- 9 jam yang lalu
- #karhutla
- #ugm
- #mitigasibencana
KOMPAS.TV - Penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan dan Sumatera menjadi sorotan di tengah meluasnya dampak kebakaran dan kabut asap.
Untuk membahas penanganan karhutla lebih lanjut, simak pembahasannya bersama Pakar Mitigasi Kebencanaan Universitas Gadjah Mada (UGM), Dwikorita Karnawati.
#karhutla #ugm #mitigasibencana
Baca Juga FULL! Cerita Haru Relawan di Kalimantan Tengah Berjuang Padamkan Karhutla di https://www.kompas.tv/nasional/697768/full-cerita-haru-relawan-di-kalimantan-tengah-berjuang-padamkan-karhutla
Artikel ini bisa dilihat di : https://www.kompas.tv/nasional/697802/full-pakar-mitigasi-bencana-ugm-jelaskan-kendala-penanganan-karhutla-di-indonesia
Untuk membahas penanganan karhutla lebih lanjut, simak pembahasannya bersama Pakar Mitigasi Kebencanaan Universitas Gadjah Mada (UGM), Dwikorita Karnawati.
#karhutla #ugm #mitigasibencana
Baca Juga FULL! Cerita Haru Relawan di Kalimantan Tengah Berjuang Padamkan Karhutla di https://www.kompas.tv/nasional/697768/full-cerita-haru-relawan-di-kalimantan-tengah-berjuang-padamkan-karhutla
Artikel ini bisa dilihat di : https://www.kompas.tv/nasional/697802/full-pakar-mitigasi-bencana-ugm-jelaskan-kendala-penanganan-karhutla-di-indonesia
Kategori
🗞
BeritaTranskrip
00:00Untuk mengetahui penanganan karhutlah di Kalimantan dan Sumatera, kita terhubung dengan Dwi Korita Karnawati, pakar mitigasi kebencanaan UGM.
00:07Bu Rita, selamat sore.
00:11Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.
00:13Baik, waalaikumsalam.
00:14Bu Rita, saya ingin tanyakan, mengapa kebakaran di lahan gambut sangat sulit untuk dipadamkan Bu?
00:18Dan strategi apa yang sesungguhnya paling efektif untuk mencegah api kembali menyala di bawah permukaan tanah?
00:23Ya, jadi sebetulnya lahan gambut itu kan merupakan lahan yang terbentuk oleh tumpukan endapan bahan organik.
00:34Bahan organik atau material-material organik itu cirinya, pori-porinya itu sangat masif.
00:43Jadi lebih luas, lebih besar volume porinya daripada yang bukan pori.
00:48Sehingga apabila lahan ini kering, pori-pori itu kosong.
00:55Tidak ada air.
00:56Dan karena tumpukan gambut ini bisa puluhan meter atau lebih dari 10 meter,
01:02sehingga lahan kering kosong apabila tidak berisi air,
01:07dan kadang di situ juga terdapat kandungan gas metan.
01:11Itu tidak dibakar pun apabila terkena radiasi matahari,
01:18itu bisa tersulut.
01:19Dan sekali tersulut di permukaan, langsung merembet masuk ke dalam.
01:25Karena yang kosong itu juga dalam.
01:27Karena pori-pori organik itu tadi yang masif.
01:31Sehingga untuk aman, pertahankan kandungan air di dalam lahan gambut.
01:37Penuhilah isi pori-pori tersebut.
01:39Yang jadi persoalan adalah air itu apabila musim kemarau itu akan surut.
01:47Apalagi kalau sengaja dikeringkan, sengaja disurutkan.
01:52Tidak usah dikeringkan saja itu akan kering sendiri.
01:55Sehingga cara mencegah secara permanen itu bisa, sangat mudah.
02:01Asal kita ikhlas melakukan.
02:03Yaitu pertahankan muka air di dalam lahan gambut sejak musim hujan.
02:11Jadi kita kalau mengatasi setiap kemarau terbakar, itu sudah salah.
02:15Kita seakan-akan tidak pernah punya pengalaman.
02:18Dulu sudah ada badan restorasi gambut.
02:22Itu yang antara lain tugasnya menjaga, selalu memonitor, jangan sampai air itu surut.
02:29Suhunya dikendalikan.
02:31Itu secara permanen.
02:33Tidak musim kemarau pun tetap bekerja upaya itu.
02:36Sehingga solusinya harus permanen, tersistem, tidak hanya menunggu kemarau, terbakar lagi kemarau.
02:44Tidak. Jadi pertahankan ekosistem gambut itu secara permanen terutama menjaga kandungan atau kehadiran muka air di bawah lahan gambut tersebut.
02:56Demikian.
02:57Oke, salah satu upaya yaitu dengan mempertahankan kandungan air di lahan gambut.
03:02Dan salah satunya mungkin adalah dengan melakukan operasi modifikasi cuaca.
03:06Tapi tadi Burita mengatakan bahwa mempertahankan muka air ini sudah dilakukan seharusnya sejak musim penghujan.
03:12Sementara saat ini kita tahu musim kemarau. Apakah artinya sudah terlambat Bu untuk kemudian melakukan, mempertahankan kandungan air ini?
03:20Jadi sebetulnya pemerintah kita itu sudah tahu, sudah melakukan itu dengan badan restorasi gambut, sudah menjalankan itu.
03:27Namun saya tidak tahu kenapa sekarang menjadi berubah. Itu yang saya tidak paham.
03:33Oke. Dan ketika misalnya dilakukan operasi modifikasi cuaca, tentu harus juga melihat kumpulan awan dan lain sebagainya.
03:39Tapi apakah OMC ini akan efektif ketika dilakukan pada musim kemarau?
03:46Satu, musim kemarau itu sulit untuk mendapatkan awan-awan hujan.
03:50Modal utama operasi modifikasi cuaca adalah itu, mematangkan awan-awan hujan yang belum siap turun, dimatangkan, disemai, agar siap untuk
04:05turun.
04:06Persoalannya musim kemarau, apalagi El Nino, curah hujan sangat rendah, awan hujan sangat minim, kalau terjadi hujan pun gerimis.
04:16Dan padahal yang terbakar itu jauh ke dalam.
04:19Jadi sangat, sangat, aduh, saya tidak bisa komentar.
04:24Itu padahal kita semua sudah mengerti, itu harusnya sudah dimulai sejak tahun lalu.
04:30Akhir tahun lalu, bulan Desember.
04:33Iya.
04:33Waktu El Nino tahun 2023, itu pemerintah berupaya sejak Desember 2022.
04:41Dan pemerintah itu sudah mengerti itu.
04:44Kan waktu itu ada badan restorasi gambut, yang bekerja keras saat itu selain badan restorasi gambut,
04:50juga BMKG, BNPB, Kementerian Lingkungan Hidup, Pemerintah Daerah.
04:55Semua sudah sistemnya dijaga di bawah koordinasi Menko Polhukam.
05:00Dan Bapak Menko Polhukam, itu setiap awal tahun, itu sudah mengumpulkan seluruh jajaran Kementerian Lembaga
05:07untuk menyiapkan apa yang disampaikan BMKG, 6 bulan lagi akan terjadi di Kemarau dan ada PONTSI Karhutla.
05:17Kinerjanya itu sudah mulai 6 bulan sebelumnya, Pak.
05:19Oke, tapi kalau kita melihat pada kondisi saat ini, solusi untuk hari ini apa?
05:25Untuk kemudian betul-betul memadamkan Karhutla di negara kita?
05:28Nah, itu sudah dilakukan oleh BNPB ya, dengan BMKG, dengan dry ice, dry ice ya.
05:37Itu pada prinsipnya, sekarang kan atmosfer Indonesia ini kan tertutup kabut tebal
05:44yang mengakibatkan radiasi matahari sulit tembus.
05:49Dan itu akan menghambat proses evapotranspirasi pembentukan awan hujan.
05:55Sehingga dry ice itu intinya untuk meluruhkan kabut tebal tadi, agar terjadi celah, dan sehingga matahari bisa masuk, dan akan
06:06memicu siklus hidrologi lagi.
06:10Terjadilah awan-awan hujan.
06:11Itu saya rasa itu sudah tepat dilakukan.
06:15Demikian.
06:16Tapi dry ice ini apakah cukup efektif, Bu Rita, untuk kemudian betul-betul memadamkan Karhutla secara permanen?
06:23Kalau istilah permanen jelas sudah tidak ya.
06:26Permanen itu adalah pencegahan.
06:28Kalau sekarang ini kan bukan pencegahan, ini adalah pemadam kebakaran.
06:33Itu tidak bisa dilakukan permanen.
06:36Jadi kita sudah tidak akan bicara permanen kali ini.
06:39Tapi bagaimana rescue, menyelamatkan masyarakat yang sudah terpapar.
06:44Jadi segala cara, segala teknologi harus diterapkan, antara lain dry ice yang sudah dilakukan.
06:51BNPB, BNKG, saya rasa itu adalah salah satu langkah yang tepat ya.
06:57Dan upayakan cari solusi alternatif yang lain juga ya.
07:00Ada berbagai teknologi, saya yakin teman-teman di BNKG, BNPB itu bisa mengembangkan bersama BRIN.
07:10Demikian.
07:11Butuh waktu berapa lama, Bu Rita, untuk kemudian metode dry ice ini betul-betul tidak hanya meluruhkan kabut,
07:17tetapi juga mungkin saja membentuk awan sehingga akan ada hujan yang bisa saja kemudian memadamkan Karhutla?
07:25Terus terang ya, dengan dry ice ini selama 10 tahun terakhir, kita tidak pernah melakukan.
07:33Karena tidak pernah mengalami setebal ini.
07:39Jadi ini rekor.
07:40Sehingga terus terang kebetulan yang saya pernah terlibat 10 tahun terakhir, itu belum pernah ya.
07:49Tapi ini kan salah satu langkah terobosan ya, untuk mencari solusi di tengah-tengah sesuatu yang sudah terlanjur ya.
07:58Dan perlu waktu berapa lama tergantung ketebalan itu tadi, kabut asap yang sudah terakumulasi di atmosfer lapisan tengah dan atas.
08:08Semakin tebal, semakin tidak dicegah pembakarannya,
08:13atau terbakarnya semakin sulit dikendalikan,
08:18ketebalannya semakin bertambah,
08:19dan waktu untuk membocorkan kabut itu juga diperlukan lebih lama.
08:26Nah, namun semoga Allah ini menolong dengan masuknya musim hujan,
08:32semoga itu bisa mendorong kecepatan untuk mengatasi kabut asap tadi.
08:41Oke, pantauan burita sendiri, musim hujan ini kira-kira akan masuk di bulan apa Bu?
08:45Apakah November yang sebentar lagi akan datang, atau mungkin lebih lama lagi, mungkin di Desember?
08:51BMKG sudah mengumumkan ya,
08:54sebagian besar wilayah Indonesia itu mulai musim hujan di bulan,
08:59bahkan sudah mulai saat ini, sebagian wilayah Indonesia.
09:03Tapi puncaknya akan terjadi di prediksi BMKG di bulan Desember, Januari, Februari.
09:10Namun demikian, belum semua memasuki musim hujan.
09:15Misalnya di wilayah Indonesia bagian selatan yang dekat ke arah Australia,
09:20biasanya itu terlambat.
09:22Masih mengalami hari tanpa hujan lebih dari 100 hari.
09:26Jadi tidak serempak.
09:28Namun, beberapa wilayah juga sudah memasuki,
09:32sehingga ya suatu sinyal yang baik,
09:35meskipun ada harapan lah.
09:38Oke. Saya masih ingin membahas soal metode penanganan karhutlah.
09:42Tadi Ibu Rita sudah menjabarkan bagaimana efektivitas dari dry ice,
09:46tetapi juga ada sejumlah upaya, Bu.
09:48Dalam hal ini adalah mungkin saja seperti sistem pemantauan titik panas,
09:52ataupun hotspot, kemudian juga patroli lapangan,
09:54dan juga teknologi pemadaman dalam mencegah kebakaran berkembang menjadi bencana besar.
09:58Tetapi metode ini seberapa efektif sebenarnya untuk betul-betul bisa menangani karhutlah?
10:04Jadi kalau kita bicara permanen,
10:07tidak langsung ke titik panas.
10:10Permanen itu diawali dari observasi, monitoring.
10:16Dan itu sudah ada badan selama 2x5 tahun itu melakukan hal itu.
10:22Memonitor, memasang instrumen, internet of things, AI.
10:28Itu sudah pernah ada.
10:29Dan dari situ, meskipun tidak ada kebakaran, meskipun musim hujan,
10:34tetap dimonitor fluktuasi itu.
10:37Nah, kemudian apabila BMKG mengeluarkan perakhiran musim,
10:42diprediksi 3 bulan lagi akan musim kemarau, potensi karhutlah,
10:48itu sudah mulai diprediksi zona-zona mana yang akan mengalami karhutlah.
10:53Beberapa bulan sebelumnya,
10:55dan sudah mulai dilakukan upaya untuk membasahi lahan-lahan tersebut.
11:00Menjaga muka air tanahnya itu tetap stabil.
11:04Antara lain dengan modifikasi cuaca atau dengan cara yang lain.
11:07Nah, hotspot itu adalah sifatnya bukan prevention.
11:12Hotspot itu adalah kesiapsiagaan.
11:15Tahap yang lebih dekat ke arah bencana.
11:20Jadi kalau sudah ngomongin hotspot,
11:22itu berarti sudah menjelang suatu kebakar.
11:27Jadi itu adalah titik panas
11:30yang merupakan suatu zona di mana temperatur udaranya lebih tinggi daripada sekitarnya.
11:36Sehingga bisa menjadi deteksi dini.
11:40Bahwa lahan itu siap terbakar.
11:43Artinya kalau banyak hotspotnya,
11:46berarti potensi yang akan terbakar segera akan terjadi itu semakin luas.
11:54Sehingga itu sudah agak terlambat.
11:56Kalau kita mencegahnya berhasil,
11:59hotspotnya itu hampir tidak muncul.
12:02Jadi kalau kita sudah mengucapkan hotspot,
12:05berarti pencegahan kita agak lengah.
12:08Jadi kalau kita mencegahnya tersistem permanen,
12:12hotspot-hotspot itu munculnya sangat minim.
12:16Nah, namun ternyata masih muncul,
12:18maka dengan segera dilakukan upaya,
12:21dijaga tetap di area hotspot itu,
12:23jangan sampai ada yang membakar,
12:25kemudian lakukan penyiraman modifikasi cuaca,
12:29dikala awan hujan masih ada.
12:31Seperti itu.
12:33Patroli itu penting sekali untuk menjaga,
12:36jangan sampai sengaja dibakar.
12:38Karena pernah kami mengamati setiap tahun,
12:41kadang sebaran hotspot itu mengikuti batas wilayah administrasi.
12:46Mengikuti batas wilayah coupling.
12:51Alam kan tidak mengenal administrasi dan coupling.
12:54Sehingga kan dikhawatirkan ada kesengajaan.
12:57Itulah pentingnya patroli.
13:00Seperti itu.
13:02Oke, tadi sudah disampaikan beberapa hal ya,
13:04yang mungkin saya dilakukan oleh aparat,
13:07tetapi pertanyaannya,
13:08apa langkah konkret yang perlu dilakukan,
13:10Bu Rita, untuk melibatkan masyarakat lokal,
13:12termasuk juga masyarakat adat,
13:14dalam pencegahan dan penanggulangan karhutlah secara berkelanjutan?
13:18Itu penting sekali.
13:20Penting sekali.
13:21Dan hal itu sebetulnya sudah dilakukan oleh
13:24badan restorasi gambut dan mangrove waktu itu.
13:29Jadi, bersama masyarakat,
13:32membangkitkan rasa kepemilikan.
13:35Sebetulnya, mohon maaf ya,
13:38kalau masyarakat itu membakar,
13:40itu kan bagian dari adat ya.
13:43Untuk bukan adat apa,
13:44ke budaya maaf ya.
13:46Budaya untuk membersihkan lahannya.
13:49Dan skalanya itu tidak akan sangat luas.
13:55Namun tetap dilakukan edukasi, literasi,
14:00bagaimana membangun kebiasaan yang baru,
14:04cara membersihkan lahan dengan cara tidak membakar.
14:08Jadi, diperkenalkan teknologi-teknologi sederhana,
14:11dan itu sudah dilakukan sejak mungkin peristiwa 2015,
14:16itu memberikan pembelajaran bagi Indonesia,
14:20sehingga dibentuklah badan restorasi gambut.
14:23Dan akhirnya 2019 menjadi badan restorasi gambut dan mangrove.
14:27Dan di situ, secara permanen,
14:29seluruh aspek termasuk aspek kearifan lokal
14:32dengan masyarakat itu dilakukan.
14:34Tapi poinnya,
14:35masyarakat tetap harus ikut dilibatkan,
14:38dan memperkenalkan teknologi yang cukup nyaman,
14:42enak untuk pembersihan lahan.
14:45Jadi, tidak dengan membakar lahan.
14:48Itu saya rasa lebih kontrolabel
14:51untuk menyampaikan kepada masyarakat demikian.
14:54Oke, ada sejumlah pertanyaan yang akan kami dalami
14:57terkait dengan kendala penanganan karhutlah
14:59kepada Ibu Dwi Korita Kanawati.
15:01Tetapi, tahan dulu, Bu Rita.
15:02Kami akan kembali usai jeda.
15:04Tetaplah di Breaking News Kompas TV.
15:06Breaking News Kompas TV kami lanjutkan,
15:08Saudara.
15:09Kami masih bersama dengan Ibu Dwi Korita Kanawati,
15:11Pakar Mitigasi Kebencanaan UGM.
15:12Tadi, Bu Rita sempat menyinggung bahwa karhutlah yang terjadi pada tahun ini,
15:17asapnya lebih tebal.
15:19Jika dibandingkan dengan karhutlah di tahun-tahun sebelumnya,
15:21mungkin bisa Ibu gambarkan, Bu,
15:23perbedaan kondisinya sejauh apa sebenarnya?
15:27Jadi, kalau tahun-tahun sebelumnya,
15:30sebenarnya dulu kita pernah mengalami El Nino Kuat 2015-2016.
15:37Itu asapnya juga tebal.
15:40Cuma setahu saya tidak setebal sekarang.
15:43Oke.
15:44Waktu itu.
15:44Dan waktu itu,
15:46kita belajar bahwa ternyata hal itu bisa dicegah secara permanen.
15:51Maka dibentuklah badan restorasi gambut ya.
15:56Dan dilakukan monitoring,
15:58tidak menunggu terbakar,
15:59tidak menunggu hotspot.
16:01Itu.
16:02Sehingga poinnya adalah,
16:05semestinya,
16:06mekanisme untuk mencegah karhutlah itu bukan mekanisme insidental,
16:12mekanisme respons.
16:14Bukan.
16:14Tetapi mekanisme yang tersistem,
16:18terprogram secara permanen.
16:21Analohnya sebagai mekanisme penanggulangan bencana
16:25yang dikoordinasikan oleh BNPB.
16:28Tapi ini analog dengan itu,
16:30misalnya adalah pencegahan karhutlah
16:33dikoordinasikan oleh badan khusus
16:36yang pernah dibentuk masa lalu,
16:39seperti badan restorasi gambut dan mangrove.
16:44Sehingga,
16:44kalau itu dilakukan secara rutin,
16:48program rutin,
16:495 tahunan, 10 tahunan,
16:512-5 tahunan,
16:52kita di Indonesia nggak akan ngomongin hotspot.
16:55Hotspot pun tidak akan muncul.
16:57Kalau kita berhasil.
16:59Kalau sudah nyebut hotspot,
17:00berarti kita mulai gagal nih.
17:02Harusnya kalau berhasil,
17:04hotspot pun jangan boleh muncul.
17:06Caranya dicegah 6 bulan sebelumnya atau lebih
17:10dengan menjaga fluktuasi air di bawah tanah lahan gambut tadi.
17:16Sebenarnya teorinya itu sangat mudah.
17:19Tapi kemauan kita,
17:21keikhlasan kita untuk menjaga itu
17:23yang perlu banyak kompromi mungkin.
17:27Komitmen.
17:29Baik, saya ingin bahas soal,
17:30tadi yang disampaikan Bu Rita,
17:32soal pencegahan.
17:33Ketika memang pencegahannya sudah terjadi,
17:35tapi kita tahu saat ini bahwa karhutlah ini
17:38sudah berlangsung bahkan selama 4 bulan.
17:41Apakah ketika pencegahan itu dilakukan,
17:43sebenarnya durasi karhutlah ini bisa dipangkas,
17:46dikurangi, lebih singkat?
17:47Atau seperti apa sebenarnya, Bu Rita?
17:50Kalau kita berhasil mencegah,
17:52misalnya sebetulnya setiap tahun,
17:54BMKG itu kan mengeluarkan climate outlook.
17:57Di bulan Oktober ini,
17:59mestinya BMKG sudah mengeluarkan climate outlook.
18:01bagaimana gambaran umum iklim tahun depan.
18:06Nah, untuk karhutlah kali ini,
18:09mestinya sudah disampaikan BMKG di tahun 2025,
18:13melalui climate outlook.
18:15Bahwa ada trend terjadi El Nino,
18:18ada kemungkinan karhutlah di bulan ini,
18:20mulai Juni gitu ya.
18:22Kemudian climate outlook itu
18:23diteruskan dengan perakiraan musim.
18:27Nah, dengan demikian,
18:28dengan pengetahuan itu,
18:30kita bisa mulai mencegah karhutlah,
18:33misalnya untuk lokasi di Riau,
18:36itu karhutlahnya biasanya dua kali,
18:38Februari dan Juli.
18:41Nah, Desember tahun 2025,
18:43itu sudah melakukan pencegahan
18:46untuk mengendalikan muka air tanah di Riau.
18:50Bisa dengan modifikasi cuaca,
18:52bisa dengan cara yang lain.
18:53Dan Januari 2026,
18:58itu kita sudah bisa melakukan upaya
19:01untuk mencegah karhutlah di Juni.
19:04Jadi, pencegahannya itu bisa beberapa bulan,
19:08tergantung kondisi curah hujan
19:11saat bulan pencegahan tadi,
19:13dan kondisi muka air tanah di bawah lahan gambut.
19:17Jadi, itu suatu sistem yang dimonitor terus.
19:20Sistemnya sudah ada,
19:22alat-alatnya semua sudah ada.
19:24Tinggal dimonitor, dioperasikan.
19:27Dan itu nanti dimainkan.
19:28Wah, ini surut ini,
19:29berarti ini harus dibasahi lagi.
19:31Pembasahan bisa berbagai cara untuk pembasahan.
19:34Antara lain,
19:35kalau ada awan-awan hujan,
19:37bisa dengan modifikasi cuaca.
19:39Nah, kalau itu berjalan sepanjang bulan,
19:42kita sudah tidak menanyakan berapa bulan.
19:44Karena itu sudah rutin ya,
19:46sepanjang bulan berjalan.
19:48Nah, akhirnya,
19:49di saat El Nino terjadi,
19:51insya Allah,
19:53hotspot pun tidak akan terjadi.
19:55Karena...
19:56Karena basah, Bu, ya.
19:57Selalu basah.
19:59Iya.
19:59Jadi, kalau sampai bilang hotspot,
20:02wah, ini,
20:03waktu itu tolong ukur sukses upaya kita,
20:06berapa jumlah titik hotspot?
20:09Semakin banyak titik hotspot terjadi,
20:11berarti kita ini kurang sukses.
20:13Semakin sedikit,
20:15kita,
20:15wah, Alhamdulillah,
20:16terima kasih Allah, gitu ya.
20:18Padahal kita berupaya.
20:19Demikian waktu itu.
20:20Melihat kondisi saat ini,
20:22Bu Rita,
20:23dan kita tahu juga,
20:24pertengahan Oktober,
20:25Presiden juga sudah melantik
20:26Kepala Badan Pengelola Gambut
20:27dan Mangrove Nasional.
20:28Apa yang harus dilakukan oleh BPGMN
20:31untuk betul-betul bisa menangani
20:34karhutlah yang sampai saat ini masih terjadi?
20:38Nah,
20:39sebetulnya beliau yang dilantik itu
20:40sudah banyak sekali pengalamannya.
20:42Itu orang yang tepat, itu.
20:44Oke.
20:45Jadi,
20:46beliau sudah tahu ya,
20:48itu tadi bagaimana caranya
20:49agar menyelamatkan dulu
20:52kondisi saat ini,
20:53terutama yang tebal,
20:55itu lapisan,
20:56apa,
20:58itu asapnya ini ya,
20:59di atmosfer itu.
21:00Nah,
21:01antara lain dengan teknologi dry ice itu ya,
21:04bagaimana upaya untuk
21:07membuat proses evaporasi,
21:11evapotranspirasi pembentukan awan hujan
21:13bisa berjalan lancar.
21:16Apalagi sudah masuknya musim hujan.
21:19Antara lain itu,
21:20dan juga menjaga,
21:22terus memonitor,
21:23bagaimana,
21:24terutama mohon dicek lagi,
21:26itu peralatan yang sudah
21:27pernah dipasang bertahun-tahun,
21:29itu datanya mohon diselamatkan,
21:33karena data-data itu
21:34akan menjadi dasar
21:36keputusan strategi
21:39pencegahan berikutnya.
21:41Oke.
21:41Jadi itu selamatkan data-data itu,
21:44dan dari data-data itu,
21:46maka akan bisa disusun
21:48langkah-langkah secara teknis
21:51selanjutnya,
21:52dalam hal menjaga
21:53kestabilan
21:54kebasahan lahan gambut tadi.
21:57Oke.
21:57Antara lain itu,
21:58dan bagaimana
21:59koordinasi dengan berbagai
22:01kementerian lembaga
22:02dan para saintis.
22:04Di Indonesia ini,
22:06banyak loh saintis
22:07yang menguasai ilmu
22:08pergambutan ini.
22:10Itu,
22:10beliau-beliau itu
22:11sangat knowledgeable,
22:13dan saya yakin
22:15para ilmuwan tadi,
22:17mohon juga
22:18dijadikan bagian
22:20dari program,
22:22crash program,
22:24yang akan mendukung
22:26upaya solusi
22:28permanen.
22:29Permanen ya,
22:30ini kata penting,
22:31permanen.
22:32Permanen itu artinya,
22:33insya Allah,
22:33tahun-tahun depan
22:34sudah tidak akan terjadi
22:35semacam ini,
22:36meskipun ada
22:37elnino kuat misalnya.
22:38Seperti itu.
22:39Antara lain,
22:40beberapa hal tadi,
22:41terutama aspek
22:42pencegahan,
22:43kemudian harus
22:44end to end.
22:45Setelah pencegahan,
22:46maaf,
22:47saat membahas pencegahan,
22:49juga bagaimana
22:49upaya
22:50kesiap-siagaan
22:52yang harus disiapkan.
22:53Bagaimana upaya
22:54untuk membangun
22:55sistem peringatan dini
22:57yang inklusif,
22:59yang melibatkan
23:00berbagai pihak,
23:01terutama pihak swasta
23:02ini harus banyak terlibat.
23:05Kadang-kadang
23:06peran swasta ini
23:07kadang-kadang
23:07rasanya kok
23:09belum setimpal
23:10dengan benefit
23:10yang diperoleh
23:11oleh pihak swasta.
23:13Jadi,
23:13bagaimana
23:14perannya
23:16untuk mendukung
23:17keberhasilan ini
23:17juga perlu dilibatkan,
23:19tidak hanya masyarakat,
23:20seperti itu.
23:23Dan akhirnya
23:24jangan sampai
23:25terjadi
23:26sesuatu yang
23:28ini,
23:30respon semacam ini
23:31harusnya tidak terjadi.
23:32Kalau
23:33berhasil
23:35dalam tahap
23:35pencegahan
23:36dan
23:36mitigasi
23:38serta peringatan dini.
23:39Demikian.
23:40Oke,
23:40Bu Rita memiliki
23:41pengalaman yang cukup panjang
23:42dalam proses
23:43penanganan karhutlah.
23:44Saya ingin bicara
23:45soal dampaknya, Bu.
23:46Bagaimana dampak
23:47kabut asap ini
23:48yang tadi juga bahkan
23:49disebutkan oleh Bu Rita
23:49lebih tebal
23:50jika dibandingkan
23:51dengan tahun 2015,
23:53tahun 2016,
23:54akibat karhutlah
23:55terhadap
23:55kesehatan masyarakat,
23:56aktivitas pendidikan,
23:57transportasi,
23:58termasuk juga
23:59perekonomian warga,
24:00khususnya di Kalimantan
24:01dan Sumatera, Bu Rita.
24:03Ya, saya turut
24:05prihatin ya,
24:06dampaknya tentunya
24:07sangat
24:08mengganggu
24:09kesehatan
24:10kita,
24:11kesehatan
24:11masyarakat ya.
24:13Apalagi
24:13itu kan
24:14partikel
24:15PM 2,5 ya.
24:16Itu kalau
24:17masuk ke
24:18pernapasan ya.
24:19Itu juga
24:21semoga
24:22tidak
24:22mengakibatkan
24:23gangguan
24:24kesehatan
24:25permanen.
24:26Semoga
24:26tidak ya.
24:27Karena saya punya
24:27pengalaman
24:28teman saya itu
24:29mengalami
24:30ini akhirnya tidak
24:31tertolong.
24:32Nah, tapi semoga
24:33itu tidak terjadi.
24:34Kemudian bagi
24:35anak-anak,
24:36bagi ibu hamil,
24:38bagi janin
24:39yang saat
24:39dikandung ibu hamil.
24:41Nah, ini
24:42mestinya dari
24:42Kementerian Kesehatan
24:44memiliki data ya.
24:45Karena kita
24:45mengalami ini
24:46pernah tahun
24:472015-2016 ya.
24:50Meskipun
24:50tidak separah
24:51sekarang ya.
24:52Tapi
24:53pasti ada data
24:54juga.
24:55Nah, ini
24:55saya yakin
24:56Bapak Menteri Kesehatan
24:57kita lihat
24:58ya beliau
24:59sangat siaga ya.
25:01Menciagakan
25:03jajarannya
25:03dan rumah sakit-rumah sakit
25:05untuk segera
25:05menangani ya.
25:07Bahkan itu ada
25:07menggala akni
25:08sampai sesak
25:09nafas ya.
25:10Jadi dampak
25:11kesehatannya
25:12sudah sangat
25:13nyata
25:13seperti itu.
25:14Belum tahu
25:15bagaimana
25:16dampak itu
25:17berlanjut
25:18hingga
25:18artinya
25:19tidak langsung
25:20selesai karhuta
25:21lalu selesai dampaknya
25:22enggak.
25:22Namanya penyakit
25:23itu kan bisa
25:24berkembang lanjut
25:25ya dalam tubuh manusia.
25:27Nah, itu yang
25:27dikhawatirkan.
25:28belum lagi terhadap
25:29lingkungan, terhadap
25:30flora dan fauna.
25:32Flora hutan-hutan
25:33kita juga
25:34sudah
25:35hangus, terbakar
25:37dan pemulihanya
25:38kembali
25:39membutuhkan
25:39waktu yang tidak
25:40singkat.
25:41Dan
25:42kami khawatir
25:43dampak lanjutannya
25:45diikuti
25:46bencana
25:47ikutannya.
25:48Di mana
25:49banyak lahan terbakar,
25:50banyak
25:50kayu-kayu yang terbakar.
25:53Kami khawatir
25:54ini musim hujan.
25:55itu akan
25:57tersapu
25:57masuk ke sungai-sungai,
26:00menyumbat sungai-sungai,
26:02membendung air
26:02di dalam sungai-sungai,
26:04di hulu di atas,
26:05dan apabila
26:07bendung,
26:08kayu-kayu,
26:09onggokan-onggokan
26:10tadi
26:11terkena
26:12hujan lebat
26:13atau tiba-tiba
26:14siklontropis,
26:16hujan ekstrim,
26:18itu
26:18tumpukan itu
26:19akan jebol
26:20seperti
26:21bendung yang jebol,
26:22dan itu bisa
26:24mengakibatkan
26:25bencana lanjutan
26:26banjir bandang.
26:28Nah,
26:29jadi
26:29rentetannya itu
26:30panjang.
26:31Bukan berarti
26:32karhu telah bisa
26:32padam lalu selesai,
26:34yang terlanjur sakit
26:35bisa berlanjut
26:36sampai
26:36beberapa tahun.
26:38Ini para ahli
26:38kesehatan lebih paham,
26:40tapi yang terkait
26:41bencana
26:42itu bisa menjadi
26:43cascading
26:44atau turunan
26:45bencana berikutnya.
26:47Antara lain
26:47yang sudah
26:48perlu siaga
26:49kali ini,
26:50masuknya
26:51musim hujan,
26:51sisa-sisa
26:53terbakar itu
26:54bisa
26:55tersapu,
26:56hanyut,
26:56masuk ke
26:57alur-alur sungai.
27:00Membendung
27:00alur-alur sungai
27:01dan menjadi
27:02banjir bandang.
27:03Demikian.
27:03Oke, berdasarkan
27:04kondisi yang tadi
27:05Budita jelaskan,
27:05termasuk juga
27:06berdasarkan evaluasi
27:07penanganan karhuta
27:08selama ini.
27:08Kebijakan strategis
27:09apa Budita,
27:10yang harus menjadi
27:11prioritas pemerintah
27:11agar resiko
27:12kebakaran hutan
27:13dan lahan di
27:14Kalimantan dan
27:14Sumatera khususnya
27:15dapat didekan?
27:18Sebetulnya
27:18kita kalau mau
27:19jujur ya,
27:20isu kebakaran
27:21lahan ini
27:22kan sebetulnya
27:23sudah isu yang
27:24sering terjadi ya,
27:26meskipun kita
27:27berupaya untuk
27:28mencegah.
27:29Sehingga
27:30dulu kita
27:31isu bencana ya,
27:32tahun 2004
27:33itu tsunami ya,
27:35itu kan juga
27:36isu yang sangat
27:37memukul kita ya,
27:39dan dampaknya
27:40juga transboundary.
27:42Sehingga
27:42waktu itu
27:43mendorong
27:44lahirlah
27:45Undang-Undang
27:46Penanggulangan Bencana.
27:48Apakah tidak bisa
27:49diangkat
27:50betapa pentingnya
27:51karhutlah ini
27:52dampaknya juga
27:53transboundary,
27:54apakah tidak bisa
27:56ditetapkan
27:57suatu undang-undang
27:58pencegahan
27:59karhutlah.
28:01Badannya sudah
28:01dibentuk,
28:03tapi
28:03penegakan
28:04hukumnya ini kan
28:05harus permanen juga.
28:07Diatur dalam
28:08suatu undang-undang
28:09semacam itu,
28:10seperti Undang-Undang
28:11Penanggulan Bencana.
28:13Antara lain itu,
28:14tapi bukan satu-satunya.
28:15Dan nanti akhirnya
28:16dengan adanya
28:17badan ini,
28:18diharapkan
28:18melanjutkan.
28:19Jangan sampai
28:21melanjutkan
28:21legasi masa lalu
28:23itu sesuatu
28:24aib.
28:25Tidak.
28:26Sustainability,
28:28keberlanjutan,
28:29itu adalah
28:29keberlanjutan program.
28:31Jangan
28:32investasi
28:33dari nol lagi.
28:34Yang sudah
28:35ada di masa lalu,
28:36legasi masa lalu,
28:37itu harus
28:38kita
28:39teruskan
28:40karena terbukti
28:41sangat
28:42berarti
28:43dalam mencegah
28:44tidak terjadi
28:45karhu telah
28:46separah sekarang.
28:47Terutama
28:48instrumennya,
28:49alat-alatnya,
28:51data-data itu
28:52sudah terkumpul
28:53hampir 10 tahun.
28:55Data itu
28:56sesuatu yang
28:56sangat
28:57valuable,
28:59yang sangat
28:59penting untuk
29:00mendukung
29:02kebijakan
29:03berbasis
29:04data,
29:06berbasis
29:06evidence.
29:07Agar kebijakan
29:08kita
29:09tidak salah,
29:10agar
29:11tetap
29:11situ.
29:11jadi saya
29:13mohon
29:13badan ini
29:15juga
29:16jangan mulai
29:17dari nol lagi,
29:18tapi lanjutkan
29:19yang sudah
29:20pernah ada,
29:21tinggal
29:22mengembangkan,
29:22menginovasikan
29:23dengan teknologi-teknologi
29:26yang lebih canggih
29:27lagi.
29:28Demikian.
29:28Baik, terima kasih
29:29bakar mitigasi
29:30kebencanaan UGM.
29:31Ibu Dwi Korita
29:32Karnawati telah
29:33bergabung di
29:33Breaking News Kompas TV.
29:36Terima kasih.
29:37Terima kasih.