Lewati ke pemutarLewatkan ke konten utama
JAKARTA, KOMPAS.TV - Kericuhan akibat aksi unjuk rasa di Jakarta dan berbagai daerah pada akhir Agustus 2025, disebut-sebut didalangi oleh pihak asing.

Tokoh Aliansi Akademisi Peduli Indonesia (AAPI), Prof. Harkristuti Harkrisnowo mengatakan agak terlalu sederhana kalau semata-mata ada intervensi asing dalam aksi demo Agustus 2025 lalu.

"Dalam negeri juga ada pemicu luar biasa. Asing itu hanya bisa main, karena di dalam negeri juga ikut. Para penyelenggara kekuasaan negara ini punya sensitivitas rendah. Mereka acapkali mengabaikan suara rakyat. [...] Karena dari awal tidak ada reaksi keras dari rakyat, maka diambilah keputusan yang tidak berpihak pada rakyat, sehingga muncullah akumulasi kejengkelan rakyat," katanya.
Sementara itu, Tokoh Gerakan Nurani Bangsa (GNB), Alissa Wahid mengatakan kondisi yang terjadi selama ini di Indonesia adalah realita. Bahkan, ia justru khawatir dengan pandangan Presiden Prabowo dan jajarannya terkait hal ini.

"Yang mengadu domba itu siapa? Itu realita. Undang-Undang yang dibuat sembunyi-sembunyi dan dibuat cepat-cepat untuk kepentingan penguasa, itu realita atau narasi dari asing? Polisi brutal kepada demonstran atau bahkan rakyat biasa, itu realita atau narasi asing untuk menyerang Indonesia? PBB naik ugal-ugalan itu narasi asing atau realita? Anggota dpr yang tidak hidup dalam ruang masyarakat, itu realita atau narasi asing? Semua itu realita. Kalaupun tidak ada campur tangan antek asing, apakah benar kita akan menjadi negara besar? Saya malah khawatir dengan pandangan pak Presiden dan jajarannya," katanya.



Bagaimana pendapatmu?

Selengkapnya saksikan di sini: https://youtu.be/PPvLJoJST64



#demo #massa #dpr

Artikel ini bisa dilihat di : https://www.kompas.tv/talkshow/616800/narasi-antek-asing-di-balik-demo-realita-atau-retorika-ini-kata-alissa-wahid-dan-harkristuti-harkr
Transkrip
00:00Saya tidak lebih pintar dari kalian, saya tidak lebih pintar, tapi saya mengalami semua.
00:07Dan ini ada yang main, pada waktunya saya bisa sampaikan namanya yang main.
00:16Itu dari sana, dari luar, orang yang dari luar hanya menggerakkan kaki tangan yang ada di dalam.
00:25Dan saya sangat yakin bahwa kaki tangannya di dalam ini tidak mengerti bahwa dia dipakai.
00:33Itu ya, tapi pada waktunya nanti harus dibuka.
00:37Di luar, state actor atau non-state actor?
00:40Sebetulnya non-state, tapi pengaruhnya sangat besar kepada kebijakan dari negaranya.
00:47Kebijakannya itu langkah-langkahnya kita baca selalu pas dengan usulan dari non-state itu.
00:55Kau telah keterangan dari mantan Kepala Badan Intelijen Negara, Hendro Priyano.
01:03Mbak Prok Tuti, non-state actor dari luar, asing, bermain. Anda setuju?
01:10It is possible. Saya tidak mengatakan bahwa itu tidak mungkin.
01:14Tetapi memang agak terlalu sederhana kalau kita melihat bahwa itu hanya semata-mata ada intervensi asing.
01:21Karena buat saya apa yang di dalam negeri itu juga kan menjadi pemicu yang luar biasa.
01:27Jadi asing itu hanya bisa main kalau di dalam itu juga ikut.
01:32Dan di dalam itu kan bukan anak-anak kecil yang bisa diajak bermain.
01:37Kan pasti orang-orang yang punya kekuasaan.
01:39Dan buat saya memang para penyelenggara kekuasaan negara ini memiliki sensitivitas yang sangat rendah.
01:48Dengan kata lain, mereka itu acak kali mengabaikan suara rakyat.
01:52Kenapa saya bilang begitu?
01:54Kami akademisi sudah turun misalnya sebelum pemilu.
01:58Kami sudah teriakan ada masalah nih dengan pemilu.
02:01Kemudian kami dibilang, oh kalau gitu akademisnya itu partisan, kan gitu.
02:07Ketika sesudah itu kami menyuarakan lagi ada kabinet yang terlalu gemuk.
02:13Wah itu kan karena tidak kebagian.
02:15Kan seharusnya begitu.
02:17Lalu ada berbagai acara di mana akademisi berbicara,
02:19tapi kemudian dipandang bahwa kami itu sudah berpihak pada kelompok tertentu.
02:24Sebenarnya betul juga kami berpihak pada kelompok rakyat.
02:27Jadi bukan perkekuasaan.
02:29Sehingga yang saya lihat adalah karena dari awal dulu itu ternyata tidak ada reaksi-reaksi keras dari masyarakat,
02:37mereka menganggap, oh rakyat Indonesia ternyata bisa juga ya dikibulin ya.
02:41Oleh sebab itu diteruskanlah pengambilan keputusan yang tidak berpihak pada rakyat.
02:48Sehingga akhirnya menjelma menjadi satu kejengkelan yang luar biasa,
02:52yang memang merupakan kumulasi dari berbagai macam kejengkelan.
02:56Oke, baik.
02:57Kita coba dengar terlebih dahulu juga pernyataan dari Presiden Prabowo Subianto
03:01soal siapa sebenarnya yang bermain di kerusuhan yang terjadi pada akhir Agustus.
03:07Saudara-saudara sekalian, kita waspada berhadap campur tangan rumpok-rumpok yang tidak ingin Indonesia sejahtera,
03:20tidak ingin Indonesia bangkai.
03:25Kita selalu diintervensi, selalu diadu domba.
03:29Jangan kita mau terus diadu domba.
03:34Mbak Alisa, Pak Hendro, kemudian Pak Prabowo sama-sama mengatakan ada intervensi dan kita diadu domba.
03:45Anda sependapat dengan sinyalemen dari Pak Presiden?
03:50Tidak.
03:50Tidak, kenapa?
03:51Tidak.
03:52Yang mengadu domba itu siapa?
03:54Kita lihat realita.
03:57Rakyat hidup susah itu realita atau narasi-narasi yang dibuat oleh asing.
04:04Undang-undang yang dibuat sembunyi-sembunyi dalam waktu cepat untuk kepentingan penguasa
04:09itu realita atau narasi dari asing.
04:16Polisi brutal pada demonstran atau bahkan pada rakyat biasa
04:21dalam misalnya perebutan tanah untuk kepentingan pengusaha
04:26itu realita atau narasi yang dibuat-buat oleh asing untuk menyerang Indonesia.
04:32PBB naik ugal-ugalan itu narasi yang dibuat oleh asing atau realita?
04:40Anggota DPR yang sama sekali tidak hidup pada ruang masyarakat
04:47dan bersikap sangat pongah menganggap orang Indonesia tolol semua
04:52itu realita atau narasi asing?
04:56Semuanya itu realita.
04:57Jadi kalaupun tidak ada antek-antek asing atau tidak ada campur tangan asing
05:03apakah benar kita akan menuju yang Indonesia yang besar, yang maju tadi itu?
05:09Kalau ini masih diterus-teruskan.
05:12Saya justru khawatir dengan pandangan Pak Presiden dan jajarannya.
05:17Oke baik, Bung Marjuki yang pernah punya pengalaman sebagai UN Special Envoy di berbagai negara
05:24Pak Hendro dan kemudian Pak Presiden mengatakan ada intervensi asing
05:29dan kemudian UN Komisian PBB juga mengatakan
05:32perlu dibentuk sebuah tim investigasi menyeluruh untuk mengungkap
05:36sebetulnya apa yang sedang terjadi.
05:38Gimana Anda lihat?
05:39Ya, di PBB sekarang ini
05:41Komisian Negara Tinggi, Hak Asasi Manusia
05:46sangat aktivis ya
05:50pernyataan-pernyataan yang keluar dari PBB itu rutin sebetulnya
05:55dan tidak hanya tertuju pada Indonesia
05:57banyak negara-negara lain juga yang disorot oleh PBB
06:01hanya prosesnya tentu harus kita fahami
06:05bahwa PBB akan memberi laporan kepada anggota-anggota di UN ya
06:14di Geneva
06:15tentang apa yang terjadi di Indonesia
06:18kalau ditanya dan harus siap
06:20dan karena itu
06:22adalah dalam kepentingan pemerintah Indonesia
06:26untuk bisa memberi keterangan kepada Komisian Negara Tinggi
06:32Hak Asasi Manusia di PBB
06:34mendahului
06:35kumpulan atau pengumpulan data dari
06:39oleh UN sendiri
06:40jadi inilah
06:43jadi kembali lagi
06:44harus ada suatu sikap proaktif dari pemerintah Indonesia
06:48untuk menyelesaikan masalah ini
06:50untuk bisa
06:51menangkis
06:53pertanyaan-pertanyaan dan tekanan-tekanan dari luar
06:56yang kalau tidak diindahkan oleh Indonesia
07:01akan lebih aktif lagi
07:03di masa-masa yang akan datang
07:06nah ini akan yang mau kita cegah ya
07:08agar supaya kita
07:09merespon lebih dahulu ya
07:10oke baik
07:12Mas Dirman
07:13kalau Mas Dirman lihat
07:14kenapa Presiden kemudian mengatakan
07:16ada intervensi asing
07:18apakah memang masalah domestik yang Mbak Alisa katakan itu
07:21tidak diketahui atau bagaimana
07:23yang disampaikan oleh ketiga
07:27pembicara ini
07:28sebetulnya
07:29deretan realitas
07:31yang seharusnya memang sudah ditangkap dengan baik
07:33tapi kan tadi
07:34ada satu unsur dimana
07:36kepekan itu
07:37entah kenapa
07:38hilang gitu
07:39dan tadi gabungan antara
07:41sikap anarkis politik
07:44yang mau sebalang-menang tadi
07:45ditambah dengan ketidakpekan
07:47ditambah dengan kepongahan
07:48kepongahan
07:49saya mau kasih contoh
07:49setelah
07:52demonstrasi agak reda
07:53di depan
07:54gedung DPR
07:55berbaris lah
07:56polisi dan antara
07:57bersimpuh
07:58di bawah tuh
08:00kemudian di depan sana
08:01ada kursi
08:03ada bakapori
08:04tentu saja
08:04karena komandanya
08:05tapi ada pimpinan DPR
08:07duduk di atas kursi
08:09sampai situ saya masih bisa terima
08:10karena
08:10ya sudah lah
08:11pimpinan DPR
08:13tapi sebelahnya lagi
08:14ada pesohor
08:15yang konon jabatannya adalah
08:17utusan khusus presiden
08:19bidang kesenian
08:20yang tidak ada urusan
08:21sama politik
08:22tidak ada urusan keamanan
08:23segala macam
08:24menurut saya itu sesuatu yang
08:26di tengah-tengah
08:26suasana masyarakat
08:27yang belum
08:28lagi reda
08:29tapi tidak tahan
08:31untuk menunjukkan
08:32kepongahan tadi gitu
08:32jadi ini sesuatu
08:34contoh-contoh bahwa memang
08:35yang ada adalah
08:37gabungan ketidakpekaan
08:39dari waktu ke waktu
08:40kemudian muncul dengan
08:41kesulitan masyarakat
08:42tadi yang disebut
08:42lembalis ya
08:43nah
08:44Mas Budiman
08:4529 Mei
08:461945
08:47itu kan
08:48pembukaan sidang
08:50BPUPK tuh
08:50Mister Yamin
08:52antaranya menggarisbawahi
08:54bahwa
08:55pada suatu waktu
08:56diperlukan
08:56pengurus negara
08:58pengurus negara
08:59dengan syarat-syarat
09:00dua
09:00nomor satu
09:01berilmu
09:03nomor dua
09:04punya sensitivitas
09:08punya hati nurani gitu
09:09nah sikap-sikap
09:10seperti tadi itu
09:11apakah menunjukkan
09:12dan juga tadi
09:14sejumlah
09:14sejumlah tindakan-tindakan
09:16yang merubah undang-undang
09:17begitu cepat
09:18itu adalah sikap-sikap
09:19yang menunjukkan bahwa
09:20level
09:22kedalaman ilmu itu
09:24memang
09:24makin merosot
09:26makin merosot
09:26nah saya kan berharap nih
09:27orang-orang seperti
09:28pimpinan DPR itu
09:29bergahulnya dengan
09:30Pak Marjukidah Rusman
09:31dengan Prof
09:32Pak Kristuti
09:33dengan Pak Alisa
09:34sehingga mendapat
09:35masukan yang
09:36yang serius
09:37mengenai keadaan
09:38masyarakat
09:39bukan bergaul dengan
09:40persohor
09:40kemana-mana
09:41ditenteng kemana-mana
09:42bahkan
09:43menimbulkan berbagai
09:45kerusakan persepsi kan
09:46jadi
09:47yang begini-begini
09:48menurut saya
09:48kalau mau diperbaiki
09:49memang
09:49harus ada introspeksi
09:51harus ada
09:52pikiran mendalam
09:54bahwa tidak mungkin
09:55keadaan begini
09:56terus-menerus terjadi
09:57karena sesungguhnya
09:58harus kita akui
09:59bahwa
10:00masyarakat ini
10:01dengan gadgetnya itu
10:02melek 24 jam
10:04tentang apa yang terjadi
10:04informasi ya
10:05dan itu
10:06itu menjadi
10:07apa ya
10:07masukan
10:08bahwa tidak bisa lagi
10:09kita mengurus negara
10:10dengan cara tersebut
10:11oke
10:12baik
10:12lalu apa yang harus
10:13dikerjakan oleh
10:14pemerintah
10:15setelah demonstrasi
10:16merda
10:17kita bahas
10:18setelah jeda berikut ini
Jadilah yang pertama berkomentar
Tambahkan komentar Anda

Dianjurkan