Lewati ke pemutarLewatkan ke konten utama
JAKARTA, KOMPAS.TV - Kepala Departemen Politik dan Perubahan Sosial, Center for Strategic and International Studies (CSIS) Arya Fernandes mengatakan saat ini prioritas Jokowi telah berbeda.

Menurut Arya, sebelumnya di Pilpres 2024 prioritas Jokowi tentu memenangkan pasangan Prabowo-Gibran.

Kedua, tentu menggolkan Gibran untuk menjadi Wakil Presiden.

Prioritas itulah yang membuat Jokowi belum memberikan banyak usaha untuk membesarkan PSI.

"Sekarang Jokowi saya kira tidak punya 'gawean politik' lagi dan berharap PSI tentu bisa menjadi kendaraan; tidak hanya bagi Pak Jokowi tapi juga bagi keluarga Solo. Jadi enggak pensiun, tapi full timenya malah kerja di PSI," katanya.



Selengkapnya saksikan di sini:

https://youtu.be/ceNm8PdnPUw



#jokowi #gibran #prabowo

Artikel ini bisa dilihat di : https://www.kompas.tv/talkshow/607500/pengamat-jokowi-enggak-pensiun-tapi-kerja-full-time-di-psi-rosi
Transkrip
00:00Selamat malam saudara, Anda menyaksikan program ROSI bersama saya Friska Clarissa.
00:07Setelah sempat mengatakan akan kembali menjadi rakyat biasa setelah purna tugas sebagai presiden RI,
00:13Jokowi kini siap bekerja keras membesarkan PSI, partai yang dipimpin anaknya sendiri.
00:20Malam ini kita akan bahas dan saya sudah mengundang Arya Fernandes,
00:23Kepala Departemen Politik dan Perubahan Sosial, Center for Strategic and International Studies, CSIS.
00:30Selamat malam Mas Arya.
00:31Selamat malam Friska, terima kasih.
00:33Terima kasih sudah hadir di ROSI.
00:35Kita lihat tadi di tayangan Pak Jokowi hadir di Kongres PSI bahkan bilang akan bekerja keras untuk PSI.
00:42Bisa enggak sih kalau dari CSIS membaca setidaknya, apakah kemunculan Pak Jokowi akan terkonversi menjadi angka untuk PSI?
00:51Pertama saya kira Pak Jokowi memang akan full bekerja untuk PSI.
00:57Dan dia akan sungguh-sungguh untuk melakukan itu.
01:022024 kemarin banyak yang mengatakan bahwa kenapa Jokowi ketika masih menjadi presiden,
01:10tapi peningkatan suara PSI hanya sedikit.
01:15Meningkat dari 1,8 menjadi 2,89.
01:19Peningkatannya sedikit sehingga dalam dua kali pemilu, PSI tidak berhasil menembus Senayan.
01:26Nah sekarang bisa jadi ketika 2024 Pak Jokowi saya kira punya prioritas yang berbeda.
01:35Prioritasnya apa?
01:37Satu tentu memenangkan pasangan Prabowo Gibran.
01:41Yang kedua tentu menggolkan Gibran untuk menjadi wakil presiden.
01:46Nah prioritas itulah yang membuat menurut saya Pak Jokowi belum memberikan banyak usaha untuk membesarkan PSI.
01:58Sekarang Jokowi saya kira tidak punya tanda petik gawaian politik lagi.
02:05Tentu dan berharap PSI tentu bisa menjadi kendaraan tidak hanya bagi Pak Jokowi,
02:12tetapi juga bagi keluarga solo.
02:14Jadi tidak pensiun tapi full timenya malah kerja di PSI?
02:17Full timenya malah jadi di PSI.
02:19Dan kalau kita lihat pengaruh-pengaruh baik Perdana Menteri maupun Presiden di beberapa negara,
02:26itu sebenarnya tidak otomatis akan hilang.
02:30Kita ingat misalnya di Malaysia itu ada Perdana Menteri Mahathir Muhammad
02:34yang memimpin Malaysia sebagai Perdana Menteri tahun 1981 sampai 2003.
02:4122 tahun memimpin Malaysia.
02:44Kemudian pensiun dari politik.
02:462018 membangun koalisi dengan Pak Anwar Ibrahim.
02:51Dan kemudian mengalahkan barisan nasional sejak kemerdekaan Malaysia.
02:56Dan beliau menjadi Perdana Menteri di usia,
02:59kembali menjadi Perdana Menteri di usia 92 tahun.
03:01Apa yang Mas Arya ingin katakan, Pak Jokowi mungkin maju lagi?
03:05Bukan, yang ingin saya katakan adalah bahwa pengaruhnya belum hilang.
03:09Masih ada pengaruh Pak Jokowi?
03:10Pengaruhnya belum hilang dan masih ada.
03:12Mas Arya, tapi kan waktu kemarin perbedaannya adalah Pak Jokowi masih menjabat.
03:17Artinya bisa melakukan apa saja meskipun prioritasnya bukan ke PSI.
03:21Tapi waktu itu memenangkan Prabowo Gibran agar Mas Gibran jadi Wakil Presiden.
03:25Tapi kan pengaruh besarnya itu ada pada saat Pak Jokowi menjabat sebagai RI1.
03:30Nah kalau sekarang seberapa besar apakah tidak kehilangan golden moment itu kalau sekarang?
03:35Ya memang banyak yang melihat seperti itu.
03:39Bahwa ketika seseorang tidak lagi menjadi presiden,
03:43dia akan kehilangan powernya, dia akan kehilangan pengaruhnya.
03:48Dalam beberapa kasus memang ada,
03:50tapi pada kasus-kasus yang lain power dan pengaruh itu tidak serta-merta akan hilang.
03:56Kasus mahatir seperti itu, dia sudah pensiun lama kemudian kembali dalam politik Malaysia dan menjadi Perdana Menteri.
04:04Di Brazil juga ada seperti itu, ada Presiden Rula da Silva yang menjadi Presiden 2003 sampai 2010.
04:142018 dianulir pencalonannya.
04:172022 dia maju lagi melawan Bolsonaro yang menjadi kompetitornya dan menang.
04:22Apa yang ingin saya katakan bahwa pengaruh Pak Jokowi masih ada dan belum hilang,
04:27tapi pertanyaannya adalah kalaupun kita percaya pengaruh Pak Jokowi masih ada,
04:33itu seberapa besar pengaruhnya?
04:34Nah seberapa besarnya itu bagaimana membacanya?
04:37Di konversi jadi angka bisa nggak?
04:39Kita sudah melaksanakan pemilu sejak tahun 1999.
04:44Pemilu 2024 itu adalah pemilu ke-6 setelah reformasi.
04:49Ada partai yang jatuh bangun, ada partai yang suaranya stabil,
04:54tapi kalau kita lihat soal indeks volatilitas suara partai, naik turun suara partai,
05:00sebenarnya dalam tiga kali pemilu belakangan itu sudah suara partai itu sudah stabil.
05:07Kalau ada perubahan baik itu penambahan suara maupun penurunan suara,
05:12itu prediksi saya tidak akan melewati angka 3%.
05:16Di 2024 kemarin ketika Golkar mengalami kenaikan,
05:22dia naik tidak lebih dari 3%.
05:23Ketika PDIP mengalami drop, dia juga tidak lebih dari 3%.
05:28Artinya apa?
05:29Artinya kalaupun effort Pak Jokowi untuk membangun PSI itu dilakukan,
05:35itu perkiraan saya itu hanya akan melewati di sekitar 3%.
05:40Artinya kalau sekarang PSI 2,8 atau 3% itu maksimal menurut saya kemampuan yang bisa dilakukan itu hanya sekitar 5%.
05:48Kenapa bisa?
05:49Karena satu sudah terbentuk stabilitas suara partai-partai.
05:54Jadi partai mesinnya sudah solid,
05:58kader-kadernya mungkin berpengalaman,
06:01sudah berpengalaman karena ada yang incumbent,
06:04ada yang kepala daerah,
06:06ada yang baik gubernur maupun bupati wali kota,
06:09strukturnya sudah mapan gitu ya.
06:12Dan sudah ada kaderisasi yang jelas,
06:14ada kompetisi internal yang terjaga dengan baik.
06:17Nah itu membuat pertama akan menyulitkan bagi partai-partai baru
06:20untuk masuk dalam persaingan politik kita yang ketat itu.
06:25Dan juga partai-partai yang sudah ikut pemilu tapi belum lolos masuk Senayan.
06:29Oke, tapi Pak Jokowi sekarang itu menghadapi tantangan yang berbeda dibandingkan waktu jadi presiden.
06:35Sekarang Mas, ada isu ijasa diserang bertubi-tubi,
06:38lalu juga usulan pemakzulan terhadap Mas Gibran.
06:41Masih bisa berpengaruh sepengaruh itu?
06:44Ya, ini akan tergantung seberapa berhasil
06:49baik Pak Jokowi maupun Mas Gibran
06:52untuk melewati ujian-ujian politik ini.
06:56Dan saya kira kalau kita lihat arahnya,
07:01pemakzulan kayaknya sudah stop.
07:05Ijazah masih berlangsung,
07:08tapi kita akan tunggu bagaimana keputusan pengadilan terkait itu.
07:13Nah kalau ini berhasil dilalui dengan baik,
07:15saya kira keluarga ini akan survive.
07:19Tapi harus PSI jadi membela Pak Jokowi dalam isu-isu itu juga atau enggak?
07:24Kok kayak kita saat ini tidak melihat PSI pasang badan untuk isu-isu tersebut?
07:28Ya, PSI tentu sadar,
07:32tentu akan banyak risiko-risiko politik yang akan dihadapi
07:36ketika misalnya ikut pada isu-isu yang tengah berkembang.
07:40Dan PSI saya kira menghadapi fase-fase yang berubah.
07:46Belakangan ada tren yang kuat yang saya lihat,
07:50PSI itu semakin pragmatis,
07:53semakin realis, realistis, dan juga semakin berpikir strategis.
07:58Artinya apa?
07:59Artinya PSI melakukan sejumlah adaptasi-adaptasi baru
08:03yang fokus pada hasil.
08:06Hasilnya apa?
08:07Loleh Senayan.
08:08Makanya kalau kita lihat fase-fase perubahan PSI itu,
08:11di fase pertama itu apa yang saya sebut dengan fase idealisme.
08:15Tahun 2004 sampai 2009, 2019.
08:19Di fase ini PSI meletakkan basis-basis awal partai
08:23dan melakukan perang terhadap korupsi,
08:28perang terhadap intoleransi,
08:31perang terhadap dinasti politik.
08:33Tetapi apa yang terjadi di fase kedua,
08:362019 sampai 2024,
08:39itu PSI mulai beradaptasi,
08:41mulai pragmatis,
08:43dan mulai mengoreksi apa yang terjadi pada fase awal.
08:48Kaisang menjadi ketua umum,
08:50padahal sebelumnya ada perang terhadap dinasti.
08:54Nah, juga mulai terbuka sebagai partai Jokowi ketika itu.
08:59Nah, belakangan terakhir tentu sekarang adalah fase survival.
09:03Sejauh mana PSI bisa mengambil manfaat strategis dari memilih Kaisang sebagai ketua umum
09:14dan mengasosiasikan diri sebagai partai super terbuka.
09:19Apakah benar-benar terbuka?
09:20Nah, apakah ia yang dilihat atau sen kiri belok kanan?
09:24Nah, gini.
09:26Kalau kita lihat ya,
09:29memang di fase ketiga ini,
09:31fase survival yang saya sebut,
09:33itu memang ada perubahan-perubahan.
09:37Pertama, penerapan e-voting.
09:38Di mana setiap kader atau anggota punya kesempatan untuk memilih ketua umum secara langsung melalui e-voting.
09:48Tapi, kompetisi itu, Friska, tidak terjadi di tingkat daerah.
09:55Pimpinan partai di tingkat provinsi, pimpinan partai di tempat daerah,
09:59itu ditunjuk secara top down dari pusat.
10:03Paling tidak sampai sebelum kongres.
10:05Kecuali ada perubahan ketika kongres.
10:08Artinya, kalau PSI konsisten untuk membentuk kompetisi internal yang sehat,
10:13harusnya pimpinan-pimpinan partai di daerah juga harus dilakukan pemilihan secara terbuka.
10:21E-voting juga tidak ditunjuk oleh pusat.
10:24Nah, yang kedua, saya kira tantangan internal lain adalah,
10:29bagaimana PSI harus membenahi secara kuat struktur pelembagaan partai.
10:36Ada beberapa hal.
10:37Pertama, kaderisasi.
10:39Kaderisasinya sejauh ini tidak berjalan efektif.
10:43Elite-elitnya yang maju di legislatif,
10:47itu sebagian besar belum mempunyai pengalaman politik
10:51yang bisa bertarung kompetitif dengan caleg-caleg lain.
10:56Kita lihat secara geografi juga tidak ada pertumbuhan.
10:59Basis suara.
11:01Dalam dua kali pemilu, itu sumbangan suara hanya berada di beberapa,
11:07di kota-kota besar saja.
11:07Jadi sistem sama basis suaranya masih belum kuat?
11:09Masih belum kuat.
11:10Nah, tetapi mungkin saya menduga setelah Pak Jokowi nanti akan bekerja full di PSI,
11:17mungkin akan banyak sekali perombakan-perombakan besar yang akan dilakukan.
11:23Apakah artinya Pak Jokowi sekarang kalau sistemnya tadi masih dikritisi,
11:27juga kaderisasinya belum jalan,
11:29Pak Jokowi ini masih jadi gading gajah untuk PSI.
11:33The most valuable person untuk PSI.
11:36Iya, masih.
11:37Tetapi makanya Pak Jokowi saya kira menyadari itu.
11:40Dan dia akan lakukan perombakan besar di PSI.
11:45Perombakan-perombakan besar itu misalnya nanti kalau misalnya putusan makamah konstitusi
11:50terkait pemisahan pemilu nasional dan pemilu daerah diadopsi oleh pembuat kebijakan.
11:56Dan sekarang ada dua opportunity ya.
12:00Kesempatan yang pertama, makamah konstitusi itu menghilangkan syarat pendaftaran calon presiden,
12:08ambang batas pencalonan presiden menjadi 0 persen.
12:12Sehingga itu memberikan peluang yang besar pada Gibran untuk dicalonkan oleh PSI.
12:18Sebagai presiden?
12:20Sebagai presiden misalnya.
12:22Di 2000?
12:23Di 2029.
12:25Kalau itu berani dilakukan.
12:28Yang kesempatan yang kedua adalah terkait pilkada.
12:33Pilkada itu kalau diadopsi oleh DPR nanti kan ada pilkada di 2031.
12:39Dan syarat pilkadanya juga sudah diturunkan.
12:42Jadi 6,5 sampai 10 persen.
12:45Ini celah buat PSI masuk pelan-pelan?
12:46Ini celah-celah bagi PSI untuk bisa menarik politisi-politisi lain untuk bisa dicalonkan.
12:55Tapi tentu syaratnya at least PSI di pemilu 2029 harus dapat minimal 6 persen di daerah.
13:03Oke.
13:04Untuk bisa mencalonkan itu atau paling enggak berkoalisi.
13:07Nah kalau PR Pak Jokowi masih berat untuk mengangkat PSI sekarang,
13:11bagaimana agar gajah ini yang ada di lambang PSI betul-betul bisa jadi gajah
13:15dalam artian partai besar PSI apa yang harus dilakukan Pak Jokowi?
13:19Tapi nanti jawabnya usah jeda.
13:20Karena siap bekerja, keras dan full mendukung Partai Solidaritas Indonesia,
13:24apa juga sebenarnya kepentingan Jokowi dibalik dukungan kepada PSI?
Komentar

Dianjurkan