00:00Mereka selalu duduk di Thailand saat menggunakan ponsel.
00:02Itu adalah tempat tertinggi di rumah mereka,
00:04dan terkadang mereka bisa menangkap sinyal wifi tetangga dari sana.
00:07Setiap kali disinfektan disemprotkan di jalan,
00:09mereka tidak pernah menutup jendela.
00:11Dengan begitu rumah mereka ikut didisinfeksi secara gratis.
00:14Setiap kali mereka makan,
00:15para pemabuk buang air kecil di dekat jendela mereka,
00:18tetapi mereka tidak pernah berani protes.
00:20Saat hujan deras, rumah mereka kebanjiran.
00:22Mereka bertahan hidup dengan melipat kotak pizza untuk mendapatkan sedikit uang.
00:26Mereka tinggal di ruang bawah tanah yang lembab.
00:27Bukan karena mereka malas, tetapi karena mereka tidak punya pilihan.
00:32Mereka juga rindu hidup seperti orang kaya.
00:34Suatu hari teman sekelas si pria menawarkannya pekerjaan sebagai tutor.
00:37Pria itu tidak pernah kuliah dan khawatir tidak akan diterima,
00:40tetapi temannya sudah berbicara dengan kliennya.
00:42Untuk berjaga-jaga, adiknya memasukkan ijazah dari universitas ternama.
00:46Bahkan ayah mereka menguji betapa terlihat asli dokumen itu.
00:49Keesokan harinya, pria itu mengenakan pakaian pinjaman
00:51dan tiba di rumah keluarga kaya tersebut.
00:54Kemewahan rumah itu membuatnya terkejut.
00:55Ia tidak pernah membayangkan orang kaya hidup seperti ini.
00:59Berkat kemampuan akting dan rasa percaya dirinya,
01:01ia memberi kesan baik pada nyonya rumah.
01:03Selama pelajaran percobaan,
01:04pria itu menyadari gadis kecil itu sangat gugup.
01:06Untungnya, ia berpengalaman menghadapi ujian penting.
01:10Dengan suara tenang dan sentuhan lembut,
01:11ia berhasil membuatnya rileks.
01:13Sang nyonya terkesan dengan gaya mengajarnya
01:15dan mempekerjakannya dengan gaji tinggi.
01:17Tiba-tiba, sebuah anak panah melintas.
01:19Itu ulasi anak laki-laki.
01:21Ia berbakat dalam seni, tetapi sangat nakal.
01:23Beberapa guru sudah menyerah mengajarnya.
01:26Sang nyonya sudah frustasi.
01:28Pria itu cepat-cepat mencari akal.
01:30Ia mengaku punya teman yang baru pulang dari belajar seni di luar negeri.
01:33Sang nyonya senang dan langsung menyetujui.
01:36Begitulah awal adiknya menjadi guru seni si anak.
01:38Seperti biasa,
01:39sang nyonya ingin mengamati pelajaran pertama,
01:41tetapi sang adik menolaknya.
01:43Saat pelajaran usai,
01:44sang nyonya terkejut.
01:45Anaknya sangat penurut.
01:47Lebih mengejutkan lagi,
01:48sang adik datang dengan persiapan matang.
01:50Ia sudah mempelajari trauma masa lalu si anak.
01:52Ia menjelaskan makna gambar-gambarnya
01:54dan mengklaim tidak hanya bisa mengajar seni,
01:56tetapi juga menyembuhkan pikiran si anak.
01:58Sang nyonya sampai menangis terharu.
02:00Di saat itu,
02:01sang suami pulang kerja.
02:03Karena hari sudah malam,
02:04ia menyuruh sopirnya mengantar sang adik pulang.
02:06Yang tidak mereka tahu,
02:07gadis itu sudah berencana menggantikan sopir
02:09agar ayahnya bisa dipekerjakan.
02:11Diam-diam ia menyelipkan celana dalamnya di mobil
02:12saat sopir tidak melihat.
02:14Keesokan harinya,
02:15sang tuan rumah menemukannya.
02:17Sopir itu langsung dipecat,
02:18persis seperti rencana sang gadis.
02:19Dalam obrolan santai,
02:21ia mulai merekomendasikan penggantinya
02:22yang tidak lain adalah ayahnya sendiri.
02:25Sang ayah sudah mempersiapkan diri.
02:27Ia bahkan pergi ke dealer mobil
02:28untuk mempelajari hal-hal yang diperlukan.
02:30Ia tahu kapan harus mematikan suara GPS
02:31saat bos ingin ketenangan.
02:33Meski tidak ada yang bilang itu ujian,
02:35sang tuan rumah sengaja
02:36memegang cangkir kopi sepanjang waktu.
02:38Pada akhirnya,
02:39ayah mereka dapat pekerjaan itu.
02:40Ini hanya sang ibu
02:41yang belum punya posisi di rumah itu.
02:43Maka,
02:44mereka beralih ke pembantu rumah tangga.
02:46Namun,
02:47menyingkirkannya tidak mudah.
02:47Ia berpengalaman,
02:49sopan,
02:50dan sepertinya mereka harus main kotor
02:51untuk mengusirnya.
Komentar