Lewati ke pemutarLewatkan ke konten utama
🎬 HAJI USMAN - Episode 1 (Full, gabungan Eps 1, 2 & 3)
Genre: Sinema Kolosal — Silat, Sejarah, Perjuangan

Di tanah Deli era Kompeni Belanda, seorang kiai pengembara dari Jawa bernama Haji Usman singgah di sebuah surau di Hamparan Perak. Di balik penampilannya yang sederhana, tersimpan ilmu silat tingkat tinggi dan keberanian menentang kesewenang-wenangan Kompeni secara terang-terangan.

Perjalanannya ke Tanah Batak mempertemukannya dengan kawanan rampok ganas pimpinan Badar dan Peang — bekas prajurit Sisingamangaraja yang kini diburu Kompeni. Namun bukan pertumpahan darah yang terjadi, melainkan awal dari sebuah aliansi rahasia.

Sementara itu, Mandor Surak — menantu tuan tanah yang bekerja untuk Kompeni — mulai mencium gerak-gerik mencurigakan dan menyadari bahwa kehadiran Haji Usman di Tanah Batak bisa jadi berkaitan dengan gerakan perlawanan bawah tanah, Laskar Srikandi.

Yang akan kamu saksikan di episode ini:
✅ Perdebatan tegang Haji Usman dengan sesepuh kampung soal bahaya melawan Kompeni
✅ Duel silat Haji Usman melawan Badar & Peang, dua rampok paling ditakuti di hutan Deli Tua
✅ Ilmu-ilmu langka: Ajian Pantek Bumi hingga Delapan Tapak Naga
✅ Awal terungkapnya jaringan rahasia Laskar Srikandi dan kecurigaan Mandor Surak

Follow & nyalakan lonceng biar nggak ketinggalan Episode 2!
Tulis pendapatmu di kolom komentar — menurut kamu, siapa sebenarnya Haji Usman?

#HajiUsman #SinemaKolosal #CeritaSilat #DramaSilat #KisahPejuang #TanahDeli #SilatIndonesia
Transkrip
00:02Di tanah Delhi, seorang haji menjaga yang lemat
00:06dari mereka yang hidup dari darah dan rampasan.
00:31Senja itu, kampung besar Hamparan Perak,
00:35para kuli kontrak berjalan beriringan memikul karung-karung rempah
00:38hasil bumi dari perkebunan Komplanda di Hamparan Perak.
00:42Hasil bumi itu dimuat di grobak-grobak kerbau.
00:46Mereka mengangkutnya menuju stasiun kereta api
00:48sebelum berlayar dari bandar Belawan ke kapal-kapal kompeni.
00:52Dari kejauhan, sungai Belawan mengalir tenang
00:54membelah daratan Hamparan Perak sebelum bersatu dengan laut.
00:57Di sinilah jalur perdagangan yang menjadi urat nadi kekuasaan kompeni di tanah Delhi.
01:02Malam tiba, sebuah surau sederhana di kampung Hamparan Perak
01:05bercahaya lampu minyak.
01:07Malam itu, para sesepuh dan pemuda berkumpul ada pengajian.
01:12Di dalam surau berkumpul para kalifah, sesepuh kampung,
01:15dan pemuda-pemuda Hamparan Perak.
01:17Cahaya lampu minyak yang remang menyinari wajah-wajah yang hadir dengan sabar.
01:22Di salah satu sudut surau, duduk seorang lelaki muda berseragam hitam.
01:26Peci hitam, sarung kelabu, rahang keteguhan yang dalam.
01:30Dialah Haji Usman.
01:32Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.
01:34Malam ini kita kedatangan saudara dari Jawa.
01:37Namanya Haji Usman.
01:38Seorang kiai yang sedang dalam perjalanan dan mampir ke surau kita.
01:41Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.
01:43Saya bersyukur dapat bersilaturahmi dengan para sesepuh dan pemuda Hamparan Perak.
01:48Alhamdulillah, saya bisa ikut pengajian malam ini.
01:50Saya melihat kompeni tidak lagi sekadar berdagak dengan upah yang kecil.
01:55Tampak membantu, namun sesungguhnya keuntungan terbesar mengalir ke tangan mereka.
02:00Ucapan itu mengubah suasana surau seketika.
02:04Beberapa pemuda saling berpandangan.
02:06Ada yang mengangguk pelan, ada pula yang terlihat cemas.
02:10Pelankan suaramu, kiai.
02:12Hati-hati.
02:13Kompeni punya banyak mata dan telinga.
02:16Hubungan mereka dengan istana pun dekat.
02:18Perkataan seperti itu sangat berbahaya.
02:21Maafkan saya, wak sesepuh.
02:23Saya tidak bermaksud menyinggung pihak manapun.
02:26Saya hanya menyampaikan apa yang saya lihat sepanjang perjalanan.
02:30Tetapi ucapan seperti itu bisa membuat kiai ditangkap.
02:41Jika yang disampaikan adalah kebenaran,
02:44apakah Kompeni tidak tahu bahwa Tanah Deli masih memiliki orang-orang yang berani yang berdiri untuk kebenaran?
02:50Ucapan Haji Usman membungkam semua orang.
02:53Beberapa menundukkan kepala.
02:56Seolah ada beban besar yang tiba-tiba jatuh di tengah ruangan.
03:00Kiai itu masih muda, tapi sangat berani.
03:03Apa dia tidak takut ditangkap Kompeni?
03:05Berani memang.
03:07Kita semua melihatnya sendiri.
03:09Ssss, jaga lidahmu!
03:10Di luar surau, malam semakin larut.
03:13Angin berembus menerpa daun-daun nipah.
03:15Kata-kata Haji Usman seolah masih menggantung di udara.
03:18Menembus hati setiap orang yang hadir.
03:25Tanah Deli sedang menuju sebuah peristiwa besar.
03:30Malam terus berjalan.
03:32Bulan muncul di sela-sela awan kelabu.
03:34Satu persatu warga pulang ke rumah masing-masing.
03:37Namun tak orang menyadari bahwa malam itu mungkin menjadi awal dari perubahan yang kelak mengguncang Tanah Deli.
03:44Pagi di pinggir hutan Deli Tua.
03:48Gerobak lembu tua merayap di atas jalan tanah merah berdebu.
03:55Di Simpang menuju kampung persatuan,
03:58tiga pemuda Tionghoa berkulit coklat memanggul cangkul,
04:01melintas di bawah papan nama kampung.
04:06Mereka Tionghoa, Wak.
04:08Kuli kontrak juga.
04:09Penduduk Dusun Kek.
04:11Kulit mereka coklat karena lama kena matahari.
04:15Selain Dusun Kek, ada dusun lain, Wak.
04:17Banyak.
04:18Kampung persatuan di Huni Melayu, Bali, Banten, dan Tionghoa.
04:22Hidup berdampingan.
04:24Pantas namanya kampung persatuan.
04:27Yang memberi nama pasti orang hebat.
04:29Dia dulu komandan perang pasukan Cina suku Kek yang mendarat di Deli.
04:35Gerobak masuk ke jalan hutan yang rimbun.
04:38Pohon-pohon besar menjulang.
04:41Suasana berubah teduh dan temaram.
04:48Nak haji ke Tanah Batak.
04:50Nggak jumpa sanak sodara.
04:51Iya, Wak.
04:52Mereka mengadu nasib di sana.
04:55Wak pernah dengar hutan laras.
04:58Laras?
04:59Perkebunan baru kompeni.
05:01Dulu, mendekat saja tak ada yang berani.
05:04Memang kenapa hutan itu, Wak?
05:06Ada demitnya.
05:08Laras itu angker.
05:10Di dalamnya ada kerajaan bunian.
05:13Makhluk gaib.
05:14Bunian?
05:15Makhluk apa itu?
05:16Ada demitnya.
05:17Wujudnya seperti kita.
05:19Tapi rajanya bermata satu.
05:21Dikening.
05:23Ah, sudahlah.
05:24Konon, hutan laras yang penuh kisah mistis itu,
05:28berhasil dibuka dada seorang perantau Jawa bernama Surak.
05:32Kini mandor besar di sana.
05:35Wak pernah dengar perantau Jawa bernama Surak?
05:40Surak?
05:42Kalau Surak dari Tasik Malaya yang jago berkelahi,
05:46dialah orangnya.
05:48Jadi, nak haji kerabatnya?
05:51Iya, Wak.
05:57Celaka kita, nak.
05:59Itu rampok ganas perbaungan.
06:03Itu badar dan peang.
06:06Perampok paling ditakuti.
06:08Bekas prajurit Sisinga Mangaraja yang diburu kompeni.
06:16Aku lihat ke sana dulu, Wak.
06:18Wak Karmin hanya terpaku saat pemuda itu lenyap di balik pepohonan.
06:25Jika kalian prajurit hebat,
06:27kenapa habisi orang yang sudah tak berdaya?
06:34Bah!
06:35Tikus dari mana ini?
06:37Mau mati kau, ha?
06:42Soal mati, urusan Allah.
06:45Pengikut Sisinga Mangaraja
06:47mestinya malu mengeroyok yang tak berdaya.
07:08Beang bangkit melolong seperti monyet melompat ke dahah.
07:16Serbuk racun monyet putih.
07:22Sergapan angin membalik racun ke wajah pemilik kaknya.
07:38Badar mengamuk,
07:39para seraksasanya membelah udara merobohkan pohon besar.
07:48Pantek Bumi
07:52Allahu Akbar!
08:15Belasan anak buah menyeru,
08:18satu hentalkan kaki,
08:20semua rubuk tak berdaya.
08:28Air ini menawar racun monyet putih.
08:31Basuh wajahmu.
08:37Abang tahu nama racunku.
08:40Abang siapa sebenarnya?
08:43Kau juga.
08:45Kutepuk punggungmu.
08:46Tahan.
08:47Sedikit sakit.
08:50Atur napasmu.
08:54Sekali lagi haji menghentak bumi.
08:57Anak buah badar pulih,
08:58tapi tak satu pun berani bangkit.
09:02Kalian punya kepandayan.
09:05Carilah kerja bermartabat.
09:07Bukan jadi penjilat kompeni.
09:09Hari ini kalian selamat.
09:10Pergilah.
09:18Apakah kalian murid Datuk Raja Siluman?
09:22Tobat, Abang!
09:23Ampun, kami kapok.
09:26Iya, kami murid Tuan Datuk.
09:32Mulai hari ini,
09:34jangan bunuh orang di tak berdaya.
09:37Jangan ganggu pedagang pribumi.
09:39Iya, kami menuruti, Abang.
09:42Siapa sebenarnya, Abang?
09:49Saya, Haji Usman.
09:56Kumpulkan tiga bulan lagi.
09:58Temui aku di puncak Bukit Barisan.
10:01Pagi di kampung Laras.
10:03Gedung perwakilan kompeni Belanda
10:06berdiri kokoh di tanah tinggi
10:09menghadap hamparan perkebunan.
10:12Aku puas.
10:14Kompeni itu menepati janji.
10:16Menantuku surak kini mandor besar.
10:19Perkebunan Laras di bawah pengawasannya.
10:23Tenang aku sekarang.
10:25Sarmina pasti bahagia.
10:27Hidupnya tak susah lagi.
10:29Suaminya mandor besar.
10:31Si Parjo,
10:33mau apa tergesa-gesa begitu?
10:36Ah, paling urusan kerja.
10:39Biarkan saja.
10:41Sebuah kereta kuda berhenti.
10:44Sekali lagi,
10:46Sarman menatap surak,
10:47lalu pergi menyusuri jalan tanah merah.
10:52Di tanah tinggi,
10:53di bawah pohon besar tepi perkebunan,
10:56mandor surak mengawasi pekerja.
10:59Parjo datang,
11:00membawa pesan.
11:02Haji Usman sudah di tanah batak, Kang.
11:04Sepertinya langsung ke markas Sri Kandi.
11:12Telik Sandi membisiki.
11:14Kompeni dipusingkan begal sungai ular.
11:17Mereka kini berani merampok gerobak rempah kompeni.
11:25Sejak pemimpinnya dikalahkan Haji Usman,
11:28mereka jadi ganas.
11:29Mungkin ada campur tangan Haji Usman.
11:36Maksud Kang Surak,
11:38Haji Usman yang memerintah mereka?
11:42Belum tahu pasti.
11:44Dulu mereka takut kompeni.
11:47Ah, sudahlah.
11:48Toh mereka sejalan dengan kita.
11:55Eh, Joe.
11:57Kau pernah bertemu perempuan berselubung kain di hutan laras?
12:01Beberapa kali, Kang.
12:03Menyapa pun tidak.
12:05Aku curiga anggota Laskar Sri Kandi.
12:08Mereka bawa panah,
12:09wajahnya tertutup kain.
12:12Ada yang kau lihat memegang belati?
12:15Tidak, Kang.
12:17Mereka cuma berhenti,
12:18menatapku,
12:19lalu masuk hutan.
12:21Laskar Sri Kandi yang kutahu,
12:24senjatanya belati kecil,
12:26persis mata panah.
12:28Apalagi yang Misam Sam sampaikan, Joe.
12:32Laskar Sri Kandi menyusup ke rumah keluarga kompeni.
12:36Jadi pengurus rumah dan tukang masak.
12:39Sebagian masuk tangsi militer.
12:44Kompeni sedang memperketat pengamanan,
12:47menyebar mata-mata.
12:48Sampaikan ke Misam agar lebih berhati-hati.
12:55Bisa jadi kabar Haji Usman sudah sampai ke kompeni.
12:58Mereka akan sebar pendekar bayaran untuk menangkapnya.
13:03Kalau begitu,
13:05bahaya bagi Laskar Sri Kandi di rumah-rumah kompeni.
13:09Imbasnya pasti ada.
13:12Temui Misam, Joe.
13:14Sampaikan ini,
13:15agar dia dan kawan-kawannya berhati-hati.
13:19Siap, Kang.
13:22Senja turun,
13:24gelap menyelimuti hutan laras.
13:26Parjo lenyap di antara pepohonan,
13:28membawa pesan yang menentukan nasib tanah Batak.
13:36Terima kasih.

Dianjurkan