00:02Di tanah Delhi, seorang haji menjaga yang lemat
00:06dari mereka yang hidup dari darah dan rampasan.
00:31Senja itu, kampung besar Hamparan Perak,
00:35para kuli kontrak berjalan beriringan memikul karung-karung rempah
00:38hasil bumi dari perkebunan Komplanda di Hamparan Perak.
00:42Hasil bumi itu dimuat di grobak-grobak kerbau.
00:46Mereka mengangkutnya menuju stasiun kereta api
00:48sebelum berlayar dari bandar Belawan ke kapal-kapal kompeni.
00:52Dari kejauhan, sungai Belawan mengalir tenang
00:54membelah daratan Hamparan Perak sebelum bersatu dengan laut.
00:57Di sinilah jalur perdagangan yang menjadi urat nadi kekuasaan kompeni di tanah Delhi.
01:02Malam tiba, sebuah surau sederhana di kampung Hamparan Perak
01:05bercahaya lampu minyak.
01:07Malam itu, para sesepuh dan pemuda berkumpul ada pengajian.
01:12Di dalam surau berkumpul para kalifah, sesepuh kampung,
01:15dan pemuda-pemuda Hamparan Perak.
01:17Cahaya lampu minyak yang remang menyinari wajah-wajah yang hadir dengan sabar.
01:22Di salah satu sudut surau, duduk seorang lelaki muda berseragam hitam.
01:26Peci hitam, sarung kelabu, rahang keteguhan yang dalam.
01:30Dialah Haji Usman.
01:32Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.
01:34Malam ini kita kedatangan saudara dari Jawa.
01:37Namanya Haji Usman.
01:38Seorang kiai yang sedang dalam perjalanan dan mampir ke surau kita.
01:41Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.
01:43Saya bersyukur dapat bersilaturahmi dengan para sesepuh dan pemuda Hamparan Perak.
01:48Alhamdulillah, saya bisa ikut pengajian malam ini.
01:50Saya melihat kompeni tidak lagi sekadar berdagak dengan upah yang kecil.
01:55Tampak membantu, namun sesungguhnya keuntungan terbesar mengalir ke tangan mereka.
02:00Ucapan itu mengubah suasana surau seketika.
02:04Beberapa pemuda saling berpandangan.
02:06Ada yang mengangguk pelan, ada pula yang terlihat cemas.
02:10Pelankan suaramu, kiai.
02:12Hati-hati.
02:13Kompeni punya banyak mata dan telinga.
02:16Hubungan mereka dengan istana pun dekat.
02:18Perkataan seperti itu sangat berbahaya.
02:21Maafkan saya, wak sesepuh.
02:23Saya tidak bermaksud menyinggung pihak manapun.
02:26Saya hanya menyampaikan apa yang saya lihat sepanjang perjalanan.
02:30Tetapi ucapan seperti itu bisa membuat kiai ditangkap.
02:41Jika yang disampaikan adalah kebenaran,
02:44apakah Kompeni tidak tahu bahwa Tanah Deli masih memiliki orang-orang yang berani yang berdiri untuk kebenaran?
02:50Ucapan Haji Usman membungkam semua orang.
02:53Beberapa menundukkan kepala.
02:56Seolah ada beban besar yang tiba-tiba jatuh di tengah ruangan.
03:00Kiai itu masih muda, tapi sangat berani.
03:03Apa dia tidak takut ditangkap Kompeni?
03:05Berani memang.
03:07Kita semua melihatnya sendiri.
03:09Ssss, jaga lidahmu!
03:10Di luar surau, malam semakin larut.
03:13Angin berembus menerpa daun-daun nipah.
03:15Kata-kata Haji Usman seolah masih menggantung di udara.
03:18Menembus hati setiap orang yang hadir.
03:25Tanah Deli sedang menuju sebuah peristiwa besar.
03:30Malam terus berjalan.
03:32Bulan muncul di sela-sela awan kelabu.
03:34Satu persatu warga pulang ke rumah masing-masing.
03:37Namun tak orang menyadari bahwa malam itu mungkin menjadi awal dari perubahan yang kelak mengguncang Tanah Deli.
03:44Pagi di pinggir hutan Deli Tua.
03:48Gerobak lembu tua merayap di atas jalan tanah merah berdebu.
03:55Di Simpang menuju kampung persatuan,
03:58tiga pemuda Tionghoa berkulit coklat memanggul cangkul,
04:01melintas di bawah papan nama kampung.
04:06Mereka Tionghoa, Wak.
04:08Kuli kontrak juga.
04:09Penduduk Dusun Kek.
04:11Kulit mereka coklat karena lama kena matahari.
04:15Selain Dusun Kek, ada dusun lain, Wak.
04:17Banyak.
04:18Kampung persatuan di Huni Melayu, Bali, Banten, dan Tionghoa.
04:22Hidup berdampingan.
04:24Pantas namanya kampung persatuan.
04:27Yang memberi nama pasti orang hebat.
04:29Dia dulu komandan perang pasukan Cina suku Kek yang mendarat di Deli.
04:35Gerobak masuk ke jalan hutan yang rimbun.
04:38Pohon-pohon besar menjulang.
04:41Suasana berubah teduh dan temaram.
04:48Nak haji ke Tanah Batak.
04:50Nggak jumpa sanak sodara.
04:51Iya, Wak.
04:52Mereka mengadu nasib di sana.
04:55Wak pernah dengar hutan laras.
04:58Laras?
04:59Perkebunan baru kompeni.
05:01Dulu, mendekat saja tak ada yang berani.
05:04Memang kenapa hutan itu, Wak?
05:06Ada demitnya.
05:08Laras itu angker.
05:10Di dalamnya ada kerajaan bunian.
05:13Makhluk gaib.
05:14Bunian?
05:15Makhluk apa itu?
05:16Ada demitnya.
05:17Wujudnya seperti kita.
05:19Tapi rajanya bermata satu.
05:21Dikening.
05:23Ah, sudahlah.
05:24Konon, hutan laras yang penuh kisah mistis itu,
05:28berhasil dibuka dada seorang perantau Jawa bernama Surak.
05:32Kini mandor besar di sana.
05:35Wak pernah dengar perantau Jawa bernama Surak?
05:40Surak?
05:42Kalau Surak dari Tasik Malaya yang jago berkelahi,
05:46dialah orangnya.
05:48Jadi, nak haji kerabatnya?
05:51Iya, Wak.
05:57Celaka kita, nak.
05:59Itu rampok ganas perbaungan.
06:03Itu badar dan peang.
06:06Perampok paling ditakuti.
06:08Bekas prajurit Sisinga Mangaraja yang diburu kompeni.
06:16Aku lihat ke sana dulu, Wak.
06:18Wak Karmin hanya terpaku saat pemuda itu lenyap di balik pepohonan.
06:25Jika kalian prajurit hebat,
06:27kenapa habisi orang yang sudah tak berdaya?
06:34Bah!
06:35Tikus dari mana ini?
06:37Mau mati kau, ha?
06:42Soal mati, urusan Allah.
06:45Pengikut Sisinga Mangaraja
06:47mestinya malu mengeroyok yang tak berdaya.
07:08Beang bangkit melolong seperti monyet melompat ke dahah.
07:16Serbuk racun monyet putih.
07:22Sergapan angin membalik racun ke wajah pemilik kaknya.
07:38Badar mengamuk,
07:39para seraksasanya membelah udara merobohkan pohon besar.
07:48Pantek Bumi
07:52Allahu Akbar!
08:15Belasan anak buah menyeru,
08:18satu hentalkan kaki,
08:20semua rubuk tak berdaya.
08:28Air ini menawar racun monyet putih.
08:31Basuh wajahmu.
08:37Abang tahu nama racunku.
08:40Abang siapa sebenarnya?
08:43Kau juga.
08:45Kutepuk punggungmu.
08:46Tahan.
08:47Sedikit sakit.
08:50Atur napasmu.
08:54Sekali lagi haji menghentak bumi.
08:57Anak buah badar pulih,
08:58tapi tak satu pun berani bangkit.
09:02Kalian punya kepandayan.
09:05Carilah kerja bermartabat.
09:07Bukan jadi penjilat kompeni.
09:09Hari ini kalian selamat.
09:10Pergilah.
09:18Apakah kalian murid Datuk Raja Siluman?
09:22Tobat, Abang!
09:23Ampun, kami kapok.
09:26Iya, kami murid Tuan Datuk.
09:32Mulai hari ini,
09:34jangan bunuh orang di tak berdaya.
09:37Jangan ganggu pedagang pribumi.
09:39Iya, kami menuruti, Abang.
09:42Siapa sebenarnya, Abang?
09:49Saya, Haji Usman.
09:56Kumpulkan tiga bulan lagi.
09:58Temui aku di puncak Bukit Barisan.
10:01Pagi di kampung Laras.
10:03Gedung perwakilan kompeni Belanda
10:06berdiri kokoh di tanah tinggi
10:09menghadap hamparan perkebunan.
10:12Aku puas.
10:14Kompeni itu menepati janji.
10:16Menantuku surak kini mandor besar.
10:19Perkebunan Laras di bawah pengawasannya.
10:23Tenang aku sekarang.
10:25Sarmina pasti bahagia.
10:27Hidupnya tak susah lagi.
10:29Suaminya mandor besar.
10:31Si Parjo,
10:33mau apa tergesa-gesa begitu?
10:36Ah, paling urusan kerja.
10:39Biarkan saja.
10:41Sebuah kereta kuda berhenti.
10:44Sekali lagi,
10:46Sarman menatap surak,
10:47lalu pergi menyusuri jalan tanah merah.
10:52Di tanah tinggi,
10:53di bawah pohon besar tepi perkebunan,
10:56mandor surak mengawasi pekerja.
10:59Parjo datang,
11:00membawa pesan.
11:02Haji Usman sudah di tanah batak, Kang.
11:04Sepertinya langsung ke markas Sri Kandi.
11:12Telik Sandi membisiki.
11:14Kompeni dipusingkan begal sungai ular.
11:17Mereka kini berani merampok gerobak rempah kompeni.
11:25Sejak pemimpinnya dikalahkan Haji Usman,
11:28mereka jadi ganas.
11:29Mungkin ada campur tangan Haji Usman.
11:36Maksud Kang Surak,
11:38Haji Usman yang memerintah mereka?
11:42Belum tahu pasti.
11:44Dulu mereka takut kompeni.
11:47Ah, sudahlah.
11:48Toh mereka sejalan dengan kita.
11:55Eh, Joe.
11:57Kau pernah bertemu perempuan berselubung kain di hutan laras?
12:01Beberapa kali, Kang.
12:03Menyapa pun tidak.
12:05Aku curiga anggota Laskar Sri Kandi.
12:08Mereka bawa panah,
12:09wajahnya tertutup kain.
12:12Ada yang kau lihat memegang belati?
12:15Tidak, Kang.
12:17Mereka cuma berhenti,
12:18menatapku,
12:19lalu masuk hutan.
12:21Laskar Sri Kandi yang kutahu,
12:24senjatanya belati kecil,
12:26persis mata panah.
12:28Apalagi yang Misam Sam sampaikan, Joe.
12:32Laskar Sri Kandi menyusup ke rumah keluarga kompeni.
12:36Jadi pengurus rumah dan tukang masak.
12:39Sebagian masuk tangsi militer.
12:44Kompeni sedang memperketat pengamanan,
12:47menyebar mata-mata.
12:48Sampaikan ke Misam agar lebih berhati-hati.
12:55Bisa jadi kabar Haji Usman sudah sampai ke kompeni.
12:58Mereka akan sebar pendekar bayaran untuk menangkapnya.
13:03Kalau begitu,
13:05bahaya bagi Laskar Sri Kandi di rumah-rumah kompeni.
13:09Imbasnya pasti ada.
13:12Temui Misam, Joe.
13:14Sampaikan ini,
13:15agar dia dan kawan-kawannya berhati-hati.
13:19Siap, Kang.
13:22Senja turun,
13:24gelap menyelimuti hutan laras.
13:26Parjo lenyap di antara pepohonan,
13:28membawa pesan yang menentukan nasib tanah Batak.
13:36Terima kasih.