Lewati ke pemutarLewatkan ke konten utama
PALANGKA RAYA, KOMPAS.TV - Kebakaran hutan dan lahan di sejumlah wilayah Sumatera dan Kalimantan hingga kini belum tuntas. Api kembali menyala di lahan gambut dan semak kering di Jalan Trans Kalimantan.

Di tengah api yang cepat merambat, para relawan berjuang melakukan pemadaman dengan peralatan seadanya demi mencegah api mendekati permukiman warga.

Dampak karhutla tak berhenti pada lahan yang terbakar. Kabut asap dan penurunan kualitas udara juga mengancam kesehatan serta mengganggu aktivitas pendidikan.

Hari Minggu (11/10/2026) kemarin, kebakaran kembali terjadi di sekitar kampus Universitas Islam Kalimantan Muhammad Arsyad Al Banjari atau Uniska.

Pihak kampus pun mempertimbangkan pengurangan jam pembelajaran sebagai langkah antisipasi terhadap risiko gangguan kesehatan akibat asap.

Di Jambi, karhutla yang berlarut-larut juga memicu mahasiswa turun ke jalan, menuntut pemerintah provinsi segera bertindak dan membuka informasi secara transparan terkait kepemilikan lahan yang terbakar.

Desakan untuk bertemu langsung dengan gubernur berujung pada aksi penerobosan gerbang kantor Gubernur Jambi.

Mahasiswa menuntut penanganan yang lebih serius, termasuk kejelasan tanggung jawab dan langkah konkret pemerintah dalam mengatasi karhutla.

Soal penanganan karhutla, pemerintah belum menetapkan sebagai bencana nasional. Menko Polkam Dudung Abdurachman menilai situasi masih dapat diatasi.

Publik kini menunggu langkah yang mampu menghentikan kebakaran lahan. Asap kebakaran lahan hingga hari ini membuat aktivitas dan kondisi kesehatan masyarakat terganggu.

Untuk informasi terkini, kita bergabung dengan Jurnalis KompasTV, Kurnia Tarigan.

Baca Juga Lahan Gambut Terbakar Lagi, Begini Pantauan Udara Kabut Asap di Palangka Raya | KOMPAS PETANG di https://www.kompas.tv/regional/695795/lahan-gambut-terbakar-lagi-begini-pantauan-udara-kabut-asap-di-palangka-raya-kompas-petang

#karhutla #palangkaraya #kebakaran

_

Sahabat KompasTV, apa pendapat kalian soal berita ini? Komentar di bawah ya!



Artikel ini bisa dilihat di : https://www.kompas.tv/regional/695797/karhutla-dekati-kampus-uniska-hingga-situasi-kebakaran-lahan-gambut-di-palangka-raya-kompas-petang
Transkrip
00:05Kepakaran hutan dan lahan di sejumlah wilayah Sumatera dan Kalimantan hingga kini belum tuntas.
00:12Api kembali menyala di lahan gambut dan semak kering di jalan Trans Kalimantan.
00:16Di tengah api yang cepat merambat, para relawan berjuang melakukan pemadaman dengan peralatan seadanya.
00:23Demi mencegah, api mendekati permukiman warga.
00:27Takutnya bang menyebar ke dekat pemukiman, sini kan dekat rumah bang ada pemukiman orang.
00:33Makanya kami lakukan pemadaman dengan cara di pukul-pukul dulu bang.
00:37Bantuan buat relawan-relawan, kayak ini safety mungkin bang, safety buat relawan.
00:44Dampak karhutlah tidak berhenti pada lahan yang terbakar.
00:48Kabut asap dan penurunan kualitas udara juga mengancam kesehatan serta mengganggu aktivitas pendidikan.
00:54Hari minggu kemarin, kebakaran kembali terjadi di sekitar kampus Universitas Islam Kalimantan Muhammad Arsyad Al-Banjari atau UNISCA.
01:04Pihak kampus pun mempertimbangkan pengurangan jam pelajaran sebagai langkah antisipasi terhadap risiko gangguan kesehatan akibat asap.
01:12Rencana untuk mengurangi jam belajar yang akan di, apa namanya, kami rencanakan.
01:19Cuma ini menunggu instruksi dari Bapak Rektor.
01:22Kesehatan, terutama banyak sudah, apa namanya, masyarakat yang terpapar ISPA, terutama anak sekolah, ya kan.
01:29Nah, kita juga tidak menginginkan maswa kita, apa namanya, terpapar, apa namanya, ISPA di UNISCA.
01:36Di Jambi, karhutlah yang berlarut-larut juga memicu mahasiswa turun ke jalan, menuntut pemerintah provinsi segera bertindak dan membuka informasi
01:48secara transparan terkait kepemilikan lahan yang terbakar.
01:52Desakan untuk bertemu langsung dengan gubernur berujung pada aksi penerobosan gerbang kantor gubernur Jambi.
01:59Mahasiswa menuntut penanganan yang lebih serius, termasuk kejelasan tanggung jawab dan langkah konkret pemerintah dalam mengatasi karhutlah.
02:08Soal penanganan karhutlah, pemerintah belum menetapkan sebagai bencana nasional.
02:13Menko Polkam, Dudung Abdurrahman menilai, situasi masih dapat diatasi.
02:18Akan ditetapkan sebagai bencana nasional, Pak?
02:21Belum, masih mampu.
02:23Ada ya tanggapan dari negara lain masalah kebakaran hutan ini, tetapi kita sudah maksimal.
02:32Mudah-mudahan ini bisa segera dilaksanakan.
02:36Publik ini menunggu langkah yang mampu menghentikan kebakaran lahan.
02:40Asap kebakaran lahan hingga hari ini membuat aktivitas dan kondisi kesehatan masyarakat terganggu.
02:55Untuk informasi terkini, kita bergabung dengan jurnalis Kompas TV, Kurnia Tarigan.
03:00Kurnia, apakah betul api kembali muncul di sejumlah titik di sana?
03:06Ya selamat sore, Sindi dan saudara.
03:09Saat ini saya tengah berada di lahan yang baru saja terbakar.
03:16Sejak pagi tadi terpantau di lahan ini kembali menyala api.
03:22Namun informasi yang kami terima dari warga bahwasannya lahan ini sudah tiga hari lamanya terbakar.
03:28Hingga kini masih belum bisa diupayakan untuk pemadaman secara maksimal.
03:34Kencangnya tiupan angin membuat api tadi dengan cepat membesar menjalar ke lahan-lahan yang ada di sekitarnya.
03:41Namun bisa kita lihat saat ini, Sindi, api terlihat sudah padam di permukaan.
03:48Namun kalau kita lihat kepulan asap dari bara api yang berada dalam lapisan gambut,
03:57mungkin sedikit kami akan mendekat.
04:00Namun kami tidak berani terlalu jauh sampai ke sana.
04:03Kami mencoba tadi di sini.
04:05Masih sangat terasa panas.
04:08Kita bisa lihat bagaimana kepulan asap yang keluar dari dalam lapisan gambut,
04:14bara api masih terus menyala.
04:17Dan saat ini petugas dari kepolisian dan relawan
04:21terus masih berupaya untuk melakukan upaya pemadaman secara maksimal sampai ke dalam lapisan gambut.
04:28Namun minimnya sumber air membuat petugas kewalahan untuk bisa melakukan upaya pemadaman secara maksimal.
04:36Sehingga beberapa kali petugas harus kembali mencari sumber air.
04:42Sementara saat ditinggalkan api kembali dengan cepat membesar dan menyebar ke lahan yang di sekitarnya, Sindi.
04:50Kalau gitu bagaimana dengan adanya kendala susahnya sumber air?
04:54Apa solusi yang dilakukan oleh petugas gabungan di sana?
05:00Ya seperti saat ini yang kami lihat bahwasannya jajaran kepolisian
05:04menggunakan cairan khusus yang dicampur dengan air yang disebut expire.
05:11Menurut beberapa kali hasil uji coba yang dilakukan pihak kepolisian,
05:16cairan ini mampu untuk melakukan upaya pemadaman sampai ke dasar atau ke dalam lapisan gambut.
05:23Sehingga bara api yang berada di dalam lapisan gambut bisa dipadamkan untuk tidak kembali menyala, Sindi.
05:30Baik, Jurnalis Kompas TV, Kurnia Tarigan, terima kasih atas laporan Anda.
05:34Tetap jaga keselamatan dan jaga kesehatan juga. Terima kasih.
05:37Terima kasih atas laporan Anda.

Dianjurkan