KOMPAS.TV - Kasus OTT Immanuel Ebenezer menjadi titik kritis pemerintahan Prabowomenguji retorika antikorupsi sebelumnya dan memaksa respons cepat sebagai bentuk perbaikan citra.
Meski reshuffle menyeluruh belum terjadi, tekanan dari analis, masyarakat, dan dinamika politik mendorong kemungkinan reformasi kabinet agar lebih efektif dan terpercaya.
Suhartono menyebutkan beberapa penyebab ditangkapnya Noel oleh KPK.
Penasaran, simak secara lengkap bersama Wartawan Istana Harian Kompas 2004-2025, Suhartono di Podcast Istana & Presiden. Hanya di YouTube KompasTV!
Baca Juga [FULL] Usai OTT KPK Immanuel Ebenezer, Presiden Prabowo Beri Tanda Kehormatan | Istana & Presiden di https://www.kompas.tv/talkshow/614880/full-usai-ott-kpk-immanuel-ebenezer-presiden-prabowo-beri-tanda-kehormatan-istana-presiden
Artikel ini bisa dilihat di : https://www.kompas.tv/talkshow/614884/wamen-immanuel-ebenezer-tertangkap-kpk-wartawan-istana-dipikir-kpk-tidur-kali-istana-presiden
00:00Jadi sebenarnya dalam kasus Noel ini apa ya yang jadi persoalan apakah pengawasannya karena merasa sirkel deketnya di relawannya Pak Prabowo jadi kayaknya ah gak akan tersangkut, gak akan tertangkut deh.
00:15Ya mungkin dipikir KPK tidur sekali. Padahal KPK tetap bekerja ya.
00:23Kan kalau melihat apa yang dilakukan oleh Pak Wamen, ex-Wamen ya, itu kan baru Desember katanya.
00:34Beliau itu kan masuk diminta oleh Pak Manakernya untuk membantu sertifikasi K3 di perusahaan-perusahaan yang tujuannya adalah supaya kesehatan, keamanan, keselamatan pekerja itu benar-benar terjaga gitu ya.
00:55Nah tapi kan kenyataannya tidak. Secara ekonomi saya kira menteri-menteri sekarang yang ditunjuk tidak ekonominya rendah. Mereka pasti punya status ekonomi sosial yang cukup baik.
01:09Nah jadi apa penyebabnya itu? Kan apakah itu korupsi ataupun pemerasan terjadi karena sistemnya itu lemah.
01:20Sistemnya lemah sehingga tidak ada kontrol, tidak ada pengawasan.
01:24Nah yang kedua juga karena ada peluang, ada kesempatan seseorang, oh ada nih.
01:31Misalkan ketika dia dilaporkan tentang K3, kan harusnya sebagai menteri, jangan, hentikan.
01:41Kok beliau malah, malah, oke gitu. Meskipun baru 3 miliar tapi kan sudah lemah gitu loh.
01:51Nah kelemahannya itu apakah karena ya yang ketiga adalah karena suka apa, suka uang gitu loh.
02:02Serakah, serakah kan. Serakahisme kalau kata Presiden Prabowo itu. Nah itu yang harus dilawan.
02:10Ya, mau ada kesempatan mau enggak, sebenarnya kalau misalnya dari dalam dirinya enggak serakah sih enggak akan tuh ambil kesempatan.
02:16Kalau sistemnya lemah malah diperbaiki, bukannya ambil kesempatan dalam kesempitan.
02:19Harusnya begitu.
02:21Ya, kan bikin masyarakat makin geram lah ya Mas Har.
02:24Dilihat, ah belum juga setahun, udah begini, udah ada kasus.
02:28Tapi di sisi lain juga kita lihat di istana ada pemberian penghargaan, bintang kehormatan.
02:34Untuk sejumlah tokoh.
02:36Ini bisakah jadi oase, jadi harapan bahwa ada tokoh-tokoh yang dapat kehormatan, tanda kehormatan dari Presiden?
02:46Ya, itu kan menunjukkan bahwa masih ada tokoh-tokoh yang dianggap oleh pemerintah, oleh Presiden kita, dia berjasa luar biasa.
02:58Selain berjasa luar biasa, dia juga memberikan manfaat, pengabdiannya, pengorbanannya untuk bangsa dan negara oke.
03:07Lalu juga dia punya dedikasi yang baik.
03:09Nah, itu jadi Presiden sebagai Kepala Negara dia punya hak juga.
03:18Berdasarkan Pasal 28 Ayat 2 Undang-Undang nomor 20 tahun 2009 tentang gelar, tanda jasa, dan kehormatan.
03:28Itu memang Presiden berwenang, memberikan tanda jasa, tanda kehormatan atas hasil karya mereka, pengabdian mereka.
03:40Nah, cukup bagus.
03:42Jadi, hanya memang momentumnya, biasanya di tahun-tahun yang lalu, periode-periode sebelumnya,
03:50pemberian tanda kehormatan itu diberikan sebelum 17 Agustus.
03:55Jadi, puncaknya adalah 17 Agustus itu.
04:02Semua sudah dilaksanakan agenda-agenda, tapi ini kan terpisah.
04:05Setelah ya?
04:06Nah, yang menariknya juga, saya sempat mendapat informasi bahwa
04:11sebetulnya pemberian tanda kehormatan itu diberikan pada hari Jumat lalu.
04:17Oh.
04:18Jumat lalu itu jam 9 pagi di Istana Negara.
04:22Dan jumlahnya itu hanya 80 orang.
04:26Oh.
04:27Jadi, saya diceritain 80 orang.
04:30Tapi kemudian diundur.
04:32Karena hari Sabtu itu adalah satu hari sebelum 17 Agustus.
04:43Nah, jadi, dimundurkan.
04:46Dimundurkan hari Senin.
04:48Senin kemarin kan.
04:50Nah, hari Senin, itu juga saya dapat informasi.
Komentar