00:00Untuk mengulas tentang gaya komunikasi pejabat yang diminta berbenah dan lebih peka pada rakyat,
00:05kita sudah terhubung dengan guru besar komunikasi politik UIN Cekarta, Prof. Gun Gun Herianto.
00:10Selamat malam, Prof.
00:12Selamat malam, Mbak, my sister.
00:14Ya, Prof. Satu persatu alit politik dan pejabat negara bersuara,
00:18tapi komunikasi pejabat yang nirempati terlanjur memicu kekaduhan.
00:23Bisa meredam situasi ke depan?
00:25Ya, akan bergantung pada pola komunikasi yang dibangun.
00:29Ya, ini pelajaran sangat baik sekali dari mereka yang kemudian bermasalah
00:34supaya tidak terulang di masa mendatang bahwa sensitivitas retoris ya dari pejabat politik
00:40baik di legislatif maupun di eksekutif itu sangat perlu dan signifikan perannya.
00:46Ini kan ada basis persoalan mendasar, my sister, yaitu soal ketidakadilan, ketidakpastian, ketidaknyamanan
00:53yang berlangsung di tengah masyarakat dan itu membentuk gap komunikasi.
00:58Dan itu kemudian seperti disiram ya oleh bensin, api yang membara itu dengan pernyataan yang menurut saya tidak sensitif
01:08sekaligus kehilangan logiknya.
01:11Ya, kan ada yang bilang misalnya dengan diksi yang tidak pantas disampaikan di muka publik
01:17sekaligus narasi tentang kebijakan yang tidak nyambung.
01:20Misalnya soal kenaikan tujuan.
01:23Harusnya kan jelas ya dari aspek legalnya sampai kemudian pemahamannya.
01:29Dan itu kemudian tidak bisa disampaikan oleh anggota DPR yang kemudian menyampaikan itu ke halayak luas
01:35sehingga kemudian memantik kemarahan.
01:37Dan ini sebenarnya hanya trigger ya dari sekian peristiwa yang sebenarnya sudah berlangsung lama
01:44yaitu soal ketidakadilan, ketidaknyamanan, ketidakpastian yang seharusnya dipasilitasi oleh pola komunikasi
01:51yang lebih produktif dan sensitif.
01:53Ada akumulasi kemarahan lalu kemudian dipancing lagi sama legislatifnya
01:58sehingga membuat rakyat marah, merasa disakiti gitu ya Prof?
02:02Iya sebenarnya kalau mau jujur bukan hanya dari legislatif
02:05tapi juga beberapa pejabat ya eksekutif ya menteri
02:09ya kemudian juga ya kepala PCO dan lain-lain
02:14ya ini kan sebenarnya kumulatif
02:16jadi waktunya untuk berbenah soal bagaimana memastikan komunikasi publik
02:22dari pemerintah dan legislatif itu bukan di peran pinggiran
02:25tapi harusnya di arus utama
02:27karena hampir seluruh negara demokrasi tidak akan sukses
02:31kalau kebijakan tidak difasilitasi oleh komunikasi kebijakan yang baik.
02:36Ya seperti yang Anda bilang Prof, komunikasi ini kan adalah persoalan yang mendasar
02:40tapi kalau yang seperti yang Anda bilang juga tadi
02:42komunikasi ELISA merespons persoalan terus picu kontroversi
02:45legislatif baikpun eksekutif
02:47mereka ini kan corongnya untuk sosialisasi kebijakan
02:51supaya sampai ke publik
02:52jadi apa yang bisa kita tangkap di sini?
02:54kenapa gaya komunikasinya justru bikin gaduh Prof?
02:57Menurut saya ini karena ketiadaan ya basis knowledge ya
03:03terkait dengan protokol komunikasi di level tinggi
03:07ya dalam konteks ini adalah legislatif dan eksekutif
03:10itu kan sudah struktur politik
03:11sementara dalam konteks bingkai negara demokrasi
03:16itu kan ada lima elemen infrastruktur lain
03:19yang harus diajak berkomunikasi bersama-sama
03:21yaitu partai politik, kelompok kepentingan, kelompok penekan, media
03:25dan tokoh-tokoh di tengah masyarakat atau figur ya
03:28dan ini kemudian keterbukaan dalam membuka ruang-ruang dialog
03:32formal maupun informal itu justru diperlukan
03:36kalau semata-mata misalnya kebijakan
03:38dieksekusi kemudian disosialisasikan lewat media
03:42tanpa kemudian ada komunikasi deliberatif ya
03:46komunikasi yang kemudian beri ruang
03:48partisipasi untuk kemudian sama-sama menjadikan itu
03:51kepemilikan bersama atau punya sense of belonging
03:55terhadap isu itu
03:56tentu berbeda, ada trust di situ
03:58nah ini persoalannya nggak ada trust
04:00tambah menurut saya ada persoalan yang serius
04:04yaitu soal arogansi
04:06ini yang disebut bukan mata-mata sensitivitas retoris
04:09tapi ada noble self merasa diri paling hebat
04:12dan ini kemudian bagi aspek komunikator
04:15ini sangat menjadi persoalan ketika
04:18ada situasi tidak nyaman
04:20tidak pasti
04:21tambah ada noble self dari aktor yang melakukan proses komunikasi
04:26dan akhirnya kemudian terjadilah
04:28apa namanya peristiwa-peristiwa yang tidak kita inginkan
04:31karena apa
04:32logika publik ya
04:34kadang-kadang kan beragam ya
04:35ekspresinya juga beragam
04:37sehingga kemudian ada kemarahan yang dipasilitasi
04:40apalagi kemudian muncul banyak free rider di situ
04:42artinya komunikasi yang buruk didasari dari ketidakpekaan melihat masalah
04:48itu poinnya pro?
04:50persis ya itu yang masih disampaikan
04:53kepekaan itu sangat penting
04:55karena tanpa kepekaan kita tidak akan pernah bisa melihat persoalan utamanya
05:00akibat apa
05:01selalu perspektifnya dibangun atas perspektif dirinya
05:05iya padahal kepekaan itu modal menjadi pemimpin
05:09menjadi orang yang mewakili seorang rakyat gitu kan prof?
05:14iya
05:15dan disitu kan letak substansi wakil rakyat
05:19letak substansi mandat rakyat juga bagi eksekutif
05:22ya mereka dipilih dari pemilu
05:25yang salah satu prinsip kontestasi elektoral itu adalah representativeness
05:29oleh karena itu maka ketika misalnya mereka mewakili rakyat di DPR
05:35dan mengemban mandat kuasa rakyat
05:39di eksekutif
05:40itu maka kebutuhannya adalah mendengar
05:43ragam aspirasi yang muncul di tengah masyarakat
05:46sekaligus ya bukan hanya mendengar
05:48tapi juga mengartikulasikannya
05:50mengeksekusi diragam kebijakan
05:52yang tidak hanya terjebak pada formalisme dramaturgi seremonial
05:56ya dramaturgi seremonial ya cukup dengan retorika
06:00cukup dengan drama-drama joget begitu ya
06:03sementara substansi kebijakan yang kemudian prorak
06:07itu harus dibangun dari nalar
06:10yang kemudian berbasis pada bukti
06:12dan evident base itu menjadi
06:15kan menjadi kertas kebijakan yang lazim di negara-negara maju
06:18yang kemudian demokrasinya menguat begitu
06:20iya
06:21lalu kalau kejadiannya sudah seperti ini
06:24apa yang harus dibenahi para pejabat
06:27untuk mengambilkan kepercayaan publik
06:29Prof
06:30apakah dengan tadi menonaktifkan
06:32anggota perlemen sudah cukup menenangkan publik
06:36ya menurut saya bertiga yang harus dilakukan
06:39yang pertama itu mereka yang kemudian merasa
06:42bertanggung jawab atas peristiwa
06:44kumulatif kemarin
06:45baiknya memang mundur
06:46kalau di DPR di PAW begitu ya
06:48kalau di eksekutif mundur digantikan oleh pejabat lainnya
06:52yang ada hope yang masih ada hope
06:54kemudian yang kedua
06:55ada tindak lanjut dari pernyataan presiden ya
06:58contohnya misalnya bagaimana
07:00moratorium kunker
07:02termasuk juga
07:03menindaklanjuti kasus
07:05Avan Gurniawan
07:06itu harus clear, konkret
07:08dan bukan hanya pada Avan
07:09tapi pada seluruh rangkaian peristiwa kekerasan
07:12yang terjadi di situ
07:13dan jangan seperti kemarin ya Prof
07:15karena kan semua menghilang
07:16ketika rakyatnya datang ke gedung DPR
07:18dan terakhir menurut saya
07:21penting juga untuk mengingatkan
07:23ini non-violent movement
07:25jadi
07:25apa namigra kan itu harus
07:28anti kekerasan
07:29jadi negara berkeadaban itu
07:31basisnya adalah
07:32tanpa kekerasan
07:34jadi kalau kemudian sekarang
07:35ada kemudian resonansi
07:38soal kekerasan
07:39baiknya memang dihindari
07:40karena apa
07:41ya jelas kan pesannya sudah sampai
07:43bahwa ini adalah ketidakadilan
07:45yang harus ditindaklanjuti
07:46bukan hanya oleh legislatif
07:47tapi juga oleh eksekutif
07:49baik
07:51semua harus dengarkan rakyat
07:52karena rakyat adalah tuannya
07:54yang gaji rakyat
07:55ya kan Prof
07:55selamat malam Prof
07:56terima kasih
07:56tergabung di kompos malam
07:57selamat menikmati
Komentar