Lewati ke pemutarLewatkan ke konten utama
  • 2 bulan yang lalu
Ketua Komisi Percepatan Reformasi Kepolisian (KPRK) Jimly Asshiddiqie menjelaskan secara komprehensif subtansi penataan ulang Polri dan langkah komisi yang dipimpinnya, dalam wawancara khusus dengan INDEPENDENMEDIA.ID di Jakarta, Selasa, 11 November 2025.

Campers/Editor: Ridwan Ewako/INDEPENDENMEDIA.ID / IMTV
Transkrip
00:00Intro
00:29Kita kalau mau memperbaiki negara, tidak bisa hanya bicara orang, kita harus bicara institusi, lebih jauh lagi institusi itu kan terkait dengan banyak aspek sistem aturannya, budaya kerjanya, itu harus dinilai, soalnya ganti orang, tidak menyelesaikan masalah, hanya
00:58mau mengikuti naluri kemarahan publik, ya kan? Nah masalahnya kalau kita penuhi itu kemarahan publik, apa menyelesaikan masalah, kan belum betul, orang marah itu kata Rasulullah,
01:28yang paling inti dalam beragama, itu dilarang oleh Nabi, ya kan? Tapi sebaliknya disuruh ambil wuduk, enggak sholat, ambil wuduk saja.
01:40Maksudnya apa itu? Supaya kepalanya dingin, jadi kemarahan publik itu jangan dijadikan referensi dalam mengambil keputusan, keliru kalau bernegara kayak begitu, gitu loh.
01:56Jadi orang marah itu harus didengar aspirasinya, tapi harus dipahami, dibalik kemarahan itu ada apa, gitu. Jadi jangan buru-buru langsung kesimpulan ganti orangnya.
02:09No, itu bukan solusi.
02:11Yang tahu itu kan media. Media itu menghubungkan aspirasi dari bawah ke publik policy making.
02:25Nah, you nggak usah tanya, you jelaskan.
02:28Apa yang dirasakan oleh media, aspirasi apa, itu harus didengar oleh Tim.
02:35Jadi jangan tanya saya, saya yang tanya sama Anda.
02:39Apa menurut penilaian assessment dari media tentang masalah-masalah yang perlu direformasi, gitu loh.
02:49Supaya policy making itu partisipatoris dari bawah.
02:54Nah, peranan media sangat penting.
02:58Karena media itu di tengah-tengah.
03:00Nah, saya mau dengar. Jangan tanya saya, saya mau tanya.
03:05Apa, gitu loh.
03:06Nah, seperti tadi, you bilang, aspirasi masyarakat itu, reformasi itu maknanya, itu gampang.
03:14Ganti kapolrinya.
03:16Nah, itu, itu, itu, apa namanya adalah hasil assessment dari media.
03:22Nah, itu perlu didengar.
03:23Tapi saya sudah jawab.
03:25Untuk menyelesaikan masalah, pahami dulu masalah menyeluruh apa saja.
03:31Lalu, apa solusinya?
03:33Kalau begitu saja, tap, ganti kapolrinya, ya nggak menyelesaikan masalah.
03:39Bukan itu isinya.
03:41Bahwa itu muncul di dalam aspirasi rakyat yang lagi marah.
03:44Iya.
03:45Tapi namanya orang marah itu, suruh ngambil wudhu, biar tenang.
03:50Gitu loh.
03:51Nah, apa menurut Anda?
03:53Aspirasi yang lain, selain soal ganti kapolrinya.
03:56Apa?
03:57Yang menjadi masalah.
03:58Memang banyak kekecewaan dalam praktek.
04:00Pasti.
04:01Nah, itu yang harus dihimpun.
04:03Nah, maka kami tiga bulan ini nanti, targetnya itu ialah bagaimana menghimpun masukan-masukan dari masyarakat.
04:11Bahwa nanti kami bersepuluh, nanti akan ada tambahan satu jadi sebelas orang, itu akan memperdebatkannya, mencarikan solusi terbaiknya.
04:25Begitu kira-kira.
04:25Jadi, kerja tim ini tiga bulan, bukan hanya merumuskan kalimat-kalimat kebijakan, segampang.
04:40Seminggu jadi.
04:42Saya ambil dari buku saja, sudah selesai.
04:45Ya kan?
04:45Tapi bukan begitu, karena problem kita ini bukan hanya problem di atas kertas.
04:50Problem kita itu ialah bagaimana kebijakan-kebijakan itu akrab dengan realitas, dengan kenyataan.
05:01Dan dia bisa menggerakkan kemajuan yang lebih adil dan beradab.
05:08Begitu loh.
05:09Polisi yang berkeadilan dan berkeadaban.
05:13Nah, kan begitu.
05:14Nah, jadi nanti kita rumuskan sesudah memahami masalah.
05:19Dan semua kalangan yang merasa punya kepentingan, ya kita libatkan.
05:25Begitu kira-kira.
05:26Jadi tiga bulan ini, kita akan banyak nanti berkomunikasi di ruang publik.
05:33Menimba banyak masukan.
05:35Begitu loh.
05:39Reformasi itu gelombang pertama kan sejak reformasi.
05:43Oke, ya.
05:43Di konstitusi sudah dirumuskan pemisahan TNP, semua Polri, abri, mengganti nama TNP Polri.
05:53Undang-undangnya 2002 sudah jadi.
05:57Dan setiap periode kepemimpinan ke Polri, itu ada agendanya sendiri.
06:02Untuk bertransformasi atau reformasi internal.
06:08Itu sudah jalan.
06:09Dari waktu ke waktu terus ada perbaikannya.
06:13Dan bisa tanya ke Mabes, apa aja program reformasi?
06:19Itu ada.
06:20Kertasnya ada.
06:21Iya, kertasnya itu ada.
06:25Jadi kalau dibilang tidak ada reformasi, ya tidak benar juga.
06:29Karena memang ada agenda formalnya itu ada.
06:35Gitu loh.
06:35Nah, cuma yang jadi masalah, polisi ini kan berhadapan langsung dengan masyarakat.
06:42Masyarakat punya pandangan yang mungkin saja berbeda.
06:47Gitu loh.
06:49Karena negara sebesar kita, perspektif orang per orang, kelompok per kelompok beda-beda.
07:00Saya selalu mengatakan, bahkan saya selalu ulang-ulang.
07:05Orang berbeda pendapat itu, pertama karena kepentingannya beda-beda.
07:12Kepentingan orang per orang itu beda-beda.
07:15Keluarga-pel keluarga beda.
07:19Kelompok masyarakat per kelompok masyarakat yang berbeda latar belakang beda kepentingannya.
07:26Gitu.
07:27Termasuk kelompok politik.
07:29Semua.
07:30Kelompok bisnis, kelompok politik, kelompok etnis, kelompok agama.
07:35Kepentingannya beda.
07:36Nah, bagaimana supaya kepentingan yang berbeda itu bisa tidak menimbulkan masalah,
07:44tapi malah membawa berkah untuk kemajuan.
07:52Caranya, pertama perbedaan itu harus diakui adanya.
08:00Kedua, harus dimusyawarahkan.
08:04Dibicarakan kepentingan yang lebih luas.
08:08Yang lebih jangka panjang.
08:12Bukan sempit, tapi diperluas.
08:15Nah, insya Allah perbedaan itu akan ketemu.
08:20Itu perbedaan karena kepentingan yang berbeda.
08:26Nah, tapi ada juga yang kedua.
08:28Perbedaan itu terjadi karena perbedaan data.
08:32Perbedaan informasi.
08:34Di zaman sekarang, informasi itu, apalagi yang beredar di ruang publik,
08:41itu nggak bisa dijadikan rujukan langsung begitu saja.
08:4790% informasi yang beredar di ruang publik, hoax.
08:52Ya, lebih sosial.
08:5490% itu hoax.
08:56Hoax bisa karena memang tidak benar,
09:00tapi kadang-kadang juga ada konteksnya yang berbeda.
09:06Video 5 tahun yang lalu diputar lagi terkait dengan peristiwa hari ini.
09:12Nah, konteksnya sudah berubah.
09:15Jadi, videonya itu memang ada.
09:17Faktual.
09:19Tapi konteksnya berbeda.
09:21Ya kan?
09:22Nah, jadi informasi yang beredar sekarang,
09:26itu di era digital sekarang ini,
09:29makanya muncul istilah post-truth.
09:33Post-truth.
09:35Era pasca kebenaran.
09:37Ya kan?
09:38Bisa juga disebut era kebenaran baru.
09:42Nah, kata apa namanya,
09:44mantan kita,
09:54Menteri BUMN kita,
09:55Dalani Skad.
09:56Eh, ini era kebenaran baru.
10:02Ada benar juga istilah itu.
10:05Tapi yang di seluruh dunia disebut itu dengan post-truth.
10:09Pasca kebenaran.
10:10Jadi muncul kebenaran baru.
10:13Yang semula nggak benar jadi benar.
10:14Yang semula benar jadi nggak benar.
10:16Nah, ini adalah era realitas zaman.
10:23Kita mesti terima kenyataan itu.
10:25Maka, berhubungan dengan informasi yang beredar di ruang publik.
10:31Kita mesti hati-hati.
10:33Tidak boleh baper bawa perasaan.
10:36Ya kan?
10:37Misalnya mencintai seseorang karena
10:40informasi di ruang media sosial.
10:44Ya kan?
10:45Itu nggak boleh.
10:46Atau membenci seseorang
10:48gara-gara informasi di media sosial.
10:51Nggak bisa.
10:53Jangan-jangan baper.
10:55Nah,
10:56kebiasaan kita selama ini baper
10:58membawa segala sesuatu ke dalam perasaan pribadi
11:02itu harus dihilangkan.
11:04Bisa nggak kita mengubah sikap?
11:07Itu kan harus tidak boleh baper.
11:10Yang kedua,
11:11informasi yang beredar di ruang publik itu
11:14tidak boleh dijadikan sumber rujukan mengambil keputusan.
11:18Apalagi bernegara.
11:21Kalau kita membuat keputusan bernegara berdasarkan hasil medsos,
11:25bahaya.
11:26Nah,
11:27maka informasi ini harus didudukkan.
11:33Maka para pihak yang berbeda pendapat itu harus bertemu.
11:36Harus saling mencocokkan data,
11:39sumber datanya benar apa nggak,
11:42angka-angka yang dibilang hasil statistik surpi itu dicocokkan.
11:48Nah,
11:49itulah proses permusyawaratan.
11:54Substantif debate di ruang publik,
11:57lalu permusyawaratan di dalam ruangan untuk mengambil keputusan.
12:01Itu yang kedua.
12:03Nah,
12:03yang paling berat nomor tiga.
12:06Orang berbeda pendapat itu karena perspektif berbeda.
12:09Sudut pandang.
12:10Orang di luar kekuasaan sama di dalam kekuasaan.
12:14Nggak bisa,
12:15itu beda.
12:16Pasti melihat segala sesuatu.
12:20Orang yang duduk sebelah kanan sama duduk sebelah kiri,
12:23melihat objek yang sama,
12:25beda.
12:27Orang melihat gelas,
12:28ada yang melihat ini setengah kosong,
12:30ada yang melihat ini setengah berisi,
12:32berbeda.
12:34Nah,
12:35maka musyawarah pertemuan,
12:38saling mendengar,
12:40saling melihat perspektif orang lain,
12:45itulah esensi musyawarah
12:48dalam kehidupan publik.
12:52Gitu lho.
12:52Nah,
12:53jadi makanya dalam urusan polisi ini,
12:56ini soal sangat serius.
12:58Jadi,
12:59jangan mau cepat-cepat.
13:01Misalnya,
13:02apa dong konsepnya?
13:03Wah,
13:04ketua tim,
13:05jangan dulu.
13:06Jangan dari saya,
13:07saya sudah punya konsepnya.
13:08Tapi saya nggak mau kemukakan.
13:10Saya mau dengar.
13:11Bagaimana?
13:12Belum tentu perspektif saya benar.
13:15Ada kebenaran di tempat yang lain.
13:19Dan juga begitu di lingkungan Polri.
13:21Terima kasih.
13:22Terima kasih.
13:23Terima kasih.
13:23Terima kasih.
13:24Terima kasih.
Jadilah yang pertama berkomentar
Tambahkan komentar Anda

Dianjurkan