Lewati ke pemutarLewatkan ke konten utama
  • 7 bulan yang lalu
KOMPAS.TV- Polemik mengenai utang Kereta Cepat Indonesia China (KCIC) atau Whoosh menjadi sorotan. Adapun melansir dari Kompas.id, Selasa, 28 Oktober 2025 jumlah utang tersebut sebesar 7,27 miliar dolar AS atau Rp118,37 triliun dalam kurs Rp 16. 283 per dollar AS. Angka ini sudah termasuk pembengkakan biaya senilai 1,2 miliar dollar AS.

Berangkat dari data tersebut, sebanyak 75 persen biaya mengambil pinjaman dari China Development Bank atau CDB, dengan bunga 2 persen per tahun dan tenor selama 40 tahun. Sementara itu, Indonesia dan China telah sepakat memperpanjang tenor tersebut menjadi 60 tahun. Dengan tujuan kelanjutan proyek kereta cepat Whoosh tidak menganggu anggaran negara.

Sahabat Kompas TV, berikan pendapat Anda mengenai berita tersebut. Tulis dengan bijak di kolom komentar ya!

Baca Juga Momen Trump dan PM Jepang Sanae Takaichi di Tokyo: Bahas Hubungan ASJepang hingga Beri Selamat di https://www.kompas.tv/internasional/626208/momen-trump-dan-pm-jepang-sanae-takaichi-di-tokyo-bahas-hubungan-as-jepang-hingga-beri-selamat

Editor Video: Joshua Victor

#utangwhoosh#boskai#jokowi#keretacepatwhoosh#kcic

Artikel ini bisa dilihat di : https://www.kompas.tv/video/626215/kronologi-utang-kereta-cepat-whoosh-jokowi-kita-harus-tahu-masalahnya-dulu
Transkrip
00:00Proyek Kereta Cepat Indonesia China atau KCIC yang menghubungkan Jakarta dan Bandung atau kereta WUS
00:14kembali menjadi sorotan karena nilai utang yang membengkak
00:19Melansir dari kompas.id, proyek kereta cepat Jakarta-Bandung atau KCJB
00:26ditetapkan menjadi proyek strategis nasional atau PSN pada tahun 2016
00:31Biaya total dari pembangunan proyek kereta cepat WUS mencapai 7,27 miliar dolar Amerika Serikat
00:39atau senilai 118,37 triliun rupiah dengan kurs rupiah 16.283 per dolar Amerika Serikat
00:50Angka tersebut sudah termasuk dengan pembengkakan biaya atau cost overrun sebesar 1,2 miliar dolar Amerika Serikat
00:59Adapun pembangunan KCJB, kebanyakan dilakukan dengan utang yang meminjam dari China Development Bank atau CDB
01:07dengan nilai 75% dari biaya total proyek
01:11Sementara sisanya adalah setoran awal dari pemegang saham
01:15Para pemegang saham dari KCJB adalah konsorsium PT Kereta Cepat Indonesia China atau KCIC
01:22Saham 40% dipegang oleh China yakni dari Beijing Yaowen HSR
01:28Sementara dari Indonesia yakni PT Pilar Sinergi BUMN Indonesia atau PSBI
01:33dengan memegang saham sebesar 60%
01:36Adapun PT PSBI adalah diantara yang dari PT KAI
01:41PT Wijaya Karya, PT Jasa Marga dan PT Perkebunan Nasional 8
01:47Nah dari keempat BUMN tersebut PT KAI yang memegang saham terbesar
01:52yakni sebesar 58,5%
01:56Kemudian diikuti oleh WIKA sebesar 33,36%
02:00Jasa Marga sebesar 7,08%
02:04dan Perkebunan Nusantara sebesar 1,03%
02:08Nantinya jika KCJB mendapat laba besar maka PT KAI lah
02:13yang mendapatkan pemasukan paling tinggi
02:16Sebaliknya jika merugi maka PT KAI jadi sosok yang paling berat bebannya
02:21menanggung beban pembayaran utang
02:23Direktur utama PT KAI Bobby Rashidin
02:26Saat mengadiri rapat dengan pendapat atau RDB
02:29dengan Komisi Inam DPR pada Agustus 2025
02:33sempat mengakui bahwa mega proyek tersebut memang menjadi bom waktu bagi perseroan
02:38Memang kami baru ya
02:40Mungkin paparan kami belum sangat komprehensif
02:44Karena kami agak
02:47Worry juga untuk menampilkan sesuatu yang kami tidak kuasai pak
02:53Yang belum kuasai
02:54Yang belum kuasai
02:55Jadi kami mohon nanti satu waktu lagi apakah kita dalam bentuk FGD gitu ya
03:00Untuk memahami lebih dalam
03:02Dan kami yakin dalam satu minggu ke depan kami bisa memahami
03:06Semua kendala-kendala permasalahan-permasalahan yang ada
03:09Di dalam KAI ini
03:13Terutama kami dalami juga masalah KCIC
03:17Yang seperti yang disampaikan tadi memang
03:19Ini bom waktu buat
03:22Sebentar Pak Bobby
03:23Kami ingin sampaikan
03:26Dalam RKAP 2025 dan antara
03:29Itu sudah ada solusi untuk penyelesaian KCIC
03:34Nah saya minta Pak Bobby
03:35Koordinasi dengan
03:36Kan setiap bulan kan
03:38KAI pasti diundang oleh dan antara untuk evaluasi kinerja kan
03:42Nah disitu tolong dibicarakan dengan managing director
03:46Bapak siapa ya managing directornya
03:47KAI ini siapa?
03:49Bu Febri
03:50Oh Bu Febri
03:50Nah tolong bicarakan
03:52Soal di dalam RKAP nya dan antara 2025
03:56Salah satunya ada penyelesaian permasalahan WUS ini
03:59Oke terima kasih Pak
04:00Jadi kami akan koordinasi dengan Danantara
04:05Untuk penyelesaian KCIC ini
04:08Sebagai informasi Bobby baru saja menjabat sebagai dirut KAI
04:12Ia menggantikan Didi Haryanto pada 12 Agustus 2025
04:17Bobby bilang ia akan mendalami masalah keuangan tersebut
04:21Untuk diketahui proyek kereta cepat WUS mengalami pembangkakan biaya
04:26Atau cost of rent hingga 1,2 miliar dolar Amerika Serikat
04:31Atau sekitar 18,02 triliun rupiah
04:35Kembali ditegaskan bahwa dana pembangunan atau utang proyek dari kereta cepat WUS
04:41Mencapai 7,27 miliar dolar Amerika Serikat
04:45Atau senilai 118,37 triliun rupiah
04:50Dengan kurs 16.283 rupiah per dolar Amerika Serikat
04:57Nominal tersebut sudah termasuk dengan pembangkakan biaya atau cost of rent
05:01Sebesar 1,2 miliar dolar Amerika Serikat
05:05Dari total tersebut 75 persen dibiayai melalui pinjaman dari China Development Bank atau CDB
05:12Dengan bunga 2 persen per tahun dan tenor selama 40 tahun
05:17Menanggapi apa yang sedang ramai soal WUS
05:20Presiden Ketujuh Republik Indonesia Joko Widodo mengatakan
05:23Bahwa KCJB adalah proyek sosial
05:26Bukan untuk mencari keuntungan
05:29Ini jadi kita harus tahu masalahnya dulu
05:34Di Jakarta itu kemacetannya sudah parah
05:39Ini sudah sejak 30 tahun, 40 tahun yang lalu, 20 tahun yang lalu
05:47Dan Jabodetabek juga kemacetannya parah
05:54Termasuk Bandung juga kemacetannya parah
05:59Dari kemacetan itu negara rugi secara hitung-hitungan
06:04Kalau di Jakarta saja kira-kira 65 triliun per tahun
06:08Kalau Jabodetabek plus Bandung kira-kira sudah di atas 100 triliun per tahun
06:16Nah untuk mengatasi itu
06:20Kemudian direncanakan dibangun yang namanya MRT
06:26LRT
06:28Kereta cepat
06:30Dan sebelumnya lagi KRL
06:32Ada juga kereta bandara
06:34Agar masyarakat berpindah dari transportasi pribadi
06:39Mobil atau sepeda motor ke
06:42Kereta cepat
06:46MRT, LRT, kereta bandara, KLM
06:51Agar kerugian itu bisa
06:53Terkurangi dengan baik
06:57Dan prinsip dasar transportasi masal
07:02Transportasi umum itu adalah layanan publik
07:06Ini kita juga harus mengerti, bukan mencari laba
07:12Jadi, sekali lagi
07:16Transportasi masal, transportasi umum itu tidak diukur dari laba
07:22Tetapi adalah diukur dari keuntungan sosial
07:27Social return on investment
07:30Apa itu?
07:33Misalnya pengurangan emisi karbon
07:35Produktivitas
07:41Dari masyarakat
07:44Menjadi lebih baik
07:46Kemudian apalagi
07:50Polusi yang berkurang
07:54Waktu tempuh yang bisa lebih cepat
07:56Disitulah
07:57Keuntungan sosial yang didapatkan dari
08:00Pembangunan
08:02Transportasi masal
08:04Jadi, sekali lagi
08:06Kalau ada subsidi
08:08Itu adalah investasi
08:10Bukan kerugian
08:13Sementara itu diketahui tenor dari WUS direncanakan diperpanjang sampai dengan 60 tahun
08:19Ada pun Menteri Keuangan Purbaya menegaskan
08:23Ia tak mau ikut campur dalam proses restrukturisasi utang proyek rata cepat WUS
08:29Bagus
08:31Saya gak ikut kan
08:33Top
08:34Berarti gak diajak ke Cina Pak?
08:37Enggak lah
08:38Katanya si Pak Doni dia mengajak pemerintah juga buat ke Cina
08:41Paling menyaksikan
08:42Kalau mereka udah putus kan udah bagus
08:45Top
08:46Saya bisa mungkin gak ikut
08:49Biar aja mereka selesaikan business to business
08:50Jadi top
08:53Ada pun pemerintah Indonesia dan Cina
08:57Telah menyepakati perpanjangan tenor utang WUS hingga 60 tahun
09:01Dengan harapan keberlanjutan proyek ini tidak menambah beban keuangan negara
09:06Selamat menikmati
Komentar

Dianjurkan