00:00Saudara nasib pilu dialami ibu hamil dan janin yang berada di kandungannya.
00:06Iren Sokoy meninggal bersama janinnya setelah diduga ditolak sejumlah rumah sakit saat akan melahirkan di kabupaten dan kota Jayapura.
00:15Kematian Iren Sokoy dan janinnya merupakan tragedi yang memilukan.
00:19Bagaimana bisa Iren mengalami nasib senaas itu?
00:22Bayangan kebahagiaan untuk segera menimang sang buah hati yang sudah sembilan bulan dalam kandungan sang istri sirna seketika berganti kesedihan yang teramat pilu.
00:39Nel Castro KB kehilangan sang istri bersamaan dengan janin yang masih di kandungan.
00:45Nel mengingat peristiwa mencekam saat istrinya dilempar sana-sini oleh sejumlah rumah sakit demi bisa melahirkan buah hati mereka.
00:56Bahkan ada rumah sakit yang memintanya membayar dengan sejumlah uang dahulu.
01:02Katanya kan ada, kalau BPJS kan ada ruangan-ruangan untuk BPJS.
01:15Karena memang dah penuh sekali, jadi udah bilang yang ada tuh VIP saja.
01:193-4 juta kamu bayar dulu.
01:21Iya, udah bilang, belum tentu ada dokter katanya begitu.
01:25Itu karena takut, nampaknya sudah sesak, jadi lari lagi ke, abis-abis-abis dua.
01:35Jadi suster bilang, karena mungkin ke sana jauh, takut juga, atau putar balik, ya sudah memang setidak bisa.
01:40Kisah tragis Iren bermula pada minggu 16 November lalu.
01:45Saat itu Iren sudah mengalami kontraksi, namun karena tak ada fasilitas kesehatan di kampungnya, di Kensio, Danau Sentani.
01:53Iren pun dibawa ke Rumah Sakit Umum Daerah Yowari menggunakan speedboat.
01:58Iren tiba di RSUD Yowari pukul 3 siang dan langsung menjalani pemeriksaan awal.
02:04Namun karena pembukaan tak berubah, Iren pun dipindah ke ruang bersalin pada pukul 6 sore.
02:10Perawat langsung memberikan induksi untuk mempercepat proses persalinan sesuai arahan dokter jaga.
02:16Sekitar pukul 8 malam, air ketuban Iren pun pecah.
02:20Dokter jaga menyarankan Iren masuk ruang operasi.
02:24Namun ternyata dokter objin yang hanya ada satu-satunya di RSUD Yowari rupanya juga sedang tidak bertugas.
02:33Dan diduga ada kelalaian prosedur karena tindakan induksi diberikan saat tidak ada dokter objin.
02:41Sementara itu, Direktur Rumah Sakit Umum Yowari, Marian Braweri, mengklarifikasi tudingan adanya kesalahan prosedur dan lambatnya penanganan medis terhadap Iren dan Janinnya.
02:58Marian bilang, saat pasien datang ke RS, sudah pembukaan 5.
03:02Dan saat pukul 10 malam, pembukaan baru lengkap, namun kondisi jantung Janin menurun.
03:09Maka disarankan untuk operasi.
03:14Namun hari itu, dokter kandungan satu-satunya di RSUD Yowari sedang berkegiatan di luar kota,
03:21sehingga pasien dirujuk ke Rumah Sakit Dian Harapan Waina.
03:24Dari RSUD Yowari, Iren pun dibawa ke RS Dian Harapan Waina menggunakan ambulans.
03:37Mirisnya saudara, keluarga pun sempat menunggu lebih dari 2 jam sampai akhirnya ambulans tersedia.
03:44Keluarga semakin panik karena Iren terus berontak kesakitan.
03:48Saat perjalanan pihak RS Dian Harapan memberi kabar lewat telepon bahwa kamar untuk BPJS Kesehatan kelas 3 sudah penuh.
03:57Ditambah dokter anestesi juga sedang tidak ada.
04:01Keluarga pun memutuskan membawa Iren ke RSUD AB Pura karena pertimbangan RS tersebut merupakan RS terdekat.
04:08Ironi saudara, lagi-lagi Iren dan Janinnya harus menahan sakit karena setibanya di RSUD AB Pura,
04:20pihak Rumah Sakit bilang kalau ruang operasi mereka sedang renovasi.
04:25Sehingga Iren dan Janinnya belum juga bisa ditagani.
04:30RSUD AB Pura pun menyarankan agar pasien dibawa ke Rumah Sakit Bayangkara, Jayapura.
04:35Namun di Rumah Sakit keempat itu saudara, di RS Bayangkara, keluarga kembali harus menelan pil pahit.
04:45Pihak RS bilang kamar untuk BPJS kelas 3 sudah penuh dan yang tersedia hanya ruang VIP.
04:52Keluarga pun diminta membayar uang muka sebesar 4 juta rupiah.
04:56Namun karena keluarga tak memegang uang senilai 4 juta, pihak Rumah Sakit pun tak memberikan penanganan medis terhadap Iren.
05:05Abraham KB, mertua Iren, tak kuasa menahan kesedihannya.
05:13Ia marah dan kecewa karena menduga sejumlah rumah sakit yang mereka datangi
05:17bertele-tele dan terlambat menangani Iren serta Janinnya.
05:21Emosi Abraham tumpah mengenang betapa pedihnya kejadian malam itu.
05:27Menantu dan cucunya dibiarkan terlantar hingga berujung kematian.
05:35Masuk di Bayangkara sudah, kami lari masuk, petugas kasih lapor.
05:42Yang bapak ke kasir dulu.
05:44Ke kasir, kadang kami ceritakan, padahal si pasien ini menderita sekali dalam mobil.
05:50Cua petugas lari langsung menulis tangan ikat, teradah, mereka tunggu perintah dulu baru baksananya.
05:56Tapi langsung habis bapak, betul ini kelas sudah full, yang tinggal itu mikir fit saja.
06:03Tapi bapak dorang harus bayar DP 4 juta dulu.
06:07Baru kami layani.
06:08Tidak, tolong dulu, saya masukkan nyawa dulu.
06:11Jangan uang yang langsung masuk.
06:14Kami lari ke depan naik sekarang, turun begini, habis.
06:17Bapak kayak orang sinting, kembali lagi ke...
06:22Kepala Rumah Sakit Bayangkara AKBP Romy Sebastian membanta adanya penolakan tindakan medis terhadap pasien irin.
06:32Romy bilang saat pasien datang, pihak RS Bayangkara tidak mendapat surat rujukan terpadu dari RS sebelumnya,
06:39sehingga tenaga medis tidak mengetahui kondisi pasien.
06:42Romy juga menjelaskan, kamar BPJS kelas 3 DRS Bayangkara saat itu penuh.
06:48Dan memang sesuai aturan, pasien harus berpindah ke kelas umum jika tetap ingin mendapat perawatan.
06:56Dari Rumah Sakit Y, Yowari, itu tidak melalui sistem rujukan terpadu.
07:06Namanya SISRUT.
07:08Kita tidak tahu keadaan pasien itu bagaimana.
07:12Ternyata keluarga ini adalah PBI, penerima bantuan IURAN kelas 3,
07:23di mana peraturan BPJS disitu tertulis bahwa pasien PB kelas 3 tidak dapat pindah kelas.
07:33Intinya tidak ada dari Rumah Sakit Bayangkara menolak pasien.
07:38Kasus yang menimpa Irin dan Janinnya menjadi sorotan publik dan membuat Gubernur Papua Matius Derek Fakhiri
07:47mendatangi rumah keluarga Iren Sokoy di dermaga kampung Ivar Besar, Jayapura, Jumat Palam.
07:54Kepada Gubernur, keluarga Irin menceritakan kekecewaan dan kemarahan mereka soal peristiwa getir yang harus mereka alami.
08:04Matius Fakhiri pun mengancam akan mencopot tenaga medis yang menolak pasien.
08:09Komisioner Komnas Perempuan merespons kasus meninggalnya seorang ibu dan Janin pasca berpindah-pindah rumah sakit di Papua.
08:32Daden Sukendar menyebut, fasilitas kesehatan harusnya bisa diakses merata oleh seluruh warga negara.
08:40Daden menekankan pentingnya akses kesehatan bagi warga negara, terutama perempuan.
08:46Harapannya justru fasilitas kesehatan terhadap semua warga negara, terutama perempuan,
08:56yang memang selama ini sangat rentan untuk tergerus gitu ya, itu kita mendorong agar pemerintah tentunya hadir dalam hal ini,
09:08bagaimana jaminan terhadap kesehatan warga negara bisa dipenuhi.
09:12Kisah pilu seorang ibu dan Janinnya yang meninggal akibat dugaan kelalaian dan lambannya penanganan medis tak boleh lagi terulang.
09:20Negara harus memastikan akses kesehatan merata bagi seluruh warga dari Sabang hingga Merauke.
09:27Tidak boleh lagi ada penolakan pasien yang berujung hilangnya nyawa.
Komentar