00:00Tia Nibar, ada Tifa Uziah Tia Suma, ada Roy Suryo, ada Refli Heron juga.
00:08Dan Noroki, Noro Parti.
00:10Jadi hari ini pemeriksaan keterangan ahli ya, pemberian keterangan ahli oleh Roki Gerung.
00:16Khusus untuk Dr. Tifa sesungguhnya, tapi mudah-mudahan keterangan beliau nanti juga bisa kita manfaatkan semua.
00:23Bagi demokrasi, konstitusi, dan hak azazi manusia. Tidak berlama-lama.
00:27Ini Roki Gerung.
00:28Silahkan, Bang.
00:31Ini tanya aja, Bang.
00:36Tidak ada urusan memberatkan, memberingankan.
00:41Saya ingin menerangkan fungsi dari metode di dalam meneliti, di dalam mencurigai itu.
00:47Mencurigai itu bagian yang paling penting dari pengetahuan.
00:50Jadi fokusnya terkait ujian kebencian dan pencembaran nama baik atau seperti apa, Bang?
00:55Hah?
00:56Apa kukusan?
00:57Fokus dari penyampaian apa yang ditanyain?
01:03Nanti kalau saya fokusnya di sini, nanti penyidiknya tidak fokus.
01:08Ya kan?
01:08Berarti hari ini hanya fokus untuk dalam penjelasan metode peningkian, dalam pencerigaan, dan sebagainya?
01:15Ya pasti soal itu.
01:17Karena saya ngajar metodologi bertahun-tahun, membaca bertahun-tahun soal matematik, fisika, biologi, stem cell, fungsi neotransmitter.
01:27Kan gitu, saya duganya begitu yang mau ditanya.
01:30Oke, tapi arahnya kemana?
01:32Apa?
01:33Arahnya metodologi ini kemana?
01:35Ya untuk mau...
01:36Ini kan sudah ada ceritaan-ceritaan metodologi yang bukannya ini itu ada mutu pidana kah atau mutu abang?
01:43Gimana ada pidana dalam metodologi?
01:45Kuriositas manusia itu diberikan supaya timbul pertengkaran.
01:49Itu intinya tuh.
01:51Jadi semua orang yang meneliti pasti akan bertengkar.
01:53Oke, artinya dalam metodologi ini tidak ada unsur pidana?
01:57Ya kalau nggak mau...
01:58Kalau nggak ada unsur pidana, lakukan semacam pseudo-retro...
02:04Apa namanya?
02:05pseudo-retro...
02:07Science.
02:07Bukan, bukan.
02:09Proto-science.
02:10Bukan.
02:12Apa kemarin yang ada kejadian di Solo itu?
02:14Justice-justice apa namanya?
02:16Nesterati.
02:18Nesterati.
02:19Eh gue ingin sebutin kata itu tuh.
02:21Kalau nggak ingin pidana,
02:23Yaitu, lakukan restoratif justice.
02:25Seolah-olah restoratif.
02:28Tapi...
02:29Tidak justice.
02:30Bukan.
02:30Beda antara restoratif dan restoran justice.
02:34Penyelesaiannya.
02:35Penyelesaiannya di restoran.
02:38Oke, Bang Ruki menilai penerjaan...
02:40Lu kenapa sih nanya gue serius banget gitu?
02:44Orang mau lagi bikin.
02:45Karena yang disangkanya serius.
02:47Penelajian terhadap dokumen ijazah ini menurut Bang Ruki seperti apa?
02:50Ya semua riset itu perlu waktu dan tidak mungkin berakhir.
02:55Riset dokter Tiva, risetnya Rizmon, risetnya Roy itu.
02:58Kan semua itu dimungkinkan oleh prosedur.
03:01Nah kalau prosedurnya belum selesai, ya lakukan riset.
03:04Kalau prosedurnya belum selesai, ada data baru, ya riset aja kan.
03:07Kan apa susahnya tuh?
03:09Jadi dimana pidanaannya disitu.
03:10Kan ada pidanaan apa-apa kan?
03:12Gitu.
03:13Berarti hari ini bukan membela dari pihak manapun, tapi di jalur pengal.
03:18Saya mau membela bahwa ijazah itu asli.
03:22Itu yang saya bela.
03:23Namun sampai saat ini?
03:25Ya.
03:26Sampai saat ini asli atau bukan menurut Bang Ruki?
03:28Iya sih asli.
03:29Kalau asli di bela.
03:31Iya.
03:31Tapi kalau palsu bagaimana?
03:33Ya orangnya yang palsu.
03:34Bukan ijazah itu gimana?
03:36Ya semua ijazah pasti asli dong.
03:39Nah kesalahan kalian itu adalah minta Jokowi nunjukin ijazah aslinya.
03:43Salahnya disitu.
03:44Minta tunjukin isiap palsumu.
03:46Nah begitu dong caranya.
03:48Oke.
03:49Tapi ada ijazah asli dan palsu.
03:50Apa?
03:51Ada ijazah asli dan palsu berarti.
03:53Bagaimana?
03:54Ada dua ijazah berarti Maruki.
03:56Iya presidennya ada yang asli dan palsu apalagi ijazah.
04:01Gak dapatkan du poin gue.
04:07Poinnya kurang puas sih sebenarnya.
04:10Apa?
04:10Kurang puas sih sebenarnya.
04:11Apa yang?
04:12Boleh kasih dijelasin lagi?
04:13Kurang puas.
04:15Buka VPN.
04:16Udah.
04:18Gak ada sensor.
04:20Gak ada sensor.
04:23Udah nyantai-nyantai aja lah ini.
04:24Kan ini peristiwa yang sudah dicicil dari dua tahun lalu.
04:29Saya bahkan saksi ahli pertama tuh.
04:31Sidangnya.
04:33Buka bangteri kan tuh.
04:35Jadi sudah hafal itu logika kekuasaan.
04:39Legal reasoningnya saya tahu itu.
04:41Dan yang sebetulnya yang mesti kita jaga.
04:43Jangan sampai Pak Jokowi itu autoimmunnya bertambah tuh.
04:47Kan itu bahaya gitu kan.
04:49Nah cara supaya Pak Jokowi tenang itu.
04:51Mustinya dia lempar semua HPnya dia tuh.
04:54Pak Jokowi itu bermasalah karena tiap hari dia lihat HP.
04:57Tiap kali Pak Jokowi buka HP.
04:58Muka Rizmon.
04:59Muka Tireng.
05:01Itu bikin stres.
05:02Gitu.
05:02Nah bilang pada Pak Jokowi.
05:05Perbanyak produksi oksitosin.
05:09Untuk menenangkan batin itu.
05:11Endorfin.
05:12Apa itu Pak?
05:12Endorfin.
05:13Eksotosin itu hormon yang diproduksi oleh hipotalamus.
05:17Untuk menghasilkan rasa tenang, rasa nyaman.
05:19Seperti orang habis orgasme gitu.
05:21Ini ilmiah aku terangin ya coba.
05:23Dokter Riva bener nggak?
05:25Endorfin.
05:26Eksotosin juga.
05:27Ah eksotosin juga.
05:29Oke.
05:30Kayak tadi kan.
05:32Pokoknya kalian tanya terus sampai dia marah.
05:37Jadi ini bukan khusus untuk betar Riva tapi dua-duanya juga ya.
05:41Gini nih, coba kamu bikin pertanyaan yang muter itu.
05:47Reverse logic.
05:48Sekarang begini-begin ya.
05:49Lu berusaha buat dapat kejawaban gue kan.
05:51Tapi pertanyaan sama buat apa?
05:53Gitu.
05:55Kan kelihatannya kalian lebih cepat dari Pak Jokowi ya.
05:58Karena menunggu statement.
06:01Nah apa lagi?
06:03Beruang puas lagi itu gitu.
06:04Nanti setelah diminta.
06:06Nah iya.
06:06Jadi tetap saya hanya ingin memperlihatkan.
06:10Bahkan memamerkan kealian saya di bidang metodologi.
06:14Itu.
06:18Ya kan warga negara bertanya pada presiden.
06:21Dimana deliknya?
06:24Kan tiga orang ini bertanya.
06:25Eh.
06:26Ijazahmu mana?
06:27Asi apa palsu?
06:28Pertanyaan warga negara pada kepala negara harus dijawab oleh kepala negara.
06:32Kenapa?
06:33Karena kepala negara kacungnya warga negara.
06:35Gitu.
06:36Ya bener aja.
06:36Masa gue tanya sama pembantu gue dia gak mau jawab.
06:38Ya bener aja.
06:39Pake otak dong.
06:41Jangan dungu.
06:43Oke.
06:44Udah ya?
06:44Oke.
06:45Siap.
06:45Dari bangroh aja deh.
06:46Gimana tangkapan kehasilan party?
06:48Bagus.
06:49Udah.
06:50No rocky, no party.
06:51Udah.
06:51Itu aja udah ya.
06:52Udah.
06:53Cukup.
06:53Itu aja ya.
06:54Saya minta ada mungkin dokter Tifa yang lebih spesifik.
06:58Iya.
06:59Jawaban saya sama.
07:00Lanjut ya.
07:01Bahwa sebetulnya yang dibutuhkan di dalam kasus ini itu adalah hormonal.
07:06Hormonal harus bekerja dengan baik.
07:08Kalau Pak Jokowi itu terlalu sering buka HP.
07:11Bener.
07:11Tadi saya diskusi sama beliau itu.
07:13Itu mau ngebangkitkan kortisol terus-terusan.
07:17Sehingga kesehat itu menjadi gelap.
07:19Sekarang ini yang paling penting bagi Pak Jokowi itu bukan soal ijazah.
07:23Ijazah udah jelas.
07:24Udah kami jelaskan dalam buku juga.
07:26Kowis White Paper.
07:27Jelas ijazah yang muncul.
07:29Ya.
07:30Tanggal 1.
07:3230 April.
07:33April 2025 itu jelas ijazah palsu.
07:36Jadi udah gak usah dipertanyakan.
07:37Apalagi dibawa sampai kepada hukum.
07:40Yang lebih penting sekarang adalah bagaimana Pak Jokowi itu sehat.
07:44Karena itu yang lebih berbahaya bagi beliau.
07:47Dan beliau sangat membutuhkan hormon.
07:50Agar autoimunnya bisa decrease.
07:52Ya.
07:54Saya sangat khawatir loh.
07:55Karena apa?
07:56Sudah terjadi DVT.
07:57Deep Vein Trombosis.
07:59Ini orang-orang deketnya beliau sudah mengatakan kakinya makin menghitam.
08:02Badannya makin menghitam.
08:04Kita sedih gak tuh mantan presiden kok dikalahkan sama sakit.
08:07Yang resikonya mematikan.
08:09Sempurna.
08:11Sempurna.
08:12Cukup ya.
08:14Tapi jangan nilai bahwa Roki dan Dr. Tifa sebagai bagian dari Jokowi ya.
08:22Tetap disini tersangka dan kemudian ahli.
08:25Masih.
08:25Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.
08:28Oke.
08:28Tunggu ya jam 13 ya.
08:31Bang Roy ini serbain kemarin.
08:33Oh ada lagi Roy.
08:34Roy Suryo lagi.
08:35Oh ini babak yang lain ya.
08:38Babak yang lain.
08:39Jawaban saya cuma pakai gambar ini aja.
08:42Udah.
08:43Oke.
08:43Terima kasih ya.
08:43Terima kasih ya.
08:44Terima kasih.
08:45Oke.
08:45Dikit aja ya.
08:46Hari ini sebenarnya bintangnya Roki.
08:49Ya.
08:49Saya partai tambahan aja.
08:51Jadi kemarin saya dan Pak Pak Aka dilaporkan.
08:55Jawaban saya cuma ini aja.
08:56Udah.
08:56Gambar ini aja.
08:57Simak gambar ini baik-baik.
08:59Saya hanya menindahlanjuti artikel yang ditulis oleh Pak Lukas Luarto.
09:04Itu adalah jurnalis senior.
09:06Dulu mantan ketua apa?
09:08IJTI apa?
09:10Aliansi Jurnalis Independen Indonesia.
09:11Udah.
09:12Jadi waktu itu di tangga ini saya hanya mengatakan kita kehilangan dua tuyul gitu.
09:17Jadi nanti kalau prosesnya dilanjutkan berarti Pol dan Metro Jaya harus memproses dua tuyul.
09:24Ya gitu.
09:24Itu aja udah.
09:25Jadi kalau tuyul bisa dipidana ya udah tuyulnya aja dipidana.
09:29Tidak menjubkan nama saya hanya mengatakan dua tuyul.
09:32Jadi tulisan dari Pak Lukas Luarto waktu itu adalah dua tuyul menui jen ifrit.
09:38Apa artinya?
09:38Tanyakan pada yang nulis.
09:40Ya.
09:40Udah.
09:40Itu aja.
09:41Jadi saya tanggapi dengan ketawa dan senyum saja.
09:44Cukup.
09:45Ya.
09:45Oke.
09:45Makasih.
09:46Ya kembali ke pas refli.
09:47Oke.
09:48Terima kasih kawan-kawan semua.
09:49Cukup ya.
09:50Kita tunggu pemeriksaan.
09:51Kita.
09:51Hari ini bintangnya Robi.
09:53Ya.
09:54Jangan lupa besok juga ada Rido Rahmadi ya.
09:56Ya.
09:56Oke.
09:56Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.
09:58Terima kasih.
09:58Selamat menikmati.
09:59Selamat menikmati.
10:04Iya.
10:04selamat menikmati
Komentar