Lewati ke pemutarLewatkan ke konten utama
KOMPAS.TV - Hingga pekan ketiga, perang di Timur Tengah masih berkecamuk. Iran terus memberikan perlawanan dengan menyerang Israel dan fasilitas vital Amerika Serikat di kawasan tersebut.

Pada Selasa dini hari, serangan Iran menyasar Kedutaan Besar Amerika Serikat di Baghdad, Irak. Kompleks diplomatik tersebut dihantam gelombang rudal, drone, dan roket.

Tidak hanya Amerika Serikat yang tampak mulai kewalahan menghadapi konflik ini. Sekutunya, Israel, kini juga tengah fokus menghadapi serangan Hizbullah dari Lebanon.

Hizbullah menembakkan rudal berpemandu yang diarahkan ke tentara Israel di Jabal al-Blat, wilayah selatan Lebanon.

Amerika Serikat dan Israel kini terpecah fokus untuk mengatasi berbagai serangan yang menyasar fasilitas penting masing-masing negara. Selain itu, penutupan Selat Hormuz di tengah perang juga masih terjadi.

Amerika Serikat kini meminta bantuan sekutunya untuk terlibat dalam konflik di Timur Tengah.

Dosen Hubungan Internasional BINUS University, Tia Mariatul, menilai Amerika Serikat melakukan kesalahan strategi sejak awal. Menurut Tia, Amerika Serikat kini dihadapkan pada situasi yang dilematis.

Selain melancarkan serangan melalui udara, Iran juga masih aktif menutup Selat Hormuz yang menjadi urat nadi jalur perdagangan minyak dunia.

Penutupan Selat Hormuz ini berdampak pada perekonomian global.

Membahas kondisi AS-Israel yang mulai terpecah fokus hingga permintaan bantuan sekutu oleh Donald Trump dalam perang Timur Tengah, kita sudah bersama pengamat terorisme dan intelijen, Ridlwan Habib.

Baca Juga [FULL] Pengamat Timur Tengah Respons Rumor Kematian PM Israel , di Mana Netanyahu Sebenarnya? di https://www.kompas.tv/internasional/657623/full-pengamat-timur-tengah-respons-rumor-kematian-pm-israel-di-mana-netanyahu-sebenarnya

#as #trump #perang #iran #timurtengah

Artikel ini bisa dilihat di : https://www.kompas.tv/internasional/657624/full-analisis-pengamat-terorisme-soal-as-israel-terpecah-fokus-lawan-iran-amerika-akan-kalah
Transkrip
00:08Intro
00:23Hingga pekan ketiga, perang di timur tengah berkecamuk.
00:26Iran masih memberikan perlawanan menyerang Israel dan fasilitas vital Amerika Serikat di timur tengah.
00:32Selasa dini hari, serangan Iran menyasar kedutaan besar AS di Baghdad, Irak.
00:37Kompleks diplomatik tersebut dihantam oleh gelombang rudal, drone, dan roken.
00:43Tak hanya Amerika Serikat yang tampaknya mulai kewalahan atas perang di timur tengah.
00:47Sekutu AS, Israel, kini juga tengah fokus menghadapi serangan Hisbullah dari Lebanon.
00:52Hisbullah menembakkan rudal berpemandu yang diarahkan ke tentara Israel di Jabal al-Blat di selatan Lebanon.
00:59Amerika Serikat dan Israel kini terpecah harus mengatasi serangan-serangan yang menyasar fasilitas penting masing-masing negara.
01:06Selain itu, penutupan selat hormus di tengah perang juga masih terjadi.
01:12Amerika Serikat kini meminta bantuan sekutunya untuk terlibat atas perang yang terjadi di timur tengah.
01:26Terima kasih telah menonton!
02:01Dosen hubungan internasional Venus University, Tia Mariatul, menilai Amerika Serikat salah strategi sejak awal.
02:08Menurut Tia, Amerika Serikat kini dihadapkan pada situasi yang dilematis.
02:12Saya melihatnya betul-betul Amerika itu dari awal pun sudah salah strategi ya.
02:20Dari ketika Israel mengizinkan Israel untuk menyerang Iran, itu saja sudah salah begitu strateginya.
02:26Jadi kesini pun ketika mau mengakhiri perang pun, Trump kebingungan sendiri.
02:33Kemudian mengajak sekutunya berharap bisa join.
02:36Tidak ada yang mau.
02:37Dan sekarang Iran memainkan strategi berikutnya dengan menutup selat hormus pun.
02:42Trump mengajak yang lain supaya mengirimkan kapal untuk security untuk atas nama keamanan ke hormus pun.
02:49Tidak ada yang mau juga, sampai harus call China pun, itu saya pikir China juga tidak akan mau begitu ya.
02:55Jadi sekarang posisinya Amerika betul-betul dilematis.
03:00Selain melancarkan serangan lewat udara, kini Iran masih aktif menutup selat hormus yang menjadi uratna di jalur perdagangan minyak dunia.
03:07Penutupan selat hormus ini berdampak pada perekonomian global.
03:11Tim Liputan, Kompas TV
03:18Sudah membahas soal AS Israel yang kini mulai terpecah fokus perlawanannya hingga Trump yang meminta bantuan sekutu di perang Timur
03:26Tengah.
03:26Kita sudah bersama dengan pengamatan terorisme dan intelijen Ridwan Habib.
03:30Selamat malam Mas Ridwan.
03:33Selamat malam Mas Rahmat.
03:34Mas yang Anda bisa baca saat ini, kondisi perang AS dan juga Iran itu bagaimana?
03:39Mengarah kemana saat ini?
03:40Ya saat ini Amerika tampaknya makin kebingungan ya, karena baru saja kita mendapatkan informasi
03:47Yosef Ken atau National Counter Terrorism Center Director
03:53atau Direktur Kontraterorismenya Amerika
03:56mengundurkan diri Mas Rahmat
03:58baru saja kira-kira ya 15 menit 20 menit sebelum kita live ini
04:03mengundurkan diri dan mengirimkan surat terbuka kepada Presiden Trump
04:07bahwa dia merasa Amerika akan kalah dalam perang melawan Iran.
04:11Artinya apa Mas Ridwan?
04:13Ini menunjukkan bahwa di internal mereka sendiri, ini Direktur Kontraterorisme.
04:18Kalau di Indonesia mungkin setara BNPT lah ya, setara kepala BNPT-nya begitu.
04:23Dia sudah merasa bahwa Amerika akan kalah dalam perang ini.
04:28Artinya ini analisa yang langsung dari pihak yang sudah berperang dengan Iran.
04:33Tampaknya memang demikian Mas Rahmat.
04:35Tampaknya tidak ada lagi strategi yang bisa dilakukan Amerika kecuali melakukan pengeboman membabi buta.
04:41Dan kalaupun di bom pun, sekalipun di bom membabi buta,
04:44tadi Kompas TV menayangkan pengeboman di beberapa tempat-tempat warga sipil berkumpul,
04:50ini menunjukkan makin frustrasinya Israel dan Amerika karena mereka kehilangan target-target strategis
04:55dan melakukan pengeboman secara masif bahkan di tempat-tempat sipil ya.
05:00Dan itu melanggar hukum-hukum perang internasional.
05:03Oke, jadi terlihat Amerika Serikat dan juga Israel kini hilang fokus,
05:08mereka jadi terpecah.
05:09Ada yang harus menghadapi Hezbollah Israel ini kan?
05:12Kemudian Iran, Amerika menghadapi Iran?
05:15Ya, sementara proksi-proksi dari Iran berjalan terus maksimal ya.
05:19Hezbollah yang diduga pada awalnya tidak mempunyai kekuatan yang signifikan,
05:24justru meluncurkan satu operasi yang disebut dengan Operasi Al-Fil.
05:28Itu operasi yang luar biasa melakukan serangan darat maupun serangan rudal ke Haifa
05:33di sebelah utara Israel yang berbatasan dengan Lebanon.
05:37Lalu, gerilyawan Irak, Irak People Mobilation Force,
05:41yang itu juga simpatisan dari Iran, pro-Iran.
05:46Mereka melakukan serangan dan bahkan bisa menghancurkan satu pesawat refueling,
05:51kerosin cargo 135 memilih Amerika Serikat yang dijatuhkan di Irak Barat.
05:55Sementara pesawat ini sebenarnya sangat signifikan untuk melakukan refueling jet-jet tempur.
06:00Tanpa refueling, jet-jet tempur itu nggak bisa terbang.
06:03Jadi artinya dari sisi Iran masih sangat gigih,
06:06proksi-proksi meka bergerak,
06:08Hoti di Yaman juga bergerak, di Lebanon bergerak,
06:11Sementara dari Israel dan Amerika tampaknya strateginya ya asal ngebom-ngebom-ngebom saja,
06:16yang kemudian mengarah ke fasilitas-fasilitas sipil ya,
06:19fasilitas-fasilitas warga yang sebenarnya dilarang dalam hukum perang internasional.
06:23Tadi selain proksi yang dekat berkaitan dengan Iran,
06:29apalagi yang membuat Iran bisa bertahan sejauh ini,
06:33pecah fokus AS dan juga Israel ini?
06:35Ya, Mas Rahmat, kapasitas Iran ini kan sudah dibangun puluhan tahun ya,
06:41sebelum dilakukan serangan oleh Amerika ini.
06:44Mereka menyadari bahwa mereka didesak untuk bersiap.
06:47Dan ini terbukti bahwa fasilitas drone mereka tidak habis.
06:50Walaupun hampir setiap hari ratusan jet tempur menyerbu,
06:53ternyata dronenya juga masih ada yang terbang.
06:56Dan statistik dronenya yang terbang juga tidak menurun drastis ternyata,
07:02dalam kapasitas sehari sekitar 100 drone itu sudah sangat signifikan.
07:06Dan kemudian mereka juga bahkan meluncurkan,
07:09mulai meluncurkan rudal-rudal baru ya,
07:12rudal balistik terbaru misalnya si Jill.
07:14Si Jill ini multi-warhead,
07:16dia begitu meledak di udara,
07:19dia akan keluar beberapa rudal-rudal kecil begitu,
07:22disperse, kemudian mentarget dengan akurasi di bawah 100 meter dari target.
07:28Jadi ini sangat presisi, sangat presisi.
07:30Dan kecepatannya sekitar 13 maaf atau 13 kecepatan suara.
07:3413 kecepatan suara itu sekitar 30 ribu kilometer per jam.
07:39Artinya dengan 3 minggu ini ternyata kapasitas Iran tidak berkurang signifikan,
07:45warganya masih sangat resisten, warganya masih sangat militan,
07:49pemerintahnya masih fokus,
07:51dan tidak ada kesan-kesan sekalipun bahwa Iran akan kalah dalam perang kali ini.
07:56Ini Amerika Serikat, Donald Trump tadi kita tampilkan sampai meminta bantuan sekutunya,
08:01tentu negara-negara sekutu untuk bisa terlibat secara cepat di timur tengah ini.
08:06Apakah ini jadi simbol?
08:08Jika Amerika Serikat tak mampu hadapi Iran untuk saat ini?
08:11Ya, sementara ini sebenarnya bukanlah tidak mampu,
08:14tetapi mereka kebingungan karena analisa mereka terkait dengan ideologi Irannya salah.
08:19Mereka berpikir ketika Ayatullah Ali Khomeini, pemimpin tertingginya itu wafat,
08:25dibunuh oleh serangan jet tempur itu,
08:28maka mentalitas tentara dan mentalitas warga Iran akan jatuh.
08:31Lalu rezimnya akan jatuh dan berganti ke pemerintahan baru yang pro-Amerika.
08:36Tapi kan dugaan ini ternyata salah,
08:38karena walaupun misalnya Ali Rahayatullah Khomeini wafat,
08:42itu ternyata tidak menyurutkan semangat rakyat,
08:45tentaranya masih gigih,
08:46menhanya dibunuh, muncul lagi penggantinya,
08:48penggantinya dibunuh, muncul lagi penggantinya,
08:51kemudian kolonel-kolonelnya juga dengan sangat gagah berani,
08:54jumpa pers dengan kantor media mereka ya,
08:57bahkan jumpa pers dengan bahasa Inggris ya,
09:00untuk menyindir Trump bahwa Trump itu cukup dihadapi level kolonel untuk Iran.
09:06Jadi ini memang luar biasa,
09:09saya kira pertarungan kubu Iran yang sampai hari ini masih sangat gigih.
09:13Sampai kapan, Mas Iduan ini,
09:15kalau Anda melihat dengan kondisi yang terjadi saat ini,
09:18sampai kapan perang akan berakhir?
09:20Ya sekarang Israel ini kan tampaknya mulai frustasi
09:24dengan tidak mau bergabungnya negara-negara teluk melakukan serangan ya.
09:29Mereka kan berharap negara-negara teluk itu ikut membantu Israel dan Amerika menekan Iran.
09:34Tetapi kan sebaliknya,
09:36negara-negara teluk ini justru mereka menahan diri,
09:39bahkan para pengusaha-pengusaha besarnya itu menahan investasinya ke Amerika Serikat.
09:44Dan ini menakutkan sekali buat ekonomi Amerika,
09:47karena mereka sangat berharap dari investasi dari Timur Tengah.
09:51Tampaknya memang kalau pertanyaan Mas Rahmat Ibrahim tadi sampai kapan,
09:55Iran ini kan menunggu ya, menunggu perang darat terjadi.
09:59Ini yang disampaikan oleh Menteri Luar Negerinya,
10:02Araji, di dalam wawancara media internasional,
10:05dia mengatakan Iran siap menunggu tentara Israel dan tentara Amerika
10:11masuk ke Iran untuk perang darat.
10:13Dan kalau itu terjadi ya, saya kira bisa dalam hitungan bulan ya,
10:16mungkin 3 sampai 6 bulan akan terus berlangsung peran ini.
10:20Mas Irwan, mengapa negara sekutu yang tidak ingin langsung membantu,
10:26tidak menanggapi permintaan bantuan dari Donald Trump?
10:31Ya, Donald Trump meminta ada bantuan untuk membuka Selat Hormuz.
10:34Tetapi ternyata pada faktanya,
10:37mayoritas dari negara-negara besar dunia itu menolak.
10:40Termasuk juga bahkan Inggris sekalipun dia menolak mengirimkan kapal perangnya.
10:44Australia menolak.
10:45Beberapa negara yang lain, apalagi negara-negara Eropa ya,
10:49memikirkan keselamatan negara mereka masing-masing.
10:52Jadi saya kira memang karakteristik Trump yang dianggap terlalu arogan,
10:58mendikte kepentingan internasional,
11:00ini yang kemudian membuat negara-negara itu tampaknya menahan diri, Mas Rahmat.
11:05Termasuk juga mereka memikirkan keselamatannya,
11:08keselamatan tentaranya dan kapal perang mereka sendiri.
11:12Dan ini kan memang Iran ini kan memang mati-matian ya,
11:15menjaga Selat Hormuz.
11:17Dia menyiapkan banyak sekali prau-perau kecil,
11:20kapal-kapal patroli kecil yang siap menghadang
11:23siapapun yang nekat menerobos tanpa izin mereka.
11:26Jadi artinya walaupun ada ancaman dari Trump,
11:28ada sindiran dari Trump,
11:29soal bagaimana porsi mereka menggunakan minyak dari Timur Tengah,
11:32ini tidak akan mengubah mereka untuk tetap belum membantu Amerika?
11:37Ya, sampai hari ini kan nyatanya belum ada dukungan konkret ya.
11:40Bahkan beberapa pihak justru menyalahkan Trump ya,
11:45karena justru karena Trump lah mereka kesulitan sumber daya minyak.
11:49Dan tampaknya kalau ini terus menerus,
11:51tidak ada perubahan dari sisi sikap politik internasional negara-negara itu,
11:55ya Israel dan Amerika akan terkucilkan sendiri,
11:59dan Iran makin lama makin mendapatkan support dari negara-negara
12:02di kawasan Timur Tengah maupun di kawasan Eropa,
12:05bahkan Asia Pasifik.
12:07Baik, terima kasih Mas Ridwan Habib
12:10untuk pandangannya di program Kompas Malam hari ini,
12:13pengamatan terorisme dan intelijen.

Dianjurkan