00:01Faktornya memang kemarakan daripada masyarakat sendiri yang memang kontra dengan apa yang dihapuskan garakan sendiri oleh pemerintah.
00:09Yang di sini sebenarnya memang merugikan berbagai macam masyarakat.
00:13Namun tidak dibungkiri juga bahwasannya ada beberapa indikasi-indikasi bahwasannya provokasi itu memang ada.
00:20Provokasi itu pada akhirnya memang ada untuk memicu kemarakan daripada masyarakat itu sendiri.
00:25Kalau dari kebijakan-kebijakan pemerintah di hari ini memang banyak sekali yang tidak populis, banyak sekali yang memang tidak cenderung kepada rakyat.
00:33Kita bisa melihat tunjangan DPR yang pada hari ini teman-teman buruh itu masih terkena outsourcing.
00:39Dan juga menurutku sebenarnya gejolok-gejolok ini lahir bukan serta-merta rakyat marah gitu.
00:48Tapi karena memang saat memberikan kebijakan itu tidak dipikirkan lagi gitu.
00:55Kalau menurut saya pribadi karena tidak kepuasan mereka dengan kebijakan-kebijakan dari DPR tersebut.
01:01Jadi tidak hanya mahasiswa aja yang turun.
01:04Dari mahasiswa orang-orang kalangan ke bawah atau kalangan ke tengah dan bahkan ibu-ibu ajak-ajak pun ikut turun, ikut demo seperti itu.
01:14Karena kurang puas dari rakyat, dari kebijakan pemerintah tersebut.
01:18Mas Fatul, gimana Mas Fatul melihat ya ketika DPR diserang, polisi diserang, kantor Gerahadi di Surabaya dibakar, DPRD Makassar dibakar gitu.
01:43Apa yang bisa dibaca dari aksi yang pembakaran seperti itu Mas Fatul?
01:48Kita bisa melihat bahwa ini kan sebetulnya seperti yang dikatakan oleh Mas Sukiti tadi, Mas Budiman.
01:55Ini akumulasi.
01:57Yang sampai memicu kita bisa sebut-sebut ke geraman gitu.
02:02Kegeraman publik terhadap beragam kebijakan.
02:06Yang itu ternyata abai terhadap kepentingan rakyat banyak.
02:10Tidak sensitif dengan penderitaan rakyat banyak.
02:14Sehingga ini akan memicu semacam kesadaran kolektif.
02:17Bahwa kita harus bersuara.
02:20Dan ketika di lapangan kita tentu saja paham.
02:25Tidak selalu bisa menghindari gesekan.
02:29Dan ketika itu gesekan terjadi dan bereskalasi,
02:33kita bisa saksikan ada ekses-ses yang tidak kita inginkan semua tentu saja.
02:37Tetapi saya ingin menyatakan bahwa ekses itu jangan sampai mengabekkan pesan intinya.
02:47Jangan sampai mengabekkan pesan inti.
02:50Bahwa negara, pemerintah, DPR, AB dengan suara rakyat itu sebuah fakta.
02:57Terlalu banyak suara sudah disampaikan beragam kalangan.
03:01Kampus, masyarakat sipil melalui beragam kanal.
03:05Tapi ternyata tidak mengubah kebijakan.
03:06Dan kita menjadi saksi.
03:08Banyak kebijakan-kebijakan yang katakanlah kita sebut semacam tes ombak, mas Butiman.
03:13Ketika responnya, katalah kurang bagus, kemudian dibatalkan,
03:17muncul pahlawan, membela rakyat, dan lain-lain.
03:19Kira-kira kesan itu sangat kentara muncul.
03:22Dan kalau itu terus terjadi, saya tidak tahu,
03:25kira-kira kegeramannya akan naik ke level yang setinggi apa.
03:29Dan kita tentu saja tidak ingin itu terjadi.
03:32Karena harganya terlalu mahal untuk bangsa ini.
03:35Oke, baik Mas Fatul.
03:36Kita coba dengar ya, bagaimana respon Presiden Prabowo Subianto setelah terjadinya kerusuhan.
03:43Mungkin bisa diputar terlebih dahulu.
03:44Namun, kita tidak dapat pengkiri bahwa sudah mulai kelihatan gejala adanya tindakan-tindakan di luar hukum,
03:59bahkan melawan hukum, bahkan ada yang mengarah terhadap, mengarah kepada makar dan terorisme.
04:12Orang tidak bersalah, orang tidak berpolitik, korban.
04:19Gedung DPR dibakar.
04:22Ini tindakan-tindakan makar ini.
04:26Ini bukan penyampaian aspirasi.
04:32Oke, Safiq, yang berpengalaman di 98, Presiden merespon bahwa pembakaran-pembakaran itu adalah terorisme dan makar.
04:43Saya tidak tahu persis informasi apa yang dimiliki Presiden,
04:47karena Presiden punya akses terhadap laporan intelijen, kepolisian, dan seterusnya.
04:51Tetapi, saya melihat, menurut saya itu berlebihan.
04:57Dan ini bukan pertama kali terjadi.
04:58Jaman 98, waktu teman-teman mahasiswa itu mendemu DPR,
05:02waktu itu sidang istimewa, juga disebut makar oleh Panglima TNI,
05:07waktu itu Jenderal Wiranto.
05:08Jadi, menurut saya ini lebih mewakili sebuah paradigma lama
05:12yang memandang gerakan sosial yang cenderung dalam tanda kutip kekerasan
05:20atau melakukan serangan terhadap aset-aset negara dipandang sebagai makar.
05:26Sementara ya, saya tidak melihat itu.
05:28Makanya harus perjelas, makar di sini maksudnya apa?
05:30Apakah makar itu maksudnya menentang pemerintah, melawan pemerintah,
05:34atau mau merebut kekuasaan?
05:35Kalau mau merebut kekuasaan, ya dibilang aja siapa.
05:38Sekarang saya kira enggak ada pihak yang berkepentingan untuk merebut kekuasaan.
05:42Partai udah praktis semua ngikut pemerintah, dan yang lain-lain.
05:46Tetapi, saya melihat ini paradigma lama,
05:48dan kita harus ingat bahwa dalam setiap clash,
05:55bentrokan lapangan,
05:56memang bisa muncul emosi-emosi yang mendorong kekerasan.
06:01Ada dua hal kekerasan bisa terjadi.
06:04Karena sepontanitas, dinamika lapangan,
06:07yang kedua memang dilakukan oleh kelompok yang terorganisir.
06:10Terorganisir.
06:11Yang direncanakan.
06:12Nah, yang sepontan ini,
06:14itu karena dinamikanya saling ejek, saling lempar, saling dorong,
06:19dan segala macam-segala macam,
06:21bisa mengakibatkan kekerasan.
06:22Karena itu instinktif.
06:24Dan memang dalam sejarah sosial kita mengenal bahwa,
06:27ya di mana-mana, kalau eskalasi udah sangat besar,
06:31kekerasan sulit dihindari.
06:33Martin Luther King Jr. sebagai pejuang haasasi kulit hitam di Amerika,
06:38pernah bilang,
06:40riot is the language of the unheard.
06:43Kerusuhan itu, itu bahasa dari mereka yang tidak didengar.
06:47Artinya ketika di dinamika lapangan itu memang memungkinkan,
06:51masa melakukan kerusuhan.
06:53Tetapi juga bisa terjadi bahwa kerusuhan, kekerasan, pembakaran,
06:58memang dilakukan oleh kelompok yang terorganisir,
07:01sudah mempersiapkan diri untuk itu.
07:04Nah, ini tugas kepolisian untuk mengungkapnya.
07:06Atau tim independen itu yang bisa mengungkapnya.
07:08Ya, saya kira makanya bahwa,
07:10dalam kasus mengadili polisi yang terlibat,
07:13harus ada tim independen.
07:14Saya kira memang kita butuh tim independen.
07:16Dulu waktu kekerasan-kerasan 98, ada tim independen.
07:19Oke, Prof. Sulis.
07:21Gimana opini dari Prof. Sulis,
07:22kalau memang desakan dari UN, PBB itu ya harus dibentuk tim menyeluruh.
07:27Sehingga tidak parsial untuk melihat apa sebenarnya yang terjadi sebetulnya.
07:30Ya, terima kasih Mas.
07:32Jadi kan harus dipisahkan secara jelas ya,
07:35tadi Mas Afiq sudah menyampaikan.
07:38Mana kelompok-kelompok yang memang genuine, organik,
07:41datang dari suara hati, secara kolektif, bersama-sama.
07:45Saya melihat sendiri para mahasiswa berjaket kuning tuh,
07:49seribu orang bahkan dilepas oleh rektornya ya.
07:54Mereka itu anak-anak yang masih sangat muda,
07:59semester 3, semester 4 ada di kelas saya.
08:02Jadi saya tahu betul mereka sungguh-sungguh memang gerakan organik yang murni.
08:07Dan mereka menerapkan nilai-nilai, prinsip-prinsip mencintai kebenaran.
08:15Seperti yang Bung Harta sampaikan,
08:17harus berani mengatakan apa yang tidak benar untuk sesuatu yang salah.
08:21Kemudian ada kelompok-kelompok yang memang punya kepentingan-kepentingan politik.
08:26Kita kan belajar dari 98 ya Mas Afiq ya,
08:30bagaimana kelompok-kelompok itu memang by design,
08:33lalu melakukan tindakan-tindakannya secara struktur, masif, dan memprovokasi.
08:40Saya melihat tidak mungkinlah itu dilakukan oleh mahasiswa saya,
08:45anak-anak yang semester 3, semester 4.
08:46Ya tapi kan ada memang orang yang nunggang kan sebetulnya.
08:48Ya, jadi itu harus jelas sekali dibedakan.
08:51Jangan semuanya, atau mana yang diberi label perusuh, makar, itu yang mana gitu.
08:58Nah, saya setuju sekali bahwa ketika kita seperti chaos seperti ini,
09:04maka lalu ada UN yang meminta untuk menginvestigasi,
09:09karena sudah ada korban-korban nyawa sih.
09:11Dan itu yang kita lihat yang sudah tidak ada,
09:16tapi berapa banyak lagi mereka yang luka-luka,
09:19dan kemudian hari ini juga kita mengetahui ada ratusan orang yang masih ditangkap.
09:26Nah, itu juga harus jelas ditangkapnya kenapa gitu kan.
09:30Tidak bisa apa dengan tuduhan-tuduhan yang tidak berdasar gitu ya.
09:34Harus betul-betul jelas karena di dalam prinsip hukum pidana,
09:38tidak boleh salah dalam menghukum orang.
09:40Karena kalau sudah salah itu sukar untuk dipulihkan.
09:44Oke, baik. Mas Ukidi, kalau perkembangan terakhir kan sekarang serial penangkapan mulai terjadi ya?
09:48Direktur Lokataru dan lain sebagainya ditangkap lah, menghasut atau ini apa.
09:53Itu menyelesaikan problem dengan pendekatan koership seperti itu atau bagaimana Anda lihat?
09:59Saya kira justru menambah problem itu sendiri.
10:01Menambah problem?
10:02Iya. Itu adalah sikap yang tidak bijak dalam konteks menegakkan situasi keamanan nasional itu sendiri.
10:11Saya kira sikap yang bijak adalah justru mengajak masyarakat untuk berdialog dan lebih mengedapkan pendekatan yang lebih humanistik itu sendiri.
10:24Karena justru itu yang diludukan masyarakat.
10:27Yaitu adalah bagaimana mengajak masyarakat untuk berdialog, bertukar pikiran tentang kondisi bangsa ini.
10:35Karena apa? Karena pada akhirnya kita menghadapi satu situasi di mana hampir semua kehidupan penelenggara negara itu rusak.
10:47Hukum dijadikan alat kekuasaan.
10:51Polisi bukan lagi pengayom rakyat.
10:53Wakil rakyat justru menghina rakyatnya.
11:00Kepolisian tidak lagi menjadi pengayom dan pengaman kehidupan kita secara luas.
11:11Dan saya kira sikap yang terbaik adalah ini saatnya berbenah diri.
11:16Berbenah diri.
11:17Berbenah diri secara luas.
11:18Lakukan reformasi total di semua penelenggara negara.
11:22Dan hanya dengan cara itu kita bisa pulih sebagai bangsa.
11:27Karena apa?
11:28Karena kita belajar dari sejarah betapa masalah bangsa ini begitu kompleks dan tidak pernah diselesaikan dengan baik.
11:37Oke.
11:38Masalahnya begitu kompleks.
11:40Sejumlah korban telah meninggal dunia 10 orang.
11:43Lalu pemerintah harus berbuat apa?
11:45DPR harus berbuat apa?
11:47Kita jawab setelah jeda berikut ini.
11:48Terima kasih.
Komentar