00:00Pak, yang menarik juga, saya soal dokter Aulia yang meninggal karena depresi dan dia juga akibat bullying.
00:14Pelaku bullying itu diluluskan dan Anda memprotes kelulusan pelaku bullying itu.
00:22Dan kemudian itu berakibat si pelaku ditunda kelulusan dokternya.
00:27Apakah Anda dapat menerima bahwa Anda seorang menkes yang otoriter?
00:33Ya, saya dibilang otoriter.
00:35Dan saya terus terang itu terima kasih itu masukannya dari satu akun yang ada beberapa dokter bikin akun.
00:43Akunnya suka menghujat saya juga, ada akun PPDS Gram gitu.
00:47Tapi mereka masukin ke situ.
00:49Saya lihat loh, ini bukannya yang gak lulus.
00:51Akhirnya saya cek kan dan akhirnya keluar di beberapa akun itu.
00:56Kemudian saya suruh cek.
00:57Ternyata benar, ini harusnya lulusnya berapa semester gitu.
01:02Kok ini dipercepat dan ini adalah pelaku pembuli.
01:05Pelaku pembuli yang sedang diproses di polisi.
01:08Yang sedang dalam proses P21 kekejaksaan.
01:13Ya akhirnya karena kita memiliki mau menang sekarang dengan undang-undang yang baru untuk menahan SIP dan STR.
01:19Itu kita freeze dulu.
01:22Nah itu yang saya dulu udah dibilang otoriter karena mau menang STR, SIP diambil.
01:27Tapi kalau gak diambil, ya itu tadi.
01:29Orang yang salah tuh gak dihukum-hukum.
01:31Karena kena sungkan sama temennya kan.
01:32Jadi itu ambil.
01:34Sekarang mau menang udah sama saya, saya freeze.
01:36Saya bilang, saya gak akan buka.
01:38Sebelum terbukti pengadilan dia salah apa enggak.
01:42Kalau dia salah, saya cabut.
01:43Jadi kalau Anda disebut sebagai Menteri Kesehatan Otoriter, Anda ingin mengatakan kalau memang hasilnya adalah karena si pelaku pembulian yang sedang diperiksa polisi dalam proses kejaksaan diluluskan secara cepat padahal dia pelaku pembuli yang membuat seorang siswi kedokteran tewas.
02:00Anda ingin mengatakan Menteri Kesehatan Otoriter, so be it.
02:04Otoriter ke satu orang demi kebaikan jutaan orang akan jauh lebih baik daripada kita membiarkan satu orang sehingga jutaan orang menderita.
02:16Kesehatan Otoriter
Komentar