Skip to playerSkip to main content
  • 2 years ago
Bank Indonesia (BI) mencatat cadangan devisa negara pada bulan April 2024 sebesar USD136,2 miliar atau setara Rp2.189,9 triliun dengan kurs Rp16.078 per dolar. Cadangan devisa tersebut terkuras hingga USD4,2 miliar atau Rp67,5 triliun dari bulan sebelumnya, yang tercatat USD140,4 miliar atau Rp2.257 triliun. Dan posisi cadev April tersebut menjadi yang terendah sejak Desember 2022.

Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo menyatakan, cadangan devisa merupakan salah satu instrumen untuk stabilisasi nilai tukar Rupiah. Di mana cadev akan naik ketika terjadi capital inflow dan neraca perdagangan yang tinggi. Demikian sebaliknya, jika terjadi capital outflow dan upaya stabilisasi nilai tukar Rupiah, maka cadev akan turun.

Category

📺
TV
Transcript
00:00 [MUSIK]
00:08 Ya pemirsa cadangan devisa negara di bulan April 2024 kembali tergerus menjadi 136,2 miliar dolar Amerika atau terendah sejak Desember 2022.
00:19 Di sisi lain upaya pemerintah untuk mengumpulkan pundi-pundi cadangan devisa dari kebijakan devisa hasil ekspor atau DHE dinilai belum berjalan optimal.
00:30 [MUSIK]
00:33 Bank Indonesia mencatat cadangan devisa negara pada bulan April 2024 sebesar 136,2 miliar dolar Amerika Serikat atau setara dengan 2.189,9 triliun rupiah dengan kurs 16.078 rupiah per dolar.
00:50 Cadangan devisa tersebut terkuras hingga 4,2 miliar dolar atau 67,5 triliun rupiah dari bulan sebelumnya yang tercatat 140,4 miliar dolar atau 2.257 triliun rupiah.
01:04 Dan posisi cadef April tersebut menjadi yang terendah sejak Desember 2022.
01:10 Gubernur Bank Indonesia Periwarjo menyatakan bahwa cadangan devisa merupakan salah satu instrumen untuk stabilisasi nilai tukar rupiah.
01:20 Dimana cadef akan naik ketika terjadi kapital inflow dan neraca perdagangan yang tinggi.
01:25 Demikian sebaliknya jika terjadi kapital outflow dan upaya stabilisasi nilai tukar rupiah maka cadef akan turun.
01:33 Cadangan devisa itu adalah salah satu instrumen melakukan stabilisasi nilai tukar rupiah.
01:43 Oleh karena itu cadangan devisa akan naik pada saat terjadi inflow dan surplus neraca perdagangan yang gede.
01:53 Gitu kan? Ya itu.
01:56 Dan tentu saja akan turun kalau memang terjadi outflow dan melakukan stabilisasi nilai tukar rupiah.
02:04 Itu adalah begitu.
02:06 Tapi kami pastikan bahwa jumlah cadangan devisa akan lebih dari cukup.
02:12 Sementara itu sejumlah kalangan juga mempertanyakan efektivitas kebijakan devisa hasil ekspor atau DHE sumber daya alam yang telah diberlakukan sejak Agustus 2023.
02:24 Sebab dinilai belum berdampak signifikan terhadap simpanan dalam bentuk valuta asing di bank-bank dalam negeri.
02:31 Hal ini terkait dengan upaya menjaga likuiditas mata uang dolar Amerika Serikat.
02:37 Jakarta Tim Liputan IDX Channel
02:40 [Musik]
02:44 Ya Pak Mirso untuk membahas tema kita kali ini dampak penurunan cadangan devisa bagi dunia usaha.
02:49 Kita sudah tersambung melalui Zoom bersama dengan Bapak Rian Kirianto.
02:53 Beliau adalah Ekonom Senior dan Associate Faculty dari LPPI.
02:57 Kemudian juga Bapak Angga Wira.
02:59 Beliau adalah Sekretaris Jenderal BPP Himpunan Pengusaha Muda Indonesia.
03:03 Ya hallo selamat pagi Pak Rian.
03:05 Pagi Mas Bras.
03:07 Selamat pagi.
03:09 Sehat.
03:10 Baik berikutnya kita langsung menyapa Pak Angga.
03:14 Halo selamat pagi.
03:15 Pagi Mas Bras.
03:17 Salam sehat.
03:18 Terima kasih atas waktu yang disempatkan.
03:21 Langsung saja kita berbincang nih ya terkait dengan cadangan devisa.
03:25 Kita ke Pak Rian Kirianto terlebih dahulu.
03:27 Apa yang bisa anda review begitu data dari Bank Indonesia tadi sudah disampaikan.
03:32 Turun di bulan April menjadi 136,2 miliar.
03:35 Dan ini terendah nih sejak Desember 2022 lalu Pak Rian.
03:40 Silahkan.
03:41 Sebetulnya saya sudah bisa mem-forecast ya.
03:45 Begitu tekanan terhadap mata uang rupiah itu begitu keras bertubi-tubi sepanjang April lalu.
03:53 Dan mungkin sampai sekarang juga belum longgar.
03:57 Beberapa strategi juga sudah dilakukan oleh Bank Indonesia selaku Bank Sentral.
04:03 Maka ada dua instrumen lagi yang mungkin dinilai efektif untuk membantu pertahanan rupiah.
04:10 Kita agar tidak terlalu terdepresiasi.
04:13 Yang pertama adalah BI melakukan operasi moneter atau operasi pasar.
04:18 Dalam bentuk BI melakukan transaksi-transaksi di money market kita atau di pasar uang kita.
04:28 Dalam konteks untuk memenuhi kebutuhan valuta asing atau USD.
04:33 Yang memang pada bulan April kemarin outflow-nya itu begitu kuat.
04:39 Nah kemudian strategi yang berikutnya yang boleh saya bilang semacam strategi pamungkas.
04:45 BI harus menaikkan suku bunga kebijakan atau policy rate atau BI rate sebesar 25 basis point pada pertemuan 24 April yang lalu.
04:56 Jadi yang dikerjakan oleh Bank Indonesia itu sebetulnya sudah multi strategi.
05:01 Dari penyediaan sertifikat falas BI, kemudian ada suku falas juga.
05:07 Kemudian melakukan operasi moneter atau operasi pasar.
05:12 Dan kemudian menaikkan suku bunga ajuan.
05:15 Semua itu dalam perangka untuk mempertahankan agar posisi nilai tukar rupiah kita tidak terlalu depreciated terhadap USD.
05:23 Itu highlight-nya yang bisa saya sampaikan.
05:50 Pertama terkait cadangan divisa sebenarnya kalau kita melihat daripada standar yang diberlakukan oleh IMF sendiri itu juga
05:59 cadangan divisa yang kita miliki masih di atas standar yang minimal yang dipersyaratkan.
06:06 Namun tentunya kami melihat dari sisi yang optimis,
06:11 sebenarnya hal ini perlu kita lakukan evaluasi secara komprehensif.
06:19 Langkah-langkah yang dilakukan oleh Bank Sentral yang menurut pandangan kami sudah cukup akseleratif untuk merespon.
06:28 Pertama memang adanya pelemahan nilai tukar rupiah saat sekarang ini.
06:34 Yang lainnya memang yang terkait tadi juga disampaikan soal DHE ini efektivitasnya seperti apa.
06:42 Karena ini sudah hampir satu tahun juga diterapkan dan kami juga dari asosiasi terlibat juga dalam perumusan hal ini.
06:52 Cuma memang perlu dievaluasi sejauh mana DHE ini efektif untuk membuat kita memiliki cadangan divisa yang lebih besar lagi.
07:03 Tapi di sisi lain memang perlu strategi yang harus komprehensif untuk memperkuat neraca perdagangan kita.
07:12 Saya rasa langkah jangka panjangnya itu yang harus dilakukan.
07:17 Karena apapun itu langkah-langkah yang sudah diterapkan BI ini akan sangat bergantung kepada kekuatan kemandirian domestik kita.
07:29 Karena memang kalau kita lihat nilai impor kita yang terus meningkat ya terkait juga harga bahan pangan yang sangat luktuatif.
07:39 Ini yang menjadi salah satu kenapa nilai tukar rupiah kita juga merosot cukup tajam dalam 1-2 bulan terakhir itu.
07:47 Baik kalau kita lihat memang beberapa langkah tadi bisa menurunkan kejatuhan rupiah begitu dalam beberapa hari terakhir.
07:54 Tapi dari kalangan dunia usaha sendiri level 16 ribuan rupiah terhadap dolar Amerika ini cukup ideal tidak sih?
08:02 Atau memobani dunia usaha sebenarnya?
08:04 Ya sebenarnya proyeksi di APBN itu kan yang menjadi patokan utama kita.
08:10 Artinya nilai 16 ribu ini sebenarnya sudah agak ketinggian menurut saya.
08:17 Jadi ini perlu strategi yang tepat juga untuk bisa mengembalikan posisi nilai tukar rupiah.
08:24 Di angka mungkin 15.500 ya.
08:28 Itu menurut kami angka yang bisa dibilang bisa ideal untuk angka tersebut.
08:35 Tapi tentunya yang tadi saya sampaikan perlu strategi yang memang secara long term ini bisa memperkuat pasar domestik kita
08:43 dengan memperkuat produksi di dalam negeri dan juga meningkatkan nilai ekspor kita secara lebih masif.
08:54 Ini memang strategi jangka panjang ini harus kita lakukan dan ini menjadi salah satu PR pemerintah kita ke depan.
09:02 Kalau ini langkah-langkah ini tidak bisa diselesaikan secara komprehensif ya saya khawatir nilai tukar kita akan makin merosot.
09:12 Dan ini bisa memberikan tekanan-tekanan dalam sisi investasi juga ya.
09:22 Walaupun kalau kita lihat dari data yang kita cermati nilai investasi yang masuk ke dalam negeri sampai saat ini terus naik ya mas.
09:32 Cuman memang kalau nilai tukar kita juga tidak stabil ini akan mengkhawatirkan ya.
09:38 Baik langsung saja kita tanya ke Parian. Ini tadi beberapa tanggapan dari dunia usaha.
09:43 Memang kondisi saat ini rupiah yang berada di level 16 ribuan meskipun ini sudah menguat ya karena intervensi yang sudah dilakukan oleh Bank Indonesia
09:52 yang akhirnya juga menguras cadangan devisa kita.
09:55 Menurut anda apa yang jadi pemicu utama nilai tukar rupiah kita ini terus tertekan dalam beberapa waktu terakhir ini?
10:04 Memang faktor depreciasi mata uang rupiah kita itu kalau saya ases ya itu dominasinya memang dari faktor eksternal.
10:15 Jadi berangkat dari meningkatnya level uncertainty atau ketidakpastian global karena ada eskalasi risiko geopolitik.
10:25 Kemudian ada disrupsi global supply chain dan sebagainya seperti mengulang pada 2020-2021 yang lalu.
10:34 Ini yang membuat orang-orang global investor mencari currency atau aset yang memang dinilai kategorinya sebagai safe haven.
10:46 Nah kategori itu adalah ada dua instrumen, satu yaitu US dollar, satu lagi emas.
10:52 Makanya kita bisa mencermati dua komoditas itu memiliki apresiasi yang luar biasa.
10:57 Dan oleh karena itu maka kalau kita menjauh ke benua Amerika disana terlihat bahwa bulan April lalu itu indeks US dollar itu sudah menyentuh angka 106 dengan baseline 100.
11:11 Artinya memang penguatan US dollar terhadap mata uang kuat yang lain apalagi mata uang negara berkembang di Asia itu sangat tinggi.
11:20 Posisi April lalu akhir April kurang lebih depreciasi rupiah kita sudah 5 persenan, 5, sedikit.
11:27 Itulah yang membuat BI harus menaikkan segera suku bunga kebijakannya.
11:32 Untuk membalansi makin lamanya The Fed menahan suku bunga yang posisinya sekarang 5,5 persen.
11:40 Makanya terminologi atau slogan "Hire for Longer" itu juga istilahnya itu ikut menstimulasi orang-orang lalu berbondong-bondong untuk mencari US dollar.
11:52 Di dalam negeri sendiri kita tahu bulan-bulan April itu banyak sekali joint venture corporation atau MNC maupun perusahaan asing PMA ya yang sudah membukukan keuntungan.
12:04 Lalu sebagian net profitnya itu kan harus dikembalikan ke negara asal.
12:08 Prinsipnya dalam bentuk dividend. Nah dividendnya tentu dalam karensi US dollar.
12:14 Kombinasi antara faktor eksternal kemudian kebutuhan dolar di dalam negeri yang harus kembali ke negara asalnya.
12:21 Kemudian kebutuhan domestik kita untuk memenuhi kewajiban utang luar negeri, baik itu pemerintah maupun badan usaha milik negara.
12:30 Dan ada juga mungkin korporasi swasta ya. Yang terakhir adalah juga untuk pembiayaan impor untuk membantu temen-temennya Mas Anggawira untuk memenuhi apakah itu raw material, apakah itu barang sengah jadi.
12:44 Nah akumulasi ini yang membuat guncangan cukup besar terhadap mata uang rupiah kita.
12:49 Makanya betul tadi sampaikan Mas Anggawira penyelesaiannya memang harus istilahnya itu total football ya atau komprehensi.
12:56 Oke lantas apakah upaya yang sudah dilakukan bank sentral tadi dari operasi pasar kemudian penaikan BI rate ini akan mampu bisa menahan kejatuhan rupiah sehingga cadangan divisa kita tetap aman.
13:06 Di satu sisi ada penguatan dari sisi mungkin nilai transaksi perdagangan kita, kita akan bahas nanti di segmen berikutnya kita akan jeda dulu sebentar.
13:13 Dan pemirsa tetaplah bersama kami.
13:25 Maksudnya kita lanjutkan kembali perbincangan bersama dengan Bapak Arian Kirianto dan juga Mas Anggawira begitu dari HIPMI.
13:31 Baik kita akan lanjutkan kembali ke Pak Arian yang tadi sempat tertunda.
13:34 Nah bicara mengenai level ideal kalau tadi anggapkan dari pelaku usaha adalah di 15.500an.
13:39 Kemudian ada upaya juga untuk meningkatkan raca perdagangan kita.
13:43 Seperti yang anda sampaikan tadi faktor global nampaknya mendominasi membuat rupiah akhirnya mengalami depreciasi.
13:48 Bagaimana melihat kombinasi-kombinasi yang menjadi trigger terkait dengan pergerakan nilai tukar rupiah ini Pak Arian?
13:55 Ya sepanjang suplei walutan asingnya ke domestik itu masih terbatas atau minimal agak sulit untuk mendonggerak posisi foreign reserve atau cadangan divisa kita.
14:13 Tadi disampaikan investasi langsung betul dari PMA-nya memang komposisinya kurang lebih 51% dibanding PMDN yang 49%.
14:23 Tapi harus banyak instrumen-instrumen lain yang di create untuk bisa mendatangkan investasi portfolio.
14:30 Sehingga akan membanjiri pasar keuangan kita dengan walutan asing tadi terutama US Dollar.
14:36 Nah asnya sampai sekarang ini studi atau bukan studi, diskursus ya mengenai pendalaman pasar keuangan kita itu berjalan kurang begitu cepat ya.
14:49 Produk-produk atau instrumen keuangan yang tersedia di pasar keuangan kita kan relatif terbatas.
14:55 Beda dengan katakanlah di pasar yang sudah advance seperti di Singapura, kemudian di Tokyo yang begitu banyak instrumennya sehingga foreign investor berbonong-bonong masuk ke pasar keuangan di negara-negara tersebut.
15:09 Nah ini PR bagi pemerintah bersama dengan BI untuk bagaimana bersama-sama memperdalam pasar keuangan kita agar tidak dangkal.
15:18 Karena kalau dangkal seperti saat ini sangat erawan, sangat rentan terjadinya shock atau gejolak.
15:23 Begitu ada sentimen negatif yang berasal atau bermula dari faktor luar, faktor eksternal, maka mudah sekali bagi mata uang rupiah kita untuk mengalami tekanan.
15:34 Seperti yang terjadi pada 1-2 bulan terakhir ini.
15:38 Tadi Mas Anggabira mengatakan bahwa idealnya adalah kursi rupiah kita 15.000 per US Dollar sesuai dengan asumsi APBN, saat sepakat.
15:47 Karena itulah sebetulnya ekulibrium yang dikehendaki oleh para teman-teman pebisnis pelaku usaha.
15:54 Baik mereka yang ada di posisi sebagai importer maupun mereka yang ada di posisi sebagai eksporter.
16:01 Tadi dengan posisi yang ideal 15.000 tadi sesuai asumsi APBN kita itulah everybody happy kalau menurut saya.
16:10 Baik, kalau kita bicara mengenai langkah-langkah tadi ada kebijakan DHE dari pelaku usaha sendiri nih kalau kita ke Anggabira kembali.
16:18 Menurut Anda ini satu kebijakan yang cukup mendapatkan apresiasi tidak sih sebenarnya dari pelaku usaha sendiri?
16:25 Mengingat dana yang didapatkan dari kita melakukan eksportasi pun harus diendapkan dulu di bank-bank di dalam negeri ini,
16:33 begitu dalam bentuk dollar misalnya. Silahkan.
16:36 Ya itu menurut kami sebenarnya suatu langkah yang perlu kita apresiasi.
16:42 Hanya saja memang perlu suatu insentif dari sisi perpajakan dan insentif lainnya yang perlu dipikirkan secara lebih matang
16:56 supaya hal ini lebih menarik lagi mas.
16:59 Karena kan ini sudah berlangsung satu tahun dan saya rasa berbagai perusahaan terutama mungkin di lingkup saya di energy ya,
17:10 di sektor batubara itu kan sudah ada kewajiban ya untuk melakukan hal tersebut.
17:15 Tapi memang karena ibaratnya belum optimal pastinya kan ada hal-hal yang bisa kita tingkatkan dari langkah tersebut.
17:25 Hanya memang secara umum untuk jangka panjang perlu lagi kita melihat, tadi saya sepakat ya,
17:37 memperkuat pasar keuangan kita secara lebih dalam, tapi di sisi lain foreign direct investment kita dalam bentuk investasi langkung untuk di industri
17:51 ini perlu kita buat lebih menarik ya, karena ini saya rasa momentum kita yang harus kita optimalkan dalam 5 tahun ke depan.
18:01 Jangan sampai kita kalah setan dengan Vietnam, dengan Kamboja, dengan Malaysia, yang sekarang juga menjadi kompetitor utama kita di Asia Tenggara.
18:13 Saya rasa 5 tahun ini di pemerintahan baru harus benar-benar memikirkan suatu insentif sehingga kita bisa memperkuat produksi domestik kita.
18:24 Karena saya lihat banyak sekali perusahaan-perusahaan dari luar yang sudah mau berinvestasi ke kita,
18:30 melihat stabilitas ekonomi kita yang cukup baik dan stabilitas politik, apalagi market kita yang luar biasa.
18:37 Tapi di sisi lain banyak hal yang masih kalau kita bandingkan dengan negara-negara tetangga, kita masih belum efisien.
18:45 Misalnya harga tanah kita yang masih kostnya terlalu tinggi, lalu berbagai macam kebijakan perpajakan kita
18:53 seperti NCTF di tax holiday ataupun tax allowance yang perlu kita buat semenarik mungkin.
18:59 Itu saya rasa yang perlu kita optimalkan ya, sehingga kita bisa memperkuat deraca perdagangan kita.
19:05 Baik, tapi kan kalau kita lihat belakangan ini mungkin dalam beberapa tahun terakhir banjir insentif lah bisa dikatakan
19:11 diberikan oleh pemerintah untuk mengangkat kinerja dunia usaha kita, industri kita begitu pasca covid.
19:17 Menurut Anda apakah ini belum sesuai begitu dengan harapan atau memang masih ada yang perlu ditambah begitu?
19:25 Ya makanya ini kan kita melihat insentif yang diberlakukan ini lebih kepada insentif terkait investasi-investasi baru yang akan masuk ke Indonesia.
19:38 Ini yang benar-benar harus kita fikirkan secara komprehensif gitu loh, jangan sampai kail yang kita cemplungkan ke market ini
19:50 kurang menarik dibandingkan kail-kail yang disampaikan oleh tetangga. Karena ini yang saya lihat dalam 2 tahun terakhir
19:57 karena kan memang dominasi kita di Asia Tenggara ini saya rasa momentumnya cukup baik ini mas dalam 5 tahun terakhir
20:06 kita harus lebih optimal lagi untuk menarik ya investasi di industri kita gitu.
20:12 Karena kan dengan hilirisasi yang kita lakukan kita punya bawaran energi kita yang lebih menarik ya dibandingkan negara-negara tetangga kita.
20:21 Kita punya energi baru terbarukan, cadangan gas kita juga besar. Saya rasa ini harus dioptimalkan sehingga menarik perusahaan-perusahaan dari luar
20:32 untuk membangun industri nya di kita dan pada akhirnya kita yang mendapatkan nilai tambah dan lapangan pekerjaan kita bisa terbuka lebih luas lagi.
20:40 Oke itu menarik kalau kita lihat dengan beberapa langkah yang mungkin perlu di segera dilakukan.
20:44 Nah Parian yang menarik tadi nampaknya banyak sekali faktor-faktor yang menyelimuti begitu kenapa cadangan devisa kita terkuras
20:51 untuk stabilisasi dan lain-lain tapi masih ada beberapa PR lain dimana neraca perdagangan kita harus ditingkatkan.
20:57 Nah berikutnya apakah berkurangnya cadangan devisa di bulan April turunnya 4,2 miliar dolar nih atau sekitar 67,5 triliun
21:05 dibandingkan dengan bulan sebelumnya sudah sepadan dengan perbaikan nilai tukar rupiah yang nantinya juga ini tidak akan memberi beban tambahan terhadap dunia usaha kita begitu Parian?
21:16 Kita tidak bisa menjudge ya bahwa dengan BI melakukan petindakan operasi moneter sebanyak kurang lebih 4,2 miliar itu kan kombinasi antara kewajiban utang luar negeri kita
21:32 plus untuk kebutuhan intervensi pasar dalam kerangka stabilisasi nilai tukar rupiah.
21:38 Tetapi yang ingin saya sampaikan saya coba mempertegas yang disampaikan Mas Andawira tadi bahwa sebagaimana juga selalu saya ulang-ulang
21:49 upaya untuk menstabilisasi nilai tukar rupiah kita itu tidak semata-mata hanya bergantung kepada policy-policy dari Bank Indonesia sebagai Bank Sentral.
22:00 Betul bahwa BI memiliki tugas utama yaitu menstabilisasi satu sisi adalah nilai tukar rupiah kemudian satu lagi adalah mengendalikan inflasi.
22:09 Tetapi juga dalam konteks saat ini mungkin juga perlu kolaborasi yang lebih masif lagi dengan pemerintah melalui kementerian-kementerian atau lembaga terkait.
22:19 Saya singgung misalnya contoh peran dari misalnya kementerian apa perdagangan bagaimana untuk bisa memboost ekspor kita lebih banyak lagi.
22:28 Terutama ke negara-negara tujuan baru misalnya atau new market ya.
22:33 Itu kan banyak sekali yang bisa kita capture di sana sehingga bisa mendatangkan apa namanya prosit ekspor atau devisa aset ekspor yang lebih tinggi,
22:46 lebih besar sehingga bisa menopang puni-puni cadangan devisa kita.
22:50 Kemudian penggunaan misalnya komponen dalam negeri atau natural resource base ya domestik itu juga harus dikembangkan lagi.
22:58 Misalnya komponen TKDN kalau gak salah.
23:00 Kita kan udah punya policy-policy seperti itu.
23:02 Cuman bagaimana monitoring di lapangannya saya kira harus dilakukan sehingga kedisiplin daripada apa seluruh pelaku ekonomi itu bisa-bisa membantu ya penguatan nilai tukar rupiah kita.
23:15 Kemudian tadi sampaikan misalnya insentif ya misalnya insentif untuk penempatan DAE.
23:20 Saya setuju. Jadi lebih baik misalnya gini, katakanlah ada insentif keluar, omong kosongnya nih ya dalam valuasinya.
23:27 Keluar misalnya insentif kepada para pebisnis pelaku usaha itu katakanlah dalam rupiahnya 5 triliun gitu setahun.
23:34 Tetapi dengan output 5 triliun ini mas Rass, mas Sanggewira itu bisa memehmat ya tadi cadangan defisit kita yang kalau kita valuasi dalam rupiah itu mungkin puluhan triliun.
23:52 Jadi kita melihatnya dalam framework yang lebih luas ya Helicopter View sehingga gak apa-apa.
23:58 Di satu sisi kita tanda petik berkoban tapi sebetulnya itu adalah untuk memperkuat cadangan defisit kita sehingga belanja.
24:06 Belanja oleh pemerintah, oleh Bank Indonesia termasuk teman-teman pebisnis itu tidak apa namanya, tidak overshoot, tidak terlalu berlebihan.
24:15 Teman-teman Pak Anggawira yang misalnya selama ini booking barang-barang komponen impor katakanlah dengan patokan referensi 15 ribu rupiah per satu dolar.
24:25 Dengan dolarnya berada di posisi 16 ribu kan tentu harus menambah 1 dolar equivalent 1 ribu untuk per satuan gitu.
24:34 Jadi memang harus kolaborasi antara Bank Indonesia selaku Central Bank dengan pemerintah terwakili oleh kementerian dan lembaga.
24:42 Saya kira banyak yang bisa diperankan ya oleh kementerian dan lembaga yang terkait.
24:47 Berarti koordinasi antara fiskal dan monitor begitu ya juga harus bahu-membahu begitu untuk mengatasi kondisi ekonomi tadi dengan pelemahan nilai tiga rupiah
24:55 bagaimana meningkatkan narasa perdagangan kita berarti banyak sekali kebijakan-kebijakan yang mungkin bisa diharmonisasi di sana ke depan.
25:02 Baik Pak Anggawira dan juga Pak Rian Kirianto terima kasih banyak ini atas waktu dan sharing yang sudah Anda sampaikan begitu kepada Pak Mirsa.
25:09 Makasih Pak Anggawira.
25:10 Selamat lanjutkan aktivitas Anda kembali.
25:12 Salam sehat.
25:13 Salam sehat.
25:15 Ya Pak Mirsa satu jam sudah saya menemani Anda dalam Art Review saya Prasetyo Wibowo
25:20 beserta kerajaan yang bertugas undur diri.
25:22 Terima kasih dan sampai jumpa.
25:24 [Musik]
25:39 [Musik]
25:54 [Musik]
26:10 [Musik]
Comments

Recommended