Lewati ke pemutarLewatkan ke konten utama
JAKARTA, KOMPAS.TV - Presiden Prabowo menyinggung adanya dugaan ke arah makar terkait tindakan unjuk rasa yang terjadi. Hal ini disampaikan di Istana Negara (31/8/2025).

Aktivis 1998, Savic Ali merasa berlebihan jika unjuk rasa disebut makar. Ia mencontohkan Jenderal Wiranto juga menyebut makar saat Sidang Istimewa MPR.

"Ini mewakili paradigma lama yang memandang gerakan sosial cenderung melakukan kekerasan terhadap aset-aset negara dipandang sebagai makar. Saya tidak melihat itu. Maka harus diperjelas makar ini maksudnya apa? Apakah menentang pemerintah atau mau merebut kekuasaan? Siapa? Tidak ada pihak yg berkepentingan merebut kekuasaan. Partai sudah praktis ikut pemerintah," katanya.


Koordinator Aliansi Akademisi Peduli Indonesia (AAPI), Prof. Sulistyowati Irianto melihat dalam aksi unjuk rasa yang terjadi Agustus 2025 lalu harus dilihat mana kelompok yang memang genuine, ada juga kelompok-kelompok yang punya kepentingan politik.

"Saya melihat tidak mungkin dilakukan oleh mahasiswa saya. Itu harus jelas sekali dibedakan mana yang diberi label rusuh, makar. Ketika chaos seperti ini, saya setuju UN minta investigasi. Karena ada korban nyawa, luka-luka, ada ratusan orang yang ditangkap. Di dalam prinsip hukum pidana, tidak boleh salah hukum orang," tegasnya.


Rektor UII, Fathul Wahid mengatakan aksi unjuk rasa yang terjadi adalah fakta ketika negara, pemerintah maupun DPR abai dengan suara rakyat.

"Terlalu banyak yang sudah disampaikan beragam kalangan lewat berbagai kanal, tapi tidak mengubah kebijakan. Banyak kebijakan yang katakanlah semacam tes ombak. Ketika responnya kurang bagus, dibatalkan. Itu terus terjadi," katanya.

Bagaimana pendapatmu?

Selengkapnya saksikan di sini:

https://youtu.be/ABsqfGlgPK8




#demo #dpr #tunjangan

Artikel ini bisa dilihat di : https://www.kompas.tv/talkshow/615504/prabowo-singgung-dugaan-makar-ini-respons-aktivis-1998-dan-akademisi-satu-meja
Transkrip
00:01Faktornya memang kemarakan daripada masyarakat sendiri yang memang kontra dengan apa yang dihapuskan garakan sendiri oleh pemerintah.
00:09Yang di sini sebenarnya memang merugikan berbagai macam masyarakat.
00:13Namun tidak dibungkiri juga bahwasannya ada beberapa indikasi-indikasi bahwasannya provokasi itu memang ada.
00:20Provokasi itu pada akhirnya memang ada untuk memicu kemarakan daripada masyarakat itu sendiri.
00:25Kalau dari kebijakan-kebijakan pemerintah di hari ini memang banyak sekali yang tidak populis, banyak sekali yang memang tidak cenderung kepada rakyat.
00:33Kita bisa melihat tunjangan DPR yang pada hari ini teman-teman buruh itu masih terkena outsourcing.
00:39Dan juga menurutku sebenarnya gejolok-gejolok ini lahir bukan serta-merta rakyat marah gitu.
00:48Tapi karena memang saat memberikan kebijakan itu tidak dipikirkan lagi gitu.
00:55Kalau menurut saya pribadi karena tidak kepuasan mereka dengan kebijakan-kebijakan dari DPR tersebut.
01:01Jadi tidak hanya mahasiswa aja yang turun.
01:04Dari mahasiswa orang-orang kalangan ke bawah atau kalangan ke tengah dan bahkan ibu-ibu ajak-ajak pun ikut turun, ikut demo seperti itu.
01:14Karena kurang puas dari rakyat, dari kebijakan pemerintah tersebut.
01:18Mas Fatul, gimana Mas Fatul melihat ya ketika DPR diserang, polisi diserang, kantor Gerahadi di Surabaya dibakar, DPRD Makassar dibakar gitu.
01:43Apa yang bisa dibaca dari aksi yang pembakaran seperti itu Mas Fatul?
01:48Kita bisa melihat bahwa ini kan sebetulnya seperti yang dikatakan oleh Mas Sukiti tadi, Mas Budiman.
01:55Ini akumulasi.
01:57Yang sampai memicu kita bisa sebut-sebut ke geraman gitu.
02:02Kegeraman publik terhadap beragam kebijakan.
02:06Yang itu ternyata abai terhadap kepentingan rakyat banyak.
02:10Tidak sensitif dengan penderitaan rakyat banyak.
02:14Sehingga ini akan memicu semacam kesadaran kolektif.
02:17Bahwa kita harus bersuara.
02:20Dan ketika di lapangan kita tentu saja paham.
02:25Tidak selalu bisa menghindari gesekan.
02:29Dan ketika itu gesekan terjadi dan bereskalasi,
02:33kita bisa saksikan ada ekses-ses yang tidak kita inginkan semua tentu saja.
02:37Tetapi saya ingin menyatakan bahwa ekses itu jangan sampai mengabekkan pesan intinya.
02:47Jangan sampai mengabekkan pesan inti.
02:50Bahwa negara, pemerintah, DPR, AB dengan suara rakyat itu sebuah fakta.
02:57Terlalu banyak suara sudah disampaikan beragam kalangan.
03:01Kampus, masyarakat sipil melalui beragam kanal.
03:05Tapi ternyata tidak mengubah kebijakan.
03:06Dan kita menjadi saksi.
03:08Banyak kebijakan-kebijakan yang katakanlah kita sebut semacam tes ombak, mas Butiman.
03:13Ketika responnya, katalah kurang bagus, kemudian dibatalkan,
03:17muncul pahlawan, membela rakyat, dan lain-lain.
03:19Kira-kira kesan itu sangat kentara muncul.
03:22Dan kalau itu terus terjadi, saya tidak tahu,
03:25kira-kira kegeramannya akan naik ke level yang setinggi apa.
03:29Dan kita tentu saja tidak ingin itu terjadi.
03:32Karena harganya terlalu mahal untuk bangsa ini.
03:35Oke, baik Mas Fatul.
03:36Kita coba dengar ya, bagaimana respon Presiden Prabowo Subianto setelah terjadinya kerusuhan.
03:43Mungkin bisa diputar terlebih dahulu.
03:44Namun, kita tidak dapat pengkiri bahwa sudah mulai kelihatan gejala adanya tindakan-tindakan di luar hukum,
03:59bahkan melawan hukum, bahkan ada yang mengarah terhadap, mengarah kepada makar dan terorisme.
04:12Orang tidak bersalah, orang tidak berpolitik, korban.
04:19Gedung DPR dibakar.
04:22Ini tindakan-tindakan makar ini.
04:26Ini bukan penyampaian aspirasi.
04:32Oke, Safiq, yang berpengalaman di 98, Presiden merespon bahwa pembakaran-pembakaran itu adalah terorisme dan makar.
04:43Saya tidak tahu persis informasi apa yang dimiliki Presiden,
04:47karena Presiden punya akses terhadap laporan intelijen, kepolisian, dan seterusnya.
04:51Tetapi, saya melihat, menurut saya itu berlebihan.
04:57Dan ini bukan pertama kali terjadi.
04:58Jaman 98, waktu teman-teman mahasiswa itu mendemu DPR,
05:02waktu itu sidang istimewa, juga disebut makar oleh Panglima TNI,
05:07waktu itu Jenderal Wiranto.
05:08Jadi, menurut saya ini lebih mewakili sebuah paradigma lama
05:12yang memandang gerakan sosial yang cenderung dalam tanda kutip kekerasan
05:20atau melakukan serangan terhadap aset-aset negara dipandang sebagai makar.
05:26Sementara ya, saya tidak melihat itu.
05:28Makanya harus perjelas, makar di sini maksudnya apa?
05:30Apakah makar itu maksudnya menentang pemerintah, melawan pemerintah,
05:34atau mau merebut kekuasaan?
05:35Kalau mau merebut kekuasaan, ya dibilang aja siapa.
05:38Sekarang saya kira enggak ada pihak yang berkepentingan untuk merebut kekuasaan.
05:42Partai udah praktis semua ngikut pemerintah, dan yang lain-lain.
05:46Tetapi, saya melihat ini paradigma lama,
05:48dan kita harus ingat bahwa dalam setiap clash,
05:55bentrokan lapangan,
05:56memang bisa muncul emosi-emosi yang mendorong kekerasan.
06:01Ada dua hal kekerasan bisa terjadi.
06:04Karena sepontanitas, dinamika lapangan,
06:07yang kedua memang dilakukan oleh kelompok yang terorganisir.
06:10Terorganisir.
06:11Yang direncanakan.
06:12Nah, yang sepontan ini,
06:14itu karena dinamikanya saling ejek, saling lempar, saling dorong,
06:19dan segala macam-segala macam,
06:21bisa mengakibatkan kekerasan.
06:22Karena itu instinktif.
06:24Dan memang dalam sejarah sosial kita mengenal bahwa,
06:27ya di mana-mana, kalau eskalasi udah sangat besar,
06:31kekerasan sulit dihindari.
06:33Martin Luther King Jr. sebagai pejuang haasasi kulit hitam di Amerika,
06:38pernah bilang,
06:40riot is the language of the unheard.
06:43Kerusuhan itu, itu bahasa dari mereka yang tidak didengar.
06:47Artinya ketika di dinamika lapangan itu memang memungkinkan,
06:51masa melakukan kerusuhan.
06:53Tetapi juga bisa terjadi bahwa kerusuhan, kekerasan, pembakaran,
06:58memang dilakukan oleh kelompok yang terorganisir,
07:01sudah mempersiapkan diri untuk itu.
07:04Nah, ini tugas kepolisian untuk mengungkapnya.
07:06Atau tim independen itu yang bisa mengungkapnya.
07:08Ya, saya kira makanya bahwa,
07:10dalam kasus mengadili polisi yang terlibat,
07:13harus ada tim independen.
07:14Saya kira memang kita butuh tim independen.
07:16Dulu waktu kekerasan-kerasan 98, ada tim independen.
07:19Oke, Prof. Sulis.
07:21Gimana opini dari Prof. Sulis,
07:22kalau memang desakan dari UN, PBB itu ya harus dibentuk tim menyeluruh.
07:27Sehingga tidak parsial untuk melihat apa sebenarnya yang terjadi sebetulnya.
07:30Ya, terima kasih Mas.
07:32Jadi kan harus dipisahkan secara jelas ya,
07:35tadi Mas Afiq sudah menyampaikan.
07:38Mana kelompok-kelompok yang memang genuine, organik,
07:41datang dari suara hati, secara kolektif, bersama-sama.
07:45Saya melihat sendiri para mahasiswa berjaket kuning tuh,
07:49seribu orang bahkan dilepas oleh rektornya ya.
07:54Mereka itu anak-anak yang masih sangat muda,
07:59semester 3, semester 4 ada di kelas saya.
08:02Jadi saya tahu betul mereka sungguh-sungguh memang gerakan organik yang murni.
08:07Dan mereka menerapkan nilai-nilai, prinsip-prinsip mencintai kebenaran.
08:15Seperti yang Bung Harta sampaikan,
08:17harus berani mengatakan apa yang tidak benar untuk sesuatu yang salah.
08:21Kemudian ada kelompok-kelompok yang memang punya kepentingan-kepentingan politik.
08:26Kita kan belajar dari 98 ya Mas Afiq ya,
08:30bagaimana kelompok-kelompok itu memang by design,
08:33lalu melakukan tindakan-tindakannya secara struktur, masif, dan memprovokasi.
08:40Saya melihat tidak mungkinlah itu dilakukan oleh mahasiswa saya,
08:45anak-anak yang semester 3, semester 4.
08:46Ya tapi kan ada memang orang yang nunggang kan sebetulnya.
08:48Ya, jadi itu harus jelas sekali dibedakan.
08:51Jangan semuanya, atau mana yang diberi label perusuh, makar, itu yang mana gitu.
08:58Nah, saya setuju sekali bahwa ketika kita seperti chaos seperti ini,
09:04maka lalu ada UN yang meminta untuk menginvestigasi,
09:09karena sudah ada korban-korban nyawa sih.
09:11Dan itu yang kita lihat yang sudah tidak ada,
09:16tapi berapa banyak lagi mereka yang luka-luka,
09:19dan kemudian hari ini juga kita mengetahui ada ratusan orang yang masih ditangkap.
09:26Nah, itu juga harus jelas ditangkapnya kenapa gitu kan.
09:30Tidak bisa apa dengan tuduhan-tuduhan yang tidak berdasar gitu ya.
09:34Harus betul-betul jelas karena di dalam prinsip hukum pidana,
09:38tidak boleh salah dalam menghukum orang.
09:40Karena kalau sudah salah itu sukar untuk dipulihkan.
09:44Oke, baik. Mas Ukidi, kalau perkembangan terakhir kan sekarang serial penangkapan mulai terjadi ya?
09:48Direktur Lokataru dan lain sebagainya ditangkap lah, menghasut atau ini apa.
09:53Itu menyelesaikan problem dengan pendekatan koership seperti itu atau bagaimana Anda lihat?
09:59Saya kira justru menambah problem itu sendiri.
10:01Menambah problem?
10:02Iya. Itu adalah sikap yang tidak bijak dalam konteks menegakkan situasi keamanan nasional itu sendiri.
10:11Saya kira sikap yang bijak adalah justru mengajak masyarakat untuk berdialog dan lebih mengedapkan pendekatan yang lebih humanistik itu sendiri.
10:24Karena justru itu yang diludukan masyarakat.
10:27Yaitu adalah bagaimana mengajak masyarakat untuk berdialog, bertukar pikiran tentang kondisi bangsa ini.
10:35Karena apa? Karena pada akhirnya kita menghadapi satu situasi di mana hampir semua kehidupan penelenggara negara itu rusak.
10:47Hukum dijadikan alat kekuasaan.
10:51Polisi bukan lagi pengayom rakyat.
10:53Wakil rakyat justru menghina rakyatnya.
11:00Kepolisian tidak lagi menjadi pengayom dan pengaman kehidupan kita secara luas.
11:11Dan saya kira sikap yang terbaik adalah ini saatnya berbenah diri.
11:16Berbenah diri.
11:17Berbenah diri secara luas.
11:18Lakukan reformasi total di semua penelenggara negara.
11:22Dan hanya dengan cara itu kita bisa pulih sebagai bangsa.
11:27Karena apa?
11:28Karena kita belajar dari sejarah betapa masalah bangsa ini begitu kompleks dan tidak pernah diselesaikan dengan baik.
11:37Oke.
11:38Masalahnya begitu kompleks.
11:40Sejumlah korban telah meninggal dunia 10 orang.
11:43Lalu pemerintah harus berbuat apa?
11:45DPR harus berbuat apa?
11:47Kita jawab setelah jeda berikut ini.
11:48Terima kasih.
Komentar

Dianjurkan