Lewati ke pemutarLewatkan ke konten utama
JAKARTA, KOMPAS.TV - Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengaku tak keberatan dirinya disebut otoriter, usai tersangka bullying atau perundungan almarhumah Dokter Aulia batal lulus cepat.

"Karena kita punya wewenang, STR dan SIP diambil. Kalau enggak diambil, ya itu tadi, orang yang salah tuh enggak dihukum-hukum karena sungkan sama temannya kan. Jadi itu ambil sekarang pemenang sudah sama saya, saya freeze, saya bilang saya enggak akan buka sebelum terbukti pengadilan dia salah apa enggak. Kalau dia salah, saya cabut," katanya.

Menurutnya, lebih baik otoriter ke satu orang, demi menyelamatkan jutaan yang lain.

"Anda ingin mengatakan Menteri Kesehatan otoriter, so be it. Otoriter ke satu orang demi kebaikan jutaan orang, akan jauh lebih baik, daripada kita membiarkan satu orang sehingga jutaan orang menderita," katanya.

Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengkritik kelulusan salah seorang tersangka bullying dokter Aulia Risma di program pendidikan dokter spesialis (PPDS) Anestesi FK Undip, Zara Yupita Azra.

Budi mempertanyakan mengapa Zara bisa lulus lebih cepat, karena seorang terduga pelaku peruntungan semestinya ditindak tegas.

Budi sempat heran karena Zara dinyatakan lulus, meski baru kuliah selama enam semester dari yang seharusnya delapan semester.

Zara Yupita Azra sempat dinyatakan lulus uji kompetensi dari program Anestesi Undip, meski akhirnya ditangguhkan kelulusannya usai viral.



Saksikan selengkapnya di sini:

https://youtu.be/FL0g6TDu3uA?si=CQKWQTR4n7KLqtzw



#menkes #dokteraulia #bullying

Artikel ini bisa dilihat di : https://www.kompas.tv/talkshow/592449/menkes-dituding-otoriter-usai-tersangka-bullying-dokter-aulia-batal-lulus-cepat-rosi
Transkrip
00:00Pak, yang menarik juga, saya soal dokter Aulia yang meninggal karena depresi dan dia juga akibat bullying.
00:14Pelaku bullying itu diluluskan dan Anda memprotes kelulusan pelaku bullying itu.
00:22Dan kemudian itu berakibat si pelaku ditunda kelulusan dokternya.
00:27Apakah Anda dapat menerima bahwa Anda seorang menkes yang otoriter?
00:33Ya, saya dibilang otoriter.
00:35Dan saya terus terang itu terima kasih itu masukannya dari satu akun yang ada beberapa dokter bikin akun.
00:43Akunnya suka menghujat saya juga, ada akun PPDS Gram gitu.
00:47Tapi mereka masukin ke situ.
00:49Saya lihat loh, ini bukannya yang gak lulus.
00:51Akhirnya saya cek kan dan akhirnya keluar di beberapa akun itu.
00:56Kemudian saya suruh cek.
00:57Ternyata benar, ini harusnya lulusnya berapa semester gitu.
01:02Kok ini dipercepat dan ini adalah pelaku pembuli.
01:05Pelaku pembuli yang sedang diproses di polisi.
01:08Yang sedang dalam proses P21 kekejaksaan.
01:13Ya akhirnya karena kita memiliki mau menang sekarang dengan undang-undang yang baru untuk menahan SIP dan STR.
01:19Itu kita freeze dulu.
01:22Nah itu yang saya dulu udah dibilang otoriter karena mau menang STR, SIP diambil.
01:27Tapi kalau gak diambil, ya itu tadi.
01:29Orang yang salah tuh gak dihukum-hukum.
01:31Karena kena sungkan sama temennya kan.
01:32Jadi itu ambil.
01:34Sekarang mau menang udah sama saya, saya freeze.
01:36Saya bilang, saya gak akan buka.
01:38Sebelum terbukti pengadilan dia salah apa enggak.
01:42Kalau dia salah, saya cabut.
01:43Jadi kalau Anda disebut sebagai Menteri Kesehatan Otoriter, Anda ingin mengatakan kalau memang hasilnya adalah karena si pelaku pembulian yang sedang diperiksa polisi dalam proses kejaksaan diluluskan secara cepat padahal dia pelaku pembuli yang membuat seorang siswi kedokteran tewas.
02:00Anda ingin mengatakan Menteri Kesehatan Otoriter, so be it.
02:04Otoriter ke satu orang demi kebaikan jutaan orang akan jauh lebih baik daripada kita membiarkan satu orang sehingga jutaan orang menderita.
02:16Kesehatan Otoriter
Komentar

Dianjurkan