Lewati ke pemutarLewatkan ke konten utama


JAKARTA, KOMPAS.TV - Gaya komunikasi DPR yang dinilai arogan memantik reaksi keras dari publik. Gelombang unjuk rasa pecah hingga menimbulkan korban dari rakyat.

Anggota dewan pun diminta berbenah jika ingin kembali mendapatkan kepercayaan masyarakat.

Untuk mengulas gaya komunikasi pejabat yang diminta berbenah dan lebih peka terhadap rakyat, simak dialognya bersama Guru Besar Komunikasi Politik UIN Jakarta, Prof. Gun Gun Heryanto.

#demo #dpr #komunikasi

Baca Juga Daftar 10 SMA Unggulan Jakarta paling Berprestasi dengan Banyak Medali Versi SIMT 2025 di https://www.kompas.tv/info-publik/615084/daftar-10-sma-unggulan-jakarta-paling-berprestasi-dengan-banyak-medali-versi-simt-2025


Artikel ini bisa dilihat di : https://www.kompas.tv/nasional/615092/full-analisis-pakar-gelombang-demo-meluas-dpr-diminta-berbenah-komunikasi-kompas-malam
Transkrip
00:00Untuk mengulas tentang gaya komunikasi pejabat yang diminta berbenah dan lebih peka pada rakyat,
00:05kita sudah terhubung dengan guru besar komunikasi politik UIN Cekarta, Prof. Gun Gun Herianto.
00:10Selamat malam, Prof.
00:12Selamat malam, Mbak, my sister.
00:14Ya, Prof. Satu persatu alit politik dan pejabat negara bersuara,
00:18tapi komunikasi pejabat yang nirempati terlanjur memicu kekaduhan.
00:23Bisa meredam situasi ke depan?
00:25Ya, akan bergantung pada pola komunikasi yang dibangun.
00:29Ya, ini pelajaran sangat baik sekali dari mereka yang kemudian bermasalah
00:34supaya tidak terulang di masa mendatang bahwa sensitivitas retoris ya dari pejabat politik
00:40baik di legislatif maupun di eksekutif itu sangat perlu dan signifikan perannya.
00:46Ini kan ada basis persoalan mendasar, my sister, yaitu soal ketidakadilan, ketidakpastian, ketidaknyamanan
00:53yang berlangsung di tengah masyarakat dan itu membentuk gap komunikasi.
00:58Dan itu kemudian seperti disiram ya oleh bensin, api yang membara itu dengan pernyataan yang menurut saya tidak sensitif
01:08sekaligus kehilangan logiknya.
01:11Ya, kan ada yang bilang misalnya dengan diksi yang tidak pantas disampaikan di muka publik
01:17sekaligus narasi tentang kebijakan yang tidak nyambung.
01:20Misalnya soal kenaikan tujuan.
01:23Harusnya kan jelas ya dari aspek legalnya sampai kemudian pemahamannya.
01:29Dan itu kemudian tidak bisa disampaikan oleh anggota DPR yang kemudian menyampaikan itu ke halayak luas
01:35sehingga kemudian memantik kemarahan.
01:37Dan ini sebenarnya hanya trigger ya dari sekian peristiwa yang sebenarnya sudah berlangsung lama
01:44yaitu soal ketidakadilan, ketidaknyamanan, ketidakpastian yang seharusnya dipasilitasi oleh pola komunikasi
01:51yang lebih produktif dan sensitif.
01:53Ada akumulasi kemarahan lalu kemudian dipancing lagi sama legislatifnya
01:58sehingga membuat rakyat marah, merasa disakiti gitu ya Prof?
02:02Iya sebenarnya kalau mau jujur bukan hanya dari legislatif
02:05tapi juga beberapa pejabat ya eksekutif ya menteri
02:09ya kemudian juga ya kepala PCO dan lain-lain
02:14ya ini kan sebenarnya kumulatif
02:16jadi waktunya untuk berbenah soal bagaimana memastikan komunikasi publik
02:22dari pemerintah dan legislatif itu bukan di peran pinggiran
02:25tapi harusnya di arus utama
02:27karena hampir seluruh negara demokrasi tidak akan sukses
02:31kalau kebijakan tidak difasilitasi oleh komunikasi kebijakan yang baik.
02:36Ya seperti yang Anda bilang Prof, komunikasi ini kan adalah persoalan yang mendasar
02:40tapi kalau yang seperti yang Anda bilang juga tadi
02:42komunikasi ELISA merespons persoalan terus picu kontroversi
02:45legislatif baikpun eksekutif
02:47mereka ini kan corongnya untuk sosialisasi kebijakan
02:51supaya sampai ke publik
02:52jadi apa yang bisa kita tangkap di sini?
02:54kenapa gaya komunikasinya justru bikin gaduh Prof?
02:57Menurut saya ini karena ketiadaan ya basis knowledge ya
03:03terkait dengan protokol komunikasi di level tinggi
03:07ya dalam konteks ini adalah legislatif dan eksekutif
03:10itu kan sudah struktur politik
03:11sementara dalam konteks bingkai negara demokrasi
03:16itu kan ada lima elemen infrastruktur lain
03:19yang harus diajak berkomunikasi bersama-sama
03:21yaitu partai politik, kelompok kepentingan, kelompok penekan, media
03:25dan tokoh-tokoh di tengah masyarakat atau figur ya
03:28dan ini kemudian keterbukaan dalam membuka ruang-ruang dialog
03:32formal maupun informal itu justru diperlukan
03:36kalau semata-mata misalnya kebijakan
03:38dieksekusi kemudian disosialisasikan lewat media
03:42tanpa kemudian ada komunikasi deliberatif ya
03:46komunikasi yang kemudian beri ruang
03:48partisipasi untuk kemudian sama-sama menjadikan itu
03:51kepemilikan bersama atau punya sense of belonging
03:55terhadap isu itu
03:56tentu berbeda, ada trust di situ
03:58nah ini persoalannya nggak ada trust
04:00tambah menurut saya ada persoalan yang serius
04:04yaitu soal arogansi
04:06ini yang disebut bukan mata-mata sensitivitas retoris
04:09tapi ada noble self merasa diri paling hebat
04:12dan ini kemudian bagi aspek komunikator
04:15ini sangat menjadi persoalan ketika
04:18ada situasi tidak nyaman
04:20tidak pasti
04:21tambah ada noble self dari aktor yang melakukan proses komunikasi
04:26dan akhirnya kemudian terjadilah
04:28apa namanya peristiwa-peristiwa yang tidak kita inginkan
04:31karena apa
04:32logika publik ya
04:34kadang-kadang kan beragam ya
04:35ekspresinya juga beragam
04:37sehingga kemudian ada kemarahan yang dipasilitasi
04:40apalagi kemudian muncul banyak free rider di situ
04:42artinya komunikasi yang buruk didasari dari ketidakpekaan melihat masalah
04:48itu poinnya pro?
04:50persis ya itu yang masih disampaikan
04:53kepekaan itu sangat penting
04:55karena tanpa kepekaan kita tidak akan pernah bisa melihat persoalan utamanya
05:00akibat apa
05:01selalu perspektifnya dibangun atas perspektif dirinya
05:05iya padahal kepekaan itu modal menjadi pemimpin
05:09menjadi orang yang mewakili seorang rakyat gitu kan prof?
05:14iya
05:15dan disitu kan letak substansi wakil rakyat
05:19letak substansi mandat rakyat juga bagi eksekutif
05:22ya mereka dipilih dari pemilu
05:25yang salah satu prinsip kontestasi elektoral itu adalah representativeness
05:29oleh karena itu maka ketika misalnya mereka mewakili rakyat di DPR
05:35dan mengemban mandat kuasa rakyat
05:39di eksekutif
05:40itu maka kebutuhannya adalah mendengar
05:43ragam aspirasi yang muncul di tengah masyarakat
05:46sekaligus ya bukan hanya mendengar
05:48tapi juga mengartikulasikannya
05:50mengeksekusi diragam kebijakan
05:52yang tidak hanya terjebak pada formalisme dramaturgi seremonial
05:56ya dramaturgi seremonial ya cukup dengan retorika
06:00cukup dengan drama-drama joget begitu ya
06:03sementara substansi kebijakan yang kemudian prorak
06:07itu harus dibangun dari nalar
06:10yang kemudian berbasis pada bukti
06:12dan evident base itu menjadi
06:15kan menjadi kertas kebijakan yang lazim di negara-negara maju
06:18yang kemudian demokrasinya menguat begitu
06:20iya
06:21lalu kalau kejadiannya sudah seperti ini
06:24apa yang harus dibenahi para pejabat
06:27untuk mengambilkan kepercayaan publik
06:29Prof
06:30apakah dengan tadi menonaktifkan
06:32anggota perlemen sudah cukup menenangkan publik
06:36ya menurut saya bertiga yang harus dilakukan
06:39yang pertama itu mereka yang kemudian merasa
06:42bertanggung jawab atas peristiwa
06:44kumulatif kemarin
06:45baiknya memang mundur
06:46kalau di DPR di PAW begitu ya
06:48kalau di eksekutif mundur digantikan oleh pejabat lainnya
06:52yang ada hope yang masih ada hope
06:54kemudian yang kedua
06:55ada tindak lanjut dari pernyataan presiden ya
06:58contohnya misalnya bagaimana
07:00moratorium kunker
07:02termasuk juga
07:03menindaklanjuti kasus
07:05Avan Gurniawan
07:06itu harus clear, konkret
07:08dan bukan hanya pada Avan
07:09tapi pada seluruh rangkaian peristiwa kekerasan
07:12yang terjadi di situ
07:13dan jangan seperti kemarin ya Prof
07:15karena kan semua menghilang
07:16ketika rakyatnya datang ke gedung DPR
07:18dan terakhir menurut saya
07:21penting juga untuk mengingatkan
07:23ini non-violent movement
07:25jadi
07:25apa namigra kan itu harus
07:28anti kekerasan
07:29jadi negara berkeadaban itu
07:31basisnya adalah
07:32tanpa kekerasan
07:34jadi kalau kemudian sekarang
07:35ada kemudian resonansi
07:38soal kekerasan
07:39baiknya memang dihindari
07:40karena apa
07:41ya jelas kan pesannya sudah sampai
07:43bahwa ini adalah ketidakadilan
07:45yang harus ditindaklanjuti
07:46bukan hanya oleh legislatif
07:47tapi juga oleh eksekutif
07:49baik
07:51semua harus dengarkan rakyat
07:52karena rakyat adalah tuannya
07:54yang gaji rakyat
07:55ya kan Prof
07:55selamat malam Prof
07:56terima kasih
07:56tergabung di kompos malam
07:57selamat menikmati
Komentar

Dianjurkan