00:00Selamat malam saudara, Anda menyaksikan program ROSI bersama saya Friska Clarissa.
00:07Setelah sempat mengatakan akan kembali menjadi rakyat biasa setelah purna tugas sebagai presiden RI,
00:13Jokowi kini siap bekerja keras membesarkan PSI, partai yang dipimpin anaknya sendiri.
00:20Malam ini kita akan bahas dan saya sudah mengundang Arya Fernandes,
00:23Kepala Departemen Politik dan Perubahan Sosial, Center for Strategic and International Studies, CSIS.
00:30Selamat malam Mas Arya.
00:31Selamat malam Friska, terima kasih.
00:33Terima kasih sudah hadir di ROSI.
00:35Kita lihat tadi di tayangan Pak Jokowi hadir di Kongres PSI bahkan bilang akan bekerja keras untuk PSI.
00:42Bisa enggak sih kalau dari CSIS membaca setidaknya, apakah kemunculan Pak Jokowi akan terkonversi menjadi angka untuk PSI?
00:51Pertama saya kira Pak Jokowi memang akan full bekerja untuk PSI.
00:57Dan dia akan sungguh-sungguh untuk melakukan itu.
01:022024 kemarin banyak yang mengatakan bahwa kenapa Jokowi ketika masih menjadi presiden,
01:10tapi peningkatan suara PSI hanya sedikit.
01:15Meningkat dari 1,8 menjadi 2,89.
01:19Peningkatannya sedikit sehingga dalam dua kali pemilu, PSI tidak berhasil menembus Senayan.
01:26Nah sekarang bisa jadi ketika 2024 Pak Jokowi saya kira punya prioritas yang berbeda.
01:35Prioritasnya apa?
01:37Satu tentu memenangkan pasangan Prabowo Gibran.
01:41Yang kedua tentu menggolkan Gibran untuk menjadi wakil presiden.
01:46Nah prioritas itulah yang membuat menurut saya Pak Jokowi belum memberikan banyak usaha untuk membesarkan PSI.
01:58Sekarang Jokowi saya kira tidak punya tanda petik gawaian politik lagi.
02:05Tentu dan berharap PSI tentu bisa menjadi kendaraan tidak hanya bagi Pak Jokowi,
02:12tetapi juga bagi keluarga solo.
02:14Jadi tidak pensiun tapi full timenya malah kerja di PSI?
02:17Full timenya malah jadi di PSI.
02:19Dan kalau kita lihat pengaruh-pengaruh baik Perdana Menteri maupun Presiden di beberapa negara,
02:26itu sebenarnya tidak otomatis akan hilang.
02:30Kita ingat misalnya di Malaysia itu ada Perdana Menteri Mahathir Muhammad
02:34yang memimpin Malaysia sebagai Perdana Menteri tahun 1981 sampai 2003.
02:4122 tahun memimpin Malaysia.
02:44Kemudian pensiun dari politik.
02:462018 membangun koalisi dengan Pak Anwar Ibrahim.
02:51Dan kemudian mengalahkan barisan nasional sejak kemerdekaan Malaysia.
02:56Dan beliau menjadi Perdana Menteri di usia,
02:59kembali menjadi Perdana Menteri di usia 92 tahun.
03:01Apa yang Mas Arya ingin katakan, Pak Jokowi mungkin maju lagi?
03:05Bukan, yang ingin saya katakan adalah bahwa pengaruhnya belum hilang.
03:09Masih ada pengaruh Pak Jokowi?
03:10Pengaruhnya belum hilang dan masih ada.
03:12Mas Arya, tapi kan waktu kemarin perbedaannya adalah Pak Jokowi masih menjabat.
03:17Artinya bisa melakukan apa saja meskipun prioritasnya bukan ke PSI.
03:21Tapi waktu itu memenangkan Prabowo Gibran agar Mas Gibran jadi Wakil Presiden.
03:25Tapi kan pengaruh besarnya itu ada pada saat Pak Jokowi menjabat sebagai RI1.
03:30Nah kalau sekarang seberapa besar apakah tidak kehilangan golden moment itu kalau sekarang?
03:35Ya memang banyak yang melihat seperti itu.
03:39Bahwa ketika seseorang tidak lagi menjadi presiden,
03:43dia akan kehilangan powernya, dia akan kehilangan pengaruhnya.
03:48Dalam beberapa kasus memang ada,
03:50tapi pada kasus-kasus yang lain power dan pengaruh itu tidak serta-merta akan hilang.
03:56Kasus mahatir seperti itu, dia sudah pensiun lama kemudian kembali dalam politik Malaysia dan menjadi Perdana Menteri.
04:04Di Brazil juga ada seperti itu, ada Presiden Rula da Silva yang menjadi Presiden 2003 sampai 2010.
04:142018 dianulir pencalonannya.
04:172022 dia maju lagi melawan Bolsonaro yang menjadi kompetitornya dan menang.
04:22Apa yang ingin saya katakan bahwa pengaruh Pak Jokowi masih ada dan belum hilang,
04:27tapi pertanyaannya adalah kalaupun kita percaya pengaruh Pak Jokowi masih ada,
04:33itu seberapa besar pengaruhnya?
04:34Nah seberapa besarnya itu bagaimana membacanya?
04:37Di konversi jadi angka bisa nggak?
04:39Kita sudah melaksanakan pemilu sejak tahun 1999.
04:44Pemilu 2024 itu adalah pemilu ke-6 setelah reformasi.
04:49Ada partai yang jatuh bangun, ada partai yang suaranya stabil,
04:54tapi kalau kita lihat soal indeks volatilitas suara partai, naik turun suara partai,
05:00sebenarnya dalam tiga kali pemilu belakangan itu sudah suara partai itu sudah stabil.
05:07Kalau ada perubahan baik itu penambahan suara maupun penurunan suara,
05:12itu prediksi saya tidak akan melewati angka 3%.
05:16Di 2024 kemarin ketika Golkar mengalami kenaikan,
05:22dia naik tidak lebih dari 3%.
05:23Ketika PDIP mengalami drop, dia juga tidak lebih dari 3%.
05:28Artinya apa?
05:29Artinya kalaupun effort Pak Jokowi untuk membangun PSI itu dilakukan,
05:35itu perkiraan saya itu hanya akan melewati di sekitar 3%.
05:40Artinya kalau sekarang PSI 2,8 atau 3% itu maksimal menurut saya kemampuan yang bisa dilakukan itu hanya sekitar 5%.
05:48Kenapa bisa?
05:49Karena satu sudah terbentuk stabilitas suara partai-partai.
05:54Jadi partai mesinnya sudah solid,
05:58kader-kadernya mungkin berpengalaman,
06:01sudah berpengalaman karena ada yang incumbent,
06:04ada yang kepala daerah,
06:06ada yang baik gubernur maupun bupati wali kota,
06:09strukturnya sudah mapan gitu ya.
06:12Dan sudah ada kaderisasi yang jelas,
06:14ada kompetisi internal yang terjaga dengan baik.
06:17Nah itu membuat pertama akan menyulitkan bagi partai-partai baru
06:20untuk masuk dalam persaingan politik kita yang ketat itu.
06:25Dan juga partai-partai yang sudah ikut pemilu tapi belum lolos masuk Senayan.
06:29Oke, tapi Pak Jokowi sekarang itu menghadapi tantangan yang berbeda dibandingkan waktu jadi presiden.
06:35Sekarang Mas, ada isu ijasa diserang bertubi-tubi,
06:38lalu juga usulan pemakzulan terhadap Mas Gibran.
06:41Masih bisa berpengaruh sepengaruh itu?
06:44Ya, ini akan tergantung seberapa berhasil
06:49baik Pak Jokowi maupun Mas Gibran
06:52untuk melewati ujian-ujian politik ini.
06:56Dan saya kira kalau kita lihat arahnya,
07:01pemakzulan kayaknya sudah stop.
07:05Ijazah masih berlangsung,
07:08tapi kita akan tunggu bagaimana keputusan pengadilan terkait itu.
07:13Nah kalau ini berhasil dilalui dengan baik,
07:15saya kira keluarga ini akan survive.
07:19Tapi harus PSI jadi membela Pak Jokowi dalam isu-isu itu juga atau enggak?
07:24Kok kayak kita saat ini tidak melihat PSI pasang badan untuk isu-isu tersebut?
07:28Ya, PSI tentu sadar,
07:32tentu akan banyak risiko-risiko politik yang akan dihadapi
07:36ketika misalnya ikut pada isu-isu yang tengah berkembang.
07:40Dan PSI saya kira menghadapi fase-fase yang berubah.
07:46Belakangan ada tren yang kuat yang saya lihat,
07:50PSI itu semakin pragmatis,
07:53semakin realis, realistis, dan juga semakin berpikir strategis.
07:58Artinya apa?
07:59Artinya PSI melakukan sejumlah adaptasi-adaptasi baru
08:03yang fokus pada hasil.
08:06Hasilnya apa?
08:07Loleh Senayan.
08:08Makanya kalau kita lihat fase-fase perubahan PSI itu,
08:11di fase pertama itu apa yang saya sebut dengan fase idealisme.
08:15Tahun 2004 sampai 2009, 2019.
08:19Di fase ini PSI meletakkan basis-basis awal partai
08:23dan melakukan perang terhadap korupsi,
08:28perang terhadap intoleransi,
08:31perang terhadap dinasti politik.
08:33Tetapi apa yang terjadi di fase kedua,
08:362019 sampai 2024,
08:39itu PSI mulai beradaptasi,
08:41mulai pragmatis,
08:43dan mulai mengoreksi apa yang terjadi pada fase awal.
08:48Kaisang menjadi ketua umum,
08:50padahal sebelumnya ada perang terhadap dinasti.
08:54Nah, juga mulai terbuka sebagai partai Jokowi ketika itu.
08:59Nah, belakangan terakhir tentu sekarang adalah fase survival.
09:03Sejauh mana PSI bisa mengambil manfaat strategis dari memilih Kaisang sebagai ketua umum
09:14dan mengasosiasikan diri sebagai partai super terbuka.
09:19Apakah benar-benar terbuka?
09:20Nah, apakah ia yang dilihat atau sen kiri belok kanan?
09:24Nah, gini.
09:26Kalau kita lihat ya,
09:29memang di fase ketiga ini,
09:31fase survival yang saya sebut,
09:33itu memang ada perubahan-perubahan.
09:37Pertama, penerapan e-voting.
09:38Di mana setiap kader atau anggota punya kesempatan untuk memilih ketua umum secara langsung melalui e-voting.
09:48Tapi, kompetisi itu, Friska, tidak terjadi di tingkat daerah.
09:55Pimpinan partai di tingkat provinsi, pimpinan partai di tempat daerah,
09:59itu ditunjuk secara top down dari pusat.
10:03Paling tidak sampai sebelum kongres.
10:05Kecuali ada perubahan ketika kongres.
10:08Artinya, kalau PSI konsisten untuk membentuk kompetisi internal yang sehat,
10:13harusnya pimpinan-pimpinan partai di daerah juga harus dilakukan pemilihan secara terbuka.
10:21E-voting juga tidak ditunjuk oleh pusat.
10:24Nah, yang kedua, saya kira tantangan internal lain adalah,
10:29bagaimana PSI harus membenahi secara kuat struktur pelembagaan partai.
10:36Ada beberapa hal.
10:37Pertama, kaderisasi.
10:39Kaderisasinya sejauh ini tidak berjalan efektif.
10:43Elite-elitnya yang maju di legislatif,
10:47itu sebagian besar belum mempunyai pengalaman politik
10:51yang bisa bertarung kompetitif dengan caleg-caleg lain.
10:56Kita lihat secara geografi juga tidak ada pertumbuhan.
10:59Basis suara.
11:01Dalam dua kali pemilu, itu sumbangan suara hanya berada di beberapa,
11:07di kota-kota besar saja.
11:07Jadi sistem sama basis suaranya masih belum kuat?
11:09Masih belum kuat.
11:10Nah, tetapi mungkin saya menduga setelah Pak Jokowi nanti akan bekerja full di PSI,
11:17mungkin akan banyak sekali perombakan-perombakan besar yang akan dilakukan.
11:23Apakah artinya Pak Jokowi sekarang kalau sistemnya tadi masih dikritisi,
11:27juga kaderisasinya belum jalan,
11:29Pak Jokowi ini masih jadi gading gajah untuk PSI.
11:33The most valuable person untuk PSI.
11:36Iya, masih.
11:37Tetapi makanya Pak Jokowi saya kira menyadari itu.
11:40Dan dia akan lakukan perombakan besar di PSI.
11:45Perombakan-perombakan besar itu misalnya nanti kalau misalnya putusan makamah konstitusi
11:50terkait pemisahan pemilu nasional dan pemilu daerah diadopsi oleh pembuat kebijakan.
11:56Dan sekarang ada dua opportunity ya.
12:00Kesempatan yang pertama, makamah konstitusi itu menghilangkan syarat pendaftaran calon presiden,
12:08ambang batas pencalonan presiden menjadi 0 persen.
12:12Sehingga itu memberikan peluang yang besar pada Gibran untuk dicalonkan oleh PSI.
12:18Sebagai presiden?
12:20Sebagai presiden misalnya.
12:22Di 2000?
12:23Di 2029.
12:25Kalau itu berani dilakukan.
12:28Yang kesempatan yang kedua adalah terkait pilkada.
12:33Pilkada itu kalau diadopsi oleh DPR nanti kan ada pilkada di 2031.
12:39Dan syarat pilkadanya juga sudah diturunkan.
12:42Jadi 6,5 sampai 10 persen.
12:45Ini celah buat PSI masuk pelan-pelan?
12:46Ini celah-celah bagi PSI untuk bisa menarik politisi-politisi lain untuk bisa dicalonkan.
12:55Tapi tentu syaratnya at least PSI di pemilu 2029 harus dapat minimal 6 persen di daerah.
13:03Oke.
13:04Untuk bisa mencalonkan itu atau paling enggak berkoalisi.
13:07Nah kalau PR Pak Jokowi masih berat untuk mengangkat PSI sekarang,
13:11bagaimana agar gajah ini yang ada di lambang PSI betul-betul bisa jadi gajah
13:15dalam artian partai besar PSI apa yang harus dilakukan Pak Jokowi?
13:19Tapi nanti jawabnya usah jeda.
13:20Karena siap bekerja, keras dan full mendukung Partai Solidaritas Indonesia,
13:24apa juga sebenarnya kepentingan Jokowi dibalik dukungan kepada PSI?
Komentar