohon maaf ya,
22:50saya harus tanyakan.
22:51Selama 54 tahun Anda sebagai warga Aceh,
22:54apakah ini bencana yang paling parah,
22:56atau sebelumnya pernah terjadi bencana seperti ini,
22:59dan bagaimana komparasinya,
23:01jika memang ada bencana sebelumnya?
23:03Ya,
23:04saya pikir,
23:05ini yang paling parah ya,
23:06saya rasakan ya.
23:07Lalu ada juga banjir di Aceh Tamiang,
23:11kalau tidak salah 2006.
23:14Oke.
23:15Tapi,
23:17ya kerusakannya juga,
23:19tidak,
23:20besar,
23:22tapi saya pikir tidak seluas sekarang,
23:23dampaknya juga penanganannya,
23:25waktu itu,
23:26lebih cepat,
23:27mungkin masih ada BRR ya,
23:29waktu itu.
23:30Akhirnya masih kan,
23:30masih pada,
23:32proses rehab record,
23:33jadi,
23:34banyak seberdaya yang bisa dikerahkan.
23:36Jadi,
23:37kalau sekarang,
23:37sekiranya ini sudah hari ke-8,
23:40atau ke-7,
23:41belum ada akses jalan yang bisa,
23:44apa,
23:46ditembus untuk bisa menuju ke bandar Aceh.
23:48Baik.
23:50Melihat,
23:51kondisi seperti itu,
23:522006 ya,
23:53tadi kalau Anda gambarkan,
23:54sekitar 2006 di Aceh Tamiang,
23:56pernah terjadi bencana seperti ini,
23:58banjir dan longsor,
23:58tapi ini yang terparah menurut Bumbadul.
24:01Bang Nasir,
24:01apa akan merasakan hal yang sama,
24:03sebagai anggota DPR RI dari Aceh?
24:06Ya,
24:07jadi saya hari Sabtu itu,
24:08perjalanan menuju Biren,
24:11ya,
24:11saya singgah di,
24:12apa,
24:13Pidi Jaya,
24:14kemudian saya juga singgah di Biren,
24:16kemudian di Biren,
24:18ada jembatan yang putus,
24:19lalu saya naik perahu karet,
24:21yang disiapkan oleh kepolisian,
24:23perahu karet itu juga digunakan oleh warga lainnya,
24:25untuk menyeberang,
24:26nah,
24:26setelah itu baru naik mobil lagi,
24:28ke,
24:28ke,
24:29apa,
24:29ke Los Mame,
24:29ke Aceh Utara,
24:30tapi saya tidak bisa menembus Langsa,
24:33Aceh Tamiang,
24:34saya tidak bisa menembus Aceh Tengah,
24:36dan Benar Meriah.
24:37Jadi memang antrian panjang di SPBU itu sangat luar biasa,
24:41dan itu terjadi di pagi hari,
24:42siang hari,
24:43sore hari,
24:44sampai malam hari,
24:45dan herannya,
24:46kadang ada,
24:47di depan SPBU itu,
24:49tidak jauh dari SPBU,
24:50orang menjual eceran minyak yang harganya,
24:53eceran bahan bakar,
24:55itu yang harganya 50 ribu per liter,
24:58jadi ini situasi yang sangat,
25:00sangat,
25:01sangat,
25:01apa namanya,
25:02miris sekali,
25:04jadi lampu mati,
25:05ini,
25:06saya ini bandar Aceh ini,
25:07mati lampu,
25:08saya ini dalam mobil,
25:10jadi arus,
25:11apa namanya,
25:12menghindukkan HP ini,
25:14dari cas yang ada di mobil,
25:15jadi gelap,
25:18saya di luar,
25:19jadi memang situasi,
25:20sinyal juga kadang muncul,
25:23kadang hilang,
25:23jadi sama sekali memang,
25:25apa namanya,
25:26tidak begitu tanggap,
25:28dalam mengantisipasi,
25:30bencana seperti ini.
25:31Baik,
25:32ya,
25:33ini,
25:34kalau kita gambar,
25:36kalau saya boleh simpulkan sementara,
25:37dari gambaran Bang Nasir,
25:39dan juga Bang Badrul,
25:40di Aceh sana,
25:41yang saat ini sebenarnya di Aceh,
25:42begitu terbatasnya,
25:44gerak-gerik,
25:45aktivitas warga,
25:46karena bencana banjir,
25:47yang begitu besar,
25:48dibandingkan dengan bencana sebelumnya,
25:49ini sepertinya memang,
25:50yang paling menyusahkan warga.
25:52Nah,
25:54Bung Timer,
25:54kalau memang,
25:55apa,
25:56tadi pendegakan hukum,
25:57harus dikedepankan,
25:59apa kira-kira yang perlu,
26:01didorong lebih awal,
26:02prioritas apa,
26:03hukum di,
26:03di,
26:04di,
26:04di ranah yang mana,
26:05apakah pembatasan izinnya dulu,
26:07ataukah pendegakan hukum,
26:09mereka yang melakukan pembalkan liar,
26:10atau dimana?
26:11Saya akan tanyakan itu,
26:11setelah lagi di Sampai Indonesia Malam,
26:13tetaplah bersama kami.
26:13Saat meninjau lokasi,
26:16dan mengunjungi korban banjir bandang,
26:18di Sumatera Utara,
26:18Presiden Prabowo Subianto,
26:19mengingatkan semua pihak,
26:21waspada,
26:22atas dampak perubahan iklim.
26:23Prabowo pun meminta,
26:24seluruh jajaran pemerintah,
26:25menjaga lingkungan,
26:26untuk mengantisipasi perubahan iklim,
26:28di masa mendatang.
26:29Perubahan iklim,
26:30itu sangat terkini membaik,
26:33pemerintahan harus,
26:35benar-benar,
26:37berfungsi menjaga,
26:38menjaga lingkungan,
26:41mengantisipasi kondisi di masa depan,
26:45mungkin yang di daerah-daerah juga,
26:48semuanya harus siap,
26:50menghadapi kondisi yang berubahan iklim,
26:54yang berpengaruh.
26:55Ya,
26:57kalau mencermati pernyataan Pak Presiden tadi,
27:00mengantisipasi krisis iklim,
27:02di masa mendatang.
27:03Ini,
27:04warga juga diminta menjaga lingkungan,
27:06dan meminta jajaran pemerintah,
27:08juga ikut menjaga lingkungan,
27:10menjaga antisipasi dari perubahan iklim.
27:12Saya tahu Anda baru pulang saja dari Brazil,
27:14dari BLEM,
27:15di KTT COP30.
27:18Pernyataan ini,
27:19apakah memang sudah cukup,
27:22memberikan,
27:22apa ya,
27:23memberikan pencerahan,
27:24terkait kebijakan,
27:25misalnya kebijakan,
27:28kebijakan untuk menghindari deforestasi di wilayah Indonesia,
27:30termasuk di Sumatera?
27:32Saya malah agak khawatir dengan pernyataan Pak Presiden ini,
27:35karena seolah-olah akan menyalahkan iklim nih.
27:37Oke.
27:38Padahal yang namanya bencana itu kan,
27:39tidak hanya soal fenomena alam.
27:41Oke.
27:42Hujan turun banyak itu fenomena alam.
27:44Oke.
27:44Tapi dia menjadi bencana ketika kita meresponnya secara salah.
27:48Merusak hutan itulah respon yang salah,
27:50apalagi di daerah-daerah das,
27:51daerah-daerah yang kelerengannya tinggi gitu ya.
27:54Nah, menurut saya harusnya Pak Prabowo menambah bahwa pemerintah akan mengkaji dan mengevaluasi secara menyeluruh.
28:02Misalnya.
28:02Oke.
28:03Jadi tidak semata menyalahkan,
28:04takutnya saya menyalahkan Tuhan nih,
28:06karena iklim.
28:06Itu satu.
28:08Nah, yang kedua adalah menurut saya memang ini saatnya Pak Prabowo menunjukkan kepemimpinan dengan memperbaiki.
28:19Karena gini,
28:20Bang Nasir juga mungkin,
28:21bukan mungkin punya peran juga,
28:24karena Bang Nasir turut mengikut undang-undang Pemda,
28:29yang menarik semua kewenangan ke pusat,
28:32hampir semua kewenangan,
28:34dan undang-undang omnibus juga yang membuat semua ini kita...
28:36Cipta kerja ya.
28:38Filter lingkungan itu sekarang gak ada.
28:3930 persen tutupan minimum hutan itu gak ada sekarang di aturan kita.
28:44Dulunya ada.
28:45Nah, hal-hal seperti ini yang menurut saya perlu kita,
28:49karena asalnya ini mas seringkali dari kebijakan yang salah kapra.
28:53Kalau kita mau minta penegakan hukum,
28:55penegakan hukum itu di ujung.
28:58Tidak penegakan hukum duluan.
28:59Ada sesuatu yang berbuat,
29:01maka ada penegakan hukum.
29:01Jadi,
29:02induknya ini yang harus kita selesaikan,
29:05dan itu menurut saya peran dari pemerintah pusat.
29:08Oke.
29:09Bang Badrul,
29:10Anda juga mungkin tadi sama-sama bisa mendengar ya pernyataan Presiden Prabowo Subianto
29:14yang menyatakan waspada dengan perubahan iklim,
29:18atau krisis iklim yang terjadi ke depan.
29:20Anda sebagai warga Aceh yang sekarang ini terdampak
29:23mendengar pernyataan dari Presiden seperti itu,
29:26apa yang bisa Anda respons dari pernyataan Presiden?
29:28Mengingat juga Presiden hari ini datang ke Aceh langsung
29:31melihat kondisi pasca bencana di sana.
29:35Bang Badrul.
29:37Ya, kalau waspada ya pasti,
29:40tak waspada ya,
29:41masyarakat,
29:42tidak ada yang mau mengalami apa,
29:45celaka, pasti.
29:46Oh, ya.
29:53Sepertinya ada kendala komunikasi dengan Bang Badrul.
29:56Ya, saya yakin dari pernyataan singkat Bang Badrul tadi,
30:00Bung Timer,
30:01waspada ya tentu saja,
30:03pasti masyarakat akan waspada.
30:04Oke.
30:04Oh baik.
30:05Sepertinya akan tersambung kembali.
30:07Bang Badrul, mohon maaf tadi sempat terputus.
30:09Silahkan dilanjutkan.
30:09Ya, alo?
30:10Ya, silahkan.
30:13Ya, alo?
30:13Ya, silahkan dilanjutkan Bang Badrul.
30:16Oh ya, baik.
30:17Kalau untuk waspada,
30:18saya pikir itu imbauan yang sering ya.
30:22Sering.
30:23Masyarakat juga pasti sudah otomatis,
30:24sudah begitu tahu hujan lebat,
30:27dan ada anomali iklim,
30:31pasti waspada.
30:32Tapi ya,
30:33memang,
30:34tapi harus diikuti juga ya,
30:35untuk mitigasi dampak.
30:39Aceh kan sudah berkali-kali,
30:41mengalami musibah ekologis ini.
30:44Tapi kita selalu gagap,
30:47bagaimana menrespon,
30:49pasca setelah,
30:50bencananya terjadi.
30:53Contoh hingga hari ini kan,
30:55masyarakat di Aceh Tengah itu,
30:57kesulitan,
30:58bahan pokok,
30:58BBM,
30:59lampu mati ini,
31:01lampu hidup karena,
31:03ada,
31:04ini ya,
31:05ada interview di Pak TV,
31:07saya ini di ruangan,
31:08Pak Kadir,
31:09kemingguan Aceh Tengah ini.
31:10Oh, baik, baik.
31:11Kalau hari ini, Pak,
31:12jangan tumpah sinyal.
31:13Baik.
31:14Ya,
31:15berarti,
31:16kewaspadaan sih,
31:17setiap hari senantiasa,
31:18diterapkan begitu ya,
31:20Bang Badrul.
31:20Tapi ya,
31:22kebijakan yang pertama kali,
31:24dibutuhkan untuk,
31:26sama-sama bisa memberikan,
31:27alarm,
31:28kepada semua pihak,
31:30termasuk juga,
31:31pemerintah,
31:33dan juga,
31:34apa namanya,
31:35aksi korporasi,
31:36begitu ya,
31:37di sana yang banyak sekali,
31:38aksi korporasi.
31:38Nah,
31:39berarti,
31:40sekarang,
31:41kalau bicara soal itu,
31:42alih-alih kita menegakkan hukum,
31:44kita harus bicara kebijakan dulu ya,
31:46pertama kali.
31:47Saya melihatnya begitu.
31:48Apa yang bisa dikedepankan,
31:49kebijakan seperti apa yang bisa dikedepankan,
31:50untuk,
31:51untuk fast response,
31:52dari kejadian di Aceh ini?
31:54Seperti yang saya bilang tadi,
31:55respon pertama,
31:56Pak Presiden,
31:57terbitkan perpres,
31:58nggak perlu macam-macam,
32:00perpres melindungi semua hutan alam tersisa,
32:03sehingga tidak ada lagi deforestasi.
32:05Kalau memang niatnya.
32:06Dan itu kegagalan kita juga di Belen kemarin,
32:08karena Indonesia tidak turut mendukung forest roadmap.
32:12Jadi forest roadmap itu adalah semacam roadmap untuk menghentikan deforestasi.
32:16Dan kita nggak turut mendukung itu,
32:17yang ada adalah negara-negara lain yang mendorongnya.
32:20Dan kita tidak,
32:22lagi-lagi tidak mendorongnya.
32:24Itu forest roadmap,
32:25apa namanya,
32:27perlindungan hutan alam tersisa.
32:28Yang kedua adalah,
32:30kewenangan,
32:31jadi kalau di Sumatera itu,
32:33kita,
32:33Aurega pernah bikin ini mas,
32:35bikin semacam simulasi,
32:36begitu ada pabrik,
32:38itu deforestasi akan luar biasa meningkat.
32:41Semakin dekat ke pabrik,
32:42pabrik sawit,
32:43atau pabrik pulp and paper,
32:44semakin dekat ke pabrik,
32:45semakin tinggi deforestasi.
32:47Nah, bagaimana agar
32:48izin penerbitan pabrik ke depan,
32:51jangan juga diobral gitu.
32:53Jadi,
32:54atas seolah-olah,
32:55atas nampak pembangunan yang terjadilah,
32:56sekarang kita mengalami seperti ini.
32:58Jadi,
32:59lagi-lagi,
33:01menurut saya,
33:03ketegasan di sana,
33:04lalu kemudian baru,
33:06penegak hukum.
33:06Karena persoalannya adalah,
33:08sekarang ini penegak hukum juga,
33:09kesulitan mas.
33:09Karena,
33:10yang salah pada zaman dulu,
33:11sekarang seolah-olah tidak salah lagi.
33:13Sama dengan korupsi kan,
33:14yang dulu masuk korupsi,
33:16dengan adanya banyak,
33:17dipreteli dengan undang-undang sekarang,
33:19terutama termasuk omnibus,
33:20itu menjadi tidak salah lagi sekarang.
33:22Baik,
33:24terakhir saya ke Bang Badrul,
33:26dari kondisi saat ini,
33:27apa ekspektasi Anda terhadap pemerintah,
33:30selain memang kalau sekarang yang urgent sekali,
33:33bantuan yang cepat disampaikan ke warga terdampak di sana,
33:36tapi di samping itu,
33:38di lain itu,
33:39apa ekspektasi Anda terhadap pemerintah,
33:41dari bencana alam yang begitu masif,
33:43menimpa wilayah Aceh sekarang?
33:44Ya,
33:45untuk respon kondisi sekarang itu perlu ya,
33:50terutama seperti yang sampaikan tadi,
33:53bagaimana bisa melayani masyarakat,
33:55yang saat ini butuh bahan pokok,
33:58butuh penerangan,
33:59dan terutama akses,
34:01untuk kembali ke kampungnya ya,
34:04tapi yang paling penting juga,
34:09bagaimana bisa belajar,
34:13dari berbagai situasi yang ada,
34:15kita tahu Aceh sering sekali,
34:17menghadapi bencana ekologis,
34:20tapi selalu juga,
34:21seperti tadi saya sampaikan,
34:23kita agak gagap,
34:25dengan bagaimana merespon ini gitu,
34:27Pak Presiden sudah bilang,
34:29mungkin sudah ada,
34:30ada hal yang lebih maju,
34:32sudah ada,
34:33sekarang imbuhan itu waspada,
34:35sudah bisa mendeteksi secara dini,
34:39kemungkinan munculnya bencana ya,
34:41tapi itu ketika bencana muncul,
34:44ya lagi-lagi kita gak siap,
34:45kita cuma bilang bencana akan muncul,
34:47tapi ketika itu terjadi,
34:49masyarakat,
34:49seperti yang saya sampaikan tadi,
34:51ibu-ibu hamil,
34:5260 jalan yang,
34:54saya sampai sekarang,
34:55Bang,
34:55gak bisa membayangkan,
34:56dari mana mereka mendapat tenaga yang luar biasa,
34:58seperti itu,
34:59bisa sampai ke tujuan saya,
35:01wah,
35:02itu,
35:03ya,
35:04di luar,
35:04memang benar-benar di luar,
35:06kenal rasanya,
35:07kalau lihat,
35:08situasi saat itu.
35:09Oke,
35:10saya turut sangat prihatin,
35:11dengan apa yang Anda alami,
35:12dan juga warga Aceh Tengah Alami,
35:15dan,
35:15ya alam memang tidak bisa ditantang,
35:17tapi manusialah yang,
35:19harus menyesuaikan dengan,
35:20apa yang terjadi,
35:22perubahan apapun yang terjadi,
35:23dari alam.
35:24Terima kasih,
35:25Bang Badrul,
35:26telah berkomunikasi dengan kami,
35:28dan sampaikan juga terima kasih,
35:29dari kami,
35:31untuk pemerintah Aceh Tengah,
35:32yang sudah memfasilitasi komunikasi kita,
35:33dengan lancar,
35:34sehingga kita bisa mengetahui,
35:35kondisi paling aktual,
35:37masyarakat yang terdampak di sana,
35:39dan diwakili oleh Bang Badrul.
35:40Terima kasih,
35:41Bang Badrul,
35:41dan juga Bang Timer,
35:42yang sudah hadir di studio,
35:43dan sebelumnya,
35:43tadi ada,
35:44anggota DPR RI,
35:45dari DAPIL Aceh,
35:47Bung Nasir Jamil,
35:48yang sudah,
35:49lost contact,
35:50berarti memang ada kesulitan komunikasi di Aceh,
35:52jadi,
35:53Bung Nasir Jamil tidak bisa melanjutkan komunikasi.
35:55Terima kasih,
35:55sekali lagi,
35:56Bang Timer,
35:57Bang Badrul,
35:57selamat malam,
35:58dan sehat selalu,
35:58sampaikan,
35:59salam saya,
36:00dan sehat selalu,
36:01untuk keluarga Anda di sana,
36:02Bang Badrul,
36:02selamat malam.
36:03Baik, terima kasih.
Komentar