Lewati ke pemutarLewatkan ke konten utama
KOMPAS.TV - Saat ini, film berakhir bahagia jadi cermin keinginan warga. Preferensi ini dapat mencerminkan kondisi sosial, ekonomi, dan budaya warga. Kecenderungan menyukai akhir bahagia (happy ending) bukan hal baru.

Dari hasil analisis Tim Jurnalisme Data Kompas, saat ini film berakhir bahagia jadi cermin keinginan warga.

Apa saja yang memengaruhi fenomena ini? Dan apa dampaknya bagi penonton? Kita akan bahas bersama Ratna Sri Widyastuti, anggota Tim Jurnalisme Data Harian Kompas, dan Irfan Agia, psikolog konsumen dan bisnis.

Baca Juga Reza Rahadian Sukses Lewat Film Pangku, Raih Penghargaan di BIFF dan FFI di https://www.kompas.tv/entertainment/626259/reza-rahadian-sukses-lewat-film-pangku-raih-penghargaan-di-biff-dan-ffi

#filmindonesia #happyending #netflix #psikologipenonton

Artikel ini bisa dilihat di : https://www.kompas.tv/nasional/627190/full-analisis-film-happy-ending-jadi-cermin-keinginan-warga-apa-saja-pengaruhnya

Kategori

🗞
Berita
Transkrip
00:00Intro
00:00Saat ini, film berakhir bahagia jadi cermin keinginan warga.
00:06Preferensi ini dapat mencerminkan kondisi sosial ekonomi dan budaya warga.
00:11Kecenderungan menyukai akhir bahagia atau happy ending, bukan hal baru.
00:15Fenomena ini tampak dari hasil analisis tim jurnalisme data Kompas
00:19terhadap 961 film dan 509 serial di Netflix
00:24yang masuk daftar 10 tayangan terpopuler tiap pekan
00:27selama Juli 2021 hingga Juli 2025.
00:32Sebanyak 53,28% film berakhir bahagia atau tokoh mencapai tujuannya.
00:38Sebesar 24,87% berakhir tragis atau sedih
00:42dan 21,85% berakhir ambigu atau menggantung.
00:48Pola serupa terlihat pada serial,
00:49yakni 55,6% berakhir bahagia, 15,6% berakhir tragis
00:55dan 28,88% ambigu
00:58serta 0,2% belum diketahui karena masih tayang.
01:04Happy ending mendominasi hampir semua genre film tersebut
01:07kecuali kriminal, fiksi ilmiah, horror, misteri, thriller, dan musikal.
01:13Dalam periode Januari 2007 hingga Agustus 2025,
01:18porsi terbesar film terlaris produksi dalam negeri
01:20dari kelompok tayangan berakhir bahagia mencapai 40,7%,
01:25akhir ambigu, 32,63%,
01:28dan akhir tragis, 26,67%.
01:32Tayangan happy ending memberikan sebuah harapan pada penonton
01:35dan bisa menjadi eskapisme untuk meluapkan realitas personal yang tidak bahagia.
01:40Sementara, set ending, meskipun menyedihkan,
01:44seringkali mengajak penonton untuk merefleksikan hidup
01:46yang tidak seindah dalam drama-drama happy ending.
01:53Saudara, selamat datang kembali di Sapa Indonesia Pagi
01:56dan saya tidak sendiri, disini sudah ada bersama saya, ada rekan saya.
02:00Tapi sebelumnya saudara, dari hasil analisis tim jurnalisme data Kompas,
02:04saat ini film berakhir bahagia jadi cermin keinginan warga.
02:07Lantas, apa saja yang mempengaruhi fenomena ini dan apa dampaknya bagi penonton?
02:12Nah, yang tadi saya sebut, kita akan bahas bersama Ratna Sriwidi Astuti,
02:16anggota tim jurnalisme data harian Kompas dan juga tersambung secara daring,
02:21Irvan Agia, psikolog konsumen dan bisnis.
02:24Selamat pagi Mbak Ratna, Mas Irvan.
02:27Selamat pagi, Mas.
02:28Selamat pagi.
02:28Oke, nah ini mantap nih pagi-pagi, kita sudah disuguhkan dari kemarin ternyata nih Mbak Ratna
02:34dengan informasi dan juga data terbaru dari tim jurnalisme data harian Kompas.
02:39Nih kalau kita lihat, korannya udah banyak nih saudara, di tangan saya ya,
02:43dari Jumat 31 Oktober 2025, ada soal film berakhir bahagia cermin keinginan warga hari ini.
02:49Dan mungkin saudara juga bisa baca nanti di hari ini ada masih datanya soal film.
02:53Tapi kalau kita bahas yang kemarin nih Mbak Ratna, sebenarnya kenapa nih temuan apa yang akhirnya ditemukan
02:59dari Netflix ya, disini tertulis ya, dan tim jurnalisme data harian Kompas
03:03terkait dengan pilihan antara film happy ending dan sad ending.
03:08Ini cocok sekali ya, ngobrol begini di hari Sabtu ini ya.
03:12Jadi tim jurnalisme data harian Kompas menelusuri film-film terlaris di Netflix
03:22sepanjang Juli 2021 sampai Agustus, sorry, Juli 2025.
03:29Jadi kita mengumpulkan sekitar sembilan ratusan film dan kemudian lima ratus enam serial.
03:39Kemudian kita amati dan hasilnya ternyata baik film ataupun serial,
03:44sebagian besar itu yang disukai oleh penduduk Indonesia adalah yang berakhiran happy ending, seperti itu.
03:51Tepatnya adalah kalau film 53,28 persen berakhiran bahagia,
03:58Kemudian kalau serial lebih banyak lagi, 55,60 persen serial itu berakhir bahagia.
04:05Lalu kemudian tidak itu saja, kemudian kami juga mengamati deretan 15 film Indonesia terlaris
04:13produksi Indonesia ya, ini ya, dari mulai 2007 hingga Agustus 2025 tahun ini.
04:21Dan hasilnya serupa, ternyata sebagian besar atau 40,7 persen juga berakhir happy ending, seperti itu.
04:29Dan ternyata dari jumlah penontonnya pun, untuk film Indonesia, rata-rata film Indonesia yang masuk deretan 15 terlaris ini ya,
04:39bisa menyedot pengunjung atau penonton lebih banyak daripada film-film yang berakhiran tragis, sedih, ataupun ambigu.
04:47Jadi untuk rata-rata satu film berakhiran bahagia, produksi Indonesia yang masuk deretan 15 terlaris,
04:55ternyata mampu menyedot 1,55 juta penonton per film.
04:58Wah, jadi memang angkanya tinggi ya mbak ya?
05:01Betul, betul.
05:02Dan memang jadi mayoritas.
05:03Nah, kalau tadi kita sudah dengar datanya sedikit, nanti kita lebih banyak gali lagi.
05:08Mas Irfan, sebenarnya ini apakah dapat disimpulkan memang kehidupan yang saat ini bisa dibilang berat
05:13untuk mayoritas masyarakat menjadikan film atau serial sebagai pelarian nih mas?
05:18Ya, sebetulnya pada dasarnya film yang bagus atau menarik itu sangat bergantung dengan selera atau preferensi audiens.
05:24Namun memang secara umum bisa dibilang happy ending itu disukai oleh sebagian besar audiens,
05:30terutama di Indonesia, karena dalam psikologi konsumen, orang Indonesia itu termasuk kolompok yang
05:36collectivist culture istilahnya, yang memang menghargai value-value atau nilai-nilai seperti harmoni, stabilitas emosional.
05:44Jadi happy ending ini memberikan semacam emosional closure atau relief setelah konflik-konflik yang mereka tonton
05:52dalam film atau serial tersebut.
05:55Itu dimana memang itu merefleksikan kita kan banyak ketidakpastian dalam keseharian kita.
06:01Kemudian salah satu emotional escape kita adalah menonton film untuk mencari hiburan
06:06ataupun juga mendapatkan closure tadi seperti itu.
06:09Oke, jadi memang bisa disimpulkan jadi penyegaran gitu lah ya Mas Irvan ya, bagi sejati lintir orang gitu.
06:18Mbak Ratna, tapi kalau dilihat dari judul-judulnya nih, ada gak nih contoh judul-judul yang mungkin Mbak Ratna temukan menarik gitu?
06:25Dan apakah memang rata-rata dari film-film tersebut mungkin udah ada yang Mbak Ratna nonton dan memang menumbuhkan harapan gitu di filmnya ini?
06:32Iya benar, jadi memang kalau judulnya kita saking banyaknya 900 film dan 500 sudah sampai pusing ya Mas ya.
06:42Tapi memang film-film happy ending ini memang dari kami ngobrol dengan Narasumber dan juga warga yang suka film-film berakhiran bahagia ya.
06:54Memang mereka inginnya satu, menginginkan film yang happy ending karena tidak mau pusing.
06:59Jadi setelah selesai menonton mereka pengennya lega bahwa lakonnya itu bisa mencapai tujuan dengan happy dan pulang tidak dengan aduh sedih kenapa ya ini meninggal dan sebagainya.
07:11Seperti itu dan juga memang dari temuan kami berdiskusi dengan Narasumber, ini merupakan cerminan referensi ending ini bisa jadi indikator cerminan situasi sosial ekonomi yang ada di masyarakat.
07:24Jadi kalau memang masyarakatnya sedang ada tekanan, penduduk akan lebih cenderung mencari film-film dengan happy ending untuk menumbuhkan optimisme, harapan seperti itu.
07:36Oke, nah sama pertanyaan berarti jadi pelarian ya Mbak ya?
07:38Betul.
07:39Kalau dari wawancar yang di...
07:40Salah satunya iya, karena capek dan segalanya berpikir tentang kesibukan sehari-hari dan masalah-masalah seperti itu.
07:48Oh Mbak Ratna ngomongnya kayak lagi curhat nih ya.
07:51Ini juga ikut merasakan ya.
07:53Betul, betul.
07:53Mungkin pas lagi melihat datanya benar juga ternyata ya tanpa disadari dari data yang kompleks tadi dari 900 film ini Mbak.
07:59Tapi bagaimana dengan tadi ada akhir ambigu dan akhir tragis atau sedih ini?
08:04Nah menurut Mbak, gimana nih? Dua ini kan cukup bersaing juga ya?
08:09Betul.
08:10Menemukan ada temuan lain gak Mbak?
08:11Nah ini yang menarik ya.
08:13Jadi memang secara umum sebagian besar penduduk Indonesia seleranya masih happy ending.
08:19Tetapi sudah mulai ada pergerakan selera karena dari kami menitipkan pertanyaan di jajak pendapat Litbang Kompas,
08:28ternyata hasil di sana 50,7 persen penduduk Indonesia itu menyukai hasil yang atau film atau tayangan yang berakhir sedih dan bahagia atau ambigu seperti itu.
08:39Jadi ini mulai ada pergeseran selera dan bahkan ketika kita cek data-data yang lain ternyata film-film Indonesia yang diproduksi setiap tahunnya
08:47proporsi film ambigu itu mulai naik akhir-akhir ini.
08:51Kalau dulu 4 per tahun yang masuk film terlaris sekarang mulai 7-8 per tahun.
08:58Oke.
08:59Mas Irvan, kalau melihat tadi adanya pergeseran itu sebenarnya balik lagi ke preferensi atau sebenarnya kalau kita lihat dari secara psikologis itu juga dipengaruhi oleh kejiwaan seseorang, Mas?
09:11Ya, jadi memang kembali pasti ada sisi preferensi gitu ya.
09:15Jadi tadi dari tim jurnalitas data Kompas juga melihat ada pergeseran.
09:18Nah memang tapi kalau dari sisi psikologi konsumen gitu ya untuk segmen penonton tertentu gitu misalnya orang-orang yang senang atau looking for sad ending atau yang ambigu itu biasanya mereka orang-orang mencari refleksi gitu atau mencari depth gitu.
09:34Jadi sad ending itu justru menurut mereka itu menciptakan emotional impact yang lebih kuat gitu ya.
09:40Jadi mereka merasakan istilahnya itu emotional payoff gitu jadi bukan sekedar bahagia atau sedih gitu tapi endingnya ambigu tapi sekarang juga ada trend lagi gitu ya yang istilahnya itu bittersweet ending gitu.
09:53Jadi ending yang sifatnya itu realistis gitu ya mungkin sedih gitu ya tapi di satu sisi juga itu sesuatu yang realistis gitu sehingga orang menganggap bahwa ini akan semakin relate dengan mereka karena di dunia nyata kan kita tidak selalu baik-baik saja gitu ya selalu bahagia.
10:10Iya akan ada ending yang istilahnya itu bittersweet gitu ya manis tapi juga ada asamnya gitu istilahnya itu juga menjadi trend yang mungkin juga akan terlihat banyak juga di Indonesia seperti itu.
10:23Mas Tirvan tapi ini apakah tadi kita kalau bicara soal film dipengaruhi oleh kondisi seseorang, kondisi kejiwaan, kondisi mood atau preferensi tapi sebaliknya apakah film ini juga nantinya memang diekspektasikan untuk mempengaruhi mood dan bahkan sampai kejiwaan seseorang mas?
10:42Ya pasti gitu ya kenapa? Karena salah satu elemen dalam film itu adalah membangkitkan emosi gitu ya.
10:48Nah kalau dalam sisi psikologi juga ketika kita menonton ada hormon-hormon yang rilis gitu ya ketika menonton seperti misalnya ketika melihat sesuatu yang happy gitu ya atau bahagia itu ada hormon-hormon endorfin gitu ya.
11:02Situasinya memang secara biologi pun itu adalah sesuatu yang terjadi gitu ya di dalam tubuh kita sebagai manusia gitu.
11:10Nah ketika kita menonton happy ending gitu ya gitu juga ada sesuatu yang membuat kita merasakan emosional closure tadi gitu ya.
11:17Atau film itu juga kita bisa treat sebagai emotional regulation tool gitu ya atau alat untuk meregulasi emosi kita gitu atau istilahnya menyeimbangkan gitu ya.
11:28Jadi ketika saat kita misalnya ingin mencari suatu refleksi atau value kita punya question-question yang beras gitu ya.
11:36Mencari film yang ambigu atau sad ending membuat kita banyak berpikir gitu ya itu juga menstabilkan emosi kita.
11:42Begitu juga saat kita sedih gitu ya atau mood kita lagi tidak bagus mencari film yang happy ending gitu istilahnya itu juga akan menstabilkan emosi kita.
11:51Jadi bisa dibilang menonton film juga adalah suatu hal untuk meregulasi atau menyeimbangkan juga emosi kita seperti itu.
11:58Regulasi dan menyeimbangkan.
12:00Mas Irvan, kalau kita lihat secara awam gitu ya Mbak Ratna juga ya memang benar sih kalau di medsos-medsos tuh pada rekomendasi film tuh udah bahkan sampai ngomong.
12:07Ini di episode ini nonton deh jangan lupa nonton sampai episode ini karena kalian bakal nangis kejar kalian gak stress lagi.
12:13Jadi meluapkannya malah lewat film itu gitu ya kayak mungkin mereka stress sehari-hari tapi dituangkannya lewat cerita sedih di dalam film tersebut.
12:23Mas Irvan lagi nonton film apa atau lagi nonton series apa nih boleh di spill gak?
12:28Banyak nih jadi kalau di medsos juga sekarang macam-macam ya karena kan memang dari sisi apa dari sisi happy ending gitu ya.
12:37Memang secara global pun juga banyak mendominasi gitu kalau saya sekarang lagi banyak nontonnya serial Korea gitu ya.
12:45Kemudian juga serial-serial film Jerman gitu dan memang ini menarik juga gitu karena audiens setiap negara itu berbeda gitu.
12:52Tapi memang secara global happy ending itu menjadi sesuatu yang disukai atau diminati.
12:58Tapi khusus untuk Indonesia atau audiens Indonesia sendiri karena memang konteks sosialnya itu tadi kita kolektifis gitu ya.
13:06Senang value-value yang sifatnya harmoni, kekeluargaan, stabilitas emosional.
13:11Itu that's why tidak heran gitu ketika tim jurnalisme Kompas juga menemukan top 10 gitu ya.
13:17Dari mostly itu adalah happy ending juga seperti itu.
13:20Oke kalau Mbak Ratna tadi serial Korea kalau Mbak Ratna apa nih?
13:23Saya sedang menonton The Diplomat seri 3 yang baru keluar.
13:27Wah Diplomat, saya menarik.
13:29Mas Irfan nonton juga nih nanti ya abis ini mungkin bisa cerita-cerita ya kita abis ini.
13:33Kalau aku gak ditanya nih nonton apa?
13:36Enggak, enggak, enggak, enggak, enggak, enggak, enggak, enggak, enggak, enggak.
13:37Kalau aku lagi nonton seri-seri selama nih seri-seri yang mungkin legend sebelumnya tapi kalau di aplikasi itu udah mulai tertulis ini udah mau gak tayang lagi udah mau diturunkan jadi itu yang aku kejar.
13:51Jangan sampai ketinggalan ya?
13:52Jangan sampai ketinggalan.
13:53Nah tadi menarik Mbak Ratna juga sempat menyebut ada temuan juga dari tim Jurnal Semedata Kompas yang menemukan fakta semakin tinggi kelas ekonomi maka kecenderungannya menyukai film atau serialnya happy ending.
14:08Nah bagaimana Mbak menanggapi adanya temuan ini Mbak?
14:12Nah ini yang menarik ya dari jajak pendapat yang dilakukan oleh teman-teman di Bank Kompas memang sebagian besar penduduk Indonesia menyukai ending yang ambigu.
14:24Tetapi kemudian kita coba kulik-kulik lagi dan kemudian kita pisahkan gimana sih behavior penduduk yang aktif menonton.
14:34Aktif menonton ini kita definisikan sebagai menonton lebih dari satu kali sebulan.
14:40Jadi yang memang hobinya hampir tiap minggu lah ya ke bioskop.
14:44Nah kemudian ternyata dari situ kita melihat adanya suatu pola bahwa semakin naik kelas ekonominya maka proporsi penonton yang menyukai happy ending ini makin besar.
14:57Jadi kalau di kelas bawah itu 33,3% yang suka happy ending walaupun memang tetap ambigu nomor satu ya.
15:05Kemudian membesar ketika di kelas atas menjadi 40,7% di kelas atas.
15:12Jadi tampaknya semakin meningkat kelas ekonominya semakin menghindari kisah-kisah sedih.
15:19Oke tadi Mbak Rata menarik.
15:21Mas Irfan ini kenapa nih Mas?
15:22Menghindari yang muatan atau endingnya sedih gitu.
15:26Ya ini juga menarik gitu.
15:29Jadi memang ada beberapa studi juga yang menunjukkan bahwa semakin ke atas kelas ekonomi gitu ya mereka tidak selalu menjadi misalnya atau mencari happy ending gitu ya.
15:37Tapi mereka lebih suka film-film yang memberikan emotional resolution yang bermakna gitu.
15:42Kenapa?
15:43Karena salah satu hipotesanya adalah orang dengan status ekonomi yang tinggi mereka cenderung punya kodam psikologi itu istilahnya locus of control internal gitu ya.
15:51Artinya mereka itu terbiasa untuk mengendalikan hidupnya.
15:55Terbiasa hidupnya itu lebih selalu terkontrol gitu ya.
15:57Karena itu mereka itu gak selalu butuh pelarian emosional gitu ya lewat happy ending.
16:02Mereka akan lebih terbuka gitu terhadap film dengan ending yang ambigu gitu ya kemudian atau yang reflektif.
16:08Asal ada makna intelektual yang atau moral yang jelas.
16:12Karena mereka secara hidupnya itu sudah lebih terkontrol gitu ya.
16:15Mereka tidak selalu mencari happy ending tapi mencari film-film yang memberikan resolusi gitu ya atau ending yang reflektif.
16:24Seperti itu.
16:25Oke.
16:25Kenapa Mas Irvan tapi?
16:27Apa karena memang tadi berkutat pada karena sudah adanya manajemen waktu yang lebih baik atau manajemen kehidupan yang lebih baik?
16:34Seperti itu memang ya?
16:36Betul.
16:36Hipotesanya seperti itu.
16:37That's why mereka tidak menjadikan film itu sebagai pelarian gitu ya.
16:43Berbeda mungkin dengan semakin kebawah atau semakin menengah ekonomi kan ada dalam setiap kesehariannya banyak hal-hal yang lebih difokuskan gitu ya.
16:51That's why ada istilahnya jadi pelarian gitu kan nonton film itu untuk menghibur diri gitu ya untuk rilis beberapa hormon-hormon tadi.
16:59Tapi untuk orang yang semakin plus ekonomi atas karena mereka itu sudah terbiasa memanajemen waktunya mungkin yang baik sudah diurus gitu ya.
17:07Dengan banyak support-support karena mereka punya kemampuan ekonomi yang lebih gitu.
17:11Makanya mereka akan lebih terbuka gitu ya dalam film-film yang tidak hanya happy ending tapi mungkin set ending atau mungkin ambigu seperti itu.
17:18Oke Mas Irvan penjelasannya tadi juga bikin kita jadi oh iya ternyata seperti itu ya Mbak ya.
17:24Mbak Rantan tapi tadi sempat nyebut adanya kecenderungan untuk pergi aktif gitu ya untuk menonton di bioskop.
17:31Nah tapi kan kalau ini kita lihat datanya dari Netflix nih Mbak.
17:33Jadi ini mix gitu lah ya dicampurkan datanya.
17:37Tapi ada perbedaan gak sih Mbak antara yang pergi ke bioskop ini dari data tim Julesma Harian Kompas atau secara umum film aja atau ada perbedaan antara yang datang ke bioskop dan yang tidak datang ke bioskop itu juga mempengaruhi apa data yang dikeluarkan oleh Harian Kompas.
17:51Kalau datanya polanya hampir sama ya tetapi memang kemarin ngobrol dengan narasumber beberapa narasumber kami mengatakan bahwa pergeseran selera yang tadi ya Mas ya itu juga dipengaruhi oleh munculnya banyak aplikasi-aplikasi streaming seperti Netflix yang menawarkan keberagaman genre dan kemudian kisah-kisah sehingga masyarakat itu pilihannya jadi lebih banyak seperti itu.
18:17Tapi yang menarik adalah ternyata orang-orang yang ke bioskop ini ada beberapa kalangan yang memikirkan pengalamannya sinematik secara well-planned.
18:27Holistik gitu ya, jadi dia maunya kiri-kanan ya.
18:31Betul, jadi ada yang kami wawancara ini Mas Ivan seorang yang hampir tiap minggu ke bioskop dan dia itu misalnya ada film mau rilis sore gitu ya.
18:42Film sore, nah ini seminggu sebelumnya dia udah mulai berdiskusi dengan teman-teman segengnya menonton kemudian mereka akan book dan pasang di Google kalender mereka untuk menonton di hari pertama dan rawnya harus selalu tengah DEF dan pas tengah dan harus bersisian.
19:00Jadi menurut dia menonton dengan siapa dan di kapan harus hari pertama itu sama pentingnya dengan film yang akan ditonton seperti itu.
19:09Oke, itu jadi sebuah cabang riset yang baru ya Mbak ya, judul riset yang baru nih.
19:14Iya, menarik banget nih.
19:16Jadi tadi kalau kita bisa simpulkan memang untuk data yang kita punya sekarang dari Jurnal Semedata Harian Kompas menunjukkan bahwa ending film ini serial terpopuler di Netflix ini ditemukan untuk happy ending gitu ya tadi.
19:31Lalu juga bahkan sampai udah mulai ke arah bagaimana dia nonton itu juga mempengaruhi.
19:36Tapi memang seberapa penting sih Mas Irvan untuk kayak experience nonton inti membangun mood dan membangun secara tidak sadar gitu ya hal-hal spesifik seperti hal-hal kecil seperti ini.
19:48Betul. Nah ini menarik sekali mungkin mau menyambung dengan yang tadi bioskop gitu.
19:52Ada gak sih perbedaan untuk nonton serial Netflix?
19:54Mungkin biasa di laptop, di TV gitu ya dengan yang bioskop gitu.
19:57Jadi kalau dalam psikologi konsumen itu ada istilahnya sunk cost effect gitu.
20:02Kenapa? Karena orang-orang yang menonton film di bioskop mereka punya ekspektasi yang lebih tinggi terhadap film tersebut.
20:09Kenapa? Karena ketika mereka menonton ke bioskop mereka tuh sudah berinvestasi satu waktu gitu ya.
20:14Mereka mungkin udah macet-macetan di jalan gitu ya ke bioskop gitu ya.
20:18Mereka udah investasi uang gitu ya.
20:19Karena kan bayarnya mungkin lebih mahal untuk experience tadi gitu ya.
20:22Dan juga mungkin tenaga gitu ya.
20:24Jadi secara psikologi ini disebut sunk cost effect gitu.
20:27Dimana karena sudah bayar tiket, mungkin udah beli popcorn gitu ya.
20:31Udah janjian, udah banyaklah waktu yang di...
20:33Cari parkir gitu ya mas Irma ya.
20:35Cari parkir gitu ya.
20:36Bahkan mungkin gak dapet jadi telat gitu ya berapa menit gitu.
20:39Jadi mereka ini mengharapkan ada reward emosional yang lebih besar di akhir film.
20:44Makanya ekspektasi dan intensitas mereka untuk menonton jadi lebih tinggi gitu.
20:48Karena mereka sudah berinvestasi banyak hal tadi.
20:51Makanya mungkin film yang happy ending itu jadi lebih disukai gitu.
20:56Karena itu yang mereka harapkan juga gitu.
20:58Udah jauh-jauh datang, investasi banyak hal.
21:01Jadi ketika endingnya itu mungkin tidak sesuai harapan mereka, mereka kecewanya akan lebih dalam lagi gitu.
21:06Tapi ketika happy ending gitu mereka merasa diberikan reward tadi.
21:10Jadi sangat menarik kalau dari sisi psikologi itu berbeda sekali.
21:12Untuk orang yang nonton mungkin karena tinggal apa, tinggal misalnya habis mandi gitu ya udah enak.
21:18Nonton di TV gitu kan, sangat santai gitu.
21:20Yang beda sisi emosionalnya dibandingkan dengan tadi gitu bioskop, cari parkir, janjian.
21:25Mereka ekspektasinya akan lebih dalam dan lebih tinggi terhadap film tersebut gitu.
21:30Oke.
21:31Jadi memang sebenarnya mau apapun endingnya tapi tanda-tanda kalau nonton di bioskop atau nonton di rumah itu juga perlu effort yang berbeda.
21:37Dan itu ternyata mempengaruhi.
21:38Oke, Mas Irfan, Mbak Ratna, ini pertanyaan yang mungkin pengen diketahui juga oleh saudara di sini.
21:46Sebenarnya kalau dari wawancara Mbak dengan para narasumber, ada gak sih mereka juga menyampaikan saran untuk para sines di luar sana
21:54kayak memproduksi film yang seperti apa dan sebenarnya itu apa yang jadi harapan para penonton film sih?
22:00Mungkin boleh berbicara untuk diri sendiri Mbak?
22:03Untuk diri sendiri ya?
22:04Nah, tapi begini dari beberapa narasumber kami yang mungkin juga pemirsa bisa baca di Harian Kompas atau Kompas ID
22:11ada beberapa titipan bahwa memang kita tidak boleh dinabobokkan dengan film-film happy ending.
22:17Memang bagus memberi harapan tetapi mungkin tema-tema yang berat dan kemudian meningkatkan kesadaran sosial yang lain
22:25itu juga harus tetap diproduksi seperti itu.
22:28Oke, jadi penting ya untuk melihat sebuah injeksi pesan dari film tersebut.
22:34Jadi memang sekali-sekali hal-hal kisih boleh tapi jangan lupa untuk lebih aware lah ya.
22:40Nah itu hal yang penting juga. Nah kalau dari Mas Irfan bagaimana Mas?
22:44Ya tentu kalau film kan banyak elemennya ya seperti pemilihan kes gitu ya atau ada chemistry dan rakesnya.
22:50Tentu saja kita sebagai penikmat film inginnya kita semua elemen tadi itu bersinergi atau harmoni.
22:56Tapi mungkin juga terkait mungkin tren yang tadi diantisipasi oleh film Junwaria Kompas
23:01saya juga mengamini bahwa mungkin kedepannya akan banyak ekspektasi untuk ending-ending yang misalnya ambigu atau bittersweet gitu ya.
23:07Kenapa? Karena secara ilmu marketing gitu ini akan bagus.
23:11Kenapa? Karena akan banyak istilahnya kalau di marketing itu word of mouth gitu ya.
23:15Atau orang-orang yang membicarakan gitu ya film ini karena penasaran gitu kok endingnya seperti ini.
23:20Atau mungkin ada ending yang multi-interpretasi gitu.
23:24Jadi mungkin saya, Edwin, dan juga Mbak Ratna gitu punya perbedaan gitu ya dalam menginterpretasikan ending film tersebut gitu.
23:32Jadi ketika ada film-film yang bergenre seperti itu, itu juga akan bagus untuk sinias film.
23:37Karena akan semakin banyak orang yang bercerita gitu ya.
23:40Kemudian membagikannya di media sosial sehingga industri film juga akan semakin banyak peminatnya
23:46dan juga banyak yang akhirnya jadi penasaran gitu untuk penonton film-film tersebut seperti itu.
23:51Oke, jadi domino efek ya.
23:53Dan bahkan nantinya diskusi kita juga bisa makin dalam gitu ya.
23:57Jadi kalau nongkrong nggak cuma main HP tapi bisa ngomongin film gitu ya Mas Irvan ya.
24:02Salah satu contohnya.
24:02Mas Irvan, Mbak Ratna terakhir.
24:05Tim mana nih?
24:06Tim set ending, happy ending,
24:08atau yang tadi akhir ambigo?
24:10Atau yang mungkin ya open ending gitu kita ngomongnya ya.
24:12Mas Irvan dulu.
24:14Kalau saya pribadi, saya sebenarnya lebih suka yang open ending gitu ya.
24:18Atau istilah bittersweet ending juga gitu.
24:20Karena tadi gitu, jadi akhirnya kalau kita nongkrong atau ngeblok banyak sekali topik-topik yang bisa dibuka gitu ya.
24:26Untuk berdiskusi.
24:27Bisa bikin mikir juga ya, Mbak Ratna.
24:29Bagaimana nih?
24:30Saya sejauh ini lebih banyak happy ending, Mas.
24:34Happy ending.
24:34Jadi kesel kalau misalnya nonton film set ending.
24:40Bahwa akhirnya tadi mikir, pulang tuh masih, aduh kok dia tidak sesuai dengan harapan.
24:46Iya, seperti itu.
24:47Oke.
24:48Nah saudara, kalau saudara yang mana nih?
24:50Mungkin bisa nih abis ini kalau lagi nonton, bisa sambil update sosmed,
24:54tag kita di Sampai Indonesia Pagi untuk kasih tahu ending mana yang saudara sekalian pilih.
24:59Nah, terima kasih banyak sekali lagi waktunya Mbak Ratna dan juga Mas Irvan atas waktunya.
25:04Terima kasih juga saudara.
25:05Jangan kemana-mana karena abis ini masih ada informasi lainnya.
25:08Jangan kemana-mana karena abis ini masih ada informasi lainnya.
25:18Terima kasih.
Komentar

Dianjurkan