00:00Kita bahas lebih dalam penanggulangan hingga langkah adaptasi banjir di Jakarta ini bersama dengan para narasumber.
00:05Sudah bergabung lewat sambungan dalam jaringan Kepala BPB DKI Jakarta, Isnawa Aji,
00:09dan Peneliti Limnologi dan Sumber Daya Air dari Bada Reset dan Inovasi Nasional atau BRIN, Yus Budiono.
00:15Selamat malam semuanya dengan Tifal di sini.
00:19Selamat malam, Tifal.
00:20Terima kasih semua sudah bergabung bersama kami.
00:22Pak Aji, sampai malam ini catatan wilayah terdampak sudah berapa titik di Jakarta, Pak?
00:27Ya, jadi begini, Mas Tifal.
00:31Ya, Alhamdulillah ya, dalam dua hari ini kita lihatkan curah hujan jauh dari ekstrimnya.
00:38Artinya sudah betul-betul melanggai.
00:40Yang di puncaknya kita pernah mengalami sampai 200-an RT, hampir 28 ruas jalan tergenang.
00:49Alhamdulillah sampai dengan jam 6 sore tadi saya pantau, sudah tinggal 46 RT dan 1 ruas jalan tergenang.
00:57Artinya, sudah banyak daerah-daerah di Jakarta yang semakin surut, yang tadi sempat mungkin 40-60 cm, sekarang sudah mulai di angka 20-an atau 15 cm.
01:10Kayaknya gitu, Pak.
01:10Oke, dan melihat polanya terutama kalau secara kasat mata ya, saya melihatnya di pola hujannya kan tidak menentu ya, Pak ya.
01:18Kadang hujan teras pada pagi, siangnya tiba-tiba cerah, sore diguyur hujan dengan intensitas tinggi dengan durasi yang sebentar, malamnya tenang begitu, cukup tidak ada hujan sama sekali.
01:30Dengan membaca pola seperti ini, Anda melihat pola banjirnya di BPBD ada yang berbeda ketimbang tahun-tahun sebelumnya, Pak? Pak Haji?
01:39Sebetulnya begini, Mas. Pola banjirnya itu dari tahun-tahun yang lalu tidak ada yang berubah.
01:45Tetapi Pak Gubernur kan meminta kepada BPBD, TNI AU, Brian BNKG untuk berupaya mengurangi intensitas hujan melalui operasi modifikasi cuaca.
01:59Saya tidak kebayang kalau andainya tidak ada modifikasi cuaca, pasti kondisinya bisa dari malam sampai dengan sore hujan itu tidak akan pernah berhenti.
02:11Jadi, saya meyakini bahwa dengan berhenti walaupun setengah jam, 15 menit itu menandakan bahwa upaya mengurangi curah hujan dengan intensitas tinggi berhasil di beberapa kawasan ini membantu upaya untuk segera pemulihan daerah-daerah terdampak banjir.
02:30Sebenarnya gitu, Mas.
02:31Oke, Pak Yus, kalau Anda sejauh ini menelaahnya pola banjir yang muncul bertahun-tahun di Jakarta dari tahun ini, 2026 dengan beberapa tahun sebelumnya, adakah hal yang baru yang Anda baca di sini?
02:46Sepertinya yang 2025 dan 2026 ini lebih banyak kontribusinya dari kejadian ekstrim, Mas Tifa.
02:56Jadi, maksudnya begini, kalau data hujan itu diplot dari 1850 sampai sekarang, kemudian kita buat kurva distribusinya, maka 1% yang ada di ujung kanan, yang ekstrim, itu lebih sering terjadi.
03:15Itu penanda bahwa saya kira ahli-ahli klimat itu setuju bahwa itu adalah penanda climate change atau pemanasan global yang kemudian membuat cuaca tidak menentu itu terjadi sekarang ini, terutama di tahun 2025 dan 2026.
03:34Karena kita lihat di sebelumnya, 2020 itu juga ekstrim karena itu torrential rain, sebelumnya ketika 2013, 2007, dan 2002 itu tipikalnya masih karena luapan sungai.
03:52Tapi sekarang sepertinya tidak lagi.
03:532020 itu murni karena torrential rain di utara, Maret 2025 itu masih double antara hujan di bagian hulu, di Bogor terutama, dan di bawah itu di bawah lebih banyak, tapi di hulu juga ada.
04:11Dan kemudian terjadi lagi di bulan Juli yang harusnya puncak musim kering, dan bulan Oktober yang harusnya baru awal-awal musim basah.
04:20Dan sekarang kita sepertinya kalau tahun 2025 itu musim keringnya basah, sekarang musim basahnya basah banget.
04:28Kalau Anda melihat dengan pola seperti itu tadi, bentuk antisipasi yang sudah ditunjukkan sejauh ini sudah cukup, Pak Yus?
04:35Ya, saya kira itu di luar apa yang sudah diantisipasi, terutama karena di era 2020 sampai 2025 itu kita tidak mendapat ujian banjir.
04:47Sehingga sepertinya kita lupa gitu.
04:50Kita tahu kalau untuk urusan mengatasi banjir, mitigasi banjir, itu ada aturan-aturan drainase itu di perkotaan, metropolitan itu harus return periodnya berapa, di daerah atas itu return periodnya berapa.
05:06Saya kira itu harus ditepati dan pengeruan itu harus selalu dikerjakan.
05:12Dan yang kedua saya kira kalau kita ingin membantu permasalahan dari sisi individu, ya saya kira kita perlu mengurangi debit air ketika hujan.
05:28Dan misalnya dengan naruh ember-ember di tritisan atau di teras-teras rumah, nanti kalau hujannya sudah reda, air di sekitar kita sudah agak terdistribusi, baru airnya dibuang.
05:43Oke, dan sejauh ini Pak Aji yang kami perhatikan kan upaya modifikasi cuaca, itu sudah disebutkan oleh Pemprov Jakarta.
05:50Yang saya lihat tadi juga di Puri Kembangan sudah disiagakan pompa apung, kemudian pompa mobile juga berputar terus.
05:58Apakah dengan pola banjir yang ada sekarang itu sudah cukup atau ada langkah lain yang dibuat oleh Pemprov Jakarta bisa menangani banjir ini?
06:05Kita jawabnya nanti, kita akan jeda sebentar. Tetap di Kompas TV.
06:19Pak Aji, selain mengoperasikan pompa apung, pompa mobile, terus ada modifikasi cuaca yang diupayakan Pemprov Jakarta,
06:27hal apalagi yang diupayakan oleh Pemprov, terutama dalam hal ini dari BPBD, memastikan penanganan ini betul-betul cepat begitu Pak, untuk banjir ini?
06:36Bisa jadi begini, kita tahu beberapa waktu yang lalu Bapak Gubernur,
06:41kata jajah ini seperti kadis sumber daya air, wali kota, dan lainnya melakukan peninjauan terhadap kali cakung lama.
06:50Artinya Bapak Gubernur tetap berkomitmen untuk melakukan upaya-upaya pengerukan kali sulai waduk danau di Jakarta.
06:58Yang kedua, tentunya tadi masih sampaikan bahwa terus mengoperasionalkan berbagai ratusan pompa, powder, pompa, dan lain-lain,
07:09dan upaya mengurangi terjadi penanganan banjir di berbagai kawasan yang selalu terjadi menahun.
07:16Hal yang lain tentunya Pemprov juga melakukan upaya-upaya seperti misalnya menambah ruang-ruang terbuka hijau sebagai daerah tangkapan air.
07:26Kita tahu ada dua danau di Hulu ya, Cimahi ya, Cimah Suga danau yang ada di kawasan Ciawi,
07:35itu kan bagian-bagian untuk sebagai tangkapan air yang ada di Ciliwung.
07:42Artinya berbagai upaya terus dilakukan untuk mengoptimalkan peran mitigasi kebencanaan khususnya banjir di berbagai kawasan di Jakarta.
07:53Baik, Pak Yus menurut Anda langkah-langkah itu sudah bisa cepat untuk menangani banjir di Jakarta itu Pak?
07:57Ya, saya kira Pemprov perlu melihat ulang perda yang sudah dibuat tahun 2012,
08:07perda nomor 1 kalau nggak salah, di sana ada bagaimana Jakarta itu mestinya menangani banjir
08:13dengan membagi Jakarta bagian utara menjadi 66 sistem folder.
08:17Tadi disampaikan Pak Haji, ada waduk-waduk, waduk-waduk itu tidak harus ada di upland saja,
08:24tapi DKI sendiri di dalamnya dari 66 sistem folder itu juga harus ada waduk retensi atau penampungan sementara
08:33dan kemudian sistem pompanya.
08:35Saya kira itu yang bisa saya komentari dari kebijakan yang ada sekarang.
08:39Oke, nah Pak Haji, hal lainnya juga karena banjir ini jadi temannya Jakarta terus setiap tahun Pak,
08:47pastikan ada sisi adaptasi, memastikan bahwa warga tetap harus bekerja, berkegiatan,
08:53tapi tidak begitu terdampak besar saat banjir ini, konteks adaptasinya ini,
08:57sejauh mana BPBD memberikan rekomendasi ke Pemprov untuk perbaikannya begitu,
09:02biar warga nggak terdampak cukup besar lagi gara-gara ini?
09:04Ya, seperti kejadian minggu ini di mana Pak Gubernur kan mengeluarkan kebijakan misalnya
09:12work from home bagi para aparatur pemerintah, kemudian juga work from anywhere
09:18untuk para pekerja-pekerja swasta dan PJJ ya, pembelajaran jarak jauh bagi siswa-siswa yang
09:25selalu melaksanakan sekolah.
09:26Artinya, upaya ini adalah upaya untuk mengurangi terjadinya dampak-dampak dari pasca kejadian banjir
09:35di mana aktivitas warga menjadi terganggu.
09:38Tentunya BPBD dalam hal ini juga sejak lama mengingatkan kepada warga, bahasanya begini,
09:45kenali bahayanya, kurangi resikonya.
09:48Maksudnya adalah, apabila kita melihat ada potensi cuaca ekstrim di luar sana,
09:56ya kita harus mendengarkan juga imbauan dari BPBD, BMKG, BRIN dan lain-lain lain,
10:02artinya kita bisa mengurangi potensi resiko yang terjadi kepada diri kita.
10:05Misalnya, cuaca ekstrim mungkin kurangi kegiatan di bantaran kalisungai,
10:11kemudian juga misalnya kita menghindari apabila terjadi pahun tumbang, badai, angin pincang,
10:18dan lain-lain, artinya akan mengganggu aktivitas kita sehari-hari pada saat
10:23melaksanakan berbagai kegiatan di suatu wilayah.
10:26Oke, Pak Yus, kalau menurut Anda, untuk konteks adaptasi banjir yang sudah menahun terjadi di Jakarta ini,
10:33apa langkah yang paling kuat harus dilakukan Pemprov ya biar ujung-ujungnya warga tidak kena kerugian besar lagi?
10:41Ini sudah rugi ekonomi, bahkan beberapa hari yang lalu ada kasus meninggal gara-gara nunggu di mobil di tengah banjir.
10:50Ya, kalau kita bicara tentang adaptasi, adaptasi itu adalah kita menyesuaikan diri dengan situasi yang ada.
10:59Kalau untuk Pemprov, saya kira pada saat situasi banjir, mungkin kendaraan-kendaraan pribadi itu kalau bisa dikurangi,
11:10digantikan dengan bis-bis yang besar.
11:12Karena bis ini pada saat kendaraan pribadi itu sudah tenggelam, bis-bis ini masih, ground clearance-nya masih tinggi,
11:20jadi mereka masih bisa diandalkan.
11:22Itu dari sisi transportasi saja, Pak Tifa.
11:25Tapi kalau dari sisi yang lebih permanen, saya kira warga harus mulai melihat bahwa banjir itu ketika belum bisa diatasi
11:35sampai saya kira paling tidak lima tahun ke depan, warga harus tahu bahwa mereka hidup di antara air gitu.
11:43Jadi mereka living with water.
11:45Jadi kalau mereka tahu mereka living with water, ya di bagian utara Jakarta yang sering rob misalnya,
11:50rumahnya jangan di atas tanah, tapi rumahnya di atas tanah.
11:56Rumah panggung dan lain-lain saya kira itu lebih efektif.
12:00Baik.
12:00Pak Yus, Pak Aji, terima kasih banyak sudah memberdiskusikan berbagi pandangan bersama kami.
12:05Sehat selalu semuanya.
12:06Selamat malam.
12:06Ya.
12:07Ya.
12:07Ya.
12:07Ya.
12:07Ya.
Komentar