Lewati ke pemutarLewatkan ke konten utama
KOMPAS.TV - Garda Revolusi Iran memperingatkan tentara Amerika Serikat bahwa perang akan meluas melampaui kawasan jika Amerika Serikat dan Israel kembali menyerang Iran.

Peringatan ini muncul setelah Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, mengatakan akan menyerang Iran lagi jika tidak ada kesepakatan yang tercapai dalam beberapa hari mendatang.

Sementara itu, Trump sebelumnya mengumumkan penundaan serangan dan memberikan tenggat waktu kepada Iran.

Apakah konflik Timur Tengah benar akan meluas seperti ancaman Iran kepada AS dan Israel?

Pembahasan dilakukan bersama pengamat Timur Tengah, Zulvan Lindan, dan pengamat militer dari Center for Intermestic and Diplomatic Engagement, Anton Aliabbas.

Baca Juga UPDATE! Mekanisme dan Proses Deportasi 9 WNI Aktivis Usai Ditangkap Israel | BERUT di https://www.kompas.tv/internasional/670292/update-mekanisme-dan-proses-deportasi-9-wni-aktivis-usai-ditangkap-israel-berut

#iran #amerikaserikat #israel #perang

Artikel ini bisa dilihat di : https://www.kompas.tv/internasional/670295/saling-ancam-iran-siap-perluas-perang-lawan-as-israel-ini-analisis-pengamat-militer-sapa-malam
Transkrip
00:00Apakah konflik Timur Tengah benar akan meluas seperti ancaman Iran ke AS dan Israel?
00:06Kita bahas bersama pengamat Timur Tengah Zulfan Lindan dan pengamat militer dari Center for Intermastic and Diplomatic Engagement Anton Ali
00:15Abbas.
00:15Saya ke Mas Anton dulu. Halo, selamat malam Mas Anton.
00:20Malam.
00:21Dengan Friska di sini.
00:22Mas Anton, sejauh mana sebenarnya menengkar ancaman Iran soal meluas perang keluar kawasan jika Amerika Serikat menyerang kembali?
00:31Ya, pertama jelas Iran dalam belakangan ini itu jelas memaikkan strategi benturan secara bertahap ya.
00:39Saya melihatnya seperti itu.
00:40Kenapa ini dalam kaitan mereka saling tukar menukar proposal perdamaian gitu.
00:44Jadi bagaimana kemudian Iran mencoba untuk kemudian menawar ya, menegosiasikan bahwa ketika bicara tentang uranium, pengain uranium dan nuklir, mereka
00:53minta agar itu dipisah gitu negosiasinya.
00:56Sementara dalam kondisi yang saat ini yang mendesak adalah bagaimana kemudian adanya deklarasi perdamaian, berhenti perang di semua front, misalnya
01:06pencaputan sanksi dan blokade Angkatan Laut Amerika Serikat.
01:10Itu yang sebenarnya mereka harapkan.
01:12Kenapa? Karena sejauh ini toh juga mereka masih punya kartu gitu ya, kartu yang masih bisa digunakan.
01:18Misalnya ketika kita bicara tentang ranjau laut yang sudah dipasang gitu, lalu juga ada kapal-kapal cepat, RGC yang itu
01:25jelas diperhitungkan oleh armada militer Angkatan Laut Amerika Serikat misalnya,
01:32lalu kemampuan dronenya, itu juga jelas sedikit banyak dapat mengganggu navigasi pelayaran komersil yang ada di Slat Hormuz gitu.
01:41Itu yang saya melihatnya kenapa kemudian Iran cukup pede, walaupun mereka misalnya punya beberapa poin gitu, yang itu yang bisa
01:49memungkinkan untuk terjadinya skalasi.
01:51Misalnya bagaimana mereka bisa menfaatkan Slat Hormuz sebagai kunci, lalu juga ada potensi mereka memperlebar menggunakan front misalnya yang dimiliki
02:01oleh Huti,
02:02selama ini di Slat Bapak El Mandep, di Laut Merah, lalu juga ancaman mereka, ini yang belakangan ini terus meningkat,
02:09misalnya ancaman untuk menghancurkan infrastruktur regional mulai dari kabel bawah laut yang baik,
02:15yang berada di Slat Hormuz maupun juga Slat Bapak El Mandep, dan juga pernyataan retorika mereka bahwa mereka siap untuk
02:22berperang dengan apapun opsinya yang akan dilakukan oleh Amerika Serikat.
02:27Itulah kemudian saya pikir ada beberapa pemikiran bagaimana kita mencermati keinginan ataupun juga ide untuk kemudian memperluas arena perang yang
02:39terjadi saat ini.
02:40Mbak Friska.
02:42Seperti yang tadi Mas Anton katakan, siap berperang dengan apapun caranya.
02:46Saya mau tanya ke Pak Zulfan, Pak Zulfan sudah bergabung ya, selamat malam Pak Zulfan dengan Friska di sini.
02:52Ada Mas Anton Ali Alapes juga, saya ke Pak Zulfan.
02:55Sebenarnya kalau bicara soal apapun medannya, Iran tampaknya mengatakan siap berperang melawan Amerika Serikat,
03:03termasuk yang ada di layar juga yang sudah tadi kami tampilkan bahwa warga Teheran diberi pelatihan senjata, perempuan, laki-laki,
03:10tampaknya Iran ingin habis-habisan melawan Amerika Serikat, bahkan dengan strategi perang semesta, begitu Pak Zulfan.
03:18Ya, jadi begini, kalau saya melihat ini kan perang ini antara pragmatisme dengan ideologis.
03:27Kalau Amerika, Trump ini kan pragmatis.
03:32Sementara Iran itu, dasar-dasar mereka adalah ideologi.
03:37Nah, jadi memang berbeda ini konsepnya.
03:40Trump mengandalkan kekuatan materi, tentara,
03:44sementara Iran di samping kekuatan militer dan senjata,
03:48juga mereka didaftar belakangnya oleh ideologi.
03:51Nah, oleh sebab itu tidak sulit mengajak rakyat Iran
03:54untuk mendaftar sampai 30 juta atau sampai 50 juta
03:59untuk bergabung dengan pasukan membela negara,
04:03itu sangat mudah.
04:04Karena dasar yang mereka lihat itu adalah ini perang ideologis.
04:09Nah, jadi kalau ingin memperluas,
04:12Iran ini tinggal tekan tombol aja kan.
04:15Dan jelas,
04:17Iran dari dulu sudah bilang,
04:19kalau Israel serang kami,
04:22maka kami masuk dari jendela-jendela yang ada
04:25di Timur Tengah.
04:27Gitu.
04:28Apa jendela itu?
04:29Hoti, Hezbollah,
04:31Hassad Sha'bi di Irak.
04:33Nah, tambah lagi sekarang mulai Syria barangkali.
04:37Di samping Iran sendiri.
04:40Jadi itu,
04:40kalau diperluas,
04:42ini yang korban adalah pasti
04:46kawasan negara-negara di kawasan Timur Tengah.
04:49Dan pangkalan dan kepentingan Amerika
04:52yang ada di Timur Tengah.
04:54Itu Iran siap.
04:56Jadi,
04:57saya tahu betul secara ideologis
04:59bagaimana rakyat Iran itu
05:01semangat untuk berperang dan habis-habisan
05:04mereka pasti siap.
05:05Dan bagaimana kalau kita membaca,
05:08Mas Anton,
05:09tadi kan kalau masyarakat rakyat Iran ini kan sudah pasti
05:13dengan ideologinya siap membela tanah air habis-habisan.
05:16Tapi kalau bicara diadu dengan sumber daya yang Amerika Serikat punya,
05:20anggaran Amerika Serikat meskipun
05:23kita lihat ada-ada batasnya,
05:25tapi kan tampaknya tidak terbatas.
05:28Secara sumber daya juga lebih banyak dibandingkan dengan Iran.
05:31Tapi melawan rakyat Iran dan militer Iran,
05:35bagaimana sih perbandingannya, Mas Anton, lihat?
05:39Sebenarnya Mbak Friska simple.
05:41Kalau misalnya Amerika pede gitu ya,
05:43Trump itu pede awal,
05:45atau juga pasukannya kan sudah banyak
05:47dideploy ke kawasan.
05:49Kalau dia pede,
05:50bahwa dengan selama ini klaimnya
05:51sudah 70 persen, 80 persen, 90 persen
05:55militer Iran itu dihancurkan,
05:57ya diserang aja.
05:58Validasinya kan dengan operasi darat sebenarnya.
06:00Jadi kalau operasi tempur dengan
06:03yang selama ini terjadi,
06:05pada ronde pertama peperangan ini,
06:07itu kan untuk melumpuhkan ya.
06:09Melumpuhkan kemampuan militer lawan dari jauh.
06:12Apakah kemudian benar itu lumpuh atau tidak lumpuh,
06:16itu harus divalidasi dengan pasukan darat.
06:18Nah pasukan darat kan sudah digemburkan kan,
06:21tapi kan tidak pernah dilakukan.
06:23Jadi itu yang saya bilang bahwa,
06:26sebenarnya kalau Amerika pede saja,
06:28itu satu, mereka melakukan validasi dengan serangan darat.
06:31Atau,
06:32mereka maju melakukan blokade.
06:35Blokadenya jangan di Laut Arab,
06:37tapi sudah mendekat saja ke Selat Hormuz.
06:40Tapi kenyataannya kan ketika mereka misalnya,
06:43tadinya ada tiga kapal induk,
06:44sekarang sudah ada dua kapal induk.
06:46Itu kan beroperasinya di Laut Arab.
06:48Dan terakhir misalnya,
06:49tiga destroy,
06:50tiga kapal perusak,
06:51itu juga tidak berani untuk melakukan provokasi
06:53melintasi Selat Hormuz.
06:54Artinya apa?
06:55Mereka aware,
06:56mereka tahu bahwa kemampuan,
06:58misalnya Angkatan Laut Iran itu sudah dihancurkan.
07:00Tapi mereka aware dengan,
07:02kemampuan misalnya,
07:03kemampuan dronenya,
07:04bahkan kalau misalnya,
07:05data dari mereka sendiri sudah menyebutkan,
07:07ini tuh masih 70 persen.
07:09Bahkan misalnya ada informasi terakhir,
07:12bahwa kemudian,
07:12produksi dronenya Iran,
07:14itu sudah mulai maju kembali.
07:16Sudah mulai beroperasi kembali.
07:18Jadi bisa kita bayangkan,
07:19bahwa kemudian,
07:20ini sudah restocking nih dronenya.
07:22Sementara Amerika Serikat kan dronenya tuh yang mahal-mahal.
07:25Jadi ini kan,
07:26kemudian mereka akan jauh lebih banyak perhitungan.
07:29Ini yang bagi saya,
07:30kalau di atas kertas,
07:30sudah jelas Amerika Serikat itu unggul di mana-mana.
07:33Tapi problemnya,
07:34ketika kita bicara tentang perang asimetris,
07:36itu tidak perlu bicara tentang di atas kertas.
07:38Itu satu.
07:39Yang kedua,
07:40mereka juga berhitung bahwa ada kemampuan militer,
07:43yang selama ini mereka belum melumpuhkan.
07:46Dan itu yang kemudian sangat mereka perhitungkan.
07:48Itulah kenapa misalnya,
07:49mereka sekalipun mereka jelas punya armada laut yang sangat kuat,
07:54sangat besar.
07:55Tapi ketika provokasi,
07:56tiga kapal perusahaan itu tidak berani untuk melakukan pelintasan.
08:00Jadi mereka hanya berani provokasinya dari jauh.
08:02Itu pun sudah berhitung.
08:03Itu jaraknya dari pesisir pantanya Iran ke mereka itu berapa.
08:08Jadi mereka sangat berhitung.
08:10Jadi sangat berhitung.
08:10Kenapa?
08:11Kalau mereka melintas,
08:13sekalipun mereka misalnya capable untuk melakukan serangan,
08:16itu tapi kalau misalnya perang asimetris diserang secara berbarengan gitu ya.
08:20Dengan kapal-kapal cepat yang kecil tadi,
08:22lalu ada dronenya,
08:23ada misalnya,
08:24mereka bisa kacau balau.
08:26Belum lagi,
08:27Iran itu kan dikenal,
08:28Iran punya misal yang hypersonic.
08:31Jadi bisa dibayangkan bahwa ini lebih kecepatan suara.
08:34Dan itu sampai sekarang itu belum pernah dipakai.
08:38Jadi sangat berhitung.
08:39Dan apalagi misalnya sekarang itu,
08:41jadi ada perkembangan bahwa dulu Iran pernah mencoba
08:44untuk menguji jarak jauh ke,
08:46misalnya,
08:48ke pangkalannya terjauh,
08:49Diego Garcia,
08:50yang dimiliki oleh Inggris.
08:51Jadi,
08:52dan ini yang kemudian akan dicoba lagi gitu.
08:55Jadi misalnya jarak jauhnya akan dicoba lagi,
08:57apakah efektif atau tidak efektif.
08:59Itu yang kemudian menjadikan,
09:01dari sisi Amerika Serikat,
09:03berhitung ulang,
09:04mencermati apakah,
09:05kalau mereka melakukan operasi,
09:09pendaratan,
09:09ataupun juga special operation,
09:11itu tidak sifatnya kemudian lantas bunuh diri.
09:13Kenapa?
09:14Karena banyak analisis,
09:15kemudian ini masih 70 persen nih.
09:17Apalagi kalau misalnya data terbaru benar,
09:20misalnya,
09:20produksi drone sudah dimulai kembali
09:22di masa kecatan senjata ini,
09:24maka tentu saja,
09:25ini kemudian alarm bagi mereka.
09:28Jangan-jangan Trump kemarin yang bilang bahwa,
09:30oh saya menunda,
09:32saya memperpanjang kecatan senjata,
09:34karena ada permintaan Uni Emirat Arab,
09:36Qatar, dan Arab Saudi.
09:37Jangan-jangan,
09:37itu hanya kamuflase,
09:39karena itu untuk kemudian mendilai,
09:40karena kan toh,
09:41memang gecatan senjata kali ini,
09:42itu kan sifatnya unilateral,
09:43dan tidak ada deadline.
09:44Jadi,
09:45ya seenaknya Trump saja.
09:46Trump sangat berhitung,
09:47apalagi kemudian,
09:48ada konstelasi terbaru,
09:50misalnya,
09:51di Senat Amerika Serikat,
09:52sudah meloloskan,
09:53bahwa kemudian mereka melimitasi ya,
09:55kewenangan,
09:55untuk misalnya,
09:57melancarkan peperangan.
09:58Jadi ada,
09:58ada banyak dinamika yang terjadi,
10:00di dalam posisi Trump,
10:02sehingga Trump kemudian,
10:04masih mencari kebingungan,
10:05bagaimana dia dalam mendekati,
10:08menyambut pemilu sela ini,
10:10ada setidaknya kemenangan.
10:11Itulah kenapa Trump berulang kali,
10:13melakukan ancaman,
10:15pokoknya,
10:15gimana ceritanya,
10:17kesepakatan damenya,
10:18harus tanda tangani dalam waktu dekat.
10:19Tahu enggak itu saya serang,
10:21saya serang,
10:21saya serang.
10:22Jadi,
10:22saya melihatnya,
10:23dia agak kebingungan,
10:24dengan apa?
10:25Karena kemudian waktu,
10:26lagi bersama Iran,
10:27bukan bersama Amerika Serikat.
10:29Jadi,
10:30mundur malu,
10:31ingin menang,
10:32juga tampaknya sulit,
10:33untuk Amerika Serikat ya,
10:34menang mudah atas Iran.
10:36Nah,
10:37Pak Zulfan,
10:38artinya,
10:39apakah,
10:39kalau dalam,
10:40hitung-hitungan,
10:41di atas kertas,
10:42masih Iran,
10:42yang cukup kuat,
10:44sekarang,
10:44skema di Timur Tengah,
10:45yang paling mungkin,
10:46itu apa sih?
10:47Apakah memang,
10:48perang,
10:49mau tidak mau harus dilakukan,
10:50Amerika Serikat,
10:51atau justru,
10:52Amerika Serikat,
10:53mencari jalan lain,
10:54misalnya,
10:54dengan ketemu,
10:55Presiden Tiongkok,
10:56Xi Jinping,
10:57datang langsung,
10:57bahkan ke Tiongkok,
10:58seperti Amerika Serikat,
10:59yang butuh Tiongkok.
11:02Amerika ini,
11:03sekarang kan bingung,
11:04mau exit,
11:05dari perang ini.
11:07Kalau dia keluar,
11:09dia sudah,
11:10dia sudah,
11:11tidak usah,
11:12mengaku kalah,
11:13orang sudah mengatakan,
11:14Amerika kalah.
11:16Kan itu,
11:17tidak usah,
11:18dia sebut,
11:18saya menyerah.
11:19Orang sudah mengatakan,
11:20dia menyerah dan kalah.
11:22Nah,
11:23sekarang,
11:24dia mencari jalan keluar,
11:26bagaimana caranya,
11:27keluar enak,
11:28tidak dianggap kalah.
11:30Paling tidak,
11:31win-win solution.
11:32Tapi,
11:32Trump kan tidak mau,
11:34ini orang kan,
11:34agak megalomania kan.
11:37Tidak mau,
11:38mengaku-mengakui,
11:38seperti itu.
11:40Jadi,
11:40susah menghadapi,
11:41orang seperti ini.
11:42Seharusnya,
11:43dia tahu,
11:43sudah kalah.
11:44Saya tadi,
11:46ingin,
11:47apa,
11:49flashback dari,
11:49Mas Anton ya.
11:52Ini kan,
11:52kalau perang dengan udara,
11:54dengan laut,
11:54kan harus direalisasikan,
11:56untuk menunjukkan,
11:57kekuatan dan kemenang,
11:58kan lewat darat,
11:59kata Pak Anton tadi.
12:00Iya.
12:01Nah,
12:02Amerika,
12:03ketika menyerang Saddam,
12:052003,
12:05itu habis udara,
12:07langsung darat.
12:08Kemudian,
12:10Israel menyerang Lebanon,
12:12juga,
12:12udara,
12:14langsung darat.
12:16Tapi,
12:17dengan Iran,
12:17dia tidak berani,
12:18karena pengalaman,
12:19tahun 80-89,
12:22ternyata,
12:22Iran itu,
12:23tidak kalah,
12:23dihadapi dengan darat.
12:25Kuat sekali.
12:26Padahal,
12:2680-89 itu,
12:28Iran tidak,
12:29hanya,
12:29punya senjata,
12:30yang sangat terbatas.
12:32Israel juga,
12:33tahun 2006,
12:34ketika perang dengan Hezbollah,
12:37lewat darat,
12:38juga kalah.
12:40Akhirnya,
12:41minta,
12:41kepada PBB,
12:42supaya,
12:43gencatan senjata.
12:44Kita ingat,
12:45peristiwa 84,
12:46yang marinir,
12:47Perancis,
12:48Inggris,
12:49Israel,
12:50yang kena,
12:51bumundur diri,
12:52di perbatasan,
12:54di Lebanon Selatan,
12:56antara Israel,
12:57itu kan juga,
12:58mereka mundur.
13:00Jadi,
13:00mereka berhitungannya banyak.
13:01Kalau Iraq,
13:02memang,
13:03saya kasih contoh,
13:04Iraq ini,
13:06kalau tentara,
13:08regulernya kan,
13:09dia kalau pasang,
13:11di billboardnya,
13:12dalam bahasa Arabnya,
13:14dia bilang,
13:14nah,
13:15nu bihidmatikum,
13:16kami tentara ini,
13:18adalah setia kepada negara,
13:20mengabdi kepada rakyat.
13:22Tapi,
13:23begitu datang ISIS 2009,
13:24semuanya kabur.
13:26Ya.
13:27makanya,
13:27Ayatullah,
13:28seperti Ayatullah Sistani,
13:30itu setuju sekali,
13:32untuk merekrut,
13:33satu juta saja,
13:35gila lawan,
13:37yang kemudian,
13:37menjadi hasad syabi,
13:39kekuatan gila lawan militer,
13:40sekarang,
13:41yang dapat 14 orang,
13:43yang dibutuhkan,
13:44satu juta.
13:45Ya.
13:45Nah,
13:45jadi,
13:46kalau perang darat,
13:47menghadapi rakyat,
13:48kan berat.
13:49Ya.
13:49Tentara Amerika,
13:51kan kita tahu,
13:52suka menyisir,
13:53rumah-rumah,
13:54dan kampung-kampung,
13:55kan.
13:56Nah,
13:56kalau di Iran,
13:57dulu kan rakyatnya,
13:58nggak megang senjata.
13:59Sekarang,
13:59di Iran tahu,
14:01bahwa,
14:01ini akan terjadi,
14:02kalau perang darat.
14:04Makanya,
14:04dilatih senjata semua,
14:06semuanya,
14:06semuanya bisa nembak.
14:08Nah,
14:09ini yang akan,
14:10diantisipasi,
14:11lebih oleh Amerika Serikat.
14:13Lalu,
14:13apa,
14:13exit plan,
14:15yang paling mungkin,
14:16kalau dalam kondisi seperti ini,
14:18Amerika Serikat,
14:18pengennya dianggap,
14:19menang,
14:20tapi kan tidak mungkin juga,
14:21karena Iran sangat kuat,
14:22untuk melawan Amerika Serikat.
14:23Lalu,
14:24apa,
14:24jalan yang paling mungkin,
14:25terjadi dalam waktu dekat,
14:27kita akan bahas saja,
14:27dari seluruh Indonesia malam.
14:29Ya.
14:38Kita masih membahas,
14:40soal konflik Timur Tengah,
14:40bersama dengan,
14:41pengamat Timur Tengah,
14:42Zulfan Lindan,
14:43dan pengamat militer,
14:44dari Center for Intermastic,
14:45and Diplomatic Engagement,
14:47Anton Alia Basse,
14:48ke Mas Anton.
14:49Ya,
14:50kalau dalam kondisi seperti ini,
14:51apa yang paling mungkin,
14:53paling possible terjadi,
14:54dalam waktu dekat?
14:55Apakah kita menunggu,
14:56diplomasi yang,
14:58tampaknya sekarang kuncinya ada di Beijing ya,
15:00ada di Tiongkok,
15:01atau,
15:01bagaimana kalau Mas Anton,
15:03melihat?
15:03saya melihatnya,
15:05ada tiga,
15:06tiga possible skenario,
15:07Mbak,
15:07gitu,
15:08jadi,
15:08yang pertama adalah,
15:09terjadi eskalasi,
15:11tapi ini tidak terlalu besar,
15:12saya melihatnya tidak terlalu besar,
15:13possible.
15:14Yang kedua adalah,
15:16kesepakatan,
15:18damai,
15:18tapi,
15:19kemudian parsial,
15:20gitu,
15:20karena kalau misalnya sekarang kan ada pembahasan,
15:23sekitar ada enam atau tujuh poin yang sudah mengerucut,
15:25misalnya ada soal sanksi ekonomi,
15:28lalu juga misalnya,
15:29frozen asetnya kemudian dicairkan,
15:33lalu misalnya ada reparasi,
15:35lalu ada soal nuklir,
15:37jadi ada parsial,
15:39yang itu kemudian sebenarnya sudah tinggal term and conditionnya saja,
15:41jadi,
15:42misalnya soal pengayaan,
15:44Iran sudah mulai menyetujui,
15:45tinggal nanti sudah berapa tahun,
15:47dan nanti ditaruh di negara apa,
15:49jadi ada,
15:50bagi saya sih bisa jadi,
15:52kemudian,
15:52ada kesepakatan bertahap,
15:55walaupun bagi saya,
15:56yang kemudian skenario yang paling besar mungkin terjadi adalah,
16:01ya seperti ini,
16:01gencatan senjata yang status quo sifatnya,
16:04jadi tidak maju,
16:06tidak mundur,
16:06seperti ini saja,
16:07tapi menyambung tadi kenyataan Mbak Friska,
16:10saya melihat memang,
16:11kemudian China,
16:12itu seakan-akan menjadi kunci,
16:14menjadi kunci,
16:15apalagi kita ketika melihat,
16:16bagaimana kemudian dalam 12 hari,
16:18dia bisa mengumpulkan semua pihak yang bertikai,
16:21di dunia yang punya konflik besar,
16:23jadi ada perang Iran Amerika Serikat,
16:25lalu juga ada Rusia Ukraina,
16:27bertemu dengan Beijing,
16:28dengan kata lain,
16:28Beijing menjadi pusat kunci,
16:30jadi epicentrum hari ini itu ada di Beijing,
16:33jadi Beijing bagaimana kemudian ketika kita bicara tentang,
16:36untuk menghentikan Iran,
16:37itu jangan-jangan memang butuh,
16:39masukan dari Beijing,
16:41kenapa?
16:41karena 90% minyak Iran itu dibeli oleh Beijing,
16:44dan Beijing,
16:45kan ada kabar misalnya,
16:46Iran waktu itu datang ke perundingan pertama,
16:49dan juga kedua yang walaupun itu juga tidak terjadi,
16:52secara lancar,
16:53itu karena permintaan dari Beijing,
16:55jadi dengan kata lain,
16:56mungkin Beijing,
16:57ini yang kemudian menjadi kunci,
16:59Beijing tahu untuk bagaimana bernegosiasi dengan Iran,
17:02dia adalah,
17:03bisa jadi,
17:04saya bisa bilang,
17:05dia adalah sebenarnya peace broker yang tanpa risiko,
17:07jadi risiko dia kepada Iran itu kecil,
17:10dia tahu bahwa,
17:11bagaimana misalnya,
17:12untuk memastikan hormus,
17:14tetap bisa dilintasi,
17:15itu kan yang kemudian menjadikan berbeda,
17:16misalnya dengan Rusia,
17:18kalau Rusia punya kepentingan,
17:21kenapa ini misalnya dia harus tetap berjalan,
17:23perangnya,
17:23karena kemudian minyak dia laris manis,
17:25ini kan berbeda dengan kepentingannya China,
17:28tapi sebenarnya kalau kita lihat China,
17:30China dengan Iran itu hubungannya sangat erat,
17:32jadi Iran mendengarkan apa masukan dari China,
17:35toh kunjungan Menlu Arachi,
17:41misalnya pada awal itu kan juga karena undangan dari Beijing,
17:44untuk mendahuli sebelum pertemuan dengan Trump,
17:47jadi saya pikir Beijing kemudian menjadi kunci,
17:50apakah kemudian tadi,
17:51possible skenario yang tadi saya sebutkan,
17:53ada tiga,
17:53itu nanti ujungnya mau kemana,
17:55karena bagaimanapun juga,
17:56Beijing juga sebenarnya tidak menginginkan,
17:58apa namanya,
17:59konflik ini terus berlarut,
18:00kenapa?
18:00karena sedikit banyak itu memang punya dampak pada ekonomi dia,
18:03walaupun dia juga kemudian menikmati,
18:05tekanan Amerika Serikat berkurang,
18:07fokus Amerika Serikat kepada Indo-Pasifik berkurang,
18:10lalu juga posisi globalnya kemudian jadi melemah,
18:14mau tidak mau kan kemudian Beijing bisa kemudian mengisi ruang-ruang kosong tadi,
18:18jadi memang Beijing kemudian penuh kalkulasi,
18:21hari ini dia adalah tokoh sentralnya,
18:23tokoh kuncinya,
18:24pusat gravitasinya ada di Beijing,
18:26jadi saya melihatnya ya,
18:27Beijing kemudian penentu,
18:28apakah kemudian Trump ingin follow up pertemuan kemarin,
18:31kalau dia tidak,
18:33tentu saja ya,
18:33kalau ingin sakit,
18:35tentu saja duduk lagi dengan Beijing,
18:39cari cara penyelesaian,
18:40karena saya pikir sehari ini Beijing yang lebih didengar oleh Iran,
18:44itu Mbak Friska.
18:45Kalau peran ini Pak Zulfan,
18:47Tiongkok bisa jadi jembatan antara Iran dan Amerika Serikat dalam posisi hari ini,
18:53tapi di sisi lain yang jadi batu sandungan adalah Israel,
18:56yang setiap kali ada perundingan,
18:58menelpon Presiden Trump untuk gas terus,
19:01untuk serang terus Iran.
19:02Kali ini bagaimana Anda melihat peran Israel,
19:06untuk menghambat negosiasi yang sedang diupayakan terjadi Pak Zulfan?
19:10Ya, kalau kita lihat dari situ kan memang Israel terus,
19:15di samping suluk Trump,
19:17terus tekan Iran dengan senjata,
19:22dengan peperangan,
19:23ya kemudian dia juga minta pasokan senjata,
19:27kan gitu?
19:28Minta pasokan senjata dari Amerika,
19:31untuk memperkuat dirinya.
19:33Tadinya kan Israel ini berpikir bisa menggunakan Saudi,
19:36bisa menggunakan Uni Emirat,
19:38Qatar, Bahrain, dan Kuwait.
19:40Lima negara yang selama ini bersekutu dengan Israel dan Amerika Serikat,
19:45di bawah dominasi Amerika Serikat.
19:47Ternyata kan negara-negara tetangga ini kan masih berpikir.
19:53Terakhir kan yang paling keras itu kan Uni Emirat Arab,
19:56yang tetap ingin melawan dengan Iran, gitu kan?
19:59Tapi kan Qatar sudah nggak mau,
20:02Oman nggak mau Kuwait,
20:04udah nggak, ya kan?
20:05Bahrain juga udah bimbang,
20:07apalagi Saudi.
20:09Jadi gini ya,
20:10ini perang ini juga ada efek psikologis,
20:13dan ekonomi di dalam perang ini.
20:17Qatar, Saudi,
20:20apalagi Uni Emirat Arab,
20:23mereka itu sangat bingung kalau saat nanya perang ini total,
20:26pasti negara mereka hancur.
20:29Dan investasi hancur,
20:31itu mereka pikir.
20:33Makanya mereka tidak mau perang ini terlalu besar.
20:36Kalau Israel kan memang dia pikir sudah hancur ya,
20:39yaudahlah tidak hancur-hancuran sekalian.
20:42Tapi rakyat Israel tidak siap menerima kehancuran,
20:45tidak siap menerima perang ini sampai terlalu berat bebannya bagi rakyat.
20:55Oleh karena itu,
20:57saya melihat bahwa Cina sebagai solusi betul, ya.
21:02Tetapi Cina juga hati-hati,
21:04dia harus meletakkan Iran itu setara,
21:06bukan di bawah.
21:08Nah, kalau setara,
21:10Iran ini kan begini,
21:11ini kan budaya, kan?
21:12Bicara budaya mereka,
21:15budaya mereka cukup tinggi,
21:16cukup punya martabat.
21:18Jadi Cina harus hati-hati dengan Iran ini dalam membuka hubungan ini.
21:23Ya, jadi kalau Cina ingin mengusulkan sesuatu kepada Iran,
21:27bagaimana caranya menyelesaikan ini,
21:29tentu solusinya harus,
21:31yang betul-betul win-win solution lah.
21:35Ya, baik bagi Iran,
21:38ataupun bagi Amerika.
21:40Sebenarnya itu aman kan?
21:41Kalau win-win solution kan,
21:42ya udahlah kita ditanti aja, ya kan?
21:44Peredaan ketegangan,
21:46kita aman,
21:47udah.
21:47Nggak usah kita lanjutkan perang ini berlama-lama.
21:50Karena yang mau perang ini terus,
21:52Israel, bukan Amerika.
21:55Saya nggak tahu kenapa Trump ini,
21:57takut sekali sama Israel,
21:59khususnya takut kepada Tanyahu,
22:00ada apa?
22:01Ini kan kadang-kadang,
22:03di dalam politik ini,
22:05ada apa di balik itu semua?
22:07Kan gitu.
22:07Takutnya ada yang namanya sandera,
22:11Trump ini bisa jadi tersandra oleh Netanyahu,
22:14soal apa kita nggak tahu.
22:17Padahal juga kalau kita lihat kan,
22:20tekanan di Amerika Serikatnya sudah tinggi ya,
22:22Mas Anton sudah mau pemilu selan November,
22:25sudah ada limitasi yang kita sempat bahas di awal juga,
22:28untuk menentukan,
22:29Presiden bisa menentukan sekapan perang ini berakhir.
22:31Artinya dalam kondisi terdesak,
22:33kok ya masih juga ngotot,
22:36untuk declare Amerika Serikat menang,
22:38dengan terms and conditions versinya Amerika.
22:41Padahal kita tahu kekuatan Iran juga tinggi.
22:46Ya, karena bagaimanapun juga,
22:49tanpa ada kesepakatan damai,
22:51itu nanti yang jualan di kampanyenya,
22:53kampanye dalam konteks pemilu selai,
22:55ini akan jadi menipis gitu.
22:56Kenapa?
22:57Karena tempatan utama kepada Republik,
23:00dan juga Presiden Trump,
23:01adalah terkait kenapa perang ini berlangsung gitu.
23:04Jadi, ini yang kemudian,
23:06kenapa Presiden Trump itu ngotot,
23:09bagaimana caranya untuk berdamai.
23:14Jadi ada kesepakatan damai,
23:15karena tanpa ada kesepakatan damai,
23:17maka potensi kekalahan,
23:18dari Partai Republik dalam pemilu selai ini,
23:21menjadi lebar.
23:22Kalau itu terjadi,
23:24akhirnya peluang Trump itu di impis menjadi membesar.
23:27Itulah kenapa Trump kemudian selalu ngotot.
23:29Jadi, dia dengan berulang kali,
23:31memberikan ancaman,
23:32ayo, tanda tangan,
23:34ayo tanda tangan,
23:35kalau nggak itu saya hancurkan.
23:36Seperti itu.
23:37Jadi, berulang-ulang.
23:38Kenapa?
23:38Karena dengan cara itulah kemudian,
23:41dia bisa dapat jalan keluarnya.
23:43Jadi, dia kemarin sudah ke China,
23:46misalnya China sudah bilang,
23:47saya juga pengen damai,
23:49sol hormus,
23:50walaupun kemudian dia,
23:51ketika dalam pernyataan persnya,
23:54itu tidak disebutkan.
23:55Tapi kemudian kan,
23:56China itu bilang,
23:57bahwa ngomong tentang nuklir,
23:59misalnya,
23:59ya itu nanti dalam pernyataan terpisah saja.
24:01Jadi, China sudah mengasih highlight juga,
24:03bahwa yang ini,
24:04kalau bisa parsial saja.
24:06Jadi, China sudah mengasih kisi-kisi sebenarnya.
24:08Karena Trump itu juga lebih bingung lagi,
24:11sebetulnya tadi,
24:11yang seperti disampaikan sebelumnya,
24:15bahwa,
24:16ya memang ini perang ini,
24:17dari sisi Israel,
24:19terutama Perdana Menteri,
24:21yang kemudiannya sangat interes.
24:22Kenapa?
24:23Karena memang publik Israel,
24:25lebih dari 90 persen,
24:26mendukung perang ini.
24:28Jadi,
24:29di sisi lain,
24:30itu memang ada kondisi domestik.
24:31Kenapa kemudiannya tanya,
24:33itu kok ngotot sekali,
24:35ingin terus berperang-berperang.
24:36Bahkan dia,
24:36apa,
24:37menginisiasi gitu,
24:38mempropos gitu,
24:39mempropos pada Amerika,
24:40nih,
24:40perangan dua minggu,
24:42untuk ke sana.
24:43Lalu juga dia,
24:44mengojok-ngojok Trump.
24:45Itu ambil saja,
24:46yang uranium yang sudah diperkaya,
24:48ambil sendiri,
24:48ekstraksi sendiri.
24:49Jadi,
24:49bisa dibayangkan,
24:51ya di ojok-ojok seperti itu.
24:52Sementara,
24:53kalkulasi militernya,
24:55itu mentok.
24:56Potensi,
24:57hanya potensi gagalnya besar,
24:59itu yang kemudian mereka berulang kali,
25:01berpikir ulang,
25:02untuk mau maju,
25:03atau nggak maju,
25:04walaupun misalnya pasukannya,
25:05sudah punya,
25:06di deploy di sana,
25:07kekuatannya sudah banyak di sana,
25:09logistik sudah terus ditambah gitu.
25:11Tapi,
25:11kapan mudah,
25:12itu yang mereka selalu hitung.
25:14Kenapa?
25:14Kalau misalnya itu gagal,
25:16bisa ancur-ancuran pemilunya,
25:17hasil pemilunya itu.
25:18Nah,
25:19apakah langkah ini akan diambil oleh Trump,
25:22untuk,
25:23ya,
25:23setidaknya mengikuti saja,
25:25secara parsial,
25:27kesepakatannya,
25:28atau justru ngotot,
25:29untuk terus berperang.
25:30Kita akan pantau,
25:31dalam beberapa waktu terakhir ini.
25:33Terima kasih,
25:34Pak Zulfan Lindan,
25:35pengamati Mertengah,
25:36juga Mas Anton,
25:37Anton Aliyabas,
25:38pengamat militer dari Center for Intermastic,
25:40and Diplomatic Engagement.
25:41Selamat malam.
25:42Terima kasih.
Komentar

Dianjurkan