Lewati ke pemutarLewatkan ke konten utama
  • 4 jam yang lalu
Pertanyaannya bukan lagi bagaimana memadamkan api, melainkan bagaimana mencegah kebakaran serupa terus berulang. Untuk membahas persoalan ini lebih lanjut...
Transkrip
00:00Kembali di Kompasya, Saudara Asaf masih terlihat di TPA Jatiwaringin, Banten.
00:05Berdasarkan informasi lapangan, titik api masih ada yang terbakar.
00:09Tim BNPB, Damkar, TNI Pori, hingga Kepen Hood terus melakukan pemadaman hingga pendinginan pada titik yang terbakar di hari ke
00:17-9.
00:18Selain itu, titik api menyebar akibat tiupan angin dan cuaca panas.
00:22Sebanyak 3 helikopter waterbombing milik BNPB kembali dikerahkan untuk memadamkan api di TPA Jatiwaringin, Banten.
00:30Helikopter digunakan untuk mengakses titik yang sulit dijangkau personel Damkar di darat.
00:36Selain itu, juga tim gabungan diterjunkan dalam proses pemadaman serta pendinginan titik api yang muncul.
00:47Berdasarkan data sistem informasi pengelolaan sampah nasional SIPSN,
00:53timbulan sampah nasional sepanjang 2025 mencapai 25,14 juta ton.
00:59Angka ini merupakan akumulasi laporan dari 244 kabupaten kota kepada Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan KLHK.
01:09Puluhan juta ton sampah itu tertampung di 517 tempat pemrosesan akhir yang setiap harinya mengelola 35.747 ton sampah.
01:21Sisanya 109.023 ton sampah per hari tidak dapat terkelola.
01:30Menurut sistem informasi pengelolaan sampah nasional pada tahun 2025 rumah tangga menjadi sumber penghasil sampah terbesar yakni 55,79 persen
01:43yang berakhir di TPA.
01:45Sementara pasar menyumbang 12,36 persen dan perniagaan 7,44 persen.
01:56Sisa makanan menjadi penyumbang utama sampah di Indonesia.
02:01Data sistem informasi pengelolaan sampah nasional menyebut pada tahun 2025 sampah sisa makanan menyumbang 39,64 persen limbah yang berakhir
02:11di TPA.
02:12Sementara sampah plastik 20,4 persen, kayu 12,9 persen.
02:18Penumpungan sampah organik seperti sisa makanan akan mengalami pembusukan tanpa oksigen ataupun aerob di TPA.
02:25Pembusukan dalam kondisi ini memicu mikroorganisme yang menghasilkan gas metana.
02:31Ini merupakan masalah lingkungan serius karena gas metana berpotensi perusaha iklim berkali lipat lebih kuat dibandingkan karbon dioksida.
02:40Akumulasi gas metana juga memicu kebakaran dan ledakan di TPA jika tidak dikelola dengan baik.
02:59Sudah lebih dari sepekan kebakaran TPA jati waringnya tidak bisa dikendalikan dan juga tidak bisa dipandang sebelah mata sebagai insiden.
03:07Melainkan juga sebagai alarm krisis tata kelola sampah.
03:10Pertanyaannya bukan lagi bagaimana memadamkan abgi, melainkan bagaimana mencegah kebakaran serupa tidak berulang.
03:17Sudah bersama kami, Mahawan Karuniasa Pakar Lingkungan Universitas Indonesia.
03:22Selamat siang Mas Mahawan, semoga sehat selalu.
03:26Selamat siang Mas Juno.
03:27Untuk saat ini kita mengetahui bahwa kebakaran ada di dua titik yakni di TPA jati waringin, Banten dan juga menyusul
03:35di Cikalotok, Purwakarta.
03:37Untuk saat ini Anda melihatnya apakah ini merupakan kegagalan sistem tata kelola pengelolaan sampah?
03:43Ya, terima kasih Mas Juno. Jadi saya sepakat ya bahwa dengan adanya kebakaran ya setidaknya sekarang ada dua TPA ini.
03:51Ini sebagai alarm tentang tata kelola persampahan kita.
03:57Meskipun ya saya juga tidak bisa mengatakan bahwa ini adalah sebagai bentuk kegagalan total.
04:03Tetapi kita perlu melihat bahwa domen atau struktur utama pengelolaan sampah kitalah yang perlu kita cermati.
04:11Dimana kita sampai dengan saat ini masih mengadalkan banyak TPA open dumping.
04:18Kemudian juga dari dulu kita masih menggunakan konsep kumpul, angkut, dan buang.
04:24Jadi semua sampah yang tadi dari rumah tangga, dari pasar, perniagaan, semuanya mengalir ke TPA.
04:31Nah, dengan kondisi saat ini perubahan iklim maupun cuaca ekstrim khususnya di musim kemarau,
04:38material sampah itu kelembabannya menjadi berkurang.
04:43Kemudian dengan adanya oksigen tentu saja, apalagi yang sampah-sampah yang tidak dipadatkan,
04:48terutama di TPA open dumping, maka tentu saja ini potensi kebakaran,
04:52mungkin potensi terjadi di TPA di manapun.
04:57Sehingga selain kita perlu waspada dengan TPA-TPA lainnya,
05:01tetapi sekali lagi ini selain yang terjadi di 2023,
05:06ini sekali lagi sebagai alarm untuk mengingatkan kita bahwa sudah saatnya
05:10kita untuk bertransisi tidak sekedar kumpul, angkut, buang,
05:13sekedar mengandalkan TPA.
05:16Dimana TPA itu adalah tempat pemrosesan akhir,
05:19tapi sering dipresetkan menjadi tempat pembuangan akhir.
05:21Jadi semuanya dibuang ke sana, kemudian menjadi material yang rawan untuk bakaran,
05:26terutama di saat musim kemarau.
05:29Saya kira demikian dia.
05:30Untuk saat ini memang ada data bahwa hampir 300 kabupaten dan kota mengalami darurat sampah,
05:36dan ini merupakan salah satu alarm bagi pemerintah dan sejumlah stakeholder.
05:40Untuk saat ini seperti apa metode yang paling tepat solusi
05:43agar open dumping ini tidak diberlakukan kembali dan sampah dapat terkurangi?
05:48Betul, jadi memang yang pertama adalah bahwa semakin banyak penduduk,
05:54pasti sampah semakin banyak.
05:56Kita hampir setiap hari 0,48 ya, menurut caratan kementerian,
06:01menghasilkan setiap orang per hari.
06:04Kemudian semakin sejahtera seseorang,
06:06semakin sejahtera satu kabupaten, kota,
06:09maka perkapitannya pun juga meningkat.
06:12Artinya pasti timbulan sampah akan terus meningkat.
06:15Sehingga kita tidak bisa lagi mengandalkan TPA open dumping
06:18seperti yang kebanyakan kita lakukan sekarang.
06:21Sehingga dari aspek TPA,
06:22itu harus bertransisi mulai dari open dumping sampai ke sanitary landfill.
06:28Jadi ya tentu saja dipadatkan, dikelola dengan baik,
06:32termasuk lindinya, termasuk gas metana tadi,
06:35yang kalau tidak ditangkap,
06:37dia akan menjadi emisi gas rumah kaca.
06:40Dan intinya adalah bahwa solusi ini sudah saatnya adalah solusi hulu dan hilir.
06:46Demikian juga di urusan hulu,
06:48ya kita pemilahan sampah masih belum terjadi,
06:51termasuk juga infrastruktur dasarnya,
06:53untuk mendukung pemilahan sampah dari hulu.
06:56Sehingga saya kira ini menjadi satu momentum,
06:58meskipun ya 2023 sudah diingatkan,
07:01nah sekarang sudah diingatkan yang kedua,
07:03saya kira jangan terlambat lagi.
07:05Ya pada 2023 ada 5 titik TPA yang juga mengalami kebakaran,
07:09untuk saat ini merupakan sebuah gambaran,
07:11bagaimana proses tata kelola ini masih minim.
07:13Untuk saat ini seperti apa?
07:15Bahwa informasi dari SIPSN mengungkap bahwa
07:18penyumbang terbesar sampah berasal dari rumah tangga,
07:21apakah ada regulasi khusus yang perlu diperkuat
07:24agar masyarakat mampu menjaga sampah dari rumah tangga,
07:29terutama memberian reward ataupun insentif,
07:31terutama dari daerah ataupun pemerintah tempat,
07:33agar pengelolaan sampah ini menjadi lebih progresif?
07:37Betul sekali, jadi memang sebagian besar sampah kita
07:41berasal dari rumah tangga.
07:43Nah disitulah kita harus berawal ya dari aspek hulu,
07:47kita harus mengurangi kemudian pilah olah
07:50dan juga mulai harus menerapkan apa yang disebut
07:53sebagai hierarki pengelolaan sampah,
07:55di mana masyarakat harus kita ajak untuk menghindari,
08:00yang pertama menghindari ya,
08:01kalau tidak butuh barang ya jangan beli ya,
08:03selain hemat juga mengurangi sampah.
08:05Kemudian yang kedua, 3R yang sudah kita sering dengar
08:09dan sudah sangat banyak dikenal,
08:11itu saya kira perlu terus dikawal untuk disosialisasikan.
08:16Namun, kalau kita bicara nanti di aspek pemilihan sampah dari rumah,
08:21tidak ada pilihan lain bahwa infrastruktur dasar itu juga harus disediakan.
08:25Kan banyak sering kita mendengar bahwa kalau sampah sudah dipilih dari rumah,
08:30ternyata diterup digabung kembali gitu ya.
08:33Jadi ini yang juga menjadi caratan.
08:35Tapi salah satu aspek bagaimana kita mengatasi persoalan sampah adalah dari hulu,
08:40yaitu mulai dari rumah tangga sebagai sumber sampah utama.
08:44Ya, untuk saat ini beberapa metode telah dilakukan,
08:49terutama seperti pembatasan sampah organik,
08:52seperti salah satunya di TPA Banyuroto, Kulonprogo.
08:55Lalu seperti apa sebenarnya masih untuk saat ini?
08:59Seberapa efektifkah kebijakan ini?
09:02Baik, Bang Juno.
09:03Jadi pembatasan sampah organik dari satu sisi itu mengurangi memang beban di TPA.
09:10Biasanya TPA-TPA yang memang sudah penuh,
09:14hampir penuh atau sulit mencari tambahan lagi arealnya.
09:18Tetapi ini harus bersyarat, Bang Juno.
09:20Jadi pembatasan sampah organik yang masuk ke TPA harus bersyarat.
09:23Bahwa di aspek dulu juga harus diselesaikan.
09:26Artinya bahwa dari rumah tangga, pilah, kemudian 3R,
09:31kemudian juga seperti Bang Sampah, TPS, TPS 3R,
09:36di mana proses di hulu itu juga mengurangi jumlah sampah organik.
09:40Kalau tidak demikian, nanti yang terjadi,
09:43yang saya dengar juga di beberapa daerah,
09:45sampah dilarang masuk ke TPA,
09:47atau karena ada masalah di TPA,
09:49sampahnya jadi terbuang di TPS-TPS liat,
09:52atau di pinggir jalan, dan seterusnya.
09:53Dan ini tentu saja akan berpengaruh kepada
09:56kesehatan lingkungan Bang Juno.
09:58Jadi syaratnya adalah
09:59pembatasan sampah organik masuk di TPA adalah
10:04infrastruktur dasar dan membangun kesadaran masyarakat di hulu.
10:08Sehingga tidak ada atau bisa dihindarkan TPS-TPS liar
10:11atau sampah-sampah liar di jalanan Bang Juno.
10:14Oke, untuk saat ini tadi menarik juga Anda menyampaikan
10:17bahwa titik-titik terutama di lokasi perkotaan
10:20menjadi magnet dan juga populasi menjadi sebegitu padat
10:23dan juga produksi sampah begitu besar.
10:25Apakah ada contoh dari negara-negara lain
10:28yang di mana pengelolaan sampah itu begitu revolusioner
10:31sehingga sampah dapat dikeluar dan juga diminimalisir?
10:36Betul, Bang Juno.
10:37Memang banyak yang bertanya kalau kita bicara contoh,
10:40tetapi antara lain kalau kita bicara dari hulu
10:44adalah kita bisa meniru Jepang dalam aspek berlaku,
10:48berlaku kebersihan lingkungan.
10:50Sehingga kesadaran itulah yang mendorong bagi seseorang,
10:54individu mulai dari rumah tangga untuk memilah,
10:57untuk mengurangi, dan seterusnya.
10:59Tetapi dari aspek pengelolaan yang bersifatnya adalah
11:04teknologi atau proses manajemen hierarki itu,
11:07saya kira banyak di negara maju ya.
11:09Dari pengalaman saya di beberapa negara di Eropa Barat
11:12atau Eropa Timur, ya manajemen inilah dalam konteks
11:16bahwa implementasi itu lebih utama ya.
11:20Kita sendiri peraturan sudah banyak.
11:21Jadi saya kira kalau contoh ada banyak khususnya
11:24di negara-negara maju, antara lain karena faktor anggaran.
11:27Faktor anggaran sehingga termasuk juga tadi perilaku
11:31masyarakat dengan sedikit membangun kesadaran,
11:34masyarakat sudah dengan caranya sendiri bisa memilah,
11:39mulai dari rumah tangga, ya bahkan di rumah itu
11:42sudah ada boxnya terpisah.
11:44Ditaruh di luar rumah, boxnya terpisah.
11:46Dianggut oleh terk, boxnya terpisah.
11:48Saya kira itu, Bung Juno ya.
11:52Tetapi kita sebagai negara berkembang
11:54tidak dengan mudah untuk langsung meniru
11:57apa yang ada di negara maju.
11:58Kita harus kita bangun dengan konteks negara kita sendiri.
12:01Baik.
12:02Membutuhkan komitmen setiap pihak,
12:04baik dari pemerintah hingga masyarakat,
12:06memperkuat di hulu dan juga di hilir
12:07bagaimana proses pengelolaan tata kelola sampah.
Komentar

Dianjurkan