Lewati ke pemutarLewatkan ke konten utama
  • 22 jam yang lalu
Embun belum sempat lepas dari daun ketika Sendang Glagah Wangi dan Punden Kedung Kupit di Dusun Jenangan sudah riuh oleh doa.

Jumat Pon, 5 Juni 2026, warga Desa Bandungan, Kecamatan Saradan, Kabupaten Madiun kembali menenun benang tradisi, Bersih Desa.

Kegiatan ini bukan sekadar upacara. Melainkan cara masyarakat setempat berbicara dengan leluhur, berterima kasih pada tanah, dan saling menguatkan sebagai tetangga.

Sejak matahari merekah, warga dari tiap dusun turun membawa sesaji dan hasil bumi. Nasi tumpeng, sayur mayur, buah tangan ladang, semua diletakkan sebagai bahasa syukur yang tak butuh kata.

Doa bersama dipimpin tokoh agama setempat, menggema pelan, menyatu dengan suara air sendang.

Kepala Desa Bandungan, Hudi Utomo, menyampaikan bahwa tradisi Bersih Desa merupakan bagian penting dari identitas masyarakat.

Selain sebagai bentuk ungkapan syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa, kegiatan ini juga menjadi sarana untuk menjaga kerukunan dan gotong royong antar warga.

“Ini bukan hanya tentang adat, tapi tentang jati diri kita sebagai masyarakat yang menjunjung tinggi kebersamaan dan rasa syukur, "kata Hudi Utomo.

Melalui kegiatan ini, diharapkan masyarakat senantiasa dapat menjunjung tinggi kebersamaan dan rasa syukur. Menjaga akar budaya di tengah arus modernisasi, sehingga tradisi terus hidup dan dikenalkan oleh generasi muda.

Sementara itu, jalannya kegiatan penuh dengan kerukunan dan kebersamaan warga. Tak ada garis pemisah antara ritual dan ruang hidup. Selesai kenduri, warga duduk melingkar.

Cerita panen, tawa anak-anak, dan rencana bersama mengalir. Gotong royong tak lagi jadi slogan, tapi jadi meja tempat mereka makan bersama.

Acara berjalan tertib, bersih, penuh khidmat. Apresiasi mereka sederhana, untuk warga yang menjaga desa sebersih mereka menjaga tradisi.

Di zaman yang serba cepat, Desa Bandungan memilih untuk tetap mempertahankan warisan leluhur. Sebab tradisi bukan museum masa lalu. Melainkan jembatan yang tak pernah putus, dari leluhur ke anak cucu, dari Sendang Glagah Wangi ke masa depan yang lebih harmonis dan berbudaya. *

Reporter/Creator: Pras
Editor: Tim Selingkar Willis

Kategori

🗞
Berita
Transkrip
00:03Intro
00:04Intro
00:04Intro
00:21Dalam kelihatan bersenipu saham ini
00:34Terima kasih telah menonton
01:11Terima kasih telah menonton
01:37Terima kasih telah menonton
01:56Terima kasih telah menonton
02:25Terima kasih telah menonton
02:44Terima kasih telah menonton
03:09Terima kasih telah menonton
03:33Terima kasih telah menonton
03:58Terima kasih telah menonton
04:02Terima kasih telah menonton
04:03Terima kasih telah menonton

Dianjurkan