Lewati ke pemutarLewatkan ke konten utama
  • 33 menit yang lalu
JAKARTA, KOMPASTV - Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi menyoroti masih belum terwujudnya keadilan dan kemakmuran di Indonesia meski negara telah memasuki usia 80 tahun kemerdekaan.

"Delapan puluh tahun kita merdeka, keadilan dan kemakmurannya belum terwujud," kata Dedi dikutip dari tayangan Humas IPDN.

Menurut Dedi, persoalan tersebut berakar pada tata kelola pemerintahan yang lebih mengutamakan kepuasan administrasi dibandingkan kepuasan masyarakat.

Dedi mengkritik pola pikir birokrasi yang dinilainya lebih banyak membahas tunjangan kinerja (tukin) dibandingkan cita-cita besar untuk memajukan bangsa.

"Hampir tidak ada idealisme tentang cita-cita besar. Yang dibicarakan dalam diskusi bukan bagaimana membangun bangsa ke depan, tetapi soal tukin," ujarnya.

Menurutnya, orientasi yang berlebihan terhadap tunjangan kinerja telah memicu degradasi birokrasi.

Sahabat KompasTV, Mulai 1 Februari 2026 KompasTV pindah channel. Dapatkan selalu berita dan informasi terupdate KompasTV, di televisi anda di Channel 11 pada perangkat TV Digital atau Set Top Box. Satu Langkah lebih dekat, satu Langkah makin terpercaya!

Video Editor: Joshua

Artikel ini bisa dilihat di : https://www.kompas.tv/nasional/677263/dedi-mulyadi-kritik-birokrasi-terlalu-sibuk-urus-tukin-lupa-kepuasan-publik
Transkrip
00:00Birokrasi kita di seluruh Indonesia, di Jawa Barat, dipikirannya apakah outcome dan benefit, output outcome dan benefit?
00:11Tidak, dipikirannya adalah tukin.
00:1580 tahun kita merdeka, keadilan dan kemakmurannya belum terwujud.
00:23Tapi kerusakan dan recovery yang dibutuhkan ke depan, serta hilangnya sumber daya alam, jauh melampaui berdirinya kerajaan yang hidupnya beraban
00:37-aban.
00:3880 tahun Indonesia hidup sudah menghisap kekayaan di negeri sendiri sangat besar.
00:45Ini problem.
00:47Amsterdam, Belanda menjadi kaya raya karena membangun perkebunan di kita, kemudian berhasil menyelesaikan seluruh problem negaranya.
01:00Kita sudah merdeka, kok belum kaya juga?
01:05Di mana letaknya?
01:08Letaknya adalah di administrasi pemerintahan yang orientasinya kepuasan administrasi.
01:24Harusnya kepuasannya apa?
01:27Harusnya adalah kepuasannya publik.
01:29Kepuasan publik di mana?
01:31Di outcome-nya?
01:34Di benefit-nya?
01:39Birokrasi kita di seluruh Indonesia, di Jawa Barat, dipikirannya apakah outcome dan benefit, output, outcome, dan benefit?
01:50Tidak.
01:52Dipikirannya adalah tukin.
02:01Hampir enggak ada saya menemukan idealisme tentang cita-cita besar.
02:07Apalagi negara berkemakmuran.
02:09Tidak ada sempit obrolan yang dibicarakan dalam diskusi di antara mereka.
02:16Tidak pernah ngomongin bangsa ke depan.
02:18Tidak pernah bagaimana menguasai.
02:20Tidak pernah.
02:21Yang diomongin adalah tukin.
02:27Di era tukin ini, saya katakan, telah melahirkan degradasi birokrasi.
02:34Saya menentang ini jujur saja.
02:36Kenapa?
02:37Birokrasi bekerja tidak berorientasi output.
02:42Birokrasi bekerja berdasarkan aspek administrasi.
02:47Maka kinerja yang harusnya output, outcome, dan benefit bagi publik cukup diganti dengan selfie dan tayangan video pendek.
02:58Perannya itu tayangan video pendek.
03:03Nah, itu bedanya.
03:06Politisi menggunakan tayangan video pendek untuk membangun citra dirinya.
03:11Para birokrat membuat tayangan video pendek untuk melahirkan kepuasan para pemeriksaannya.
03:33Terima kasih telah menonton!
03:49Terima kasih telah menonton!
Komentar

Dianjurkan