Di Solo pada tahun 1980, saat acara hajatan pernikahan Pram dan Rina, terjadi beberapa keanehan yaitu: cermin tempat merias yang tiba-tiba retak, lampu rumah yang padam, pigura foto yang tiba-tiba jatuh, serta air siraman yang tiba-tiba menghitam disertai tikus mati di dalamnya. Selama masa itu, secara sekelebat muncul sosok seorang kakek tua yang meninggalkan jejak berlumpur hitam.
Beberapa waktu berlalu, Pram dan Rina pindah ke Wonosobo setelah Pram mendapatkan promosi dari pekerjaannya dan mendapatkan sebuah tempat tinggal. Sesampainya mereka di rumah baru, mereka menemukan jejak lumpur hitam di lantai. Pada saat acara selamatan kepindahan mereka ke rumah baru, Rina melihat seorang pria tua berbaju serba hitam di depan rumah yang disangkanya sebagai ustadz dan mengundangnya masuk ke dalam rumah. Secara misterius, pria tua tersebut tiba-tiba hilang saat Rina mengambilkan minum untuknya. Pram sampai di rumah bersama dengan pak ustadz sebenarnya yang dibawa serta bersamanya saat kebetulan sedang berjalan ke rumahnya. Sejak saat itu, Rina sering sekali melihat penampakan seorang sosok pria tua, dan selalu merasa kepanasan saat tidur.
Suatu hari, Rina mengetahui bahwa dirinya tengah hamil tujuh bulan. Namun, di suatu malam, hantu pria tua tersebut merenggut kandungan Rina sehingga dia mengalami pendarahan. Setelah dinyatakan keguguran di rumah sakit, Rina memutuskan untuk memanggil orang pintar bernama Pak Narto ke rumahnya. Pak Narto membaca dengan mata batinnya dan mengetahui bahwa Rina terkena ilmu santet dan memberikannya botol-botol berisi doa untuk perlindungan. Berkat botol-botol tersebut, Rina tidak lagi mengalami gangguan selama beberapa hari, sampai suatu hari Pram menemukan botol-botol tersebut dan menegur Rina serta membuang botol doa tersebut ke tempat sampah. Hantu pria tua tersebut kemudian mulai muncul kembali dan menghantui Rina. Salah satu pembantu Rina menemukan sebuah guci berisi tanah kuburan dan darah tikus di dalamnya. Rina mengundang kembali Pak Narto untuk memeriksa guci tersebut. Pak Narto berkata bahwa ada seseorang yang menyimpan dendam kesumat kepada Rina dan satu-satunya cara untuk mencabut santet tersebut adalah dengan cara menemukan benda yang digunakan pelaku santet di rumahnya. Mendengar penjelasan Pak Narto, Rina teringat pada hubungan asmaranya dengan laki-laki bernama Yudi sebelum berpacaran dengan Pram. Setelah mencari tahu ke sana kemari, diketahui bahwa Yudi pernah dipenjara. Berharap pada perlindungan botol doa dari Pak Narto, Rina kembali hamil. Setelah usia kandungannya mencapai tujuh minggu, hantu pria tua tersebut kembali muncul dan menganggu. Rina berhasil melahirkan anaknya dengan selamat, tetapi Pak Narto telah berpesan bahwa santet tersebut akan menganggu kembali pada saat anaknya berusia tujuh tahun.
Tujuh tahun kemudian, tepat sebelum ulang tahunnya yang ke-7, Dwi, anak dari Pram dan Rani, tiba-tiba mulai berperilaku aneh dan melukai Rani. Keesokan harinya, dua orang yang mempunyai ilmu supranat
Comments