00:00Seekor kumbang berukuran sebesar jempol tangan mengangkat beban setara 8.500 kali berat tubuhnya sendiri.
00:07Bukan di laboratorium, bukan dengan alat bantu.
00:10Ini terjadi setiap malam ditumpukan daun dan batang pohon saat dua kumbang badak jantan saling menjatuhkan.
00:17Kalau ada manusia yang sanggup melakukan itu, dia bisa mengangkat truk kontainer penuh dengan satu tangan.
00:24Jadi bagaimana seekor kumbang bisa membangun mesin perang di kepalanya sendiri?
00:30Masalahnya begini, secara logika tanduk besar di kepala itu justru membebani kumbang.
00:36Makin besar tanduknya, makin berat tubuhnya, makin lambat geraknya, makin mudah dimangsah.
00:42Ini sudah jadi teka-teki ilama di kalangan peneliti serangga yang mengamati pertarungan kumbang badak di habitat aslinya.
00:49Dan ada satu sudut lengkungan pada pangkal tanduk yang sampai sekarang belum bisa dijelaskan mengapa harus 110 derajat dan bukan
00:57sudut lain.
00:58Sudah ada yang menjelaskan bentuk tanduknya, ada yang mengukur berat badannya, tapi angka yang satu itu masih menggantung tanpa jawaban.
01:08Masalah kedua, justru makin rumit kalau kamu lihat bahannya.
01:12Tanduk ini dibuat dari kitin.
01:14Kitin itu bahan dasar yang sama seperti cangkang serangga pada umumnya.
01:18Serat kitin di tanduk ini tersusun paralel seperti serat karbon pada bodi mobil balap.
01:23Tapi, kitin bukan baja.
01:26Kalau kamu pegang satu helai kitin kering, rasanya ringkih, seperti keripik yang gampang patah.
01:31Padahal tanduk kumbang badak dipakai untuk mendorong lawannya keluar dari cabang pohon.
01:38Menurut perkiraan para peneliti, dorongan yang harus ditahan tanduk itu bisa setara dengan menahan dorongan dua orang dewasa yang mendorong
01:46dari sisi berlawanan.
01:48Nah, disinilah keajaiban sebenarnya mulai terbuka.
01:52Tanduk ini bukan satu bongkah kitin yang solid.
01:55Tanduk ini punya banyak lapisan.
01:57Bukan cuma dua atau tiga lapis.
01:59Tapi puluhan lapisan tipis kitin yang saling bertumpuk dengan arah serat yang berbeda-beda.
02:05Kalau kamu pernah melihat kayu lapis atau plywood, kamu tahu bentuknya?
02:10Serat lapisan satu searah dari kiri ke kanan.
02:13Serat lapisan berikutnya searah dari atas ke bawah.
02:16Pola itu menyilang bergantian seperti anyaman.
02:20Dan pola menyilang inilah yang bikin tanduk tahan terhadap tekanan dari hampir semua arah.
02:25Kayu lapis yang tipis saja sudah jadi bahan andalan untuk melapisi bagian bawah kapal selama berabad-abad.
02:32Tapi tanduk kumbang badak melakukannya di skala mikroskopis dengan lapisan yang jauh lebih tipis dan jauh lebih rapat.
02:41Tapi lapisan itu baru sebagian cerita.
02:43Di bawah mikroskop elektron, peneliti menemukan bahwa setiap lapisan kitin punya ketebalan sekitar 1 sampai 3 mikrometer.
02:51Untuk bayangan, selai rambut manusia punya ketebalan sekitar 70 mikrometer.
02:57Jadi satu helai rambut-kambut itu setara dengan puluhan lapisan tanduk kumbang.
03:03Lapisan-lapisan yang sangat tipis itu menyimpan pori-pori mikroskopis di antara seratnya.
03:08Dan pori-pori itu bukan kecacatan.
03:11Pori-pori itu justru jadi peredam kejut alami.
03:14Ketika kumbang badak menanduk lawannya dengan dorongan mendadak, lapisan-lapisan itu bergeser sedikit satu sama lain.
03:22Geseran sekecil itu menyerap energi benturan seperti suspensi mobil yang meredam gonjangan jalanan berlubang.
03:29Hasilnya, tanduk tidak retak atau patah meski terkena, hentakan berulang kali.
03:35Sekarang soal bentuknya, tanduk ini tidak lurus ke atas.
03:38Tanduk ini melengkung ke depan membentuk huruf verbalik dengan sudut kira-kira 110 derajat di pangkalnya.
03:46Sudut itu bikin kumbang badak bisa mengaitkan tanduknya di bawah tubuh lawan lalu mengangkat ke atas.
03:53Prinsipnya persis seperti capit pengangkat bat barang di pelabuhan.
03:56Kalau capit itu terlalu lebar, barangnya lepas.
04:00Kalau terlalu sempit, barangnya tidak masuk.
04:03Dan 110 derajat ternyata posisi yang pas untuk menangkap lebar tubuh kumbang lawan.
04:09Peneliti yang mengamati puluhan pertarungan mencatat pola yang konsisten.
04:14Pemenang, pertarungan hampir selalu adalah kumbang yang lebih dulu berhasil mengaitkan tanduk di bawah lawan.
04:21Kecepatan mengangkat juga penting.
04:23Kumbang badak bisa mengangkat lawannya dalam waktu kurang dari satu detik.
04:28Lawan yang terangkat kehilangan pijakan dan jatuh ke bawah.
04:33Dan disinilah cerita ini berubah dari soal serangga menjadi soal masa depan teknologi.
04:38Seorang peneliti bernama Isamu Okumura dari Universitas Tokyo menjadikan tanduk kumbang badak sebagai obyek studi.
04:46Ia dan timnya memindai struktur tanduk itu lalu membandingkannya dengan desain lengan robot yang selama ini dibuat dari logam solid.
04:54Ternyata pola lapisan kitin yang menyilang itu jauh lebih efisien.
04:59Satu lengan robot yang mengikuti pola tanduk kumbang badak bisa dibuat 60% lebih ringan sambil tetap menahan tekanan yang
05:07sama.
05:08Sekarang laboratorium robotika di Jepang dan Eropa mulai memasukkan konsep lapisan kitin menyilang ini ke dalam materi prototip lengan untuk
05:17lini produksi pabrik.
05:19Jadi bukan cuma kumbang yang menang pertarungan.
05:22Tapi para insinyur juga mengambil pelajaran dari pertarungan itu.
05:26Kumbang badak dengan tanduk di kepalanya yang menahan 8.500 kali berat tubuhnya mengubah cara kita memikirkan kekuatan sebuah bahan.
05:36Satu pertanyaan yang masih menggantung, kenapa sudut pangkal tanduk harus 110 derajat dan bukan 100 atau 120?
05:45Sampai hari ini belum ada yang bisa menjelaskan angka itu secara pasti.
05:49Kalau kamu punya teori sendiri, tulis di komentar-tulis di komentar sudut berapa menurutmu yang paling ideal untuk menangkap lawan.
05:57Terima kasih sudah menonton sampai habis.
06:00Tekan like kalau cerita ini bikin kamu lihat serangga dengan cara berbeda dan subscribe biar tidak ketinggalan pembahasan berikutnya.
06:08Sampai ketemu lagi.