Skip to playerSkip to main content
  • 3 years ago
Terlepas dari kendala seputar pendanaan dan regulasi, ekosistem startup cleantech di Indonesia punya potensi untuk tumbuh subur. Secara umum, ekosistem startup cleantech di Indonesia dapat dipetakan menjadi tiga sektor: sektor energi, sektor transportasi, dan sektor industri & pembangunan.

Category

📺
TV
Transcript
00:00 Terima kasih Anda masih bergabung bersama kami, Pak Minister, dan sudah kembali bergabung rekan Prisasom Boda.
00:05 Nah, kita akan membahas tema yang menarik kali ini, yaitu bagaimana menghemat tagihan listrik dengan tenaga surya.
00:12 Sudah terzambung melalui video conference bersama dengan Mas Erlangga Bayu, CEO dari BTI Energy.
00:17 Halo Mas Erlangga, apa kabar?
00:20 Halo, pagi.
00:22 Baik, terima kasih sudah bergabung bersama kami, Pak Mas Erlangga.
00:25 Mas, bicara mengenai emisi global yang terjadi belakangan, sejauh mana ini akhirnya juga meningkatkan warnas
00:31 ataupun mungkin meningkatkan concern soal peralihan ke energi baru terbarukan?
00:37 Kalau sekarang sebenarnya sudah lama ya, mulai isu ini ada sejak adanya Paris Agreement,
00:45 apalagi sekarang juga baru lagi ada COP di Dubai, jadi semua orang ngomongin emisi perubahan ekonomi dan lain-lainnya.
00:53 Dan mungkin kalau kita ngomong emisi, data dari World Bank itu 40% emisi itu berasal dari pembakaran bahan bakar padat,
01:03 seperti misalnya batu bara.
01:04 Dan mungkin sedihnya kita di Indonesia, 60% energi atau listrik itu berasal dari batu bara.
01:13 Makanya kalau kita ngomong Indonesia, ya pasti emisi yang dihasilkan dari pemakaian listrik Indonesia itu besar sekali.
01:19 Itu baru batu bara, belum dari market lainnya misalnya dari diesel, itu bisa lebih besar lagi.
01:24 Makanya kita sekarang semakin banyak beralih ke energi yang terbarukan, yang emisinya lebih rendah daripada bahan bakar fosil.
01:32 Oke, lalu bagaimana Anda melihat awareness dari masyarakat sendiri mengenai pentingnya pengurangan emisi?
01:38 Sudahkah kemudian baik?
01:40 Kalau awareness, saya pikir sudah berkembang bagus ya, artinya sudah semakin banyak orang yang mulai concern ke hal ini.
01:47 Sebelumnya kan biasanya bule-bule, orang asing baru mereka lebih berdegan clean energy.
01:51 Tapi akhir-akhir tahun kelapangan ini, dengan mungkin musim yang tidak jelas, iklimnya berbawa-bawa,
01:58 jadi orang sudah mulai concern dengan isu ekonomi terbarukan.
02:02 Jadi kalau yang benar banyak, yang mau masangnya masih sedikit,
02:06 karena memang ada beberapa barrier yang harus kita tembus bagi orang-orang yang mau memasak PLTS seperti itu.
02:13 Nah, Mas Erlangga, apa sih yang Mas Erlangga lihat dari masyarakat terhadap upaya-upaya aksesnya,
02:20 yang menjadi tantangan dari masyarakat terhadap upaya-upaya pengurangan emisi ini sendiri?
02:25 Ya, mungkin kalau sama tadi Mbak Presiden, jadi sama seperti saya bilang itu bahwa masyarakat banyak pengen,
02:33 tapi yang memasang sedikit, jadi memang barrier atau challenge-nya itu biasanya diaya.
02:38 Karena instalasi energi terbarukan, khususnya PLTS atau Suria itu biaya di awalnya tinggi,
02:44 tax-nya itu tinggi, walaupun memang kalau di situ secara ekonomi sebenarnya memuntungkan,
02:48 karena tinggi di awal, tapi umurnya panjang, sampai 25-30 tahun.
02:53 Tapi memang di awal itu orang masih mikir, "Ya, apa namanya, jadi tinggi biayanya seperti itu."
02:58 Baik. Lalu terkait dengan permasalahan tersebut, solusi apa yang ditawarkan oleh BTI Energi sendiri, Mas Erlangga?
03:04 Kalau kita sih memang di tagline kita itu "affordable and flexible solar energy for everyone".
03:11 Jadi kita pengen memberikan solusi-solusi yang mungkin banyak orang bisa jangkau,
03:16 bukan hanya orang-orang tertentu atau bukan hanya orang-orang yang punya duit.
03:19 Jadi karena masa ini finansial, jadi kita bagaimana caranya membagi finansial ini biar tidak besar di awal.
03:25 Jadi kita bagi seperti misalnya kayak nyicil, walaupun memang kalau nyicil kayak bank,
03:30 itu kan dia bisa nyicil paling tidak 5 tahun, paling lama tenornya.
03:34 Sedangkan balik modalnya bisa 6 tahun, 8 tahun. Jadi kita bisa juga kasih skema-skema sewa.
03:39 Jadi mereka, masyarakat itu tidak harus bayar besar di awal, tapi bisa menyiwa per bulan.
03:45 Dan sewanya itu lebih kecil biaya daripada penghematan yang dihasilkan.
03:49 Jadi mungkin itu yang sampai hari ini masih bisa kita tawarkan untuk membuat lebih murah.
03:56 Segmen mana yang paling banyak dituju oleh BTI Energi?
04:00 Kalau segmen, kita karena di Bali, jadi karena kita di Bali itu lebih banyak ilang,
04:08 kantor juga ada, tapi kalau memang ngomongin mau lebih besar,
04:12 jadi dengan skema-skema itu sebenarnya CNI itu komersial dan industri.
04:17 Jadi kayak tadi misalnya bisnis-bisnis, yang memakai listrik besar di siang hari,
04:22 ataupun industri. Cuma kalau di Bali kan tidak banyak industri, jadi kita lebih banyak komersial
04:27 dan juga vila-vila sih, kalau yang di Bali.
04:30 Baik, oke. Benarnya kita akan lanjutkan usaha jendela berikut ini ya Mas Erlangga.
04:33 Dan Prof. Tamsar dan kami akan segera kembali.
04:36 Terima kasih, Pemir, sudah kembali bersama kami.
04:39 Dan kita masih akan berbincang bersama dengan Mas Erlangga Bayu dari BTI Energi,
04:43 membahas mengenai panel surya.
04:45 Kalau di Bali sendiri sudah lebih masif dibandingkan wilayah lain nggak, Mas Erlangga?
04:50 Kalau di Bali sih, mungkin dibandingkan tetangga-tetangga, lumayan cepat pertumbuhannya.
04:56 Mungkin salah satunya juga karena faktor disini banyak orang asing.
04:59 Kalau orang asing itu, kita nggak usah jelasin, mereka sudah tahu, jadi mereka yang nyari.
05:04 Kalau mungkin orang lokal, kita masih perlu edukasi, jadi jelasin apa manfaatnya.
05:09 Dari sisi jumlah, memang lebih masif.
05:11 Tapi kalau dari sisi kapasitas, kalau di Bali masih kalah dengan daerah misalnya
05:15 kayak Jawa Barat atau Jawa Tengah yang ada industri-nya, ada pabrik-pabrik.
05:18 Karena kalau industri sekali pasang, itu bisa sekian mega.
05:21 Kalau di Bali itu banyak-banyak yang rumah tangga, kira-kira residensial seperti itu.
05:26 Kapasitas masih kalah dibanding dengan daerah lain seperti Jawa Barat dan Jawa Tengah gitu ya?
05:33 Iya. Tapi dari jumlah, mungkin banyak sih. Jumlah penggunaan.
05:38 Berarti BTI Energi hanya instalasinya saja atau membuat panel surya sendiri?
05:45 Kita instalasi, komisioning, sampai OEM, sampai present maintenance itu kita juga lakukan.
05:51 Dan mungkin sebenarnya kalau kita ngomong proyek, bukan hanya di Bali,
05:55 kita juga ada proyek di Surabaya, di Tenggore Liste juga ada, di Maluku, kayak gitu sih.
06:01 Tapi yang banyak di Bali.
06:03 Mas, mengapa menggarap bisnis panel surya dan apakah sejauh ini menjadi satu bisnis yang potensial dan juga menguntungkan?
06:14 Mungkin sebenarnya kalau dengan Energi Terbarukan ini, saya sudah interest itu lama ya, 2015.
06:22 Tapi memang pas itu aturannya belum jelas.
06:24 Kemudian 2020 itu muncul beberapa perturangan dari presiden hingga gubernur yang mendorong penggunaan EBT atau PLTS.
06:33 Di sana saya merasa, oh ini waktunya. Akhirnya saya berbual sama teman-teman, sama saudara juga.
06:39 Kita coba yuk buat itu. Jadi mungkin karena tutip dulu kita kerja sama orang,
06:43 perusahaan PLTS, perusahaan asing, sama bule gitu.
06:48 Terus sekarang kita coba sebagai orang lokal buat sendiri, 3 tahun, 4 tahun, sekarang ya lumayan sih, sekurangnya jalan.
06:55 Itu sih yang penting, karena peluangnya ada kita kira.
06:58 Oke, berarti saat ini BTI Energi sudah mencatatkan profit dong?
07:03 Ya, alhamdulillah sudah sih.
07:06 Sudah ya?
07:07 Sudah tahun keempat ini.
07:10 Saya mau bertanya soal kendala mengenai adanya aturan dasar ya yang menggunakan panel surya adalah ya daya yang dihasilkan itu
07:16 dari sistem panel surya harus lebih kecil nih dibandingkan dengan daya yang terdaftar di PLN.
07:22 Seperti itu apakah menjadi kendala atau gimana? Ada sinergikah dengan PLN atau bagaimana?
07:30 Ya, ya. Terima kasih mbak. Jadi kalau kendala itu di awal-awal sih mbak.
07:34 Ya, karena dulu sebelum adanya aturan ini, peraturan menteri ESDM itu masyarakat boleh masang full 100% dibandingkan dengan kapasitas PLN-nya.
07:44 Tapi mungkin ada aturan baru, itu 2022 ya, tahun lalu sih.
07:49 Jadi tiba-tiba dibatasi, nggak boleh masang banyak, nggak boleh masang full.
07:54 Bahkan itu dibatasi menjelang G20, yang ngomongin transisi energi gitu.
07:58 Nah, tapi kalau sekarang, syukurnya kalau di Bali sudah boleh.
08:02 Kita juga sering ngobrol sama PLN, kan kalau kita ngelawan PLN nggak mungkin ya.
08:05 PLN itu besar sekali, jadi kita ngomong baik-baik gitu ya, kita lobby-lobby, negosiasi gitu.
08:11 Sudah boleh masang full, asalkan tidak ekspor.
08:13 Nah, mungkin ekspor ini yang sebenarnya agak kurang menguntungkan bagi masyarakat rumah tangga khususnya.
08:18 Karena ekspor itu adalah kita bisa mengirim kelebihan energi ke PLN dan dihargai oleh PLN 65%.
08:25 Tapi sekarang sudah nggak dihargai lagi, jadi energinya kalau lebih, misalnya siang-siang ada energi,
08:29 tapi misalnya kalau yang tinggal di rumah itu lagi kerja atau sekolah, kan nggak terpakai oleh stresenya.
08:34 Kalau dulu bisa dihargai oleh PLN, tapi sekarang nggak.
08:37 Apa yang membedakan solusi yang ditawarkan lebitai energi dengan pemain lain
08:43 dan berapa range pemasangan solar panel di betai energi sendiri, Mas Herenga?
08:48 Mungkin kalau yang membedakan, kalau di Bali, kalau ngomong di Bali,
08:51 di Bali ada banyak perusahaan DLTS asing, khususnya yang punya orang bule dari berbagai negara,
08:56 Sepanyol, Jepang, Jerman, Perancis, Itali juga ada semua itu, karena banyak bule di sini.
09:03 Mungkin yang membedakan kita, kita karena perusahaan lokal, kita PT, jadi kita perusahaan IJJ lengkap, sertifikasi lengkap.
09:09 Karena memang ini kan bisnis yang sebenarnya agak riskan, karena membuat energi kan kayak membuat api.
09:15 Jadi sertifikasi harus lengkap dari instalasi sampai K3, sampai TKB, sampai macam-macam situ,
09:22 dan juga mungkin kalau kita di Bali harganya kita bisa bilang nggak ada yang bersaing.
09:27 Maksudnya kalau dengan teman-teman perusahaan lain, kita bisa bilang harganya bisa bersaing dengan spesifikasi sama.
09:33 Kayak gitu sih. Kalau tadi harga, kalau rumah tangga mungkin sekitar 30-40 juta sih.
09:38 Oke, karena sesuai dengan visi-visi dari BTI sendiri, menginklusifkan layanan panel surya begitu ya ke masyarakat,
09:46 hingga yang retail begitu. Baik, Mas Erlangga, terima kasih sudah bergabung bersama kami.
09:52 Sukses untuk BTI Energi, sampai jumpa.
09:54 Terima kasih Mas Trisha.
09:58 Sebelum kita akhirin pemirsa, kami update kembali posisi dari Indeks Harga Saham Gabungan,
10:03 dan juga saham-saham yang masuk menjadi deretan saham Top Gainers pada pagi hari ini,
10:08 dan juga Losers, IHSG, masih dilandaksi profit taking kayaknya, tapi berusaha untuk tetap bertahan di 7.100,
10:15 dan saat ini menguat 0,04% di 7.103.
10:20 Betul, Top Gainers sejauh ini ada Telkom, BRPT, PTRO, PGO, KF, SGR, TPIA, GJTL, dan juga JSMR.
10:29 Ya, saham Telkom pemirsa menguat 1,56%, kemudian BRPT naik 10,95%, PTRO naik 20%,
10:37 Top Losers-nya ada Goto yang turun 2%, Apik turun 1,69%, juga ada Aman Mineral turun 1,5%,
10:45 Bank Mandiri, Antam, BTPS, dan beberapa saham lainnya, sesuai dengan update pukul 9 lebih 28 menit, waktu Indonesia Barat.
10:58 Dan pemirsa, sudah 90 menit kami menemani Anda dalam Power Breakfast.
11:02 Ya, semoga berbagai macam informasi hari ini dapat menjadi referensi dan sumber informasi untuk Anda,
11:06 tetap berbaru informasi Anda, hanya di AIDX Channel, Trustworthy and Comprehensive Investment Reference, saya Wiki Adrian.
11:12 Dan saya Prisa Somodhatu, sampai jumpa.
11:15 [Musik]
11:18 [Musik]
11:22 [Musik]
11:25 [Musik]
11:47 [Musik]
11:50 [Musik]
12:00 [Suara Siren]
12:10 [SUARA KOIN]
12:12 [SUARA RONIN]
Comments

Recommended