- 6 menit yang lalu
- #demo
- #kebijakan
- #prabowo
JAKARTA, KOMPAS.TV - Seruan aksi turun ke jalan makin nyaring terdengar. Mahasiswa menilai pemerintahan Prabowo telah salah menerapkan kebijakan yang membuat rakyat makin susah. Bagaimana menanggapi seruan ini?
Presiden Prabowo mengatakan selama ini Indonesia salah arah. Kekayaan negara hanya dikuasai segelintir orang. Bagaimana menjaga kepercayaan publik? Apakah ini soal kebijakan atau komunikasi penyampaian?
Rosianna Silalahi mengundang dua aktivis: Aktivis 1998 yang sekarang berada di pemerintahan, Fahri Hamzah. Juga Feri Amsari aktivis pro demokrasi yang masih di luar pemerintahan. Saksikan dalam program ROSI episode Seruan Aksi Menggema, Reformasi Jilid 2? Tayang Kamis 11 Juni 2026 pukul 20.30 WIB LIVE di KompasTV.
#demo #kebijakan #prabowo
Artikel ini bisa dilihat di : https://www.kompas.tv/talkshow/674350/full-debat-fahri-hamzah-dan-feri-amsari-tanggapi-demo-mahasiswa-tuntut-pemerintahan-prabowo-rosi
Kategori
🗞
BeritaTranskrip
00:12Terima kasih.
00:30Untuk setop sebentar saja.
00:34Saya tidak mau NKRI di lescheken.
00:38Saya tidak mau bahwa pemerintah Republik Indonesia tidak dihormati, dicuri.
00:44Saya tidak mau uang rakyat dicuri.
00:47Dan tidak ada, tidak ada pengecualian.
01:00Mereka memanfaatkan segala proyek yang diberikan oleh pemerintah.
01:05Pemerintah bekerja hanya untuk orang-orang yang memiliki uang kelajaran.
01:08Hina!
01:31Selamat malam.
01:32Program ROSI kembali hadir ke hadapan Anda sebagai ruang OPD sumber informasi.
01:36Bersama saya, Rosyana Silalahi.
01:38Seruan aksi turun ke jalan makin nyaring terdengar.
01:41Mahasiswa menilai pemerintahan Prabowo telah salah menerapkan kebijakan yang membuat rakyat makin susah.
01:47Bagaimana menanggapi seruan ini?
01:48Saya mengundang dua aktivis, aktivis 98 yang sekarang ada di pemerintahan Presiden Prabowo.
01:55Yaitu Fahri Hamzah dan Ferry Amsari, aktivis pro demokrasi yang masih di luar pemerintahan.
02:03Dua aktivis sudah di dalam, masih di luar.
02:06Selamat malam, Bung Fahri, Bung Ferry.
02:07Malam.
02:08Sebagai aktivis 98, seruan untuk turun ke jalan makin nyaring terdengar.
02:13Dan besok pada tanggal 12 Juni, hari Jumat besok, akan ada aksi turun ke jalan BMUI.
02:21Adik-adik Anda itu menyerukan satu yang cukup tegas yaitu tentang kehidupan bangsa yang makin susah.
02:27Apa sebagai awal, apa seruan Anda juga bagi mahasiswa yang akan turun ke jalan besok?
02:33Ya, pertama kita mengerti hak-hak kita di dalam demokrasi kita.
02:39Dan unjuk rasa adalah di antara hak dasar dari warga negara Indonesia.
02:46Dan dalam hal ini mahasiswa sering menjadi ujung tombak dari keaktifan masyarakat untuk menyampaikan gagasan-gagasannya.
02:57Bahkan melebihi buruh karena kelas menengah buruh kita itu tidak terlalu dominan.
03:04Karena kita bukan negara industri.
03:06Karena itulah peran-peran ini dilakukan oleh mahasiswa.
03:09Dan sebagai mantan mahasiswa tentunya saya senang melihat keaktifan adik-adik mahasiswa.
03:18Karena pada dasarnya mereka adalah calon-calon pemimpin nantinya.
03:23Mereka yang dari awal menanamkan sensitivitas pada perasaan dan pikirannya.
03:29Mereka yang akan nanti menjadi pemimpin.
03:31Tetapi saya punya catatan tentang penggunaan kata reformasi.
03:37Karena dulu seperempat abad yang lalu atau 27 tahun yang lalu.
03:43Yang kita hadapi itu adalah sistem yang totally different.
03:49Dengan sekarang?
03:49Sangat berbeda dengan sekarang.
03:51Dulu konstitusi kita adalah konstitusi otoriter.
03:54Oke disitu sepakat, sorry saya potong sedikit.
03:56Tetapi melihat kesulitan ekonomi.
03:59Dolar yang sudah lebih tinggi sepanjang sejarah.
04:02Dan beban masyarakat yang dianggap sudah terlalu berat.
04:06Mengukur tingkat kesulitan hidup masyarakat itu tidak bisa juga dibandingkan dengan yang dahulu.
04:13Makanya saya tadi ingin cerita sedikit.
04:15Apa perbedaan masa lalu dengan masa yang ada sekarang ini?
04:19Masa lalu itu betul-betul kesulitannya itu menyebabkan kita terhimpit dan tidak punya pilihan.
04:26Konstitusinya otoriter, negaranya otoriter, pemimpinnya tidak tergantikan,
04:32para pejabatnya semena-mena, militer dan TNI dan Polri masih digabung.
04:40Kemudian kebebasan media tidak ada, tidak ada komunikasi seperti ini, tidak ada sosial media.
04:45Ya, ruang publik itu tertutup dan kita tidak bisa berbicara kepada siapapun.
04:51Kita berbisik-bisik dan akhirnya itu yang meledak menjadi persoalan.
04:55Ketika masyarakat juga pilihannya di dalam ekonomi tidak ada yang bebas.
05:00Tidak ada TikTok seperti sekarang di mana orang bisa berjualan setiap saat.
05:05Ekonomi kita tidak terbuka dan ekonomi kita ya tentu strukturnya masih sangat didominasi oleh segelintir elit.
05:12Sekarang struktur ekonomi kita lebih luas, bahkan Presiden merancang struktur yang lebih lebar lagi.
05:18Karena itulah konsentrasi dari Presiden Prabowo adalah pertama kita mengakhiri kebocoran, korupsi dan perampokan sumber daya alam
05:25yang selama ini dibiarkan terjadi dan kita memang seperti abai, tidak berani going after mereka-mereka yang melakukan korupsi terhadap
05:34sumber daya alam.
05:35Yang kedua setelah kita punya uang dan kita mesti mulai dari sekarang, kita harus memutus rantai ketimpangan
05:42antara yang paling kaya dan sangat kaya dengan yang paling miskin dan sangat miskin.
05:47Karena jini koefisien kita juga menunjukkan hal yang sama.
05:51Jadi itu semua sedang berjalan dan reformasi sedang diteruskan.
05:54Sedang kita selesaikan agenda-agenda yang kita dulu memang rancang sebagai agenda reformasi kita.
06:02Oke saya masuk ke Bum Ferry, menurut Anda apakah aksi turun ke jalan saat ini juga bisa mengarah kepada reformasi
06:10jilid kedua?
06:11Ya kenapa tidak? Kalau dilihat apa yang disuarakan banyak pihak.
06:18Bang Fahri melihat apa yang terjadi di masa lalu dengan situasi yang berbeda, itu benar.
06:25Tetapi yang dilihat publik sekarang, apa yang terjadi hari ini sedang menuju masa lalu.
06:31Militeristik, kembalinya militer dan kepolisian di ruang-ruang sipil,
06:37tindakan kekerasan terhadap publik, pencaplokan tanah-tanah publik,
06:43demokrasi yang gagal bekerja, DPR tidak lagi penyeimbang dari eksekutif,
06:50padahal mimpi reformasi memastikan perimbangan ini.
06:54Sehingga kekecewaan-kekecewaan ini menimbulkan keinginan yang berbeda.
07:00Ini harus segera diperbaiki sebelum kemudian terpleset lebih jauh.
07:06Titik tertentu yang kemudian kita lihat faktor ekonomi, faktor-faktor demokrasi itu menjadi hal-hal yang menjadi sangat penting.
07:14Hari ini banyak kesadaran teman-teman di dalam istana lebih punya kecenderungan sekedar menjunjung apa yang disampaikan oleh pemerintah.
07:26Bukan menjadi figur yang bisa menetralisir keadaan agar pemerintah bisa bekerja dengan baik sesuai harapan.
07:33Saya tidak melihat bahwa kekesalan ini datang tiba-tiba.
07:39Ini proses satu setengah tahun yang penuh dengan kekecewaan.
07:42Tentu bukan sekedar karena faktor pidato presiden yang tidak bisa menambah 10 tambah 6 ya.
07:49Tetapi lebih dari itu juga soal kebijakan-kebijakan.
07:52Saya mau masuk ke sini.
07:53Kekecewaan selama satu setengah tahun, tidakkah itu terlalu singkat untuk langsung menilai ada satu kegagalan sehingga ini bisa masuk ke
08:01reformasi jilid kedua?
08:02Ya, terlalu singkat kalau kita memahami bahwa ini hal yang wajar untuk kita beri waktu lebih panjang.
08:10Tapi kalau dilihat satu setengah tahun ini terplesetnya sangat luar biasa.
08:15Kesalahan menghitung matematika itu saja Mbak Rosi terjadi tiga kali.
08:19Nasihat publik agar tidak terlalu panjang berkunjung ke luar negeri tidak didengarkan.
08:24Orang-orang yang tampil di depan bukanlah profesional yang matang bekerja.
08:29Mohon maaf saya, saya bukan mau mengadu-ngadu juga.
08:32Kalau soal bicara ke depan publik, kayaknya jauh lebih bagus Fahri Hamzah dibandingkan SESCAP.
08:38Tetapi itu menunjukkan sesuatu bagi kita bahwa orang yang ditampilkan oleh istana bukanlah profesional.
08:47Orang yang mestinya bisa diambil istana untuk meredam keinginan publik mengubah sesuatu.
08:53Kita masih punya si A, kita masih punya si B yang bekerja baik.
08:58Ini semuanya berantakan.
09:00Ekonomi berantakan, kebijakan luar negeri berantakan, perdagangan berantakan.
09:05Dan semua menimbulkan pertanyaan besar di mana peran presiden sebagai leader.
09:11Itu yang menyebabkan kita merasa, kayaknya mungkin harus digaungkan reformasi jilid dua, bahkan mungkin lebih dari itu, untuk membangun kesadaran
09:22di diri presiden sendiri, dia sedang terpleset dan dia harus bangkit dengan cara yang benar.
09:27Sebagai aktifis 98 yang ada di pemerintahan, bagaimana Anda merasa ini ada benarnya atau merasa ini sama sekali tidak mendasar?
09:38Dunia ini sedang berubah.
09:41Saya kira setiap kehendak untuk menyamakan masa kini dengan masa lalu itu terlalu jauh.
09:49Karena instrumen-instrumen yang dikembangkan oleh masyarakat sendiri, teknologi, ruang publik, keterbukaan, dan semua desain yang kita sudah letakkan dalam
10:02konstitusi kita sehingga menjadi konstitusi yang diantara yang paling demokratis di dunia ini, tidak memungkinkan kita kembali ke belakang.
10:11Kalau kita membaca, Bung Ferry adalah seorang ahli konstitusi kita, kalau kita membaca amandemen keempat itu kan totalnya kira-kira
10:22tinggal 12% pasal yang tidak berubah.
10:26Dan pasal-pasal itu yang berubah adalah pasal yang betul-betul menuntaskan seluruh elemen-elemen otoriter di dalam negara kita.
10:36Masa jabatan presiden dibatasi, keterbukaan informasi publik, independensi pengadilan, dan sebagainya termasuk memisahkan antara militer dengan...
10:47Tapi kalau tadi mendengar penjelasan Bung Ferry, apakah aksi mahasiswa turun ke jalan itu juga menjadi alarm bagi pemerintah?
10:56Kalau menurut saya ya setiap pergerakan publik itu adalah alarm.
11:00Dan karena itulah semakin terbuka hati kita dan telinga pemerintahan, itu semakin baik untuk kita memahami dinamika apa yang sedang
11:14terjadi.
11:14Makanya dulu Mbak Rosi pernah saya mengusulkan adanya alun-alun demokrasi di DPR waktu saya memimpin DPR dulu,
11:22supaya kita melihat di sebelah situ ada demo nggak?
11:25Selain sekarang nih demonya itu pindah ke sosial media, memangnya itu problematik karena definisi dari ruang publik itu berpindah dari
11:32ruang publik fisik kepada ruang digital.
11:35Tapi maksudnya itu suara masyarakat itu karena masyarakat kita banyak, jarak juga banyak,
11:41itu tidak boleh dibungkam dan itu harus dibiarkan ada dan kita mendengarnya itu sebagai cara kita untuk mengerti apa yang
11:51difikirkan oleh masyarakat.
11:52Jadi itu sebenarnya tidak ada masalah soalnya.
11:55Tapi kalau argumentasi mengapa mahasiswa turun ke jalan saat ini melihat bahwa situasi sekarang ini seperti kembali ke belakang.
12:01Kalau dulu kita betul-betul tersumbat, kita mengomong dengan siapa di sini,
12:08konstitusinya mengizinkan otoritarianisme, kita nggak ada kebayang bahwa pemimpin kita akan diganti,
12:13dan pemimpin ini sudah berkuasa lebih dari 30 tahun, dan orang-orangnya itu ya diangkat seperti dan semaunya dia aja.
12:20Tidak ada keterbukaan informasi publik, kita tidak tahu apa yang terjadi di dalam negara.
12:25Kalau sekarang ini...
12:26Betul, tapi itu kan setelah berkuasa 30 tahun.
12:29Kalau kita melihat rekam jejak kalau Presiden Soeharto, sekarang malah orang mengingat di zaman Presiden Soeharto menteri-menterinya luar biasa,
12:36teknokrat.
12:37Dan kalau tadi mengacu kepada penjelasan Bung Feru dibandingkan dengan pilihan menteri-menteri di kabinet Pak Pramo, jauh sekali.
12:46Dalam demokrasi itu memang ada penurunan kualitas orang-orang.
12:50Karena orang-orangnya menjadi biasa, dia dipilih di antara rakyat.
12:53Yang mencalonkan diri, kita lihat sendiri kan, anggota dewan kita kayak apa, ya kan, termasuk yang terpilih atau yang diseleksi
12:59juga kan menjadi kualitasnya ada penurunan.
13:02Kalau kita lihat Putin, itu dia dipimpin oleh orang-orang hebat.
13:05Si Jinping, negara-negara otoriter yang kita bilang otoriter, ini mereka dipimpin, apa namanya, dibantu oleh orang-orang yang hebat.
13:14Lavrov, ya misalnya kalau...
13:15Kalau begitu, hanya di rezim otoriter kita bisa mendapatkan orang-orang baik.
13:20Jadi bukan begitu, jadi begini, kita mesti mengerti dan membuat perbedaan bahwa...
13:25Karena kalau ketika Bung Fahri bilang seperti itu, berarti orang akan melihat bahwa, oh hanya di rezim yang otoriter kita
13:31dapat orang-orang baik.
13:31Dan sekarang kan kita lagi...
13:32Apa kalau Pak Prabowo mau mendapatkan orang-orang baik, izinkan masyarakat bangsa Indonesia untuk kita bisa kembali ke otoritarianisme.
13:38Semuanya natural, semuanya natural.
13:40Karena kita mengizinkan partai politik banyak, lalu partai politik itu menyodorkan orang-orang.
13:45Dan kemudian orang-orang yang disodorkan itu menjadi bagian dari basket yang harus dipilih oleh Presiden.
13:51Itu semua adalah sistem yang kita buat, ya kan.
13:54Apa boleh buat, akhirnya orang-orang itu ikut terseleksi dan mungkin kita tidak puas.
13:59Cuma cara kita bagi persoalan ini ada tiga.
14:02Kalau kita tidak puas kepada sistem baru kita bicara reformasi.
14:06Tapi kalau kita tidak puas dengan kinerja kelembagaan, kita melakukan evaluasi.
14:11Tapi kalau kita tidak puas dengan kinerja orang, kita minta Presiden untuk melakukan reshuffle.
14:17Dan itu semua sudah ada dalam lingkup cara kerja daripada negara demokrasi.
14:22Saya kasih jawaban Anda dulu.
14:24Saya merasa Bang Fahri salah memahami gerakan besok dan seterusnya soal apa yang dilakukan pemerintah.
14:33Bagaimana bisa salah memahamikan aktivis?
14:34Karena beliau meletakkan pandangannya dari sisi romantisme di masa lalu.
14:42Memang judulnya terkesan akan membangkitkan cerita masa lalu.
14:46Tapi ini gerakan kekinian para pemuda ini.
14:50Mereka melihat beda Mbak Rosi.
14:53Bang Fahri kalau menariknya ke 98 itu salah.
14:57Apa bedanya?
14:58Yang harus ditarik adalah peristiwa Nepal.
15:01Beberapa negara di Asia, beberapa negara di Eropa yang mempertanyakan pemerintahannya.
15:08Dengan internet yang beliau ceritakan belakangan, kita mengetahui sumber informasi kekesalan yang sama juga terjadi di pemuda-pemuda kita.
15:20Saya ngerti maksudnya Bang Fahri, jadi jangan melihat aksi demonstrasi ini yang kemudian, loh semuanya kalau dulu di Orde Baru
15:30itu karena semua tersumbat.
15:31Sekarang kan gak tersumbat, jadi harusnya jangan samakan dengan aksi reformasi.
15:36Karena seperti di Nepal itu karena bagaimana melihat pejabat yang hidup berfoya-foya sementara masyarakatnya makin susah.
15:43Jadi hanya karena melihat ketimpangan yang kemudian dipertontonkan secara serampangan dan itu memunculkan ketidakadilan, itu pun bisa memantik aksi masiswa.
15:52Salah satu faktornya soal ketimpangan, kekesalan misalnya terhadap MBG, bahwa MBG sudah diprediksi ini akan menimbulkan penyakit korupsi, tidak tepat
16:05sasaran,
16:05meminta pemerintah melakukan piloting terlebih dahulu, sabar dengan membentuk mekanisme yang tepat, misalnya melalui undang-undang.
16:14Peringatannya sudah panjang, begitu terjadi korupsinya, begitu terjadi keracunannya, orang sudah menumpuk kekesalan-kekesalan itu menjadi sangat tinggi.
16:25Dan besok mungkin jadi salah satu puncak awal dari berbagai kekesalan-kekesalan yang ada.
16:32Mereka juga kesal dengan respon-respon para menteri terkait dengan dolar yang kian tinggi, rupiah yang kian anjlok, direspon seolah
16:42-olah tidak ada masalah.
16:44Dan itu bukan tabiat leadership, leadership itu harusnya dengan penuh kesadaran memahami perasaan orang.
16:53Dan itu tidak terjadi di dalam pemerintahan Pak Presiden Prabowo, orang sedang kesusan masih saja berkunjung ke luar negeri.
17:00Saya berani bertaruh dengan Bang Pari, walaupun tidak boleh secara agama, bahwa kunjungan ke Rusia besok akan singgah juga ke
17:07Perancis.
17:08Dan itu bagi saya sangat menakutkan.
17:11Kalau kesadaran teguran orang tidak diterima oleh pemimpin, dan pemimpin melupakan teguran itu,
17:18ya tentu saja akan ada protes-protes yang merupakan bagian dasar dari ruang demokrasi itu.
17:27Kenapa saya ingin jadi Presiden?
17:30Saya ingin jadi Presiden karena saya sudah lihat dari tahun 90-an Indonesia menuju arah yang salah.
17:44Anda masih di program Rosi Ruang Opini Sumber Informasi.
17:47Saya, Rosiana Silalahi.
17:48Presiden Prabowo mengatakan selama ini Indonesia salah arah, kekayaan negara hanya dikuasai oleh segelintir orang.
17:54Saya masih bersama dua aktivis.
17:56Aktivis 98 yang sekarang ada di Kabinet Merah Putih, Fahri Hamzah, dan aktivis pro-demokrasi,
18:01sekaligus pengajar di Universitas Andalas, Fahri Ansari.
18:05Presiden Prabowo kerap menekankan bahwa ia ingin mengembalikan ekonomi Indonesia supaya juga memberikan keadilan.
18:16Bung Fahri Hamzah selalu saya dengar mengatakan bahwa berhentilah kita mencurigai Presiden Prabowo karena selama ini tujuannya baik.
18:25Apakah orang-orang seperti Bung Fahri Hamzah ini, para aktivis, mahasiswa ini memang tidak paham dan kerap mencurigai Presiden Prabowo?
18:35Sehingga tidak menangkap maksud baiknya.
18:38Saya mengikuti Pak Prabowo cukup lama ya, baik dalam pikiran maupun bertemu dalam realitas begitu.
18:47Dan kalau kita baca memang dia adalah seorang pembaca, seorang yang menulis sebelum berkuasa.
18:54Dan orang yang datang dengan agenda, bahkan agendanya itu adalah agenda transformasi besar-besaran.
19:01Dan itu sebabnya saya cocok dengan istilah arah baru, bahkan memakai istilah Indonesia ingin menjadi negara kuat, negara super power
19:11dan sebagainya.
19:12Itu karena sekali lagi dia sudah tulis, kalau kita baca paling tidak ada dua buku yang beliau tulis tentang itu.
19:19Pertama paradoks Indonesia itu kan kritik kepada sistem.
19:22Negara kaya, tapi banyak mengimpor.
19:26Penghasil CPO terbesar di dunia, tapi minyak gorengnya sering langka dan harganya tinggi.
19:33Kekayaan kita yang tidak dikelola secara amanah.
19:36Dan kita tahu pesta pora tambang, pesta pora mineral, CPO.
19:41Kalau itu tujuan yang baik, kenapa itu tidak bisa diterima dengan baik?
19:43Ya makanya itu kan pertanyaan nanti saya ingin dialog dari hati ke hati ke Bung Ferry ini.
19:49Karena menurut saya, saya membaca.
19:50Artinya saya termasuk yang tidak percaya Presiden suka membaca, Bang.
19:53Termasuk?
19:54Karena ciri-ciri membaca itu gampang, Bang.
19:58Kalau saya yakin Rosyana Silalahi dan Fahri Hamzah membaca, saya bisa lihat dari rangkaian diksi yang dia gunakan ketika bicara.
20:06Dan ini bukan tipe orang yang rajin membaca.
20:09Saya mau baca.
20:09Bagi saya, hentikan cerita mengagung-agungkan Presiden rajin membaca.
20:13Tapi saya, tapi Bung Ferry, izinkan saya koreksi sedikit.
20:16Mungkin dalam bahasa Indonesia, karena beliau membaca bahasa Inggris dan kerap berbahasa Inggris.
20:22Bisa jadi ketika menerjemahkan kebahasa Inggris?
20:25Itu sebabnya menurut saya, dia salah membaca soal Indonesia.
20:28Terlalu banyak membaca buku asing dan Inggris.
20:31Saya mau teruskan.
20:32Kestansi dulu.
20:33Buku pertama itu ada kritik sistem.
20:35Dan kritik sistem itu di masa Pak Jokowi, buku itu masih diterbitkan, diberi judul dan solusi-solusinya.
20:43Lalu kemudian mulai berbicara dan berkomunikasi dengan Presiden.
20:47Dan menurut saya, itu salah satunya sebab kenapa pada akhirnya kemudian terjadi koalisi dengan Pak Jokowi.
20:54Karena agenda-agenda independensi, kemandirian bangsa, hiririsasi dan sebagainya itu memang secara ngotot diperjuangkan.
21:02Dan Pak Jokowi setuju untuk melakukan itu.
21:05Lalu muncullah buku yang kedua, itu Strategi Transformasi Bangsa.
21:09Oke, tapi kita jangan bicara buku, Bung Ferry.
21:11Yang dibayangkan oleh Pak Prabowo itu adalah satu skala transformasi.
21:15Saya sebagai generasi reformasi yang mendobrak otoritarianisme seperempat abad yang lalu lebih,
21:23melihat bahwa dalam semua kepemimpinan Indonesia dalam transisi,
21:27saya melihat hanya Prabowo yang bisa memberikan harapan pada perubahan yang mendasar.
21:32Setelah era reformasi?
21:33Ya, setelah era reformasi.
21:35Karena kalau kita lihat, itu berbahaya sekali ya.
21:38Pertumbuhan ekonomi kita ini flat, jumlah orang miskinnya itu nambah atau berkurang sedikit.
21:44Jumlah kelas menengahnya juga flat, tapi jumlah orang kayanya itu luar biasa, melompat.
21:50Dan itu menciptakan ketimpangan.
21:51Kalau tujuannya baik, mengapa itu tidak bisa dibaca dengan baik?
21:54Sekarang kita berbicara ke soal kedua.
21:55Kenapa Pak Prabowo disalahpahami?
21:57Kalau menurut saya ada banyak alasan untuk salahpaham kepada Prabowo.
22:01Salah satunya adalah trauma generasi yang sering saya katakan.
22:06Pada generasi reformasi itu, mereka mendengar dan menikmati fitnah tentang Pak Prabowo itu yang menumpuk,
22:13yang banyak sekali.
22:14Sehingga kadang-kadang fitnah itu belum keluar dari fikiran mereka.
22:18Dan masih memanggap bahwa Pak Prabowo itu seperti yang difitnahkan oleh orang di masa lalu.
22:23Tapi kalau kita bicara mahasiswa sekarang, mereka tidak merasakan mendengar fitnahan itu.
22:27Yang mereka lihat soal NBG, mereka lihat soal anggaran pendidikan.
22:31Nanti kita jelaskan yang itu.
22:33Tapi ini saya bicara satu layar dari generasi yang memang menyimpan trauma seperti itu.
22:37Tapi makanya saya mengerti, problem kedua itu memang ada problem kultural.
22:44Antara sebagian orang dengan cara Pak Prabowo berkomunikasi, subkultur yang dia bawa,
22:50latar belakang pendidikan yang dibawa, itu memang tidak mudah.
22:53Orang ini pinter, cerdas berpikir dengan bahasa asing yang tadi Mbak Rosi katakan.
22:58Itu konfidennya sangat tinggi, ketemu pemimpin-pemimpin negara.
23:01Itu sangat konfiden, saya mengikuti beberapa pertemuan tertutup dengan pimpinan-pimpinan negara.
23:07Konfidennya luar biasa.
23:08Dan saya kira ini adalah salah satu presiden yang punya konfiden besar dalam sejarah Indonesia yang menurut saya kita perlukan.
23:14Tapi memang kemudian oleh kita dianggap ini melanjutkan salah paham kita.
23:20Karena cara berkomunikasi tadi itu.
23:21Tapi bagi mereka yang punya kesempatan mendekat kepada Pak Prabowo, saya lihat dia berubah.
23:27Coba lihat sekarang ini ya, di dalam kabinet itu.
23:30Yang terakhir masuk ini jumur.
23:31Ini kan generasi-generasi yang sebenarnya alergi dengan Orde Baru.
23:35Karena mereka ini yang melawan Orde Baru.
23:37Ada Budiman, ada anak-anak PRD di situ paling banyak, Gus Jabu dan sebagainya.
23:42Tapi mereka setelah ketemu dengan Pak Prabowo, mereka mengatakan inilah pejuang kita.
23:46Dan dengan orang inilah kita menjalankan seluruh agenda reformasi yang pernah kita punya dulu.
23:51Dan itu yang menyebabkan mereka sekarang hadir menjadi pembela Pak Prabowo.
23:55Nah di sebagiannya mungkin memang masih memelihara, salah paham dan sebagainya.
23:59Tapi menurut saya kenapa tidak? Berkomunikasi.
24:02Oh jadi cara untuk tidak salah paham diajak ke kabinet ya?
24:06Enggak, berkomunikasi.
24:07Saling memahami, kan kita ini mau bertengkar apa Mbak Rosi?
24:12Apa yang mau kita bertengkarkan?
24:13Mau menang-menangan apa kita ini?
24:15Kita kan Pak Prabowo ingin ngasih makan rakyat.
24:18Ingin agar stunting hilang.
24:20Ingin korupsi sumber daya alam hilang.
24:22Apa yang beda? Apa yang rusak dari semua itu?
24:24Tujuan yang baik sering sekali disalahpahami.
24:27Coba Anda menjawab hal itu.
24:29Itu bagian kedua dari kesalahan Bang Fahri menilai aksi besok dan generasi yang ada saat ini.
24:36Beliau mengukurnya dari hal yang sama.
24:39Bahwa Pak Prabowo sudah berubah dari yang dulu.
24:43Padahal yang memfitnah cerita soal Pak Prabowo kan generasinya abang tuh dalam masa-masa itu.
24:49Jadi tidak ada soal dengan generasi sekarang.
24:51Mereka tidak melihat itu.
24:53Persis itu yang tadi saya katakan.
24:55Adalah kondisi kekinian.
24:57Kabinet 110 orang untuk apa gunanya.
25:01Bahwa kebijakan tidak tepat sasaran soal MBG.
25:06Itu uang negara triliunan per hari gitu ya.
25:10Lalu kemudian kebijakan ekonomi yang tumpang tidih satu sama lain.
25:15Kebijakan global yang out-outan.
25:18Yang jauh dari cita-cita bangsa.
25:20Dan itu ini ingin Anda jelaskan atau tekankan bahwa itu gak ada hubungannya dengan salah paham.
25:24Karena mereka juga waktu itu tidak mengetahui solat terbelakang Prabowo.
25:27Mereka tidak terikat dengan cerita yang disebarkan oleh Bang Fahri dan teman-temannya soal Pak Prabowo dulu.
25:34Mereka terikat dengan kondisi saat ini.
25:37Mereka masih merasakan UKT yang mahal.
25:39Mencekik mereka.
25:40Kebijakan pendidikan yang berganti, berubah-ubah.
25:44Itu yang mereka ingin gaungkan.
25:46Sementara presiden terlalu sibuk berpidato, berjam-jam tanpa ada solusi.
25:53Hari ini kita bisa lihat memang ada keinginan pemerintah mengatakan kondisi ekonomi kita baik-baik saja.
26:00Fundamental ekonomi kita oke.
26:02Saya yakin orang sekelas Bang Fahri, saya mengikuti Bang Fahri juga dari dulu sebagai seorang aktivis.
26:09Kalau Bang Fahri di luar kekuasaan, saya yakin ini seluruh kebijakan sudah dibidas oleh Fahri Hamzah.
26:17Rasionalitasnya, tabrakan logikanya pasti dihajar oleh seorang Fahri.
26:22Hanya karena dia sekarang sedang ada di bagian itu, dia akan memuji presiden.
26:26Ini adalah sebuah kesalahan pengaman.
26:29Jadi menurut saya, yang perlu dilakukan istana adalah bukan membangun rasionalitas terhadap sesuatu yang salah.
26:37Tapi pastikan kebijakan itu betul-betul tepat sasaran.
26:41Ada ruang koreksi ga Bang Fahri?
26:43Kan yang diinginkan adalah ruang koreksi kan?
26:45Perbaikan.
26:46Salah satu pertanyaan besar yang Mbak Rosy sampaikan adalah,
26:48berani tidak melakukan perbaikan di kabinet yang 110 itu menjadi lebih sederhana.
26:57dikonsaiskan menjadi tepat sasaran.
26:59Saya kira ya kalau selama Anda rasional ya, Bang Fahri dan kawan-kawan, Anda pasti akan didengar oleh Pak Prabowo.
27:07Orang itu mendengar orang yang rasional.
27:10Mungkin dia terpancing kalau ada orang yang sinis, ada orang yang berlebihan lah kira-kira gitu ya.
27:18Tapi kalau orang rasional, punya data, punya argumen, dia senang banget itu.
27:22Dan menurut saya itulah optimisme kita karena presiden kita itu logis gitu.
27:29Dia mengerti bahwa kita boleh berbeda pendapat dengan orang.
27:34Tapi kalau orang itu logis, dia punya data, dia punya argumen, mungkin saja dia punya kebenaran yang harus kita dengar.
27:43Nah kadang-kadang cara ekspresinya mungkin ada keterbatasan, tidak ada manusia yang sempurna.
27:47Tapi untuk kita ketahui bahwa gerakan mahasiswa sendiri kan selalu diuji oleh realitas.
27:54Kita dulus juga, Mbak Rosi kalau kita lagi demo-demo di awal itu.
27:58Kalau masyarakatnya itu memang merasa tidak ada yang berat, mereka tidak ditindas, mereka dikasih makan, dibikinkan kooperasi.
28:05Ada banyak masalah di sini, tapi Pak Prabowo ingin mentransformasi ekonomi yang tadinya cuma dikuasai oleh, mohon maaf ya, oleh
28:14segelintir orang.
28:15Oleh Pak Prabowo sekarang ini ekonomi itu mau diserahkan kepada masyarakat bawah.
28:20Bikinlah kooperasi, bikinlah kampung tahanan.
28:22Saya nggak sepakat poin itu Bang, poin itu berulang-ulang bagi saya.
28:25Soal sosialisme, ekonomi gaya baru dan segala macam.
28:28Yang ada bagi saya adalah fasisme, cerita soal ultranasionalisme berbalut jubah yang dinamakan militeristik dan mengambil ruang-ruang publik sipil
28:39menjadi lebih jauh.
28:41Sekarang pemerintah nggak bisa nipu-nipu publik Bang, kooperasi merah putih itu ada yang di hutan Bang.
28:46Itu bagaimana menjelaskannya?
28:48Anda baru melihat itu kepala BGN-nya ditangkep masuk buwi.
28:52Ya tidak ada hubungan dengan kooperasi merah putih.
28:54Oh nggak, siapapun.
28:54Ini militeristik yang ada.
28:56Pak Prabowo nggak akan melindungi siapapun.
28:58Bagi saya, Abang perlu menjawab dulu.
29:03Bagaimana gagasan Abang soal militaristik yang multifungsi, soal polisi yang masuk ke ruang-ruang sipil.
29:10Bukankah itu sesuatu yang Abang tentang dulu?
29:13Oh gini.
29:13Ini hari ini kita membangun sesuatu yang tidak profesional.
29:16Anda kan ahli tata negara.
29:18Ya itu tidak profesional.
29:19Tata negara bilang tugas militer dan polisi cuma satu Bang.
29:23Iya tapi semua ada metode.
29:24Itu pertahanan dan kampanye.
29:25Itu bukan metode.
29:26Seberapa takut Anda memang militaristik itu benar-benar masuk ke ruang-ruang sipil?
29:29Nggak begini.
29:30Sangat-sangat takut.
29:32Ini loh.
29:32Karena apa yang terjadi di Lengteng Agung, Bang.
29:35Betapa militer dengan mudah memukul publik.
29:38Apa yang terjadi di berbagai desa.
29:40Bagaimana tanah publik dicapelok.
29:43Apa yang terjadi dengan kooperasi desa yang digantikan oleh kooperasi merah putih.
29:47Ini bagaimana wajah militer yang tidak tepat sasaran.
29:51Konstitusi kita sederhana.
29:53Tugas mereka pertahanan melindungi kita.
29:56Kewajiban negara memastikan kesejahteraan bagi militer kita.
30:00Bukan memberikan pekerjaan di luar tugas konstitusionalnya.
30:04Polisi kita juga tidak sejahtera.
30:06Pastikan dia sejahtera.
30:07Bagaimana bisa mereka menangkap para begal, bandar judul, bandar narkoba.
30:13Kalau parlemen dan partai tidak memikirkan nasib mereka.
30:17Tapi mereka dipaksa melakukan pekerjaan di luar tugas konstitusionalnya.
30:23Dan itu dilakukan oleh presiden dan berbagai menteri-menterinya.
30:28Hari Jumat tanggal 12 Juni akan ada aksi besar-besaran seluruh BEM.
30:35Ui juga akan hadir dan juga di beberapa daerah.
30:38Karena saya mengundang dua aktivis.
30:40Yang satu aktivis yang sudah bersama pemerintahan Prabowo.
30:44Dan yang satu lagi aktivis yang masih di luar pemerintahan.
30:48Bung Fahri Hamzah dan Bung Fahri Amsari.
30:51Silakan, saya berikan kesempatan Anda untuk menjawab adanya kecemasan
30:55bagi para aktivis, masyarakat tentang munculnya gejala totalitarianisme,
31:00ultranasionalisme dan bagaimana militer sudah masuk ke ruang-ruang dan pekerjaan sipil.
31:04Pertama soal niat dari Pak Prabowo.
31:08Karena yang relevan di eksekutif ini kan yang dipilih oleh rakyat.
31:11Yang bisa ditagi itu kan adalah presiden.
31:14Karena dia yang berjanji dan dia yang menyampaikan agendanya.
31:18Dan saya tadi mengatakan Pak Prabowo itu menulis sebelum dia berkuasa.
31:22Sehingga kita bisa pereksa semua yang dia lakukan sekarang itu ada dalam tulisannya.
31:27Dan salah satunya adalah melanjutkan upaya kita untuk melakukan transformasi besar-besaran.
31:32Oke, Bung kalau bisa langsung masuk ke tadi kecemasan Bung Fahri.
31:37Bagaimana tentara bisa ikut membangun kooperasi desa?
31:39Ya kalau ada pelanggaran hukum Mbak, menurut saya itu dikejar aja.
31:44Dan saya kira Pak Prabowo itu gak akan melindungi siapapun.
31:47Kalau ada orang melanggar hukum, apalagi mencuri ya, merongrong kekayaan negara,
31:52menyalahgunakan jabatan, sikat aja.
31:55Dan Pak Prabowo itu open dengan whistleblowing.
31:58Ini kan yang terjadi di BGN ini kan whistleblowing ini.
32:01Sehingga tiga pimpinannya disikat habis-habisan itu kan.
32:05Dan itu gak ada ampun.
32:06Gak akan Pak Prabowo itu tidak akan menghentikan agendanya untuk mentransformasi kehidupan berbangsa dan bernegara ini
32:13kepada kehidupan masyarakat yang lebih adil, sejahtera.
32:17Yang beliau tulis dalam bukunya, saya ingin hentikan korupsi, saya ingin hentikan ketimpangan,
32:21saya tidak mau ada rakyat Indonesia yang miskin, orang-orang tua yang masih kerja tanpa jaminan sosial dan sebagainya.
32:28Saya akan hentikan itu.
32:29Dan di pikiran beliau itu cuman itu.
32:32Karena itu adalah niat baik kalau menurut saya tidak ada ceritanya kita bisa melawan itikat baik dari Pak Prabowo.
32:40Dan dia gak akan mundur.
32:41Siapapun yang ingin menghentikan cita-citanya untuk melakukan ini, dia akan sikat.
32:45Dia gak peduli.
32:47Makanya kalau kita...
32:48Akan sikat itu maksudnya apa?
32:50Oh iya, maksudnya itu dia biarkan mekanisme hukum untuk mengoreksinya.
32:54Tapi kalau ada orang yang menganggap, oh Pak Prabowo akan melindung, gak akan.
32:58Orang di sekitarnya aja ada masalah karena sikat kok.
33:02Karena sikat itu maksudnya itu hukum berbicara.
33:04Tapi kalau ada misalnya orang mengatakan, saya ini kan orang dekat presiden, saya gak bisa diganggu.
33:09Gak ada yang begitu.
33:10Sekarang ini makanya di keterbukaan publik ini, di kecemasan teman-teman mahasiswa,
33:15kita buka apa yang ganjil?
33:17Kita tuntut dia secara hukum, kita buka di ruang publik, kita menjadi whistleblowing.
33:23Kalau ada masalah kita buka sejak awal.
33:25Ini adalah penyimpangan, ini penyimpangan pasal ini yang dilanggar.
33:29Itu tidak ada masalah, Pak Prabowo gak akan mengalangi itu.
33:31Tapi tipe pidato Pak Prabowo dan Bang Fahri barusan, itu memang cikal bakal ultranasionalis.
33:39Cerita nasionalisme, bahwa ini bukan kepentingan dirinya sendiri, itu juga dipidatokan oleh Hitler dan Mussolini.
33:47Bahwa ini untuk kepentingan bangsa, ini untuk kepentingan rakyat kecil, itu semua diceritakan.
33:54Fakta di lapangan dengan kebijakan, itu tidak tumbuh.
33:58Cerita bahwa akan menghantam pebisnis yang merupakan kelompok minoritas,
34:05satu persen yang menguasai berbagai aspek bisnis, itu semua tidak terlihat.
34:10Yang ada adalah kekuatan negara mengancam para pebisnis secara sesuatu yang menurut kita juga tidak adil secara konstitusional.
34:19Patriot bon lah, atas dasar macam-macam akan ada bon-bon yang lain yang menurut saya, itu tidak adil bagi
34:27mereka.
34:27Misalnya apa yang terjadi dengan kooperasi Merah Putih, menutup Alphamidi, Indomaret, dan segala macam,
34:34itu kejahatan pola yang sama yang dilakukan oleh...
34:36Enggak, ini yang saya bilang, Bung Fahri ya.
34:37Itu terjadi, itu menteri yang ngomong, Bung Fahri.
34:39Jadi begini, Bung Fahri.
34:40Itu bukan secara konstitusional, menteri adalah wajah presiden.
34:44Itu frontier dari...
34:45Yang sekarang yang Bung Fahri lakukan adalah membuat tampilan yang buruk dalam segala kebijakan terlihat lebih halus dan baik.
34:54Jadi itu khasnya aktivis yang masuk ikhtana menurut saya, padahal dia tahu ini sedang buruk.
35:00Bung Fahri, saya ini mohon maaf ya, saya nggak melebih-lebihkan.
35:05Saya mengambil keputusan untuk terlibat di dalam kekuasaan itu, bukan keputusan yang sederhana.
35:10Saya ngerti bahwa di dunia ini tidak ada, bukan soal pertanggung jawaban kepada orang, itu tanggung jawab saya nanti.
35:18Jadi jangan Anda menganggap saya menyederhanakan ini soal leisure, soal kegemaran, soal kesenangan itu nggak ada.
35:24Saya tidak mungkin menjadi bagian dari kejahatan, itu Anda perlu catat itu.
35:28Dan saya akan melawan diri saya kalau saya mau terlibat sebagai bagian dari kejahatan.
35:33Saya tunggu Bang Fahri, kalau betul-betul kejahatan Presiden, nyata-nyata adalah kejahatan.
35:38Anda jangan begitu cara berpikirnya dong, karena Anda ini...
35:41Karena Abang sedang menjelaskan begini.
35:44Anda mengambil peran-peran yang sebenarnya bukan tugas Anda juga.
35:47Terlalu banyak yang Anda komentari itu dan belum tentu benar.
35:51Semua protes Anda ini, Bung Fahri.
35:53Ini semua cara berpikir konstitusional.
35:56Iya, okelah, karena Anda dosen konstitusi, lalu kita mengatakan Anda konstitusional.
36:02Iya, pendekatan yang saya gunakan pendekatan konstitusional.
36:05Iya, tapi politik lebih daripada itu.
36:06Cara berpikir, Abang, cara berpikir bazar barusan.
36:09Approval rate dari Presiden ini masih hampir 75 persen.
36:12Kamar Bang Fahri, Bang Fahri tahu seorang...
36:14Anda kan mau mengatakan bahwa ini ditutangin dan sebagainya.
36:17Jadi kalau Anda nggak ada orang Anda percaya, terus kenapa kita berkomunikasi?
36:21Abang tahu itu bahwa...
36:22Anda kan nggak mau mendengar pemerintah.
36:24Nah, seolah-olah Anda kalau tidak menjadi bagian pemerintah, Anda hero, Anda berjuang untuk rakyat, Anda yang hebat.
36:29Nggak begitu.
36:30Kita berdialog tenang, kita selesaikan masalahnya.
36:33Semua maniat baik, saya udah katakan.
36:35Saya garanti yuniat saya baik.
36:37Saya tidak akan bergabung dengan kejahatan.
36:39Dan Anda mesti juga menjamin bahwa Anda juga tidak merupakan bagian dari kejahatan.
36:44Bukan berarti karena Anda di luar pemerintah, Anda jadi baik.
36:47Belum tentu.
36:48Karena itu mari kita bicara dengan baik.
36:51Bermegang kekuasaan.
36:52Jangan semua kemudian dianggap disuruh dari.
36:53Karena itu Anda berlaku baik.
36:54Basisnya berlaku.
36:56Kalau Ferry Amsari tidak bisa kita rasional.
36:57Kalau Ferry Amsari tidak baik, satu tidak merugikan banyak orang, Bang.
37:01Tapi kalau Anda...
37:02Loh itu jalan.
37:03Ini yang justru, Bang Ferry.
37:05Anda harus berbuat baik.
37:06Anda kalau begitu cara berfikirnya, seolah-olah Anda mengatakan,
37:09kalau mau jadi orang bulia tidak merugikan orang, Anda masuk di dalam.
37:12Oh enggak, enggak.
37:13Kan dia bilang begitu kan?
37:14No, no, no.
37:15Karena Anda mau menuduh bahwa kalau orang sudah masuk di dalam, orang itu jadi rusak.
37:19Saya tidak menuduh.
37:20Saya sedang mengingatkan.
37:21Para kekuasaan itu berperaya.
37:23Cara mengingatkan inilah yang kita mesti omong.
37:25Ia.
37:25Saya lah niatnya baik.
37:26Betul.
37:27Kan Anda mau membongkar niat saya.
37:29Saya mau kita mengadu niat.
37:31Saya sedang membongkar niat Pak Prabowo Bang.
37:33Stop.
37:33Bung Ferry, justru di sini kita ingin sama-sama memastikan bahwa apakah di dalam ataupun di luar,
37:41kita sama-sama menjaga agenda reformasi.
37:43Appreciate ke Bung Ferry mengatakan,
37:45tidak akan tunduk diam jika berada dalam satu lingkungan yang membiarkan pelanggaran hukum.
37:52Itu sebabnya saya mendukung Prabowo.
37:54Karena saya percaya dan saya kenal lama.
37:57Inilah orang yang mempersiapkan dirinya menjadi pemimpin.
38:00Itu juga.
38:01Dengan segala macam perangkatnya.
38:02Kan boleh saya mengingatkan Abang?
38:04Saya tagih janji Abang,
38:06kalau Prabowo salah melanggar konstitusional,
38:09saya ingin kembali Fahri kepada tempat.
38:12Nah itu dia.
38:12Kan boleh kan?
38:13Kadang-kadang dia bicara konstitusional.
38:15Tapi dia gak ngerti bahwa negara ini perangkatnya sudah lengkap.
38:19Ada cara menghukum presiden,
38:21ada cara menghukum tentara,
38:23ada cara menghukum polisi,
38:25semua ada sudah perangkatnya.
38:27Anda gak boleh itu mengambil pribadi terhadap semua masalah.
38:30Dan tadi saya, saya begini.
38:32Bring back to the system.
38:33Saya tidak akan ikut terlibat kepada orang jahat.
38:36Oh iya dong.
38:36Saya ingatkan Abang,
38:38kalau seandainya,
38:39sistem oke itu jalan,
38:41yang saya tanyakan,
38:42kalau seandainya Abang mengetahui itu salah,
38:45saya berharap Abang kembali kepada tampuk,
38:49di mana publik harus Abang perjuangkan.
38:51Bung Ferry, dalam agama saya Bung Ferry,
38:55ingat, Anda tidak termasuk yang saya perlu minta konsultasi.
38:58Saya punya mekanisme istiqoroh.
39:01Dan Anda gak perlu khawatirkan itu.
39:03Cuma kecenderungan Anda mempersonalisasi.
39:06Itu problemnya.
39:07Tapi bagi Bung Ferry.
39:08Dalam agama saya yang juga agama Abang,
39:09tugas saya mengingatkan Abang.
39:12Tapi ngomong-ngomong ini talkshow politik,
39:14bukan program agama.
39:16Karena beliau Ustadz kan,
39:17karena kita harus pakai bahasa Ustadz.
39:19Tapi saya menangkap maksudnya Bung Ferry Hamzah begini,
39:22dia percaya pada niat baik dan mulianya Presiden,
39:26makanya sekarang ada di kabinet.
39:28Tetapi dia juga memberikan ruang,
39:29silakan kalau memang ada yang salah,
39:32berikan alamatnya di mana kesalahan itu terjadi,
39:34karena Sorok Prabowo senang dengan whistleblower.
39:38Terima kasih Anda masih di program Rosi.
39:40Saya masih bersama aktivis 98 yang ada di kabinet Merah Putih,
39:43Ferry Hamzah,
39:43dan aktivis pro-demokrasi Ferry Hamzari.
39:47Ini hari Kamis, tanggal 11 Juni,
39:49besok hari Jumat,
39:50orang mengkhawatirkan adanya aksi demo besar-besaran.
39:53Bung Ferry juga pasti saya tahu,
39:55berkomunikasi dengan teman-teman BEM Indonesia.
39:59Sebenarnya apa tujuan besar aksi demo Juni,
40:0212 Juni hari Jumat nanti?
40:04Ya tentu menjalankan mandat
40:07yang ada di kepala publik soal
40:10prinsip-prinsip konstitusional ya.
40:13Menyuarakan kebebasan berpendapat,
40:15dan tentu saja mengingatkan pemerintah.
40:17Karena dalam agium,
40:20ada agium yang kami pahami ya,
40:22power tends to corrupt absolute,
40:24power corrupt absolutely.
40:26Jadi kekuasaan itu pada dasarnya menyimpang.
40:30Tidak sekedar soal niat baik,
40:33tetapi apa yang disebut dengan kebijakan yang terukur,
40:37dan disebut dengan kebijakan yang baik.
40:38itu kalau tidak terlaksana.
40:41Dan ini hanya sebagai pengingat,
40:42atau memang ini mengindikasikan adanya aksi unjuk rasa yang bisa berkepanjangan?
40:48Tentu kalau peringatan kemudian diabaikan,
40:51tentu akan ada gambaran yang mungkin di luar dari rencana.
40:57Kalau kemudian situasi ekonomi terus buruk,
41:00tidak ada kebijakan yang pro rakyat yang betul-betul terjadi.
41:04Semua hanya dalam upaya menghias berbagai hal,
41:08tanpa betul-betul dapat dirasakan oleh publik luas.
41:11Tentu akan berbeda ceritanya.
41:13Tapi semua yang ada di kepala teman-teman,
41:16tentu negara ini bisa berjalan dengan baik.
41:19Jangan merasa paling nasionalis dibandingkan yang lain.
41:23Karena negara ini milik kita bersama.
41:25Kita ditugaskan dalam tugas masing-masing.
41:27Saya tidak meragukan peran Bang Fahri di dalam,
41:31tetapi Bang Fahri juga harus mengingat peran kami di luar untuk mengingatkan.
41:35Kalau tidak ada kami di luar, mungkin ada yang lupa.
41:39Kalau tidak ada orang seperti Fahri di dalam,
41:42mungkin kita tidak bisa bicara rasionalitas.
41:45Mungkin akan berbeda ceritanya.
41:47Oleh karena ini, ini soal peran masing-masing saja.
41:50Dan kami paham.
41:51Tapi izinkan kami mengingatkan dari perspektif kami sebagai publik luas.
41:56Jangan samakan perspektif publik di bawah
41:59dengan orang yang ada di dalam istana, tentu beda.
42:02Dan ini tidak didanai soros atau kekuatan asing, antek asing.
42:07Anda bisa menjamin itu?
42:08Ini saya perlu tekankan.
42:10Seluruh dana asing itu diizinkan oleh pemerintah dulu baru turun.
42:16Saya ingat seluruh tudingan ke saya sebagai penerima soros berbagai dana,
42:22tiba-tiba terbantahkan oleh pengumuman siapa saja penerima dana soros.
42:27Orang-orang istana yang dulu mengatakan buzzer-bazer yang kemudian bicara soal itu,
42:32tidak ada yang minta maaf.
42:33Saya sadar itu peran mereka untuk memurnikan aksi berbagai orang.
42:39Boleh saja.
42:40Nah sekarang kalau istana boleh menerima dana asing,
42:43kenapa rakyatnya tidak boleh?
42:45Kan aneh sekali negara ini.
42:47Ya, Bung Farid, di bagian terakhir ini, bagaimana Anda melihat kritisnya mahasiswa sekarang,
42:56itu juga seharusnya bisa mendapat tempat yang bisa,
43:01apa yang menjadi protes mereka itu juga menjadi koreksi oleh pemerintah?
43:06Kita percaya dari awal bahwa negara dengan jumlah orang kritis yang banyak,
43:11itu adalah negara yang akan lebih maju.
43:14Meskipun kita tahu dalam tren dunia sekarang ini,
43:18ada negara seperti Iran, ada negara seperti China,
43:21apa namanya, yang punya resiliency tertentu,
43:25dan punya agenda nasional yang dahsyat,
43:27China bisa mengeluarkan orang dari kemiskinan dalam satu generasi itu,
43:32lebih dari 800 juta manusia keluar dari kemiskinan.
43:36Apa tanpa demokrasi,
43:39apa namanya,
43:40dengan otoritarianisme, single party, dan sebagainya.
43:43Tapi juga ada negara barat yang di sana,
43:45ada kebebasan,
43:47tapi elitnya terpecah,
43:49dan mulai terpuruk sekarang ini kalau kita lihat.
43:51Nah Indonesia itu harus punya jalan sendiri,
43:53karena itulah kegembiraan teman-teman mahasiswa,
43:56untuk terlibat sebagai aktivis,
43:59itu adalah bagian dari pelatihan mereka untuk suatu hari menjadi pemimpin.
44:03Cuman izinkan saya juga untuk,
44:05apa namanya,
44:08berefleksi bahwa
44:09yang dilakukan oleh Pak Prabowo sekarang itu adalah menuntaskan agenda reformasi
44:14yang pada abjad atau
44:18sisi-sisi akhir dari Orde Baru,
44:21fase-fase akhir dari Orde Baru,
44:23memang ada penyimpangan,
44:24dan itulah yang kami tuntut.
44:28mengerucutnya kekuasaan politik,
44:30karena itulah Pak Prabowo mendirikan partai,
44:32dan ikut dalam kontestasi pemilu ini,
44:34mungkin di dunia ini di antara pemimpin yang berkontestasi paling banyak,
44:39itu adalah Pak Prabowo.
44:40Mencoba dalam demokrasi dia,
44:42apa namanya,
44:43memimpin begitu.
44:45Dan yang kedua adalah beliau melakukan demokratisasi ekonomi yang masif,
44:49dan saya kira,
44:49ini akan menjadi agenda demokratisasi ekonomi yang paling masif dalam sejarah Indonesia.
44:54Bung Fahri kan dikenal dekat dengan Presiden,
44:57Anda sendiri mengatakan bahwa mengenal beliau dengan sangat baik,
45:00karena itu Anda selalu mendukung dia.
45:02Tapi sebenarnya orang seperti Bung Fahri itu didengar gak?
45:04Atau siapa yang didengar oleh Presiden?
45:06Saya sering dipanggil dan sering berdebat,
45:09dan juga sering tidak bisa sama pendapatnya juga.
45:12Dan kadang-kadang saya dengar dari orang,
45:16beliau belum setuju soal ini, soal ini.
45:18Tapi dia tidak menghindari perdebatan,
45:20karena pada dasarnya orang itu hidup dengan tidak saja kultur tempat dia dibesarkan,
45:25memang dia pernah di militer,
45:26tapi sebelumnya kan dia hidup di barat.
45:29Dia juga hidup dalam keluarga yang sangat demokratis.
45:32Ada perbedaan di dalam keluarganya yang luar biasa,
45:35dan mereka berdebat, senang dengan perbedaan pendapat.
45:38Jadi kalau ada orang menuduh bahwa beliau tidak suka perbedaan pendapat,
45:41dan sebagainya itu tidak benar.
45:42Ini yang saya bilang itu,
45:44ada persoalan gaya yang kita tidak terbiasa,
45:47ada subkultur tertentu di Indonesia ini,
45:49yang sering tidak diterima gayanya.
45:52Gak bisa kita...
45:53Apa yang paling Anda ingin dengar atau ingin lihat koreksi yang dilakukan oleh Presiden Prabowo?
45:57Yang sejalan dengan harapan mahasiswa?
45:59Lebih banyak memastikan kebijakan itu betul-betul melibatkan partisipasi publik.
46:06Dari berbagai undang-undang yang kemudian menjadi kontroversi,
46:09itu tidak melibatkan partisipasi publik sama sekali.
46:13Tiga hak yang harusnya ada dalam partisipasi itu diabaikan,
46:17termasuk dengan revisi undang-undang polri yang terbaru,
46:20undang-undang militer, dan lain-lain.
46:21Kalau Bang Fahri bercerita bahwa ini cara Pak Presiden mewujudkan cita-cita reformasi,
46:28itu tidak sesuai dengan data kita.
46:30Dari enam tuntutan reformasi, tinggal satu saja yang belum rusak.
46:34Yaitu?
46:35Yaitu kembali kepada undang-undang dasar naskah awal.
46:38Undang-undang konstitusi kita masih konstitusi reformasi,
46:41lima lainnya sudah hilang.
46:44Muncul multifungsi militer,
46:47peradilan yang kemudian tidak adil,
46:49punya problematika serius,
46:51bahwa Adili Suharto sudah tidak mungkin,
46:56bahwa kemudian ada mewujudkan pembagian kekuasaan yang baik,
47:01bagaimana dengan pembagian kekuasaan,
47:03koalisinya koalisi tunggal.
47:05Jadi lima cita-cita sudah terbuang,
47:08hanyut.
47:09Oleh karena itu, harapannya,
47:11kalau memang itu cita-cita Pak Prabowo,
47:14wujudkan kembali cita-cita reformasi itu,
47:18pastikan seluruh posisi yang diatur oleh konstitusi,
47:22berada pada tempatnya.
47:24Bukan kemudian sekedar berpidato,
47:27yang tinggi-tinggi,
47:28tanpa kemudian mampu betul-betul membumi.
47:31Kalau mengurucut pada satu pesan yang sederhana saja.
47:34Pak,
47:35bekerja,
47:36jangan pidato.
47:38Bukhari, terakhir.
47:40Pak Prabowo ini baru setahun,
47:43tujuh bulan,
47:45atau delapan bulan,
47:46dan kepada beliau,
47:49dipikulkan,
47:50semua amanat untuk memperbaiki,
47:53apa yang keliru dalam,
47:55seperempat abad belakangan ini,
47:57dan beliau akan lakukan itu,
47:58dan beliau tidak kompromi dengan siapapun untuk melakukan itu.
48:03Dan Bung Fahri termasuk juga yang mendukung
48:06kalau ada aksi unjuk rasa mahasiswa,
48:08itu adalah bagian dari penginyak pemerintah,
48:11dan tidak dituding sebagai digerakan oleh soros.
48:14Itu kita harus dianggap biasa saja,
48:16sebagai percagapan daripada masyarakat sipil.
48:19Tapi Pak Prabowo dengan agendanya menurut saya,
48:21dia akan melakukan transformasi besar-besaran,
48:23dan saya percaya Indonesia akan berubah menjadi lebih baik ke depan.
48:27Baik, terima kasih Bung Fahri.
48:28Terima kasih Bung Fahri.
48:30Dua Fahri di Rosi malam hari ini.
48:33Dua aktivis,
48:34satu masih di dalam,
48:35dua sudah di luar.
48:40Tetapi semoga kita masih tetap bisa mempercakapkan
48:43masa depan bangsa ini dengan hati yang dingin.
48:45Terima kasih telah menyaksikan Rosi.
48:47Kita jumpa lagi Kamis depan.
48:48Sampai jumpa.
48:49Sampai jumpa.
48:54Terima kasih.
Komentar