Lewati ke pemutarLewatkan ke konten utama
Sumba Barat Daya — Sayuran yang dibawa Samuel Surodadi, petani asal Desa Kadiwano, Kecamatan Umalulu Timur, Kabupaten Sumba Barat Daya, Nusa Tenggara Timur (NTT), ke pasar kerap tak terjual. Jika sudah begitu, dia bingung harus disalurkan ke mana.

Sebagian sayur yang dia panen terpaksa membusuk. Daripada mubazir, akhirnya sayuran itu dia jadikan sebagai pakan ternak.

Kini, pengalaman itu tak lagi terjadi padanya. Semua berkat program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang digagas Presiden RI Prabowo Subianto.

Lebih dari itu, dia bersyukur karena MBG bisa membuat anak-anak lebih rajin ke sekolah. Warga Sumba Barat Daya tidak kelaparan lagi saat akan memulai kegiatan belajar.

"Kami bersyukur hasil (tani) kami bisa laku, anak-anak kami bisa makan dengan teratur. Sebelum itu kan anak-anak kami, namanya di Indonesia Timur ini, memang kadang-kadang anak sekolah tidak makan,” kata Samuel, Rabu (11/2).

Sebelum ada dapur MBG, penghasilan Samuel sebagai petani kacang-kacangan sangat tidak menentu. Paling tinggi dia hanya bawa pulang Rp 100 ribu.

Keberadaan dapur MBG membuat penghasilannya naik tiga kali lipat. Dia juga tak perlu khawatir lagi hasil taninya tak terserap.

"Hasil per hari petani bisa dapat Rp 300 ribu. Itu pun tidak pakai ongkos-ongkos kendaraan lagi, langsung,” kata dia.

Dia berharap program MBG ini bisa terus berjalan. Dengan begitu, hasil tani di daerahnya bisa terus terserap.

Pro TV - Televisi Digital Berjaringan

Pro TV (@protv_id) bagian dari ekosistem Promedia Teknologi Indonesia (@promediateknologi)
-
SUBSCRIBE OFFICIAL CHANNEL YOUTUBE :
@protv_official | PROMEDIA TV
www.protv.id

#sumbabaratdaya #petani #ntt #panen #mbg #makanbergizigratis #prabowo #prabowosubianto #ProTV

Kategori

🗞
Berita
Transkrip
00:04Terima kasih telah menonton
00:30Hanya dengan hasil kami bisa laku, anak-anak kami bisa makan dengan teratur
00:37Sebelum itu kan anak-anak kami kan namanya di Indonesia Timur
00:41Ini memang kadang anak sekolah tidak makan
00:43Hasil per hari petani bisa dapat 300 ribu, 200 ribu
00:46Itu pun tidak pakai ongkos-ongkos kenderaan lagi
00:48Langsung biar teratur begitu
00:50Nanti jangan rame-rame, satu itu komoditi kita oper
00:53Jadi terkafir semua
00:55Nanti kami bagi komoditi, buah, pisang, biar dia teratur
00:59Karena ini pisang memang kelihatan tidak ada pisang
01:01Tapi banyak pisang
01:02Tapi nanti kami bagi
01:03Sampai yang kasih masuk pisang
01:04Biar terkafir semua
01:07Biar petani mereka semua rasakan semua dia punya manfaat
01:10Karena ini untuk kecerataan kami masyarakat
01:13Dengan anak-anak kami
Komentar

Dianjurkan