00:00Intro
00:00Sejak awal Oktober, sejumlah warga telah mendapati banyak luka dan memar pada tubuh korban.
00:12Lantas bagaimana awalnya kasus penganiayaan yang dilakukan ibu tiri korban dapat rungkap?
00:17Ikuti penelusuran jurnalis Kompas TV, Argan Anjani.
00:30Pelaku secara sadar melakukan penganiayaan terhadap korban.
00:35Puncaknya pada tanggal 19 Oktober itu, tiga hari belakangan secara intensif pelaku melakukan penganiayaan terhadap korban.
00:46Sehingga mengakibatkan korban pingsan.
00:51Diketahui korban sudah meninggal.
00:54Pertama kali lihat korban itu, akhir pas korban ke sini, akhir September.
01:06Tanggal 29.30an ya.
01:10Itu kondisinya udah babak lur, Bang.
01:12Kasus kekerasan terhadap anak masih jadi masalah serius yang harus segera ditangani.
01:32Di Bogor, Jawa Barat, bocah 6 tahun yang harusnya menikmati masa tumbuh kembang dengan riang, justru mengalami kejadian tragis.
01:39Dia niaya ibu tirinya hingga kehilangan nyawa.
01:41Mengapa pelaku tega menganiaya anak tirinya hingga meninggal dunia?
01:45Apakah ayah kandung sang anak dan para tetangga tak ada yang mengetahui perbuatan pelaku?
01:50Simak penelusuran kami.
01:51Digelar perkara.
01:59Beberapa waktu lalu, warga desa rawa panjang Bojonggede, Bogor, Jawa Barat digegerkan oleh kematian MAA, bocah 6 tahun akibat dianiaya ibu tirinya.
02:08Sebelum ditemukan meninggal dunia dalam kondisi mengenaskan pada 19 Oktober lalu, warga sempat mendapati tubuh korban dipenuhi luka lebam.
02:15Beberapa luka juga ditemukan di sekujur badan korban, terutama di bagian punggung beberapa sedikit, kemudian di bagian bibir.
02:30Namun yang menyebabkan meninggalnya korban adalah luka di bagian kepala dan kami meyakini itu akibat kekerasan dengan benda tubuh.
02:45Kami menduga bahwa memang ada tindakan kekerasan yang dilakukan oleh tersangka sudah berkali-kali dilakukan.
02:54Untuk menggali informasi lebih dalam terkait nasib malang yang menimpa bocah lelaki tersebut, kami mendatangi TKP di sebuah lingkungan perumahan di Bojonggede, Kabupaten, Bogor.
03:05Kami menemui Irma dan Jainal, pasangan suami istri yang sempat merekam kondisi tubuh korban.
03:09Pertemuan pertama Irma dengan korban terjadi akhir September, saat korban membeli jajanan ke warungnya.
03:18Irma terkejut melihat sejumlah luka di sekujur tubuh korban.
03:21Curiga adanya indikasi KDRT, Irma melapor pada perangkat desa.
03:24Pertama kali lihat korban itu, pas korban ke sini, akhir September, tanggal 29.30an ya.
03:38Itu kondisinya sudah bebak ulur, Bang.
03:41Pas malamnya, karena kan kita curiga ya ada indikasi KDRT dari orang tuanya.
03:48Nah saya laporanlah ke Pak Korwil malamnya itu, kata Pak Korwil kalau misalkan dilaporin juga gak akan kuat kalau misalkan verbal doang mah, ya harus ada bukti.
04:016 Oktober, MAA kembali belanja makanan di warung Irma.
04:05Berniat mengumpulkan bukti, Irma merekam kondisi visi korban.
04:08Kecurigaan Irma dan suaminya bahwa terjadi KDRT terhadap korban makin menguat.
04:12Irma prihatin, bocah yang seharusnya menerima kasih sayang orang tuanya, malah mendapat penganiayaan di dalam rumah.
04:19Tuh anak mana, ya kok gak dateng-dateng.
04:22Nah pas gak lama tuh, seminggu kemudian dia dateng sini lagi.
04:26Eh Rasha, kok kamu gak kesini-sini, kata saya gitu.
04:30Dia senyum doang, kamu mau jajan ya?
04:32Iya, nah dia masuk ke dalam.
04:35Akhirnya saya videoin tuh, ibu videoin ya, dia di maja, dia sambil milih-milih jajanan.
04:42Dan sengaja saya videoin, kebetulan suami lagi ada.
04:47Nah pas dia udah beres di dalam, udah beres Rasha, udah.
04:52Nah saya panggil, sebentar ya Rasha, saya suruh ajak main dulu sama anak saya tuh yang kecil.
04:57Nah saya panggil suami, baru sama suami di videoin.
05:03Di hari yang sama, Jayena langsung memperlihatkan rekaman video korban pada ketua RT.
05:07Namun saat itu, pengurus lingkungan belum sempat melapor polisi,
05:11karena merasa kurang bukti atau saksi yang melihat langsung ke DRT terhadap korban.
05:15Untuk yang pertama kali, untuk inisiatif-inisiatif warga kita semua.
05:22Yang khususnya dari Bapak Korul, tak dari RT, apapun dari wilayah setempat sini.
05:28Karena beberapa kali pada saat istri saya menemukan kejanggahan dari anak itu,
05:35isi saya konfirmasi ke saya.
05:38Dan saya pun coba koordinasi dengan pihak Korwil dan dari pihak Korwil atau RT,
05:43minta ibaratnya, coba bukti dulu dah ibaratnya.
05:47Minimal kita punya barang bukti atas luka-lukanya dulu.
05:53Berdasar informasi dari warga,
05:55orang tua korban baru mengontrak selama dua bulan di lingkungan tersebut.
05:58Selama itu pula, kedua orang tua korban dikenal sebagai sosok yang menutup diri dari lingkungan.
06:02Dan anehnya, selama ini warga tak pernah mendengar suara teriakan atau tangisan korban.
06:08Ya, ini kontrakan.
06:11Jadi si warga tersebut mungkin warga baru.
06:15Dan kami pun sebetulnya dari pihak Korwil atau RT,
06:19sudah pernah beberapa kali untuk minta data keluarga.
06:25Cuma itu memang karena rumahnya sering tertutup dan tidak ada sosialisasinya,
06:30makanya kami kesulitan mencari data.
06:33Sudah berapa lama, Pak?
06:34Sekitar dua bulanan, Pak.
06:35Tinggal di sini?
06:36Ya, betul. Sekitar dua bulan.
06:40Jayanal menyebut ayah korban jarang ada di rumah karena bekerja di daerah Jakarta Selatan.
06:45Bahkan saat anaknya meninggal, ayah kandung korban sedang bekerja.
06:48Ayah korban, saat kejadian atau saat meninggal itu ada nggak sih di rumah, Pak?
06:56Kemungkinan saat meninggalnya, kemungkinan tidak ada.
07:01Jadi pada saat si ayah pulang, ayahnya itu lagi bekerja.
07:06Ayahnya kerja di mana, Pak?
07:08Informasi terakhir yang saya dapatkan di pemotongan ayam di sekitaran Pasar Minggu.
07:15Di Jakarta?
07:15Ingin mendapat informasi lebih banyak tentang pelaku, kami mendatangi sebuah rumah petak.
07:23Tempat keluarga korban mengontrak sebelum akhirnya pindah ke TKP.
07:26Di sini pelaku juga dikenal sebagai sosok yang kurang bersosialisasi.
07:30Para tetangga juga kerap melihat kondisi korban yang mengalami luka lebam.
07:34Kalau buat kejadian-kejadian si Rasyama, aku udah sering banget melihat dia kayak babak belur gitu kan.
07:44Kayak misalkan matanya kayak apa-apa, benak-benak.
07:48Terus hidungnya juga kan kayak agak patah gitu kan di sini.
07:53Saat warga berupaya keras mengumpulkan bukti-bukti penganian terhadap korban MAA, pada 19 Oktober, warga mendengar kematian korban.
08:04Kabar yang beredar, korban meninggal karena sakit panas.
08:09Namun fakta terungkap, saat petugas ambil jenazah yang mengurusi jenazah MAA melihat beberapa luka pada tubuh korban.
08:15Jenazah MAA dimakamkan pada 20 Oktober di Taman Pemakaman Umum Kalanganyar, Rawa Panjang, Kabupaten Bogor.
08:24Di formulir yang saya terima, itu status meninggalnya anak karena itu disebutkan karena panas tinggi.
08:32Ketika proses memandikan, saya cek dulu, biasanya saya cek dulu kondisi tubuh jenazah.
08:39Saya dapetin, ada beberapa luka atau lebam ya, di beberapa paket tubuh yang itu mengundang pertanyaan saya,
08:53mengundang keinginan tawanan saya, ini kenapa, ini kenapa.
08:56Jadi saya tanyakan kepada bapaknya, yang dimana bapaknya juga saya ajak untuk memandikan jenazah.
09:03Jawaban bapaknya ketika saya tanya, ini kenapa, kenapa bukannya lebam di sini, kenapa ini di bagian belum juga ada lebam.
09:14Bapaknya menjawab, bahwa itu karena kejodot pintu, ada pun luka di kepala, ini kenapa.
09:19Ini bapaknya menjawab, karena jatuh di kamar mandi.
09:25Kesaksian petugas ambil jenazah terkait kondisi jenazah korban MAA telah menguak kasus penganian yang dilakukan ibu tiri terhadap anaknya.
09:37Menindak lanjuti kesaksian petugas jenazah, polisi membongkar makam jenazah MAA melakukan ekshumasi.
09:42Dari hasil otopsi forensik, diketahui korban mengalami luka-luka di sejumlah bagian tubuh.
09:47Sementara itu, penyebab kematian korban karena adanya luka di bagian kepala.
09:50Bermula dari laporan warga terkait penganian yang dilakukan oleh ibu tiri kepada korban.
10:01Korban menderita berbagai luka, yaitu luka di kepala, luka di wajah, di kedua belah mata juga ada luka lebam, luka memar.
10:13Kemudian di punggung juga ada, kemudian di tangan.
10:18Kekerasan di dalam rumah tangga terhadap bocah 6 tahun yang dilakukan ibu tiri berlangsung sejak awal Oktober lalu.
10:25Pelaku makin sering menganiaya korban selama 3 hari, sejak 17 Oktober hingga puncaknya pada Sabtu 19 Oktober sekira jam 9 malam.
10:33Korban tergeletak lemas usai dianiaya pelaku.
10:36Namun, bukannya menolong, pelaku malah meninggalkan korban untuk menemui ayah kandung korban di tempat kerjanya di Pasar Minggu Jakarta Selatan.
10:43Saat bertemu suaminya, pelaku menyebut korban sedang sakit akibat terjatuh.
10:46Keduanya pulang, namun sesampainya di rumah, korban telah meninggal dunia.
10:53Pelaku secara sadar melakukan penganian terhadap korban.
10:58Puncaknya, pada tanggal 19 Oktober itu, 3 hari belakangan, secara intensif pelaku melakukan penganian terhadap korban.
11:09Memang, pada bulan Oktober, awal bulan Oktober, penganian secara berkelanjutan dilakukan oleh pelaku kepada korban.
11:23Polisi menyebut, pelaku menganiaya korban karena emosi dengan beberapa kelakuan korban yang dianggap nakal.
11:28Motif yang dilakukan oleh pelaku adalah karena memang si anak tersebut tidak bisa menurti kemahuan dari si pelaku.
11:42Berapa kali diberikan makan, ataupun disuapin, korban selalu menolak.
11:48Kemudian, korban beberapa kali meminta uang jajan, namun tidak bisa dibilang karena memang pelaku tidak punya uang.
11:58Dalam kasus penganian bocah, 6 tahun, masih belum ditemukan keterlibatan ayah kandung korban.
12:05Sementara itu, polisi menjerat ibu tiri korban dengan pasal tentang kekerasan terhadap anak yang mengakibatkan meninggal dunia.
12:11Ancaman hukumannya, maksimal 15 tahun penjara.
12:18Kami kenakan pasal tindak pidana kekerasan terhadap anak yang mengakibatkan meninggal dunia.
12:25Sebagaimana dimaksud dalam pasal 80, ayat 3, Undang-Undang No. 35 tahun 2014 tentang perlindungan anak dengan ancaman hukuman maksimal 15 tahun penjara.
12:38Sementara ini, ayah dari korban tidak terlibat dari proses ataupun penganian yang dilakukan oleh ibu tirinya kepada korban.
12:55Kekerasan dalam rumah tangga terhadap anak masih sering terjadi.
12:59Lalu, apa penyebab orang tua tega melakukan tindakan penganiayaan terhadap anaknya?
Komentar