Lewati ke pemutarLewatkan ke konten utama
KOMPAS.TV - Hujan deras yang mengguyur sejak Minggu (18/1/2026) dini hari mengakibatkan banjir di sejumlah wilayah di Jakarta dan sekitarnya.

Terkait banjir ini, kita akan bahas bersama Pengamat Tata Kota, Yayat Supriatna.

Yayat menilai optimalisasi pompa air sangat penting dalam upaya penanganan banjir di Jakarta. Menurutnya, pompa berperan krusial dalam mempercepat surutnya genangan, terutama di wilayah dataran rendah yang bergantung pada sistem pemompaan.

Selain itu, ia menyebut konsep pengendalian banjir di Jakarta masih tertinggal dan belum sepenuhnya menyesuaikan dengan perkembangan wilayah perkotaan. Perubahan tata guna lahan yang pesat dinilai belum diimbangi dengan sistem pengendalian banjir yang memadai.

Baca Juga Banjir Rendam Sejumlah Jalan di Jakarta Utara, Pompa Air Dikerahkan Atasi Genangan di https://www.kompas.tv/regional/644618/banjir-rendam-sejumlah-jalan-di-jakarta-utara-pompa-air-dikerahkan-atasi-genangan

#banjir #pengamat #tatakota #jakarta #jakartautara

Artikel ini bisa dilihat di : https://www.kompas.tv/nasional/644625/full-pengamat-soal-banjir-jakarta-ungkap-konsep-pengendalian-banjir-drainase-jakarta-tertinggal
Transkrip
00:00Saudara Breaking News Kompas TV masih kami lanjutkan bersama saya Tata Nova Siliana.
00:06Saudara hujan deras yang mengguyur sejak minggu dini hari mengakibatkan banjir di sejumlah wilayah di Jakarta dan juga sekitarnya.
00:14Dan saat ini untuk mengetahui bagaimana terkait banjir Jakarta kita sudah terhubung dengan pengamat Tata Kota ada Pak Yayat Supriyatna.
00:25Pak Yayat selamat siang apa kabar Pak?
00:26Selamat siang Mbak Tata Alhamdulillah ya sehat.
00:31Baik Pak Yayat ini Jakarta dan juga sekitarnya terendam banjir lagi Anda sendiri melihat seperti apa terkait beberapa titik banyak begitu Pak sehingga menyulitkan transportasi dan juga kegiatan aktivitas lainnya.
00:47Ya ini menarik ya yang paling dominan kita lihat banyak di wilayah utara Jakarta.
00:53Ini viral banget di beberapa media sosial masyarakat melaporkan bagaimana kondisi beberapa jaringan jalan yang terendam.
01:01Apa indikasi yang bisa kita lihat?
01:04Pertama satu ada bisa dikatakan sebagian sistem drenasi Jakarta lumpuh.
01:09Saya berani mengatakan itu karena fungsinya tidak maksimal untuk menampung volume air.
01:14Yang kedua ada potensi faktor rob ya ada pasang laut sehingga aktivitas air untuk mengalir ke laut itu agak melambat atau tertahan sama sekali.
01:26Yang ketiga itu aspek pompa ya memang harus diakui Jakarta ini memerlukan pompa untuk beberapa simpul ruas jalan yang bisa dikatakan sering mengalami kebanjiran.
01:36Jadi bisa dikatakan dari kebanjiran minggu yang lalu sampai minggu sekarang ada penurunan kesiagaan menurut saya.
01:44Kesiagaan itu dalam arti mengantisipasi potensi curah hujan yang kemungkinan besar masih akan terus meningkat pada beberapa hari yang akan datang.
01:53Nah catatan penting dari kita disini kita terlihat bahwa fenomena yang terjadi hari ini.
01:58Ini intensitas curah hujan cukup panjang ya cukup panjang mulai dari hari Sabtu kemarin sampai hari Minggu.
02:05Ini sama dengan minggu yang lalu.
02:07Minggu yang lalu pun juga fenomenanya sama.
02:10Curah hujan di akhir pekan itu sudah terasa mulai di hari Minggu dan terjadi curah hujan yang sama meningkatnya pada hari Seninnya.
02:18Jadi dalam satu minggu saya berani mengatakan dalam satu minggu Jakarta itu lumpuh sebagian pada sistem penanganan penanggulangan air.
02:27Disini menunjukkan bahwa faktor sistem drenase kita, faktor potensi ROP dan juga faktor kendala yang terjadi pada beberapa wilayah yang sama sekali tidak dapat terantisipasi oleh sistem pompanisasi yang ada.
02:44Jadi bisa dikatakan situasi beberapa daerah Jakarta khususnya misalnya di wilayah utara itu memang agak terasa lebih lambat untuk surutnya.
02:54Minggu yang lalu juga kita sudah melihat hampir sebagian wilayah utara Jakarta ketika wilayah dari Pik, Pademangan, Sunter sampai sebagian wilayah sekitar Jakarta Utara itu mengalami penurunan yang sangat lambat sekali.
03:09Ini catatan penting loh. Mengapa pada wilayah utara itu potensi kejadiannya sering lebih lama untuk surut dan kemudian potensi terjadinya banjir agak lebih sering terjadi.
03:22Ini catatan-catatan kita yang perlu menjadi perhatian bahwa fenomena hujan sekarang ini ada potensi mengancam pada wilayah-wilayah yang paling rentan.
03:32Nah yang kedua pada beberapa tempat itu air Alhamdulillah pada jam 10-11 ini dilaporkan cepat surut itu menunjukkan bahwa ada hal-hal yang sangat bisa diantisipasi.
03:47Saya sependapat bahwa optimalisasi pompa pada wilayah-wilayah yang sering tergenang itu menjadi sangat penting.
03:54Jadi kapasitas pompanya ditingkatkan, potensi kesiagaan terus dimaksimalkan.
03:59Memang seharusnya kalau memang dimungkinkan pada fenomena curah hujan kejadian pada hari Sabtu malam harusnya pompa sudah siaga.
04:10Tetapi peran pompa itu bisa sama sekali tidak maksimal jika kondisi muka air itu sangat tinggi.
04:19Fenomen ini bisa dilihat di jalan Gunung Sahari.
04:21Gunung Sahari itu antara muka jalan dengan muka air itu levelnya hampir sama.
04:25Bahkan muka air itu lebih tinggi.
04:27Jadi kalau misal muka air di beberapa tempat, di beberapa daerah itu lebih tinggi dari wilayah daratannya atau jalannya,
04:36otomatis wilayah tersebut akan lebih lama tergenang dibandingkan daerah-daerah yang memang potensi ketinggian lahan lebih tinggi dari muka airnya.
04:45Demikian.
04:46Oke Pak Yaya, tadi juga Anda menyebutkan ada beberapa yang menyebabkan untuk banjir di Jakarta.
04:51Ada drainase, kemudian ada rob, kemudian curah hujan yang juga tinggi.
04:55Jadi bagaimana Pak, misalnya curah hujannya sekarang tinggi.
04:57Drainasinya harus seperti apa?
04:59Khususnya tadi Anda beberapa kali mention kalau misalnya bagian Jakarta, bagian utara ya Pak Yayat ya?
05:06Ya, pertama begini.
05:08Catatan-catatan penting sudah kita sampaikan beberapa waktu yang lalu.
05:12Bahwa sistem pengendalian banjir Jakarta ini sudah tertinggal.
05:15Kajian yang dibuat konsep master plan rencana pengendalian banjir Jakarta yang dibuat tahun 1973 oleh Nedelko,
05:22kemudian dievaluasi berdasarkan kajian dari JAIKA, kemudian di backup oleh Kementerian PU pada waktu itu,
05:29bahwa sistem pengendalian Jakarta ini harus ditingkatkan kapasitasnya tiga kali dibandingkan kondisi yang ada sekarang.
05:37Artinya apa? Upaya normalisasi, pengembangan optimalisasi saluran air maupun sungai-sungai yang ada,
05:45itu harus bisa dinormalkan kembali bahkan ditingkatkan tiga kali lipat.
05:50Tetapi yang menjadi masalah sekarang adalah justru Jakarta semakin kehilangan resapan air,
05:56sistem drenasenya tidak mampu mendukung tingginya curah hujan yang semakin lama semakin sulit tersap di dalam sistem drenase maupun wilayah-wilayah ruang terbuka hijaunya.
06:11Kita lihat ya bisa dikatakan Jakarta hanya punya sistem drenase pada koridor jalan-jalan utama saja,
06:19yang bisa dikatakan masih bisa membackup.
06:22Tetapi begitu masuk ke dalam sistem lingkungan permukiman, drenasenya itu sama sekali tidak terbentuk atau tidak membantulah.
06:30Bahkan sama sekali beberapa permukiman yang cukup padan itu tidak memiliki sistem drenase,
06:35jadi air yang jatuh langsunglah.
06:37Ibaratnya run off-nya tinggi sekali, sudah di atas satu.
06:41Jadi apa yang terjadi sekarang ketika curah hujan tinggi, sungai berubah, jalan berubah menjadi sungai.
06:47Itu menunjukkan bahwa kapasitas drenase kita sudah tidak maksimal.
06:52Dan kita lihat juga, contohnya misalnya terlihat dari pompa-pompa kita,
06:56betapa besar kapasitas yang harus ditingkatkan ketika volume air semakin banyak.
07:02Ini menunjukkan bahwa perubahan bentang tata ruang kita, resapan yang hilang,
07:07itu akan sangat mempengaruhi besarnya air yang tidak terkendali lagi.
07:11Nah ini menjadi catatan bagi kita ya, mengapa kejadian ini terus berulang-berulang.
07:17Dan ini pertanyaan lebih menarik lagi jika hanya dalam satu minggu.
07:22Hari Senin kemarin kita kebanjiran, hari Minggu ini kita juga kebanjiran.
07:26Yang menjadi masalah ada apa di balik fenomena ini?
07:29Satu kita bisa jelaskan.
07:31Pertama, ada nggak catatan yang bisa kita lihat misalnya,
07:34dari kejadian di wilayah utara Jakarta yang sekarang ini begitu viral,
07:42kawasan-kawasan baru yang sudah terbangun pun ternyata kebanjiran semua.
07:46Kawasan-kawasan elit semua kebanjiran semua.
07:49Mengapa kawasan elit yang diklaim bebas banjir sekarang malah kebanjiran?
07:54Kalau wilayah-wilayah lain mungkin bisa dikatakan dimalumin lah.
07:58Nah ini menjadi satu tanda tanya, ada fenomena apa di balik peristiwa ini?
08:02Harus kita evaluasi kembali.
08:04Kawasan yang terencana, yang dibuat bagus masterplan-nya bisa kebanjiran.
08:09Yang tidak terencana, ya kita sudah wajarlah menerima hal itu.
08:12Nah yang kedua yang perlu kita catat adalah,
08:15kalau misalnya potensi ini terjadi kan orang mengatakan,
08:19Pak kenapa tidak terjadi operasi modifikasi cuaca?
08:22Kita pertanyakan kembali, anggarannya ada atau tidak?
08:26Sekarang kan masalahnya anggaran tahun 2026 belum diketok.
08:31Biasanya kalau menghadapi fenomena ini,
08:33ketika kita sudah gagal mengendalikan di bawah,
08:36drenasinya rusak, bentang alamnya sudah tidak maksimal lagi,
08:39fenomena lens subsidernya tinggi.
08:42Orang selalu berharap mudah-mudahan modifikasi cuaca menjadi cara penolong dari mengendalikan banjir.
08:48Apa yang terjadi sekarang?
08:50Dana untuk modifikasi cuaca mungkin belum diketok, belum dianggarkan ya.
08:55Artinya otomatis, kalau misalnya anggaran untuk modifikasi cuaca tidak bisa dilakukan,
09:01Jakarta terpaksa harus pasrah.
09:03Karena sistem di bawahnya itu sudah tidak mendukung.
09:05Ini kan kita catat, dalam dua minggu saja ini, ini sudah kembali lumpuh.
09:11Nah kalau misalnya satu-satunya cara dengan modifikasi cuaca menjadi solusi untuk mengurai benih hujan di Jakarta,
09:17biayanya sangat mahal.
09:19Akhirnya kita hanya menggantungkan cara pengendalian cuaca sebagai cara mengatasi banjir di Jakarta.
09:24Oke, tadi Pak Yayat juga bilang kalau misalnya sistem drainasi kita sudah ketinggalan.
09:29Kemudian juga kalau kita lihat nih Pak Yayat,
09:32kalau misalnya di Katulampai itu sudah siaga tiga Pak.
09:35Begitu.
09:36Jadi kita bisa katakan mungkin apa?
09:39Mungkin dampak yang paling serius nanti mungkin apakah banjirnya benar-benar nanti akan meluap begitu.
09:44Misalnya karen banjir sebelumnya dari misalnya awal Maret 2025 lalu Pak.
09:50Halo.
09:52Ya Pak Yayat.
09:55Bisa mendengar suara saya Pak?
09:58Bisa, bisa, sudah, sudah, bisa.
09:59Oke Pak Yayat saya ulangi.
10:01Ini kan kita di Katulampa juga statusnya siaga tiga begitu Pak ya.
10:06Kemudian bagaimana dengan potensi banjir kiriman yang tiba-tiba di Jakarta dari jam 9 sampai jam 12.
10:14Begitu Pak.
10:15Terus menurut pengamatan Pak Yayat,
10:18seberapa serius ancaman banjir akan datang ke Jakarta begitu Pak?
10:24Ini saya tinggal di Katulampa ini.
10:26Oke.
10:27Bisa diceritakan langsung berarti Pak Yayat ya kalau misalnya.
10:30Mungkin Bapak merasakan sendiri dampaknya.
10:33Ya saya, saya terus terang aja.
10:35Saya berada di wilayah kelurahan Katulampa.
10:39Saya melihat fenomena tadi pagi itu hujan cukup tinggi.
10:44Sekarang hujan berhenti tapi cuaca mendung.
10:46Tinggi muka air sudah di seratus, siaga tiga.
10:50Dan diperkirakan ya, mudah-mudahan sore ini tidak hujan lagi ya.
10:54Diperkirakan muka air yang hampir seratus sentimeter itu akan mempengaruhi muka air di pintu air manggarai.
11:03Akan naik sedikit lah levelnya.
11:05Dan hitungan durasinya kan ya sekitar 6 sampai 8 jam.
11:10Jadi kalau sekarang jam 2, jam 1 lah kan.
11:14Kalau 6 jam diperkirakan malam itu air baru sampai Jakarta.
11:18Nah sekarang pertanyaannya, apakah air Jakarta sudah mulai surut?
11:22Artinya begini, kalau wilayah hilirnya air sudah terurai, sudah mulai masuk ke laut.
11:28Maka jika nanti ada air dari hulu masuk wilayah Jakarta, itu potensi genangan bisa berkurang.
11:35Tetapi kalau misalnya air stuck tidak mampu dikelola di wilayah hilir, maka jika nanti air yang dari Katulampa sampai Jakarta, potensi genangan atau wilayah banjirnya akan semakin besar.
11:47Nah jadi catatan yang perlu kita ingatkan adalah, bagaimana upaya yang kita lakukan di wilayah hilir khususnya Jakarta,
11:55di sepanjang koridor aliran sungai, khususnya Ciliwung atau sungai-sungai lainnya itu,
12:01mampu kita segera, bukan maaf ya, membuang ke laut secepatnya.
12:06Memang sekarang yang terjadi di Jakarta itu kita sudah tidak mampu meresapkan air,
12:10yang kita lakukan secepatnya air itu dibuang ke laut begitu.
12:14Sebagai cara kita untuk mengantisipasi potensi air yang datang dari hulu.
12:19Nah yang menjadi catatan penting bagaimana kapasitas dari pintu air yang ada di Ancol.
12:26Nah pintu air Ancol itu dibuat dalam kapasitas yang besar dan diharapkan mampu mengantisipasi aliran air yang terhambat jika ada rob.
12:35Jadi airnya itu dibuat lebih tinggi, melintasi pintu air untuk mampu dibuang ke laut.
12:41Nah sekarang pertanyaannya ada berapa pintu-pintu air untuk memompa air yang dari daratan untuk bisa dibuang ke arah laut.
12:49Nah ini catatan penting ya, untuk sungai utama, untuk sungai Ciliwung masih bisa dikendalikan.
12:54Tapi menjadi pertanyaannya bagaimana dengan aliran sungai-sungai yang 13 lainnya, potensi genangannya mampu nggak kita kendalikan.
13:02Jadi kita berharap ada upaya kerja keras yang bisa dilakukan dan kita berharap mudah-mudahan tidak terjadi rob yang terlalu membahayakan sehingga air itu bisa langsung kita alirkan ke laut.
13:14Oke dan tentu juga kalau misalnya kita berbicara tentang iklim nih Pak, curah hujan yang tinggi di Bogor itu kan tentu menjadi pemicu juga ya Pak ya.
13:22Pemicu utama mungkin bisa kita katakan.
13:24Terus kalau misalnya pola curah hujan ekstrim ini apakah terlihat akan permanen atau masih siklus tahunan juga Pak kira-kira dari cuaca yang seperti ini bisa kita katakan?
13:36Nah sebetulnya begini, kalau kita mengantisipasi curah hujan, sebetulnya Jakarta yang sangat sensitif terkait genangan dan banjir itu jika di atas 100 mm.
13:50Jadi hujan lebat dan sangat lebat, lebat dan sangat lebat.
13:55Sebetulnya hujan dua minggu ini yang hari Senin lalu dan hari Minggu ini itu lebih banyak dipengaruhi oleh hujan lokal yang curahnya cukup tinggi.
14:08Nah kemarin juga ada minggu lalu ada pengaruh dari wilayah hulu yang hujan juga cukup besar intensitasnya.
14:15Tetapi kalau melihat kondisi yang terjadi dalam dua minggu terakhir ini itu menunjukkan bahwa intensitas curah hujan di Jakarta sangat tinggi.
14:24Dan dipengaruhi juga oleh faktor ROP yang mempengaruhi wilayah pesisir sehingga mudah tergenal.
14:30Nah jadi yang menjadi antisipasi yang harus kita lakukan untuk menyikapi bagaimana hujan ekstrim.
14:37Nah ini yang paling ditakuti kalau udah-udah ekstrim di atas 100 bahkan sempat ada 150 mudah-mudahan tidak terlalu berbahaya lagi lah gitu ya.
14:48Ini menjadi catatan penting bagaimana kemampuan key-nya, key Jakarta itu artinya key-nya sistem dari Nasrita untuk antisipasi key 50 tahunan atau key 100 tahunan gitu.
15:00Jika memang ada potensi key ya, misalnya hujan itu 100 tahunan artinya potensi puncak 100 tahunan yang terjadi hujan ekstrim selama sistem drenasinya masih bisa membackup, no problem.
15:12Tetapi yang menjadi pertanyaan kan sudah dikemukakan bahwa kapasitas sistem drenasinya kita ini harusnya ditingkatkan tiga kali lipat dengan membaca fenomena cuaca yang berubah terus-menerus dan kerusakan bentang alamnya gitu.
15:29Yang terjadi di Jakarta kan kita sudah melihat bahwa sekarang yang terjadi adalah konflik tata ruang untuk air dan tata ruang untuk manusia.
15:39Coba kita lihat misalnya kasus di Kelapa Gading, Kelapa Gading kan riwayanya dulu rawa.
15:44Beberapa tempat lalu misalnya di pesisir utara misalnya di pik sekarang kebanjiran juga itu juga dulunya adalah laut.
15:51Otomatis kan pertanyaannya banyak wilayah-wilayah yang merupakan rumah-rumah air sekarang menjadi rumah manusia.
15:59Jadi seakan-akan ketika curah hujan itu turun, air sudah tidak punya rumah lagi lah bahasanya.
16:05Artinya dia akan membanjiri semua kawasan atau permukiman yang dulu merupakan tempat air parkir atau tempat air ditampung.
16:15Nah sekarang pertanyaannya bagaimana upaya kita untuk pemulihan?
16:19Pemulihan yang bisa dilakukan sekarang aja lah ya cara yang paling selamat adalah membuang air secepatnya aja ke laut.
16:26Tidak punya pilihan lain, tidak punya resapan, tidak punya retention pound karena kita mau sistem polder pun kendalanya adalah pada pembebasan tanah.
16:34Nah jadi penanganan infrastruktur Jakarta khususnya penanggilan banjir ini sangat terhambat dengan masalah pembebasan tanah.
16:42Harganya sangat mahal sekali.
16:43Oke Pak Yaya tentu ini masalahnya bukan hanya masalah yang begitu saja maksudnya ini cukup pelik begitu masalahnya.
16:51Kalau kita tarik sedikit ke belakang Pak banyak juga orang yang menyalahkan kalau bilang banjir kiriman begitu ya dari Bogor.
16:58Orang-orang pada bilang kayak gitu tapi sebagai pengamat atau kota berarti kalau kita mau mengurai permasalahan tentang banjir di Jakarta ini.
17:06Mulai dari mana Pak? Harus seperti apa? Apakah ini murni curah hujan saja atau lebih karena kegambalan tata ruang?
17:13Tadi juga Bapak sempat menjelaskan atau hilangnya ruang resapan tidak ada lagi air mau kemana?
17:19Kita mau buang juga seperti apa? Bagaimana Pak kalau kita mau mengurainya?
17:22Inilah yang kita lupakan. Jakarta dan sekitarnya. Jakarta, Depok, Bogor itu adalah kesatuan ekosistem daerah aliran sungai.
17:34Jadi sebetulnya yang menjadi kekurangan pahaman kita seakan-akan ada pemisahan administratif terkait masalah sungai.
17:43Sungai Jakarta, Sungai Depok, sama Sungai Bogor.
17:46Kemudian mengklaim bahwa banjir kiriman dari Bogor. Sebetulnya tidak ada banjir kiriman.
17:52Yang ada adalah kesatuan ekosistem daerah aliran sungai. Hulunya itu ada di Bogor lah, Kabupaten Bogor.
18:02Tapi kalau hulunya juga rusak, tengahnya juga rusak, implikasi Jakarta.
18:07Nah jadi pertanyaan yang paling menarik dari seluruh penyebabnya tentu akan kita kembalikan.
18:12Selama hujan lebat, selama hujan itu tinggi, sebetulnya masalah banjir itu fenomena alam biasa.
18:19Tetapi ketika ekosistemnya masih bagus saja, resapannya masih bagus, kemudian sistem aliran airnya juga normal.
18:28Berapapun besar itu, selama bentang alam itu masih menampung, no problem.
18:32Yang terjadi sekarang apa?
18:34Di hulunya juga sudah mengalami kerusakan, di tengahnya juga rusak, di wilayah akhirnya rusak.
18:40Jadi apa yang kita lakukan sekarang?
18:43Contoh misalnya, oh ada buat waduk Ciawi, waduk Sukamahi, udah kita pendung.
18:50Tapi pertanyaannya berfungsi gak secara maksimal?
18:53Ada apa fenomena ini?
18:55Ternyata kalau dia merupakan dalam satu ekosistem wilayah, tentu orang terlalu berpikir.
19:00Hulu, kalau dibuat waduk Sukamahi sama waduk Ciawi, berapa potensi pengendalian yang bisa dilakukan Jakarta?
19:0730 persen air bisa ditampung kalau di puncak hujan besar.
19:12Sekarang di puncak tidak terlalu besar dan terlihat dari muka air yang ada di Katulampam misalnya, tidak begitu tinggi.
19:19Nah yang terjadi mengapa Jakarta yang jadi kebanjiran?
19:22Berarti ada masalah di wilayah Jakarta ketika hujan lokal itu ternyata mempengaruhi sekali.
19:28Jadi kalau misalnya sekarang yang terjadi, ya mungkin bisa dikatakan masih Jakarta tidak terlalu parah karena hari ini masih dipengaruhi oleh hujan lokal yang cukup tinggi.
19:41Tapi kalau misalnya di Bogor pun hujannya tinggi selama beberapa hari seperti kejadian tahun kemarin,
19:47itu menunjukkan bahwa jika di Bogor hujan besar, di Hulu besar, kemudian di Jakarta hujan besar, kemudian terjadi juga banjir,
19:54banjirnya akan lebih besar lagi. Nah sekarang terlihat bahwa di sini misalnya di wilayah Hulu, hari ini tidak terlalu tinggi lah.
20:02Tapi memang curah hujannya turun setiap hari dengan intensitas yang tidak terlalu besar.
20:07Tapi kalau di sini besar, pasti pengaruhnya pun bisa besar di Jakarta walaupun Jakarta tidak hujan.
20:12Di sini yang menunjukkan bahwa hari ini kita melihat Jakarta tanpa banjir kiriman pun sebetulnya sudah parah.
20:21Nah pertanyaannya, apa yang kita lakukan?
20:25Selama kita tidak mampu melakukan secara pendekatan struktur, bendungan, waduk, retention point,
20:32orang berhadap pada pendekatan non-struktur ya, pendekatan katakanlah budaya menjaga drinase, sampah, penghijauan.
20:40Tapi itu kan kurang begitu banyak diminati ya.
20:43Sekarang kita pendekatan struktur terus, bangun tanggul, bangun waduk, bangun pintu air,
20:48tapi masalahnya tidak selesai-selesai.
20:51Jadi catatan penting yang perlu kita cermati hari ini adalah ketika semua upaya sudah dilakukan,
20:57catatan evaluasi dari pengendalian air yang harus tiga kali lipat itu yang belum dijalankan sepenuhnya.
21:04Ketika itu belum dijalankan, orang berpikir modifikasi cuaca lah sebagai cara satu-satunya
21:09membuang air keluar dari wilayah Jakarta.
21:12Tapi akhirnya di musim hujan kita kebanjiran, di musim kemarau kita kekiringan.
21:17Nah satu hal lagi yang menurut saya yang perlu kita lakukan ketika kondisi ini terjadi,
21:24ada baiknya kita mungkin kalau sudah pasrah gitu ya, ya sudah lah kita mengajarkan kepada masyarakat saja.
21:31Bagaimana antisipasi kalau misalnya banjir ini terus jadi, ya kita harus siaga 24 jam,
21:38tidak melakukan mobilitas keluar, menggunakan public transport,
21:42kemudian katakanlah walk from anywhere atau from home gitu kan.
21:45Jadi menunggu saja tinggal bagaimana sistemnya mampu menurun apa, menghilangkan banjir itu.
21:53Coba kita tanya kepada kapasitas sistem kita.
21:56Kalau sistemnya bagus semua, ribuan pompa bergerak semua, pintu air bergerak semua,
22:02berapa jam dia bisa mengurangi air yang tergenang.
22:07Kalau Jakarta sebagai kota global harusnya kan kita punya timeline yang bagus, harusnya genangan itu tinggal kenangan.
22:16Sekarang yang terjadi ya tetap aja dia menjadi genangan, karena kita belum mampu membuat sistem bagaimana air secepatnya surut atau bisa dibuang ke laut secepatnya.
22:25Oke, Pak Yaya tadi juga Anda menyebutkan modifikasi cuaca itu sebenarnya seberapa efektif sih Pak?
22:34Ya sebetulnya modifikasi cuaca kan kita mencoba mempengaruhi potensi awan hujan yang tinggi.
22:40Nah artinya kita mencoba menggiring ya, supaya potensi hujan yang ekstrim atau sangat lebat tidak terjadi di Jakarta dan sekitarnya.
22:50Fenomena tahun lalu ketika banjir besar terjadi di Bekasi, kemudian sebagian dari Jakarta Timur,
22:58modifikasi itu membantu ya, mengurai potensi awan hujan itu sehingga tidak terjadi potensi hujan ekstrim yang besar dan terulang.
23:08Dan itu cukup efektif ya, seperti yang terjadi sekarang di banjir di Sumatera,
23:13ketika upaya pemulihan itu dilakukan di darat untuk menghilangkan sentimentasi lumpur yang demikian besar,
23:20pekerjaan di darat itu kalau tidak di backup dengan cuaca yang bisa menetralisir curah hujan
23:27supaya lumpur itu tidak membanjiri kembali, maka itu akan sangat mempengaruhi.
23:33Tetapi pertanyaannya, kalau misalnya BMKG mengatakan ada potensi hujan besar pada minggu depan,
23:40kita ketanyakan kembali kepada Pemprov DKI apakah memiliki anggaran tidak
23:46atau anggaran yang bisa dipercepat untuk mengantisipasi potensi banjir yang lebih besar ke depan.
23:52Kalau dilihat dari kapasitasnya, kemampuan dari operasi modifikasi cuaca,
23:57ini rata-rata cukup efektif ya, untuk berpotensi mengurai potensi awan hujan
24:05sehingga potensi hujan lebat itu bisa dihindari.
24:08Itu menjadi satu-satunya cara kita menyelamatkan Jakarta dan biayanya sangat besar.
24:14Akhirnya seperti pemboro sana saja, membuang uang, membuang air,
24:18akhirnya hanya itu yang bisa dilakukan ketika sistem kita bisa belum mampu menyelesaikannya.
24:24Pertanyaan itu tadi, selama sistem kita belum mampu menyelesaikan seperti apa yang direkomendasikan
24:29untuk ditingkatkan tiga kali, kemudian ada upaya-upaya perbaikan pada sistem lingkungan
24:35dan sebagainya, kita tetap akan mengalami potensi yang sama.
24:39Jakarta tidak pernah bisa hilang dari banjir.
24:42Yang bisa dilakukan Jakarta adalah mengurangi potensi bencana banjir untuk tidak terlalu meluas,
24:49kemudian bencananya diperkecil, atau yang paling maksimal genangan itu bisa secepatnya hilang dari jalan.
24:57Oke, berarti kalau misalnya bisa disimpulkan Pak, menurut Bapak,
25:00apakah kebijakan penanganan banjir di Jakarta selama ini terlalu reaktif atau malah kurang preventif Pak?
25:06Sangat reaktif, sangat reaktif, sangat reaktif.
25:11Karena rata-rata setiap gubernur menjanjikan akan menanggung langi masalah banjir dalam setiap periode kepemimpinannya.
25:19Pertanyaannya, dari mana itu dilakukan?
25:22Karena sekali lagi, rencananya sudah ada.
25:24Pendekatannya itu harus pendekatan yang terintegrasi dan terkoordinasi.
25:29Bahwa penanganan Jakarta itu bukan hanya urusan Jakarta, tapi melibatkan pemerintah pusat dan pemerintah daerah sekitarnya.
25:36Tapi satu-satunya cara menurut saya adalah, mari kita evaluasi di mana faktor penyebab utama dari peristiwa seperti ini.
25:45Harusnya, kita berharap ya, Pemprov DKI bisa memberikan laporan kepada masyarakat,
25:50Mengapa wilayah utara ini kok semakin lebih sering terjadi banjir?
25:56Bahkan menggenangi kawasan-kawasan elit, kawasan-kawasan yang sebetulnya sudah terencana.
26:03Terencana perumahannya, tapi tidak terencana sistem drenasinya.
26:07Itu menjadi pangkal persoalan di kita.
26:09Kalau saya lihat, beberapa simpul aliran drenasi yang ada di antara satu pemukiman dengan pemukiman lain,
26:16itu kadang-kadang tidak terkoneksi, apalagi pada outletnya.
26:19Outletnya misalnya di Danau Sunter, itu kapasitasnya sangat terbatas sekali.
26:24Kalau misalnya nanti juga dibuang ke laut, kapasitas pompa airnya juga masih sangat terbatas kembali.
26:29Berarti ada masalah dengan ekosistem lingkungannya dan juga dengan sistem teknisnya.
26:36Bagaimana kita mengurai atau menurunkan potensi banjir sehingga secepatnya genangan atau banjir itu bisa surut dari permukiman.
26:44Oke, tadi juga kita membahas bagaimana sistem drenase dan juga bagaimana tentang pompa dan lain-lain.
26:52Bapak juga tadi menyebutkan kalau gitu warga Jakarta juga pasrah aja.
26:56Kalau misalnya ada jangan kemana-mana, work from anywhere dan lain-lain.
27:01Jadi kalau kita bisa sebutkan poin-poin penting, bagaimana Pak?
27:04Apa yang bisa kita edukasi kepada publik soal tata kota air ini apakah sudah cukup?
27:09Atau kita harus apa kalau misalnya banjir?
27:11Nah pertama begini, kita warga Jakarta harus berani mengatakan bahwa banjir adalah bagian dari siklus kehidupan kita.
27:22Kalau kita tidak mampu memperbaiki, itulah fakta yang harus kita terima.
27:26Bukan berarti living harmony with water ya, berdamai dengan air.
27:31Tapi bagaimana kita menyikapi banjir itu?
27:33Dan bagaimana supaya kita mampu mengurangi masalahnya?
27:37Nah persoalannya itu tadi, bagaimana kita membangun sistem yang terintegrasi.
27:43Misalnya contoh, kalau misalnya Gubernur Pak Mas Pram dan Bang Dul ini.
27:48Dalam lima tahun ini, saya harus dari mana menyelesaikan masalahnya?
27:53Jika nanti memang kapasitas pompa atau kapasitas pintu air tidak maksimal, itu bagaimana diselesaikan?
27:59Kemudian bagaimana pengendaliannya?
28:03Ini kan banyak sekarang pembangunan-pembangunan perumahan-perumahan baru pada kawasan yang merupakan rumah air.
28:10Bahkan orang memprotes, membeli rumah di kawasan elit yang miliaran itu ternyata semua kebanjiran.
28:16Jadi apa bedanya perumahan-perumahan elit dengan perumahan-perumahan biasa?
28:20Karena ternyata air itu tidak mampu dikendalikan.
28:23Jadi yang harus kita berikan garansi kepada warga Jakarta ke depan bahwa
28:27pemerintah akan mengupayakan minimal satu, mengurai atau menurunkan potensi-potensi banjir itu
28:36pada daerah-daerah yang memang bisa diproyitaskan penanganannya.
28:40Contoh misalnya ya, untuk wilayah Panteri Utara Jakarta ini.
28:44Ini memang agak sensitif sekali ya, karena ini wilayah yang agak lama dan paling cepat dibandingkan tempat lain.
28:51Jadi pertanyaannya apa?
28:52Salah satu cara kendalikan, jangan diizinkan lagi pembangunan baru yang terlalu masif di wilayah yang sangat sensitif dengan wilayah bencana.
29:01Artinya kadang-kadang kita melupakan bencana itu seakan-akan ya bencana itu cuma sekali, dua kali, tiga kali.
29:07Tapi pertanyaannya kalau terus-terusan bagaimana?
29:09Nah, jadi citra kota pun tidak akan pernah hilang dari stigma kota yang penuh dengan bencana.
29:16Dan lama-lama, mohon maaf nih, ada catatan penting menurut fenomena migran luar Jakarta.
29:22Banyak kelas menengah Jakarta yang sudah mulai pindah ke wilayah-wilayah yang lebih aman banjir.
29:28Khususnya di daerah 3T, Tangerang, Tangerang Selatan, sama Kabupaten Tangerang.
29:32Itu banyak perumahan-perumahan baru yang bebas banjir.
29:37Jadi fenomena ada potensi sebagian besar masyarakat yang mungkin katakanlah kelas menengah ke atas itu,
29:44yang selama ini mungkin tinggal di utara, ada kemungkinan besar bermigrasi ke wilayah-wilayah yang lebih aman.
29:51Jadi ada fenomena, hulunya mungkin selama ini wilayah resapan bisa terganggu juga ketika ada pembangunan perumahan dalam skala masif.
30:00Catatan kita, setiap pembangunan baru di wilayah hulu dari daerah aruan sungai mudah-mudahan bisa dikendalikan tata ruangnya.
30:09Wilayah hilir kita kendalikan dan kita backup dengan sistem infrastruktur yang mampu mengurai bahkan mengurangi potensi banjir supaya tidak terlalu lama.
30:19Kenapa Pak, kalau misal tadi Bapak sebutkan ada wilayah 3T, Tangerang dan sekitarnya lebih aman banjir,
30:25kemudian orang-orang jadi berpikir mungkin pindah aja ke sana lebih aman.
30:29Kenapa wilayah itu lebih aman Pak, apakah tata kotanya lebih baik atau bagaimana?
30:34Ya saya melihat ada catatan penting di wilayah tersebut.
30:38Ada daerah tersebut yang relatif tidak dilintasi oleh aliran sungai besar yang punya potensi bencana yang tinggi.
30:47Yang kedua tata kotanya lebih bagus, perencanaannya lebih terstruktur.
30:52Kemudian yang kedua disitu banyak fenomena kota-kota baru, bukan hanya di wilayah 3T tapi sampai ke Depok, bukan Depok Bogor lah.
31:04Itu ada pengembang besar itu di kaki gunung yang besar-besaran masif.
31:08Kalau Bekasi memang agak sensi juga ya karena kita mengalami dua peristiwa banjir yang cukup besar.
31:14Jadi ada kecenderungan sekarang masyarakat.
31:17Dan data itu terlihat dari data migran penduduk, data migrasi penduduk yang saya pelajari dari tahun 2023-2024.
31:26Bagaimana wilayah Jakarta Pusat itu semakin lama kelas menengah semakin berkurang penduduknya, kemudian berpindah.
31:35Sebagian juga dari wilayah Jakarta Barat, sebagian untuk pindah ke wilayah 3T.
31:39Tapi yang menarik adalah, pertama satu memang kota-kota yang dikembangkan di tempat yang bebas banjir itu lebih memberikan jaminan investasi ya bagi mereka yang memang rumahnya tidak kebanjiran.
31:51Apalah artinya rumah miliaran kalau setiap tahun 2-3 kali kebanjiran banjir itu bisa TBC itu, tekanan batin, capek deh.
32:01Ke rumah mahal, tapi kalau kebanjiran terus gimana?
32:03Nah, ini kan menjadi fenomena loh. Bagaimana kita mau menjual kalau rumahnya sering-sering kebanjiran?
32:11Otomatis orang akan mencari lokasi yang lebih aman, nilai investasinya naik, dan satu lagi masa depannya lebih aman.
32:17Itu fenomena yang terbaca saat sekarang.
32:20Oke, jadi bisa nggak sih Pak sebenarnya apa yang diterapkan di Tangerang 3T tadi yang Bapak sebutkan itu bisa diterapkan nggak di Jakarta kira-kira Pak?
32:27Nggak bisa. Kalau wilayah kota baru itu rata-rata kota yang direncanakan sejak awal.
32:34Jadi sebetulnya seharusnya kota itu, dia punya kapasitas sistem untuk pengendalian banjirnya.
32:40Misalnya contoh, sistem pengendalian banjir di Kata ini untuk T-nya berapa ya?
32:44Ki-nya berapa? Ki-nya, Ki-50 atau Ki-100. Puncak-puncak curah hujan tertingginya, Ki-nya 50 atau 100.
32:52Jadi ketika potensi tertingginya berapa misalnya, sampai 150 atau 200, maka sistem pengendalian banjirnya, drenasinya harus juga besar.
33:02Jadi harus mampu. Kalau kita kan nggak tahu nih ya, drenasinya Jakarta dari zaman kolonial sampai jalan milenial masih dipakai.
33:11Belum terpelihara sepenuhnya semuanya.
33:13Jadi bisa kebayangkan runoff-nya terjadi di mana-mana, gorong-gorongnya makin sempit bahkan tertutup, airnya makin besar, otomatis sistemnya juga lumpuh.
33:23Kecuali kalau memang ada pengendalian besar-besaran, kita membuat sistem drenas yang betul-betul mampu menampung tingkat puncak hujan tertinggi.
33:33Kalau perlu sampai hujan ekstrim misalnya.
33:35Tapi ternyata kan fakta yang terjadi sekarang, sistem pengendalian master plan yang ada sekarang dari tahun 1973, belum mampu kita tingkatkan tiga kali lipat seperti apa yang direkomendasikan oleh JK ataupun Kementerian PU.
33:49Itu otomatis pekerjaan besar yang harus kita kerjakan bersama-sama.
33:53Itu menjadi salah satu syarat yang harus kita perbaiki ke depan.
33:57Oke baik Pak Yayat, terima kasih atas penjelasannya.
34:00Kita juga berharap semoga banjir Jakarta ini tidak terus ada ya Pak Yayat, semoga semuanya membaik, semuanya tidak mengganggu lagi aktivitas warga Jakarta dan sekitarnya.
34:11Terima kasih Pak Yayat Supriyatna, pengamat Tata Kota, salam sehat selalu.
34:15Ya sama-sama, terima kasih.
34:17Terima kasih.
Jadilah yang pertama berkomentar
Tambahkan komentar Anda

Dianjurkan