00:00Topik selanjutnya saudara, seorang siswa sekolah dasar ditemukan meninggal dunia.
00:06Ia diduga mengakhiri hidupnya karena kecewa tak mampu membeli pensil dan buku untuk bersekolah.
00:13Begitu memilukan, di usia yang semestinya bisa menikmati masa kanak-kanaknya dengan bermain dan mengenyam pendidikan,
00:20namun terhenti karena tekanan hidup yang penuh keterbatasan dan tak tersentuh bantuan.
00:26Ia pergi meninggalkan luka yang tak akan pernah kering dan sepucuk surat yang berisi pesan memilukan.
00:37Surat terakhir untuk mama.
00:39Di atas kertas kusam, jemari kecilnya menoreh kalimat untuk sang mama untuk terakhir kalinya.
00:48Surat yang berisi pesan cinta sekaligus pesan perpisahan kepada sang mama.
00:52Ia meminta agar mama tak menangis dan merelakan kepergiannya.
00:58Begitu pilu, tekanan kehidupan yang semestinya tak dirasakan oleh bocah seusianya terpaksa harus ia lalui.
01:08Terhimpit keadaan keputusannya hingga membuat dirinya mengambil keputusan yang tragis.
01:14Saudara korban adalah anak bungsu dari lima bersaudara.
01:23Di usia yang seharusnya dipenuhi cerita, tawa, dan angan-angan, korban justru memikul beban yang terlalu berat untuk anak seusianya.
01:34Mereka hidup jauh dari kata layak.
01:37Hidup dalam tekanan ekonomi sejak ditinggal kepala keluarga yang tak pernah kembali.
01:42Di tengah himpitan ekonomi, mereka dipaksa hidup terpisah.
01:49Sejak usia 1 tahun 7 bulan, korban tak lagi tinggal bersama ibu kandungnya.
01:56Ia diasuh sang nenek.
01:57Untuk menopang hidup, korban kerap membantu sang nenek berjualan di pasar.
02:03Sedangkan untuk makan sehari-hari, mereka mengandalkan hasil kebun seadanya.
02:08Sebelum mengakhiri hidupnya, korban diketahui sempat meminta uang 10 ribu rupiah untuk membeli buku dan pena kepada ibunya.
02:38Namun, mendapatkan uang 10 ribu rupiah bukanlah hal mudah, sodara.
02:44Bagi sang ibu yang bekerja sebagai petani dan pekerja serabutan, uang 10 ribu rupiah sangat sulit.
02:52Dengan keterbatasan, ia harus membiayai 5 orang anaknya.
02:55Nilai yang mungkin kurang untuk harga secangkir kopi di kota besar ternyata menjadi beban hidup yang tak tertanggung bagi bocah malang tersebut.
03:06Peristiwa yang dialami bocah di Ngada ini membuat gubernur NTT marah.
03:16Seorang siswa kelas 4 SD mengakhiri hidupnya karena dipicu persoalan ekonomi menjadi tamparan bagi negara.
03:24Di depan jajaran pemerintahan NTT, ia murka.
03:30Ia menyebut tragedi kemanusiaan ini terjadi sebagai kegagalan pemerintah menciptakan sistem perlindungan sosial bagi warganya.
03:39Ia meminta jajarannya untuk mengevaluasi kejadian ini dan meminta peristiwa ini menjadi yang terakhir kalinya.
03:47Ini kan kita tetap apa yang salah, tapi peran atas sosial kita berarti gagal.
03:56Pemerintah kita juga gagal, provinsi sama, perbuatan Ngada juga sama.
04:03Kita punya peran atas agama juga gagal, peran atas budaya juga gagal, sampai orang mati dari sini.
04:11Nah untuk itu saya minta kita sebagi di tempat ini, karena kita berdua di tempat ini, saya juga berdua di tempat ini, jadi diri saya sendiri.
04:16Saya berdua di tempat ini, saya berdua di tempat ini.
Komentar